- Beranda
- Stories from the Heart
Naga Sasra & Sabuk Inten
...
TS
nandeko
Naga Sasra & Sabuk Inten

NAGA SASRA & SABUK INTEN
Kisah ini merupakan karangan dari S.H Mintardja. Disini TS sudah mendapatkan ijin untuk sekedar membagikan dan mempermudahkan pembaca untuk menikmati kisah ini dalam bentuk digital
INDEX
Quote:
Spoiler for JILID 1:
Spoiler for JILID 2:
Spoiler for JILID 3:
Spoiler for JILID 4:
Spoiler for JILID 5:
Spoiler for JILID 6:
Part 114
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Spoiler for JILID 7:
Spoiler for JILID 8:
Spoiler for JILID 9:
Spoiler for JILID 10:
Pengarang dan Hakcipta©
Singgih Hadi Mintardja
Singgih Hadi Mintardja
Diubah oleh nandeko 21-10-2021 14:24
whadi05 dan 43 lainnya memberi reputasi
42
62.2K
Kutip
1.2K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
nandeko
#329
Jilid 11 [Part 236]
Spoiler for :
SAWUNG Sariti mencibirkan bibirnya. Jawabnya,
Arya Salaka menarik nafas dalam-dalam. Namun tangannya yang memegang tombak itu masih saja gemetar. Katanya kemudian hampir berdesis,
Mendengar kata-kata Arya Salaka, Sawung Sariti menarik keningnya. Sekali terlintas di dalam otaknya, kebenaran kata-kata itu, seperti apa yang didengarnya dari Mahesa Jenar. Tetapi dalam keadaan yang demikian, muncullah kembali kebengalannya. Sebagai seorang yang mempunyai harga diri terlalu tinggi, ia tidak mau menyerah dan minta maaf. Malahan terdengar jawabnya,
Arya Salaka menarik nafas dalam-dalam. Juga Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara menjadi pening mendengar kata-kata Sawung Sariti. Bahkan beberapa orang menjadi tidak sabar lagi. Kenapa anak yang sedemikian sombongnya tidak dibunuh saja.
Namun Arya berpikir lain. Kelakuannya banyak dipengaruhi oleh tingkah laku Mahesa Jenar. Apalagi yang berdiri di hadapannya itu adalah adik sepupunya. Maka dengan tidak berkata-kata lagi, ditariknya ujung tombaknya dan langsung disarungkannya. Kemudian ia melangkah mundur.
Gigi Sawung Sariti masih terdengar gemeretak. Marahnya sama sekali tidak mereda. Apalagi ia merasa mendapat penghinaan dari kakak sepupunya. Karena itu darahnya justru menjadi meluap-luap.
Dendamnya menjadi semakin bersusun-susun didalam hatinya yang kelam. Pada saat itu ia masih tetap berdiri dengan gagahnya. Matanya memandang tetap kepada Arya Salaka. Hanya kadang-kadang saja mata itu menyambar wajah-wajah Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara. Bahkan sempat pula ia menangkap pancaran mata yang bulat segar dari seorang gadis tanggung yang bernama Endang Widuri.
Demikianlah Sawung Sariti telah membakar perasaan mereka yang menyaksikan peristiwa itu. Beberapa orang berpendirian bahwa orang yang demikian sombongnya itu lebih baik dibinasakan saja sebelum menjadi lebih berbahaya lagi. Namun Arya Salaka sendiri mengharap, mudah – mudahan adiknya itu dapat menemukan kembali jalan kebenaran. Menyadari kesalahan-kesalahan yang diperbuatnya. Dengan demikian ia akan menemukan penyelesaian tanpa menanam dendam yang lebih dalam dari cabang keturunan Ki Ageng Sora Dipayana, sehingga kelak tidak akan mengganggu kedamaian hidup berdampingan sebagai dua orang bersaudara yang memerintah atas tanah masing-masing. Pamingit dan Banyubiru.
Arya Salaka sendiri telah berusaha keras untuk menyimpan dendam atas hilangnya ayahnya Gajah Sora, serta berusaha untuk melupakannya. Sebab apabila dendam dituntut dengan dendam, maka dendam itu sendiri akan menjalar turun-temurun. Dan habislah manusia di dunia ini terbenam dalam arus pembalasan demi pembalasan.
Beberapa orang menjadi keheran-heranan ketika malahan Arya Salaka memutar tubuhnya dan kemudian melangkah pergi menjauhi adiknya yang masih berdiri tegap tanpa bergerak. Tetapi Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara sama sekali tidak menyesal. Bahkan mereka merasa berbangga hati atas keluhuran budi yang memancar dari rongga dada muridnya, meskipun kemudian mereka masih mendengar Sawung Sariti berkata,
Arya mempercepat langkahnya. Ia tidak mau mendengarkan lagi lagu yang menyakitkan hati itu, supaya ia tidak mengubah keputusannya. Karena itu ketika ia mendengar Sawung Sariti meneruskan kata-katanya, ia berteriak,
Setelah itu ia tidak menoleh lagi. Langkahnya menjadi semakin cepat. Bahkan ia tidak menghiraukan lagi orang-orang yang berdiri berjajar mengelilinginya. Ia tidak peduli apakah orang lain akan membenarkan pendiriannya atau tidak.
Demikianlah Arya Salaka dengan langkah tetap langsung menuju ke Gedangan. Beberapa orang berjalan mengiringinya dengan berbagai perasaan menggayut hati. Meskipun ada diantara mereka yang menjadi kecewa, namun disela-sela perasaan itu, kagumlah mereka atas kebesaran jiwa anak muda itu.
Mereka yang tidak mengetahui latar belakang dari peristiwa itu hanya menganggap, betapa tinggi jiwa kejantanannya. Sebagai seorang laki-laki jantan ia tidak akan membunuh orang yang sudah tidak berdaya lagi.
SAWUNG Sariti memandang iring-iringan itu sampai lenyap dibalik tabir kegelapan malam. Beberapa kali ia menarik nafas. Kemudian ia melangkah maju, dan kemudian membungkuk memungut pedangnya. Dengan tajam diamat-amatinya pedang kebanggaannya itu. Seolah-olah ia sedang bertanya pada benda itu, kenapa kali ini ia tidak dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Bahkan dibeberapa bagian dilihatnya pedangnya mengalami kerusakan. Karena itu ia menjadi kagum atas ketajaman dan kekerasan baja bahan tombak yang bernama Kyai Bancak.
Setelah ia menyarungkan pedangnya, dilayangkan pandangannya berkeliling. Baru kemudian terasa betapa sepinya. Perlahan-lahan ia melangkah dan berjalan menjauhi tempat dimana ia hampir saja binasa.
Sesaat kemudian arena itu menjadi sunyi. Sunyi sekali. Namun didalam kegelapan malam, masih ada seorang yang berdiri diantara mayat-mayat yang masih bergelimpangan di sana-sini. Orang itu adalah Mahesa Jenar. Ia tidak turut serta dengan orang-orang lain kembali ke Gedangan.
Tetapi ia berhenti beberapa tonggak dari desa itu. Ia tahu bahwa dalam keadaan yang demikian, Arya lebih senang duduk sendiri. Merenung dan menimbang-nimbang apa yang sudah dan akan dilakukan. Karena itu lebih baik ia tidak mengganggu. Kebo Kanigara telah lebih dahulu kembali ke Gedangan mengantar anaknya yang kelaparan bersama dengan Wanamerta dan orang-orang lain.
Namun pada saat itu Mahesa Jenar sama sekali tidak merasa lapar. Beberapa kali ia membungkuk mengamat-amati mayat-mayat yang terbujur lintang diarena. Ada diantaranya yang sudah tua, tetapi ada diantara yang masih sangat muda. Sekali dua kali terpaksa ia mengusap dadanya. Sekian banyak orang melepaskan nyawanya, hanya karena ketamakan beberapa orang yang ingin memegang kekuasaan. Berbahagialah mereka yang mati dalam tugas suci mereka. Tetapi sayanglah jiwa yang melayang sebagai korban nafsu yang tak terkendali.
Demikianlah malam bertambah kelam. Di langit masih tampak berterbangan kelelawar mencari mangsa. Sedang di kejauhan terdengar gonggongan anjing liar mengerikan.
Mahesa Jenar masih saja berdiri tegak di dalam gelapnya malam diantara mayat-mayat yang bergelimpangan. Matanya memandang jauh, ke arah bintang-bintang di langit. Namun hatinya dipenuhi oleh pertanyaan-ternyataan tentang esok. Apakah kira-kira yang akan terjadi? Adakah pasukan dari Pamingit dan rombongan orang-orang golongan hitam itu akan kembali lagi menyerang? Ataukah mereka sudah merasa bahwa mereka tak berhasil?
Meskipun demikian adalah menjadi kewajiban Mahesa Jenar untuk tetap waspada dan bersiaga sepenuhnya. Sekali-sekali dilayangkan pandangan matanya ke arah pedukuhan Gedangan yang lamat-lamat meremang, seperti bayangan yang kelam menggores di wajah langit. Mahesa Jenar menarik nafas. Pedukuhan itu tampak betapa damainya dalam kelelapan tidurnya. Seolah-olah tidak pernah terjadi keributan sama sekali. Tetapi disini. Bukti-bukti itu dihadapinya. Mayat dan bau darah.
Menghadapi kenyataan itu, darah Mahesa Jenar berdesir. Namun ia sadar sesadar-sadarnya bahwa kehadirannya di dunia ini bukanlah sekadar untuk menjadi umpan nafsu dan ketamakan. Tetapi sebagai manusia, ia wajib menegakkan kebenaran dengan usaha-usaha menurut jalan yang dibenarkan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Ketika Mahesa Jenar sedang tenggelam dalam angan-angannya, tiba-tiba di kejauhan tampaklah sebuah bayangan yang melintas dengan cepatnya. Mahesa Jenar menjadi terkejut karenanya.
Tetapi dalam tangkapannya yang hanya sekilas itu, tahulah ia bahwa bayangan itu adalah orang yang berjubah abu-abu, yang dalam pertempuran yang terjadi beberapa saat sebelum itu, merupakan penyelamat yang menentukan. Timbullah keinginannya untuk mengenal orang itu dari dekat. Karena itu segera ia meloncat dan berlari secepat-cepatnya ke arah bayangan yang melintas itu.
Namun ternyata Mahesa Jenar sama sekali tidak berhasil. Yang terbentang di hadapannya hanyalah wajah malam yang hitam kelam. Sedangkan bayangan itu sama sekali sudah tidak ada lagi.
Meskipun demikian perhatiannya kini telah berpindah dari pertempuran yang baru saja terjadi kepada orang yang berjubah abu-abu itu. Siapakah gerangan orang yang telah menjadi teka-teki sampai bertahun-tahun itu? Kalau saja saat itu Ki Ageng Gajah Sora ada disampingnya, maka ia akan dapat mencari pertimbangan, bahwa pasti orang itulah yang telah mengambil keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten dari Banyubiru.
Tetapi apakah gerangan maksud yang sebenarnya? Dan kenapakah orang itu tiba-tiba saja muncul pada saat dirinya terancam bahaya? Bahaya yang hampir saja tak dapat dihindarkan. Apalagi dalam pertanggungjawabannya terhadap seluruh anak buahnya. Tetapi bayangan itu kini sudah lenyap. Yang tinggal hanyalah beberapa masalah, pertanyaan-pertanyaan dan teka-teki yang bercampur baur berputar-putar di dalam otak Mahesa Jenar. Campurbaur antara gambaran – gambaran hari esok serta kenangan hari kemarin yang kadang-kadang tak dapat ditemukan sendi-sendi penyambungnya.
Dalam pada itu sekali lagi Mahesa Jenar terkejut. Kali ini lamat-lamat ia mendengar suara tembang. Jauh sekali, meskipun setiap kata yang terlontar dapat didengarnya dengan jelas. Mahesa Jenar menjadi termangu-mangu. Siapakah yang berdendang di tengah malam, diantara bau mayat dan darah ini…? Mula-mula pikirannya terbang kepada Ki Ageng Pandan Alas. Namun ternyata suara itu lain. Bukan suara yang sudah sering didengarnya.
Ketika dendang itu telah genap satu bait, ternyata terdengar diulangnya kembali. Kata demi kata didengarnya dengan seksama.
Quote:
“Kalau kau tidak membunuh aku sekarang, Kakang… kau akan menyesal. Sebab akulah kelak yang akan membunuhmu.”
Arya Salaka menarik nafas dalam-dalam. Namun tangannya yang memegang tombak itu masih saja gemetar. Katanya kemudian hampir berdesis,
Quote:
“Aku harap kau akan mengubah pendirianmu. Akan kau temukan kelak kebenaran kata-kataku. Tak ada persoalan diantara kita, apabila kita berdiri di tempat kita masing-masing. Sehingga dengan demikian kita dapat memberikan tenaga dan pikiran kita untuk kepentingan tanah kelahiran serta kedamaian dan ketenteraman hidup rakyat kita. Dimana kita dilahirkan, dan untuk siapa kita berbakti.”
Mendengar kata-kata Arya Salaka, Sawung Sariti menarik keningnya. Sekali terlintas di dalam otaknya, kebenaran kata-kata itu, seperti apa yang didengarnya dari Mahesa Jenar. Tetapi dalam keadaan yang demikian, muncullah kembali kebengalannya. Sebagai seorang yang mempunyai harga diri terlalu tinggi, ia tidak mau menyerah dan minta maaf. Malahan terdengar jawabnya,
Quote:
“Kakang Arya Salaka. Pertimbangkan sekali lagi. Apakah untungmu membebaskan aku. Sekali lagi aku peringatkan, bahwa aku tetap akan membunuhmu dalam keadaan yang bagaimanapun.”
Arya Salaka menarik nafas dalam-dalam. Juga Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara menjadi pening mendengar kata-kata Sawung Sariti. Bahkan beberapa orang menjadi tidak sabar lagi. Kenapa anak yang sedemikian sombongnya tidak dibunuh saja.
Namun Arya berpikir lain. Kelakuannya banyak dipengaruhi oleh tingkah laku Mahesa Jenar. Apalagi yang berdiri di hadapannya itu adalah adik sepupunya. Maka dengan tidak berkata-kata lagi, ditariknya ujung tombaknya dan langsung disarungkannya. Kemudian ia melangkah mundur.
Gigi Sawung Sariti masih terdengar gemeretak. Marahnya sama sekali tidak mereda. Apalagi ia merasa mendapat penghinaan dari kakak sepupunya. Karena itu darahnya justru menjadi meluap-luap.
Dendamnya menjadi semakin bersusun-susun didalam hatinya yang kelam. Pada saat itu ia masih tetap berdiri dengan gagahnya. Matanya memandang tetap kepada Arya Salaka. Hanya kadang-kadang saja mata itu menyambar wajah-wajah Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara. Bahkan sempat pula ia menangkap pancaran mata yang bulat segar dari seorang gadis tanggung yang bernama Endang Widuri.
Demikianlah Sawung Sariti telah membakar perasaan mereka yang menyaksikan peristiwa itu. Beberapa orang berpendirian bahwa orang yang demikian sombongnya itu lebih baik dibinasakan saja sebelum menjadi lebih berbahaya lagi. Namun Arya Salaka sendiri mengharap, mudah – mudahan adiknya itu dapat menemukan kembali jalan kebenaran. Menyadari kesalahan-kesalahan yang diperbuatnya. Dengan demikian ia akan menemukan penyelesaian tanpa menanam dendam yang lebih dalam dari cabang keturunan Ki Ageng Sora Dipayana, sehingga kelak tidak akan mengganggu kedamaian hidup berdampingan sebagai dua orang bersaudara yang memerintah atas tanah masing-masing. Pamingit dan Banyubiru.
Arya Salaka sendiri telah berusaha keras untuk menyimpan dendam atas hilangnya ayahnya Gajah Sora, serta berusaha untuk melupakannya. Sebab apabila dendam dituntut dengan dendam, maka dendam itu sendiri akan menjalar turun-temurun. Dan habislah manusia di dunia ini terbenam dalam arus pembalasan demi pembalasan.
Beberapa orang menjadi keheran-heranan ketika malahan Arya Salaka memutar tubuhnya dan kemudian melangkah pergi menjauhi adiknya yang masih berdiri tegap tanpa bergerak. Tetapi Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara sama sekali tidak menyesal. Bahkan mereka merasa berbangga hati atas keluhuran budi yang memancar dari rongga dada muridnya, meskipun kemudian mereka masih mendengar Sawung Sariti berkata,
Quote:
“Kakang jangan mengharap hatiku menjadi cair oleh sikapmu kali ini. Bagaimanapun juga kau tidak akan dapat kembali menjamah daerah perdikan Banyubiru.”
Arya mempercepat langkahnya. Ia tidak mau mendengarkan lagi lagu yang menyakitkan hati itu, supaya ia tidak mengubah keputusannya. Karena itu ketika ia mendengar Sawung Sariti meneruskan kata-katanya, ia berteriak,
Quote:
“Pergilah, dan ambil pedangmu. Bunuhlah aku kelak kalau kau sudah merasa mampu. Aku akan merasa bahagia kelak, kalau aku binasa ndhepani tanah pusaka serta rakyat tercinta. Demi mereka, aku bersedia untuk mati.”
Setelah itu ia tidak menoleh lagi. Langkahnya menjadi semakin cepat. Bahkan ia tidak menghiraukan lagi orang-orang yang berdiri berjajar mengelilinginya. Ia tidak peduli apakah orang lain akan membenarkan pendiriannya atau tidak.
Demikianlah Arya Salaka dengan langkah tetap langsung menuju ke Gedangan. Beberapa orang berjalan mengiringinya dengan berbagai perasaan menggayut hati. Meskipun ada diantara mereka yang menjadi kecewa, namun disela-sela perasaan itu, kagumlah mereka atas kebesaran jiwa anak muda itu.
Mereka yang tidak mengetahui latar belakang dari peristiwa itu hanya menganggap, betapa tinggi jiwa kejantanannya. Sebagai seorang laki-laki jantan ia tidak akan membunuh orang yang sudah tidak berdaya lagi.
SAWUNG Sariti memandang iring-iringan itu sampai lenyap dibalik tabir kegelapan malam. Beberapa kali ia menarik nafas. Kemudian ia melangkah maju, dan kemudian membungkuk memungut pedangnya. Dengan tajam diamat-amatinya pedang kebanggaannya itu. Seolah-olah ia sedang bertanya pada benda itu, kenapa kali ini ia tidak dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Bahkan dibeberapa bagian dilihatnya pedangnya mengalami kerusakan. Karena itu ia menjadi kagum atas ketajaman dan kekerasan baja bahan tombak yang bernama Kyai Bancak.
Setelah ia menyarungkan pedangnya, dilayangkan pandangannya berkeliling. Baru kemudian terasa betapa sepinya. Perlahan-lahan ia melangkah dan berjalan menjauhi tempat dimana ia hampir saja binasa.
Sesaat kemudian arena itu menjadi sunyi. Sunyi sekali. Namun didalam kegelapan malam, masih ada seorang yang berdiri diantara mayat-mayat yang masih bergelimpangan di sana-sini. Orang itu adalah Mahesa Jenar. Ia tidak turut serta dengan orang-orang lain kembali ke Gedangan.
Tetapi ia berhenti beberapa tonggak dari desa itu. Ia tahu bahwa dalam keadaan yang demikian, Arya lebih senang duduk sendiri. Merenung dan menimbang-nimbang apa yang sudah dan akan dilakukan. Karena itu lebih baik ia tidak mengganggu. Kebo Kanigara telah lebih dahulu kembali ke Gedangan mengantar anaknya yang kelaparan bersama dengan Wanamerta dan orang-orang lain.
Namun pada saat itu Mahesa Jenar sama sekali tidak merasa lapar. Beberapa kali ia membungkuk mengamat-amati mayat-mayat yang terbujur lintang diarena. Ada diantaranya yang sudah tua, tetapi ada diantara yang masih sangat muda. Sekali dua kali terpaksa ia mengusap dadanya. Sekian banyak orang melepaskan nyawanya, hanya karena ketamakan beberapa orang yang ingin memegang kekuasaan. Berbahagialah mereka yang mati dalam tugas suci mereka. Tetapi sayanglah jiwa yang melayang sebagai korban nafsu yang tak terkendali.
Demikianlah malam bertambah kelam. Di langit masih tampak berterbangan kelelawar mencari mangsa. Sedang di kejauhan terdengar gonggongan anjing liar mengerikan.
Mahesa Jenar masih saja berdiri tegak di dalam gelapnya malam diantara mayat-mayat yang bergelimpangan. Matanya memandang jauh, ke arah bintang-bintang di langit. Namun hatinya dipenuhi oleh pertanyaan-ternyataan tentang esok. Apakah kira-kira yang akan terjadi? Adakah pasukan dari Pamingit dan rombongan orang-orang golongan hitam itu akan kembali lagi menyerang? Ataukah mereka sudah merasa bahwa mereka tak berhasil?
Meskipun demikian adalah menjadi kewajiban Mahesa Jenar untuk tetap waspada dan bersiaga sepenuhnya. Sekali-sekali dilayangkan pandangan matanya ke arah pedukuhan Gedangan yang lamat-lamat meremang, seperti bayangan yang kelam menggores di wajah langit. Mahesa Jenar menarik nafas. Pedukuhan itu tampak betapa damainya dalam kelelapan tidurnya. Seolah-olah tidak pernah terjadi keributan sama sekali. Tetapi disini. Bukti-bukti itu dihadapinya. Mayat dan bau darah.
Menghadapi kenyataan itu, darah Mahesa Jenar berdesir. Namun ia sadar sesadar-sadarnya bahwa kehadirannya di dunia ini bukanlah sekadar untuk menjadi umpan nafsu dan ketamakan. Tetapi sebagai manusia, ia wajib menegakkan kebenaran dengan usaha-usaha menurut jalan yang dibenarkan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Ketika Mahesa Jenar sedang tenggelam dalam angan-angannya, tiba-tiba di kejauhan tampaklah sebuah bayangan yang melintas dengan cepatnya. Mahesa Jenar menjadi terkejut karenanya.
Tetapi dalam tangkapannya yang hanya sekilas itu, tahulah ia bahwa bayangan itu adalah orang yang berjubah abu-abu, yang dalam pertempuran yang terjadi beberapa saat sebelum itu, merupakan penyelamat yang menentukan. Timbullah keinginannya untuk mengenal orang itu dari dekat. Karena itu segera ia meloncat dan berlari secepat-cepatnya ke arah bayangan yang melintas itu.
Namun ternyata Mahesa Jenar sama sekali tidak berhasil. Yang terbentang di hadapannya hanyalah wajah malam yang hitam kelam. Sedangkan bayangan itu sama sekali sudah tidak ada lagi.
Meskipun demikian perhatiannya kini telah berpindah dari pertempuran yang baru saja terjadi kepada orang yang berjubah abu-abu itu. Siapakah gerangan orang yang telah menjadi teka-teki sampai bertahun-tahun itu? Kalau saja saat itu Ki Ageng Gajah Sora ada disampingnya, maka ia akan dapat mencari pertimbangan, bahwa pasti orang itulah yang telah mengambil keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten dari Banyubiru.
Tetapi apakah gerangan maksud yang sebenarnya? Dan kenapakah orang itu tiba-tiba saja muncul pada saat dirinya terancam bahaya? Bahaya yang hampir saja tak dapat dihindarkan. Apalagi dalam pertanggungjawabannya terhadap seluruh anak buahnya. Tetapi bayangan itu kini sudah lenyap. Yang tinggal hanyalah beberapa masalah, pertanyaan-pertanyaan dan teka-teki yang bercampur baur berputar-putar di dalam otak Mahesa Jenar. Campurbaur antara gambaran – gambaran hari esok serta kenangan hari kemarin yang kadang-kadang tak dapat ditemukan sendi-sendi penyambungnya.
Dalam pada itu sekali lagi Mahesa Jenar terkejut. Kali ini lamat-lamat ia mendengar suara tembang. Jauh sekali, meskipun setiap kata yang terlontar dapat didengarnya dengan jelas. Mahesa Jenar menjadi termangu-mangu. Siapakah yang berdendang di tengah malam, diantara bau mayat dan darah ini…? Mula-mula pikirannya terbang kepada Ki Ageng Pandan Alas. Namun ternyata suara itu lain. Bukan suara yang sudah sering didengarnya.
Ketika dendang itu telah genap satu bait, ternyata terdengar diulangnya kembali. Kata demi kata didengarnya dengan seksama.
Quote:
“Memanising manungsa sejati, sesantine mring laku utama,
lukita mesu budine,
meruhi hawa lan napsu,
mrih sampurna lair lan batin,
kanti atapa brata,
gegulang mrih hayu,
hayuningrat sak isine,
rumantine rinakit budi pakarti,
tata gatining jalma.”
lukita mesu budine,
meruhi hawa lan napsu,
mrih sampurna lair lan batin,
kanti atapa brata,
gegulang mrih hayu,
hayuningrat sak isine,
rumantine rinakit budi pakarti,
tata gatining jalma.”
fakhrie... dan 10 lainnya memberi reputasi
11
Kutip
Balas