- Beranda
- Stories from the Heart
KU BUNUH ISTRIKU DEMI PELAKOR
...
TS
tutorialhidup
KU BUNUH ISTRIKU DEMI PELAKOR

Quote:
Diubah oleh tutorialhidup 02-09-2020 06:17
lumut66 dan 18 lainnya memberi reputasi
11
5.5K
85
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
tutorialhidup
#47
Sibuk, para karyawan dan karyawati saat ini tengah asyik berkutat dengan pekerjaannya masing-masing, beberapa diantara mereka berlalu-lalang guna mencari sesuatu yang dibutuhkan.
Duduk di depan laptop dengan setumpuk berkas yang harus ditangani, kepala ini masih terasa pusing akibat memikirkan bayangan hitam kemarin malam beserta surat ancaman yang ia kirimkan.
Sesekali menguap karena semalam aku tidak bisa tidur sama sekali. Menghembuskan napas dengan kasar, ya ampun, setelah kematian Laila hariku berubah jadi sangat suram.
Namun yang terpenting sekarang adalah bagaimana aku menangkap orang yang mengawasiku kemarin? Ck, menggaruk telinga eh, kepala meksudnya. Mencoba untuk mencari sebuah ide di dalam sana.
Ah, aku tahu. Orang itu mengatakan kalau dia selalu mengawasiku, jadi kemanapun aku pergi dia pasti akan mengikuti. Ini akan menjadi rencana yang sempurna, aku akan menjebak orang itu dan membuka semua kedoknya.
****
Saat jam makan siang tiba aku segera bergegas keluar kantor setelah menyelesaikan beberapa berkas yang tadinya menumpuk.
Menghidupkan mesin mobil dan melajukan kendaraan roda empatku itu menuju suatu tempat yang telah aku rencanakan. Beruntung hari ini jalanan tidak macet jadi rencanaku juga akan berjalan dengan lancar.
Keadaan jalan hari ini terlihat ramai lancar. Sesekali kulirik kaca spion mobil guna melihat apakah orang itu akan muncul hari ini. Puas melihat kaca spion dari tadi tak kujumpai jua ada yang mengikuti sampai leher pegal terus melihat ke kiri.
Kulajukan mobil menuju salah satu cafe yang ada di kota ini. Cafe yang dulunya sering aku kunjungi pada saat masih berpacaran dengan Laila. Laila lagi, ck, aku berpikir kalau wanita itu kini seperti kadal saja karena selalu nempel di pikiran ini.
Mobil berhenti di depan cafe, banyak orang berlalu-lalang di sekitaran cafe. Beberapa anak muda yang sedang berkencan bersama kekasihnya beserta orang dewasa terlihat keluar-masuk cafe.
Setelah membuka sabuk pengaman segera kubuka pintu mobil dan berjalan menuju dalam cafe, tak lupa pula melirik ke kanan-kiri guna memerhatikan sekitar apakah ada orang yang mengikuti dari tadi.
Tak ada siapapun di sekitaran ini yang mencurigakan. Apakah memang karena tidak ada yang mengikutiku? Atau aku saja yang kurang teliti menelisik dari tadi? Ah, sudahlah. Lagi pula aku juga lelah ingin istirahat sebentar di cafe ini sambil bernostalgia mengingat kenangan bersama Laila. Laila lagi, sepertinya otakku mulai tidak beres ck,ck,ck.
Baru akan masuk ke dalam cafe aku dikejutkan dengan pemandangan tidak mengenakkan di mata. Bukan, itu bukanlah orang semalam yang mengikutiku tapi kulihat istri mudaku berada di dalam cafe dan ia tak sendirian. Safira duduk di sana dengan seorang lelaki yang entah aku tidak mengenalnya.
Wajah lelaki itu tidak keliatan karena posisinya yang memunggungiku. Cepat aku berbalik sebelum Safira melihat diri berada di sini. Namun, apa yang dilakukannya di cafe bersama dengan lelaki itu? Siapa kira-kira lelaki yang bersama Safira, ya?
Sengaja aku masuk tanpa menoleh kepada mereka berdua. Mendudukkan bokong di kursi yang agak jauh dari meja mereka, memerhatikan wanita yang baru kunikahi selama satu bulan lebih itu dengan tatapan mengintimidasi.
Mata ini terus mengintip mereka dari kejauhan dengan buku menu sebagai senjata untuk menutupi muka. Safira terlihat berbincang mesra dengan lelaki itu dan diselingi dengan canda tawa di antara mereka berdua.
Safira dan lelaki itu bahkan berpegangan tangan layaknya sepasang kekasih, Safira menatapnya dengan tatapan penuh rasa cinta. Shit, hati ini mendadak panas melihat pemandangan yang sangat tak mengenakkan di mata tersebut.
Safira, beraninya dia mengkhinatiku, bermanja di depanku tapi malah ia malah bermesraan bersama lelaki lain di belakangku. Wanita macam apa yang kunikahi itu?
Bangkit dari posisi duduk, hendak menghampiri mereka berdua dan langsung melayangkan bogem mentah pada wajah pria sialan itu yang sudah berani menyentuh milikku. Sekalian juga untuk menampar Safira karena telah berani bermain api dengan lelaki lain di belakangku.
Namun niat itu urung lantaran tiba-tiba saja datang sebuah bisikan kecil di dalam sana yang mengatakan jangan bertindak gegabah sebab belum tentu apa yang kuliat sesuai dengan apa yang kupikirkan saat ini.
Mengepalkan tangan dengan geram, mencoba untuk menetralkan gejolak amarah yang memuncah di dalam dada. Menarik napas panjang agar lebih tenang.
Kulangkahkan kaki ini keluar dari dalam cafe. Masuk ke mobil dan melajukan kendaraan roda empatku itu menjauh dari pelataran cafe, hilang sudah selera dan niat minum kopi di sini tadi.
Masih panas dan geram betul hati melihat pemandangan itu. Safira, wanita yang kunikahi sebulan yang lalu demi cita-cita mendapatkan keturunan bahkan demi dia aku rela melakukan hal gila dan bodoh.
Aku rela dan langsung menuruti keinginannya untuk menyingkirkan istri tuaku yang sudah berjasa besar demi kehadirannya dalam kehidupanku. Namun, sekarang apa yang kudapatkan? Pengkhianatan.
Shiit, aku harus segera menanyakan hal ini padanya dengan terang-terangan atau aku akan kehilangan akal karena ini semua.
Kutambahkan laju kendaraan dengan kecepatan maksimum kini mobilku melesat bak kesetanan, seolah tak peduli lagi walau nanti nyawa ini melayang sebab mobil melaju menbelah jalanan bak angin.
Panas, benar-benar panas rasa di dalam dada mengingat setiap detik kejadian di mana Safira tertawa mesra serta berpegangan tangan bersama lelaki lain.
Beberapa mobil yang kusalip merutuki diri ini karena sudah mengemudi kendaraan bakbkerasukan setan jahannam. Aku tak peduli yang saat ini kutuju hanyalah satu tempat dan tak peduli apa saja yang berada di depan mata akan kutabrak nanti
Sebuah truk bermuatan besar tiba-tiba saja melaju tepat di depan mobil, laju kendaraanku yang tak dapat kukendalikan lagi membuat diri ini tak bisa menghindar lagi hingga mobil yang kutumpangi menabrak badan truk.
Sejenak setelah tabrakan kurasakan kepala ini terasa berat dan berkunang-kunang, bau bahan bakar menyeruak ke dalam rongga hidung. Cairan pekat menetes dari pelipis, padanganku mulai kabur.
Kurasakan badan ini seperti melayang ke udara, tertengar ledakan yang begitu keras hingga dapat kurasakan adanya panas yang menerpa tubuh ini dan setelah itu semuanya berubah menjadi gelap.
Duduk di depan laptop dengan setumpuk berkas yang harus ditangani, kepala ini masih terasa pusing akibat memikirkan bayangan hitam kemarin malam beserta surat ancaman yang ia kirimkan.
Sesekali menguap karena semalam aku tidak bisa tidur sama sekali. Menghembuskan napas dengan kasar, ya ampun, setelah kematian Laila hariku berubah jadi sangat suram.
Namun yang terpenting sekarang adalah bagaimana aku menangkap orang yang mengawasiku kemarin? Ck, menggaruk telinga eh, kepala meksudnya. Mencoba untuk mencari sebuah ide di dalam sana.
Ah, aku tahu. Orang itu mengatakan kalau dia selalu mengawasiku, jadi kemanapun aku pergi dia pasti akan mengikuti. Ini akan menjadi rencana yang sempurna, aku akan menjebak orang itu dan membuka semua kedoknya.
****
Saat jam makan siang tiba aku segera bergegas keluar kantor setelah menyelesaikan beberapa berkas yang tadinya menumpuk.
Menghidupkan mesin mobil dan melajukan kendaraan roda empatku itu menuju suatu tempat yang telah aku rencanakan. Beruntung hari ini jalanan tidak macet jadi rencanaku juga akan berjalan dengan lancar.
Keadaan jalan hari ini terlihat ramai lancar. Sesekali kulirik kaca spion mobil guna melihat apakah orang itu akan muncul hari ini. Puas melihat kaca spion dari tadi tak kujumpai jua ada yang mengikuti sampai leher pegal terus melihat ke kiri.
Kulajukan mobil menuju salah satu cafe yang ada di kota ini. Cafe yang dulunya sering aku kunjungi pada saat masih berpacaran dengan Laila. Laila lagi, ck, aku berpikir kalau wanita itu kini seperti kadal saja karena selalu nempel di pikiran ini.
Mobil berhenti di depan cafe, banyak orang berlalu-lalang di sekitaran cafe. Beberapa anak muda yang sedang berkencan bersama kekasihnya beserta orang dewasa terlihat keluar-masuk cafe.
Setelah membuka sabuk pengaman segera kubuka pintu mobil dan berjalan menuju dalam cafe, tak lupa pula melirik ke kanan-kiri guna memerhatikan sekitar apakah ada orang yang mengikuti dari tadi.
Tak ada siapapun di sekitaran ini yang mencurigakan. Apakah memang karena tidak ada yang mengikutiku? Atau aku saja yang kurang teliti menelisik dari tadi? Ah, sudahlah. Lagi pula aku juga lelah ingin istirahat sebentar di cafe ini sambil bernostalgia mengingat kenangan bersama Laila. Laila lagi, sepertinya otakku mulai tidak beres ck,ck,ck.
Baru akan masuk ke dalam cafe aku dikejutkan dengan pemandangan tidak mengenakkan di mata. Bukan, itu bukanlah orang semalam yang mengikutiku tapi kulihat istri mudaku berada di dalam cafe dan ia tak sendirian. Safira duduk di sana dengan seorang lelaki yang entah aku tidak mengenalnya.
Wajah lelaki itu tidak keliatan karena posisinya yang memunggungiku. Cepat aku berbalik sebelum Safira melihat diri berada di sini. Namun, apa yang dilakukannya di cafe bersama dengan lelaki itu? Siapa kira-kira lelaki yang bersama Safira, ya?
Sengaja aku masuk tanpa menoleh kepada mereka berdua. Mendudukkan bokong di kursi yang agak jauh dari meja mereka, memerhatikan wanita yang baru kunikahi selama satu bulan lebih itu dengan tatapan mengintimidasi.
Mata ini terus mengintip mereka dari kejauhan dengan buku menu sebagai senjata untuk menutupi muka. Safira terlihat berbincang mesra dengan lelaki itu dan diselingi dengan canda tawa di antara mereka berdua.
Safira dan lelaki itu bahkan berpegangan tangan layaknya sepasang kekasih, Safira menatapnya dengan tatapan penuh rasa cinta. Shit, hati ini mendadak panas melihat pemandangan yang sangat tak mengenakkan di mata tersebut.
Safira, beraninya dia mengkhinatiku, bermanja di depanku tapi malah ia malah bermesraan bersama lelaki lain di belakangku. Wanita macam apa yang kunikahi itu?
Bangkit dari posisi duduk, hendak menghampiri mereka berdua dan langsung melayangkan bogem mentah pada wajah pria sialan itu yang sudah berani menyentuh milikku. Sekalian juga untuk menampar Safira karena telah berani bermain api dengan lelaki lain di belakangku.
Namun niat itu urung lantaran tiba-tiba saja datang sebuah bisikan kecil di dalam sana yang mengatakan jangan bertindak gegabah sebab belum tentu apa yang kuliat sesuai dengan apa yang kupikirkan saat ini.
Mengepalkan tangan dengan geram, mencoba untuk menetralkan gejolak amarah yang memuncah di dalam dada. Menarik napas panjang agar lebih tenang.
Kulangkahkan kaki ini keluar dari dalam cafe. Masuk ke mobil dan melajukan kendaraan roda empatku itu menjauh dari pelataran cafe, hilang sudah selera dan niat minum kopi di sini tadi.
Masih panas dan geram betul hati melihat pemandangan itu. Safira, wanita yang kunikahi sebulan yang lalu demi cita-cita mendapatkan keturunan bahkan demi dia aku rela melakukan hal gila dan bodoh.
Aku rela dan langsung menuruti keinginannya untuk menyingkirkan istri tuaku yang sudah berjasa besar demi kehadirannya dalam kehidupanku. Namun, sekarang apa yang kudapatkan? Pengkhianatan.
Shiit, aku harus segera menanyakan hal ini padanya dengan terang-terangan atau aku akan kehilangan akal karena ini semua.
Kutambahkan laju kendaraan dengan kecepatan maksimum kini mobilku melesat bak kesetanan, seolah tak peduli lagi walau nanti nyawa ini melayang sebab mobil melaju menbelah jalanan bak angin.
Panas, benar-benar panas rasa di dalam dada mengingat setiap detik kejadian di mana Safira tertawa mesra serta berpegangan tangan bersama lelaki lain.
Beberapa mobil yang kusalip merutuki diri ini karena sudah mengemudi kendaraan bakbkerasukan setan jahannam. Aku tak peduli yang saat ini kutuju hanyalah satu tempat dan tak peduli apa saja yang berada di depan mata akan kutabrak nanti
Sebuah truk bermuatan besar tiba-tiba saja melaju tepat di depan mobil, laju kendaraanku yang tak dapat kukendalikan lagi membuat diri ini tak bisa menghindar lagi hingga mobil yang kutumpangi menabrak badan truk.
Sejenak setelah tabrakan kurasakan kepala ini terasa berat dan berkunang-kunang, bau bahan bakar menyeruak ke dalam rongga hidung. Cairan pekat menetes dari pelipis, padanganku mulai kabur.
Kurasakan badan ini seperti melayang ke udara, tertengar ledakan yang begitu keras hingga dapat kurasakan adanya panas yang menerpa tubuh ini dan setelah itu semuanya berubah menjadi gelap.
lumut66 memberi reputasi
1