- Beranda
- Stories from the Heart
Kisah Horor: Mess Trainer
...
TS
re.dear
Kisah Horor: Mess Trainer
Kisah horor: Mess Trainer
Spoiler for WARNING:
Cerita ini 80% Fiksi, 10% dapet nanya orang, 9% mengarang bebas, 1% kenyataan. Silahkan diambil apa yang bisa diambil.
Quote:
Akhir 2017 lalu kontrak kerjaku habis & pihak manajemen enggan untuk memperpanjangnya, alhasil bertambahlah satu pengangguran baru di negeri ini.
Namun karena saya ini orang rajin & tak mengenal kata menyerah apalagi urusan duit & perut, dalam satu minggu saya sudah mendapatkan pekerjaan baru lagi.
Namun karena saya ini orang rajin & tak mengenal kata menyerah apalagi urusan duit & perut, dalam satu minggu saya sudah mendapatkan pekerjaan baru lagi.

Quote:
Hanya saja, posisi yang saya ajukan perlu ditraining terlebih dahulu di kantor pusat di daerah T selama 1 bulan, karena masa training, gaji juga hanya dibayar 60% dari total yang seharusnya.
Bukan laki-laki namanya kalo cuma gini aja nyerah, saya sanggupin. & Dimulailah kisah penyiksaan dengan dalih 'training' ini dimulai.
Bukan laki-laki namanya kalo cuma gini aja nyerah, saya sanggupin. & Dimulailah kisah penyiksaan dengan dalih 'training' ini dimulai.
Quote:
Orang-orang memanggil saya sam, kepanjangan dari Samiun. Laki-laki dengan tinggi secukupnya, berat badan ideal cenderung gembul, juga berperawakan manis. Kata ayah saya, saya mirip aktor Indra. L Brugman versi gosong. Lain kepala, lain isi. Ibu malah bilang saya mirip aktor india Amitha Bacchan versi lokal. Apapun itu, saya berpendapat saya lebih mirip Brad Pitt yang kelamaan main layangan.
Sesampainya di kota T, setelah seharian di kantor. Akhirnya saya ditunjukkan pada sebuah mess dimana saya akan tinggal selama masa training ini.
Messnya berbentuk huruf "U" tapi lebih ke huruf "n" sih sebetulnya. Soalnya gerbang depan itu langsung berhadapan dengan kantor administrasi umum, belakangnya ada tempat parkir lalu gedung lantai 3 di sebalah kiri sebagai mess khusus laki-laki, lalu ditutup oleh gedung lain yang terlihat seperti gudang penyimpanan barang-barang keperluan konter.
Ada 6 orang yang saat itu menempuh masa training bareng saya.
Sesampainya di kota T, setelah seharian di kantor. Akhirnya saya ditunjukkan pada sebuah mess dimana saya akan tinggal selama masa training ini.
Messnya berbentuk huruf "U" tapi lebih ke huruf "n" sih sebetulnya. Soalnya gerbang depan itu langsung berhadapan dengan kantor administrasi umum, belakangnya ada tempat parkir lalu gedung lantai 3 di sebalah kiri sebagai mess khusus laki-laki, lalu ditutup oleh gedung lain yang terlihat seperti gudang penyimpanan barang-barang keperluan konter.
Ada 6 orang yang saat itu menempuh masa training bareng saya.
Quote:
Saya masih ingat kawan sepenanggungan. 2 orang dari jawa tengah yang punya aksen kental, tapi otak encer. Lukman yang lebih tinggi dari Reza tapi Reza lebih putih dari Lukman.
1 orang dari Lampung, Agus, badannya berisi, tegap, putih, sipit. Paling sering bilang dia cina gagal, soalnya kurang oriental. Mas Agus ini cewenya banyak. Paling jago kalo urusan gombal. Kabag aja yang janda berumur bisa dia taklukan selama masa training.
2 lagi dari Cianjur. Iman yang paling soleh diantara kita semua, berbanding terbalik dengan Fikri yang lebih slengean. Kata-kata andalannya "only God can jugde me." Kadang ditimpali oleh tafsir ayat kitab suci yang dikutip oleh Iman sebagai balasannya.
1 orang dari Lampung, Agus, badannya berisi, tegap, putih, sipit. Paling sering bilang dia cina gagal, soalnya kurang oriental. Mas Agus ini cewenya banyak. Paling jago kalo urusan gombal. Kabag aja yang janda berumur bisa dia taklukan selama masa training.
2 lagi dari Cianjur. Iman yang paling soleh diantara kita semua, berbanding terbalik dengan Fikri yang lebih slengean. Kata-kata andalannya "only God can jugde me." Kadang ditimpali oleh tafsir ayat kitab suci yang dikutip oleh Iman sebagai balasannya.
Quote:
Dimulailah kisah saya bersama rekan-rekan ini dalam menghadapi malam-malam yang selalu punya cerita. Kadang lucu, kadang gawat.
Spoiler for eps.1: shift:
Disini setiap orang selalu bergiliran dalam pemberian materi pelatihan. Alhasil dalam satu minggu kami semua jarang berkumpul secara lengkap (bahkan weekend sekalipun kami masih kerja).
itu kerja apa dikerjain?
Ngga apa-apalah, namanya juga nyari duit.
Kejadiannya sore itu, saya masuk shift malam bersama Iman. Masuk jam 4 sore pulang jam 7 pagi. Capek? Jangan ditanya.
Sementara yang lain masuk jam 7 pagi & pulang jam 4 sore. Kebalik & gampang diingat pembagiannya.
Jam 10 malam saya & Iman sedang istirahat, karena jam 11 malam nanti laporan staf konter pada masuk, pasti sibuk. Makanya, mumpung masih santai kita ngopi dulu barang sebatang dua batang mah.
Ngga ada angin, ngga ada hujan, ngga ada mantan, ngga ada selingkuhan, Fikri yang notabene anak paling bengal tiba-tiba lari ke arah kita yang lagi asik menikmati nikotin.
"Gua ngikut tidur disinilah, boleh ya?"
Pintanya tiba-tiba, terlihat keringat sebesar biji salak jatuh dari kening & ketiaknya.
"Emang mess kenapa?"
Selidikku.
"Gua liat ada cewe di lantai 3."
Jawabnya singkat masih dengan nafas tersengal.
"Paling ada anak cewe yang lagi main disitu. Jangan mikir yang nggak-nggak."
Iman berujar.
"Heh curut purba! Mess cewe kan jauh dari mess kita. Ngapain mereka kesini?"
Kesalnya.
"Emang ceritanya gimana? Lagian lu ngapain ke lantai 3? Udah tau disitu kosong."
Sergahku.
"Loh? Emang kosong ta? Kirain ada yang nempatin loh. Soalnya waktu itu pas gua ke atas buat ambil jemuran abis magrib, kayak banyak orang ngobrol di kamar-kamar lantai 3."
Iman menambahi.
"Apa gua bilang kan?"
Seolah fikri didukung oleh pernyataan iman itu.
Tumben, biasanya mereka selalu bertentangan.
"Yaudah sih, asal jangan ganggu aja. Kalopun itu hantu. Masing-masing aja kan bisa?"
Usulku asal.
"Masing-masing gimana? Kalo dia suka jail nampakin gitu? Suka ketawa-ketawa gitu?"
Fikri mendengus kesal.
"Ya itu masing-masingnya, dia ketawa kita dengerin. Kita dengerin, dia ketawa. Ngga ganggu kan?"
Aku masih ngotot.
"TERSERAH!"
Fikri pergi menuju gudang, sepertinya dia akan meminta izin untuk bisa tidur disini (tanpa bantu-bantu tentunya).
itu kerja apa dikerjain?
Ngga apa-apalah, namanya juga nyari duit.
Kejadiannya sore itu, saya masuk shift malam bersama Iman. Masuk jam 4 sore pulang jam 7 pagi. Capek? Jangan ditanya.
Sementara yang lain masuk jam 7 pagi & pulang jam 4 sore. Kebalik & gampang diingat pembagiannya.
Jam 10 malam saya & Iman sedang istirahat, karena jam 11 malam nanti laporan staf konter pada masuk, pasti sibuk. Makanya, mumpung masih santai kita ngopi dulu barang sebatang dua batang mah.
Ngga ada angin, ngga ada hujan, ngga ada mantan, ngga ada selingkuhan, Fikri yang notabene anak paling bengal tiba-tiba lari ke arah kita yang lagi asik menikmati nikotin.
"Gua ngikut tidur disinilah, boleh ya?"
Pintanya tiba-tiba, terlihat keringat sebesar biji salak jatuh dari kening & ketiaknya.
"Emang mess kenapa?"
Selidikku.
"Gua liat ada cewe di lantai 3."
Jawabnya singkat masih dengan nafas tersengal.
"Paling ada anak cewe yang lagi main disitu. Jangan mikir yang nggak-nggak."
Iman berujar.
"Heh curut purba! Mess cewe kan jauh dari mess kita. Ngapain mereka kesini?"
Kesalnya.
"Emang ceritanya gimana? Lagian lu ngapain ke lantai 3? Udah tau disitu kosong."
Sergahku.
"Loh? Emang kosong ta? Kirain ada yang nempatin loh. Soalnya waktu itu pas gua ke atas buat ambil jemuran abis magrib, kayak banyak orang ngobrol di kamar-kamar lantai 3."
Iman menambahi.
"Apa gua bilang kan?"
Seolah fikri didukung oleh pernyataan iman itu.
Tumben, biasanya mereka selalu bertentangan.
"Yaudah sih, asal jangan ganggu aja. Kalopun itu hantu. Masing-masing aja kan bisa?"
Usulku asal.
"Masing-masing gimana? Kalo dia suka jail nampakin gitu? Suka ketawa-ketawa gitu?"
Fikri mendengus kesal.
"Ya itu masing-masingnya, dia ketawa kita dengerin. Kita dengerin, dia ketawa. Ngga ganggu kan?"
Aku masih ngotot.
"TERSERAH!"
Fikri pergi menuju gudang, sepertinya dia akan meminta izin untuk bisa tidur disini (tanpa bantu-bantu tentunya).
Spoiler for Absen:
kejadiannya di kantor umum yang depan mess. Saat itu saya sedang mengerjakan laporan, karena masih training jadi pengerjaannya memakan waktu lama (alasan aja ini mah).
Seperti pinang dibelah dua, kawan senasib saya juga tengah sibuk di ujung sana dengan pekerjaannya.
"Man, kalo udah beres, tungguin ya. Barengan kita keluarnya."
Pintaku tanpa menoleh ke arahnya.
"Kebalik mas, kalo situ udah beres, tungguin saya."
Balasnya.
"Loh? Bukannya laporanmu tinggal sedikit lagi? Tadi siang kan hampir beres."
Ucapku penasaran.
"Dimarahin sama bu Dewi, harus ngulang lagi dari awal."
Dengusnya kesal.
"Hahahaha! Tenang aja, aku orangnya setia kawan kok."
Ucapku yang tak lama kemudian segera mematikan komputer.
"Tuh kan? Makanya tungguin."
Lukman memelas.
Namun sayang,
Pak satpam muncul dari depan.
"Kalian kok belum selesai? Hampir magrib loh ini."
Ujarnya.
"Sedikit lagi pak, tuh temen saya."
Balasku.
"Pokoknya sebelum magrib udah selesai ya?"
Katanya sambil berlalu keluar.
Kami saling bertukar pandang, sama-sama berkata dalam pikiran "kayaknya ada yang gak beres."
Seolah memahami telepati, Lukman langsung kebut laporannya, terdengar dari suara keyboard yang ia hantam dengan kecepatan menyamai keyboard warrior saat membela hal yang ia anggap perlu dibela.
Kurang dari 20 menit lebih dikit, kerjaannya selesai. Tanpa menunggu aba-aba kami langsung turun ke bawah untuk melakukan absen pulang.
Baru saja kaki ini menuruni anak tangga pertama tiba-tiba terdengar suara mesin absen.
"terimakasih"
Mampus!
Siapa yang absen pulang? Kita sudah tau kalo ngga ada lagi yang kerja setelah kita.
Tukar pandang kembali terjadi.
Kali ini, kita sama-sama tertegun. Jam menunjukkan 5 menit lagi adzan magrib berkumandang di surau seberang. Pilihannya, tunggu adzan berkumandang atau jurus 'terobos ajalah.'
"Gimana?"
Lukman membuka percakapan.
"Gak ada jaminan nanti setelah magrib gak ada lagi yang muncul. Mess cuma dibelakang. Perjuangan kita singkat. Paling beberapa meter doang."
Aku meyakinkan.
"Oke, gua terima."
Ujarnya sambil menghela nafas panjang.
Kami turun dengan perlahan, berharap tidak ada siapapun didepan mesin absen.
Anak tangga sudah terlewati setengah dengan sempurna, diiringi detak jantung yang kian memacu.
Mesin absen terlihat!
Sial!
Tak ada orang yang terlihat. Jujur aku berharap ada seorang batang manusia yang entah siapa baru saja selesai & bersiap pulang.
Jika tak ada orang, maka bisa jadi yang tadi absen makhluk lain.
Tegang menyelimuti, air liur kutelan dengan usaha besar. Ini bukan main-main.
Saat anak tangga terakhir paling bawah kami injak, terdengar suara menangis di lantai atas yang kami tinggali barusan.
Alhasil lomba lari tanpa dengan tujuan mesin absen langsung terjadi. Lomba berebutan absen juga menjadi garis finish, dilanjut pintu keluar kami berhamburan.
Sialan!
Masa setan jam segini udah keluar?
Saat kami tiba diluar, aku melihat ke arah jendela lantai dua dimana suara tangisan tadi berasal. Sekilas, bayangan seseorang seperti terlihat melewati jendela itu.
Rambut panjang, gaun putih.
Melihat kami yang baru keluar dari gedung dengan kondisi nafas yang tinggal separuh, satpam hanya berkata.
"Itu mbak Yuni, dia meninggal gantung diri karena hamil diluar nikah sama manajer cabang sini dulunya, padahal semua orang tau kalo manajer itu udah punya anak istri. Entah alasannya supaya apa dia gantung diri di sekitar pegangan tangga lantai 3 ke lantai 2. Mayatnya tergantung sampe besok pagi baru ketauan. Padahal orangnya cantik, baik. Tapi malah kenal buaya."
Tak lupa, asap rokok menyelingi setiap kata-katanya.
"Tapi, mess aman kan?"
Aku bertanya dengan waswas.
"Kadang, semakin sedikit tau, semakin bagus."
Ujarnya sambil berlalu.
"Sok bijak amat sih tu satpam?"
Ejek Lukman sambil memegangi lututnya yang gemetar.
"Udahlah, yok balik ke mess. Masing-masing aja kita."
Sahutku berjalan menjauh sambil Lukman mengekor tak lupa mendumel karena bisa saja mess menjadi lebih parah dari ini.
Seperti pinang dibelah dua, kawan senasib saya juga tengah sibuk di ujung sana dengan pekerjaannya.
"Man, kalo udah beres, tungguin ya. Barengan kita keluarnya."
Pintaku tanpa menoleh ke arahnya.
"Kebalik mas, kalo situ udah beres, tungguin saya."
Balasnya.
"Loh? Bukannya laporanmu tinggal sedikit lagi? Tadi siang kan hampir beres."
Ucapku penasaran.
"Dimarahin sama bu Dewi, harus ngulang lagi dari awal."
Dengusnya kesal.
"Hahahaha! Tenang aja, aku orangnya setia kawan kok."
Ucapku yang tak lama kemudian segera mematikan komputer.
"Tuh kan? Makanya tungguin."
Lukman memelas.
Namun sayang,
Pak satpam muncul dari depan.
"Kalian kok belum selesai? Hampir magrib loh ini."
Ujarnya.
"Sedikit lagi pak, tuh temen saya."
Balasku.
"Pokoknya sebelum magrib udah selesai ya?"
Katanya sambil berlalu keluar.
Kami saling bertukar pandang, sama-sama berkata dalam pikiran "kayaknya ada yang gak beres."
Seolah memahami telepati, Lukman langsung kebut laporannya, terdengar dari suara keyboard yang ia hantam dengan kecepatan menyamai keyboard warrior saat membela hal yang ia anggap perlu dibela.
Kurang dari 20 menit lebih dikit, kerjaannya selesai. Tanpa menunggu aba-aba kami langsung turun ke bawah untuk melakukan absen pulang.
Baru saja kaki ini menuruni anak tangga pertama tiba-tiba terdengar suara mesin absen.
"terimakasih"
Mampus!
Siapa yang absen pulang? Kita sudah tau kalo ngga ada lagi yang kerja setelah kita.
Tukar pandang kembali terjadi.
Kali ini, kita sama-sama tertegun. Jam menunjukkan 5 menit lagi adzan magrib berkumandang di surau seberang. Pilihannya, tunggu adzan berkumandang atau jurus 'terobos ajalah.'
"Gimana?"
Lukman membuka percakapan.
"Gak ada jaminan nanti setelah magrib gak ada lagi yang muncul. Mess cuma dibelakang. Perjuangan kita singkat. Paling beberapa meter doang."
Aku meyakinkan.
"Oke, gua terima."
Ujarnya sambil menghela nafas panjang.
Kami turun dengan perlahan, berharap tidak ada siapapun didepan mesin absen.
Anak tangga sudah terlewati setengah dengan sempurna, diiringi detak jantung yang kian memacu.
Mesin absen terlihat!
Sial!
Tak ada orang yang terlihat. Jujur aku berharap ada seorang batang manusia yang entah siapa baru saja selesai & bersiap pulang.
Jika tak ada orang, maka bisa jadi yang tadi absen makhluk lain.
Tegang menyelimuti, air liur kutelan dengan usaha besar. Ini bukan main-main.
Saat anak tangga terakhir paling bawah kami injak, terdengar suara menangis di lantai atas yang kami tinggali barusan.
Alhasil lomba lari tanpa dengan tujuan mesin absen langsung terjadi. Lomba berebutan absen juga menjadi garis finish, dilanjut pintu keluar kami berhamburan.
Sialan!
Masa setan jam segini udah keluar?
Saat kami tiba diluar, aku melihat ke arah jendela lantai dua dimana suara tangisan tadi berasal. Sekilas, bayangan seseorang seperti terlihat melewati jendela itu.
Rambut panjang, gaun putih.
Melihat kami yang baru keluar dari gedung dengan kondisi nafas yang tinggal separuh, satpam hanya berkata.
"Itu mbak Yuni, dia meninggal gantung diri karena hamil diluar nikah sama manajer cabang sini dulunya, padahal semua orang tau kalo manajer itu udah punya anak istri. Entah alasannya supaya apa dia gantung diri di sekitar pegangan tangga lantai 3 ke lantai 2. Mayatnya tergantung sampe besok pagi baru ketauan. Padahal orangnya cantik, baik. Tapi malah kenal buaya."
Tak lupa, asap rokok menyelingi setiap kata-katanya.
"Tapi, mess aman kan?"
Aku bertanya dengan waswas.
"Kadang, semakin sedikit tau, semakin bagus."
Ujarnya sambil berlalu.
"Sok bijak amat sih tu satpam?"
Ejek Lukman sambil memegangi lututnya yang gemetar.
"Udahlah, yok balik ke mess. Masing-masing aja kita."
Sahutku berjalan menjauh sambil Lukman mengekor tak lupa mendumel karena bisa saja mess menjadi lebih parah dari ini.
Sepertinya sudah terlalu panjang,
Baiklah saya update lewat komentar saja.
Update cerita:
eps.3 nasi uduk
eps.4 Cinta segitiga(empat)
eps.5 last but not least
Diubah oleh re.dear 28-08-2020 20:59
padasw dan 19 lainnya memberi reputasi
20
6.1K
Kutip
55
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
re.dear
#8
Eps.5 Last but not Least
Tak terasa sebulan terlewati, seolah saya berada disini telah 30 hari lalu. Semua modul yang harus dikuasi telah sepenuhnya saya pahami.
Masa training ini berakhir seperti ini saja. Telah tiba saatnya saya pamit pada semua orang di kantor itu. Hanya orang.
Kami berenam berencana begadang di malam terakhir, karena esok kami semua berpisah & ditempatkan di kota masing-masing yang kami ajukan.
"Sam! Udah beli?"
Lukman bertanya sambil menghampiri.
"Udah dong, pesta ini kita."
Jawabku semangat.
Rencananya malam ini kami akan membuat pesta nasi liwet sebagai bentuk rasa syukur bahwa semua kejadian selama masa training telah berlalu dengan hasil yang baik.
Selain kami berenam,
Ada pak satpam mess yang ikut juga, & mbak Zara yang nempel sama Mas Reza (pertarungan perebutan mbak Zara berakhir).
Kami sibuk mempersiapkan semua hal, dari mulai masak nasi liwet, bakar ikan asin, pete, jengkol, bikin sambel, bakar ikan asin, jengkol, pete, bikin sambel.
Wah pokoknya sibuk banget.
Kami semua menikmati pesta malam ini. Semua sudah mengeluarkan unek-uneknya, jadi kami berpisah dengan rasa lapang di dada.
Sejujurnya kami hampir lupa mengenai penghuni mess lantai 3. Karena akhir-akhir ini memang sibuk mengurus modul terakhir sebagai syarat lulus training.
Apalagi kasus mbak 'K' kemarin. Bener-bener butuh banyak waktu supaya semuanya beres. Kasus itu ditutup dengan dimenangkannya mbak Zara menjadi Pacar mas Reza mengalahkan Mas Agus dengan telak.
klasik pokoknya, KKN aja pasti ada yang jadian kan?
Tak terasa jam menunjukkan pukul 2 dini hari. Mbak Zara pamit pulang ke kosannya yang diantar oleh Mas Reza menggunakan motor milik pak Satpam.
Sepeninggalnya mereka yang ditelan rasa penasaran dijalan ngapain aja, saya mencoba mengulik lebih jauh tentang penghuni lantai 3 ke pak Satpam.
"Pak, kita kan udah mau pada pulang nih kan? Masa bapak tega ninggalin kita penasaran sama penghuni lantai 3?"
Rayuku dengan sogokan rokok ke hadapannya.
"Wah jadi gak enak."
Ujarnya sembari mengambil sebatang rokok lalu menyulutkan.
Kepulan asap dengan bau tembakau kuat mulai mencemari udara gerah malam itu.
"Jadi gini, saya kurang tau pastinya gimana. Tapi ini info yang saya kumpulkan secara gak sengaja dari para staf yang lain.
Berbeda dengan kasus bunuh diri mbak Yun, lantai 3 itu katanya pernah dipakai untuk main jelangkung sama anak-anak cewe yang dulu tinggal disini.
Sebelum mess cewe dipindah ke bangunan lain, 2 tahun lalu, bangunan ini dipakai sebagai mess untuk para staff konter perempuan.
Disini juga mbak Yun tinggal."
Jelasnya dengan selingan hisapan rokok & asapnya yang dibuang ke udara.
"Permainan jelangkung yang mereka mainkan bukan sekedar candaan belaka, namun memang ada niat tersembunyi. Khususnya mbak Yun.
Kata teman dekat mbak Yun, dia mencoba meminta bantuan sama hantu yang merasuki jelangkung untuk menghancurkan rumah tangga pacarnya yang saat itu tengah menjabat sebagai manajer disini.
Si hantu katanya menyanggupi, tapi minta tempat sama balasannya.
Konon dia dikasih kamar yang mbak Yun tempati sendiri. Karena mungkin mikirnya kalo udah jadi sama pak Manajer dia pasti gak bakal tinggal lagi disitu.
Tempat udah ada, balasannya? Ya bisa ditebak kan?"
Cerita pak Satpam seolah menutup semua teka-teki ini.
Mas Reza telah kembali, wajahnya agak cerah dengan aksen rona merah muda di kedua pipinya. Ia tak henti-hentinya tersenyum sendiri.
Setelah mengembalikan motor yang ia pinjam, mas Reza bergegas ke lantai dua.
Mau lanjutin yang tadi kepotong ngakunya.
Lukman, saya, Fikri & Mas Agus masih betah bertukar cerita.
Hingga ide dari Fikri benar-benar membuat kami takkan tidur hingga esok pagi.
"Pak, ada CCTV kan di tiap lorong? Itu buat apa sebetulnya?"
Fikri penasaran.
"Takut ada maling aja."
Jawab pak satpam.
"Masa di mess juga? Sampe lorong masuk ke kamar mandi juga ada CCTV loh."
Fikri tak kalah heboh.
"Sebetulnya kita males sih pindahin kemana. Jadi dibiarin aja."
Akhirnya pak satpam mengaku.
"Suka ada penampakan gak pak?"
Fikri benar-benar penasaran.
"Kadang sih."
Jawaban inilah yang membuat kami semua bergidik.
Artinya, selama kami tidur disana, kadang ada yang ngintip. Dengan fakta ini saja kami ketakutan untuk kembali.
"Kita nonton CCTV aja gimana? Kali aja kan keliatan."
Inilah usul Fikri yang terkutuk.
Akhirnya kami semua pindah ke pos satpam berdesakan. Bau keringat, asap bekas bakaran, asap tembakau, campur jadi satu di ruangan 5x4 itu.
Untung jendelanya bisa dibuka lebar, kalo ngga bisa-bisa kita semua pingsan sesak nafas.
Layar berukuran 21inc itu menampilkan 6 buah pemandangan cctv yang dipantau.
Diatur sana-sini, akhirnya CCTV yang di lantai dua, tiga, tempat jemuran yang diperlihatkan.
Satu menit,
Dua puluh menit,
Tak ada yang terjadi.
Kami mulai bosan, akhirnya main kartu jadi pelarian.
Siapa yang kalah harus menatap layar monitor yang menampilkan CCTV yang menampilkan gambar yang itu-itu aja sampai ada giliran yang kalah selanjutnya.
Apes,
Siapa yang punya ide malah yang kena sial.
Fikri menganga tak percaya. Di layar monitor menampilkan sesosok berambut panjang memakai gaun putih kusam sedang berdiri di pojok yang mengarah ke kamar mandi.
Kami semua terpaku melihat penampakan itu.
Jam menunjukkan hampir pukul 3 dini hari.
Beberapa saat kemudian, mas Reza keluar dari kamar & menuju kamar mandi dengan santai. Melewati sosok itu didepannya seolah tak ada apa-apa disana.
"Gua coba telepon mas Reza."
Kata Lukman.
"Halo mas!"
Katanya setelah telepon diangkat.
Kami semua mendengar lewat loud speaker.
"Apaan man? Jangan ganggu dulu. Gua lagi video call."
Jawabnya.
"Mau minta tolong, liat sendalku gak di pojokan yang mau ke kamar mandi?"
Lukman mencari alasan agar mas Reza mau ke pojokan.
Terlihat di layar mas Reza menghampiri tempat yang Lukman tunjukan.
Sosok itu masih disana.
Dengan santai, mas Reza melihat ke pojokan, mencari di sela-sela rak.
"Gak ada man! Cari ajalah sendiri."
Ujarnya sambil menutup telepon & kembali ke kamar.
Kami semua melihat kejadian itu.
Tak disangka, mas Agus merekam kejadian itu dengan ponselnya & mengirim video itu ke mas Reza.
10 menit kemudian, mas Reza berlari telanjang kaki menghampiri kami yang ada di dalam pos satpam.
"ASW KON GUS ASW!!"
Kami semua menyambut pagi dengan kantung mata yang menghitam, lelah, takut, puas.
Jam 8 pagi kami berpisah, meninggalkan jejak & kenangan.
Tak terasa sebulan terlewati, seolah saya berada disini telah 30 hari lalu. Semua modul yang harus dikuasi telah sepenuhnya saya pahami.
Masa training ini berakhir seperti ini saja. Telah tiba saatnya saya pamit pada semua orang di kantor itu. Hanya orang.
Kami berenam berencana begadang di malam terakhir, karena esok kami semua berpisah & ditempatkan di kota masing-masing yang kami ajukan.
Quote:
"Sam! Udah beli?"
Lukman bertanya sambil menghampiri.
"Udah dong, pesta ini kita."
Jawabku semangat.
Rencananya malam ini kami akan membuat pesta nasi liwet sebagai bentuk rasa syukur bahwa semua kejadian selama masa training telah berlalu dengan hasil yang baik.
Selain kami berenam,
Ada pak satpam mess yang ikut juga, & mbak Zara yang nempel sama Mas Reza (pertarungan perebutan mbak Zara berakhir).
Kami sibuk mempersiapkan semua hal, dari mulai masak nasi liwet, bakar ikan asin, pete, jengkol, bikin sambel, bakar ikan asin, jengkol, pete, bikin sambel.
Wah pokoknya sibuk banget.
Kami semua menikmati pesta malam ini. Semua sudah mengeluarkan unek-uneknya, jadi kami berpisah dengan rasa lapang di dada.
Sejujurnya kami hampir lupa mengenai penghuni mess lantai 3. Karena akhir-akhir ini memang sibuk mengurus modul terakhir sebagai syarat lulus training.
Apalagi kasus mbak 'K' kemarin. Bener-bener butuh banyak waktu supaya semuanya beres. Kasus itu ditutup dengan dimenangkannya mbak Zara menjadi Pacar mas Reza mengalahkan Mas Agus dengan telak.
klasik pokoknya, KKN aja pasti ada yang jadian kan?
Tak terasa jam menunjukkan pukul 2 dini hari. Mbak Zara pamit pulang ke kosannya yang diantar oleh Mas Reza menggunakan motor milik pak Satpam.
Sepeninggalnya mereka yang ditelan rasa penasaran dijalan ngapain aja, saya mencoba mengulik lebih jauh tentang penghuni lantai 3 ke pak Satpam.
"Pak, kita kan udah mau pada pulang nih kan? Masa bapak tega ninggalin kita penasaran sama penghuni lantai 3?"
Rayuku dengan sogokan rokok ke hadapannya.
"Wah jadi gak enak."
Ujarnya sembari mengambil sebatang rokok lalu menyulutkan.
Kepulan asap dengan bau tembakau kuat mulai mencemari udara gerah malam itu.
"Jadi gini, saya kurang tau pastinya gimana. Tapi ini info yang saya kumpulkan secara gak sengaja dari para staf yang lain.
Berbeda dengan kasus bunuh diri mbak Yun, lantai 3 itu katanya pernah dipakai untuk main jelangkung sama anak-anak cewe yang dulu tinggal disini.
Sebelum mess cewe dipindah ke bangunan lain, 2 tahun lalu, bangunan ini dipakai sebagai mess untuk para staff konter perempuan.
Disini juga mbak Yun tinggal."
Jelasnya dengan selingan hisapan rokok & asapnya yang dibuang ke udara.
"Permainan jelangkung yang mereka mainkan bukan sekedar candaan belaka, namun memang ada niat tersembunyi. Khususnya mbak Yun.
Kata teman dekat mbak Yun, dia mencoba meminta bantuan sama hantu yang merasuki jelangkung untuk menghancurkan rumah tangga pacarnya yang saat itu tengah menjabat sebagai manajer disini.
Si hantu katanya menyanggupi, tapi minta tempat sama balasannya.
Konon dia dikasih kamar yang mbak Yun tempati sendiri. Karena mungkin mikirnya kalo udah jadi sama pak Manajer dia pasti gak bakal tinggal lagi disitu.
Tempat udah ada, balasannya? Ya bisa ditebak kan?"
Cerita pak Satpam seolah menutup semua teka-teki ini.
Mas Reza telah kembali, wajahnya agak cerah dengan aksen rona merah muda di kedua pipinya. Ia tak henti-hentinya tersenyum sendiri.
Setelah mengembalikan motor yang ia pinjam, mas Reza bergegas ke lantai dua.
Mau lanjutin yang tadi kepotong ngakunya.
Lukman, saya, Fikri & Mas Agus masih betah bertukar cerita.
Hingga ide dari Fikri benar-benar membuat kami takkan tidur hingga esok pagi.
"Pak, ada CCTV kan di tiap lorong? Itu buat apa sebetulnya?"
Fikri penasaran.
"Takut ada maling aja."
Jawab pak satpam.
"Masa di mess juga? Sampe lorong masuk ke kamar mandi juga ada CCTV loh."
Fikri tak kalah heboh.
"Sebetulnya kita males sih pindahin kemana. Jadi dibiarin aja."
Akhirnya pak satpam mengaku.
"Suka ada penampakan gak pak?"
Fikri benar-benar penasaran.
"Kadang sih."
Jawaban inilah yang membuat kami semua bergidik.
Artinya, selama kami tidur disana, kadang ada yang ngintip. Dengan fakta ini saja kami ketakutan untuk kembali.
"Kita nonton CCTV aja gimana? Kali aja kan keliatan."
Inilah usul Fikri yang terkutuk.
Akhirnya kami semua pindah ke pos satpam berdesakan. Bau keringat, asap bekas bakaran, asap tembakau, campur jadi satu di ruangan 5x4 itu.
Untung jendelanya bisa dibuka lebar, kalo ngga bisa-bisa kita semua pingsan sesak nafas.
Layar berukuran 21inc itu menampilkan 6 buah pemandangan cctv yang dipantau.
Diatur sana-sini, akhirnya CCTV yang di lantai dua, tiga, tempat jemuran yang diperlihatkan.
Satu menit,
Dua puluh menit,
Tak ada yang terjadi.
Kami mulai bosan, akhirnya main kartu jadi pelarian.
Siapa yang kalah harus menatap layar monitor yang menampilkan CCTV yang menampilkan gambar yang itu-itu aja sampai ada giliran yang kalah selanjutnya.
Apes,
Siapa yang punya ide malah yang kena sial.
Fikri menganga tak percaya. Di layar monitor menampilkan sesosok berambut panjang memakai gaun putih kusam sedang berdiri di pojok yang mengarah ke kamar mandi.
Kami semua terpaku melihat penampakan itu.
Jam menunjukkan hampir pukul 3 dini hari.
Beberapa saat kemudian, mas Reza keluar dari kamar & menuju kamar mandi dengan santai. Melewati sosok itu didepannya seolah tak ada apa-apa disana.
"Gua coba telepon mas Reza."
Kata Lukman.
"Halo mas!"
Katanya setelah telepon diangkat.
Kami semua mendengar lewat loud speaker.
"Apaan man? Jangan ganggu dulu. Gua lagi video call."
Jawabnya.
"Mau minta tolong, liat sendalku gak di pojokan yang mau ke kamar mandi?"
Lukman mencari alasan agar mas Reza mau ke pojokan.
Terlihat di layar mas Reza menghampiri tempat yang Lukman tunjukan.
Sosok itu masih disana.
Dengan santai, mas Reza melihat ke pojokan, mencari di sela-sela rak.
"Gak ada man! Cari ajalah sendiri."
Ujarnya sambil menutup telepon & kembali ke kamar.
Kami semua melihat kejadian itu.
Tak disangka, mas Agus merekam kejadian itu dengan ponselnya & mengirim video itu ke mas Reza.
10 menit kemudian, mas Reza berlari telanjang kaki menghampiri kami yang ada di dalam pos satpam.
"ASW KON GUS ASW!!"
Kami semua menyambut pagi dengan kantung mata yang menghitam, lelah, takut, puas.
Jam 8 pagi kami berpisah, meninggalkan jejak & kenangan.
Makbongki dan 14 lainnya memberi reputasi
15
Kutip
Balas
Tutup