- Beranda
- Stories from the Heart
You Are Scored On My Heart (18+)
...
TS
juztbowen
You Are Scored On My Heart (18+)
YOU ARE SCORED ON MY HEART


Cerita ini adalah lanjutan dari cerita sebelumnya

Part 1 : Membuka Lembaran Baru
Part 2 : Masalah Pangkat Kuadrat
Part 3 : Pengacara, Pengangguran Banyak Acara
Part 4 : Ternyata Sahabat Gw Jual Barang Ini
Part 5 : Putus
Side Story : Sisi Pandang Vania
Part 6 : Selamat Tinggal Perjaka
Part 7 : Kamu Tidak Benar Benar Kehilangan Aku (Bag.1)
Part 8 : Kamu Tidak Benar Benar Kehilangan Aku (Bag.2)
Part 9 : Kamu Tidak Benar Benar Kehilangan Aku (Bag.3)
Part 10 : Wisuda
Part 11 : Melisa Emilia
Part 12 : Ku Sadar, Beruntungnya Aku
Part 13 : Culik Anak Orang Lagi (Bag. 1)
Part 14 : Culik Anak Orang Lagi (Bag. 2)
Part 15 : Moment Indah Bersama
Part 16 : Take Me To The Sky
Part 17 : Hargailah Waktumu Bersamanya
Part 18 : Kamu Sudah Terukir di Hatiku
Part 19 : Selamat Tinggal Tanah Kelahiran
Part 20 : Halo Tanah Rantau
Part 21 : Ini Siapa Ya?
Part 22 : Lho??? Elu Kan...
Part 23 : Kita Memang Ditakdirkan Untuk Bertemu Lagi
Part 24 : Ga Nyangka Ya, Kita Ketemu Lagi Disini
Part 25 : Titip Dulu Ya
Part 26 : Tinggal Serumah?
Part 27 : I'm Your Guardian Devil
Part 28 : Darahku Dan Darahmu
Ending #1 : Terima Kasih Untuk Semuanya
Ending #2 : You Will Always Be My Endless Love UPDATE!!!
Bagian Terakhir : Kamu Adalah Cinta Abadiku UPDATE!!!
Polling
0 suara
Siapa yang cocok bersama Wendy?
Diubah oleh juztbowen 25-08-2020 11:42
fa.achryy dan 25 lainnya memberi reputasi
22
28K
358
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
juztbowen
#165
Part 26
TINGGAL SERUMAH?
Josh bangun dari sofa dan segera menuju ke kamarnya untuk mengambil handuk. Tapi tiba tiba ia memanggil gw untuk masuk ke kamarnya.
Quote:
Hari itu gw menghabiskan waktu dari siang sampai sore untuk sekedar jalan jalan ke mall bareng anak anak. Rachel seperti biasa selalu berusaha untuk nempelin gw kaya perangko, dia kaya pengen banget diperhatiin sama gw. Aneh sih, dia ngakunya wajar wajar aja kalo berteman kaya gini tapi yang udah kita alamin selama ini jelas jelas lebih dari batas pertemanan. Kita udah kaya pacaran aja ato bahkan bisa dibilang suami istri, lagi lagi gw dipertemukan dengan wanita semacam ini. Kasihan juga sih lama lama sama Rachel, gw jadinya berpikir untuk mulai memberikan perhatian setelah selama ini berusaha nyuekin Rachel.
Sedangkan untuk Vania dan Josh, mereka jalan dan gandengan seperti biasa aja. Sekali lagi Vania memberikan pandangan sinis kearah gw. Tapi kalau diajak ngomong sama Rachel dia biasa aja, ada apa nih? Perasaan gw mulai ga enak, jangan jangan Vania tau soal peristiwa berlendir semalam.
Setelah dari Mall, kita semua balik ke apartemen untuk siap siap mengantar Josh ke Bandara. Proses check in selesai dan sekarang tinggal menunggu waktu boarding, kami bersantai santai dulu di sebuah cafe di bandara. Sampai tiba waktunya boarding, Josh memeluk Vania dan seperti mengucapkan sepatah dua patah kata kepada Vania. Vania menangis saat itu, sungguh gw ga tega melihatnya.
Gw seperti melihat sebuah de javu berada di hadapan gw. Gw seperti melihat diri gw sendiri memeluk Vania sewaktu kita akan berpisah kota beberapa waktu yang lalu. Sekarang situasinya sudah berbeda, bukan gw yang berada disana, bukan gw yang menenangkan Vania saat akan berpisah dengannya. Gw disini hanya bisa menyaksikan, kalau seseorang yang gw jaga selama ini sudah bersama dengan orang yang tepat juga.
Quote:
Keesokan harinya gw ngantor seperti biasa, suasana sekarang jadi agak terasa sepi karena kepergian Josh. Biasanya ada yang ngajakin gw bercanda di kantor, at least ada yang ngajak gw ngomong bahasa Indonesia lah. Sekarang di ruangan tinggal gw dan Rachel, untuk pengganti Josh belum ada dan kemungkinan memang tidak akan ada kalau kerjaan masih bisa kami handle.
Pulang kantor gw langsung menuju ke apartemen, biasanya bakalan ada Josh yang ngeluyur ke kamar habis pulang kantor terus kita main game sampai malam. Tapi sekarang suasana sepi banget, cuman ada suara gw dan suara ac aja. Gw membuka kamar Josh yang sudah hampir kosong setengahnya, beberapa barang sudah ia kirimkan ke Indo, sepertinya setelah menikah nanti dia berencana untuk stay di Indonesia.
Lemari pakaian Josh sudah kosong sekarang, dikamarnya hanya tersisa beberapa perabotan dan komputernya yang belum dibawa ke Indo, ribet katanya. Nanti pas dia balik kesini lagi baru itu komputer bakal dibawa ke Indo. Gw lagi santai santai nonton tv di ruang tamu sampai tiba tiba ada yang mengetuk pintu dari luar, dan gw pun membukakan pintu.
Quote:
Ternyata yang Josh maksud dengan titip Vania itu bukan hanya sekedar gw sering sering kontak dia. Tapi Josh bener bener nitip Vania serumah sama gw di apartemen. Josh juga bilang kalau kamar dia bakalan ada yang nempatin, ternyata yang dia maksud itu Vania. Apa maksudnya dia nutup nutupin kaya gitu coba? Bilang langsung terus terang aja sih..
Gw seneng sih ada temen di apartemen, jadi gw ga akan sendirian lagi. Tapi ga Vania juga, secara dia udah jadi calon istri orang. Kenapa ga Josh suruh Rachel aja gitu yang satu apartemen sama gw, hahaha..
Kalo mengingat Rachel kayanya bakalan ada masalah baru. Gw cukup nyaman dengan kedekatan gw bersamanya selama ini. Gw ga menyangkal kalau Rachel juga jelas ada feeling sama gw. Kalau sampai dia tau gw tinggal 1 apartemen dengan Vania, bakal jadi seperti apa hubungan kita. Egois ya gw, gw pengen Vania ada di dekat gw tapi gw juga ga mau kehilangan Rachel. Tapi sepertinya lebih baik gw ngomong langsung aja ke Rachel, perkara kita jadi berantem atau gimana urusan belakangan. Yang penting gw udah melakukan yang benar.
Quote:
DUAARRR!!! Tiba tiba Vania nembak begitu, tau darimana dia? Apa Josh yang cerita? Ato jangan jangan.. Ah iya, sisa pertempuran gw semalam dengan Rachel di kasur Vania. Gw lupa buat bersihin itu, dan sekilas gw lihat kasur yang diduduki Vania spreinya sudah diganti. Kayanya tadi Vania beberes kamar dan ngeliat bercak bercak yang gw tinggalkan hasil semalam.
Quote:
Disini gw mulai ga enak bawaannya, digebah gebah terus soal pernikahan bikin gw naik pitam.
Quote:
Gw membentak Vania dan keluar dari kamar. Gw benar benar emosi, gw orangnya paling ga suka kalau di press terus seperti itu. Tembok kamar juga jadi sasaran kepalan tangan gw, gw meninju tembok sekeras mungkin sampai tangan gw sakit.
Kurang lebih satu jam gw mengurung diri di kamar sambil tiduran, emosi gw cukup mereda sekarang. Ada yang mengetuk pintu kamar gw, udah tau gw siapa orangnya
Quote:
Lagi lagi gw seperti dihadapkan dengan cermin. Vania mengatakan persis seperti yang gw rasakan, gw ga mau kehilangan Rachel tapi gw juga mau Vania ada di sisi gw.
fa.achryy dan 9 lainnya memberi reputasi
10