- Beranda
- Stories from the Heart
Naga Sasra & Sabuk Inten
...
TS
nandeko
Naga Sasra & Sabuk Inten

NAGA SASRA & SABUK INTEN
Kisah ini merupakan karangan dari S.H Mintardja. Disini TS sudah mendapatkan ijin untuk sekedar membagikan dan mempermudahkan pembaca untuk menikmati kisah ini dalam bentuk digital
INDEX
Quote:
Spoiler for JILID 1:
Spoiler for JILID 2:
Spoiler for JILID 3:
Spoiler for JILID 4:
Spoiler for JILID 5:
Spoiler for JILID 6:
Part 114
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Spoiler for JILID 7:
Spoiler for JILID 8:
Spoiler for JILID 9:
Spoiler for JILID 10:
Pengarang dan Hakcipta©
Singgih Hadi Mintardja
Singgih Hadi Mintardja
Diubah oleh nandeko 21-10-2021 14:24
whadi05 dan 43 lainnya memberi reputasi
42
63.5K
Kutip
1.2K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
nandeko
#225
Jilid 7 [Part 165]
Spoiler for :
MAHESA JENAR mundur beberapa langkah, disilangkan satu tangannya di depan dada, satu lagi diangkat tinggi-tinggi. Sambil memusatkan segala tenaganya, Mahesa Jenar mengangkat satu kakinya dan ditekuknya ke depan. Sambil berteriak nyaring Mahesa Jenar meloncat maju,
Setelah itu, tangannya terayun deras dengan aji Sasra Birawa tersimpan di dalamnya. Tetapi terjadilah suatu peristiwa yang sama sekali tak terkirakan. Dengan cekatan, tangan orang tua itu bergerak dan dalam sekejap tangan Mahesa Jenar yang sedang mengayunkan Sasra Birawa itu dengan tenang ditangkapnya. Dengan demikian maka Mahesa Jenar tersentak oleh kekuatannya yang tidak tersalur itu, sehingga seolah-olah suatu pukulan yang dahsyat telah menghantam dadanya. Tetapi hanya sebentar. Sebab sesaat kemudian terasalah seolah-olah udara yang sejuk mengalir ke seluruh tubuhnya, sehingga dengan demikian tubuhnya sama sekali tidak merasakan suatu gangguan apapun.
Mengalami peristiwa itu, jantung Mahesa Jenar berdesir hebat sekali. Sadarlah ia bahwa yang berdiri di hadapannya itu adalah seorang yang maha sakti. Yang memiliki kedahsyatan ilmu lahir dan batin. Karena itu, ketika tangannya telah dilepaskan, Mahesa Jenar segera mundur beberapa langkah dan kemudian seperti orang yang tak berdaya, Mahesa Jenar menjatuhkan dirinya duduk bersila menghadap kepada orang yang tak dikenalnya itu.
Dengan gemetar Mahesa Jenar berkata,
Mendengar kata-kata orang tua yang sama sekali tidak menjawab pertanyaannya itu, Mahesa Jenar menjadi tertegun heran.
Perasaan Mahesa Jenar terasa seperti disentakkan mendengar pertanyaan itu. Yah, apakah sebetulnya yang dikehendaki sehingga sampai ke tempat ini…?
Teringatlah kemudian apa yang pernah dialami akhir-akhir ini, yang masalahnya berkisar di sekitar Rara Wilis. Namun untuk menguraikan kepada orang tua itu, Mahesa Jenar masih merasa kurang enak. Karena itu ia jadi bimbang sehingga beberapa lama ia tidak menjawab.
Karena Mahesa Jenar masih berdiam diri, terdengarlah orang tua itu meneruskan,
Mendengar uraian orang tua itu, Mahesa Jenar seperti orang yang dihadapkan pada suatu peristiwa yang diluar kemampuan jalan pikirannya. Demikian banyaknya masalah yang dapat diketahui oleh orang tua itu. Kalau demikian maka orang tua itu pasti telah beberapa hari mengikutinya. Karena itu, pasti orang itu adalah orang yang sama sekali tidak bermaksud jahat kepadanya. Dengan demikian ia menjadi agak berani pula.
Kembali Mahesa Jenar kebingungan. Apakah sebaiknya ia bekata terus terang? Sebab andaikata ia berbohong maka orang tua itupun agaknya dapat mengetahui pula.
Karena itu jawabnya,
Sedikit-sedikit arah pembicaraan orang tua itu sudah dapat ditangkap oleh Mahesa Jenar. Ia menjadi bertanya pula pada diri sendiri, apakah sebenarnya yang dicarinya selama ini?
Kata-kata orang tua itu memancar ke hati Mahesa Jenar seperti sinar matahari yang memecahkan gelapnya malam. Meskipun ia masih duduk tepekur, namun dadanya telah menyala kembali dengan api kekesatriaannya.
Lamat-lamat ketajaman pendengaran Mahesa Jenar mendengar suara memanggil-manggilnya,
Mendengar suara itu, terbantinglah hati Mahesa Jenar seperti kaca yang menimpa batu. Itu adalah suara Arya Salaka, putra Gajah Sora.
Karena pertanyaan itu hati Mahesa Jenar merasa semakin pecah-pecah. Teringatlah ia, bagaimana ia membentak-bentak anak itu, meninggalkannya dalam kebingungan dan kekalutan pikiran.
Setelah mengucapkan kata-kata itu, orang tua yang berkumis dan berjanggut lebat itu melangkah pergi.
Mahesa Jenar yang masih belum puas itu segera akan mengikutinya, tetapi tiba-tiba kembali didengarnya suara sayup-sayup menyusup dedaunan,
Suara yang timbul-tenggelam diantara desir angin di hutan itu telah menyentuh-nyentuh perasaan Mahesa Jenar seperti panasnya bara api. Cepat ia menyadari kesalahannya telah meninggalkan anak yang tak bersalah itu. Karena itu ia berteriak pula,
Setelah itu segera ia meloncat berlari sekencang-kencangnya menuju ke arah suara Arya Salaka, yang ketika mendengar suara Mahesa Jenar, berteriak lebih keras lagi,
Ketika Arya Salaka melihat Mahesa Jenar yang tiba-tiba muncul dari rimbunnya hutan, segera ia berlari menyongsongnya. Tetapi karena tubuhnya sudah sangat lelah, maka ia pun terjatuh lemas. Melihat kadaan Arya, Mahesa Jenar jadi terharu. Cepat ia menangkap tubuh Arya yang sudah hampir terjerembab, dan dengan hati-hati anak itu didudukkan di atas rumput-rumputan.
Arya tidak menjawab, karena kerongkongannya terasa buntu. Namun air matanya mengalir seperti tanggul yang pecah.
Arya Salaka yang sebenarnya bukanlah anak cengeng, pada saat itu tangisnya tak tertahankan lagi, seperti berdesak-desakan berebut jalan.
Meskipun nada suara Mahesa Jenar sudah menjadi lunak, namun Arya masih ketakutan kalau-kalau pamannya akan marah kembali. Karena itu ditahannya tangisnya kuat-kuat. Tetapi karena itu pula maka dadanya menjadi sesak karena isaknya yang tersekat, sehingga tubuhnya berguncang-guncang.
Quote:
"Kembalikan keris-keris itu atau kau binasa."
Setelah itu, tangannya terayun deras dengan aji Sasra Birawa tersimpan di dalamnya. Tetapi terjadilah suatu peristiwa yang sama sekali tak terkirakan. Dengan cekatan, tangan orang tua itu bergerak dan dalam sekejap tangan Mahesa Jenar yang sedang mengayunkan Sasra Birawa itu dengan tenang ditangkapnya. Dengan demikian maka Mahesa Jenar tersentak oleh kekuatannya yang tidak tersalur itu, sehingga seolah-olah suatu pukulan yang dahsyat telah menghantam dadanya. Tetapi hanya sebentar. Sebab sesaat kemudian terasalah seolah-olah udara yang sejuk mengalir ke seluruh tubuhnya, sehingga dengan demikian tubuhnya sama sekali tidak merasakan suatu gangguan apapun.
Mengalami peristiwa itu, jantung Mahesa Jenar berdesir hebat sekali. Sadarlah ia bahwa yang berdiri di hadapannya itu adalah seorang yang maha sakti. Yang memiliki kedahsyatan ilmu lahir dan batin. Karena itu, ketika tangannya telah dilepaskan, Mahesa Jenar segera mundur beberapa langkah dan kemudian seperti orang yang tak berdaya, Mahesa Jenar menjatuhkan dirinya duduk bersila menghadap kepada orang yang tak dikenalnya itu.
Dengan gemetar Mahesa Jenar berkata,
Quote:
"Maafkanlah kelancanganku Kyai, dan perkenankanlah aku mengetahui siapakah sebenarnya Tuan?"
Terdengarlah orang tua berjubah abu-abu itu tersenyum.
"Sudahlah Mahesa Jenar, kau tak perlu terlalu merasa bersalah. Bahkan aku menjadi gembira ketika kau masih ingat kepada kewajibanmu untuk menemukan kembali Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten, sehingga kau berani bertindak terhadap apapun dan siapapun. Dengan demikian maka masa depanmu tidaklah akan gelap sama sekali," jawabnya.
Terdengarlah orang tua berjubah abu-abu itu tersenyum.
"Sudahlah Mahesa Jenar, kau tak perlu terlalu merasa bersalah. Bahkan aku menjadi gembira ketika kau masih ingat kepada kewajibanmu untuk menemukan kembali Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten, sehingga kau berani bertindak terhadap apapun dan siapapun. Dengan demikian maka masa depanmu tidaklah akan gelap sama sekali," jawabnya.
Mendengar kata-kata orang tua yang sama sekali tidak menjawab pertanyaannya itu, Mahesa Jenar menjadi tertegun heran.
Quote:
"Apakah gerangan maksudnya?"
Kemudian terdengarlah orang tua itu melanjutkan,
"Mahesa Jenar…, apakah sebenarnya yang kau cari, sehingga kau sampai ke tempat ini?"
Kemudian terdengarlah orang tua itu melanjutkan,
"Mahesa Jenar…, apakah sebenarnya yang kau cari, sehingga kau sampai ke tempat ini?"
Perasaan Mahesa Jenar terasa seperti disentakkan mendengar pertanyaan itu. Yah, apakah sebetulnya yang dikehendaki sehingga sampai ke tempat ini…?
Teringatlah kemudian apa yang pernah dialami akhir-akhir ini, yang masalahnya berkisar di sekitar Rara Wilis. Namun untuk menguraikan kepada orang tua itu, Mahesa Jenar masih merasa kurang enak. Karena itu ia jadi bimbang sehingga beberapa lama ia tidak menjawab.
Karena Mahesa Jenar masih berdiam diri, terdengarlah orang tua itu meneruskan,
Quote:
"Aku kira, aku dapat menduga-duga apa yang sebenarnya telah kau alami Mahesa Jenar. Dan ketika aku melihat kau berlari-lari ke arah yang sama sekali tak kau ketahui, aku pun dapat mengira-ngira pula, apa yang akan kau lakukan. Sebab sebagian besar dari percakapanmu dengan Kyai Ageng Pandan Alas, serta kemarahanmu kepada Arya Salaka dapat aku dengar. Ditambah lagi dengan beberapa kejadian akhir-akhir ini yang dapat aku lihat pula. Hubunganmu dengan cucu Ki Ageng Pandan Alas serta murid Ki Ageng Pandan Alas yang bernama Sarayuda."
Mendengar uraian orang tua itu, Mahesa Jenar seperti orang yang dihadapkan pada suatu peristiwa yang diluar kemampuan jalan pikirannya. Demikian banyaknya masalah yang dapat diketahui oleh orang tua itu. Kalau demikian maka orang tua itu pasti telah beberapa hari mengikutinya. Karena itu, pasti orang itu adalah orang yang sama sekali tidak bermaksud jahat kepadanya. Dengan demikian ia menjadi agak berani pula.
Quote:
Maka katanya,
"Apa yang Tuan katakan adalah benar."
Maka terdengarlah orang tua itu tertawa.
"Bagus…" katanya.
"Kau sadari semua itu, dan sekarang kau akan pergi kemana?"
"Apa yang Tuan katakan adalah benar."
Maka terdengarlah orang tua itu tertawa.
"Bagus…" katanya.
"Kau sadari semua itu, dan sekarang kau akan pergi kemana?"
Kembali Mahesa Jenar kebingungan. Apakah sebaiknya ia bekata terus terang? Sebab andaikata ia berbohong maka orang tua itupun agaknya dapat mengetahui pula.
Karena itu jawabnya,
Quote:
"Aku akan pergi bertapa, Kyai. Menjauhi kesibukan kesibukan duniawi yang menjemukan."
Sekali lagi orang tua itu tertawa.
"Apakah dengan bertapa serta menjauhkan diri dari persoalan manusia itu, kemudian keris Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten akan datang kepadamu dengan sendirinya?"
Sekali lagi orang tua itu tertawa.
"Apakah dengan bertapa serta menjauhkan diri dari persoalan manusia itu, kemudian keris Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten akan datang kepadamu dengan sendirinya?"
Sedikit-sedikit arah pembicaraan orang tua itu sudah dapat ditangkap oleh Mahesa Jenar. Ia menjadi bertanya pula pada diri sendiri, apakah sebenarnya yang dicarinya selama ini?
Quote:
"Mahesa Jenar…" lanjut orang tua itu,
"Kau adalah seorang kesatria, bukan seorang brahmana atau pertapa. Kewajiban kesatria adalah membina kesejahteraan umat manusia, kesejahteraan bangsanya dan tanah airnya. Apakah yang dapat kau lakukan apabila kau mengasingkan dirimu di puncak gunung atau di tengah-tengah hutan yang lebat? Di dalam goa-goa atau di bawah pohon beringin tua? Mahesa Jenar, aku sudah tua. Aku adalah gambaran dari orang-orang yang tak berarti. Tinggal di dalam goa yang jauh dari masalah-masalah bangsa dan tanah air, dimana aku meneguk air jika aku haus serta mencari ketenteraman diri. Tetapi dengan demikian masalah keluarga besar kita tak akan dapat diselesaikan. Sekarang adakah kau mau memperbanyak jumlah dari orang-orang yang demikian itu?"
"Kau adalah seorang kesatria, bukan seorang brahmana atau pertapa. Kewajiban kesatria adalah membina kesejahteraan umat manusia, kesejahteraan bangsanya dan tanah airnya. Apakah yang dapat kau lakukan apabila kau mengasingkan dirimu di puncak gunung atau di tengah-tengah hutan yang lebat? Di dalam goa-goa atau di bawah pohon beringin tua? Mahesa Jenar, aku sudah tua. Aku adalah gambaran dari orang-orang yang tak berarti. Tinggal di dalam goa yang jauh dari masalah-masalah bangsa dan tanah air, dimana aku meneguk air jika aku haus serta mencari ketenteraman diri. Tetapi dengan demikian masalah keluarga besar kita tak akan dapat diselesaikan. Sekarang adakah kau mau memperbanyak jumlah dari orang-orang yang demikian itu?"
Kata-kata orang tua itu memancar ke hati Mahesa Jenar seperti sinar matahari yang memecahkan gelapnya malam. Meskipun ia masih duduk tepekur, namun dadanya telah menyala kembali dengan api kekesatriaannya.
Quote:
"Masihkah kau akan melanjutkan mencari pusaka-pusaka yang hilang itu?" tanya orang tua itu.
Karena pertanyaan itu Mahesa Jenar tersentak.Jawabnya tergagap,
"Ya… Tuan, aku tetap mencarinya. Dan adakah Tuan mengetahui di manakah kedua keris itu sekarang?"
ORANGTUA itu tersenyum, lalu jawabnya,
"Aku tahu. Kedua keris itu berada di dalam kekerasan hatimu serta usahamu."
Kembali Mahesa Jenar tertunduk. Tepat benar jawaban orang tua itu.
"Mahesa Jenar…" lanjut orang itu,
"hati-hatilah kelak akan memilih. Ada dua keturunan yang merasa berhak memiliki keris itu. Keturunan Trenggana dan keturunan Sekar Seda Lepen. Pilihlah siapa diantara mereka yang mengutamakan kepentingan rakyat serta kesejahteraan negerinya. Kepadanyalah keris itu kau serahkan. Seterusnya kau masih mempunyai satu kewajiban lagi. Membina masa depan. Dan sekarang kau sia-siakan satu tugas kekuatan masa depan itu."
Orang tua itu diam sesaat, lalu bertanya kepada Mahesa Jenar,
"Dengarlah siapakah yang menyebut-nyebut namamu?"
Karena pertanyaan itu Mahesa Jenar tersentak.Jawabnya tergagap,
"Ya… Tuan, aku tetap mencarinya. Dan adakah Tuan mengetahui di manakah kedua keris itu sekarang?"
ORANGTUA itu tersenyum, lalu jawabnya,
"Aku tahu. Kedua keris itu berada di dalam kekerasan hatimu serta usahamu."
Kembali Mahesa Jenar tertunduk. Tepat benar jawaban orang tua itu.
"Mahesa Jenar…" lanjut orang itu,
"hati-hatilah kelak akan memilih. Ada dua keturunan yang merasa berhak memiliki keris itu. Keturunan Trenggana dan keturunan Sekar Seda Lepen. Pilihlah siapa diantara mereka yang mengutamakan kepentingan rakyat serta kesejahteraan negerinya. Kepadanyalah keris itu kau serahkan. Seterusnya kau masih mempunyai satu kewajiban lagi. Membina masa depan. Dan sekarang kau sia-siakan satu tugas kekuatan masa depan itu."
Orang tua itu diam sesaat, lalu bertanya kepada Mahesa Jenar,
"Dengarlah siapakah yang menyebut-nyebut namamu?"
Lamat-lamat ketajaman pendengaran Mahesa Jenar mendengar suara memanggil-manggilnya,
Quote:
"Paman…, Paman Mahesa Jenar…, di manakah kau Paman…?"
Mendengar suara itu, terbantinglah hati Mahesa Jenar seperti kaca yang menimpa batu. Itu adalah suara Arya Salaka, putra Gajah Sora.
Quote:
"Apa salah anak itu kepadamu Mahesa Jenar?" tanya orang tua itu sambil tersenyum.
Karena pertanyaan itu hati Mahesa Jenar merasa semakin pecah-pecah. Teringatlah ia, bagaimana ia membentak-bentak anak itu, meninggalkannya dalam kebingungan dan kekalutan pikiran.
Quote:
"Mahesa Jenar…" terdengarlah kembali kata-kata orang tua itu,
"Masa depan tidaklah kalah pentingnya dengan masa kini. Justru apa yang kau lakukan adalah buat kepentingan masa depan. Karena itu peliharalah tunas-tunas buat masa depan itu dengan baik-baik. Kali ini kau telah mendapatkan pengalaman untuk dapat kau pergunakan sebagai cermin pada masa-masa yang akan datang. Setiap usaha pasti mengalami rintangan-rintangan. Apabila kau terperosok pada kepatahan hati maka tak akan ada usahamu yang berhasil. Aku setuju dengan kata-kata Pandan Alas, hatimu sekeras baja, tetapi getas seperti baja pula. Nah sekarang hayatilah tugasmu kembali. Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten serta anak Gajah Sora yang dititipkan kepadamu itu."
Mahesa Jenar membungkuk hormat, namun masih juga ia mencoba bertanya,
"Siapakah sebenarnya Tuan?"
Orang tua itu tersenyum.
"Tak banyak gunanya kau mengetahui siapakah aku ini. Sebab aku adalah orang yang tak berarti. Salah satu dari gambaran orang-orang yang tidak bertanggungjawab buat membina bebrayan agung. Namun aku masih ingin menitipkan sumbangsihku atas tanah ini kepadamu, dengan mencegah kehendakmu untuk menambah barisan orang-orang yang tak berarti seperti aku ini. Nah selamat bekerja Mahesa Jenar. Seharusnya kau memiliki keagungan seperti gurumu, Pangeran Handayaningrat."
"Masa depan tidaklah kalah pentingnya dengan masa kini. Justru apa yang kau lakukan adalah buat kepentingan masa depan. Karena itu peliharalah tunas-tunas buat masa depan itu dengan baik-baik. Kali ini kau telah mendapatkan pengalaman untuk dapat kau pergunakan sebagai cermin pada masa-masa yang akan datang. Setiap usaha pasti mengalami rintangan-rintangan. Apabila kau terperosok pada kepatahan hati maka tak akan ada usahamu yang berhasil. Aku setuju dengan kata-kata Pandan Alas, hatimu sekeras baja, tetapi getas seperti baja pula. Nah sekarang hayatilah tugasmu kembali. Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten serta anak Gajah Sora yang dititipkan kepadamu itu."
Mahesa Jenar membungkuk hormat, namun masih juga ia mencoba bertanya,
"Siapakah sebenarnya Tuan?"
Orang tua itu tersenyum.
"Tak banyak gunanya kau mengetahui siapakah aku ini. Sebab aku adalah orang yang tak berarti. Salah satu dari gambaran orang-orang yang tidak bertanggungjawab buat membina bebrayan agung. Namun aku masih ingin menitipkan sumbangsihku atas tanah ini kepadamu, dengan mencegah kehendakmu untuk menambah barisan orang-orang yang tak berarti seperti aku ini. Nah selamat bekerja Mahesa Jenar. Seharusnya kau memiliki keagungan seperti gurumu, Pangeran Handayaningrat."
Setelah mengucapkan kata-kata itu, orang tua yang berkumis dan berjanggut lebat itu melangkah pergi.
Mahesa Jenar yang masih belum puas itu segera akan mengikutinya, tetapi tiba-tiba kembali didengarnya suara sayup-sayup menyusup dedaunan,
Quote:
"Paman…, Paman Mahesa Jenar…. Kenapa aku kau tinggalkan sendiri, Paman…?"
Suara yang timbul-tenggelam diantara desir angin di hutan itu telah menyentuh-nyentuh perasaan Mahesa Jenar seperti panasnya bara api. Cepat ia menyadari kesalahannya telah meninggalkan anak yang tak bersalah itu. Karena itu ia berteriak pula,
Quote:
"Arya…, tunggulah Paman segera datang."
Setelah itu segera ia meloncat berlari sekencang-kencangnya menuju ke arah suara Arya Salaka, yang ketika mendengar suara Mahesa Jenar, berteriak lebih keras lagi,
Quote:
"Paman…, Paman…."
Ketika Arya Salaka melihat Mahesa Jenar yang tiba-tiba muncul dari rimbunnya hutan, segera ia berlari menyongsongnya. Tetapi karena tubuhnya sudah sangat lelah, maka ia pun terjatuh lemas. Melihat kadaan Arya, Mahesa Jenar jadi terharu. Cepat ia menangkap tubuh Arya yang sudah hampir terjerembab, dan dengan hati-hati anak itu didudukkan di atas rumput-rumputan.
Quote:
"Arya…." bisik Mahesa Jenar.
Arya tidak menjawab, karena kerongkongannya terasa buntu. Namun air matanya mengalir seperti tanggul yang pecah.
Arya Salaka yang sebenarnya bukanlah anak cengeng, pada saat itu tangisnya tak tertahankan lagi, seperti berdesak-desakan berebut jalan.
Quote:
"Arya…" kata Mahesa Jenar,
"Anak laki-laki tidak sepantasnya menangis. Diamlah."
"Anak laki-laki tidak sepantasnya menangis. Diamlah."
Meskipun nada suara Mahesa Jenar sudah menjadi lunak, namun Arya masih ketakutan kalau-kalau pamannya akan marah kembali. Karena itu ditahannya tangisnya kuat-kuat. Tetapi karena itu pula maka dadanya menjadi sesak karena isaknya yang tersekat, sehingga tubuhnya berguncang-guncang.
Quote:
"Sudahlah Arya…" sambung Mahesa Jenar,
"Kalau kau terlalu lama menangis kau dapat kemasukan angin."
“Aku takut” kata Arya.
"Takut…? "tanya Mahesa Jenar.
"Apa yang kau takutkan?"
"Aku takut kalau Paman meninggalkan aku sendiri," jawab Arya.
"Kalau kau terlalu lama menangis kau dapat kemasukan angin."
“Aku takut” kata Arya.
"Takut…? "tanya Mahesa Jenar.
"Apa yang kau takutkan?"
"Aku takut kalau Paman meninggalkan aku sendiri," jawab Arya.
fakhrie... dan 13 lainnya memberi reputasi
14
Kutip
Balas