Kaskus

News

User telah dihapusAvatar border
TS
User telah dihapus
The Prophets
The Prophets

Peace Be Upon You


Spoiler for pesan:


_____________________________

Kisah kenabian ini untuk mengilustrasikan sebuah peta perjalanan dan sebuah cerminan diri manusia dan untuk kembali kepada-Nya


--------------------------------------


_______________________

Daftar Isi
______________________



_____________________________


____________________________





The Prophets


Quote:


Quote:
Diubah oleh User telah dihapus 25-07-2020 15:23
nona212Avatar border
anggilobesAvatar border
gafurismeAvatar border
gafurisme dan 8 lainnya memberi reputasi
9
14.5K
201
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Sejarah & Xenology
Sejarah & Xenology
KASKUS Official
6.6KThread•11.8KAnggota
Tampilkan semua post
User telah dihapusAvatar border
TS
User telah dihapus
#149
Muhammad


"Jika bukan karena engkau Muhammad, tidaklah Aku ciptakan alam semesta ini."
(Hadits Qudsi)




Abdul Muthalib

Adalah kehormatan bagi suku-suku di Jazirah Arab untuk menjaga zamzam dan Baitullah. Meskipun kepentingan mereka masih sangat beragam, sebagian dari mereka beriman, sedangkan sebagian yang lain masih meletakkan berhala di Baitullah.

Abdul Muthalib menjadi salah satu penjaga zamzam sekaligus tuan rumah bagi jamaah yang akan berhaji. Adalah suatu kebanggaan bila dipercaya menjadi tuan rumah bagi umat yang akan menjalankan ibadah.

Kedermawanan, kepandaian, dan kebijaksanaan menjadi pendukung kewibawaannya. Namun demikian, terasa masih ada yang kurang dalam hidupnya. Hatinya masih diliputi kekhawatiran siapa kelak yang akan meneruskan jabatannya? Selama zamzam dan Ka'bah berada dalam otoritas sukunya, semua suku lainnya menerima dengan hormat dan selalu menjaga kedamaian.

Bagi bangsa Arab saat itu, anak laki-laki adalah tumpuan untuk menjadi penerus garis keturunan sekaligus pengemban amanah keluarga. Ia harus menjadi pemegang tanggung jawab berikutnya, sebagai penjaga zamzam dan Baitullah yang mengangkat derajat dan kemuliaan suku mereka.

Maka, Abdul Muthalib berdoa di depan Ka'bah, memohon agar Allah berikan 10 orang anak laki-laki. Jika Allah karuniakan ia 10 anak laki-laki yang tumbuh hingga dewasa, ia bernazar akan mengorbankan salah satu di antaranya bagi Tuhan di Ka'bah.

Allah kabulkan doanya. Abdul Muthalib dikaruniakan 10 orang putra nan cakap, gagah, dan memiliki berbagai keahlian. Tahun demi tahun berlalu. Di antara semua putra tersebut, hati Abdul Muthalib terpikat oleh Abdullah, putra bungsunya. Putra yang paling ia sayangi. Abdullah adalah putra Fatimah, seorang wanita Quraisy dari Bani Makhzum yang memiliki pengaruh kuat di Mekkah. Abdullah tidak saja berwajah tampan, santun, dan ahli dalam banyak hal. Cahaya kebijaksanaan telah tampak pada dirinya. Jika bertutur selalu benar dan taat pada orangtua. Abdul Muthalib berharap putranya kelak yang akan menggantikan dirinya. Semoga putra-putranya senantiasa bersatu saat dipimpin oleh Abdullah dan menjadi pasukan yang kuat.

Abdul Muthalib seorang yang kuat memegang janjinya. Ia tidak lalai akan nazar yang telah ia ucapkan di depan Ka'bah dulu. Lalu, Abdul Muthalib mengumpulkan keluarganya dan menjelaskan tentang nazarnya. Meski merasa sedih dan khawatir, namun seluruh keluarga mencoba saling berbesar hati dan mendukung kepala keluarga mereka.

Lalu diadakanlah undian menggunakan anak panah. Pada anak panah itu tertulis masing-masing nama kesepuluh putra tersebut. Anak panah yang tercabut itulah yang akan dikurbankan. Dalam hati kecil Abdul Muthalib, ia berharap agar nama Abdullah, putra kesayangannya, tidak tercabut. Namun kenyataan yang terjadi justru sebaliknya, nama Abdullah yang tercabut.

Dengan berat hati dan diiringi tangisan dari ibundanya, Abdullah dibawa ke depan Ka'bah untuk dikurbankan. Melihat hal itu kepala suku Bani Makhzum, Mughirah, mencegah dan berkata, "Jangan korbankan dia, kita akan mencari gantinya, walaupun penggantinya adalah seluruh kekayaan Bani Makhzum." Semua orang membujuk Abdul Muthalib untuk mengikuti saran tersebut. Akhirnya Abdul Muthalib berkenan untuk meminta nasihat dari seorang wanita bijak. Ditemuinya wanita tersebut dan wanita itu berkata, "Telah datang petunjuk kepadaku. Tempatkanlah anak laki-lakimu berdampingan dengan sepuluh ekor binatang peliharaan terbaikmu. Jika anak panah tersebut kembali terjatuh di depan anak lelakimu, maka tambahkanlah sepuluh ekor lagi dan undi kembali; begitu seterusnya hingga Tuhan menerima unta-unta itu dan anak panahnya tak lagi jatuh dihadapannya, melainkan jatuh di depan unta-unta tersebut. Dan, korbankanlah unta-unta itu, sementara biarkanlah anakmu hidup."

Lalu mereka melakukan apa yang disarankan oleh wanita tersebut. Sepuluh unta ditambahkan ketika anak panah masih mengarah kepada Abdullah. Demikian seterusnya, unta demi unta ditambahkan. Hingga pada bilangan ke-100 barulah anak panah tersebut mengarah pada unta-unta tersebut. Unta itu disembelih dan dibagikan ke seluruh penduduk Mekah. Abdullah pun kembali pada keluarganya.

Abdul Muthalib terkenal karena kedermawanannya. Peristiwa tersebut makin membuat nama mereka harum karena telah membagikan daging unta ke seluruh Mekkah. Selain itu, sebagaimana nenek moyang mereka, Ibrahim yang pernah bernazar akan 'mengurbankan' anaknya, Ismail. Demikian pula kisah Muhammad diawali oleh warna yang sama, yaitu; nazar untuk mengurbankan putranya kepada Allah. Abdullah adalah ayah dari Muhammad Sholallahu 'Alayhi Wassalam.
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.