- Beranda
- Stories from the Heart
Naga Sasra & Sabuk Inten
...
TS
nandeko
Naga Sasra & Sabuk Inten

NAGA SASRA & SABUK INTEN
Kisah ini merupakan karangan dari S.H Mintardja. Disini TS sudah mendapatkan ijin untuk sekedar membagikan dan mempermudahkan pembaca untuk menikmati kisah ini dalam bentuk digital
INDEX
Quote:
Spoiler for JILID 1:
Spoiler for JILID 2:
Spoiler for JILID 3:
Spoiler for JILID 4:
Spoiler for JILID 5:
Spoiler for JILID 6:
Part 114
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Spoiler for JILID 7:
Spoiler for JILID 8:
Spoiler for JILID 9:
Spoiler for JILID 10:
Pengarang dan Hakcipta©
Singgih Hadi Mintardja
Singgih Hadi Mintardja
Diubah oleh nandeko 21-10-2021 14:24
whadi05 dan 43 lainnya memberi reputasi
42
62.2K
Kutip
1.2K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
nandeko
#442
Jilid 13 [Part 307]
Spoiler for :
WANAMERTA menggeleng lemah. Tetapi ia tetap menunggu sampai Sontani kehabisan tenaga. Karena itu perlahan-lahan ia menjawab,
Alangkah sakitnya hati Sontani. Ia sendiri sudah lupa pada hitungan itu karena serangan Wanamerta yang tiba-tiba. Sekarang dari lawannya itu ia mendapat peringatan akan kelalaiannya. Karena itu ia menjadi bertambah marah dan tiba-tiba terjadilah apa yang dicemaskan oleh Wanamerta. Apa yang sejak semula dihindari, sehigga ia lebih senang menghindari serangan Sontani itu terus menerus tanpa menjatuhkannya.
Dengan penuh kemarahan, Sontani berteriak,
Perintah itu benar-benar menggetarkan hati Wanamerta. Bukan karena ia takut seandainya ia terpaksa melawan seluruh pengikut Sontani, bahkan seandainya ia terpaksa mati karenanya. Tetapi dengan menggerakkan pengikutnya, Sontani harus menghadapi akibat yang barangkali tak pernah dipikirkan.
Karena itu Wanamerta mencoba mencegahnya. Dengan nyaring ia berteriak,
Sontani benar-benar telah kesurupan setan. Ia tidak mendengar seruan itu, bahkan beberapa orang pengikutnya yang mendengarnya menganggap bahwa Wanamerta telah menjadi ketakutan. Dengan demikian mereka semakin bernafsu dan berloncatan maju, mendesak orang-orang yang berdiri di sekitarnya. Bahkan beberapa orang mereka dorong jatuh tanpa peringatan apapun. Gelang raksasa yang terdiri dari manusia yang berjejal-jejal itu tampak bergerak-gerak. Beberapa orang masih belum sadar apa yang akan terjadi. Baru ketika beberapa orang berloncatan memasuki arena, tahulah mereka bahwa Sontani bersama-sama dengan pengikutnya akan menangkap Wanamerta itu beramai-ramai.
Itulah permulaan dari bencana yang menimpa diri Sontani. Sebab orang-orang yang telah terbuka hatinya, melihat kebenaran keadilan, tidak rela Wanamerta menjadi makanan pesta dari orang-orang yang hanya dapat menghitung kebenaran dari kepentingan mereka sendiri. Karena itulah maka merekapun serentak, tanpa perintah dari siapapun, bergerak melawan orang-orang Sontani. Sehingga di lapangan terbuka itu terjadilah semacam perang kecil-kecilan antara para pengikut Sontani melawan orang-orang Banyubiru yang lain. Sendang Papat, Sendang Parapat dan beberapa orang kawannya telah berdiri di sekitar Wanamerta. Mereka harus menjaga keselamatan orang tua itu. Orang tua yang telah menjadi emban kepala daerah perdikan Banyubiru sejak masa pemerintahan Ki Ageng Sora Dipayana.
Wanamerta tegak seperti patung, mulutnya komat-kumit, namun belum terdengar ia berkata. Tetapi dari matanya telah terlontar betapa ia menyesal melihat hal ini terjadi. Tawuran antara rakyat dan rakyat yang sebenarnya sama-sama menanti masa depan yang lebih menyenangkan. Sontani sendiri tiba-tiba didorong oleh hiruk-pikuk menjauhi Wanamerta.
Dengan penuh kemarahan ia berkelahi. Namun lawannya terlalu banyak. Karena itu ia terpaksa mundur dan mundur. Demikian pula agaknya para pengikutnya. Mereka ternyata korban lawan. Lawan yang dengan penuh kemarahan melawan mereka. Bagaimanapun kuatnya Sontani, dan bagaimanapun para pengikutnya berkelahi membabi buta, namun akhirnya mereka terpaksa mengalami perlakuan yang sama sekali tak mereka harapkan. Demikian pula Sontani. Meski ia telah berkelahi mati-matian namun akhirnya ia tidak berhasil melepaskan diri dari tangan orang-orang yang semula dianggapnya tak akan menghalangi tindakannya. Beberapa orang menangkapnya dan memegangi tangan serta kakinya.
Beberapa orang mencoba memukulnya pada bagian-bagian tubuhnya sekenanya. Sontani meronta-ronta sejadi-jadinya. Tetapi tangan orang-orang itu terlalu keras, dan ia tak mampu melepaskan diri dari mereka yang tak terkendali lagi itu.
Wanamerta melihat bahaya itu. Bagaimanapun juga ia tak menghendaki adanya korban. Karena itu hampir tak terdengar dari sela-sela bibirnya yang bergetar ia berkata,
Sendang Papat dan Sendang Parapat adalah orang muda yang selama ini ikut merasakan betapa tekanan-tekanan yang telah dialami oleh orang-orang Banyubiru dari orang-orang semacam Sontani itu.
Di hadapan hidungnya ia melihat Sontani telah berusaha untuk menghina Wanamerta, sesepuh tanah perdikan ini. Karena itu, ketika ia mendengar perintah Wanamerta, mereka menjadi heran dan ragu, sehingga Wanamerta terpaksa mengulangi,
Sendang Papat dan Sendang Parapat sadar dari keragu-raguannya. Bagaimanapun perasaannya bergolak di dalam dadanya, namun mereka adalah orang-orang yang patuh. Karena itu mereka tidak menunggu lebih lama lagi. Dengan sigapnya mereka meloncat diantara orang yang bergolak seperti gabah diinteri itu, menyusup langsung ke arah Sontani. Dengan mempergunakan pengalaman-pengalaman serta kelebihan-kelebihan mereka, merekapun segera berhasil berdiri di samping Sontani yang sedang meronta-ronta itu.
Dengan penuh tenaga, Sendang Papat berteriak mengatasi keriuhan suara orang-orang Banyubiru yang marah itu,
Beberapa orang yang dekat berdiri dengan Sendang Papat itu terkejut, ketika mereka memandanginya, dalam samar-samar sinar obor yang jauh. Bukankah yang berteriak itu Sendang Papat…?
Suara itu disahut oleh Sendang Parapat dan oleh beberapa kawan-kawan yang datang bersamanya. Karena suara-suara itulah maka perkelahian itu terpengaruh pula.
Peperangan itu semakin lama menjadi mereda, dan akhirnya berhenti, meskipun masing-masing wajah masih diliputi oleh ketegangan dan kemarahan.
kata Sendang Papat dengan kewibawaan yang mengagumkan orang-orang yang berdiri di sekitarnya. Namun meskipun demikian tampak mereka ragu, seperti Sendang Papat mula-mula juga ragu. Di sebelah lain berdiri dengan kaki renggang, adiknya Sendang Parapat.
Matanya beredar berkeliling. Memandang wajah-wajah yang penuh mengandung pertanyaan. Sedang Sontani sendiri, yang berdiri di hadapan Sendang Papat, tidak pula kalah herannya. Ia tahu benar bahwa Sendang Papat adalah salah seorang yang dikejar-kejarnya selama ini seperti juga Bantaran, Penjawi, Jaladri dan yang lain-lainnya lagi.
Tiba-tiba dari antara mereka, yang berdiri berkeliling itu terdengar sebuah pertanyaan,
Keadaan menjadi sepi. Sepi namun penuh keraguan. Masing-masing mencoba mengangan-angankan apakah kira-kira yang akan dilakukan oleh Wanamerta.
Tetapi sepi itu tiba-tiba dipecahkan oleh suatu peristiwa yang tak terduga-duga, yang merusak suasana yang hampir baik kembali itu.
Tiba-tiba dari sela-sela orang yang mengerumuni yang pucat lesu itu meloncatlah seseorang yang dengan serta merta menyerang Sendang Parapat. Sebuah tusukan yang kuat mengenai lambung kirinya, sehingga terdengar ia mengaduh.
Tetapi Sendang Parapat adalah seorang yang terlatih. Karena itu sedemikian ia merasakan sebuah tusukan mengenai dirinya, selain tanpa sesadarnya ia mengaduh perlahan, namun dengan cepatnya ia bergerak dengan tenaganya yang terakhir, menangkap tubuh orang yang menusuknya itu, sehingga ketika orang itu akan melarikan diri, tubuh Sendang Parapat yang lemah terseret beberapa langkah.
Tetapi dengan demikian orang itu tidak dapat segera melenyapkan dirinya ke dalam gerombolan orang-orang yang masih berdiri di sana sini. Ia terpaksa berhenti mendorong Sendang Parapat untuk melepaskan pegangannya yang seolah-oleh terkunci.
Dalam saat itulah Sendang Papat, memandangi kejadian itu dengan mata terbelalak. Tusukan yang mengenai adiknya, pada saat ia sedang melindungi Sontani, yang dibencinya, adalah serasa tusukan pada dadanya, yang ditutupinya rapat-rapat, kini seolah-olah tersiram minyak. Seperti kawah gunung berapi yang tak menemukan jalan, tiba-tiba meledaklah kemarahan Sendang Papat.
Ia sempat melihat adiknya berputar cepat sekali, dan menangkap pergelangan tangan orang yang menusuknya. Ia melihat tubuh adiknya yang telah lemah itu terseret beberapa langkah. Maka ia sendiri kemudian seperti thathit meloncat beberapa langkah ke arah orang yang mendorong adiknya, untuk melepaskan pegangannya. Demikian Sendang Parapat terlepas, dan tubuhnya terbanting di tanah, demikian Sendang Papat sampai kepada orang itu.
Wajah Sendang Papat tiba-tiba berubah. Seolah-olah di dalamnya tersembunyi malaikat pencabut nyawa. Dengan tidak berkata sepatah katapun, ia menyerang orang yang menusuk adiknya itu. Orang itupun agaknya sadar pula. Karena itu iapun segera melawan serangan itu.
Sendang Papat benar-benar marah. Tenaganya menjadi seakan-akan belipat-lipat. Seperti badai yang tak tertahan lagi ia menerkam orang yang menusuk lambung adiknya. Betapa orang itu mencoba melawannya, tetapi ternyata Sendang Papat bukanlah lawannya. Karena itu ia terdorong surut beberapa langkah, yang kemudian disusul sebuah pukulan dengan tenaga tergenggam pada dagunya. Pukulan itu demikian kerasnya sehingga orang itu seolah-olah terangkat beberapa jengkal dan terlempar ke belakang, untuk kemudian dengan kerasnya pula terbanting ke tanah.
Sendang Papat sendiri mata gelap. Ia tidak ingat lagi kata Wanamerta, ia tidak ingat lagi pesan Mahesa Jenar dan pemimpin-pemimpin yang lain. Yang teringat hanyalah, seorang dengan licik dan curang telah menusuk adiknya. Seperti seekor harimau ia meloncat ke atas tubuh orang itu, dan dengan sekuat tenaga seperti hujan yang tercurah dari langit, ia menghantam bertubi-tubi wajah orang itu. Terdengarlah orang itu berteriak ngeri. Tetapi juga teriakan itu seolah-olah tak terdengar oleh Sendang Papat yang sedang marah.
Orang-orang yang berdiri di sekitar tempat itu, justru menjadi terdiam seperti patung. Dengan mata terbelalak pula mereka menyaksikan kejadian itu. Kejadian yang berlangsung sedemikian cepatnya. Sehingga apa yang mereka ketahui kemudian adalah Sendang Papat yang marah itu duduk di atas tubuh lawannya yang terlentang di tanah sambil memukulnya habis-habisan untuk mencurahkan kemarahannya yang meluap-luap.
Tetapi kawan-kawan orang itu ternyata tidak tinggal diam. Ketika mereka melihat kawannya tak mampu lagi untuk bergerak, mereka pun kemudian mencoba untuk melepaskannya. Ternyata mereka adalah pengikut-pengikut Sontani.
Quote:
“Kau belum sampai ke hitungan yang kelima, Sontani.”
Alangkah sakitnya hati Sontani. Ia sendiri sudah lupa pada hitungan itu karena serangan Wanamerta yang tiba-tiba. Sekarang dari lawannya itu ia mendapat peringatan akan kelalaiannya. Karena itu ia menjadi bertambah marah dan tiba-tiba terjadilah apa yang dicemaskan oleh Wanamerta. Apa yang sejak semula dihindari, sehigga ia lebih senang menghindari serangan Sontani itu terus menerus tanpa menjatuhkannya.
Dengan penuh kemarahan, Sontani berteriak,
Quote:
“Hei orang-orang Lemah Abang yang setia. Tangkap kelinci tua ini.”
Perintah itu benar-benar menggetarkan hati Wanamerta. Bukan karena ia takut seandainya ia terpaksa melawan seluruh pengikut Sontani, bahkan seandainya ia terpaksa mati karenanya. Tetapi dengan menggerakkan pengikutnya, Sontani harus menghadapi akibat yang barangkali tak pernah dipikirkan.
Karena itu Wanamerta mencoba mencegahnya. Dengan nyaring ia berteriak,
Quote:
“Tunggulah Sontani.”
Sontani benar-benar telah kesurupan setan. Ia tidak mendengar seruan itu, bahkan beberapa orang pengikutnya yang mendengarnya menganggap bahwa Wanamerta telah menjadi ketakutan. Dengan demikian mereka semakin bernafsu dan berloncatan maju, mendesak orang-orang yang berdiri di sekitarnya. Bahkan beberapa orang mereka dorong jatuh tanpa peringatan apapun. Gelang raksasa yang terdiri dari manusia yang berjejal-jejal itu tampak bergerak-gerak. Beberapa orang masih belum sadar apa yang akan terjadi. Baru ketika beberapa orang berloncatan memasuki arena, tahulah mereka bahwa Sontani bersama-sama dengan pengikutnya akan menangkap Wanamerta itu beramai-ramai.
Itulah permulaan dari bencana yang menimpa diri Sontani. Sebab orang-orang yang telah terbuka hatinya, melihat kebenaran keadilan, tidak rela Wanamerta menjadi makanan pesta dari orang-orang yang hanya dapat menghitung kebenaran dari kepentingan mereka sendiri. Karena itulah maka merekapun serentak, tanpa perintah dari siapapun, bergerak melawan orang-orang Sontani. Sehingga di lapangan terbuka itu terjadilah semacam perang kecil-kecilan antara para pengikut Sontani melawan orang-orang Banyubiru yang lain. Sendang Papat, Sendang Parapat dan beberapa orang kawannya telah berdiri di sekitar Wanamerta. Mereka harus menjaga keselamatan orang tua itu. Orang tua yang telah menjadi emban kepala daerah perdikan Banyubiru sejak masa pemerintahan Ki Ageng Sora Dipayana.
Quote:
“Apa yang akan kita lakukan, Kiai?” tanya Sendang Papat.
Wanamerta tegak seperti patung, mulutnya komat-kumit, namun belum terdengar ia berkata. Tetapi dari matanya telah terlontar betapa ia menyesal melihat hal ini terjadi. Tawuran antara rakyat dan rakyat yang sebenarnya sama-sama menanti masa depan yang lebih menyenangkan. Sontani sendiri tiba-tiba didorong oleh hiruk-pikuk menjauhi Wanamerta.
Dengan penuh kemarahan ia berkelahi. Namun lawannya terlalu banyak. Karena itu ia terpaksa mundur dan mundur. Demikian pula agaknya para pengikutnya. Mereka ternyata korban lawan. Lawan yang dengan penuh kemarahan melawan mereka. Bagaimanapun kuatnya Sontani, dan bagaimanapun para pengikutnya berkelahi membabi buta, namun akhirnya mereka terpaksa mengalami perlakuan yang sama sekali tak mereka harapkan. Demikian pula Sontani. Meski ia telah berkelahi mati-matian namun akhirnya ia tidak berhasil melepaskan diri dari tangan orang-orang yang semula dianggapnya tak akan menghalangi tindakannya. Beberapa orang menangkapnya dan memegangi tangan serta kakinya.
Beberapa orang mencoba memukulnya pada bagian-bagian tubuhnya sekenanya. Sontani meronta-ronta sejadi-jadinya. Tetapi tangan orang-orang itu terlalu keras, dan ia tak mampu melepaskan diri dari mereka yang tak terkendali lagi itu.
Wanamerta melihat bahaya itu. Bagaimanapun juga ia tak menghendaki adanya korban. Karena itu hampir tak terdengar dari sela-sela bibirnya yang bergetar ia berkata,
Quote:
“Sendang, selamatkanlah Sontani itu.”
Sendang Papat dan Sendang Parapat adalah orang muda yang selama ini ikut merasakan betapa tekanan-tekanan yang telah dialami oleh orang-orang Banyubiru dari orang-orang semacam Sontani itu.
Di hadapan hidungnya ia melihat Sontani telah berusaha untuk menghina Wanamerta, sesepuh tanah perdikan ini. Karena itu, ketika ia mendengar perintah Wanamerta, mereka menjadi heran dan ragu, sehingga Wanamerta terpaksa mengulangi,
Quote:
“Sendang…” suaranya perlahan-lahan,
“Selamatkan Sontani.”
“Selamatkan Sontani.”
Sendang Papat dan Sendang Parapat sadar dari keragu-raguannya. Bagaimanapun perasaannya bergolak di dalam dadanya, namun mereka adalah orang-orang yang patuh. Karena itu mereka tidak menunggu lebih lama lagi. Dengan sigapnya mereka meloncat diantara orang yang bergolak seperti gabah diinteri itu, menyusup langsung ke arah Sontani. Dengan mempergunakan pengalaman-pengalaman serta kelebihan-kelebihan mereka, merekapun segera berhasil berdiri di samping Sontani yang sedang meronta-ronta itu.
Dengan penuh tenaga, Sendang Papat berteriak mengatasi keriuhan suara orang-orang Banyubiru yang marah itu,
Quote:
“Hai, kawan-kawan yang baik. Aku harap kerelaan kalian. Serahkanlah orang ini kepadaku.”
Beberapa orang yang dekat berdiri dengan Sendang Papat itu terkejut, ketika mereka memandanginya, dalam samar-samar sinar obor yang jauh. Bukankah yang berteriak itu Sendang Papat…?
Quote:
Tiba-tiba seorang diantara mereka berkata,
“He, adakah kau Adi Sendang Papat?”
“Ya,” jawabnya singkat.
DARI arah lain terdengar suara,
“Dan inilah adiknya, Sendang Parapat.”
“Bagus, bagus,”teriak yang lain,
“Bukankah kau datang untuk membunuhnya?”
“Lepaskan dia,” kata Sendang Papat keras-keras.
Beberapa orang menjadi ragu-ragu. Tetapi Sendang Papat mendesakkan kata-katanya pula,
“Lepaskan dia. Berhentilah berkelahi. He, yang di sana, berhentilah berkelahi.”
“He, adakah kau Adi Sendang Papat?”
“Ya,” jawabnya singkat.
DARI arah lain terdengar suara,
“Dan inilah adiknya, Sendang Parapat.”
“Bagus, bagus,”teriak yang lain,
“Bukankah kau datang untuk membunuhnya?”
“Lepaskan dia,” kata Sendang Papat keras-keras.
Beberapa orang menjadi ragu-ragu. Tetapi Sendang Papat mendesakkan kata-katanya pula,
“Lepaskan dia. Berhentilah berkelahi. He, yang di sana, berhentilah berkelahi.”
Suara itu disahut oleh Sendang Parapat dan oleh beberapa kawan-kawan yang datang bersamanya. Karena suara-suara itulah maka perkelahian itu terpengaruh pula.
Peperangan itu semakin lama menjadi mereda, dan akhirnya berhenti, meskipun masing-masing wajah masih diliputi oleh ketegangan dan kemarahan.
Quote:
“Serahkan orang itu kepadaku,”
kata Sendang Papat dengan kewibawaan yang mengagumkan orang-orang yang berdiri di sekitarnya. Namun meskipun demikian tampak mereka ragu, seperti Sendang Papat mula-mula juga ragu. Di sebelah lain berdiri dengan kaki renggang, adiknya Sendang Parapat.
Quote:
“Apakah kalian keberatan?” desak Sendang Papat.
Matanya beredar berkeliling. Memandang wajah-wajah yang penuh mengandung pertanyaan. Sedang Sontani sendiri, yang berdiri di hadapan Sendang Papat, tidak pula kalah herannya. Ia tahu benar bahwa Sendang Papat adalah salah seorang yang dikejar-kejarnya selama ini seperti juga Bantaran, Penjawi, Jaladri dan yang lain-lainnya lagi.
Tiba-tiba dari antara mereka, yang berdiri berkeliling itu terdengar sebuah pertanyaan,
Quote:
“Akan kau apakan dia, Sendang Papat?”
Sendang Papat sendiri untuk sesaat bingung mendengar pertanyaan itu. Tetapi kemudian ia menjawab,
“Serahkanlah kepada kebijaksanaan Kiai Wanamerta.”
“Apa yang akan dilakukan?” bertanya yang lain.
“Ia tahu apa yang akan dilakukan,” jawab Sendang Papat.
Sendang Papat sendiri untuk sesaat bingung mendengar pertanyaan itu. Tetapi kemudian ia menjawab,
“Serahkanlah kepada kebijaksanaan Kiai Wanamerta.”
“Apa yang akan dilakukan?” bertanya yang lain.
“Ia tahu apa yang akan dilakukan,” jawab Sendang Papat.
Keadaan menjadi sepi. Sepi namun penuh keraguan. Masing-masing mencoba mengangan-angankan apakah kira-kira yang akan dilakukan oleh Wanamerta.
Tetapi sepi itu tiba-tiba dipecahkan oleh suatu peristiwa yang tak terduga-duga, yang merusak suasana yang hampir baik kembali itu.
Tiba-tiba dari sela-sela orang yang mengerumuni yang pucat lesu itu meloncatlah seseorang yang dengan serta merta menyerang Sendang Parapat. Sebuah tusukan yang kuat mengenai lambung kirinya, sehingga terdengar ia mengaduh.
Tetapi Sendang Parapat adalah seorang yang terlatih. Karena itu sedemikian ia merasakan sebuah tusukan mengenai dirinya, selain tanpa sesadarnya ia mengaduh perlahan, namun dengan cepatnya ia bergerak dengan tenaganya yang terakhir, menangkap tubuh orang yang menusuknya itu, sehingga ketika orang itu akan melarikan diri, tubuh Sendang Parapat yang lemah terseret beberapa langkah.
Tetapi dengan demikian orang itu tidak dapat segera melenyapkan dirinya ke dalam gerombolan orang-orang yang masih berdiri di sana sini. Ia terpaksa berhenti mendorong Sendang Parapat untuk melepaskan pegangannya yang seolah-oleh terkunci.
Dalam saat itulah Sendang Papat, memandangi kejadian itu dengan mata terbelalak. Tusukan yang mengenai adiknya, pada saat ia sedang melindungi Sontani, yang dibencinya, adalah serasa tusukan pada dadanya, yang ditutupinya rapat-rapat, kini seolah-olah tersiram minyak. Seperti kawah gunung berapi yang tak menemukan jalan, tiba-tiba meledaklah kemarahan Sendang Papat.
Ia sempat melihat adiknya berputar cepat sekali, dan menangkap pergelangan tangan orang yang menusuknya. Ia melihat tubuh adiknya yang telah lemah itu terseret beberapa langkah. Maka ia sendiri kemudian seperti thathit meloncat beberapa langkah ke arah orang yang mendorong adiknya, untuk melepaskan pegangannya. Demikian Sendang Parapat terlepas, dan tubuhnya terbanting di tanah, demikian Sendang Papat sampai kepada orang itu.
Wajah Sendang Papat tiba-tiba berubah. Seolah-olah di dalamnya tersembunyi malaikat pencabut nyawa. Dengan tidak berkata sepatah katapun, ia menyerang orang yang menusuk adiknya itu. Orang itupun agaknya sadar pula. Karena itu iapun segera melawan serangan itu.
Sendang Papat benar-benar marah. Tenaganya menjadi seakan-akan belipat-lipat. Seperti badai yang tak tertahan lagi ia menerkam orang yang menusuk lambung adiknya. Betapa orang itu mencoba melawannya, tetapi ternyata Sendang Papat bukanlah lawannya. Karena itu ia terdorong surut beberapa langkah, yang kemudian disusul sebuah pukulan dengan tenaga tergenggam pada dagunya. Pukulan itu demikian kerasnya sehingga orang itu seolah-olah terangkat beberapa jengkal dan terlempar ke belakang, untuk kemudian dengan kerasnya pula terbanting ke tanah.
Sendang Papat sendiri mata gelap. Ia tidak ingat lagi kata Wanamerta, ia tidak ingat lagi pesan Mahesa Jenar dan pemimpin-pemimpin yang lain. Yang teringat hanyalah, seorang dengan licik dan curang telah menusuk adiknya. Seperti seekor harimau ia meloncat ke atas tubuh orang itu, dan dengan sekuat tenaga seperti hujan yang tercurah dari langit, ia menghantam bertubi-tubi wajah orang itu. Terdengarlah orang itu berteriak ngeri. Tetapi juga teriakan itu seolah-olah tak terdengar oleh Sendang Papat yang sedang marah.
Orang-orang yang berdiri di sekitar tempat itu, justru menjadi terdiam seperti patung. Dengan mata terbelalak pula mereka menyaksikan kejadian itu. Kejadian yang berlangsung sedemikian cepatnya. Sehingga apa yang mereka ketahui kemudian adalah Sendang Papat yang marah itu duduk di atas tubuh lawannya yang terlentang di tanah sambil memukulnya habis-habisan untuk mencurahkan kemarahannya yang meluap-luap.
Tetapi kawan-kawan orang itu ternyata tidak tinggal diam. Ketika mereka melihat kawannya tak mampu lagi untuk bergerak, mereka pun kemudian mencoba untuk melepaskannya. Ternyata mereka adalah pengikut-pengikut Sontani.
fakhrie... dan 7 lainnya memberi reputasi
8
Kutip
Balas