- Beranda
- Stories from the Heart
Naga Sasra & Sabuk Inten
...
TS
nandeko
Naga Sasra & Sabuk Inten

NAGA SASRA & SABUK INTEN
Kisah ini merupakan karangan dari S.H Mintardja. Disini TS sudah mendapatkan ijin untuk sekedar membagikan dan mempermudahkan pembaca untuk menikmati kisah ini dalam bentuk digital
INDEX
Quote:
Spoiler for JILID 1:
Spoiler for JILID 2:
Spoiler for JILID 3:
Spoiler for JILID 4:
Spoiler for JILID 5:
Spoiler for JILID 6:
Part 114
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Spoiler for JILID 7:
Spoiler for JILID 8:
Spoiler for JILID 9:
Spoiler for JILID 10:
Pengarang dan Hakcipta©
Singgih Hadi Mintardja
Singgih Hadi Mintardja
Diubah oleh nandeko 21-10-2021 14:24
whadi05 dan 43 lainnya memberi reputasi
42
63.6K
Kutip
1.2K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
nandeko
#218
Jilid 7 [Part 159]
Spoiler for :
KADANG-KADANG Ki Ageng Pandan Alas yang menamakan dirinya Ki Punjung, pergi beberapa hari untuk mendapatkan keterangan tentang keris Nagasasra dan Sabuk Inten. Namun sampai beberapa minggu kedua keris itu masih diliputi oleh takbir kegelapan.
Sedang apabila Ki Ageng Pandan Alas berada di rumah, maka hampir setiap saat, siang dan malam, ia membentuk Pudak Wangi yang sebenarnya adalah Rara Wilis, untuk menjadi seorang yang berilmu. Ia ingin merebut kembali ayah Rara Wilis dari dunia kejahatan dengan mempergunakan keperwiraan Rara Wilis yang diharapkan dapat menandingi ibu tirinya, anak Sima Rodra tua dari Lodaya. Dalam pondok itulah Rara Wilis mengalami penggemblengan.
Beberapa lama kemudian, datanglah seorang pemuda dari Gunung Kidul. Sarayuda, yang pada masa kanak-kanaknya menjadi kawan bermain Rara Wilis. Pemuda itu adalah murid Ki Ageng Pandan Alas. Ketika masa berguru sudah cukup, maka beberapa lama Sarayuda diajaknya merantau untuk mendapat pengalaman. Setelah beberapa lama kemudian, disuruhnya Sarayuda kembali ke Gunung Kidul untuk menerima warisan orang tuanya, yaitu kedudukan sebagai Demang di Gunung Kidul.
Pada saat Rara Wilis menjadi dewasa, Sarayuda merasa bahwa persahabatannya dengan Rara Wilis telah mengalami perubahan. Perasaannya sebagai pemuda kadang-kadang tersentuh-sentuh dengan tajamnya. Tetapi belum lagi Sarayuda mengatakan sesuatu, terjadilah malapetaka yang menimpa Rara Wilis. Ibunya meninggal dunia. Terpaksa ia menyabarkan diri untuk beberapa saat, sehingga masa berkabung itu lampau.
Tetapi tanpa diduganya, pada suatu hari Rara Wilis pergi meninggalkan Gunung Kidul. Tak seorang pun yang mengetahui ke mana arah tujuannya. Meskipun Sarayuda telah memerintahkan beberapa orang untuk mencarinya, namun selalu sia-sia saja.
Karena itu, untuk memenuhi tuntutan perasaannya yang tak dapat dibendung lagi, maka pada suatu hari Sarayuda sendirilah yang pergi untuk menemukan Rara Wilis. Karena Sarayuda memiliki pengalaman yang cukup, maka meskipun dengan susah payah, bertanya kesana-kemari, akhirnya ia mendapatkan beberapa keterangan yang meskipun samar-samar tentang seorang gadis yang berjalan seorang diri. Tetapi untuk beberapa lama ia kehilangan jejak.
Ia telah mencoba mencari Ki Ageng Pandan Alas ke Pliridan, Wanasaba, dan ke tempat-tempat yang pernah dikunjunginya dahulu. Namun Ki Ageng Pandan Alas tidak dapat ditemuinya. Ia yakin bahwa Ki Ageng Pandan Alas tidak akan membiarkan cucunya itu merantau tanpa tujuan. Pada suatu saat pasti Rara Wilis akan berada bersama-sama dengan Ki Ageng Pandan Alas.
Pada suatu saat di lereng Gunung Sumbing, pada saat ia sedang beristirahat di sebuah goa yang pernah dikunjungi bersama dengan gurunya, datanglah seorang yang juga akan berteduh di tempat itu. Dan ternyata, orang itulah Ki Ageng Pandan Alas.
Betapa girang hati Sarayuda bertemu dengan gurunya tanpa disangka-sangka.
Seterusnya Sarayuda menyertai Ki Ageng Pandan Alas, kembali ke pondoknya, ke tempat ia meninggalkan Rara Wilis yang telah berubah menjadi Pudak Wangi. Namun bagaimanapun bagi Sarayuda, baik Rara Wilis maupun Pudak Wangi sama sekali tidak ada bedanya.
Maka untuk beberapa lama Sarayuda tinggal bersama-sama dengan Ki Ageng Pandan Alas dan Pudak Wangi, untuk mendapat kesempatan pada suatu saat melahirkan perasaannya kepada Rara Wilis.
Pada malam itu, ketika udara malam yang sejuk membelai gubug kecil tempat tinggal Ki Ageng Pandan Alas bersama muridnya, Sarayuda tiba-tiba ingin melihat-lihat keadaan sekeliling bukit kecil itu. Maka segera ia menyiapkan kudanya, dan perlahan-lahan dinaikinya kuda itu tanpa tujuan.
Tiba-tiba ketika kudanya sampai di padang terbuka, Sarayuda mendengar sayup-sayup jerit seseorang. Cepat-cepat ia memacu kudanya ke arah suara itu. Dan yang dilihatnya adalah seorang anak yang diseret oleh tiga orang yang agaknya sama sekali tidak berperikemanusiaan.
Sarayuda mencoba untuk mencegah serta bertanya tentang anak itu, apakah sebab-musababnya. Tetapi sama sekali ia tidak mendapat jawaban. Malahan ketiga orang itu menyerangnya bersama-sama. Maka tidak ada jalan lain, kecuali melawannya. Malahan akhirnya ketiga orang itu binasa.
Ketika kemudian ia mengangkat anak itu, dan akan dibawanya kembali, kudanya telah berlari mendahului. Kemudian tanpa diduga-duganya datanglah Mahesa Jenar menyerangnya, sehingga mereka harus bertempur hampir separoh malam.
Kuda yang telah beberapa hari tinggal di rumah Ki Ageng Pandan Alas itu ternyata dapat menemukan jalan. Agaknya ia ketakutan dan terkejut ketika Sarayuda bertempur melawan tiga orang lawannya.
Pudak Wangi yang mengetahui bahwa kuda itu pulang tanpa penumpang menjadi agak cemas. Karena itu ia berusaha untuk mencarinya dengan menuruti jejak kudanya. Sehingga akhirnya dijumpainya Sarayuda dan Mahesa Jenar bersama-sama pingsan. Untunglah bahwa Pudak Wangi tidak terlambat, sehingga tidak terlanjur terjadi sesuatu.
Di rumah Ki Ageng Pandan Alas, Arya mendapat perawatan yang baik, sehingga dalam waktu yang singkat tampaklah bahwa tidak terlanjur terjadi sesuatu, baik Mahesa Jenar maupun Sarayuda. Ternyata bahwa Ki Ageng Pandan Alas mempunyai cukup pengetahuan pula dalam hal obat-obatan.
Meskipun tidak begitu sempurna, namun karena usianya yang telah lanjut serta pengalaman yang luas, maka banyak pula dedaunan dan akar-akar yang membuat kesehatannya telah hampir pulih kembali.
Atas permintaan Pandan Alas pula, maka Mahesa Jenar untuk beberapa lama tinggal di rumah itu sambil menunggu Arya Salaka sampai benar-benar sembuh.
Dalam waktu yang singkat itu, timbullah rasa persahabatan yang erat antara Mahesa Jenar dengan Sarayuda yang usianya hampir sebaya. Sarayuda mengagumi Mahesa Jenar sebagai seorang yang cerdas, bersikap dewasa serta banyak mempunyai ceritera-ceritera tentang kepahlawanan yang menarik. Sedang terhadap Sarayuda, Mahesa Jenar merasa berhutang budi yang tiada taranya. Juga karena sikap Sarayuda yang berterus terang, yang memancar dari lubuk hati tanpa pamrih.
Tetapi disamping itu, disamping perasaan yang bahagia, karena Arya telah terselamatkan, dan karena ia berkesempatan bertemu dengan Ki Ageng Pandan Alas dan bersahabat dengan muridnya, namun ada pula perasaan lain yang menusuk-nusuk dada Mahesa Jenar. Pertemuannya dengan Pudak Wangi pada kesempatan yang sama sekali tak diduganya itu, telah menimbulkan kenangan pada segenap peristiwa-peristiwa yang lalu, pada saat pertemuannya yang mula-mula sekali di hutan Tambak Baya. Suatu perasaan yang berbahagia pada saat ia dapat menyelamatkan gadis itu dari tangan Jaka Soka. Tetapi juga suatu kenangan yang seram, pada saat gadis itu hilang. Hampir saja ia membunuh orang yang sama sekali tak bersalah.
Mengingat hal-hal itu Mahesa Jenar tersenyum sendiri.
Beberapa saat kemudian, Ki Ageng Pandan Alas sengaja mempertemukannya dengan seorang pemuda baru yang bernama Pudak Wangi di Banyubiru.
Semuanya itu telah membuat Mahesa Jenar selalu diganggu oleh kenangan yang susul-menyusul, yang setiap kali terasa menggores jantungnya, serta meninggalkan bekas luka yang pedih.
Apalagi sekarang, pemuda yang bernama Pudak Wangi itu selalu berada di sekitarnya. Karena itu maka hatinya tidak pernah merasa tenteram. Bagaimanapun ia mencoba melupakan bayangan-bayangan yang selalu mengejarnya, serta bagaimanapun juga ia mencoba menasehati dirinya, bahwa yang berada di rumah itu adalah seorang pemuda, namun ia tidak dapat membohongi diri, tidak dapat mencabut kembali pengertiannya, bahwa Pudak Wangi itu adalah Rara Wilis.
Kadang-kadang Mahesa Jenar menjadi jengkel kepada dirinya sendiri. Kalau demikian maka untuk mengisi waktunya, supaya tidak selalu diganggu oleh perasaan-perasaan itu, Mahesa Jenar sering pergi berburu seorang diri, sebab Arya masih belum kuat benar untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang agak berat.
Dengan busur yang dapat dipinjamnya dari Pudak Wangi, Mahesa Jenar sering berburu.
Demikianlah pada suatu malam yang gelap, Mahesa Jenar telah mempersiapkan busur serta anak-panahnya. Kali ini ia ingin mendapatkan harimau. Sengaja ia tidak mengajak Sarayuda, supaya ia dapat berbuat sesuka hati tanpa ada yang mengganggunya.
Setelah ia minta diri kepada Arya, serta menyanggupinya untuk membawakan kulit harimau yang besar, maka berangkatlah Mahesa Jenar ke padang ilalang yang diseling-seling dengan semak-semak. Di tempat-tempat itulah biasanya berkeliaran harimau-harimau yang sedang mencari mangsa.
Angin malam yang bertiup lewat perbukitan, mengantarkan hawa yang segar. Di langit yang biru gelap, bintang-bintang bergantungan dengan riangnya. Beberapa kali lembaran-lembaran mega yang putih terapung-apung lewat, seperti rakit-rakit berkeliaran di danau yang luas.
Sekali dua kali Mahesa Jenar memandang ke arah langit yang terbentang di atas kepalanya. Alangkah luasnya. Dengan memandang ke arah langit serta benda-benda angkasa yang tiada taranya itu, terasa betapa kecilnya manusia ini. Tidak lebih dari satu titik pada sebuah bidang seluas kerajaan Demak. Apalagi kalau kita hadapkan hati kita kepada Sang Pencipta. Maka manusia itu benar-benar sama sekali tak berarti.
Ketika Mahesa Jenar sedang mengagumi keperkasaan alam, tiba-tiba terdengarlah oleh telinganya yang sangat tajam itu, langkah orang mengikutinya. Dengan hati-hati sekali Mahesa Jenar memperhatikan langkah itu dengan saksama. Sampai akhirnya dengan gerakan yang cepat sekali Mahesa Jenar menghentikan langkahnya serta membalikkan diri. Tetapi demikian ia menghadap orang yang mengikutinya itu, debar dadanya berubah menjadi suatu perasaan heran. Sebab yang berdiri di hadapannya adalah Pudak Wangi.
Untuk sesaat mereka saling berdiam diri. Pudak Wangi menundukkan wajahnya, sedang jari-jarinya bermain-main pada ujung bajunya. Baru beberapa lama kemudian Mahesa Jenar dengan agak tergagap bertanya,
Mendengar kata-kata Mahesa Jenar, kembali Pudak Wangi menundukkan wajahnya malu. Tetapi sesaat kemudian ia menjawab,
Sedang apabila Ki Ageng Pandan Alas berada di rumah, maka hampir setiap saat, siang dan malam, ia membentuk Pudak Wangi yang sebenarnya adalah Rara Wilis, untuk menjadi seorang yang berilmu. Ia ingin merebut kembali ayah Rara Wilis dari dunia kejahatan dengan mempergunakan keperwiraan Rara Wilis yang diharapkan dapat menandingi ibu tirinya, anak Sima Rodra tua dari Lodaya. Dalam pondok itulah Rara Wilis mengalami penggemblengan.
Beberapa lama kemudian, datanglah seorang pemuda dari Gunung Kidul. Sarayuda, yang pada masa kanak-kanaknya menjadi kawan bermain Rara Wilis. Pemuda itu adalah murid Ki Ageng Pandan Alas. Ketika masa berguru sudah cukup, maka beberapa lama Sarayuda diajaknya merantau untuk mendapat pengalaman. Setelah beberapa lama kemudian, disuruhnya Sarayuda kembali ke Gunung Kidul untuk menerima warisan orang tuanya, yaitu kedudukan sebagai Demang di Gunung Kidul.
Pada saat Rara Wilis menjadi dewasa, Sarayuda merasa bahwa persahabatannya dengan Rara Wilis telah mengalami perubahan. Perasaannya sebagai pemuda kadang-kadang tersentuh-sentuh dengan tajamnya. Tetapi belum lagi Sarayuda mengatakan sesuatu, terjadilah malapetaka yang menimpa Rara Wilis. Ibunya meninggal dunia. Terpaksa ia menyabarkan diri untuk beberapa saat, sehingga masa berkabung itu lampau.
Tetapi tanpa diduganya, pada suatu hari Rara Wilis pergi meninggalkan Gunung Kidul. Tak seorang pun yang mengetahui ke mana arah tujuannya. Meskipun Sarayuda telah memerintahkan beberapa orang untuk mencarinya, namun selalu sia-sia saja.
Karena itu, untuk memenuhi tuntutan perasaannya yang tak dapat dibendung lagi, maka pada suatu hari Sarayuda sendirilah yang pergi untuk menemukan Rara Wilis. Karena Sarayuda memiliki pengalaman yang cukup, maka meskipun dengan susah payah, bertanya kesana-kemari, akhirnya ia mendapatkan beberapa keterangan yang meskipun samar-samar tentang seorang gadis yang berjalan seorang diri. Tetapi untuk beberapa lama ia kehilangan jejak.
Ia telah mencoba mencari Ki Ageng Pandan Alas ke Pliridan, Wanasaba, dan ke tempat-tempat yang pernah dikunjunginya dahulu. Namun Ki Ageng Pandan Alas tidak dapat ditemuinya. Ia yakin bahwa Ki Ageng Pandan Alas tidak akan membiarkan cucunya itu merantau tanpa tujuan. Pada suatu saat pasti Rara Wilis akan berada bersama-sama dengan Ki Ageng Pandan Alas.
Pada suatu saat di lereng Gunung Sumbing, pada saat ia sedang beristirahat di sebuah goa yang pernah dikunjungi bersama dengan gurunya, datanglah seorang yang juga akan berteduh di tempat itu. Dan ternyata, orang itulah Ki Ageng Pandan Alas.
Betapa girang hati Sarayuda bertemu dengan gurunya tanpa disangka-sangka.
Seterusnya Sarayuda menyertai Ki Ageng Pandan Alas, kembali ke pondoknya, ke tempat ia meninggalkan Rara Wilis yang telah berubah menjadi Pudak Wangi. Namun bagaimanapun bagi Sarayuda, baik Rara Wilis maupun Pudak Wangi sama sekali tidak ada bedanya.
Maka untuk beberapa lama Sarayuda tinggal bersama-sama dengan Ki Ageng Pandan Alas dan Pudak Wangi, untuk mendapat kesempatan pada suatu saat melahirkan perasaannya kepada Rara Wilis.
Pada malam itu, ketika udara malam yang sejuk membelai gubug kecil tempat tinggal Ki Ageng Pandan Alas bersama muridnya, Sarayuda tiba-tiba ingin melihat-lihat keadaan sekeliling bukit kecil itu. Maka segera ia menyiapkan kudanya, dan perlahan-lahan dinaikinya kuda itu tanpa tujuan.
Tiba-tiba ketika kudanya sampai di padang terbuka, Sarayuda mendengar sayup-sayup jerit seseorang. Cepat-cepat ia memacu kudanya ke arah suara itu. Dan yang dilihatnya adalah seorang anak yang diseret oleh tiga orang yang agaknya sama sekali tidak berperikemanusiaan.
Sarayuda mencoba untuk mencegah serta bertanya tentang anak itu, apakah sebab-musababnya. Tetapi sama sekali ia tidak mendapat jawaban. Malahan ketiga orang itu menyerangnya bersama-sama. Maka tidak ada jalan lain, kecuali melawannya. Malahan akhirnya ketiga orang itu binasa.
Ketika kemudian ia mengangkat anak itu, dan akan dibawanya kembali, kudanya telah berlari mendahului. Kemudian tanpa diduga-duganya datanglah Mahesa Jenar menyerangnya, sehingga mereka harus bertempur hampir separoh malam.
Kuda yang telah beberapa hari tinggal di rumah Ki Ageng Pandan Alas itu ternyata dapat menemukan jalan. Agaknya ia ketakutan dan terkejut ketika Sarayuda bertempur melawan tiga orang lawannya.
Pudak Wangi yang mengetahui bahwa kuda itu pulang tanpa penumpang menjadi agak cemas. Karena itu ia berusaha untuk mencarinya dengan menuruti jejak kudanya. Sehingga akhirnya dijumpainya Sarayuda dan Mahesa Jenar bersama-sama pingsan. Untunglah bahwa Pudak Wangi tidak terlambat, sehingga tidak terlanjur terjadi sesuatu.
Di rumah Ki Ageng Pandan Alas, Arya mendapat perawatan yang baik, sehingga dalam waktu yang singkat tampaklah bahwa tidak terlanjur terjadi sesuatu, baik Mahesa Jenar maupun Sarayuda. Ternyata bahwa Ki Ageng Pandan Alas mempunyai cukup pengetahuan pula dalam hal obat-obatan.
Meskipun tidak begitu sempurna, namun karena usianya yang telah lanjut serta pengalaman yang luas, maka banyak pula dedaunan dan akar-akar yang membuat kesehatannya telah hampir pulih kembali.
Atas permintaan Pandan Alas pula, maka Mahesa Jenar untuk beberapa lama tinggal di rumah itu sambil menunggu Arya Salaka sampai benar-benar sembuh.
Dalam waktu yang singkat itu, timbullah rasa persahabatan yang erat antara Mahesa Jenar dengan Sarayuda yang usianya hampir sebaya. Sarayuda mengagumi Mahesa Jenar sebagai seorang yang cerdas, bersikap dewasa serta banyak mempunyai ceritera-ceritera tentang kepahlawanan yang menarik. Sedang terhadap Sarayuda, Mahesa Jenar merasa berhutang budi yang tiada taranya. Juga karena sikap Sarayuda yang berterus terang, yang memancar dari lubuk hati tanpa pamrih.
Tetapi disamping itu, disamping perasaan yang bahagia, karena Arya telah terselamatkan, dan karena ia berkesempatan bertemu dengan Ki Ageng Pandan Alas dan bersahabat dengan muridnya, namun ada pula perasaan lain yang menusuk-nusuk dada Mahesa Jenar. Pertemuannya dengan Pudak Wangi pada kesempatan yang sama sekali tak diduganya itu, telah menimbulkan kenangan pada segenap peristiwa-peristiwa yang lalu, pada saat pertemuannya yang mula-mula sekali di hutan Tambak Baya. Suatu perasaan yang berbahagia pada saat ia dapat menyelamatkan gadis itu dari tangan Jaka Soka. Tetapi juga suatu kenangan yang seram, pada saat gadis itu hilang. Hampir saja ia membunuh orang yang sama sekali tak bersalah.
Mengingat hal-hal itu Mahesa Jenar tersenyum sendiri.
Beberapa saat kemudian, Ki Ageng Pandan Alas sengaja mempertemukannya dengan seorang pemuda baru yang bernama Pudak Wangi di Banyubiru.
Semuanya itu telah membuat Mahesa Jenar selalu diganggu oleh kenangan yang susul-menyusul, yang setiap kali terasa menggores jantungnya, serta meninggalkan bekas luka yang pedih.
Apalagi sekarang, pemuda yang bernama Pudak Wangi itu selalu berada di sekitarnya. Karena itu maka hatinya tidak pernah merasa tenteram. Bagaimanapun ia mencoba melupakan bayangan-bayangan yang selalu mengejarnya, serta bagaimanapun juga ia mencoba menasehati dirinya, bahwa yang berada di rumah itu adalah seorang pemuda, namun ia tidak dapat membohongi diri, tidak dapat mencabut kembali pengertiannya, bahwa Pudak Wangi itu adalah Rara Wilis.
Kadang-kadang Mahesa Jenar menjadi jengkel kepada dirinya sendiri. Kalau demikian maka untuk mengisi waktunya, supaya tidak selalu diganggu oleh perasaan-perasaan itu, Mahesa Jenar sering pergi berburu seorang diri, sebab Arya masih belum kuat benar untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang agak berat.
Dengan busur yang dapat dipinjamnya dari Pudak Wangi, Mahesa Jenar sering berburu.
Demikianlah pada suatu malam yang gelap, Mahesa Jenar telah mempersiapkan busur serta anak-panahnya. Kali ini ia ingin mendapatkan harimau. Sengaja ia tidak mengajak Sarayuda, supaya ia dapat berbuat sesuka hati tanpa ada yang mengganggunya.
Setelah ia minta diri kepada Arya, serta menyanggupinya untuk membawakan kulit harimau yang besar, maka berangkatlah Mahesa Jenar ke padang ilalang yang diseling-seling dengan semak-semak. Di tempat-tempat itulah biasanya berkeliaran harimau-harimau yang sedang mencari mangsa.
Angin malam yang bertiup lewat perbukitan, mengantarkan hawa yang segar. Di langit yang biru gelap, bintang-bintang bergantungan dengan riangnya. Beberapa kali lembaran-lembaran mega yang putih terapung-apung lewat, seperti rakit-rakit berkeliaran di danau yang luas.
Sekali dua kali Mahesa Jenar memandang ke arah langit yang terbentang di atas kepalanya. Alangkah luasnya. Dengan memandang ke arah langit serta benda-benda angkasa yang tiada taranya itu, terasa betapa kecilnya manusia ini. Tidak lebih dari satu titik pada sebuah bidang seluas kerajaan Demak. Apalagi kalau kita hadapkan hati kita kepada Sang Pencipta. Maka manusia itu benar-benar sama sekali tak berarti.
Ketika Mahesa Jenar sedang mengagumi keperkasaan alam, tiba-tiba terdengarlah oleh telinganya yang sangat tajam itu, langkah orang mengikutinya. Dengan hati-hati sekali Mahesa Jenar memperhatikan langkah itu dengan saksama. Sampai akhirnya dengan gerakan yang cepat sekali Mahesa Jenar menghentikan langkahnya serta membalikkan diri. Tetapi demikian ia menghadap orang yang mengikutinya itu, debar dadanya berubah menjadi suatu perasaan heran. Sebab yang berdiri di hadapannya adalah Pudak Wangi.
Untuk sesaat mereka saling berdiam diri. Pudak Wangi menundukkan wajahnya, sedang jari-jarinya bermain-main pada ujung bajunya. Baru beberapa lama kemudian Mahesa Jenar dengan agak tergagap bertanya,
Quote:
"Akan ke manakah Adi Pudak Wangi malam-malam begini?"
Pudak Wangi tidak segera menyahut.
Kemudian ia bertanya,
"Bukankah Kakang Mahesa Jenar hendak berburu?"
Mahesa Jenar mengangguk mengiyakan.
"Kalau demikian aku akan pergi berburu pula," lanjut Pudak Wangi.
Maka terloncatlah jawaban Mahesa Jenar tanpa sadar,
"Adi… aku kira tidaklah pantas kalau kau berjalan-jalan di malam hari, serta berburu pula bersama aku."
Pudak Wangi tidak segera menyahut.
Kemudian ia bertanya,
"Bukankah Kakang Mahesa Jenar hendak berburu?"
Mahesa Jenar mengangguk mengiyakan.
"Kalau demikian aku akan pergi berburu pula," lanjut Pudak Wangi.
Maka terloncatlah jawaban Mahesa Jenar tanpa sadar,
"Adi… aku kira tidaklah pantas kalau kau berjalan-jalan di malam hari, serta berburu pula bersama aku."
Mendengar kata-kata Mahesa Jenar, kembali Pudak Wangi menundukkan wajahnya malu. Tetapi sesaat kemudian ia menjawab,
Quote:
"Kakang Mahesa Jenar…, kalau Kakang boleh berburu pada malam hari, apa sebabnya aku tidak…? Adakah bedanya…?"
uken276 dan 11 lainnya memberi reputasi
12
Kutip
Balas