- Beranda
- Stories from the Heart
Naga Sasra & Sabuk Inten
...
TS
nandeko
Naga Sasra & Sabuk Inten

NAGA SASRA & SABUK INTEN
Kisah ini merupakan karangan dari S.H Mintardja. Disini TS sudah mendapatkan ijin untuk sekedar membagikan dan mempermudahkan pembaca untuk menikmati kisah ini dalam bentuk digital
INDEX
Quote:
Spoiler for JILID 1:
Spoiler for JILID 2:
Spoiler for JILID 3:
Spoiler for JILID 4:
Spoiler for JILID 5:
Spoiler for JILID 6:
Part 114
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Spoiler for JILID 7:
Spoiler for JILID 8:
Spoiler for JILID 9:
Spoiler for JILID 10:
Pengarang dan Hakcipta©
Singgih Hadi Mintardja
Singgih Hadi Mintardja
Diubah oleh nandeko 21-10-2021 14:24
whadi05 dan 43 lainnya memberi reputasi
42
63.6K
Kutip
1.2K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
nandeko
#314
Jilid 10 [Part 223]
Spoiler for :
KALAU saja Endang Widuri seorang laki-laki yang memiliki kekuatan secara kodrati lebih besar daripada seorang gadis, maka Widuri pada umurnya yang baru kira-kira 15 tahun itu pasti sudah semakin memiliki keperkasaan yang mengejutkan. Bahkan mungkin dalam saat yang tidak lama akan dapat menyamai Arya Salaka.
Demikianlah pada saat itu telah disaksikan suatu latihan yang mengherankan dari dua macam ilmu yang berasal dari satu keturunan. Meskipun dalam perkembangannya agak berbeda namun jelas bahwa unsur-unsur pokoknya tetap dalam garis yang sama. Gerak-gerak Arya dipengaruhi oleh gerak berbagai jenis binatang, sedangkan gerak Widuri dilandaskan pada kecepatan dan kelenturan seuai sifat-sifat alami seorang gadis.
Akhirnya tampak bahwa Endang Widuri masih belum dapat menyejajari Arya Salaka, namun hal itu dapat diterima sebagai suatu kewajaran. Meskipun andaikata keduanya benar-benar bertempur, Arya Salaka pun akan dapat dengan mudah mengalahkan gadis kecil itu.
Demikianlah Endang Widuri telah menimbulkan keheranan diantara para penontonnya. Bahkan ayahnya pun lega menarik nafas panjang, karena jerih payahnya selama itu ternyata cukup memberinya kepuasan. Yang paling tertarik dari semuanya adalah Rara Wilis, yang merasa bahwa pada umur-umurnya sebesar Widuri itu ia baru dapat dengan manjanya menarik-narik ujung baju ibunya. Merengek dan berbagai polah yang kekanak-kanakan.
Karena itu Wilis menjadi terharu melihat gadis kecil itu, yang sejak bayi ternyata sudah tidak beribu lagi. Kemudian atas asuhan ayahnya telah dapat menunjukkan suatu yang membanggakan, meskipun karena pengaruh keadaan, dimana ia bergaul dengan rapatnya hanya dengan seorang laki-laki maka seolah-olah tingkah Widuri pun dalam beberapa hal terpengaruh oleh kelakukan laki-laki. Tetapi agaknya latihan yang memikat hati itu, tiba-tiba terhenti ketika mereka melihat seorang cantrik yang berlari-lari dengan nafas terengah-engah. Bahkan Kanigara menjadi agak terkejut, ketika cantrik itu dengan terputus-putus berkata diantara peredaran nafasnya yang semakin cepat.
Cantrik itu menganggukkan kepala.
Maka tanpa disadari, Mahesa Jenar memandang Kebo Kanigara yang agaknya tertarik juga dengan pembicaraan itu, untuk mendapat pertimbangan. Namun agaknya Kebo Kanigara tidak dapat menebak sesuatu. Maka katanya,
Cantrik itu membungkuk hormat, lalu berjalan meninggalkan tempat itu. Kemudian disusul pula oleh Kebo Kanigara, Mahesa Jenar serta yang lain. Di salah satu rumah Padepokan itulah Wiradapa menunggu. Maka ketika dilihatnya kemudian Mahesa Jenar beserta beberapa orang mendatanginya, cepat-cepat ia bangkit dan dengan hormatnya menyambut kedatangan mereka. Sedangkan Mahesa Jenar pun segera membungkuk hormat kepadanya. Tetapi ketika ia melihat seorang lagi, yang mungkin orang itulah yang diantarkan oleh Wiradapa, dada Mahesa Jenar menjadi bergetar.
Orang itu adalah seorang yang telah lanjut usia. Rambutnya telah memutih, namun wajahnya masih memancarkan kebesaran tekad serta keteguhan hati. Ketika orang itu melihat Mahesa Jenar, untuk beberapa lama ia berdiri mengawasinya. Tetapi kemudian ia bertanya,
Tiba-tiba orang itu maju selangkah lagi. Diraihnya anak yang sudah hampir melampaui dirinya, dan dipeluknya seperti anak-anak. Dari mata orang tua itu membayanglah suatu perasaan haru yang sangat, yang bahkan kemudian menjadi basah oleh titik-titik air mata.
Arya Salaka menundukkan wajahnya, seolah-olah ia pun sedang berusaha untuk menyembunyikan perasaan haru yang dalam. Bahkan terasalah seakan-akan sesuatu menyumbat tenggorokannya.
Sejenak kemudian orang tua itu menggoyang-goyangkan tubuh Arya Salaka, seolah-olah ingin melihat keperkasaaannya. Katanya kemudian,
Arya Salaka masih belum dapat menjawab. Ia menjadi bingung karena pertemuan yang tiba-tiba itu.
Kemudian Mahesa Jenar yang mewakili menjawabnya,
Setelah itu maka dipersilakanlah tamu-tamu itu untuk duduk kembali. Diperkenalkanlah Kebo Kanigara dengan orang tua itu. Orang pertama di Banyubiru sesudah Ki Ageng Gajah Sora. Dia adalah Wanamerta. Juga diperkenalkan lurah desa Gedangan, Wiradapa.
Orang tua itu berhenti sejenak sambil membetulkan letak duduknya. Setelah menelan ludah, kemudian ia meneruskan ceritanya,
Mahesa Jenar mengerutkan keningnya. Apa yang sebenarnya dicemaskan sejak lama, kini ternyata benar-benar akan terjadi. Karena itu ia menjadi berpikir keras, bagaimanakah sebaiknya cara yang akan ditempuh untuk menyelamatkan desa Gedangan yang pasti akan menjadi ajang pertempuran. Dan karena itu pula agaknya Wiradapa sengaja mengantarkan Wanamerta.
Dalam pada itu kembali terdengar Wanamerta meneruskan ceritanya,
Bagaimanapun dada Mahesa Jenar berdesir. Ini berarti akan datang kekuatan besar. Ia yakin bahwa dalam pasukan itu akan ikut serta Sima Rodra tua, bahkan mungkin Bugel Kaliki.
Tetapi agaknya Arya Salaka berpikir lain. Sebab tiba-tiba wajahnya menjadi cerah. Kemudian sahutnya,
Demikianlah pada saat itu telah disaksikan suatu latihan yang mengherankan dari dua macam ilmu yang berasal dari satu keturunan. Meskipun dalam perkembangannya agak berbeda namun jelas bahwa unsur-unsur pokoknya tetap dalam garis yang sama. Gerak-gerak Arya dipengaruhi oleh gerak berbagai jenis binatang, sedangkan gerak Widuri dilandaskan pada kecepatan dan kelenturan seuai sifat-sifat alami seorang gadis.
Akhirnya tampak bahwa Endang Widuri masih belum dapat menyejajari Arya Salaka, namun hal itu dapat diterima sebagai suatu kewajaran. Meskipun andaikata keduanya benar-benar bertempur, Arya Salaka pun akan dapat dengan mudah mengalahkan gadis kecil itu.
Demikianlah Endang Widuri telah menimbulkan keheranan diantara para penontonnya. Bahkan ayahnya pun lega menarik nafas panjang, karena jerih payahnya selama itu ternyata cukup memberinya kepuasan. Yang paling tertarik dari semuanya adalah Rara Wilis, yang merasa bahwa pada umur-umurnya sebesar Widuri itu ia baru dapat dengan manjanya menarik-narik ujung baju ibunya. Merengek dan berbagai polah yang kekanak-kanakan.
Karena itu Wilis menjadi terharu melihat gadis kecil itu, yang sejak bayi ternyata sudah tidak beribu lagi. Kemudian atas asuhan ayahnya telah dapat menunjukkan suatu yang membanggakan, meskipun karena pengaruh keadaan, dimana ia bergaul dengan rapatnya hanya dengan seorang laki-laki maka seolah-olah tingkah Widuri pun dalam beberapa hal terpengaruh oleh kelakukan laki-laki. Tetapi agaknya latihan yang memikat hati itu, tiba-tiba terhenti ketika mereka melihat seorang cantrik yang berlari-lari dengan nafas terengah-engah. Bahkan Kanigara menjadi agak terkejut, ketika cantrik itu dengan terputus-putus berkata diantara peredaran nafasnya yang semakin cepat.
Quote:
“Tuan… ada seseorang mencari…”
Kanigara mengerutkan keningnya, lalu bertanya,
“Siapakah yang dicari…?”
“Tuan Mahesa Jenar,” jawab cantrik itu.
“Aku…?” sela Mahesa Jenar.
“Ya… sejak tadi aku berkeliling bukit ini mencari Tuan,” sambung cantrik itu.
“Siapa…?” tanya Mahesa Jenar pula.
“Aku tidak tahu. Orang itu tidak menyebut namanya. Tetapi aku kenal dan pernah melihat pengantarnya,” jawab cantrik itu pula.
“Siapakah pengantarnya?” desak Mahesa Jenar tidak sabar.
“Mereka telah agak lama menunggu Tuan.”
Mahesa Jenar mengerutkan keningnya, kemudian desaknya lagi,
“Ya, tetapi siapakah dia…? Katamu kau kenal kepadanya.”
“Ya, aku kenal, Tuan. Yang seorang adalah Ki Wiradapa, Lurah Gedangan, dan seorang pengawalnya.”
“Wiradapa dari Gedangan…?” ulang Mahesa Jenar terkejut.
Kanigara mengerutkan keningnya, lalu bertanya,
“Siapakah yang dicari…?”
“Tuan Mahesa Jenar,” jawab cantrik itu.
“Aku…?” sela Mahesa Jenar.
“Ya… sejak tadi aku berkeliling bukit ini mencari Tuan,” sambung cantrik itu.
“Siapa…?” tanya Mahesa Jenar pula.
“Aku tidak tahu. Orang itu tidak menyebut namanya. Tetapi aku kenal dan pernah melihat pengantarnya,” jawab cantrik itu pula.
“Siapakah pengantarnya?” desak Mahesa Jenar tidak sabar.
“Mereka telah agak lama menunggu Tuan.”
Mahesa Jenar mengerutkan keningnya, kemudian desaknya lagi,
“Ya, tetapi siapakah dia…? Katamu kau kenal kepadanya.”
“Ya, aku kenal, Tuan. Yang seorang adalah Ki Wiradapa, Lurah Gedangan, dan seorang pengawalnya.”
“Wiradapa dari Gedangan…?” ulang Mahesa Jenar terkejut.
Cantrik itu menganggukkan kepala.
Maka tanpa disadari, Mahesa Jenar memandang Kebo Kanigara yang agaknya tertarik juga dengan pembicaraan itu, untuk mendapat pertimbangan. Namun agaknya Kebo Kanigara tidak dapat menebak sesuatu. Maka katanya,
Quote:
“Marilah kita temui mereka.”
“Di manakah Panembahan…?” tanya Kanigara kepada cantrik itu.
“Tamu itu tak mencari Panembahan, Tuan,” jawabnya.
“Ya, tetapi aku ingin tahu di mana Panembahan sekarang?” ulang Kanigara.
“Beliau ada di Sanggar,” jawab cantrik itu.
Kanigara mengangguk-angguk, lalu katanya kepada cantrik itu,
“Nah, dahululah. Katakan kepada tamu-tamu itu bahwa sebentar lagi kami akan datang.”
“Di manakah Panembahan…?” tanya Kanigara kepada cantrik itu.
“Tamu itu tak mencari Panembahan, Tuan,” jawabnya.
“Ya, tetapi aku ingin tahu di mana Panembahan sekarang?” ulang Kanigara.
“Beliau ada di Sanggar,” jawab cantrik itu.
Kanigara mengangguk-angguk, lalu katanya kepada cantrik itu,
“Nah, dahululah. Katakan kepada tamu-tamu itu bahwa sebentar lagi kami akan datang.”
Cantrik itu membungkuk hormat, lalu berjalan meninggalkan tempat itu. Kemudian disusul pula oleh Kebo Kanigara, Mahesa Jenar serta yang lain. Di salah satu rumah Padepokan itulah Wiradapa menunggu. Maka ketika dilihatnya kemudian Mahesa Jenar beserta beberapa orang mendatanginya, cepat-cepat ia bangkit dan dengan hormatnya menyambut kedatangan mereka. Sedangkan Mahesa Jenar pun segera membungkuk hormat kepadanya. Tetapi ketika ia melihat seorang lagi, yang mungkin orang itulah yang diantarkan oleh Wiradapa, dada Mahesa Jenar menjadi bergetar.
Orang itu adalah seorang yang telah lanjut usia. Rambutnya telah memutih, namun wajahnya masih memancarkan kebesaran tekad serta keteguhan hati. Ketika orang itu melihat Mahesa Jenar, untuk beberapa lama ia berdiri mengawasinya. Tetapi kemudian ia bertanya,
Quote:
“Bukankah Anakmas Mahesa Jenar…?”
Mahesa Jenar dengan agak gugup membungkuk sambil menyahut,
“Ya, Paman… akulah Mahesa Jenar.”
“Syukurlah… syukur bahwa aku benar-benar dapat bertemu dengan Anakmas setelah aku menempuh perjalanan yang sulit. Di manakah cucu Arya Salaka…?” lanjut orang itu.
MAHESA JENAR segera menjawab sambil menarik Arya Salaka,
“Inilah… Paman.” Kemudian kepada Arya Salaka ia bertanya,
“Lupakah kau dengan eyangmu…?”
Arya Salaka tidak menjawab. Tetapi matanya memancarkan sinar yang ganjil. Ia merasa seolah-olah berada dalam mimpi yang sama sekali tak diduganya.
“Inikah dia…” tanya orang itu tak percaya.
“Ya,” jawab Mahesa Jenar.
“Inilah anak itu.”
Mahesa Jenar dengan agak gugup membungkuk sambil menyahut,
“Ya, Paman… akulah Mahesa Jenar.”
“Syukurlah… syukur bahwa aku benar-benar dapat bertemu dengan Anakmas setelah aku menempuh perjalanan yang sulit. Di manakah cucu Arya Salaka…?” lanjut orang itu.
MAHESA JENAR segera menjawab sambil menarik Arya Salaka,
“Inilah… Paman.” Kemudian kepada Arya Salaka ia bertanya,
“Lupakah kau dengan eyangmu…?”
Arya Salaka tidak menjawab. Tetapi matanya memancarkan sinar yang ganjil. Ia merasa seolah-olah berada dalam mimpi yang sama sekali tak diduganya.
“Inikah dia…” tanya orang itu tak percaya.
“Ya,” jawab Mahesa Jenar.
“Inilah anak itu.”
Tiba-tiba orang itu maju selangkah lagi. Diraihnya anak yang sudah hampir melampaui dirinya, dan dipeluknya seperti anak-anak. Dari mata orang tua itu membayanglah suatu perasaan haru yang sangat, yang bahkan kemudian menjadi basah oleh titik-titik air mata.
Quote:
“Akhirnya doaku serta doa seluruh penduduk Banyubiru dikabulkan oleh Tuhan Yang Maha Adil,” gumam orang itu dengan suara yang sesak parau.
“Sehingga aku masih berkesempatan bertemu dengan Cucu Arya Salaka sebelum umurku ini berakhir.”
“Sehingga aku masih berkesempatan bertemu dengan Cucu Arya Salaka sebelum umurku ini berakhir.”
Arya Salaka menundukkan wajahnya, seolah-olah ia pun sedang berusaha untuk menyembunyikan perasaan haru yang dalam. Bahkan terasalah seakan-akan sesuatu menyumbat tenggorokannya.
Sejenak kemudian orang tua itu menggoyang-goyangkan tubuh Arya Salaka, seolah-olah ingin melihat keperkasaaannya. Katanya kemudian,
Quote:
“Kau berkembang dengan suburnya. Tubuhmu menjadi demikian gagahnya, melampaui ayahmu.”
Arya Salaka masih belum dapat menjawab. Ia menjadi bingung karena pertemuan yang tiba-tiba itu.
Kemudian Mahesa Jenar yang mewakili menjawabnya,
Quote:
“Karena pangestu Paman, Arya Salaka dapat tumbuh seperti yang aku harapkan. Mudah-mudahan aku tidak mengecewakan ayahnya.”
Setelah itu maka dipersilakanlah tamu-tamu itu untuk duduk kembali. Diperkenalkanlah Kebo Kanigara dengan orang tua itu. Orang pertama di Banyubiru sesudah Ki Ageng Gajah Sora. Dia adalah Wanamerta. Juga diperkenalkan lurah desa Gedangan, Wiradapa.
Quote:
“Dari siapakah Paman dapat mengetahui bahwa aku berada di bukit ini?” tanya Mahesa Jenar.
“Dari Adi Wiradapa,” jawab Wanamerta.
Dan seterusnya berceritalah Wanamerta, bagaimana ia dapat mengikuti jejak Mahesa Jenar dan Arya Salaka.
“Anakmas, aku berusaha secepatnya pergi ke Gedangan, suatu daerah yang belum pernah aku datangi. Sebab dari seseorang kepercayaanku, aku mendengar bahwa Anakmas beserta Arya Salaka pernah dijumpai oleh Cucunda Sawung Sariti di pedukuhan itu."
"Menurut orang itu, Cucu Arya Salaka bahkan terlibat dalam suatu pertempuran yang katanya dibantu oleh seorang yang tak dikenalnya, dan mengaku ayahnya."
"Aku menjadi pasti bahwa orang yang dimaksud adalah Anakmas Mahesa Jenar. Sebab sejak Cucunda Arya Salaka hilang dari Banyubiru, aku selalu mengharap agar Cucunda Arya Salaka meninggalkan Banyubiru bersama-sama dengan Mahesa Jenar, meskipun ada yang menduga bahwa Anakmas menjumpai kesulitan dengan diketemukannya Kuda Anakmas tanpa penumpang.”
“Dari Adi Wiradapa,” jawab Wanamerta.
Dan seterusnya berceritalah Wanamerta, bagaimana ia dapat mengikuti jejak Mahesa Jenar dan Arya Salaka.
“Anakmas, aku berusaha secepatnya pergi ke Gedangan, suatu daerah yang belum pernah aku datangi. Sebab dari seseorang kepercayaanku, aku mendengar bahwa Anakmas beserta Arya Salaka pernah dijumpai oleh Cucunda Sawung Sariti di pedukuhan itu."
"Menurut orang itu, Cucu Arya Salaka bahkan terlibat dalam suatu pertempuran yang katanya dibantu oleh seorang yang tak dikenalnya, dan mengaku ayahnya."
"Aku menjadi pasti bahwa orang yang dimaksud adalah Anakmas Mahesa Jenar. Sebab sejak Cucunda Arya Salaka hilang dari Banyubiru, aku selalu mengharap agar Cucunda Arya Salaka meninggalkan Banyubiru bersama-sama dengan Mahesa Jenar, meskipun ada yang menduga bahwa Anakmas menjumpai kesulitan dengan diketemukannya Kuda Anakmas tanpa penumpang.”
Orang tua itu berhenti sejenak sambil membetulkan letak duduknya. Setelah menelan ludah, kemudian ia meneruskan ceritanya,
Quote:
“Beberapa saat setelah Sawung Sariti pulang, agaknya Pamingit mengadakan persiapan-persiapan baru dengan tidak mengikutsertakan Laskar Banyubiru.
Akhirnya yang aku dengar ialah, Sawung Sariti akan mengerahkan pasukan yang lebih kuat lagi untuk mencari Anakmas Mahesa Jenar dan Cucu Arya Salaka ke desa Gedangan. Karena itu aku tidak dapat berbuat lain kecuali berusaha untuk mendahuluinya, memberitahukan hal itu kepada Anakmas."
"Tetapi sampai di Gedangan, atas ancar-ancar orang tadi, Anakmas sudah meninggalkan desa itu, pergi ke Padepokan Karang Tumaritis. Dan atas kebaikan hati Adi Wiradapa, ia berkenan mengantarkan aku kemari, sebab katanya Adi Wiradapa telah lama tidak bertemu dengan Anakmas Mahesa Jenar."
"Meskipun mula-mula kami agak cemas, jangan-jangan Anakmas Mahesa Jenar telah meninggalkan padepokan ini.”
Akhirnya yang aku dengar ialah, Sawung Sariti akan mengerahkan pasukan yang lebih kuat lagi untuk mencari Anakmas Mahesa Jenar dan Cucu Arya Salaka ke desa Gedangan. Karena itu aku tidak dapat berbuat lain kecuali berusaha untuk mendahuluinya, memberitahukan hal itu kepada Anakmas."
"Tetapi sampai di Gedangan, atas ancar-ancar orang tadi, Anakmas sudah meninggalkan desa itu, pergi ke Padepokan Karang Tumaritis. Dan atas kebaikan hati Adi Wiradapa, ia berkenan mengantarkan aku kemari, sebab katanya Adi Wiradapa telah lama tidak bertemu dengan Anakmas Mahesa Jenar."
"Meskipun mula-mula kami agak cemas, jangan-jangan Anakmas Mahesa Jenar telah meninggalkan padepokan ini.”
Mahesa Jenar mengerutkan keningnya. Apa yang sebenarnya dicemaskan sejak lama, kini ternyata benar-benar akan terjadi. Karena itu ia menjadi berpikir keras, bagaimanakah sebaiknya cara yang akan ditempuh untuk menyelamatkan desa Gedangan yang pasti akan menjadi ajang pertempuran. Dan karena itu pula agaknya Wiradapa sengaja mengantarkan Wanamerta.
Dalam pada itu kembali terdengar Wanamerta meneruskan ceritanya,
Quote:
“Yang lebih mencemaskan lagi, Anakmas… agaknya Sawung Sariti telah bersepakat dengan Janda Sima Rodra, yang menurut pendengaranku, suaminya terbunuh pula oleh Anakmas.”
Bagaimanapun dada Mahesa Jenar berdesir. Ini berarti akan datang kekuatan besar. Ia yakin bahwa dalam pasukan itu akan ikut serta Sima Rodra tua, bahkan mungkin Bugel Kaliki.
Tetapi agaknya Arya Salaka berpikir lain. Sebab tiba-tiba wajahnya menjadi cerah. Kemudian sahutnya,
Quote:
“Eyang Wanamerta… aku akan sangat bergembira apabila Adi Sawung Sariti sudi sekali lagi menemui aku. Sebab setelah sekian lama aku tidak bertemu, dan sesudah pertemuan kami yang hanya sekejap, aku menjadi rindu kepadanya.”
“Ah, kau…”potong Wanamerta.
“Aku memang mendengar bahwa atas asuhan Anakmas Mahesa Jenar, kau pada waktu itu dapat mengimbangi Sawung Sariti. tetapi karena itulah maka Sawung Sariti telah bekerja mati-matian mesu dhiri. Kakang Sora Dipayana agaknya percaya pada dongengan yang dibuatnya bersama ayahnya, Lembu Sora, sehingga dalam waktu yang pendek itu ia telah menggembleng Sawung Sariti bukan main. Bahkan ayah-beranak itu kini memiliki warisan kesaktian yang menakutkan dari Perguruan Banyubiru, yaitu Lebur Sakethi, meskipun dalam tingkatan yang belum sempurna.”
“Ah, kau…”potong Wanamerta.
“Aku memang mendengar bahwa atas asuhan Anakmas Mahesa Jenar, kau pada waktu itu dapat mengimbangi Sawung Sariti. tetapi karena itulah maka Sawung Sariti telah bekerja mati-matian mesu dhiri. Kakang Sora Dipayana agaknya percaya pada dongengan yang dibuatnya bersama ayahnya, Lembu Sora, sehingga dalam waktu yang pendek itu ia telah menggembleng Sawung Sariti bukan main. Bahkan ayah-beranak itu kini memiliki warisan kesaktian yang menakutkan dari Perguruan Banyubiru, yaitu Lebur Sakethi, meskipun dalam tingkatan yang belum sempurna.”
fakhrie... dan 9 lainnya memberi reputasi
10
Kutip
Balas