- Beranda
- Stories from the Heart
Cemburu
...
TS
Anna471
Cemburu
Kumpulan Cerpen[B]
. Sumber Pinterest
Dada berdenyut hebat, nyeri sekali. Hati pun terasa pedih bagai disayat pisau ribuan kali. Melihat suami dengan tampang tanpa dosa, pagi-pagi sudah mengelus-elus selingkuhannya.
Ingin kuteriak, “Kenapa bukan aku yang kauelus-elus?” Namun, hanya bisa kuungkapkan dalam hati rasa jengkel ini.
Aku yang sedang menyapu di dalam rumah tidak bisa fokus. Sesekali melirik ke arah Mas Hendra. Kemudian dia melangkah ke arahku.
“Dek, kamu kenapa to, kok pagi-pagi sudah cemberut gitu?” tanya Mas Hendra suamiku.
“Nggak kenapa-kenapa!” ketusku.
Terdengar Mas Hendra mendesah pelan.
“Dasar wanita, ditanya baik-baik jawabannya selalu begitu. Sudah jelas ada apa-apa, masih saja mengelak,” gumamnya terdengar jelas di telingaku.
“Apa kamu bilang, Mas?” tanyaku sambil hendak memukul kepala Mas Hendra dengan sapu.
“Eh, nggak, Dek. Ampun, jangan pukul Mas, ya? Please.” Mas Hendra memohon sambil menangkupkan kedua tangan di depan dadanya.
“Kamu sih! Jadi suami nggak bisa ngerti istri sama sekali, kurang peka!”
Mas Hendra hanya ternganga mendengar ocehanku. Membuat hati ini semakin mangkel.
Aku melengos pergi sambil menghentakkan kaki. Salah sendiri pagi-pagi sudah membuat marah dan kesal. Harusnya, membantu mengerjakan tugas rumah. Bukan malah asyik bermesraan dengan yang lain.
“Dek!” panggil Mas Hendra dari luar ketika aku sudah ada di dapur.
Aku tak mengacuhkannya. Hati ini sudah sangat dongkol. Capai. Setiap pagi harus mengomel.
“Urus saja itu selingkuhanmu! Dia lebih penting dari aku, ‘kan?” gerutuku sebal.
Lalu, tak terdengar teriakan Mas Hendra lagi. Sepertinya, dia memang sudah pergi dengan kesayangannya. Aku menghela napas panjang dan hanya mampu mengusap dada.
“Tuhan … kenapa nasibku harus tragis seperti ini? Suami sudah nggak peduli dan perhatian lagi,” gumamku.
Hati ini benar-benar perih. Mata pun terasa panas dan pandangan mulai buram. Kemudian, menitiklah satu per satu bulir-bulir bening yang rasanya sedikit asin.
Aku cemburu pada si merah, pagi-pagi sudah disayang dan ditimang, seolah dia lebih penting. Bahkan dengan bangga dan tanpa risih menciumnya di depan mataku. Istri mana yang tidak akan marah?
Sedang istrinya hanya dibiarkan melongo menyaksikan kebersamaan mereka. Sungguh keterlaluan.
Laki-laki memang begitu, lebih mementingkan hewan kesayangan daripada istri sendiri. Awas saja nanti, aku tidak akan masak. Biarkan saja kelaparan. Supaya nanti minta makan sama ayam jagonya!
“Ayam jago kesayanganmu itu memang kurang ajar, sudah merebut perhatianmu dariku!” Aku berteriak sendiri seperti orang gila.
Rasa sakit ini melebihi ditinggal menikah lagi.
***
Malam hari dengan perasaan yang sedikit gondok, menyaksikan acara televisi seorang diri. Mas Hendra jangan ditanya lagi, dia sedang asyik bercengkerama dengan si merah di teras depan.
Apa tidak bosan setiap hari hanya berduaan dengan ayam? Huh, kerjanya hanya membuai dan menggendong ayam saja. Istrinya dilupakan. Tubuh gemetar dan menggigil. Mungkin, karena kelaparan tidak ada yang bisa dimakan. Bagaimana bisa makan? Tidak ada yang dimasak. Suami benar-benar telah melalaikan kewajibannya.
Stok sabar yang aku punya sudah benar-benar habis. Tak rela jika suami semakin melupakanku, hanya karena si merah. Aku segera bangkit dari duduk dan melangkah menuju dapur. Setelah sampai, mata berkeliaran mencari sesuatu. Mata langsung berbinar ketika melihat barang berkilau nan cantik. Aku meraih dengan cekatan.
“Awas kamu, ya, tunggu saja apa yang akan kulakukan padamu!” Aku tersenyum miring.
Salah sendiri telah merebut perhatian dan kasih sayang suamiku. Dasar ayam jago tidak tahu perasaan. Suka, kok sama jago juga. Harusnya cari betina! Rutukku dalam hati.
Aku berjalan ke teras dengan langkah yang cepat. Setelah sampai di teras, tanpa basa-basi langsung merebut si merah dari tangan Mas Hendra. Dia terbelalak melihatku menarik selingkuhannya, apalagi melihat belati yang mengkilat di tangan. Matanya merah menyala dan rahang mengeras. Namun, aku tak peduli, tujuanku hanya satu mengiris leher si ayam jago.
Aku tersenyum puas, setelah si merah berada di tanganku. Namun, tiba-tiba terasa ada tetesan cairan dingin jatuh tepat di atas kaki. Baunya sangat busuk.
“Ueek, ueek, dasar ayam nggak tahu sopan santun! Buang kotoran sembarangan!” teriakku.
Mas Hendra terpingkal-pingkal melihatnya. Kemudian merasakan hal yang sama terjadi pada tanganku. Ayam jago Mas Hendra buang tahi lagi. Perut rasanya diaduk-aduk, seluruh yang ada di dalam serasa mau keluar. Aku membanting si merah dengan kasar.
“Ini ayammu! Dasar nggak punya adab!” Aku menghentakkan kaki, lalu masuk ke dalam rumah sambil membanting pintu dengan kencang.
“Suami dan ayam sama-sama menyebalkan semua! Tangan dan kakiku jadi kotor semua, ‘kan?” omelku ketika sudah ada di dalam kamar mandi.
“Dek! Dek! Kamu masih di dalam, ‘kan? Cepetan! Mas mau memandikan si merah!” teriak Mas Hendra dari luar.
Aku bergeming. Ayam saja dimandikan! Kenapa tidak menikah dengannya saja? Dasar!
“Dek! Bisa cepat sedikit nggak?”
“Iya, sebentar! Nggak sabaran sekali jadi suami.”
Aku membuka pintu kamar mandi. Belum keluar sepenuhnya, Mas Hendra sudah menerobos masuk. Kemudian, menutup pintu kamar mandi dengan kencang.
“Aku nggak akan mengganggu kalian! Kenapa harus ditutup?” tanyaku dari luar.
“Supaya si merah nggak malu, Dek,” jawab Mas Hendra.
Kedua alisku bertaut. Malu? Apa ayam punya perasaan? Duh, sepertinya Mas Hendra perlu dibawa ke psikiater. Aku menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Lalu, berjalan menuju kamar, ingin tidur saja rasanya. Berharap besok semua yang terjadi malam ini, hanya sebuah mimpi.
***
Aku mengerjap-ngerjapkan mata, silau. Ternyata hari sudah pagi. Matahari sudah menyembul. Cahayanya menerobos masuk ke dalam melewati celah jendela kamar. Aku menoleh ke samping kanan, Mas Hendra sudah tidak ada. Berarti dia sudah bangun. Atau jangan-jangan … tidur di kandang ayam.
Aku segera beringsut dari atas ranjang. Setengah berlari, bergegas menuju halaman belakang. Ternyata benar, Mas Hendra tidur di pembaringan ayam. Maksudku, di teras belakang yang dekat dengan kandang. Ah, ternyata semalam bukan mimpi. Hati benar-benar ngilu bagai teriris sembilu.
Rasanya lebih menyakitkan dari suami yang direbut pelakor. Bagaimana tidak lebih sakit? Kalau pelakor kita bisa melabraknya, sedang ayam tidak mungkin, ‘kan marah-marah? Bisa-bisa kita disebut orang gila.
Tiba-tiba aku punya ide jitu. Aku kembali ke dalam rumah, mengambil barang yang aku butuhkan.
“Banjir-banjir! Ayo bangun, Mas. Rumah kita tenggelam!” teriakku sambil menyiram tubuh Mas Hendra dengan air satu ember penuh.
Mas Hendra tergagap. Dia meloncat dari atas kursi panjang. Aku tertawa puas. Akhirnya, tercapai juga mengerjai suami sendiri.
Rasakan akibatnya, siapa suruh tidur sama ayam. Istrinya dibiarkan sendiri.
“Aduh, Dek. Kamu apa-apaan, sih!” teriak Mas Hendra.
Aku bergeming. Kemudian melangkah ke kandang si merah dan mengambilnya. Lalu dengan wajah tanpa dosa mulai menyayatkan pisau ke lehernya.
“Tidakkk! Jangan, Dek. Jangan bunuh kesayangan Mas.” Mas Hendra terduduk lemas menyaksikan si merah meregang nyawa di tanganku.
Sedang aku tertawa puas. Dendam sudah terbalas. Sekarang waktunya eksekusi. Makanya, jangan macam-macam sama istri. Memangnya istri akan tinggal diam saja, jika merasa diabaikan.
****
Selesai ….
. Sumber Pinterest Dada berdenyut hebat, nyeri sekali. Hati pun terasa pedih bagai disayat pisau ribuan kali. Melihat suami dengan tampang tanpa dosa, pagi-pagi sudah mengelus-elus selingkuhannya.
Ingin kuteriak, “Kenapa bukan aku yang kauelus-elus?” Namun, hanya bisa kuungkapkan dalam hati rasa jengkel ini.
Aku yang sedang menyapu di dalam rumah tidak bisa fokus. Sesekali melirik ke arah Mas Hendra. Kemudian dia melangkah ke arahku.
“Dek, kamu kenapa to, kok pagi-pagi sudah cemberut gitu?” tanya Mas Hendra suamiku.
“Nggak kenapa-kenapa!” ketusku.
Terdengar Mas Hendra mendesah pelan.
“Dasar wanita, ditanya baik-baik jawabannya selalu begitu. Sudah jelas ada apa-apa, masih saja mengelak,” gumamnya terdengar jelas di telingaku.
“Apa kamu bilang, Mas?” tanyaku sambil hendak memukul kepala Mas Hendra dengan sapu.
“Eh, nggak, Dek. Ampun, jangan pukul Mas, ya? Please.” Mas Hendra memohon sambil menangkupkan kedua tangan di depan dadanya.
“Kamu sih! Jadi suami nggak bisa ngerti istri sama sekali, kurang peka!”
Mas Hendra hanya ternganga mendengar ocehanku. Membuat hati ini semakin mangkel.
Aku melengos pergi sambil menghentakkan kaki. Salah sendiri pagi-pagi sudah membuat marah dan kesal. Harusnya, membantu mengerjakan tugas rumah. Bukan malah asyik bermesraan dengan yang lain.
“Dek!” panggil Mas Hendra dari luar ketika aku sudah ada di dapur.
Aku tak mengacuhkannya. Hati ini sudah sangat dongkol. Capai. Setiap pagi harus mengomel.
“Urus saja itu selingkuhanmu! Dia lebih penting dari aku, ‘kan?” gerutuku sebal.
Lalu, tak terdengar teriakan Mas Hendra lagi. Sepertinya, dia memang sudah pergi dengan kesayangannya. Aku menghela napas panjang dan hanya mampu mengusap dada.
“Tuhan … kenapa nasibku harus tragis seperti ini? Suami sudah nggak peduli dan perhatian lagi,” gumamku.
Hati ini benar-benar perih. Mata pun terasa panas dan pandangan mulai buram. Kemudian, menitiklah satu per satu bulir-bulir bening yang rasanya sedikit asin.
Aku cemburu pada si merah, pagi-pagi sudah disayang dan ditimang, seolah dia lebih penting. Bahkan dengan bangga dan tanpa risih menciumnya di depan mataku. Istri mana yang tidak akan marah?
Sedang istrinya hanya dibiarkan melongo menyaksikan kebersamaan mereka. Sungguh keterlaluan.
Laki-laki memang begitu, lebih mementingkan hewan kesayangan daripada istri sendiri. Awas saja nanti, aku tidak akan masak. Biarkan saja kelaparan. Supaya nanti minta makan sama ayam jagonya!
“Ayam jago kesayanganmu itu memang kurang ajar, sudah merebut perhatianmu dariku!” Aku berteriak sendiri seperti orang gila.
Rasa sakit ini melebihi ditinggal menikah lagi.
***
Malam hari dengan perasaan yang sedikit gondok, menyaksikan acara televisi seorang diri. Mas Hendra jangan ditanya lagi, dia sedang asyik bercengkerama dengan si merah di teras depan.
Apa tidak bosan setiap hari hanya berduaan dengan ayam? Huh, kerjanya hanya membuai dan menggendong ayam saja. Istrinya dilupakan. Tubuh gemetar dan menggigil. Mungkin, karena kelaparan tidak ada yang bisa dimakan. Bagaimana bisa makan? Tidak ada yang dimasak. Suami benar-benar telah melalaikan kewajibannya.
Stok sabar yang aku punya sudah benar-benar habis. Tak rela jika suami semakin melupakanku, hanya karena si merah. Aku segera bangkit dari duduk dan melangkah menuju dapur. Setelah sampai, mata berkeliaran mencari sesuatu. Mata langsung berbinar ketika melihat barang berkilau nan cantik. Aku meraih dengan cekatan.
“Awas kamu, ya, tunggu saja apa yang akan kulakukan padamu!” Aku tersenyum miring.
Salah sendiri telah merebut perhatian dan kasih sayang suamiku. Dasar ayam jago tidak tahu perasaan. Suka, kok sama jago juga. Harusnya cari betina! Rutukku dalam hati.
Aku berjalan ke teras dengan langkah yang cepat. Setelah sampai di teras, tanpa basa-basi langsung merebut si merah dari tangan Mas Hendra. Dia terbelalak melihatku menarik selingkuhannya, apalagi melihat belati yang mengkilat di tangan. Matanya merah menyala dan rahang mengeras. Namun, aku tak peduli, tujuanku hanya satu mengiris leher si ayam jago.
Aku tersenyum puas, setelah si merah berada di tanganku. Namun, tiba-tiba terasa ada tetesan cairan dingin jatuh tepat di atas kaki. Baunya sangat busuk.
“Ueek, ueek, dasar ayam nggak tahu sopan santun! Buang kotoran sembarangan!” teriakku.
Mas Hendra terpingkal-pingkal melihatnya. Kemudian merasakan hal yang sama terjadi pada tanganku. Ayam jago Mas Hendra buang tahi lagi. Perut rasanya diaduk-aduk, seluruh yang ada di dalam serasa mau keluar. Aku membanting si merah dengan kasar.
“Ini ayammu! Dasar nggak punya adab!” Aku menghentakkan kaki, lalu masuk ke dalam rumah sambil membanting pintu dengan kencang.
“Suami dan ayam sama-sama menyebalkan semua! Tangan dan kakiku jadi kotor semua, ‘kan?” omelku ketika sudah ada di dalam kamar mandi.
“Dek! Dek! Kamu masih di dalam, ‘kan? Cepetan! Mas mau memandikan si merah!” teriak Mas Hendra dari luar.
Aku bergeming. Ayam saja dimandikan! Kenapa tidak menikah dengannya saja? Dasar!
“Dek! Bisa cepat sedikit nggak?”
“Iya, sebentar! Nggak sabaran sekali jadi suami.”
Aku membuka pintu kamar mandi. Belum keluar sepenuhnya, Mas Hendra sudah menerobos masuk. Kemudian, menutup pintu kamar mandi dengan kencang.
“Aku nggak akan mengganggu kalian! Kenapa harus ditutup?” tanyaku dari luar.
“Supaya si merah nggak malu, Dek,” jawab Mas Hendra.
Kedua alisku bertaut. Malu? Apa ayam punya perasaan? Duh, sepertinya Mas Hendra perlu dibawa ke psikiater. Aku menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Lalu, berjalan menuju kamar, ingin tidur saja rasanya. Berharap besok semua yang terjadi malam ini, hanya sebuah mimpi.
***
Aku mengerjap-ngerjapkan mata, silau. Ternyata hari sudah pagi. Matahari sudah menyembul. Cahayanya menerobos masuk ke dalam melewati celah jendela kamar. Aku menoleh ke samping kanan, Mas Hendra sudah tidak ada. Berarti dia sudah bangun. Atau jangan-jangan … tidur di kandang ayam.
Aku segera beringsut dari atas ranjang. Setengah berlari, bergegas menuju halaman belakang. Ternyata benar, Mas Hendra tidur di pembaringan ayam. Maksudku, di teras belakang yang dekat dengan kandang. Ah, ternyata semalam bukan mimpi. Hati benar-benar ngilu bagai teriris sembilu.
Rasanya lebih menyakitkan dari suami yang direbut pelakor. Bagaimana tidak lebih sakit? Kalau pelakor kita bisa melabraknya, sedang ayam tidak mungkin, ‘kan marah-marah? Bisa-bisa kita disebut orang gila.
Tiba-tiba aku punya ide jitu. Aku kembali ke dalam rumah, mengambil barang yang aku butuhkan.
“Banjir-banjir! Ayo bangun, Mas. Rumah kita tenggelam!” teriakku sambil menyiram tubuh Mas Hendra dengan air satu ember penuh.
Mas Hendra tergagap. Dia meloncat dari atas kursi panjang. Aku tertawa puas. Akhirnya, tercapai juga mengerjai suami sendiri.
Rasakan akibatnya, siapa suruh tidur sama ayam. Istrinya dibiarkan sendiri.
“Aduh, Dek. Kamu apa-apaan, sih!” teriak Mas Hendra.
Aku bergeming. Kemudian melangkah ke kandang si merah dan mengambilnya. Lalu dengan wajah tanpa dosa mulai menyayatkan pisau ke lehernya.
“Tidakkk! Jangan, Dek. Jangan bunuh kesayangan Mas.” Mas Hendra terduduk lemas menyaksikan si merah meregang nyawa di tanganku.
Sedang aku tertawa puas. Dendam sudah terbalas. Sekarang waktunya eksekusi. Makanya, jangan macam-macam sama istri. Memangnya istri akan tinggal diam saja, jika merasa diabaikan.
****
Selesai ….
Diubah oleh Anna471 25-08-2019 08:02
zafranramon dan 10 lainnya memberi reputasi
9
3.3K
125
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Anna471
#41
Rasa yang Salah
Anna Noerhasanah

[B]
Langkahku terhenti saat melihat dua orang yang sangat aku kenal, duduk berdua di bangku taman. Membuat bongkahan daging dalam dada berdenyut nyeri, napas kembang kempis tak keruan. Kobaran api dalam jiwa meletup-letup, kala melihat Sakti bersama Elok. Mereka saling melempar tawa dan mengobrol dengan bebas, seolah tak ada orang lain di sekeliling. Sesak … itulah yang kurasa.
Telapak tangan kukepal dengan kuat dan gigi gemerutuk. Hatiku terasa begitu perih. Aku benci Elok dan Sakti!
“Elok!“ teriakku.
Lalu, keduanya menoleh. Wajah Elok langsung memucat, begitu pun dengan pria di sampingnya, Sakti. Mereka berdua sahabatku sejak kecil.
“Ganes ...,“ lirih Elok, kemudian menoleh ke arah Sakti.
“Aku nggak nyangka kamu tega ke aku, Lok.” Dengan kasar aku mengusap pipi yang sudah basah dengan air mata. Kemudian, berbalik arah dan melangkah meninggalkan taman, berlari menjauh dengan linangan air mata yang tak mau berhenti. Jiwaku akan semakin sakit, jika masih di sana.
Elok ... kenapa dia tega berkhianat padaku? Wanita itu tahu kalau aku memendam rasa pada Sakti. Saat kutanya bagaimana harusnya aku dengan rasa cinta ini, dia bilang cukup dipendam saja. Sebab, kami sahabat. Persahabatan kami tak boleh rusak hanya karena rasa yang salah. Namun, nyatanya dia menikamku dari belakang. Kemesraan mereka berdua membuatku begitu muak! Tuhan ... kenapa rasanya begitu sakit?
Bodohnya aku! Kenapa harus menuruti apa kata Elok? Kami bertiga menjalin persahabatan sejak kecil hingga sekarang sama-sama sudah bekerja. Harusnya memang tak ada cinta di antara kami. Tapi, siapa yang bisa mengelak, jika hadirnya dari Tuhan? Argh! Aku menjambak rambutku dengan kasar.
💔
Sejak melihat kemesraan Elok dan Sakti sore itu, aku mulai menjaga jarak dengan mereka. Tak mau semakin merasa sakit dan tersiksa ketika melihat mereka begitu mesra. Sepulang kerja biasanya kami bertiga selalu menghabiskan waktu bersama, tapi sekarang aku memilih langsung pulang.
Tiap kali Elok bertanya kenapa, aku selalu menjawab kasihan Ibu di rumah sendiri. Elok tak banyak bertanya lagi. Sedangkan Sakti menatapku dengan pandangan yang sulit kuartikan. Sikap Sakti pun sedikit berubah akhir-akhir ini. Dia juga sedikit menjaga jarak. Aku mengembuskan napas berat. Mungkinkah Sakti benci padaku?
Makin hari hubungan kami bertiga kian renggang. Meski Elok masih saja bersikap seperti biasa, menyapa, dan tersenyum ketika berpapasan. Bahkan, masih sering mengirimiku pesan WhatsApp. Akan tetapi, aku selalu menanggapi dengan tak acuh, menjawab pesannya dengan singkat, seperlunya saja. Di hatiku telanjur tumbuh rasa benci.
Beberapa hari ini, Sakti terlihat berbeda. Wajahnya sedikit pucat, ingin bertanya, tapi urung. Rasa benci melebihi segalanya. Sampai akhirnya, Sakti tak tampak batang hidungnya. Pria itu berhari-hari tak masuk kerja. Akun sosmednya pun tak aktif. Hatiku bertanya-tanya, ada apa dengan pria berlesung pipi itu? Ingin mengiriminya pesan WhatsApp, ragu. Bertanya pada Elok, gengsi. Akhirnya, hanya kusimpan dalam hati.
Tiga bulan sudah Sakti tak masuk kerja. Jiwaku makin resah, mungkinkah pria beralis tebal itu resign?
“Ganes!” Terdengar seorang wanita memanggil ketika aku sudah berada di halaman kantor.
Aku menghentikan langkah dan menoleh, Elok menatapku dengan pandangan sedih. Kemudian, dia mendekat.
“Uummm ... Nes, ada yang ingin kukatakan padamu.” Elok membingkaiku dengan tatapan tajam.
“Ya? Ngomong aja Lok. Kayak sama siapa aja.” Aku mencoba mencairkan suasana yang sedikit kaku. Ya, kami sudah sangat lama tak pernah berbicara, bercanda, dan jalan bersama. Hubungan kami begitu jauh, seolah hanya sebagai rekan kerja. Padahal dulu begitu dekat.
“Ikut aku.” Elok langsung menarik tanganku dengan kasar. Tanpa bisa menolak aku pun mengikuti langkah Elok.
Lalu, kami segera naik ke mobil Elok. Mobil pun meluncur meninggalkan halaman kantor, kemudian membelah jalanan yang dipenuhi lalu lalang kendaraan. Selama perjalanan kami hanya diam. Aku memperhatikan wajah Elok yang tampak panik. Ingin bertanya, tapi suara tercekat di tenggorokan.
Mataku seketika membelalak ketika sudah sampai di tempat tujuan. Hei, mau apa ke sini? Aku menoleh pada Elok. Wanita berwajah bulat itu hanya mengisyaratkan agar aku turun dan mengikuti langkahnya.
Hatiku berdebar tak keruan. Ada apa ini? Lalu, dia berhenti tepat di depan sebuah gang yang sepi dan sempit. Aku semakin bingung dibuatnya.
“Elok, kamu mau ngomongin apa? Kenapa sampai ngajak aku ke tempat asing gini?” Aku menatapnya heran.
“Sakti pengen ketemu kamu.” Jawaban Elok seketika membuatku menyipitkan mata. Kenapa harus di tempat asing seperti ini kalau mau bertemu denganku? Sakti memang pria aneh! Namun, aku tetap mengikuti langkah Elok.
“Sakti, aku udah nepati janjiku waktu itu untuk ngajak Ganes ke sini,” ucap Elok ketika berhenti di salah satu gundukan tanah.
Mataku seketika memanas. Kemudian, aku membaca nisan yang tertancap di gundukan tanah itu. Ada nama Sakti di situ. Seketika ada yang berdenyut nyeri di dalam sini. Tanpa diminta tubuhku langsung luruh, bertelut di depan makam.
“Elok ... apa maksud semua ini?” tanyaku dengan suara bergetar.
Lalu, meluncurlah cerita yang sebenarnya dari mulut Elok. Sebenarnya sore itu ketika Elok dan Sakti di taman, mereka membicarakan tentang penyakit Sakti dan perasaan yang dipendam pria beralis tebal itu selama bertahun-tahun. Ya, pria berkulit kuning langsat itu ternyata juga mencintaiku. Namun, dia tak mau mengungkapkan, sebab sahabatku itu menderita kanker otak stadium empat. Ketika melihatku berlari waktu itu, Elok sudah hendak mengejarku dan memberi tahu semuanya. Namun, dicegah dan dilarang oleh Sakti.
Sakti tak mau aku sedih ketika harus kehilangan dia. Karena itulah menyembunyikan semuanya dariku. Bahkan, saat dia melakukan kemoterapi dan sinar di sana-sini. Kondisinya sempat membaik, tetapi hanya sebentar. Setelah itu, sebulan sebelum dia mengembuskan napas terakhir, dokter bilang kanker sudah menyebar ke sekujur tubuh. Merusak sel syaraf di otak sampai membuat Sakti koma selama dua minggu lebih.
“Kenapa kamu nggak bilang dari dulu, Elok?”
“Sakti melarangnya Ganes. Dia nggak mau kamu hancur saat melihatnya terbaring lemah tak berdaya dengan berbagai alat menempel di tubuhnya. Aku udah berusaha membujuk dia, agar kamu diberi tahu. Tapi ... dia tetap kekeuh dengan pendiriannya.“ Suara Elok terdengar bergetar.
Hatiku benar-benar hancur sekarang. Ternyata ada rahasia besar yang disembunyikan para sahabatku.
“Jadi dia nggak masuk kerja selama dua bulan itu karena sakit dan sedang menjalani kemoterapi?”
“Iya, dia dirawat selama hampir dua bulan. Lalu, sebulan lalu dia mengembuskan napas terakhir. Saat Sakti sadar dari komanya, sehari sebelum dia meninggal, dia titip ini padamu, Nes.” Elok menyerahkan sebuah liontin berbentuk hati, aku menerimanya dengan tangan bergetar.
Ketika aku membukanya tampak foto kami berdua saat masih mengenakan seragam putih abu-abu. Seketika senyum manis Sakti berkelebat di depan mata.
“Sakti ... kenapa kamu menyembunyikan ini dariku? Aku sahabatmu, ‘kan? Aku mencintaimu ... Sakti.“ Aku mendekap liontin kenangan dari Sakti. Lalu, mengusap nisan bertuliskan nama Sakti, seolah sedang membelai pipinya.
Separuh hatiku telah dibawa pergi oleh sahabat sekaligus pria tersayang. Elok mengusap bahuku dengan lembut sembari membisikkan kata-kata motivasi. Kata Elok, aku harus kuat dan ikhlas. Masa depanku masih panjang, kasihan Sakti jika aku terus berlarut dalam kesedihan.
Napas kuembuskan dengan kasar. Ya, aku harus menerima takdir ini dengan lapang dada. Kuyakin Sakti bahagia di alam sana.
💔
~Selesai~
Malang, 06 Juli 2020

[B]
Langkahku terhenti saat melihat dua orang yang sangat aku kenal, duduk berdua di bangku taman. Membuat bongkahan daging dalam dada berdenyut nyeri, napas kembang kempis tak keruan. Kobaran api dalam jiwa meletup-letup, kala melihat Sakti bersama Elok. Mereka saling melempar tawa dan mengobrol dengan bebas, seolah tak ada orang lain di sekeliling. Sesak … itulah yang kurasa.
Telapak tangan kukepal dengan kuat dan gigi gemerutuk. Hatiku terasa begitu perih. Aku benci Elok dan Sakti!
“Elok!“ teriakku.
Lalu, keduanya menoleh. Wajah Elok langsung memucat, begitu pun dengan pria di sampingnya, Sakti. Mereka berdua sahabatku sejak kecil.
“Ganes ...,“ lirih Elok, kemudian menoleh ke arah Sakti.
“Aku nggak nyangka kamu tega ke aku, Lok.” Dengan kasar aku mengusap pipi yang sudah basah dengan air mata. Kemudian, berbalik arah dan melangkah meninggalkan taman, berlari menjauh dengan linangan air mata yang tak mau berhenti. Jiwaku akan semakin sakit, jika masih di sana.
Elok ... kenapa dia tega berkhianat padaku? Wanita itu tahu kalau aku memendam rasa pada Sakti. Saat kutanya bagaimana harusnya aku dengan rasa cinta ini, dia bilang cukup dipendam saja. Sebab, kami sahabat. Persahabatan kami tak boleh rusak hanya karena rasa yang salah. Namun, nyatanya dia menikamku dari belakang. Kemesraan mereka berdua membuatku begitu muak! Tuhan ... kenapa rasanya begitu sakit?
Bodohnya aku! Kenapa harus menuruti apa kata Elok? Kami bertiga menjalin persahabatan sejak kecil hingga sekarang sama-sama sudah bekerja. Harusnya memang tak ada cinta di antara kami. Tapi, siapa yang bisa mengelak, jika hadirnya dari Tuhan? Argh! Aku menjambak rambutku dengan kasar.
💔
Sejak melihat kemesraan Elok dan Sakti sore itu, aku mulai menjaga jarak dengan mereka. Tak mau semakin merasa sakit dan tersiksa ketika melihat mereka begitu mesra. Sepulang kerja biasanya kami bertiga selalu menghabiskan waktu bersama, tapi sekarang aku memilih langsung pulang.
Tiap kali Elok bertanya kenapa, aku selalu menjawab kasihan Ibu di rumah sendiri. Elok tak banyak bertanya lagi. Sedangkan Sakti menatapku dengan pandangan yang sulit kuartikan. Sikap Sakti pun sedikit berubah akhir-akhir ini. Dia juga sedikit menjaga jarak. Aku mengembuskan napas berat. Mungkinkah Sakti benci padaku?
Makin hari hubungan kami bertiga kian renggang. Meski Elok masih saja bersikap seperti biasa, menyapa, dan tersenyum ketika berpapasan. Bahkan, masih sering mengirimiku pesan WhatsApp. Akan tetapi, aku selalu menanggapi dengan tak acuh, menjawab pesannya dengan singkat, seperlunya saja. Di hatiku telanjur tumbuh rasa benci.
Beberapa hari ini, Sakti terlihat berbeda. Wajahnya sedikit pucat, ingin bertanya, tapi urung. Rasa benci melebihi segalanya. Sampai akhirnya, Sakti tak tampak batang hidungnya. Pria itu berhari-hari tak masuk kerja. Akun sosmednya pun tak aktif. Hatiku bertanya-tanya, ada apa dengan pria berlesung pipi itu? Ingin mengiriminya pesan WhatsApp, ragu. Bertanya pada Elok, gengsi. Akhirnya, hanya kusimpan dalam hati.
Tiga bulan sudah Sakti tak masuk kerja. Jiwaku makin resah, mungkinkah pria beralis tebal itu resign?
“Ganes!” Terdengar seorang wanita memanggil ketika aku sudah berada di halaman kantor.
Aku menghentikan langkah dan menoleh, Elok menatapku dengan pandangan sedih. Kemudian, dia mendekat.
“Uummm ... Nes, ada yang ingin kukatakan padamu.” Elok membingkaiku dengan tatapan tajam.
“Ya? Ngomong aja Lok. Kayak sama siapa aja.” Aku mencoba mencairkan suasana yang sedikit kaku. Ya, kami sudah sangat lama tak pernah berbicara, bercanda, dan jalan bersama. Hubungan kami begitu jauh, seolah hanya sebagai rekan kerja. Padahal dulu begitu dekat.
“Ikut aku.” Elok langsung menarik tanganku dengan kasar. Tanpa bisa menolak aku pun mengikuti langkah Elok.
Lalu, kami segera naik ke mobil Elok. Mobil pun meluncur meninggalkan halaman kantor, kemudian membelah jalanan yang dipenuhi lalu lalang kendaraan. Selama perjalanan kami hanya diam. Aku memperhatikan wajah Elok yang tampak panik. Ingin bertanya, tapi suara tercekat di tenggorokan.
Mataku seketika membelalak ketika sudah sampai di tempat tujuan. Hei, mau apa ke sini? Aku menoleh pada Elok. Wanita berwajah bulat itu hanya mengisyaratkan agar aku turun dan mengikuti langkahnya.
Hatiku berdebar tak keruan. Ada apa ini? Lalu, dia berhenti tepat di depan sebuah gang yang sepi dan sempit. Aku semakin bingung dibuatnya.
“Elok, kamu mau ngomongin apa? Kenapa sampai ngajak aku ke tempat asing gini?” Aku menatapnya heran.
“Sakti pengen ketemu kamu.” Jawaban Elok seketika membuatku menyipitkan mata. Kenapa harus di tempat asing seperti ini kalau mau bertemu denganku? Sakti memang pria aneh! Namun, aku tetap mengikuti langkah Elok.
“Sakti, aku udah nepati janjiku waktu itu untuk ngajak Ganes ke sini,” ucap Elok ketika berhenti di salah satu gundukan tanah.
Mataku seketika memanas. Kemudian, aku membaca nisan yang tertancap di gundukan tanah itu. Ada nama Sakti di situ. Seketika ada yang berdenyut nyeri di dalam sini. Tanpa diminta tubuhku langsung luruh, bertelut di depan makam.
“Elok ... apa maksud semua ini?” tanyaku dengan suara bergetar.
Lalu, meluncurlah cerita yang sebenarnya dari mulut Elok. Sebenarnya sore itu ketika Elok dan Sakti di taman, mereka membicarakan tentang penyakit Sakti dan perasaan yang dipendam pria beralis tebal itu selama bertahun-tahun. Ya, pria berkulit kuning langsat itu ternyata juga mencintaiku. Namun, dia tak mau mengungkapkan, sebab sahabatku itu menderita kanker otak stadium empat. Ketika melihatku berlari waktu itu, Elok sudah hendak mengejarku dan memberi tahu semuanya. Namun, dicegah dan dilarang oleh Sakti.
Sakti tak mau aku sedih ketika harus kehilangan dia. Karena itulah menyembunyikan semuanya dariku. Bahkan, saat dia melakukan kemoterapi dan sinar di sana-sini. Kondisinya sempat membaik, tetapi hanya sebentar. Setelah itu, sebulan sebelum dia mengembuskan napas terakhir, dokter bilang kanker sudah menyebar ke sekujur tubuh. Merusak sel syaraf di otak sampai membuat Sakti koma selama dua minggu lebih.
“Kenapa kamu nggak bilang dari dulu, Elok?”
“Sakti melarangnya Ganes. Dia nggak mau kamu hancur saat melihatnya terbaring lemah tak berdaya dengan berbagai alat menempel di tubuhnya. Aku udah berusaha membujuk dia, agar kamu diberi tahu. Tapi ... dia tetap kekeuh dengan pendiriannya.“ Suara Elok terdengar bergetar.
Hatiku benar-benar hancur sekarang. Ternyata ada rahasia besar yang disembunyikan para sahabatku.
“Jadi dia nggak masuk kerja selama dua bulan itu karena sakit dan sedang menjalani kemoterapi?”
“Iya, dia dirawat selama hampir dua bulan. Lalu, sebulan lalu dia mengembuskan napas terakhir. Saat Sakti sadar dari komanya, sehari sebelum dia meninggal, dia titip ini padamu, Nes.” Elok menyerahkan sebuah liontin berbentuk hati, aku menerimanya dengan tangan bergetar.
Ketika aku membukanya tampak foto kami berdua saat masih mengenakan seragam putih abu-abu. Seketika senyum manis Sakti berkelebat di depan mata.
“Sakti ... kenapa kamu menyembunyikan ini dariku? Aku sahabatmu, ‘kan? Aku mencintaimu ... Sakti.“ Aku mendekap liontin kenangan dari Sakti. Lalu, mengusap nisan bertuliskan nama Sakti, seolah sedang membelai pipinya.
Separuh hatiku telah dibawa pergi oleh sahabat sekaligus pria tersayang. Elok mengusap bahuku dengan lembut sembari membisikkan kata-kata motivasi. Kata Elok, aku harus kuat dan ikhlas. Masa depanku masih panjang, kasihan Sakti jika aku terus berlarut dalam kesedihan.
Napas kuembuskan dengan kasar. Ya, aku harus menerima takdir ini dengan lapang dada. Kuyakin Sakti bahagia di alam sana.
💔
~Selesai~
Malang, 06 Juli 2020
[B]Terima kasih dan Belajar Bersama Bisa
Diubah oleh Anna471 18-08-2020 18:13
faridatul.a dan 10 lainnya memberi reputasi
11
Tutup