- Beranda
- Stories from the Heart
Naga Sasra & Sabuk Inten
...
TS
nandeko
Naga Sasra & Sabuk Inten

NAGA SASRA & SABUK INTEN
Kisah ini merupakan karangan dari S.H Mintardja. Disini TS sudah mendapatkan ijin untuk sekedar membagikan dan mempermudahkan pembaca untuk menikmati kisah ini dalam bentuk digital
INDEX
Quote:
Spoiler for JILID 1:
Spoiler for JILID 2:
Spoiler for JILID 3:
Spoiler for JILID 4:
Spoiler for JILID 5:
Spoiler for JILID 6:
Part 114
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Spoiler for JILID 7:
Spoiler for JILID 8:
Spoiler for JILID 9:
Spoiler for JILID 10:
Pengarang dan Hakcipta©
Singgih Hadi Mintardja
Singgih Hadi Mintardja
Diubah oleh nandeko 21-10-2021 14:24
whadi05 dan 43 lainnya memberi reputasi
42
62.5K
Kutip
1.2K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
nandeko
#219
Jilid 7 [Part 160]
Spoiler for :
MAHESA JENAR terdiam. Barulah ia sadar bahwa ia berhadapan dengan seorang pemuda yang bernama Pudak Wangi, bukan dengan seorang gadis yang bernama Rara Wilis. Karena itu, segera ia menjawab,
Karena jawaban itu Mahesa Jenar semakin terdesak. Meskipun demikian ia masih berusaha untuk mencegah Pudak Wangi ikut serta.
Sekali lagi Mahesa Jenar terdesak, sehingga ia tidak dapat berkata-kata lagi. Pudak Wangi memandang Mahesa Jenar dengan tersenyum kecil. Melihat senyum Pudak Wangi, bagaimanapun Mahesa Jenar tergetar hatinya. Kemudian terdengar kembali Pudak Wangi berkata,
Kembali Pudak Wangi tersenyum. Tetapi ia tidak berkata-kata lagi. Maka kemudian berjalanlah mereka berdua dengan busur di tangan masing-masing. Tetapi di sepanjang jalan hampir tak terdengar kata-kata. Suasana kekakuan masih tetap ada, membatasi pergaulan mereka.
Bintang-bintang yang gemerlapan masih bergayutan di langit. Di selatan, bintang Gubug Penceng tepat berdiri di atas kutub. Dan angin malam dengan segarnya membelai hati mereka yang sedang berjalan di kegelapan malam.
Tetapi tiba-tiba langkah mereka terhenti. Di kejauhan terdengar bunyi telapak kuda semakin lama semakin mendekat, dan tidak lama kemudian mereka melihat bayangan dua orang berkuda melintas di padang ilalang itu.
Ketika orang-orang itu melintas dekat Mahesa Jenar dan Pudak Wangi berdiri, mendadak salah seorang membelokkan kudanya mengarah kepadanya. Untuk tidak menimbulkan kesan-kesan yang kurang baik, segera Mahesa Jenar dan Pudak Wangi meletakkan busur-busur mereka.
Beberapa langkah di hadapan Mahesa Jenar, kuda itu berhenti, disusul dengan orang yang satu lagi, yang agaknya mengikutinya pula.
Dengan kasar dan masih tetap di punggung kudanya, orang itu bertanya,
Mendengar jawaban itu agaknya mereka percaya. Maka bertanyalah salah seorang diantaranya lebih lanjut,
Tiba-tiba ia teringat kepada keterangan Sarayuda, bahwa Arya telah diseret oleh tiga orang yang tak dikenalnya. Sedang menilik pakaian mereka, maka mereka tak ubahnya dengan orang yang telah menyerang Banyubiru untuk membunuh Arya. Karena itu segera Mahesa Jenar menghubungkan kedua orang itu dengan ketiga orang yang telah mencoba membunuh anak itu. Maka timbullah keinginannya untuk meyakinkan pendapatnya itu.
Mendengar kata-kata itu, Mahesa Jenar menjadi yakin bahwa dua orang itu adalah kawan-kawan yang sedang mencari ketiga orang yang ternyata telah dibunuh oleh Sarayuda. Karena itu, segera terungkaplah kemarahan Mahesa Jenar. Karena orang-orang ini adalah pasti orang-orang Lembu Sora. Maka, karena gelora kemarahannya, timbullah keinginan Mahesa Jenar untuk menghajar kedua orang itu. Segera Mahesa Jenar memancing mereka ke dalam suatu perselisihan.
Mendengar kata-kata Mahesa Jenar, wajah kedua orang itu segera berubah hebat. Dengan gugup salah seorang bertanya,
Dengan tenang Mahesa Jenar memandang wajah orang itu. Hidungnya yang besar hampir melengkung, terletak diantara kedua matanya yang mirip dengan mata burung hantu. Sedang yang lain adalah gambaran dari wajah seorang yang tidak mempunyai pikiran. Sudut-sudut bibirnya tertarik agak ke bawah, dan matanya tidaklah bedanya dengan mata sebuah patung. Mati dan tak bersinar sama sekali.
Quote:
"Tidak … Adi, sama sekali tak ada bedanya."
"Kalau demikian berarti aku diperkenankan untuk pergi berburu pula," Desak Pudak Wangi.
"Kalau demikian berarti aku diperkenankan untuk pergi berburu pula," Desak Pudak Wangi.
Karena jawaban itu Mahesa Jenar semakin terdesak. Meskipun demikian ia masih berusaha untuk mencegah Pudak Wangi ikut serta.
Quote:
"Tetapi banyak halangannya berjalan di malam hari, meskipun Adi pada dasarnya diperkenankan berburu pula."
Dengan tersenyum Pudak Wangi menjawab,
"Kenapa Kakang Mahesa Jenar cemas akan bahaya. Aku sudah lebih lama tinggal di tempat ini, sehingga aku lebih banyak mengenalnya. Kecuali itu, andaikata bahaya datang, biarlah aku coba untuk mengatasinya. Bukankah aku murid Ki Ageng Pandan Alas?"
Dengan tersenyum Pudak Wangi menjawab,
"Kenapa Kakang Mahesa Jenar cemas akan bahaya. Aku sudah lebih lama tinggal di tempat ini, sehingga aku lebih banyak mengenalnya. Kecuali itu, andaikata bahaya datang, biarlah aku coba untuk mengatasinya. Bukankah aku murid Ki Ageng Pandan Alas?"
Sekali lagi Mahesa Jenar terdesak, sehingga ia tidak dapat berkata-kata lagi. Pudak Wangi memandang Mahesa Jenar dengan tersenyum kecil. Melihat senyum Pudak Wangi, bagaimanapun Mahesa Jenar tergetar hatinya. Kemudian terdengar kembali Pudak Wangi berkata,
Quote:
"Jadi, masih tetapkah Kakang Mahesa Jenar menolak aku ikut serta?"
Dengan tergagap Mahesa Jenar cepat-cepat menjawab,
"Silahkan Adi… silahkan."
Dengan tergagap Mahesa Jenar cepat-cepat menjawab,
"Silahkan Adi… silahkan."
Kembali Pudak Wangi tersenyum. Tetapi ia tidak berkata-kata lagi. Maka kemudian berjalanlah mereka berdua dengan busur di tangan masing-masing. Tetapi di sepanjang jalan hampir tak terdengar kata-kata. Suasana kekakuan masih tetap ada, membatasi pergaulan mereka.
Bintang-bintang yang gemerlapan masih bergayutan di langit. Di selatan, bintang Gubug Penceng tepat berdiri di atas kutub. Dan angin malam dengan segarnya membelai hati mereka yang sedang berjalan di kegelapan malam.
Tetapi tiba-tiba langkah mereka terhenti. Di kejauhan terdengar bunyi telapak kuda semakin lama semakin mendekat, dan tidak lama kemudian mereka melihat bayangan dua orang berkuda melintas di padang ilalang itu.
Ketika orang-orang itu melintas dekat Mahesa Jenar dan Pudak Wangi berdiri, mendadak salah seorang membelokkan kudanya mengarah kepadanya. Untuk tidak menimbulkan kesan-kesan yang kurang baik, segera Mahesa Jenar dan Pudak Wangi meletakkan busur-busur mereka.
Beberapa langkah di hadapan Mahesa Jenar, kuda itu berhenti, disusul dengan orang yang satu lagi, yang agaknya mengikutinya pula.
Dengan kasar dan masih tetap di punggung kudanya, orang itu bertanya,
Quote:
"He, siapakah kalian yang pada malam-malam begini berkeliaran di sini?"
"Kami adalah petani-petani di bukit ini," jawab Mahesa Jenar.
"Hem…" desis yang lain.
"Lalu apa kerja kalian di sini?"
"Kami sedang berburu ayam hutan," jawab Mahesa Jenar pula.
"Kami adalah petani-petani di bukit ini," jawab Mahesa Jenar.
"Hem…" desis yang lain.
"Lalu apa kerja kalian di sini?"
"Kami sedang berburu ayam hutan," jawab Mahesa Jenar pula.
Mendengar jawaban itu agaknya mereka percaya. Maka bertanyalah salah seorang diantaranya lebih lanjut,
Quote:
"Adakah kau lihat di sekitar bukit ini kemarin atau lusa atau beberapa hari yang lalu tiga orang asing lewat?"
"Tiga orang?" ulang Mahesa Jenar sambil meng- ingat-ingat.
"Tiga orang?" ulang Mahesa Jenar sambil meng- ingat-ingat.
Tiba-tiba ia teringat kepada keterangan Sarayuda, bahwa Arya telah diseret oleh tiga orang yang tak dikenalnya. Sedang menilik pakaian mereka, maka mereka tak ubahnya dengan orang yang telah menyerang Banyubiru untuk membunuh Arya. Karena itu segera Mahesa Jenar menghubungkan kedua orang itu dengan ketiga orang yang telah mencoba membunuh anak itu. Maka timbullah keinginannya untuk meyakinkan pendapatnya itu.
Quote:
Maka katanya,
"Aku memang telah melihat tiga orang lewat di sini, Tuan. Tetapi tidak hanya tiga orang saja, mereka telah membawa serta seorang anak laki-laki bersama dengan mereka."
"Seorang anak laki-laki?" potong salah seorang diantaranya.
"Ya, aku tidak tahu apakah anak itu anak salah seorang dari ketiga orang itu," lanjut Mahesa Jenar.
"Bukan, sama sekali bukan," jawab yang lain.
"Pasti demikian," sela Mahesa Jenar,
"Sebab anak itu didukungnya dengan penuh kasih, sebagai seorang bapak terhadap anaknya."
Maka terdengarlah kedua orang itu tertawa riuh, dan terdengarlah salah seorang berkata,
"Umur anak itu tidak akan lebih dari panjangnya malam pada saat kau lihat. Kapan kau lihat mereka lewat di sini?"
"Aku memang telah melihat tiga orang lewat di sini, Tuan. Tetapi tidak hanya tiga orang saja, mereka telah membawa serta seorang anak laki-laki bersama dengan mereka."
"Seorang anak laki-laki?" potong salah seorang diantaranya.
"Ya, aku tidak tahu apakah anak itu anak salah seorang dari ketiga orang itu," lanjut Mahesa Jenar.
"Bukan, sama sekali bukan," jawab yang lain.
"Pasti demikian," sela Mahesa Jenar,
"Sebab anak itu didukungnya dengan penuh kasih, sebagai seorang bapak terhadap anaknya."
Maka terdengarlah kedua orang itu tertawa riuh, dan terdengarlah salah seorang berkata,
"Umur anak itu tidak akan lebih dari panjangnya malam pada saat kau lihat. Kapan kau lihat mereka lewat di sini?"
Mendengar kata-kata itu, Mahesa Jenar menjadi yakin bahwa dua orang itu adalah kawan-kawan yang sedang mencari ketiga orang yang ternyata telah dibunuh oleh Sarayuda. Karena itu, segera terungkaplah kemarahan Mahesa Jenar. Karena orang-orang ini adalah pasti orang-orang Lembu Sora. Maka, karena gelora kemarahannya, timbullah keinginan Mahesa Jenar untuk menghajar kedua orang itu. Segera Mahesa Jenar memancing mereka ke dalam suatu perselisihan.
Quote:
"Tuan salah terka. Anak itu sampai sekarang masih segar bugar. Oleh ketiga orang itu, ia mereka titipkan kepada kami, sementara mereka pulang untuk mengambil jemputan dan kendaraan," kata Mahesa Jenar.
Mendengar kata-kata Mahesa Jenar, wajah kedua orang itu segera berubah hebat. Dengan gugup salah seorang bertanya,
Quote:
"Ketiga orang itu berasal dari mana?"
"Dari Banyubiru, "jawab Mahesa Jenar cepat-cepat.
"Mereka adalah utusan Nyi Ageng Gajah Sora."
Wajah kedua orang itu menjadi bertambah tegang, apalagi ketika Mahesa Jenar melanjutkan,
"Nama anak itu adalah Arya Salaka."
"Berikan anak itu kepadaku!" Tiba-tiba yang seorang berteriak.
"Dari Banyubiru, "jawab Mahesa Jenar cepat-cepat.
"Mereka adalah utusan Nyi Ageng Gajah Sora."
Wajah kedua orang itu menjadi bertambah tegang, apalagi ketika Mahesa Jenar melanjutkan,
"Nama anak itu adalah Arya Salaka."
"Berikan anak itu kepadaku!" Tiba-tiba yang seorang berteriak.
Dengan tenang Mahesa Jenar memandang wajah orang itu. Hidungnya yang besar hampir melengkung, terletak diantara kedua matanya yang mirip dengan mata burung hantu. Sedang yang lain adalah gambaran dari wajah seorang yang tidak mempunyai pikiran. Sudut-sudut bibirnya tertarik agak ke bawah, dan matanya tidaklah bedanya dengan mata sebuah patung. Mati dan tak bersinar sama sekali.
fakhrie... dan 12 lainnya memberi reputasi
13
Kutip
Balas