- Beranda
- Stories from the Heart
Naga Sasra & Sabuk Inten
...
TS
nandeko
Naga Sasra & Sabuk Inten

NAGA SASRA & SABUK INTEN
Kisah ini merupakan karangan dari S.H Mintardja. Disini TS sudah mendapatkan ijin untuk sekedar membagikan dan mempermudahkan pembaca untuk menikmati kisah ini dalam bentuk digital
INDEX
Quote:
Spoiler for JILID 1:
Spoiler for JILID 2:
Spoiler for JILID 3:
Spoiler for JILID 4:
Spoiler for JILID 5:
Spoiler for JILID 6:
Part 114
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Spoiler for JILID 7:
Spoiler for JILID 8:
Spoiler for JILID 9:
Spoiler for JILID 10:
Pengarang dan Hakcipta©
Singgih Hadi Mintardja
Singgih Hadi Mintardja
Diubah oleh nandeko 21-10-2021 14:24
whadi05 dan 43 lainnya memberi reputasi
42
62.2K
Kutip
1.2K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
nandeko
#227
Jilid 7 [Part 167]
Spoiler for :
TETAPI kemudian, mereka, tetangga-tetangga yang baik itu menjadi tercengang-cengang ketika tiba-tiba saja Mahesa Jenar mohon diri kepada mereka untuk pergi meneruskan perantauannya seperti ketika belum menetap di pedukuhan itu. Para tetangga yang menganggap Mahesa Jenar sebagai seorang petani yang banyak memberikan sesuluh kepada mereka, menjadi agak kecewa. Kata salah seorang dari mereka,
Para tetangga yang ramah itu pun mengangguk-anggukkan kepala. Agaknya Mahesa Jenar sudah tidak dapat di tahan lagi. Karena itu dengan berat hati mereka lepas Mahesa Jenar dan anaknya berjalan.
Setelah itu, mulailah Mahesa Jenar dengan perantauannya kembali. Tetapi kali ini Mahesa Jenar tidak berjalan sendiri.
Mula-mula Mahesa Jenar dan Arya Salaka berjalan ke arah selatan, tetapi kemudian mereka membelok ke barat dan terus ke utara. Untuk sementara mereka berjalan asal saja menjauhi daerah kekuasaan Lembu Sora. Di bawah baju Arya Salaka terseliplah tombak pusaka Banyubiru yang telah dilepas dari tangkainya, yang dibalut rapi dengan kulit kayu.
Di perjalanan pagi itu Mahesa Jenar tidak banyak berkata-kata. Pikirannya diliputi oleh kegelapan yang menyelubungi keris-keris pusaka Demak yang hilang. Sampai saat itu ia sama sekali masih belum tahu kemana dan bagaimana harus mencari kedua keris itu. Apa yang dilakukan adalah seperti meraba-raba di dalam kelam. Tetapi disamping itu masih ada yang harus dilakukan. Membentuk Arya menjadi seorang jantan. Dan mengantarnya kembali ke daerah perdikan Banyubiru.
Sedang Arya Salaka agaknya sama sekali tidak menghiraukan apa-apa. Dalam cerah matahari pagi, ia berjalan agak di depan dengan riangnya. Ia berlari-lari selincah anak kijang, tanpa perasaan takut serta prasangka apa-apa, dalam irama nyanyi burung-burung liar yang berloncat-loncatan di rerumputan yang hijau segar.
Sekali-sekali Arya mengambil batu serta dilemparkan kearah gerombolan burung-burung yang asyik mematuk-matuk biji-biji rumput, yang kemudian karena terkejut beterbangan berputar-putar, tetapi sesaat kemudian burung-burung itu kembali hinggap di rerumputan.
Tiba-tiba Arya Salaka terhenti ketika didengarnya Mahesa Jenar memanggil. Ketika ia menoleh, dilihatnya pamannya sudah agak jauh tertinggal di belakang. Karena itu Arya segera duduk di atas batu untuk menanti Mahesa Jenar.
Arya Salaka mengangguk-anggukkan kepalanya. Agaknya ia sudah mengerti maksud Mahesa Jenar. Tetapi tiba-tiba ia bertanya,
Mendengar pendapat itu Arya Salaka tertawa berderai. Agaknya hal itu merupakan suatu hal yang lucu. Melihat Arya tertawa, Mahesa Jenar pun tertawa.
Arya tampak mengerutkan keningnya, tetapi beberapa lama kemudian ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Katanya,
Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berpikir. Nama apakah yang sepantasnya diberikan buat anak itu. Tiba-tiba terlintaslah suatu nama yang tepat diberikan kepada Arya Salaka.
MENDENGAR uraian Mahesa Jenar, hati Arya Salaka bergetar. Maka dengan bangga ia berkata,
Kemudian setelah itu, mereka saling berdiam diri, hanyut dalam arus angan-angan masing-masing.
Di langit, matahari masih memancar dengan cemerlang memanasi gunung serta lembah-lembah.
Itulah permulaan dari suatu masa yang panjang, yang akan penuh dengan latihan olah kanuragan jaya kasantikan bagi Arya Salaka, yang kemudian bernama Bagus Handaka.
Ternyata ia memang seorang anak yang tangkas dan cerdas. Memiliki kekuatan jasmaniah yang hebat pula. Dalam perantauan mereka dari satu tempat ke lain tempat, mereka sama sekali hidup dalam keprihatinan. Manahan dan Bagus Handaka tidak lebih dari dua orang bapak dan anak yang miskin. Apabila mereka merambah hutan, maka yang dimakan adalah buah-buahan yang dapat mereka jumpai di perjalanan mereka. Sedangkan apabila mereka melalui jalan-jalan kota, mereka berusaha untuk mendapatkan pekerjaan apapun yang dapat mereka lakukan.
Tetapi karena semuanya itu mereka lakukan dengan suatu keyakinan bagi masa datang, maka hal itu sama sekali tidak menimbulkan gangguan apapun dalam diri mereka. Baik jasmaniah maupun tekad yang tersimpan di dalam dada mereka.
Di dalam masa perantauan itu, satu hal yang tak seorangpun mengetahui, adalah, bahwa setiap saat Bagus Handaka selalu menerima latihan-latihan yang berat dan teratur dari gurunya. Setiap pagi, bila matahari belum menampakkan diri, Bagus
Handaka harus sudah melakukan latihan berlari-lari dan kemudian dengan alat apa saja yang mungkin dipergunakan, cabang-cabang pohon, ia harus melakukan latihan tangan dengan bergantung dan berayun. Disamping itu, sedikit demi sedikit Manahan mengajarinya pula gerakan-gerakan pembelaan diri dengan segala unsur-unsurnya.
Bagus Handaka menerima semua pelajaran dari gurunya dengan tekad yang bulat, hati yang mantap. Karena itu semua pelajaran dengan cepatnya dapat dikuasainya dengan baik.
Maka beberapa lama kemudian perjalanan mereka sampai ke pantai utara. Seterusnya mereka menyusur pantai membelok ke arah barat, menerobos hutan-hutan rimba yang kadang-kadang masih sangat lebat. Tetapi semuanya itu tidak menghalangi pertumbuhan Bagus Handaka. Tubuhnya semakin lama menjadi semakin kekar dan kuat, sedang geraknya menjadi semakin sigap.
Quote:
"Adakah kami berbuat kesalahan terhadap Angger?"
"Tidak, Bapak," sahut Mahesa Jenar cepat.
"Sama sekali tidak."
"Atau barangkali Anda marah kepada kami?" sambung yang lain,
"Karena kami tidak dapat melindungi anak Adi?"
"Juga tidak," jawab Mahesa Jenar.
"Tidak ada kesalahan saudara-saudara kepada kami."
"Lalu kenapa Adi mau pergi?" tanya seseorang pula.
Mahesa Jenar agak bingung menjawab pertanyaan itu. Tetapi akhirnya ia berkata,
"Saudara-saudaraku yang baik. Aku ingin berjalan semata-mata karena kegemaranku merantau. Aku ingin menunjukkan beberapa pengalaman kepada anakku ini. Sebab aku bercita-cita bahwa kelak nasib anakku ini harus lebih baik dari nasibku sendiri."
"Tidak, Bapak," sahut Mahesa Jenar cepat.
"Sama sekali tidak."
"Atau barangkali Anda marah kepada kami?" sambung yang lain,
"Karena kami tidak dapat melindungi anak Adi?"
"Juga tidak," jawab Mahesa Jenar.
"Tidak ada kesalahan saudara-saudara kepada kami."
"Lalu kenapa Adi mau pergi?" tanya seseorang pula.
Mahesa Jenar agak bingung menjawab pertanyaan itu. Tetapi akhirnya ia berkata,
"Saudara-saudaraku yang baik. Aku ingin berjalan semata-mata karena kegemaranku merantau. Aku ingin menunjukkan beberapa pengalaman kepada anakku ini. Sebab aku bercita-cita bahwa kelak nasib anakku ini harus lebih baik dari nasibku sendiri."
Para tetangga yang ramah itu pun mengangguk-anggukkan kepala. Agaknya Mahesa Jenar sudah tidak dapat di tahan lagi. Karena itu dengan berat hati mereka lepas Mahesa Jenar dan anaknya berjalan.
Quote:
"Pada suatu saat kami akan datang kembali," kata Mahesa Jenar kepada mereka yang mengantar sampai ke ujung desa.
Setelah itu, mulailah Mahesa Jenar dengan perantauannya kembali. Tetapi kali ini Mahesa Jenar tidak berjalan sendiri.
Mula-mula Mahesa Jenar dan Arya Salaka berjalan ke arah selatan, tetapi kemudian mereka membelok ke barat dan terus ke utara. Untuk sementara mereka berjalan asal saja menjauhi daerah kekuasaan Lembu Sora. Di bawah baju Arya Salaka terseliplah tombak pusaka Banyubiru yang telah dilepas dari tangkainya, yang dibalut rapi dengan kulit kayu.
Di perjalanan pagi itu Mahesa Jenar tidak banyak berkata-kata. Pikirannya diliputi oleh kegelapan yang menyelubungi keris-keris pusaka Demak yang hilang. Sampai saat itu ia sama sekali masih belum tahu kemana dan bagaimana harus mencari kedua keris itu. Apa yang dilakukan adalah seperti meraba-raba di dalam kelam. Tetapi disamping itu masih ada yang harus dilakukan. Membentuk Arya menjadi seorang jantan. Dan mengantarnya kembali ke daerah perdikan Banyubiru.
Sedang Arya Salaka agaknya sama sekali tidak menghiraukan apa-apa. Dalam cerah matahari pagi, ia berjalan agak di depan dengan riangnya. Ia berlari-lari selincah anak kijang, tanpa perasaan takut serta prasangka apa-apa, dalam irama nyanyi burung-burung liar yang berloncat-loncatan di rerumputan yang hijau segar.
Sekali-sekali Arya mengambil batu serta dilemparkan kearah gerombolan burung-burung yang asyik mematuk-matuk biji-biji rumput, yang kemudian karena terkejut beterbangan berputar-putar, tetapi sesaat kemudian burung-burung itu kembali hinggap di rerumputan.
Tiba-tiba Arya Salaka terhenti ketika didengarnya Mahesa Jenar memanggil. Ketika ia menoleh, dilihatnya pamannya sudah agak jauh tertinggal di belakang. Karena itu Arya segera duduk di atas batu untuk menanti Mahesa Jenar.
Quote:
"Arya…" kata Mahesa Jenar setelah mereka berjalan bersama-sama.
"Aku mempunyai pikiran bahwa untuk keselamatanmu kau harus berusaha sejauh-jauhnya agar kau tak dikenal orang. Karena itu Arya, aku berpendapat bahwa sebaiknya nama panggilanmu harus diganti. Sebab, selama kau masih mengenakan namamu yang sekarang, Arya Salaka, maka orang-orang yang akan mencarimu dengan mudahnya akan dapat menemukan kau. Sebab namamu adalah nama yang jarang-jarang dipakai orang. Maka sekarang kau ingin mengubah namamu dengan nama lain?"
Arya memandang wajah Mahesa Jenar dengan herannya.
"Apakah kalau aku berganti nama, orang tak mengenal aku lagi?" katanya.
"Bukan begitu Arya," jawab Mahesa Jenar.
"Tetapi setidak-tidaknya orang tidak mendengar lagi nama Arya Salaka. Bukankah dengan mendengar namamu orang dapat menemukanmu?"
"Aku mempunyai pikiran bahwa untuk keselamatanmu kau harus berusaha sejauh-jauhnya agar kau tak dikenal orang. Karena itu Arya, aku berpendapat bahwa sebaiknya nama panggilanmu harus diganti. Sebab, selama kau masih mengenakan namamu yang sekarang, Arya Salaka, maka orang-orang yang akan mencarimu dengan mudahnya akan dapat menemukan kau. Sebab namamu adalah nama yang jarang-jarang dipakai orang. Maka sekarang kau ingin mengubah namamu dengan nama lain?"
Arya memandang wajah Mahesa Jenar dengan herannya.
"Apakah kalau aku berganti nama, orang tak mengenal aku lagi?" katanya.
"Bukan begitu Arya," jawab Mahesa Jenar.
"Tetapi setidak-tidaknya orang tidak mendengar lagi nama Arya Salaka. Bukankah dengan mendengar namamu orang dapat menemukanmu?"
Arya Salaka mengangguk-anggukkan kepalanya. Agaknya ia sudah mengerti maksud Mahesa Jenar. Tetapi tiba-tiba ia bertanya,
Quote:
"Paman, meskipun namaku sudah diganti, tetapi apabila seseorang berkata tentang seorang anak yang berjalan bersama-sama dengan Mahesa Jenar, bukankah segera orang mengenal aku? Sebab yang selalu berjalan bersama-sama dengan Arya Salaka adalah Mahesa Jenar."
"Kau benar-benar cerdas Arya, jawab Mahesa Jenar sambil tertawa, Aku setuju dengan pendapatmu. Kalau begitu, marilah kita bersama-sama mengganti nama."
"Kau benar-benar cerdas Arya, jawab Mahesa Jenar sambil tertawa, Aku setuju dengan pendapatmu. Kalau begitu, marilah kita bersama-sama mengganti nama."
Mendengar pendapat itu Arya Salaka tertawa berderai. Agaknya hal itu merupakan suatu hal yang lucu. Melihat Arya tertawa, Mahesa Jenar pun tertawa.
Quote:
"Nah, Arya… siapakah nama yang pantas buat mengganti namamu?" tanya Mahesa Jenar kemudian.
Arya tampak mengerutkan keningnya, tetapi beberapa lama kemudian ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Katanya,
Quote:
"Terserahlah kepada paman."
Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berpikir. Nama apakah yang sepantasnya diberikan buat anak itu. Tiba-tiba terlintaslah suatu nama yang tepat diberikan kepada Arya Salaka.
Quote:
"Arya, kau tahu bahwa namaku adalah Mahesa Jenar.
Mahesa adalah sejenis binatang bertanduk. Maksud dari nama itu adalah supaya aku mempunyai kesigapan dan ketangguhan seperti Mahesa. Sedang harapanku, kau harus lebih hebat daripadaku. Karena itu aku akan memberi nama kepadamu dengan nama yang lebih hebat pula. Bukankah nama ayahmu hebat pula? Gajah Sora. Dan ayahmu benar-benar hebat seperti seekor gajah. Nah, dengarlah Arya, aku akan memberimu nama Handaka."
"Handaka…" ulang Arya,
"Apakah Handaka itu?"
"Handaka adalah nama binatang bertanduk pula, jawab Mahesa Jenar. Tetapi jauh lebih hebat dari Mahesa Jenar. Sebab Handaka berarti banteng."
Mahesa adalah sejenis binatang bertanduk. Maksud dari nama itu adalah supaya aku mempunyai kesigapan dan ketangguhan seperti Mahesa. Sedang harapanku, kau harus lebih hebat daripadaku. Karena itu aku akan memberi nama kepadamu dengan nama yang lebih hebat pula. Bukankah nama ayahmu hebat pula? Gajah Sora. Dan ayahmu benar-benar hebat seperti seekor gajah. Nah, dengarlah Arya, aku akan memberimu nama Handaka."
"Handaka…" ulang Arya,
"Apakah Handaka itu?"
"Handaka adalah nama binatang bertanduk pula, jawab Mahesa Jenar. Tetapi jauh lebih hebat dari Mahesa Jenar. Sebab Handaka berarti banteng."
MENDENGAR uraian Mahesa Jenar, hati Arya Salaka bergetar. Maka dengan bangga ia berkata,
Quote:
"Aku pernah mendengar ayah berceritera tentang seekor banteng."
"Apa kata ayahmu?" tanya Mahesa Jenar.
"Banteng adalah binatang yang hebat sekali," jawab Arya.
"Nah, kalau begitu sekarang aku memanggil kau, Handaka," kata Mahesa Jenar meneruskan.
"Tetapi siapakah kelanjutan nama itu?
Handaka Sora, seperti nama ayah," usul Arya.
"Tetapi orang akan masih dapat mengenal kau dalam hubungan nama dengan ayahmu," jawab Mahesa Jenar.
"Juga seandainya kau bernama Handaka Jenar. Orang akan menghubungkan dengan nama Mahesa Jenar."
"Lalu apakah yang baik menurut Paman?" tanya Arya Salaka.
"Begini Arya… aku mempunyai nama yang baik. Dengarlah…. Nama lengkapmu adalah Bagus Handaka. Bagaimana pendapatmu?"
"Mata Arya menjadi berkilat-kilat. Bagus… Paman. Bagus sekali."
"Nah, sejak saat ini aku bernama Bagus Handaka."
Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya,
"Dan sekarang siapakah namaku?"
"Terserahlah kepada Paman," jawab Bagus Handaka.
"Jangan panggil aku Paman. Panggil aku Bapak untuk seterusnya."
"Baiklah Bapak."
"Bagus Handaka, dengarlah. Aku akan memakai nama seorang petani biasa. Sejak saat ini panggilah aku dengan nama Manahan, Bapak Manahan."
"Baiklah Bapak Manahan."
"Bagus. Kita sekarang sudah merupakan orang baru. Meskipun apa yang kita lakukan adalah kelanjutan usaha kita sebelumnya. Kau harus kembali ke Banyubiru kelak. Dengan atau tidak dengan kekerasan."
"Tentu Paman… eh… Bapak. Sebab tanah itu bagiku merupakan Tanah Pusaka sekaligus tanah tercinta."
Manahan dengan menepuk pundak Bagus Handaka berkata pula,
"Bagus Handaka, karena semuanya itu, kau mulai saat ini harus melatih diri dengan tekun dan sungguh-sungguh. Supaya kau kelak tidak akan ketinggalan dengan anak pamanmu Lembu Sora."
"Adi Sawung Sariti?" potong Bagus Handaka.
Manahan mengangguk. Katanya meneruskan,
"Anak itu pun sekarang pasti mengalami penggemblengan. Supaya kelak dapat menjadi anak hebat pula. Karena itu kau jangan sampai kalah."
"Baik Bapak, aku akan mencoba untuk berlatih sekuat-kuat tenagaku, supaya aku tidak mengecewakan Bapak Manahan serta ayah Gajah Sora," jawab Bagus Handaka.
"Bagus Handaka. Masa yang akan datang ini bagimu adalah suatu masa pembajaan diri", desis Manahan
"Apa kata ayahmu?" tanya Mahesa Jenar.
"Banteng adalah binatang yang hebat sekali," jawab Arya.
"Nah, kalau begitu sekarang aku memanggil kau, Handaka," kata Mahesa Jenar meneruskan.
"Tetapi siapakah kelanjutan nama itu?
Handaka Sora, seperti nama ayah," usul Arya.
"Tetapi orang akan masih dapat mengenal kau dalam hubungan nama dengan ayahmu," jawab Mahesa Jenar.
"Juga seandainya kau bernama Handaka Jenar. Orang akan menghubungkan dengan nama Mahesa Jenar."
"Lalu apakah yang baik menurut Paman?" tanya Arya Salaka.
"Begini Arya… aku mempunyai nama yang baik. Dengarlah…. Nama lengkapmu adalah Bagus Handaka. Bagaimana pendapatmu?"
"Mata Arya menjadi berkilat-kilat. Bagus… Paman. Bagus sekali."
"Nah, sejak saat ini aku bernama Bagus Handaka."
Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya,
"Dan sekarang siapakah namaku?"
"Terserahlah kepada Paman," jawab Bagus Handaka.
"Jangan panggil aku Paman. Panggil aku Bapak untuk seterusnya."
"Baiklah Bapak."
"Bagus Handaka, dengarlah. Aku akan memakai nama seorang petani biasa. Sejak saat ini panggilah aku dengan nama Manahan, Bapak Manahan."
"Baiklah Bapak Manahan."
"Bagus. Kita sekarang sudah merupakan orang baru. Meskipun apa yang kita lakukan adalah kelanjutan usaha kita sebelumnya. Kau harus kembali ke Banyubiru kelak. Dengan atau tidak dengan kekerasan."
"Tentu Paman… eh… Bapak. Sebab tanah itu bagiku merupakan Tanah Pusaka sekaligus tanah tercinta."
Manahan dengan menepuk pundak Bagus Handaka berkata pula,
"Bagus Handaka, karena semuanya itu, kau mulai saat ini harus melatih diri dengan tekun dan sungguh-sungguh. Supaya kau kelak tidak akan ketinggalan dengan anak pamanmu Lembu Sora."
"Adi Sawung Sariti?" potong Bagus Handaka.
Manahan mengangguk. Katanya meneruskan,
"Anak itu pun sekarang pasti mengalami penggemblengan. Supaya kelak dapat menjadi anak hebat pula. Karena itu kau jangan sampai kalah."
"Baik Bapak, aku akan mencoba untuk berlatih sekuat-kuat tenagaku, supaya aku tidak mengecewakan Bapak Manahan serta ayah Gajah Sora," jawab Bagus Handaka.
"Bagus Handaka. Masa yang akan datang ini bagimu adalah suatu masa pembajaan diri", desis Manahan
Kemudian setelah itu, mereka saling berdiam diri, hanyut dalam arus angan-angan masing-masing.
Di langit, matahari masih memancar dengan cemerlang memanasi gunung serta lembah-lembah.
Itulah permulaan dari suatu masa yang panjang, yang akan penuh dengan latihan olah kanuragan jaya kasantikan bagi Arya Salaka, yang kemudian bernama Bagus Handaka.
Ternyata ia memang seorang anak yang tangkas dan cerdas. Memiliki kekuatan jasmaniah yang hebat pula. Dalam perantauan mereka dari satu tempat ke lain tempat, mereka sama sekali hidup dalam keprihatinan. Manahan dan Bagus Handaka tidak lebih dari dua orang bapak dan anak yang miskin. Apabila mereka merambah hutan, maka yang dimakan adalah buah-buahan yang dapat mereka jumpai di perjalanan mereka. Sedangkan apabila mereka melalui jalan-jalan kota, mereka berusaha untuk mendapatkan pekerjaan apapun yang dapat mereka lakukan.
Tetapi karena semuanya itu mereka lakukan dengan suatu keyakinan bagi masa datang, maka hal itu sama sekali tidak menimbulkan gangguan apapun dalam diri mereka. Baik jasmaniah maupun tekad yang tersimpan di dalam dada mereka.
Di dalam masa perantauan itu, satu hal yang tak seorangpun mengetahui, adalah, bahwa setiap saat Bagus Handaka selalu menerima latihan-latihan yang berat dan teratur dari gurunya. Setiap pagi, bila matahari belum menampakkan diri, Bagus
Handaka harus sudah melakukan latihan berlari-lari dan kemudian dengan alat apa saja yang mungkin dipergunakan, cabang-cabang pohon, ia harus melakukan latihan tangan dengan bergantung dan berayun. Disamping itu, sedikit demi sedikit Manahan mengajarinya pula gerakan-gerakan pembelaan diri dengan segala unsur-unsurnya.
Bagus Handaka menerima semua pelajaran dari gurunya dengan tekad yang bulat, hati yang mantap. Karena itu semua pelajaran dengan cepatnya dapat dikuasainya dengan baik.
Maka beberapa lama kemudian perjalanan mereka sampai ke pantai utara. Seterusnya mereka menyusur pantai membelok ke arah barat, menerobos hutan-hutan rimba yang kadang-kadang masih sangat lebat. Tetapi semuanya itu tidak menghalangi pertumbuhan Bagus Handaka. Tubuhnya semakin lama menjadi semakin kekar dan kuat, sedang geraknya menjadi semakin sigap.
fakhrie... dan 11 lainnya memberi reputasi
12
Kutip
Balas