Bang Herul Akik
Cici Cantik
Beberapa minggu setelah tragedi Mita berlalu. Ki Kala yang menjadi dalang pemasangan susuk bertumbal belum lagi bergerak. Teh Yuyun yang (entah bagaimana) berhasil menghapus dampak buruk pada orangtua Mita juga belum menunjukkan tindakan selanjutnya.
Saya yang hanya orang awam biasa tak mampu memahami dunia yang Ki Kala maupun Teh Yuyun geluti.
Alhasil dalam beberapa waktu, kegiatan saya kembali seperti biasa. Hanya saja, ada rasa was-was yang menggelayut di hati.
Sekitar 3 bulan lagi istri saya akan melahirkan, hitung mundur semakin terasa sesak manakala ingat apa yang mungkin saja saya hadapi nanti.
Kelahiran anak pertama yang dinanti, jangan sampai ada gangguan yang bisa mencelakai.
Janji telah diikrar pantang dicabut kecuali saat nyawa telah terenggut. Mengitari pekuburan cina mencoba memastikan apakah cerita Budi benar terjadi atau hanya khayalan fiksi.
Quote:
Dua orang bodoh datang tanpa bekal apapun ke sebuah kompleks pekuburan cina terbesar di kota ini. Bang Herul & aku.
Jangan,
Jangan tanya alasannya apa, kami sepakat ini hanya masalah harga diri.
Takut? Hmm anda bercanda?
Lutut kami gemetar seolah tumpuan tak ada disana. Lebih tepatnya mirip getaran kaki ranjang yang dinaiki saat malam pertama.
"Yakin nih bang?"
Tanyaku dengan berani.
"Masa kalah sama anak-anak yang mabok disini tempo hari? Gak malu apa sama bulu ketek?"
Jawabnya dengan ketus.
"Bulu ketek kedinginan, bulu remang ketakutan."
Selorohku.
"Udah jangan ngomong terus, ini kita udah sampe di tempat yang ditunjukin sama si Budi waktu itu."
Bang Herul segera mengarahkan senternya ke sebuah kuburan besar berwarna merah.
Ada semacam atap disana, luasnya cukup untuk menampung hingga 6 orang. Bahkan 10 orang apabila berdesakan.
Kami segera masuk kesana, melihat di sekitar dengan senter kami masing-masing. Terdapat tempat duduk yang berseberangan, lalu sebuah gundukan dengan lapisan beton sebagai aksen utama dari kuburan ini.
Letaknya ada di tengah areal pekuburan, agak menjorok ke areal belakang. Karena setelah 3 makam (dengan bentuk yang mirip) setelahnya adalah lahan kosong yang ditanami pohon singkong oleh warga setempat.
"Takut gak lu, hah?"
Tantang Bang Herul.
"Enak aja takut, abang kali tuh. Gak sadar dari tadi keringetan?"
Balasku.
"Ini keringet cape jalan kaki ya, bukan keringet dingin gara-gara takut."
Alasannya.
Entah datang darimana, seekor kucing masuk lalu bermanja ria di sekitar kaki Bang Herul dengan tiba-tiba.
"ASW WUAJIM BIAWAK CODOT ONTA!!"
kagetnya sambil beberapa kali berjingkrak tak karuan.
"Hahaha mampus lu Bang, kena karma duluan. Songong sih."
Aku tertawa cukup keras melihatnya ketakutan seperti itu.
"Gua kira tangan setan yang megang kaki, taunya cuma kucing sial."
Umpatnya.
Setelah Bang Herul agak tenang, kami melanjutkan eksplorasi abal-abal ini. Sambil jalan, kadang rokok dihisap, minuman berenergi diteguk.
Selang 20 menitan, kami rasa cukup puas melihat sekitar.
Makam ini sebetulnya cukup nyaman. Udara disekitarnya juga hangat. Berbanding terbalik jika diluar yang dingin. Mungkin karena terhalang pagar beton setinggi 60cm di sekitarnya. Jadi angin malam tidak terlalu menusuk badan bagian bawah.
"Udahan gak nih?"
Tawarku.
"Ayok deh balik. Kayaknya gak ada apa-apanya juga."
Jawabnya.
"Emang kita nyari apaan sih kesini?"
Lanjutku sambil berjalan menuju pintu keluar.
"Itu loh yang diceritain si Budi."
Jawabnya singkat.
"Iya apa?"
Aku memaksa Bang Herul untuk menyebutkan namanya.
"Eh bentar. Si Budi kan bilang waktu kesini motornya bisa diparkir kan, kok kita malah gak bisa ya?"
Pertanyaan Bang Herul membuatku tertegun.
"Apa kita salah makam kali ya?"
Curigaku.
"Dia bilang kan makam besar warna merah yang diujung."
Jelasnya.
"Ujung depan apa belakang nih?"
Tanyaku.
"Mampus, gua gak tanya itu. Gua kira kalo ujung ya ujung belakang."
Ujarnya.
"Terus kalo depan apa dong?"
Tanyaku sedikit dongkol.
"Pintu masuk."
Jawabnya asal.
"Gak salah sih tapi bodo ah."
Responku acuh.
Kemungkinan kami salah makam, lalu dimana makam yang Budi maksud?
Pertanyaan itu terngiang selama kami berjalan menuju gerbang depan.
Gayung bersambut, air terciprat. Makam merah besar lain terlihat.
"Bang, makam itu bukan?"
Tunjukku saat melihatnya.
"Iya kali ya? Gak jauh juga dari tempat kita parkir motor."
Ia mengiyakan.
"Tapi, kenapa tadi gak keliatan ya?"
Rasa penasaranku menggebu.
Segera aku berlari kecil menuju motor, lalu berdiri disana. Mengarahkan senter menuju makam besar merah kedua yang aku temukan.
Benar saja,
Karena kontur jalan yang sedikit menanjak, makam merah kedua ini tidak terlihat.
Akibatnya, Bang Herul yang sok tau langsung ambil arah tujuan sesaat ketika kami sampai tadi.
"Ngapain?"
Tanya Bang Herul ketika sampai di dekatku.
"Liat doang, tadi kenapa gak keliatan pas kita parkir disini."
Jawabku sambil terus memperhatikan makam kedua.
"Yoweslah, wes terlalu bengi geh. Yok balik."
Ajaknya dengan berkata setengah bergumam sambil berjalan didepanku.
"Masa motor mau ditinggal? Bentar dong. Tungguin."
Pintaku sambil terburu merogoh kunci & menyalakan motor.
"Iyo, tak tunggu agak dibawah."
Ujarnya.
Aku segera mengikutinya dengan perlahan menaiki motorku.
Aneh, kok gak ikut naik?
Bahkan Bang Herul jalan hingga gerbang depan terlihat.
Kupikir mungkin dia sedang menghangatkan diri dengan jalan kaki, karena udara di sekitar semakin tipis, dinginnya bahkan menusuk sela-sela jaket yang kukenakan.
Ada sesuatu yang sedang terjadi tanpa kami sadari sebelumnya.
Mari pindahkan POV ke Bang Herul Sejenak.
Quote:
Re berlari kecil mendahuluiku menuju tempat dimana kami meninggalkan motor sesaat ketika dia melihat makam merah kedua.
"Heh, mau ngapain?"
Tanyaku sedikit mengejar.
Belum ada satu menit dia pergi agak menjauh, tiba-tiba Re terlihat putar balik menghampiriku.
"Lanjuti ora?"
tanya Re saat berdiri tepat dihadapanku.
"Ayok, siapa takut?"
Aku menantang.
Responnya sedikit dingin, Re segera berjalan di depanku. Langkahnya tegap meski jalannya menanjak. Kami menggunakan jalur yang banyak makam di kanan-kiri, ada sedikit rasa penasaran.
kenapa kita tidak menggunakan jalan utama beraspal komplek pemakaman ini sambil menaiki motor keatas sana?
Toh sepertinya akan lebih cepat. Namun saat melihat Re masih berjalan semakin menjauh. Aku mengekor di belakang.
Jangan sampai aku kalah berani sama bocah satu itu.
Makam kedua ini lebih kusam meski lebih lebar dari makam pertama yang tadi kami singgahi. Aksen khas masih terlihat menghiasi setiap sudut yang dapat kulihat.
Hanya bedanya disini ada semacam altar mini tempat menyimpan dupa, cangkir & sepasang piring kecil yang berada dikaki makam tepat didepan tulisan mandarin di aksen utama.
Kuraih peralatan itu, tak sengaja cangkir gelasnya jatuh & pecah.
'prang'
Bunyinya menggema sebentar lalu hilang.
"Aduh sorry ci, gak sengaja. Gua benerin ya, gua taro di tempat semula. Besok pasti ada yang ganti kok."
Ucapku sambil memebereskan kekacauan yang tak sengaja aku buat.
Re, masih melihat sekitar. Saat kejadian itu dia cukup sigap untuk membantuku membereskan sisa pecahan & menaruhnya kembali di tempat semula.
Tanpa sekalipun berkata apa-apa.
"Re, kalo si Budi ketemu cici nya disebelah mana? Tau gak kira-kira?"
Kulihat dia masih melihat tulisan mandarin yang menjadi semacam nisan disitu.
Sementara aku yang sedikit merasa bersalah berjalan agak menjauh lalu mencoba memecahkan kecanggungan diantara kami.
"Di sebelah sana, agak keatas, coba tengok pohon itu."
Dia menunjuk langsung sebuah pohon mangga yang berada di samping jalan utama tanpa menoleh sedikitpun.
Kuarahkan senterku pada pohon itu, mencari & bersiap berlari jika si hantu muncul tiba-tiba.
Kuedarkan cahayanya perlahan, harus kuakui rasa takutku tak dapat dibendung. Ada sesuatu yang mengganjal sejak kami menuju makam ini. Tapi entah apa.
Udara malam semakin mengila, tapi keringat di dahi malah jatuh terjun bebas ke pelupuk mata.
Kuusap sembarang karena pandanganku sempat terhalang.
Saat kubuka mata, pohon itu masih disana.
"Gak ada serem-seremnya, iya gak Re?"
Ku toleh pada tempat dimana Re berdiri.
Dia hilang!
Sial, bocah itu mengerjaiku rupanya.
"Gak lucu, Re. Dikira gua bakal lari ketakutan apa?"
Teriakku berharap bocah itu segera keluar dari tempat dimana ia sembunyi agar kami dapat segera menyudahi kegiatan ini.
Hening.
"Re, udah ayo!"
Aku mencarinya di belakang makam, di samping kanan-kiri, di sekitar.
Ajaib!
Bocah semprul satu itu tak dapat aku temukan.
"Kalo gak keluar, gua tinggal nih. Kek bocah lu maen petak umpet!"
Aku segera berjalan keluar menuju pintu masuk areal pemakaman.
Biarkan dia sendirian, nanti kalo udah bosan juga dia pasti menyusulku keluar.
Hingga hal yang lebih sial lagi terjadi.
HP yang sedari tadi kukantongi tiba-tiba berdering.
Saat kulihat, nama bocah semprul itu terpampang di layar.
"heh, gak asik lu main petak umpet, ayok balik ini gua udah mau nginjek jalan aspal."
Aku masih berjalan meninggalkan dia dibelakang.
"apaan petak umpet? Abang tuh bilangnya mau kencing tadi sebelum keluar dari gerbang depan. Ini gua udah diluar areal pemakaman. Gua di warung bang, lu sih lama banget."
Jawabannya betul-betul membuatku tertegun.
"kita tadi pergi bareng ke makam kedua kan?"
Aku mencoba mengkonfirmasi.
"Ngarang! Bukannya abang tadi yang ngajak kita balik pas kelar di makam pertama? Abang sendiri juga yang jalan kaki sampe keluar gerbang depan. Ditawarin naik motor juga diem-diem aja."
Sialan benar-benar kesialan yang paling sial.
Ini tidak salah lagi, kami berdua dikerjai oleh siapapun yang menghuni areal makam ini.
Sedetik kemudian sosok yang Budi ceritakan muncul dari balik pohon itu.
Rambutnya panjang hingga menyentuh tanah berantakan, baju daster merahnya terlihat terang, kontras dengan pemandangan kebun gelap di belakang sosok itu.
& Yang paling sulit kulupa, matanya menyala berwarna kuning!
Seperti diberi aba-aba, aku lari sekuat tenaga.
"Aku adalah kuda tanpa rasa lelah, aku adalah kuda tanpa rasa lelah."
Mantra penguatku bacakan, saat kutengok kebelakang, sosok itu melayang lalu terbang lurus mendekat ke arahku.
Wajahnya terlihat marah.
"PAIT PAIT PAIT, JANGAN MAKAN GUE PLIS, GUE PAIT KEBANYAKAN ROKOK MURAH, SERIUS DAH!!!"
Aku berteriak berharap sosok itu tak mengikuti.
"GRR...HII.. HII...HII"
dia menggeram, lalu tertawa.
"Plis atuh lah, jangan pake menggeram, seumur-umur gak ada kunti yang bunyinya kayak begitu."
Ujarku sedikit protes tanpa sedikitpun berhenti mengucap 'mantra penguat' dalam hati.
Ini sungguh tidak seperti film horor yang pernah ku tonton. Katanya manusia lebih mulia dari setan, ini kenapa setannya malah ngeyel?
Stelah aku, maupun Bang Herul menyadari ada yang salah, aku segera meluncur kembali masuk. POV saya ambil alih lagi.
Quote:
Motor metik kupacu sekencang mungkin menembus setiap tusukan rasa dingin yang tak lagi aku pikirkan.
"Jangan sampe Bang Herul dibawa nyasar terus ilang dibawa kimpoi lari sama demit sini. Mesti bilang apa nanti gua ke bini nya kalo dia kenapa-napa?"
Pikiranku kalut, dari sini aku menyadari bahwa hal yang kami lakukan sia-sia. Harga diri? Pret! Kalo ilang dibawa demit harga diri gak ada lagi gunanya.
Jalan sudah kulalui hampir setengahnya, motor masih kupacu tanpa sedikit mengendurkan gas.
Syukurlah tak lama setelah ku lewati tempat parkir pertama kali,
tubuh kekar setengah tambun itu terlihat berlari dari ujung sana.
"PUTER ARAH RE, PUTER ARAH, CEPETAN!"
Teriaknya saat mata kami bertemu.
Aku lega, namun heran dengan permintaannya.
Sedetik kemudian, aku paham.
Sesosok wanita berambut panjang memakai daster merah terbang di belakang Bang Herul.
Matanya menyala seperti lampu kuning 5 watt yang hampir putus berkedip-kedip.
Wajahnya putih sangat pucat saat kucoba perhatikan.
Setidaknya aku sudah pernah melihat wujud kuntilanak merah yang melegenda saat ini.
Semakin dekat barulah kusadari, wajah sosok itu marah bukan main.
"bodoh bodoh bodoh bodoh...GOUBLOOOOKKK."
aku mengumpat sambil berusaha memutarbalikkan motor dengan susah payah.
Baru saja motor telah menghadap gerbang menuju keluar, Bang Herul melompat ke jok belakang.
"CEPATAN! TARIK GAS!"
ujarnya panik.
"Lu abis ngapain sih, Bang?"
Tanyaku di sela-sela kami menjauh dari sosok itu.
"Gua cuma gak sengaja rusakin tempat dupa pas di makam kedua, gua udah baik hati mau tanggungjawab buat benerin posisinya, eh tu cici malah muncul."
Jelasnya.
"Kok tolol sih?"
Kesalku.
"Heh, kan gua gak sengaja, bego!"
Alasannya.
Kami telah lolos darinya. Gerbang depan telah terlewati dengan panik yang masih menyelimuti.
Akhirnya kami keluar dari areal pemakaman itu.
5 menit kemudian jalan raya nasional terlihat memenangkan.
Kuhentikan motor sebentar, lalu mengecek tubuhku sendiri.
"Kenapa?"
Tanya Bang Herul di belakang.
"Ngecek kali aja ada yang ketinggalan."
Jawabku.
"Ada Re."
Balasnya.
"Apaan?"
Tanyaku singkat.
"Tuh!"
Tunjuknya dibelakang.
Sosok itu berdiri tepat di gerbang masuk. Menatap kami menjauh dengan matanya yang menyala.
Kami segera kabur tanpa bicara apa-apa lagi.
"Setan gak bisa lacak plat nomor kan?"
Tanyaku sambil terus melaju.
"Itu setan! Bukan polisi!"
Ejeknya.
Karena takut, aku menginap di rumah Bang Herul. Kami juga sepakat memberi alasan habis main futsal ke istri Bang Herul.
"Main futsal kok bawa senter segala?"
Istrinya saat itu mencurigai alasan kami.
"Anu buk, ini kita main futsal yang deket kuburan."
Bang Herul memberi alasan.
'ALASAN MACAM APA ITU BANG?!!
Ditutup dengan pandangan sinis dari istrinya. Kamipun masuk, sedikit membersihkan diri.
Aku mengambil tempat tidur di sofa ruang tamu.
Meski rumah ini ada kamar khusus
Samar-samar terdengar dari kamar bang Herul, suara istrinya yang sedang marah karena ia pulang terlalu larut.
'hehe sabar ya Bang'
Tutupku sambil memejamkan mata.
SELESAI