- Beranda
- Stories from the Heart
KU BUNUH ISTRIKU DEMI PELAKOR
...
TS
tutorialhidup
KU BUNUH ISTRIKU DEMI PELAKOR

Quote:
Diubah oleh tutorialhidup 02-09-2020 06:17
lumut66 dan 18 lainnya memberi reputasi
11
5.5K
85
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
tutorialhidup
#19
Minggu pagi, suara lalu-lalang kendaraan terdengar hingga ke rumah ini. Beberapa tetangga terlihat sedang joging melintas dari depan rumah. Salah satu diantara mereka menyapa serta mengajak untuk ikut tapi kutolak dengan berbagai alasan.
Letak rumahku agak jauh dari rumah-rumah lainnya di kompleks ini sehingga aku jarang berkomunikasi dengan para tetangga.
Duduk termenung di teras rumah sambil menyeruput segelas teh hangat, pikiran ini masih berkecamuk soal peristiwa semalam. Menghembuskan napas dengan kasar sambil menjambak rambut.
Laila, apa yang telah aku lakukan padamu pasti sangat menyakitimu. Apakah jalan yang kuambil ini salah? Menyakiti wanita yang sudah bertahun lamanya berjuang bersamku demi mendapatkan keturunan dari wanita lain.
Huft ... hati ini mulai bimbang, sebuah bisikan kecil di dalam sana berkata kalau jalan yang aku tempuh ini salah tapi pikiranku mengatakan 'kau layak bahagia tak apa menyakiti satu wanita demi mendapatkan kebahagiaan yang selama ini dicita' oh Tuhan, pikiranku benar-benar kalut sekarang antara bahagia,menyesal, atau ... argh aku tidak bisa menentukan rasa di dada.
"Mas," panggil seseorang.
Menoleh ke belakang, seorang wanita cantik berdiri di sana dengan senyum manja.
"Jalan-jalan, yuk!" Antusias Safira.
"Jalan-jalan?" ulangku.
Safira menghampiriku, menarik tangan ini seperti anak kecil dan menggoyang-goyangkannya dengan manja.
"Iya, Mas kan gak pernah bawa aku jalan-jalan setiap minggunya kayak Laila," ucapnya cemberut.
Hmm, benar juga dengan apa yang dikatakan oleh Safira selama satu bulan aku menilakahinya tidak pernah sekali pun kuajak dia jalan-jalan. Lain halnya dengan Laila setiap minggu pasti kami akan pergi ke suatu tempat menghabiskan waktu berdua.
"Baiklah, kita pergi. Sana kamu siap-siap dulu," suruhku.
"Asyik, oke tunggu, ya, Mas, aku dandan yang cantik dulu," ucapnya seraya berlalu masuk ke rumah.
Aku menggelengkan kepala dengan sikap manja yang Safira tunjukan. Entah kenapa tapi aku sedikit risih jika Safira bermanja padaku. Namun, saat Laila masih hidup dan bermanja aku malah sangat suka melihatnya. Aneh, ada apa sebenarnya denganku?
Apakah ini terjadi karena aku tidak mencintai Safira? Ah, pertanyaan konyol tentu saja ku mencintainya bahkan sangat mencintainya sehingga aku rela kehilangan istri tuaku demi dia.
Satu jam lamanya aku menunggu Safira berdandan. Dia keluar dengan memakai baju kaos ketat serta rok hitam di atas lutut. Aku sedikit risi melihat penampilan istri mudaku itu yang terkesan kurang sopan.
"Ganti baju kamu," ucapku.
"Lah, kenapa harus diganti?"
"Pakaianmu itu tidak sopan, Fira. Ayo ganti sana."
"Aku harus pakai apa, Mas? Daster gitu kayak istri tuamu?" sanggahnya.
"Fira kau ini... ah, sudahlah terserah!" Aku benar-benar kesal dengan Safira yang tidak mau menuruti perkataanku.
Dia sangat berbeda dari Laila, Safira selalu saja berpakaian kurang bahan yang membuat mata lelaki manapun akan tergoda melihat tubuh langsingnya. Berbeda dengan Laila ia mempunyai bentuk tubuh yang indah tapi tidak pernah memamerkannya pada siapapun kecuali diriku.
Laila selalu memakai hijabnya dengan gamis panjang sampai mata kaki jika ingin keluar rumah.
***
Kami sampai di taman kota pukul 10:12 wib saat matahari mulai meninggi. Duduk-duduk sebentar di bangku taman tepat di bawah pohon pohon.
Setelah itu bersua poto bersama di berbagai tempat. Istri mudaku menarik-narik tangan ini dari tadi ke spot tang menurutnya bagus untuk berpoto.
Beberapa pasang mata lelaki hidung belang dari tadi memperhatikan paha Safira yang terbuka serta bentuk tubuhnya yang indah dan itu semua membuatku emosi. Aku paling tidak suka jika wanitaku di pandang-pandang oleh lelaki lain.
Hampir saja terjadi perkelahian antara aku dan salah satu pengunjung taman karena mata lelaki sialan itu sedari tadi tak lepas dari memerhatikan bentuk tubuh Safira yang indah. Beruntung istri mudaku itu cepat-cepat menarikku pergi dari sana agar perkelahian tidak langsung terjadi.
Setelah Safira lelah dengan aksi poto-potonya kami kemudian duduk di salah salah satu bangku taman. Matahari mulai meninggi, silau cahayanya kini mulai terasa membakar kulit.
Safira merengek dari tadi merasa kepanasan dan minta di belikan es krim. Ya ampun, Fira. Kalau kamu memang ingin dibelikan es krim dari tadi ya tinggal bilang aja kali gak perlu merengek bak anak kecil minta mainan.
"Iya, mas beliin bentar," ucapku seraya bangkit dari kursi.
Mengambil beberapa langkah ke depan lalu mulai menelisik ke setiap sudut taman. Setelah netra ini menemukan seorang penjual es krim segera kulangkahkan kaki menuju ke sana.
"Pak, es krimnya dua, ya," ucapku.
Pedangang itu memberikan dua buah es krim rasa coklat pesananku tadi. Menyerahkan selembar uang dan mulai melangkah kembali ke tempat Safira berada.
Baru beberapa meter pergi dari pedangang es itu tiba-tiba saja dari arah samping seorang perempuan muda menabarak dan membuat es yang betada di tanganku jatuh ke tanah.
"Maaf," ucapnya menagkupkan tangan di dada setelah membersihkan sisa es krim yang mengotori bajunya.
Perempuan itu lalu pergi begitu saja tanpa merasa bersalah dan mengganti es yang sudah tidak bisa dimakan lagi. Aku menggelengkan kepala menatap kepergiannya.
Pakaiannya sungguh aneh dan mencurigakan. Dia memakai jaket kulit,topi,celana jeans juga masker dan semuanya berwarna hitam. Jika diperhatikan perempuan itu lebih mirip pencuri atau buronan yang sedang menyamar.
Benar-benar misterius pikirku. Ah, sudahlah, kenapa aku harus peduli dengannya toh kami tidak punya hubungana apa-apa.
Aku mendengkus kesal memandangi es tadi yang audah mencair terpaksa kubeli lagi. Berjalan menghampiri Safira yang terlihat tengah asyik mengobrol dengan seseorang melalui telepon.
Sesekali istri mudaku itu tertawa sambil memerhatikan sekitarnya seperti tengah mengawasi. Dia kelihatan sangat bahagia berbicara dengan seseorang di seberang sana dapat dilihat dari ekspresi wajahnya.
"Bahagia banget kayaknya, lagi bicara sama siapa sih?" tanyaku.
"Eh, M-Mas Raihan? Kok tiba-tiba ada di sini?" ucapnya gelagapan sambil menutup telpon.
Keningku mengernyit, apa dia kaget melihat kedatanganku tadi?
"Kenapa kok mukamu kayak lagi nyembunyiin sesuatu?" tanyaku.
"Haha, enggak papa kok, Mas. Aku cuma kaget aja tadi," ujar Safira sambil nyengir kuda.
"Tadi ngomong sama siapa?"
"Oh, yang tadi sama sahabat lamaku."
"Oh, ini es tadi," ucapku seraya menyodorkan sebuah es krim padanya.
Safira menyambutnya dengan antusias dan langsung mulai menikmati esnya. Huh, suasana seperti ini jadi mengingatkanku kembali pada Laila. Biasanya hari minggu seperti ini kami pasti akan makan ea krim di pantai bersama sambil menikmati angin pantai yang sejuk menerpa wajah.
Ini baru dua hari tapi aku sepertinya sudah sangat merindukannya. Ck, ada apa sebenarnya denganku?
Letak rumahku agak jauh dari rumah-rumah lainnya di kompleks ini sehingga aku jarang berkomunikasi dengan para tetangga.
Duduk termenung di teras rumah sambil menyeruput segelas teh hangat, pikiran ini masih berkecamuk soal peristiwa semalam. Menghembuskan napas dengan kasar sambil menjambak rambut.
Laila, apa yang telah aku lakukan padamu pasti sangat menyakitimu. Apakah jalan yang kuambil ini salah? Menyakiti wanita yang sudah bertahun lamanya berjuang bersamku demi mendapatkan keturunan dari wanita lain.
Huft ... hati ini mulai bimbang, sebuah bisikan kecil di dalam sana berkata kalau jalan yang aku tempuh ini salah tapi pikiranku mengatakan 'kau layak bahagia tak apa menyakiti satu wanita demi mendapatkan kebahagiaan yang selama ini dicita' oh Tuhan, pikiranku benar-benar kalut sekarang antara bahagia,menyesal, atau ... argh aku tidak bisa menentukan rasa di dada.
"Mas," panggil seseorang.
Menoleh ke belakang, seorang wanita cantik berdiri di sana dengan senyum manja.
"Jalan-jalan, yuk!" Antusias Safira.
"Jalan-jalan?" ulangku.
Safira menghampiriku, menarik tangan ini seperti anak kecil dan menggoyang-goyangkannya dengan manja.
"Iya, Mas kan gak pernah bawa aku jalan-jalan setiap minggunya kayak Laila," ucapnya cemberut.
Hmm, benar juga dengan apa yang dikatakan oleh Safira selama satu bulan aku menilakahinya tidak pernah sekali pun kuajak dia jalan-jalan. Lain halnya dengan Laila setiap minggu pasti kami akan pergi ke suatu tempat menghabiskan waktu berdua.
"Baiklah, kita pergi. Sana kamu siap-siap dulu," suruhku.
"Asyik, oke tunggu, ya, Mas, aku dandan yang cantik dulu," ucapnya seraya berlalu masuk ke rumah.
Aku menggelengkan kepala dengan sikap manja yang Safira tunjukan. Entah kenapa tapi aku sedikit risih jika Safira bermanja padaku. Namun, saat Laila masih hidup dan bermanja aku malah sangat suka melihatnya. Aneh, ada apa sebenarnya denganku?
Apakah ini terjadi karena aku tidak mencintai Safira? Ah, pertanyaan konyol tentu saja ku mencintainya bahkan sangat mencintainya sehingga aku rela kehilangan istri tuaku demi dia.
Satu jam lamanya aku menunggu Safira berdandan. Dia keluar dengan memakai baju kaos ketat serta rok hitam di atas lutut. Aku sedikit risi melihat penampilan istri mudaku itu yang terkesan kurang sopan.
"Ganti baju kamu," ucapku.
"Lah, kenapa harus diganti?"
"Pakaianmu itu tidak sopan, Fira. Ayo ganti sana."
"Aku harus pakai apa, Mas? Daster gitu kayak istri tuamu?" sanggahnya.
"Fira kau ini... ah, sudahlah terserah!" Aku benar-benar kesal dengan Safira yang tidak mau menuruti perkataanku.
Dia sangat berbeda dari Laila, Safira selalu saja berpakaian kurang bahan yang membuat mata lelaki manapun akan tergoda melihat tubuh langsingnya. Berbeda dengan Laila ia mempunyai bentuk tubuh yang indah tapi tidak pernah memamerkannya pada siapapun kecuali diriku.
Laila selalu memakai hijabnya dengan gamis panjang sampai mata kaki jika ingin keluar rumah.
***
Kami sampai di taman kota pukul 10:12 wib saat matahari mulai meninggi. Duduk-duduk sebentar di bangku taman tepat di bawah pohon pohon.
Setelah itu bersua poto bersama di berbagai tempat. Istri mudaku menarik-narik tangan ini dari tadi ke spot tang menurutnya bagus untuk berpoto.
Beberapa pasang mata lelaki hidung belang dari tadi memperhatikan paha Safira yang terbuka serta bentuk tubuhnya yang indah dan itu semua membuatku emosi. Aku paling tidak suka jika wanitaku di pandang-pandang oleh lelaki lain.
Hampir saja terjadi perkelahian antara aku dan salah satu pengunjung taman karena mata lelaki sialan itu sedari tadi tak lepas dari memerhatikan bentuk tubuh Safira yang indah. Beruntung istri mudaku itu cepat-cepat menarikku pergi dari sana agar perkelahian tidak langsung terjadi.
Setelah Safira lelah dengan aksi poto-potonya kami kemudian duduk di salah salah satu bangku taman. Matahari mulai meninggi, silau cahayanya kini mulai terasa membakar kulit.
Safira merengek dari tadi merasa kepanasan dan minta di belikan es krim. Ya ampun, Fira. Kalau kamu memang ingin dibelikan es krim dari tadi ya tinggal bilang aja kali gak perlu merengek bak anak kecil minta mainan.
"Iya, mas beliin bentar," ucapku seraya bangkit dari kursi.
Mengambil beberapa langkah ke depan lalu mulai menelisik ke setiap sudut taman. Setelah netra ini menemukan seorang penjual es krim segera kulangkahkan kaki menuju ke sana.
"Pak, es krimnya dua, ya," ucapku.
Pedangang itu memberikan dua buah es krim rasa coklat pesananku tadi. Menyerahkan selembar uang dan mulai melangkah kembali ke tempat Safira berada.
Baru beberapa meter pergi dari pedangang es itu tiba-tiba saja dari arah samping seorang perempuan muda menabarak dan membuat es yang betada di tanganku jatuh ke tanah.
"Maaf," ucapnya menagkupkan tangan di dada setelah membersihkan sisa es krim yang mengotori bajunya.
Perempuan itu lalu pergi begitu saja tanpa merasa bersalah dan mengganti es yang sudah tidak bisa dimakan lagi. Aku menggelengkan kepala menatap kepergiannya.
Pakaiannya sungguh aneh dan mencurigakan. Dia memakai jaket kulit,topi,celana jeans juga masker dan semuanya berwarna hitam. Jika diperhatikan perempuan itu lebih mirip pencuri atau buronan yang sedang menyamar.
Benar-benar misterius pikirku. Ah, sudahlah, kenapa aku harus peduli dengannya toh kami tidak punya hubungana apa-apa.
Aku mendengkus kesal memandangi es tadi yang audah mencair terpaksa kubeli lagi. Berjalan menghampiri Safira yang terlihat tengah asyik mengobrol dengan seseorang melalui telepon.
Sesekali istri mudaku itu tertawa sambil memerhatikan sekitarnya seperti tengah mengawasi. Dia kelihatan sangat bahagia berbicara dengan seseorang di seberang sana dapat dilihat dari ekspresi wajahnya.
"Bahagia banget kayaknya, lagi bicara sama siapa sih?" tanyaku.
"Eh, M-Mas Raihan? Kok tiba-tiba ada di sini?" ucapnya gelagapan sambil menutup telpon.
Keningku mengernyit, apa dia kaget melihat kedatanganku tadi?
"Kenapa kok mukamu kayak lagi nyembunyiin sesuatu?" tanyaku.
"Haha, enggak papa kok, Mas. Aku cuma kaget aja tadi," ujar Safira sambil nyengir kuda.
"Tadi ngomong sama siapa?"
"Oh, yang tadi sama sahabat lamaku."
"Oh, ini es tadi," ucapku seraya menyodorkan sebuah es krim padanya.
Safira menyambutnya dengan antusias dan langsung mulai menikmati esnya. Huh, suasana seperti ini jadi mengingatkanku kembali pada Laila. Biasanya hari minggu seperti ini kami pasti akan makan ea krim di pantai bersama sambil menikmati angin pantai yang sejuk menerpa wajah.
Ini baru dua hari tapi aku sepertinya sudah sangat merindukannya. Ck, ada apa sebenarnya denganku?
lumut66 dan key.99 memberi reputasi
2
Tutup