Kaskus

Story

sandriaflowAvatar border
TS
sandriaflow
4Love: Tentang Patah Hati, Kesetiaan, Obsesi, dan Keteguhan Hati
4Love: Tentang Patah Hati, Kesetiaan, Obsesi, dan Keteguhan Hati


Quote:


Spoiler for Daftar Bab:


Diubah oleh sandriaflow 01-12-2020 19:11
santinorefre720Avatar border
blackjavapre354Avatar border
rizetamayosh295Avatar border
rizetamayosh295 dan 25 lainnya memberi reputasi
26
14.9K
134
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
sandriaflowAvatar border
TS
sandriaflow
#86
Bab 40: Kusut
0ARMAN

Di depan teras, Arman tersenyum cengengesan sembari menghisap rokok lintingan yang dia buat beberapa menit yang lalu. Tubuhnya bersandar pada tembok dan matanya terfokus pada ponsel pintarnya yang berdering terus.

Hampir satu jam lamanya dia chatting-an dengan Melia dan membicarakan hal-hal konyol tanpa isi. Saking tidak bermaknanya pembicaraan mereka, Arman jadi tertawa kencang.

“Kau sudah gila, Man?” celetuk Abangnya yang tak sengaja menatap tingkah Arman yang mencurigakan.
“Ganggu aja kau, Bang,” Arman berkilah.

Seperti biasa, abang Arman malah mengacak-acak rambut Arman sebagi bentuk rasa sayang. Kemudian, ia kembali ke dalam kamar dan memperbaik laptop klien yang tengah rusak. Kebetulan, abang Arman bekerja sebagai tukang reparasi laptop dan komputer.

Di akhir pembicaraan tersebut, Melia mengajak Arman untuk menonton sebuah pertunjukan teater yang diselenggarakan oleh UKM Teater di kampus mereka. Tak perlu alasan macam-macam, Arman menyetui ajakan Melia.
***

Malam ini, Arman sengaja tampil agak keren. Dia ingin terlihat tampan di mata Melia, meskipun hal itu sebenarnya tidak diperlukan. Penampilan Arman yang sangat berbeda justru membuat Melia terheran-heran setengah mati.

“Eh, tunggu dulu… kamu ini Arman atau saudara kembarnya?” tanya Melia setengah bercanda setengah serius.
“Aku adalah kepribadian Arman yang lain,” jawab Arman menyesuaikan ekspresi Melia.
“Kamu beda banget, Man. But I have to be honest that you’re so cute this night,” balas Melia. Sayangnya, telinga Arman kurang terlalu menangkap apa yang dimaksud Melia karena ia sendiri sangat susah mencerna orang yang berbicara dengan bahasa Inggris.

Secara otomatis, Arman menanyakan kembali apa yang dikatakan Melia barusan. “Kamu ngomong apa tadi, Mel?”

“Siaran radio tidak bisa diulang. Salah kamu sendiri karena kurang fokus,” balas Melia diselingi tawa yang kian membuncah.
Suasana gedung pentas masih cukup sepi. Arman dan Melia memilih duduk di barisan bangku bagian tengah, Sambil menunggu pentas teater dimulai, mereka berdua berbincang-bincang ringan.
“Gimana kabarmu sekarang? Sudah move on?” tanya Melia.
“Harusnya aku yang menanyakan hal itu kepada kamu,” balas Arman tak mau kalah.
“Ehm… sudah cukup baik. Lagipula, aku sudah lama melupakan dia,” jawab Melia pelan.
“Sama, Mel. Aku juga sudah bisa mengikhlaskan dia pergi,” ucap Arman dengan nada yang sama.
“Sepertinya, kita sama-sama ketemu orang yang salah, ya, Man. Hidup kadang selucu itu,”
“Kamu benar. Namun, aku selalu percaya kalau orang yang tepat akan datang di waktu yang tepat,”

Di sela perbincangan mereka, pembawa acara sudah memasuki panggung dan memandu jalannya acara pada malam hari ini. Usai melalui beberapa acara pembukaan, akhirnya pentas teater tersebut dimulai.

Pentas teater kali ini bertajuk kehidupan masyarakat sosial. Para pemain mementaskan realitas kehidupan masyarakat dari berbagai kelas, mulai dari kaum-kaum marjinal yang didominasi masyarakat pinggiran hingga kaum borjuis yang isinya para pejabat dan orang-orang kelas atas.

Para pemain tersebut membawakan pentas itu dengan penuh penghayatan dengan bumbu-bumbu satir serta kritik atas ketidakadilan yang dirasakan oleh sebagian kalangan masyarakat.

Di akhir pentas tersebut, suara tepuk tangan terdengar pecah karena penampilan yang disajikan mereka sangat epik dan memuaskan. Acara itu pun selesai mendekati larut malam.

Usai pentas itu berakhir, Arman langsung mengantar Melia pulang. Ia tidak bisa membiarkan perempuan itu pulang sendirian karena ia takut terjadi apa-apa nantinya.

“Makasih banyak, ya, untuk malam ini,” ucap Melia sebelum berpisah.
“Sip,” balas Arman singkat dengan mengancungkan kedua jempolnya sambil memsang wajah yang absurd hingga membuat Melia tertawa.
***

Efek gerimis di lagu Fourtwnty yang berjudul “Kusut” terdengar sendu di telinga Arman. Membuat kafe yang dipenuhi pengunjung itu lengang. Sudah hampir lima belas menit ia menunggu kedatangan Melia.

Sore ini, Arman dan Melia berjanji untuk bertemu di kafe ini. Ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh Arman. Jujur, ia tidak bisa menahan perasaan ini lama-lama. Kebersamaan yang telah ia lalui bersama Melia membuat ia menyadari bahwa ia mencintai Melia.

Arman bukan tipikal lelaki yang suka bermain-main. Dia harus memberanikan diri untuk mengungkapkan niat tulus yang selama ini dia pendam. Bahkan, dia sudah menyiapkan sebuket bunga mawar merah dan juga sebuah hadiah kecil yang ingin dia berikan kepada Melia.

Hampir satu jam ia menunggu, perempuan itu tak kunjung muncul. Kopi yang ia pesan tadi sudah mulai dingin. Rasa khawatir tiba-tiba menyeruak memenuhi dadanya. Pesan yang dia kirim kepada Melia tidak mendapat balasan. Hanya centang satu pertanda bahwa pesan itu belum sampai kepada penerima.

Dua jam telah berlalu, ia masih tetap menunggu. Kopi yang ada di depannya hanya tinggal seperempat gelas. Gurat wajah Arman yang tadinya tenang mendadak sendu. Jari telunjuknya tak henti-hentinya mengetuk meja secara konstan pertanda bahwa dia sangat khawatir.

Tiga jam sudah berlalu. Kopi itu sudah tandas. Melia tidak datang. Arman pulang.

Diubah oleh sandriaflow 06-09-2020 19:37
coxi98
coxi98 memberi reputasi
1
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.