- Beranda
- Stories from the Heart
KU BUNUH ISTRIKU DEMI PELAKOR
...
TS
tutorialhidup
KU BUNUH ISTRIKU DEMI PELAKOR

Quote:
Diubah oleh tutorialhidup 02-09-2020 06:17
lumut66 dan 18 lainnya memberi reputasi
11
5.5K
85
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•1Anggota
Tampilkan semua post
TS
tutorialhidup
#43
Sore hari, saatnya untuk mengistirahatkan ini badan yang sudah letih seharian berkutat dengan pekerjaan. Matahari sore bersinar dengan lembut membawa serta cahayanya yang berwarna jingga nan cerah, sungguh sedap di pandang oleh mata.
Duduk santai di balkon kamar sambil menikmati secangkir kopi. Ah, tidak ada momen yang lebih menenangkan hati dari pada saat ini. Menyandarkan kepala pada kursi sambil memejamkan mata, menikmati setiap detik momen indah ini dan membiarkan cahaya jingga terang di angkasa menerpa muka.
Kembali otak ini memutarkan memori saat bersama Laila di momen menenagkan seperti ini. Masih tergambar jelas bagaimana wajah ayu itu tersenyum indah dengan khimarnya yang menari-nari karena disapu oleh angin senja yang berhembus lembut.
Ck, kenapa di setiap waktu kesendirian seperti ini selalu wajah dan nama Laila yang terbayang di kalbu. Mengapa? Sebegitu beratkah hati ini mengikhlaskannya? Aku sendiri masih bingung dengan semua rasa yang berkecamuk di dalam dada ini.
Membuka HP dengan asal memencet salah satu lagu di dalam sana berharap mendapat ketenangan lebih lewat alunan musik lembut pengiring senja. Sebuah lagu yang berjudul 'Gurauan Berkasih' yang dinyanyikan oleh Siti Nordiana feat Spin mengalun dengan santai.
Usik-mengusik semakin lama menjadi rindu
Hati merindu asyik merindu tersentuh rasa
Tidak terduga timbullah sayang
Andai tak jumpa menjadi gundah
Gurau-gurauan masih terasa dalam bayangan
Setiap detik ingin bersama memadu kasih
Apakah hati dah gila bayang
Merindu kasih darimu sayang ....
"Mas!" Sebuah suara mengejutkanku dan membuyarkan semua momen menenangkan di senja ini.
Segera kumatikan musik yang masih mengalun indah, entah kenapa liriknya mengingatkan dan membuatku rindu akan sosok Laila.
"Ada apa?" tanyaku.
Safira mendekat ke arahku dengan bibir yang majukan beberapa centi. Ia lantas memperlihatkan sebuah seprai berwarna berwarna putih padaku.
Mengeryitkan dahi heran. "Kenapa?" tanyaku lagi.
"Lihat, aku udah cuci seprai ini berkali-kali tapi noda darahnya tetap gak mau hilang," ujar Safira
Ia membentangkan seprai yang berada di tangannya dan memperlihatkan noda darah yang begitu banyak mengotori. Bukan itu saja Safira juga meperlihatkan kemeja berwarna putih milikku yang malam itu kupakai saat membunuh Laila.
Rupanya noda darah Laila tak mau hilang dari seprai dan kemeja ini walaupun Safira bilang ia sudah mencucinya beberapa kali. Aneh, kenapa ini bisa terjadi?
Tangan ini terulur mengambil kemeja yang berada pada Safira. Bau anyir darah nyata tercium saat Safira menyerahkan pakaian itu padaku, tak sanggup rasanya hidung ini menahan bau menyebalkan itu.
Segera kuserahkan kembali pada Safira sambil menutup hidung karena sudah tidak tahan dengan baunya. Namun, hal aneh terjadi, bercak darah segar tertinggal di punggung tanganku. Benar-benar aneh, dari mana darah segar ini berasal? Karena kulihat noda darah pada kemeja tadi sudah mengering dan mulai menghitam.
Semakin lama darah yang berada di punggung tanganku semakin banyak hingga menetes ke lantai. Safira ikut terperangah melihat kejadian aneh ini.
"Fira, tolong ambilkan sapu tangan," titiahku.
Cepat Safira mencari benda yang tadi kumaksud dan menyerahkannya. Perlahan kulap sisa darah yang masih berada di tangan ini.
Istri mudaku itu kemudian melenggang pergi dari kamar membawa serta seprei dan kemeja tadi. Perasaanku tidak enak semenjak darah segar tadi mengalir di tanganku.
Cukup lama aku berdiri mematung di tempat karena masih kepikiran kejadian tadi hingga tanpa sadar matahari telah bersembunyi si peraduannya.
***
Gelap, kurasakan mata ini seperti buta sebab tak ada sedikitpun cahaya yang menyusup ke retina. Tangan dan kaki terasa mati rasa karena tak bisa kugerakkan, apa yang terjadi padaku?
Mata ini terus berkelana mencari mungkin ada cahaya yang dapat menjadi pelita di saat gulita ini menyiksa jiwa dan raga. Setitik cahaya tiba menerpa wajah, mata memicing karena silaunya masuk ke retina.
Perlahan, tapi pasti cahaya yang tadinya sekecil biji rambutan kini makin melebar dan membuat keadaan sekitar jadi terang. Sepi, di bawah sebuah pohon mati yang dikelilingi hutan dengan kayu-kayu menjulang tinggi.
Tak ada apapun, angin malam berdesau mendinginkan jasmani, mencoba untuk bergerak melihat ke kanan kiri jikalau mungkin ada orang lain di sini.
Beberapa kali aku berteriak memastikan mungkin ada mahkluk selain diri ini jadi penghuni hutan. Namun, semua sia-sia belaka, tak kudapati satu semut pun di hutan ini.
Berhenti sejenak sambil mengusap dada, menetralisir segala rasa yang berada di sana. Naik-turun napas karena lelah berlari memutar dari tadi.
Srek!
Srek!
Indra pendengaran menangkap adanya langkah kaki orang menginjak dedaunan kering. Kucoba untuk berbalik perlahan memastikan mahkluk apa itu yang datang.
Tubuh ini terjungkal ke belakang setelah netra mendapati mahkluk di depan mata. Sesosok mahkluk menyeramkan muncul dari dalam gelapnya bayang kayu hutan.
Dia menyeret kakinya yang berlumur darah dengan kepala menunduk dalam, tubuh dibungkukkan seakan tak lagi bertulang belakang, rambut hitam panjang yang kusut kian lusuh sebab terseret di tanah tak beraturan.
Samar kulihat tangannya menggenggam benda butih panjang, bau anyir darah serta bangkai menyeruak memenuhi rongga hidung, aku berusaha menutup hidung dengan tangan guna menghalau bau yang teramat dibenci ini.
Namun, tak berhasil. Kembali daksa ini kurasakan mati seolah jiwa telah melayang pergi. Mencoba untuk bergerak tapi sia-sia aku terkunci di bawah pohon beringin nan tinggi sedangkan mahkluk itu terus mendekat.
Bau bangkai bercampur anyir makin kentara menyesak hidung dan menyiksa rongga dada. Semilir angin malam berhembus menyapu rambut kusut nan lusuh miliknya hingga menyentuh wajah tampan ini.
Dekat, dia sangat dekat, sedikit demi sedikit kepala yang tertunduk dalam itu mulai mendongak, tangan yang memegang benda putih panjang tadi di dekatkan padaku. Uraian rambut yang tadinya menutupi tangan kini mulai tersingkir seiring diangkatnya ke atas.
Astafirullah, dada ini kian sesak melihat benda yang berada di tangannya. Bukan, itu bukan tali ataupun semacamnya tapi sebuah usus manusia yang tertarik dari dalam perutnya. Kepala itu mendongak menatapku.
Namun, wajahnya tak jelas sebab anak rambut menutupi mukanya. Tersapu angin satu demi satu mulai terlihat kulit putih pucatnya, wajah itu makin dekat ke arahku dengang sebelah mata yang terlihat dia tutup rapat.
Makin dekat, makin dekat, makin jelas dan ... netra itu terbuka lebar dengan bola mata yang merah menyala.
"Tidaaaak!"
Duniaku seakan gelap lalu berputar-putar dan kemudian terjatuh. Kurasakan ada seseorang yang menguncang tubuh ini sambil memanggil nama.
Aku tersentak di tengah malam, dada bergemuruh naik-turun tak beraturan serta keringat yang telah membasahi wajah dan badan.
"Mas, kamu kenapa?" Suara seseorang.
Melirik ke arah kiri, wajah cantik istri mudaku terlihat di sana dengan raut muka khawatir bercampur takut. Safira menanyakan keadaanku tapi tak kujawab hanya gelengan kepala yang kuberikan sebagai gantinya.
Lidah ini seakan kelu untuk bicara walau hanya sepatah kata. Laila, mungkinkah dia lagi yang menerorku? Sebegitu bencikah dirimu, Laila pada hingga diri ini sehingga tak pernah satu malam pun kau buat tenang hidupku setelah ketiadaanmu?
"Mas kenapa? Kok dari tadi teriak-teriak?" Suara lembut itu bertanya.
"Ti-tidak apa-apa, hanya mimpi buruk tadi," ucapku.
Melirik jam yang tergantung di dinding, pukul tengah malam tepat. Setelah merasa cukup tenang kembali kuajak Safira untuk tidur, wanita cantik itu kembali pulas di buai alam mimpi tapi tidak denganku, sampai pagi menjelang dan sang surya menampakkan wujud mata ini tak mau sedikit pun terpejam dari tadi malam.
Duduk santai di balkon kamar sambil menikmati secangkir kopi. Ah, tidak ada momen yang lebih menenangkan hati dari pada saat ini. Menyandarkan kepala pada kursi sambil memejamkan mata, menikmati setiap detik momen indah ini dan membiarkan cahaya jingga terang di angkasa menerpa muka.
Kembali otak ini memutarkan memori saat bersama Laila di momen menenagkan seperti ini. Masih tergambar jelas bagaimana wajah ayu itu tersenyum indah dengan khimarnya yang menari-nari karena disapu oleh angin senja yang berhembus lembut.
Ck, kenapa di setiap waktu kesendirian seperti ini selalu wajah dan nama Laila yang terbayang di kalbu. Mengapa? Sebegitu beratkah hati ini mengikhlaskannya? Aku sendiri masih bingung dengan semua rasa yang berkecamuk di dalam dada ini.
Membuka HP dengan asal memencet salah satu lagu di dalam sana berharap mendapat ketenangan lebih lewat alunan musik lembut pengiring senja. Sebuah lagu yang berjudul 'Gurauan Berkasih' yang dinyanyikan oleh Siti Nordiana feat Spin mengalun dengan santai.
Usik-mengusik semakin lama menjadi rindu
Hati merindu asyik merindu tersentuh rasa
Tidak terduga timbullah sayang
Andai tak jumpa menjadi gundah
Gurau-gurauan masih terasa dalam bayangan
Setiap detik ingin bersama memadu kasih
Apakah hati dah gila bayang
Merindu kasih darimu sayang ....
"Mas!" Sebuah suara mengejutkanku dan membuyarkan semua momen menenangkan di senja ini.
Segera kumatikan musik yang masih mengalun indah, entah kenapa liriknya mengingatkan dan membuatku rindu akan sosok Laila.
"Ada apa?" tanyaku.
Safira mendekat ke arahku dengan bibir yang majukan beberapa centi. Ia lantas memperlihatkan sebuah seprai berwarna berwarna putih padaku.
Mengeryitkan dahi heran. "Kenapa?" tanyaku lagi.
"Lihat, aku udah cuci seprai ini berkali-kali tapi noda darahnya tetap gak mau hilang," ujar Safira
Ia membentangkan seprai yang berada di tangannya dan memperlihatkan noda darah yang begitu banyak mengotori. Bukan itu saja Safira juga meperlihatkan kemeja berwarna putih milikku yang malam itu kupakai saat membunuh Laila.
Rupanya noda darah Laila tak mau hilang dari seprai dan kemeja ini walaupun Safira bilang ia sudah mencucinya beberapa kali. Aneh, kenapa ini bisa terjadi?
Tangan ini terulur mengambil kemeja yang berada pada Safira. Bau anyir darah nyata tercium saat Safira menyerahkan pakaian itu padaku, tak sanggup rasanya hidung ini menahan bau menyebalkan itu.
Segera kuserahkan kembali pada Safira sambil menutup hidung karena sudah tidak tahan dengan baunya. Namun, hal aneh terjadi, bercak darah segar tertinggal di punggung tanganku. Benar-benar aneh, dari mana darah segar ini berasal? Karena kulihat noda darah pada kemeja tadi sudah mengering dan mulai menghitam.
Semakin lama darah yang berada di punggung tanganku semakin banyak hingga menetes ke lantai. Safira ikut terperangah melihat kejadian aneh ini.
"Fira, tolong ambilkan sapu tangan," titiahku.
Cepat Safira mencari benda yang tadi kumaksud dan menyerahkannya. Perlahan kulap sisa darah yang masih berada di tangan ini.
Istri mudaku itu kemudian melenggang pergi dari kamar membawa serta seprei dan kemeja tadi. Perasaanku tidak enak semenjak darah segar tadi mengalir di tanganku.
Cukup lama aku berdiri mematung di tempat karena masih kepikiran kejadian tadi hingga tanpa sadar matahari telah bersembunyi si peraduannya.
***
Gelap, kurasakan mata ini seperti buta sebab tak ada sedikitpun cahaya yang menyusup ke retina. Tangan dan kaki terasa mati rasa karena tak bisa kugerakkan, apa yang terjadi padaku?
Mata ini terus berkelana mencari mungkin ada cahaya yang dapat menjadi pelita di saat gulita ini menyiksa jiwa dan raga. Setitik cahaya tiba menerpa wajah, mata memicing karena silaunya masuk ke retina.
Perlahan, tapi pasti cahaya yang tadinya sekecil biji rambutan kini makin melebar dan membuat keadaan sekitar jadi terang. Sepi, di bawah sebuah pohon mati yang dikelilingi hutan dengan kayu-kayu menjulang tinggi.
Tak ada apapun, angin malam berdesau mendinginkan jasmani, mencoba untuk bergerak melihat ke kanan kiri jikalau mungkin ada orang lain di sini.
Beberapa kali aku berteriak memastikan mungkin ada mahkluk selain diri ini jadi penghuni hutan. Namun, semua sia-sia belaka, tak kudapati satu semut pun di hutan ini.
Berhenti sejenak sambil mengusap dada, menetralisir segala rasa yang berada di sana. Naik-turun napas karena lelah berlari memutar dari tadi.
Srek!
Srek!
Indra pendengaran menangkap adanya langkah kaki orang menginjak dedaunan kering. Kucoba untuk berbalik perlahan memastikan mahkluk apa itu yang datang.
Tubuh ini terjungkal ke belakang setelah netra mendapati mahkluk di depan mata. Sesosok mahkluk menyeramkan muncul dari dalam gelapnya bayang kayu hutan.
Dia menyeret kakinya yang berlumur darah dengan kepala menunduk dalam, tubuh dibungkukkan seakan tak lagi bertulang belakang, rambut hitam panjang yang kusut kian lusuh sebab terseret di tanah tak beraturan.
Samar kulihat tangannya menggenggam benda butih panjang, bau anyir darah serta bangkai menyeruak memenuhi rongga hidung, aku berusaha menutup hidung dengan tangan guna menghalau bau yang teramat dibenci ini.
Namun, tak berhasil. Kembali daksa ini kurasakan mati seolah jiwa telah melayang pergi. Mencoba untuk bergerak tapi sia-sia aku terkunci di bawah pohon beringin nan tinggi sedangkan mahkluk itu terus mendekat.
Bau bangkai bercampur anyir makin kentara menyesak hidung dan menyiksa rongga dada. Semilir angin malam berhembus menyapu rambut kusut nan lusuh miliknya hingga menyentuh wajah tampan ini.
Dekat, dia sangat dekat, sedikit demi sedikit kepala yang tertunduk dalam itu mulai mendongak, tangan yang memegang benda putih panjang tadi di dekatkan padaku. Uraian rambut yang tadinya menutupi tangan kini mulai tersingkir seiring diangkatnya ke atas.
Astafirullah, dada ini kian sesak melihat benda yang berada di tangannya. Bukan, itu bukan tali ataupun semacamnya tapi sebuah usus manusia yang tertarik dari dalam perutnya. Kepala itu mendongak menatapku.
Namun, wajahnya tak jelas sebab anak rambut menutupi mukanya. Tersapu angin satu demi satu mulai terlihat kulit putih pucatnya, wajah itu makin dekat ke arahku dengang sebelah mata yang terlihat dia tutup rapat.
Makin dekat, makin dekat, makin jelas dan ... netra itu terbuka lebar dengan bola mata yang merah menyala.
"Tidaaaak!"
Duniaku seakan gelap lalu berputar-putar dan kemudian terjatuh. Kurasakan ada seseorang yang menguncang tubuh ini sambil memanggil nama.
Aku tersentak di tengah malam, dada bergemuruh naik-turun tak beraturan serta keringat yang telah membasahi wajah dan badan.
"Mas, kamu kenapa?" Suara seseorang.
Melirik ke arah kiri, wajah cantik istri mudaku terlihat di sana dengan raut muka khawatir bercampur takut. Safira menanyakan keadaanku tapi tak kujawab hanya gelengan kepala yang kuberikan sebagai gantinya.
Lidah ini seakan kelu untuk bicara walau hanya sepatah kata. Laila, mungkinkah dia lagi yang menerorku? Sebegitu bencikah dirimu, Laila pada hingga diri ini sehingga tak pernah satu malam pun kau buat tenang hidupku setelah ketiadaanmu?
"Mas kenapa? Kok dari tadi teriak-teriak?" Suara lembut itu bertanya.
"Ti-tidak apa-apa, hanya mimpi buruk tadi," ucapku.
Melirik jam yang tergantung di dinding, pukul tengah malam tepat. Setelah merasa cukup tenang kembali kuajak Safira untuk tidur, wanita cantik itu kembali pulas di buai alam mimpi tapi tidak denganku, sampai pagi menjelang dan sang surya menampakkan wujud mata ini tak mau sedikit pun terpejam dari tadi malam.
lumut66 memberi reputasi
1