Mungkin hanya sedikit perasaan saya, namun entah mengapa bangunan yang berdiri untuk kepentingan para pekerja tinggal selalu berkesan mistis dengan atau tanpa sengaja.
Cerita ini sempat saya akan masukan ke thread saya sebelumnya, namun karena dirasa kurang, akhirnya saya curahkan disini.
Karir satpamnya baru dimulai, Bang Herul baru saja menyelesaikan pendidikan satpamnya di sebuah yayasan sekitar 'CM'. Tak butuh waktu lama, ia segera ditempatkan di sebuah pabrik besar yang bergerak di bidang tekstil di kota yang sama.
Hanya saja lokasi tempatnya bekerja dengan tempatnya tinggal cukup jauh. Butuh waktu sekitar satu jam menggunakan motor, & bisa lebih lama apabila jam sibuk tiba.
Beruntung perusahaan tempatnya bekerja menyediakan mess khusus satpam. Meski tak mewah, mess yang mempunyai 2 ruangan yang sama besar itu ia tempati sesekali.
Letaknya tepat dibelakang pabrik, dengan kamar mandi yang berada diluar kamar namun masih satu bangunan. Bang Herul merasa cukup nyaman untuk tinggal disana.
"Balik kemana, Bang?"
Tanya pak Aan, teman satu shift Bang Herul.
"Kayaknya ke mess dah, pak. Saya rada kecapean."
Keluhnya.
"Yaudah nanti saya susulin kesana."
Ujar Pak Aan sambil berlalu menuju mesin absennya.
Bang Herul melangkah menuju belakang pabrik. Motor ia simpan di parkiran seperti yang lain. Memang baru jam 10 malam, rasa malas juga terlalu hebat untuk diterjang, alhasil tidur di mess untuk malam ini menjadi pilihan.
Bangunan itu mempunyai lorong kecil yang memisahkan dua kamar sehingga pintunya saling berseberangan. Diujung lorong terdapat kamar mandi bersama yang dapat digunakan.
Setelah membuka pintu masuk, ia belok ke kanan, membuka pintu kamar & berbaring disana seketika.
Satu kamar cukup untuk menampung hingga 3 orang dewasa, jadi kemungkinan pak Aan akan menemaninya di kamar yang sama.
Saat ia tengah menonton konser dangdut lewat gawainya, terdengar suara langkah kaki dari luar disusul suara pintu masuk terbuka.
"Pak Aan?"
Serunya.
"Ya."
Jawab suara itu.
Pak Aan rupanya tidak berbelok ke kamar kanan, ia membuka pintu kamar kiri lalu menutupnya.
"Loh? Kirain mau sekamar. Biar ada temen."
Gumam Bang Herul.
Merasa bukan apa-apa, lagu berikutnya ia mainkan. Suara musik terdengar samar lewat headsetnya. Menemaninya malam ini.
Kini, jam menunjukkan pukul setengah 1 malam. Sudah dua jam lebih sejak terakhir ia menyelesaikan shiftnya hari itu. Rasa kantuk menerjang, udara malam itu cukup hangat dari biasanya.
Sebelum ia terlelap, bang Herul meraih perlengkapan mandinya & berniat untuk sekedar membersihkan diri.
"Ngga deh ngga, kalo mandi ngga mungkin. Ya minimal cuci muka."
Ia bangun lalu membuka pintu, kamar diseberangnya ternyata terbuka. Tampaknya tidak ditutup dengan rapat sehingga dapat terlihat seseorang tidur disana.
"emang dingin banget ya sampe harus pake selimut nutupin sebadan segala?"
Malam itu tidaklah sedingin itu sampai harus menggunakan selimut.
Bang Herul berjalan acuh menuju kamar mandi diujung lorong.
Tak ada perasaan aneh apapun sampai ia selesai mengerjakan urusannya.
Ketika selesai, ia masih melihat Pak Aan disana, meringkuk dengan selimut menutupi badan hingga kepalanya.
Ia tak berani menutup pintunya takut membangunkan pak Aan.
Setelah berganti pakaian, Bang Herul membuka pintunya lebar-lebar, duduk disitu, menyalakan rokok & memasang
earphone asik mendengarkan musik dangdaut favoritnya.
Sedang asik-asiknya, tiba-tiba teleponnya berdering. Terpampang nama 'Pak Aan' disana.
"loh?"
Herannya sambil mengangkat telepon itu.
"halo pak?"
Angkatnya.
"Masih di Mess rul? Kesini ke depan, kita lagi ngeliwet."
Ujar Pak Aan di telepon.
"masksudnya bapak lagi didepan? Terus yang tidur di kamar kiri siapa?"
Tanya bang Herul tak paham.
"...."
Hening, tak ada jawaban dari Pak Aan.
"halo pak?"
Bang Herul memastikan, sempat ia berpikir orang yang tidur disitu mungkin saja satpam lain.
"Jangan banyak tanya lagi, sekarang kamu keluar dari mess, lari!"
Perintahnya tiba-tiba.
Bang Herul tertegun sejenak. Keringat dingin mulai mengucur pelan. Gawat, pikirnya.
'Mess sial pasti ini.'
Umpatnya sambil bersiap berlari. Sempat ia lihat kamar di seberangnya, sosok yang tertutup selimut itu perlahan bergerak-gerak.
Bang Herul kini tak bisa bergerak, seolah sesuatu sedang menahan badannya untuk tetap diam.
Matanya terpaku ke arah kamar sana, ia dipaksa melihat apa yang terjadi.
Sosok itu masih bergerak semakin cepat ke kanan-kiri, lalu terlihat berdiri dengan gestur yang aneh. Seperti seluruh tulang di badannya patah atau terlepas tidak pada tempatnya.
'krek kratak krak!'
Saat sosok itu kini berdiri tegak membelakangi Bang Herul barulah ia paham siapa sosok itu.
Tubuh yang terlihat kurus tinggal tulang, berbau busuk, terbungkus kain putih lusuh dari atas hingga bawah dengan aksen simpul khas diatas kepala.
"si..sial..sialan."
Hanya kata itu yang mampu Bang Herul ucapkan. Tubuhnya masih kaku terpaku tanpa bisa bergerak sedikitpun. Kakinya tak mau beranjak bahkan seincipun dari tempatnya.
Bibirnya gemetar, kepalanya seolah berat tak mampu memalingkan pandangan dari sosok itu.
Kini,
Seluruh sendi Bang Herul gemetar hebat.
Sosok yang ia lihat bergerak lagi dengan bunyi patah tulang yang keras, membuat telinganya ngilu.
Badan sosok itu patah ke belakang dari pinggang keatas, posisinya mirip orang sedang melakukan gerakan kayang.
Hanya saja,
Ia melakukannya sambil berdiri.
Dengan posisi itu, kepala yang kini menggantung menghadap Bang Herul yang sedang terpaku terlihat jelas.
Wajah yang hitam karena membusuk, setengah wajahnya bahkan terlihat tengkorak yang menyembul keluar, ulat menggeliat dari sela matanya yang menyala lalu jatuh ke lantai.
Mulut sosok itu menganga dengan posisi rahang bawah bergeser ke arah kiri.
"haaahh...haaahh...haaahh.."
Suara sosok itu berat. Namun wajahnya terlihat marah.
Bang Herul masih terpaku, keringat dinginnya mengucur deras, matanya berkaca ingin menangis, kepalanya semakin berat seolah tertumpu sesuatu.
Saat kejadian itu sedang berlangsung. Pintu masuk mess berbunyi. Pak Aan masuk dengan terburu.
"Rul!"
Panggilnya. Pak Aan langsung dihadapkan pada dengan Bang Herul yang sedang mematung di pintu kamar.
Dengan datangnya pak Aan, sosok itu mulai lenyap. tubuhnya perlahan menjadi transparan dari bawah hingga betul-betul hilang dari pandangan.
Mendengar pak Aan masuk, Bang Herul pingsan seketika.
Yang ia ingat terkahir kali, wajah pak Aan yang panik sambil memanggil namanya berkali-kali.
Siapa sosok itu sebenarnya? Ada apa dengan tempat Bang Herul bekerja? Kenapa dengan mess? Apa yang coba sosok itu katakan?