- Beranda
- Stories from the Heart
Naga Sasra & Sabuk Inten
...
TS
nandeko
Naga Sasra & Sabuk Inten

NAGA SASRA & SABUK INTEN
Kisah ini merupakan karangan dari S.H Mintardja. Disini TS sudah mendapatkan ijin untuk sekedar membagikan dan mempermudahkan pembaca untuk menikmati kisah ini dalam bentuk digital
INDEX
Quote:
Spoiler for JILID 1:
Spoiler for JILID 2:
Spoiler for JILID 3:
Spoiler for JILID 4:
Spoiler for JILID 5:
Spoiler for JILID 6:
Part 114
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Spoiler for JILID 7:
Spoiler for JILID 8:
Spoiler for JILID 9:
Spoiler for JILID 10:
Pengarang dan Hakcipta©
Singgih Hadi Mintardja
Singgih Hadi Mintardja
Diubah oleh nandeko 21-10-2021 14:24
whadi05 dan 43 lainnya memberi reputasi
42
62.2K
Kutip
1.2K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
nandeko
#340
Jilid 11 [Part 244]
Spoiler for :
DEMIKIAN Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara melihat bayangan itu, segera mereka mengerti bahwa yang bergerak-gerak itu pastilah Arya Salaka dan Uling Kuning yang sedang bertempur di dalam air. Untuk sesaat Mahesa Jenar tertegun. Ia menjadi cemas melihat pertempuran di dalam air itu. Apalagi Kebo Kanigara. Sebab mereka tahu bahwa hampir sepanjang hidupnya Uling Kuning berada di sekitar tanah yang berawa-rawa, sehingga baginya, air merupakan tempat berlindung yang terbaik.
Kemudian Widuri pun melihat perkelahian itu, namun baginya tidaklah demikian jelas, apakah yang terjadi.
Sementara itu, Arya Salaka yang tidak mau melepaskan Uling Kuning, terpaksa mengejarnya pula terjun ke dalam telaga. Ia sadar bahwa Uling Kuning berharap, lewat telaga itu ia akan mampu melepaskan dirinya. Atau kalau terpaksa ia terlibat di dalam perkelahian, maka perkelahian di dalam air akan banyak memberinya keuntungan. Dan apa yang diharapkan itu terjadilah. Arya tidak peduli lagi apa yang akan terjadi, meskipun ia terpaksa berkelahi di dalam air.
Demikianlah pertempuran itu berlangsung dengan sengitnya. Disamping mereka harus berjuang untuk tidak terbinasakan oleh lawan, mereka juga harus menjaga diri mereka supaya tidak tenggelam.
Uling Kuning adalah seorang yang seolah-olah dapat hidup di dalam air. Tangan dan kakinya benar-benar dapat dipergunakan dengan baik seperti itik mempergunakan sayap serta kakinya, atau binatang air mempergunakan sirip-siripnya. Karena itu, ia dapat dengan lincahnya bertempur.
Namun sayang bahwa perasaan muak dan nyeri di dalam perutnya tidak juga mau hilang. Apalagi yang dihadapi adalah Arya Salaka. Uling Kuning tidak pernah mimpi bahwa anak itu pernah hidup sebagai anak nelayan di pantai Tegal Arang. Bahkan meskipun tidak begitu lama, namun Arya telah memiliki pengalaman yang cukup untuk menaklukan air. Tidak hanya air setenang air telaga itu, tetapi air yang sedang murka sekalipun.
Arya Salaka pernah terjun ke dalam gelombang yang ganas untuk menyelamatkan alat-alat penangkap ikannya bersama-sama kawan-kawannya. Bahkan darah pelaut yang mengalir di dalam tubuh ayahnya, ternyata mengalir pula di dalam tubuhnya. Pada masa kanak-kanaknya ia telah berani berkelahi dengan seekor uling yang cukup besar di dalam rawa. Sedang pada saat ia menginjak dewasa, ia menerjunkan diri dalam dunia kehidupan nelayan.
Karena itu, dengan tidak diduga oleh Uling Kuning, Arya Salaka pun dengan dahsyatnya berhasil menyerang lawannya dari arah yang membingungkan. Sekali-kali ia melenyapkan diri dari permukaan air, kemudian muncullah ia di tempat yang tak terduga-duga. Seandainya musuhnya bukan seorang yang memang sejak kecil hidup bergulat dengan air, maka Arya pasti akan dengan mudahnya dapat membinasakan. Tetapi sekarang ia menemukan lawan yang seimbang.
Maka pertempuran itu semakin lama menjadi semakin sengit. Air di sekitar tempat itu menjadi seolah-olah mendidih. Buih-buih yang putih bergolak dengan hebatnya diantara bayangan hitam yang timbul-tenggelam bersama-sama. Bahkan kedua bayangan itu akhirnya seolah-olah berpadu menjadi satu dan bergolak bukan main hebatnya.
Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara beserta Endang Widuri yang berdiri di tepi telaga menjadi cemas. Apalagi ketika tiba-tiba bayangan yang hitam itu lenyap seperti ditelan putaran air yang melingkar-lingkar.
Mahesa Jenar kemudian menjadi tidak sabar lagi menunggui saja di tepi telaga. Karena itu segera ia melepas baju serta kainnya. Hanya dengan celana saja Mahesa Jenar meloncat pula ke dalam air, dan berenang cepat-cepat ke arah kedua bayangan itu tenggelam.
Sementara itu Arya berjuang mati-matian melawan maut. Uling Kuning benar-benar tangguh bertempur di dalam air. Tangannya benar-benar dapat melilit seperti seekor Uling yang melilit korbannya.
Untunglah bahwa Arya memiliki tenaga raksasa, sehingga dengan pukulan-pukulan yang keras, ia selalu dapat membebaskan diri dari belitan Uling Kuning. Namun akhirnya usaha Uling Kuning itu berhasil.
Seperti gila ia tidak menghiraukan sama sekali pukulan-pukulan terakhir yang dilontarkan oleh Arya Salaka yang tenaganya semakin lama semakin kendor. Bahkan tiba-tiba terasa sesuatu menjerat di lehernya.
Ternyata Uling Kuning telah berhasil mengurai cambuk lemasnya, dan berhasil membelit leher Arya dengan senjatanya itu. Dengan demikian seolah-olah nafas Arya menjadi tersumbat. Ia meronta sekuat tenaga, namun tenaga Uling Kuning itu semakin erat menarik belitan cambuknya pada leher Arya. Dalam keadaan demikian Arya menjadi marah bukan buatan dan mengamuk sejadi-jadinya.
Dengan kakinya ia menangkap tubuh Uling Kuning dan tidak mau melepaskannya lagi. Sedang kedua tangannya berusaha untuk mencekik leher lawannya. Namun sayang ia tidak berhasil. Meskipun demikian kakinya menjadi seperti terkunci dan dengan kerasnya membelit perut lawannya.
Perasaan muak dan nyeri pada perut Uling Kuning menjadi semakin hebat. Dengan sekuat tenaga ia mencoba untuk menahan perasaan itu. Sebab pada hematnya, sebentar lagi Arya pasti sudah tidak akan dapat bernafas dan dengan demikian ia akan bebas.
Dalam keadaan yang demikian itulah mereka bersama-sama berputar-putar dan akhirnya bersama-sama tenggelam. Bagi Arya tidak ada jalan lain kecuali mati bersama-sama daripada mati seorang diri. Itulah sebabnya, ketika terasa senjata Uling Kuning membelit lehernya semakin keras, kakinya pun menjadi semakin keras menekan perut lawannya itu, supaya Uling Kuning ikut serta terseret ke dalam air. Sedang tangannya berusaha untuk mengurangi tekanan lilitan cambuk di lehernya.
Tetapi dalam pada itu, tiba-tiba ia teringat bahwa pada saat ia menerjunkan diri ke dalam air. Kiai Bancak telah disarungkannya.
TEPAT pada saat-saat terakhir, dengan sisa tenaga yang ada Arya menarik tombak pusaka kebesaran Banyubiru, dan dengan sepenuh nafsu kemarahannya ditekankan ujung tombak itu ke dalam perut lawannya. Terdengarlah suara menggelegak sesaat. Setelah itu terasa tarikan cambuk yang membelit lehernya menjadi semakin kendor. Sadarlah Arya bahwa ia berhasil membunuh Uling Kuning dengan tombaknya. Karena itu dilepaskannya belitan kakinya, dan setelah air di sekitarnya dipenuhi dengan merahnya darah, ia berusaha untuk berenang ke permukaan air. Namun tenaganya sudah sedemikian lemahnya. Bagaimanapun juga ia berusaha, tetapi pada saat ia berhasil menegakkan kepalanya ke permukaan air terasa bahwa matanya menjadi berkunang-kunang.
Ketika Arya mencoba memandang bintang-bintang yang gemerlapan di langit, maka yang tampak seolah-olah mendung yang tebal menggantung di udara. Hitam dan kelam. Yang diingatnya pada saat terakhir adalah menyarungkan tombaknya yang baginya sama harganya dengan kepalanya, kembali ke dalam sarungnya. Sesudah itu semuanya seperti lenyap dari ingatannya.
Ketika ia tersadar, terasa seolah-olah sebuah mimpi yang indah membayang di hadapannya. Meskipun tubuhnya masih terasa dingin oleh pakaiannya yang basah, namun dilihatnya beberapa orang duduk di sekitarnya, pada sebuah balai-balai besar. Sebuah lampu minyak yang terang, menyala-nyala dengan riangnya, seolah-olah ikut serta bergembira untuk keselamatan Arya Salaka.
Ketika ia sempat mengamat-amati wajah-wajah di sekitarnya, tampaklah gurunya yang sedang merenunginya dengan seksama. Kebo Kanigara, Rara Wilis, Widuri, Wanamerta, Wiradapa dan beberapa orang lagi yang dikenalnya sebagai orang-orang Gedangan.
Demikian ia mulai menggerakkan matanya, tampaklah keriangan membersit di wajah-wajah mereka yang dengan kecemasan menungguinya. Apalagi Mahesa Jenar. Dengan tergopoh-gopoh ia bergerak maju dan dengan hati-hati ditempelkannya kupingnya pada dada Arya untuk mendengarkan detak jantung anak itu.
Dengan tergesa-gesa Wiradapa bangkit, dan sesaat kemudian ia telah kembali dengan pakaian-pakaian kering. Dengan kain panjang, tubuh Arya diselimuti rapat-rapat, dan kemudian dilepaskannya pakaian-pakaiannya yang basah. Sesaat kemudian terasa tubuhnya menjadi agak hangat. Tetapi dalam pada itu, ingatannya masih belum pulih benar. Ia masih belum mengerti dimana ia berada. Dinding-dinding ruangan itu nampaknya masih kabur serta dilapisi selaput yang buram.
Dengan susah payah akhirnya terdengar ia berdesis,
Yang mendengar gumaman Arya itu menjadi terharu. Mereka semakin yakin bahwa anak itu tidak saja akan menjadi seorang yang berjiwa besar, tetapi ia juga akan menjadi seorang pemimpin yang saleh. Seorang pemimpin yang akan membawa rakyatnya berjalan sepanjang jalan Allah.
Dalam usianya yang semuda itu, sudah tampaklah sifat-sifat Arya Salaka yang cemerlang. Jauh dari kesombongan dan nafsu membalas dendam. Cinta kepada manusia dan kemanusiaan, serta memandang alam ini dengan penuh cinta kasih pula.
Demikianlah setelah mengucapkan kata-kata itu hati Arya menjadi tenteram. Tetapi bersamaan dengan perasaan itu, tubuhnya mulai berasa betapa penat dan sakitnya. Tulang-tulangnya serasa berderak-derak patah, serta sendi-sendinya seperti terlepas. Luka di lengan serta lambungnya menjadi pedih sekali. Cambuk Uling itu telah menyobek kulitnya. Disamping itu, lehernyapun terasa nyeri. bekas-bekas cambuk Uling Kuning masih meninggalkan bekas-bekas goresan merah. Meskipun demikian Arya Salaka berusaha untuk melupakan semua sakit-sakit yang dideritanya.
Tetapi suatu pekerjaan yang berat, bahkan sangat berat telah diselesaikan. Melenyapkan Uling Putih dan Uling Kuning sekaligus. Kemudian tahulah ia, bahwa Mahesa Jenarlah yang telah menolongnya, ketika ia pingsan di tengah-tengah telaga, setelah ia berkelahi melawan Uling Kuning. Gurunya itu datang tepat pada saatnya, yang kemudian menyambarnya dan menariknya ke tepi. Kalau saja Mahesa Jenar terlambat beberapa saat saja, mungkin iapun telah binasa seperti Uling Kuning.
Ketika orang-orang yang mengerumuninya mengetahui bahwa keadaannya telah berangsur baik, maka satu demi satu mereka meninggalkan tempat itu. Yang tinggal kemudian hanya beberapa orang saja. Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, Rara Wilis, Widuri, Wanamerta dan Wiradapa.
Dengan pertolongan beberapa orang, Kebo Kanigara mendapatkan beberapa macam daun-daunan serta akar-akar yang diperlukan untuk mengobati luka Arya. Untunglah bahwa dalam beberapa hal Kebo Kanigara telah belajar pada Panembahan Ismaya, sehingga dengan cekatan ia dapat mengobati luka-luka itu.
Beberapa saat kemudian tampaklah keadaan Arya Salaka berangsur baik. Bahkan kemudian ia sudah dapat tidur. Dengan demikian ia dapat beristirahat lahir dan batin.
Kemudian Widuri pun melihat perkelahian itu, namun baginya tidaklah demikian jelas, apakah yang terjadi.
Sementara itu, Arya Salaka yang tidak mau melepaskan Uling Kuning, terpaksa mengejarnya pula terjun ke dalam telaga. Ia sadar bahwa Uling Kuning berharap, lewat telaga itu ia akan mampu melepaskan dirinya. Atau kalau terpaksa ia terlibat di dalam perkelahian, maka perkelahian di dalam air akan banyak memberinya keuntungan. Dan apa yang diharapkan itu terjadilah. Arya tidak peduli lagi apa yang akan terjadi, meskipun ia terpaksa berkelahi di dalam air.
Demikianlah pertempuran itu berlangsung dengan sengitnya. Disamping mereka harus berjuang untuk tidak terbinasakan oleh lawan, mereka juga harus menjaga diri mereka supaya tidak tenggelam.
Uling Kuning adalah seorang yang seolah-olah dapat hidup di dalam air. Tangan dan kakinya benar-benar dapat dipergunakan dengan baik seperti itik mempergunakan sayap serta kakinya, atau binatang air mempergunakan sirip-siripnya. Karena itu, ia dapat dengan lincahnya bertempur.
Namun sayang bahwa perasaan muak dan nyeri di dalam perutnya tidak juga mau hilang. Apalagi yang dihadapi adalah Arya Salaka. Uling Kuning tidak pernah mimpi bahwa anak itu pernah hidup sebagai anak nelayan di pantai Tegal Arang. Bahkan meskipun tidak begitu lama, namun Arya telah memiliki pengalaman yang cukup untuk menaklukan air. Tidak hanya air setenang air telaga itu, tetapi air yang sedang murka sekalipun.
Arya Salaka pernah terjun ke dalam gelombang yang ganas untuk menyelamatkan alat-alat penangkap ikannya bersama-sama kawan-kawannya. Bahkan darah pelaut yang mengalir di dalam tubuh ayahnya, ternyata mengalir pula di dalam tubuhnya. Pada masa kanak-kanaknya ia telah berani berkelahi dengan seekor uling yang cukup besar di dalam rawa. Sedang pada saat ia menginjak dewasa, ia menerjunkan diri dalam dunia kehidupan nelayan.
Karena itu, dengan tidak diduga oleh Uling Kuning, Arya Salaka pun dengan dahsyatnya berhasil menyerang lawannya dari arah yang membingungkan. Sekali-kali ia melenyapkan diri dari permukaan air, kemudian muncullah ia di tempat yang tak terduga-duga. Seandainya musuhnya bukan seorang yang memang sejak kecil hidup bergulat dengan air, maka Arya pasti akan dengan mudahnya dapat membinasakan. Tetapi sekarang ia menemukan lawan yang seimbang.
Maka pertempuran itu semakin lama menjadi semakin sengit. Air di sekitar tempat itu menjadi seolah-olah mendidih. Buih-buih yang putih bergolak dengan hebatnya diantara bayangan hitam yang timbul-tenggelam bersama-sama. Bahkan kedua bayangan itu akhirnya seolah-olah berpadu menjadi satu dan bergolak bukan main hebatnya.
Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara beserta Endang Widuri yang berdiri di tepi telaga menjadi cemas. Apalagi ketika tiba-tiba bayangan yang hitam itu lenyap seperti ditelan putaran air yang melingkar-lingkar.
Mahesa Jenar kemudian menjadi tidak sabar lagi menunggui saja di tepi telaga. Karena itu segera ia melepas baju serta kainnya. Hanya dengan celana saja Mahesa Jenar meloncat pula ke dalam air, dan berenang cepat-cepat ke arah kedua bayangan itu tenggelam.
Sementara itu Arya berjuang mati-matian melawan maut. Uling Kuning benar-benar tangguh bertempur di dalam air. Tangannya benar-benar dapat melilit seperti seekor Uling yang melilit korbannya.
Untunglah bahwa Arya memiliki tenaga raksasa, sehingga dengan pukulan-pukulan yang keras, ia selalu dapat membebaskan diri dari belitan Uling Kuning. Namun akhirnya usaha Uling Kuning itu berhasil.
Seperti gila ia tidak menghiraukan sama sekali pukulan-pukulan terakhir yang dilontarkan oleh Arya Salaka yang tenaganya semakin lama semakin kendor. Bahkan tiba-tiba terasa sesuatu menjerat di lehernya.
Ternyata Uling Kuning telah berhasil mengurai cambuk lemasnya, dan berhasil membelit leher Arya dengan senjatanya itu. Dengan demikian seolah-olah nafas Arya menjadi tersumbat. Ia meronta sekuat tenaga, namun tenaga Uling Kuning itu semakin erat menarik belitan cambuknya pada leher Arya. Dalam keadaan demikian Arya menjadi marah bukan buatan dan mengamuk sejadi-jadinya.
Dengan kakinya ia menangkap tubuh Uling Kuning dan tidak mau melepaskannya lagi. Sedang kedua tangannya berusaha untuk mencekik leher lawannya. Namun sayang ia tidak berhasil. Meskipun demikian kakinya menjadi seperti terkunci dan dengan kerasnya membelit perut lawannya.
Perasaan muak dan nyeri pada perut Uling Kuning menjadi semakin hebat. Dengan sekuat tenaga ia mencoba untuk menahan perasaan itu. Sebab pada hematnya, sebentar lagi Arya pasti sudah tidak akan dapat bernafas dan dengan demikian ia akan bebas.
Dalam keadaan yang demikian itulah mereka bersama-sama berputar-putar dan akhirnya bersama-sama tenggelam. Bagi Arya tidak ada jalan lain kecuali mati bersama-sama daripada mati seorang diri. Itulah sebabnya, ketika terasa senjata Uling Kuning membelit lehernya semakin keras, kakinya pun menjadi semakin keras menekan perut lawannya itu, supaya Uling Kuning ikut serta terseret ke dalam air. Sedang tangannya berusaha untuk mengurangi tekanan lilitan cambuk di lehernya.
Tetapi dalam pada itu, tiba-tiba ia teringat bahwa pada saat ia menerjunkan diri ke dalam air. Kiai Bancak telah disarungkannya.
TEPAT pada saat-saat terakhir, dengan sisa tenaga yang ada Arya menarik tombak pusaka kebesaran Banyubiru, dan dengan sepenuh nafsu kemarahannya ditekankan ujung tombak itu ke dalam perut lawannya. Terdengarlah suara menggelegak sesaat. Setelah itu terasa tarikan cambuk yang membelit lehernya menjadi semakin kendor. Sadarlah Arya bahwa ia berhasil membunuh Uling Kuning dengan tombaknya. Karena itu dilepaskannya belitan kakinya, dan setelah air di sekitarnya dipenuhi dengan merahnya darah, ia berusaha untuk berenang ke permukaan air. Namun tenaganya sudah sedemikian lemahnya. Bagaimanapun juga ia berusaha, tetapi pada saat ia berhasil menegakkan kepalanya ke permukaan air terasa bahwa matanya menjadi berkunang-kunang.
Ketika Arya mencoba memandang bintang-bintang yang gemerlapan di langit, maka yang tampak seolah-olah mendung yang tebal menggantung di udara. Hitam dan kelam. Yang diingatnya pada saat terakhir adalah menyarungkan tombaknya yang baginya sama harganya dengan kepalanya, kembali ke dalam sarungnya. Sesudah itu semuanya seperti lenyap dari ingatannya.
Ketika ia tersadar, terasa seolah-olah sebuah mimpi yang indah membayang di hadapannya. Meskipun tubuhnya masih terasa dingin oleh pakaiannya yang basah, namun dilihatnya beberapa orang duduk di sekitarnya, pada sebuah balai-balai besar. Sebuah lampu minyak yang terang, menyala-nyala dengan riangnya, seolah-olah ikut serta bergembira untuk keselamatan Arya Salaka.
Ketika ia sempat mengamat-amati wajah-wajah di sekitarnya, tampaklah gurunya yang sedang merenunginya dengan seksama. Kebo Kanigara, Rara Wilis, Widuri, Wanamerta, Wiradapa dan beberapa orang lagi yang dikenalnya sebagai orang-orang Gedangan.
Demikian ia mulai menggerakkan matanya, tampaklah keriangan membersit di wajah-wajah mereka yang dengan kecemasan menungguinya. Apalagi Mahesa Jenar. Dengan tergopoh-gopoh ia bergerak maju dan dengan hati-hati ditempelkannya kupingnya pada dada Arya untuk mendengarkan detak jantung anak itu.
Quote:
“Arya…” bisiknya.
Arya mencoba tersenyum, namun kulit wajahnya serasa membeku.
“Kakang Wiradapa…” kata Mahesa Jenar perlahan-lahan.
"Pinjamilah anak ini pakaian kering."
Arya mencoba tersenyum, namun kulit wajahnya serasa membeku.
“Kakang Wiradapa…” kata Mahesa Jenar perlahan-lahan.
"Pinjamilah anak ini pakaian kering."
Dengan tergesa-gesa Wiradapa bangkit, dan sesaat kemudian ia telah kembali dengan pakaian-pakaian kering. Dengan kain panjang, tubuh Arya diselimuti rapat-rapat, dan kemudian dilepaskannya pakaian-pakaiannya yang basah. Sesaat kemudian terasa tubuhnya menjadi agak hangat. Tetapi dalam pada itu, ingatannya masih belum pulih benar. Ia masih belum mengerti dimana ia berada. Dinding-dinding ruangan itu nampaknya masih kabur serta dilapisi selaput yang buram.
Dengan susah payah akhirnya terdengar ia berdesis,
Quote:
“Di manakah aku sekarang…?”
“Kau berada di Kelurahan Gedangan, Arya. Tenangkan pikiranmu. Semuanya sudah selesai,” sahut Mahesa Jenar.
“Uling Kuning…?” bisiknya perlahan.
“Ia tidak akan mengganggumu lagi,” jawab Mahesa Jenar.
“Jadi, aku berhasil…?” sambungnya.
“Ya, kau berhasil,” jawab Mahesa Jenar pula.
Arya menarik nafas dalam-dalam. Kemudian terdengarlah ia bergumam,
“Tuhan Maha Besar.”
“Kau berada di Kelurahan Gedangan, Arya. Tenangkan pikiranmu. Semuanya sudah selesai,” sahut Mahesa Jenar.
“Uling Kuning…?” bisiknya perlahan.
“Ia tidak akan mengganggumu lagi,” jawab Mahesa Jenar.
“Jadi, aku berhasil…?” sambungnya.
“Ya, kau berhasil,” jawab Mahesa Jenar pula.
Arya menarik nafas dalam-dalam. Kemudian terdengarlah ia bergumam,
“Tuhan Maha Besar.”
Yang mendengar gumaman Arya itu menjadi terharu. Mereka semakin yakin bahwa anak itu tidak saja akan menjadi seorang yang berjiwa besar, tetapi ia juga akan menjadi seorang pemimpin yang saleh. Seorang pemimpin yang akan membawa rakyatnya berjalan sepanjang jalan Allah.
Dalam usianya yang semuda itu, sudah tampaklah sifat-sifat Arya Salaka yang cemerlang. Jauh dari kesombongan dan nafsu membalas dendam. Cinta kepada manusia dan kemanusiaan, serta memandang alam ini dengan penuh cinta kasih pula.
Demikianlah setelah mengucapkan kata-kata itu hati Arya menjadi tenteram. Tetapi bersamaan dengan perasaan itu, tubuhnya mulai berasa betapa penat dan sakitnya. Tulang-tulangnya serasa berderak-derak patah, serta sendi-sendinya seperti terlepas. Luka di lengan serta lambungnya menjadi pedih sekali. Cambuk Uling itu telah menyobek kulitnya. Disamping itu, lehernyapun terasa nyeri. bekas-bekas cambuk Uling Kuning masih meninggalkan bekas-bekas goresan merah. Meskipun demikian Arya Salaka berusaha untuk melupakan semua sakit-sakit yang dideritanya.
Tetapi suatu pekerjaan yang berat, bahkan sangat berat telah diselesaikan. Melenyapkan Uling Putih dan Uling Kuning sekaligus. Kemudian tahulah ia, bahwa Mahesa Jenarlah yang telah menolongnya, ketika ia pingsan di tengah-tengah telaga, setelah ia berkelahi melawan Uling Kuning. Gurunya itu datang tepat pada saatnya, yang kemudian menyambarnya dan menariknya ke tepi. Kalau saja Mahesa Jenar terlambat beberapa saat saja, mungkin iapun telah binasa seperti Uling Kuning.
Ketika orang-orang yang mengerumuninya mengetahui bahwa keadaannya telah berangsur baik, maka satu demi satu mereka meninggalkan tempat itu. Yang tinggal kemudian hanya beberapa orang saja. Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, Rara Wilis, Widuri, Wanamerta dan Wiradapa.
Dengan pertolongan beberapa orang, Kebo Kanigara mendapatkan beberapa macam daun-daunan serta akar-akar yang diperlukan untuk mengobati luka Arya. Untunglah bahwa dalam beberapa hal Kebo Kanigara telah belajar pada Panembahan Ismaya, sehingga dengan cekatan ia dapat mengobati luka-luka itu.
Beberapa saat kemudian tampaklah keadaan Arya Salaka berangsur baik. Bahkan kemudian ia sudah dapat tidur. Dengan demikian ia dapat beristirahat lahir dan batin.
fakhrie... dan 9 lainnya memberi reputasi
10
Kutip
Balas