- Beranda
- Stories from the Heart
KU BUNUH ISTRIKU DEMI PELAKOR
...
TS
tutorialhidup
KU BUNUH ISTRIKU DEMI PELAKOR

Quote:
Diubah oleh tutorialhidup 02-09-2020 06:17
lumut66 dan 18 lainnya memberi reputasi
11
5.5K
85
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
tutorialhidup
#23
"Aku berangkat dulu, ya, Sayang," ucapku pada Safira.
Ia meraih tanganku dan mengecupnya dengan takzim. Aku mendaratkan kecupan di keningnya lalu mengucapkan salam dan masuk ke mobil.
Mobil mulai berjalan Safira melambaikan tangannya padaku hingga wajahnya lenyap di balik pintu gerbang.
***
Hari ini rancananya aku akan meninjau langsung salah satu pabrik milikku. Mobil berhenti tepat di depan pabrik penjualan kayu jati. Usaha yang sudah kubangun bersama dengan Laila, awalnya memang tidak mudah banyak sekali halang rintangan yang kami lalui bersama.
Namun, alhamdulillah semua itu bisa kami lalui.
Kulangkahkan kaki masuk ke dalam pabrik tersebut meninjau para pekerja yang tengah sibuk membuat barang. Selain menjual kayu mentah aku juga memproduksi barang-barang seperti kursi,meja,lemari dan lainnya yang terbuat dari kayu jati dan kayu lain.
Hari ini juga aku akan meninjau laporan penjualan bulanan. Sampai di dalam pabrik beberapa pekerja ramah menyapaku dan hanya kutanggapi dengan senyum.
"Raihan!" teriak seseorang dari arah belakang.
Segera aku berbalik untuk melihatnya, ternyata itu Rizal--orang kepercayaanku--sekaligus teman baik yang aku tugaskan untuk memimpin pabrik jika aku tidak ada.
Ayah satu anak itu lalu menghampiriku dan menyodorkan beberapa lembar kertas yang dikatahui adalah laporan penjualan bulan ini.
"Laporan bulan ini," ucapnya. Aku mengangguk.
"Sudah beberapa hari ini kamu tidak datang meninjau pabrik ini," ucapnya basa-basi.
Aku hanya berdehem menanggapi perkataannya sambil terus menelisik setiap angka yang tertera di dalam laporan.
"Gimana kabar kamu sama Laila?" tanya Rizal lagi. Aku tidak menjawab.
"Gimana kalau minggu ini kita piknik bersama?"
"Gak bisa," jawabku sedikit tak acuh.
"Kenapa?"
Huh, orang ini banyak tanya dari tadi membuatku jadi malas untuk menanggapinya.
"Pokoknya enggak!" ucapku ketus dan berlalu dari sana.
****
Setelah selesai meninjau beberapa pabrik, segera aku pulang karena memang hari sudah malam. Lelah sekali rasanya bekerja seharian ingin cepat-cepat mandi dan mengistirahatkan badan.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam akhirnya aku sampai juga di rumah. Turun dari dalam mobil dan mulai melangkah ke dalam rumah sambil memejamkan mata sejenak.
Krek!
Suara ranting patah, kenapa bisa ada ranting di dalam rumah? Kubuka mata ini perlahan dan alangkah terkejutnya bukannya di rumah aku malah nyasar ke kebun belakang.
Netraku menelisik ke setiap sudut halaman yang penuh dengan bunga, lalu menunduk menatap sebuah ranting kayu kering yang tadi diinjak. Kembali kulemparkan pandangan ke sembarang arah menyusuri setiap sudut rumah yang gelap.
Tak sengaja netra ini menagkap sebuah gundukan tanah yang masih terlihat merah dengan sebatang bunga mawar tertanam di atasnya, Laila.
Kaki ini refleks berjalan menuju tempat yang menjadi makam bagi istri tuaku itu. Tidak, tempat ini tidak layak sama sekali di sebut dengan makam mengingat bagaimana sadisnya cara kami menjatuhkan jasad Laila ke dalam lubang dan menguburnya dengan kasar.
Berjongkok di depan gundukan tanah sambil mengelus bunga berduri itu. Aku menghembuskan napas kasar, ada sebuah rasa yang tak kumengerti di dalam dada jika melihat tempat ini.
Seolah-olah hati tak rela bila wanita cantik itu terkubur di sana dan dengan cara yang jauh dari kata layak pula, tapi cepat kutepis semua rasa yang menurutku mengganggu itu. Masa bodoh dengan Laila, dunia ini tidak akan hancur hanya karena aku menyingkirkannya.
Justru munurutku bagus dengan ketiadaannya bisa membuat kami bahagia, aku bersama Safira hidup bahagia bersama anak-anak kami kelak dan Laila bahagia di alam sana dengan tanpa adanya aku di sisinya karena di dunia ini ia sudah banyak menderita bersamaku.
"Aku akan datang mengunjungimu setiap minggu," ucapku pada gundukan tanah itu.
Kembali kuhembuskan napas kasar dan beranjak pergi dari tempat itu tapi belum sempat kaki melangkah indra pendengaranku menangkap ada suara dari balik tanaman bunga di samping pagar.
"Siapa di sana?" tanyaku sedikit berteriak.
Tak ada respon, mungkin itu tadi hanya kucing saja. Membalikkan tubuh memunggungi gundukan tanah yang di bawahnya tertanam jasad Laila, kulangkahkan kaki menjauh dari sana.
Namun tiba-tiba kembali kudengar suara dari balik bunga rimbun itu. Sesosok bayangan hitam muncul dari balik bunga dan pergi melesat begitu saja tanpa sempat aku kejar.
Astaga! Siapa orang tadi? Apakah dia tahu soal rahasia gundukan tanah itu? Napasku naik-turun memandang kepergian orang tadi yang bagaikan kilat, terasa tubuh ini lemas sebab takut kalau orang itu benar-benar tahu rahasiaku bersama Safira.
Ck, lebih baik sekarang aku masuk dan membersihkan diri soal siapa orang misterius itu biar akan kucari tahu nanti setelah pikiran ini mulai jernih.
Ia meraih tanganku dan mengecupnya dengan takzim. Aku mendaratkan kecupan di keningnya lalu mengucapkan salam dan masuk ke mobil.
Mobil mulai berjalan Safira melambaikan tangannya padaku hingga wajahnya lenyap di balik pintu gerbang.
***
Hari ini rancananya aku akan meninjau langsung salah satu pabrik milikku. Mobil berhenti tepat di depan pabrik penjualan kayu jati. Usaha yang sudah kubangun bersama dengan Laila, awalnya memang tidak mudah banyak sekali halang rintangan yang kami lalui bersama.
Namun, alhamdulillah semua itu bisa kami lalui.
Kulangkahkan kaki masuk ke dalam pabrik tersebut meninjau para pekerja yang tengah sibuk membuat barang. Selain menjual kayu mentah aku juga memproduksi barang-barang seperti kursi,meja,lemari dan lainnya yang terbuat dari kayu jati dan kayu lain.
Hari ini juga aku akan meninjau laporan penjualan bulanan. Sampai di dalam pabrik beberapa pekerja ramah menyapaku dan hanya kutanggapi dengan senyum.
"Raihan!" teriak seseorang dari arah belakang.
Segera aku berbalik untuk melihatnya, ternyata itu Rizal--orang kepercayaanku--sekaligus teman baik yang aku tugaskan untuk memimpin pabrik jika aku tidak ada.
Ayah satu anak itu lalu menghampiriku dan menyodorkan beberapa lembar kertas yang dikatahui adalah laporan penjualan bulan ini.
"Laporan bulan ini," ucapnya. Aku mengangguk.
"Sudah beberapa hari ini kamu tidak datang meninjau pabrik ini," ucapnya basa-basi.
Aku hanya berdehem menanggapi perkataannya sambil terus menelisik setiap angka yang tertera di dalam laporan.
"Gimana kabar kamu sama Laila?" tanya Rizal lagi. Aku tidak menjawab.
"Gimana kalau minggu ini kita piknik bersama?"
"Gak bisa," jawabku sedikit tak acuh.
"Kenapa?"
Huh, orang ini banyak tanya dari tadi membuatku jadi malas untuk menanggapinya.
"Pokoknya enggak!" ucapku ketus dan berlalu dari sana.
****
Setelah selesai meninjau beberapa pabrik, segera aku pulang karena memang hari sudah malam. Lelah sekali rasanya bekerja seharian ingin cepat-cepat mandi dan mengistirahatkan badan.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam akhirnya aku sampai juga di rumah. Turun dari dalam mobil dan mulai melangkah ke dalam rumah sambil memejamkan mata sejenak.
Krek!
Suara ranting patah, kenapa bisa ada ranting di dalam rumah? Kubuka mata ini perlahan dan alangkah terkejutnya bukannya di rumah aku malah nyasar ke kebun belakang.
Netraku menelisik ke setiap sudut halaman yang penuh dengan bunga, lalu menunduk menatap sebuah ranting kayu kering yang tadi diinjak. Kembali kulemparkan pandangan ke sembarang arah menyusuri setiap sudut rumah yang gelap.
Tak sengaja netra ini menagkap sebuah gundukan tanah yang masih terlihat merah dengan sebatang bunga mawar tertanam di atasnya, Laila.
Kaki ini refleks berjalan menuju tempat yang menjadi makam bagi istri tuaku itu. Tidak, tempat ini tidak layak sama sekali di sebut dengan makam mengingat bagaimana sadisnya cara kami menjatuhkan jasad Laila ke dalam lubang dan menguburnya dengan kasar.
Berjongkok di depan gundukan tanah sambil mengelus bunga berduri itu. Aku menghembuskan napas kasar, ada sebuah rasa yang tak kumengerti di dalam dada jika melihat tempat ini.
Seolah-olah hati tak rela bila wanita cantik itu terkubur di sana dan dengan cara yang jauh dari kata layak pula, tapi cepat kutepis semua rasa yang menurutku mengganggu itu. Masa bodoh dengan Laila, dunia ini tidak akan hancur hanya karena aku menyingkirkannya.
Justru munurutku bagus dengan ketiadaannya bisa membuat kami bahagia, aku bersama Safira hidup bahagia bersama anak-anak kami kelak dan Laila bahagia di alam sana dengan tanpa adanya aku di sisinya karena di dunia ini ia sudah banyak menderita bersamaku.
"Aku akan datang mengunjungimu setiap minggu," ucapku pada gundukan tanah itu.
Kembali kuhembuskan napas kasar dan beranjak pergi dari tempat itu tapi belum sempat kaki melangkah indra pendengaranku menangkap ada suara dari balik tanaman bunga di samping pagar.
"Siapa di sana?" tanyaku sedikit berteriak.
Tak ada respon, mungkin itu tadi hanya kucing saja. Membalikkan tubuh memunggungi gundukan tanah yang di bawahnya tertanam jasad Laila, kulangkahkan kaki menjauh dari sana.
Namun tiba-tiba kembali kudengar suara dari balik bunga rimbun itu. Sesosok bayangan hitam muncul dari balik bunga dan pergi melesat begitu saja tanpa sempat aku kejar.
Astaga! Siapa orang tadi? Apakah dia tahu soal rahasia gundukan tanah itu? Napasku naik-turun memandang kepergian orang tadi yang bagaikan kilat, terasa tubuh ini lemas sebab takut kalau orang itu benar-benar tahu rahasiaku bersama Safira.
Ck, lebih baik sekarang aku masuk dan membersihkan diri soal siapa orang misterius itu biar akan kucari tahu nanti setelah pikiran ini mulai jernih.
lumut66 dan 2 lainnya memberi reputasi
3