Chapter 9
Quote:
Pagi-pagi sekali lantai café utama sudah bergetar-getar, untungnya belum ada pengunjung di waktu pagi. Solo yang sedang mengelap-elap gelas membantu Gonzalo pun hanya bisa mengeluh. Karena sebelumnya saat Lio maupun Vivian berlatih dengan Sterling, keadaannya sangat tenang. Bahkan jarang sekali menimbulkan getaran seperti ini.
“Ah…untungnya para pelanggan belum datang, nanti aku harus beralasan apa?” keluh Solo dengan dada yang menonjol hebat.
Gonzalo tersenyum menanggapi rekan kerjanya itu, “Sudahlah, semua ini demi kebaikannya kan?”
Djohan dan Sterling terlihat berlatih di ruangan bawah tanah, dengan kondisi Djohan yang belum bisa mengeluarkna kekuatan Beat-nya dengan benar. Hanya tangan kanannya saja yang berubah, tetapi kecepatan dan daya hancurnya sangat meningkat. Beberapa luka gores dan luka memar terlihat di kedua tangan Sterling. Ia sengaja tidak menggunakan kekuatan memulihkan luka, agar kemajuan latihannya terlihat.
“Kamu masih tidak bisa mengubah bagian tubuhmu yang lain?” tanya Sterling yang terlihat santai.
“Hah?” Djohan masih berusaha mengumpulkan nafasnya. “itu…tidak…hanya tangan kananku saja yang berdenyut,” itu jawabannya. “oh iya, aku punya satu pertanyaan.”
“Apa itu?”
“Waktu itu aku merasa Beat di dalam tubuhku berdetak hebat, rasanya seperti orang yang kejang-kejang. Apakah kalian Beaters senior pernah mengalami hal yang sama?”
Sterling menyudahi latihan hari itu, lalu mereka berdua duduk di tengah-tengah2 ruangan yang luasnya 2 kali lapangan basket.
“Itu tanda dari Beat yang ada di dalam tubuhmu…tanda bahwa ada Beaters lain yang harus kamu bunuh, apakah itu tuan Stam?”
“Beaters yang harus dibunuh?”
“Ya…Beat di dalam tubuh itu layaknya makhluk hidup, mereka menyimpan memori dan trauma dari orang yang mereka jadikan inang. Aku dengar kamu ada di jalan dengan kondisi yang sangat tragis, badan yang bolong sehingga orang bisa memasukan bulan di bagian yang bolong itu, mungkin itu salah satu penyebabnya.”
Djohan sedikit mengerti sekarang, kalau yang dikatakan Sterling benar. Berarti Beat di dalam tubuhnya menyimpan memori apa yang terjadi pada dirinya saat malam itu. Dan rasa sakitnya menjadi sebuah trauma dan dendam yang harus terbalaskan. Djohan melihatnya, monster berwarna hitam pekat itu adalah sumber rasa sakit ini.
“Itu adalah Beaters hitam pekat, monster yang membunuhku malam itu,” Sterling sedikit kaget mendengar perkataan Djohan.
“Beaters hitam pekat…jangan-jangan itu….,” Sterling terhenti sebelum mengatakannya.
“Siapa?” Sterling menghindar dengan cara terbangun dari duduknya, dan melangkah pergi meninggalkan ruangan itu. “aku tahu sesama Beaters kita tidak boleh membunuh satu sama lain karena perjanjian yang sudah dibuat, tapi apakah kasusku ini bisa disebut sebagai pengecualian?” Djohan sedikit berteriak karena jarak Sterling yang semakin menjauh.
“Hmm…jalan satu-satunya untuk menghilangkan sensasi itu adalah antara kamu yang mati atau dia yang mati, tidak ada jalan lain,” jawab Sterling.
“Apakah kamu pernah mengalaminya senior?” tanya Djohan.
“Tentu saja, kami semua mengalaminya di sini. Dan untungnya semua sudah terselesaikan.”
“Siapa Beaters yang memicunya?”
“Tuan Stam,” Sterling tersenyum lalu kembali melangkah keluar.
“EH?!”
Setelah melakukan serangkaian latihan yang melelahkan, dan Djohan sudah kembali segar. Ia melangkahkan kaki ke arah Café, di sana sudah ada Sterling dan Vivian. Senior yang jarang sekali ia jumpai, karena Vivian sendiri jarang ada di tempat ini.
“Ah akhirnya, kenapa lama sekali sih?” tanya Sterling.
“Ya…aku….,” omongan dipotong.
“Sudah, kemari. Kita akan melakukannya.”
Raut wajah Vivian belum menunjukan sikap yang baik kepada Djohan, poni ratanya membuat tatapannya semakin seram.
“Jadi siapa target kita sekarang?”
Vivian membuka sebuah map coklat, dan mengeluarkan berkas-berkas yang ada didalamnya.
“Orang ini adalah bandar casino besar didaerah tepi, dia juga menguasai daerah sekitar dengan memasang tarif ‘perlindungan’ yang amat tinggi, belum lagi kasus suap kepada aparat penegak hukum di sana.”
“Oke! Saatnya memburu, kita akan melakukannya besok malam,” seru Sterling. “dan Djohan, selamat! Ini adalah misi pertamamu sebagai Silver Clan Beaters.”
Masih ada keraguan dalam hati Djohan, apakah ia harus benar-benar melakukan pekerjaan ini atau tidak.