- Beranda
- Stories from the Heart
Naga Sasra & Sabuk Inten
...
TS
nandeko
Naga Sasra & Sabuk Inten

NAGA SASRA & SABUK INTEN
Kisah ini merupakan karangan dari S.H Mintardja. Disini TS sudah mendapatkan ijin untuk sekedar membagikan dan mempermudahkan pembaca untuk menikmati kisah ini dalam bentuk digital
INDEX
Quote:
Spoiler for JILID 1:
Spoiler for JILID 2:
Spoiler for JILID 3:
Spoiler for JILID 4:
Spoiler for JILID 5:
Spoiler for JILID 6:
Part 114
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Spoiler for JILID 7:
Spoiler for JILID 8:
Spoiler for JILID 9:
Spoiler for JILID 10:
Pengarang dan Hakcipta©
Singgih Hadi Mintardja
Singgih Hadi Mintardja
Diubah oleh nandeko 21-10-2021 14:24
whadi05 dan 43 lainnya memberi reputasi
42
63.6K
Kutip
1.2K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
nandeko
#215
Jilid 7 [Part 156]
Spoiler for :
KI PANILING segera memotong,
Mendengar pertanyaan Paniling, Mahesa Jenar seakan-akan disadarkan dari kekhilafannya. Segera ia mulai memperkenalkan satu persatu sahabat-sahabatnya yang telah bersama-sama melakukan suatu pekerjaan yang berbahaya.
Dan kepada sahabat-sahabatnya, Mahesa Jenar memperkenalkan Paniling dan Darba sebagai dua orang petani yang sakti, yang telah menolong jiwanya untuk kedua kalinya. Namun sama sekali tidak disinggung-singgungnya bahwa Paniling itulah yang dahulu pernah mengenakan jubah abu-abu dan kedok yang kasar, dan yang menamakan diri Pasingsingan.
Setelah mereka saling memperkenalkan diri, maka berkatalah Paniling,
Kembali Mahesa Jenar seperti orang yang tersadar dari mimpi. Segera ia ingat kepada Arya, anak yang sampai sekarang masih menjadi buruan pamannya sendiri. Karena itu tiba-tiba hatinya menjadi tidak tenteram. Meskipun Arya kini telah berada di tempat yang jauh, namun mungkin saja orang-orang Lembu Sora akan sampai ke sana.
Maka setelah Paniling dan Darba pergi meninggalkan mereka, segera mereka mengadakan pembicaraan tentang pekerjaan-pekerjaan apa yang harus dilakukan oleh mereka masing-masing.
Gajah Alit dan Paningron harus segera kembali ke Demak untuk melaporkan segala kejadian di tepi Rawa Pening itu. Melaporkan tentang kebenaran laporan mengenai adanya golongan hitam yang kuat dan berbahaya bagi ketenteraman negara. Dengan manyaksikan serta mengalami sendiri, Paningron serta Gajah Alit harus percaya, bahwa orang yang bernama Pasingsingan dan Sima Rodra, tetua dari golongan hitam, termasuk orang yang tak dapat diabaikan, meskipun jumlah orang-orang yang demikian itu tidak banyak.
Demikianlah maka segera Paningron dan Gajah Alit mohon diri. Mahesa Jenar melepaskan mereka berdua dengan pesan agar untuk sementara dirinya jangan tersinggung-singgung pula dalam laporan mereka, sebab ia masih belum mempunyai keinginan untuk kembali ke Demak sebelum Nagasasra dan Sabuk Inten diketemukan. Juga Mahesa Jenar mempergunakan kesempatan itu untuk menitipkan bukti-bukti tentang kebenaran alasan-alasan Gajah Sora, bahwa ia tidak mampu mempertahankan kedua keris itu dari usaha-usaha golongan lain untuk memilikinya.
Bagaimanapun hebatnya Gajah Sora, yang pernah menerima hadiah pusaka sebuah tombak yang bernama Kyai Bancak, namun menghadapi orang-orang seperti Pasingsingan dan Sima Rodra, maka Gajah Sora tidak lebih dari seorang anak-anak yang baru saja dapat berjalan.
Dalam pada itu Wiraraga pun minta diri untuk kembali ke Wanakerta bersama-sama dengan Ki Dalang Mantingan. Tetapi sebelum mereka berangkat, Mahesa Jenar minta kepada Ki Dalang Mantingan untuk membantu mengawasi tanah perdikan Banyubiru.
Dalam kedudukannya sebagai seorang dalang maka ia akan lebih leluasa bergerak di mana saja.
Maka setelah segala pembicaraan selesai, berpisahanlah mereka. Masing-masing ke arah tujuan masing-masing. Gajah Alit dan Paningron kembali ke Demak, Wiraraga dan Mantingan ke Wanakerta lewat Banyubiru.
Sedangkan Mahesa Jenar harus segera kembali kepada Arya Salaka yang telah beberapa hari ditinggalkan seorang diri, dan hanya dititipkan kepada para tetangga yang baik hati.
Mengingat kata-kata Ki Paniling, hati Mahesa Jenar tiba-tiba menjadi berdebar-debar. Memang sebenarnyalah pasti Lembu Sora tetap akan berusaha untuk membunuh Arya. Sebab sepeninggal Gajah Sora, Aryalah yang paling berhak atas tanah perdikan Banyubiru. Sedang apabila Arya ini dilenyapkan, maka keturunan Sora Dipayana tidak ada lain tinggal Lembu Sora seorang diri. Dengan demikian maka Banyubiru dengan sendirinya akan jatuh ke tangan orang itu.
Mengingat hal itu semuanya, maka segera Mahesa Jenar mempercepat langkahnya untuk dapat segera sampai ke rumah, dimana Arya ditinggalkan. Di perjalanan pulang itu hati Mahesa Jenar menjadi tidak tenteram. Ia telah menyatakan kesanggupannya kepada Gajah Sora untuk memelihara anak itu, serta mendidiknya dan mengajarinya dalam olah kanuragan sehingga anak itu kelak dapat menjadi orang yang berguna.
Ketika burung-burung menyambut fajar yang segar dalam belaian angin pagi yang bertiup halus dari pegunungan serta melintasi lembah-lembah, Mahesa Jenar masih tetap berjalan cepat-cepat. Seakan-akan kesegaran fajar itu tak terasa baginya. Namun meskipun demikian, sinar matahari pagi yang memancar cerah, dapat menimbulkan perasaan yang cerah pula. Karena itu Mahesa Jenar mempercepat langkahnya. Karena perasaannya yang kecemasan, ia sama sekali tak dipengaruhi oleh kelelahannya.
Demikianlah seharian Mahesa Jenar berjalan terus. Hanya sekali dua ia berhenti untuk mencari sumber air, apabila terasa lehernya disekat dahaga, serta kemudian untuk beberapa saat ia menyegarkan tubuhnya dengan duduk-duduk sejenak. Hanya sejenak, sebab ia tidak dapat membiarkan perasaannya diburu oleh kegelisahan. Karena itu, dengan tergesa-gesa segera Mahesa Jenar melanjutkan perjalanannya pula.
Demikian pula ketika matahari yang lelah setelah menempuh peredarannya sehari penuh itu menjelang garis pertemuan langit dan bumi, serta sebentar lagi seolah-olah tenggelam ditelan garis pemisah itu. Mahesa Jenar sama sekali tidak peduli.
MESKIPUN perlahan-lahan, karena gelapnya malam kemudian mentakbiri bumi, Mahesa Jenar tetap berjalan terus di bawah sinar bulan yang baru saja lewat purnama penuh.
Maka di pertengahan malam, Mahesa Jenar melihat cahaya pelita yang berpancaran di sebuah dusun yang kecil. Itulah desa dimana Arya ditinggalkannya.
Melihat nyala pelita yang seolah-olah melambai-lambai meneriakkan nama Arya Salaka, hati Mahesa Jenar menjadi berdebar-debar. Meskipun Salaka itu bukan sanak dan bukan kadang, namun telah dianggapnya sebagai anak sendiri. Apalagi mengingat segala pesan-pesan dari Gajah Sora. Maka pertanggungjawaban anak itu seluruhnya ada padanya.
Tetapi semakin dekat Mahesa Jenar dengan desa itu, hatinya menjadi semakin gelisah. Rasa-rasanya ada sesuatu yang tidak menyenangkan. Ia seakan-akan mendapat suatu firasat yang tidak baik.
Demikianlah dengan gelisah dan setengah berlari Mahesa Jenar memasuki desanya yang kecil, yang biasanya selalu diliputi oleh suasana tenteram dan damai. Tetapi pada malam itu, tampaklah beberapa kesibukan yang aneh. Dari jarak yang semakin dekat, Mahesa Jenar melihat beberapa orang berjalan cepat-cepat dengan membawa obor, dan yang lebih mengejutkan lagi mereka menuju ke sebuah gubuk kecil di sudut desa itu. Itulah rumah yang dibangunnya, serta ditinggalinya bersama-sama dengan Arya.
Dengan berlari-lari kecil Mahesa Jenar melintas pematang untuk segera dapat sampai ke rumahnya.
Demikian ia sampai ke ambang pintu, demikian semua mata memandanginya dengan keheranan, seolah-olah tidak sewajarnyalah kalau ia datang pada malam itu. Baru sesaat kemudian seorang diantara mereka dapat menguasai dirinya.
Hati Mahesa Jenar sama sekali tidak enak mendengar kata-kata itu. Kata-kata yang mengandung perasaan yang iba. Apalagi ketika ia memandangi setiap wajah yang berada di dalam rumah itu. Arya Salaka tidak ada.
Sekali lagi ia meneliti setiap orang yang berada di dalam ruangan gubugnya, namun Arya Salaka tetap tidak tampak. Tiba-tiba berdesirlah jantung di dalam dadanya. Dan, dengan suara yang bergetar ia bertanya,
Serentak semua mata memandang kepadanya dengan pandangan penuh iba. Salah seorang diantaranya, setelah beberapa lama baru dapat menjawab pertanyaan itu dengan kata yang terputus-putus.
Tiba-tiba darah Mahesa Jenar menggelegak hebat. Jantungnya berdentang menggoncangkan dada. Matanya yang sayu karena kelelahan berubah seperti bara api.
Tetapi Mahesa Jenar sudah tidak dapat mendengar kata-kata itu. Matanya yang membara itu sesaat beredar ke wajah-wajah para petani kecil yang baik hati serta ramah tamah. Hanya sesaat, sebab sekejap kemudian seperti orang kehilangan akal, Mahesa Jenar meloncat berlari ke luar halaman.
Beberapa orang kemudian memburunya sambil berteriak-teriak,
Mahesa Jenar tertegun sejenak. Ia menjadi agak bingung, ke mana arah yang harus dianut kalau ia mau menyusul Arya. Lalu katanya hampir berteriak,
Mahesa Jenar tidak menunggu kata-kata itu berakhir. Segera ia meloncat dan berlari kencang-kencang ke arah yang ditunjukkan oleh tetangga-tetangganya. Lamat-lamat ia masih mendengar orang-orang itu berteriak,
Namun bagi Mahesa Jenar suara-suara itu tidak lebih dari suara berdesirnya daun-daun kering yang rontok oleh angin malam yang kencang. Karena itu justru ia mempercepat larinya seperti orang yang kehilangan akal, semakin lama semakin cepat.
Sesaat kemudian Mahesa Jenar sampai ke padang rumput yang luas. Di sana-sini terdapat padas. Di bawah cahaya bulan yang hampir penuh, Mahesa Jenar dapat memandang ke arah yang agak jauh. Tetapi matanya yang tajam tak dapat menangkap apapun kecuali puntuk-puntuk yang seolah-olah gelembung-gelembung yang tumbuh dari dalam tanah yang sedang mendidih. Ia bertambah cemas.
Bagaimanakah keadaan Arya Salaka…? Apakah ia dibawa ke padang rumput itu.., atau ke mana…?
Quote:
"Sudahlah Adi Darba, aku minta maaf kalau aku membuat kau kecewa. Sekarang yang penting adalah usaha untuk menemukan kembali keris yang hilang itu."
"Mahesa Jenar…" sambung Paniling,
"Apakah kau tidak memperkenalkan sahabat-sahabatmu itu kepadaku?"
"Mahesa Jenar…" sambung Paniling,
"Apakah kau tidak memperkenalkan sahabat-sahabatmu itu kepadaku?"
Mendengar pertanyaan Paniling, Mahesa Jenar seakan-akan disadarkan dari kekhilafannya. Segera ia mulai memperkenalkan satu persatu sahabat-sahabatnya yang telah bersama-sama melakukan suatu pekerjaan yang berbahaya.
Dan kepada sahabat-sahabatnya, Mahesa Jenar memperkenalkan Paniling dan Darba sebagai dua orang petani yang sakti, yang telah menolong jiwanya untuk kedua kalinya. Namun sama sekali tidak disinggung-singgungnya bahwa Paniling itulah yang dahulu pernah mengenakan jubah abu-abu dan kedok yang kasar, dan yang menamakan diri Pasingsingan.
Setelah mereka saling memperkenalkan diri, maka berkatalah Paniling,
Quote:
"Mahesa Jenar, aku kira kerjaku untuk kali ini sudah selesai. Aku dan pamanmu Darba akan segera kembali. Tetapi pesanku, janganlah terlalu lama anak pungutmu kau tinggalkan. Sebab bagaimanapun juga, banyaklah bahaya yang mengancam anak itu."
Kembali Mahesa Jenar seperti orang yang tersadar dari mimpi. Segera ia ingat kepada Arya, anak yang sampai sekarang masih menjadi buruan pamannya sendiri. Karena itu tiba-tiba hatinya menjadi tidak tenteram. Meskipun Arya kini telah berada di tempat yang jauh, namun mungkin saja orang-orang Lembu Sora akan sampai ke sana.
Maka setelah Paniling dan Darba pergi meninggalkan mereka, segera mereka mengadakan pembicaraan tentang pekerjaan-pekerjaan apa yang harus dilakukan oleh mereka masing-masing.
Gajah Alit dan Paningron harus segera kembali ke Demak untuk melaporkan segala kejadian di tepi Rawa Pening itu. Melaporkan tentang kebenaran laporan mengenai adanya golongan hitam yang kuat dan berbahaya bagi ketenteraman negara. Dengan manyaksikan serta mengalami sendiri, Paningron serta Gajah Alit harus percaya, bahwa orang yang bernama Pasingsingan dan Sima Rodra, tetua dari golongan hitam, termasuk orang yang tak dapat diabaikan, meskipun jumlah orang-orang yang demikian itu tidak banyak.
Demikianlah maka segera Paningron dan Gajah Alit mohon diri. Mahesa Jenar melepaskan mereka berdua dengan pesan agar untuk sementara dirinya jangan tersinggung-singgung pula dalam laporan mereka, sebab ia masih belum mempunyai keinginan untuk kembali ke Demak sebelum Nagasasra dan Sabuk Inten diketemukan. Juga Mahesa Jenar mempergunakan kesempatan itu untuk menitipkan bukti-bukti tentang kebenaran alasan-alasan Gajah Sora, bahwa ia tidak mampu mempertahankan kedua keris itu dari usaha-usaha golongan lain untuk memilikinya.
Bagaimanapun hebatnya Gajah Sora, yang pernah menerima hadiah pusaka sebuah tombak yang bernama Kyai Bancak, namun menghadapi orang-orang seperti Pasingsingan dan Sima Rodra, maka Gajah Sora tidak lebih dari seorang anak-anak yang baru saja dapat berjalan.
Dalam pada itu Wiraraga pun minta diri untuk kembali ke Wanakerta bersama-sama dengan Ki Dalang Mantingan. Tetapi sebelum mereka berangkat, Mahesa Jenar minta kepada Ki Dalang Mantingan untuk membantu mengawasi tanah perdikan Banyubiru.
Dalam kedudukannya sebagai seorang dalang maka ia akan lebih leluasa bergerak di mana saja.
Maka setelah segala pembicaraan selesai, berpisahanlah mereka. Masing-masing ke arah tujuan masing-masing. Gajah Alit dan Paningron kembali ke Demak, Wiraraga dan Mantingan ke Wanakerta lewat Banyubiru.
Sedangkan Mahesa Jenar harus segera kembali kepada Arya Salaka yang telah beberapa hari ditinggalkan seorang diri, dan hanya dititipkan kepada para tetangga yang baik hati.
Mengingat kata-kata Ki Paniling, hati Mahesa Jenar tiba-tiba menjadi berdebar-debar. Memang sebenarnyalah pasti Lembu Sora tetap akan berusaha untuk membunuh Arya. Sebab sepeninggal Gajah Sora, Aryalah yang paling berhak atas tanah perdikan Banyubiru. Sedang apabila Arya ini dilenyapkan, maka keturunan Sora Dipayana tidak ada lain tinggal Lembu Sora seorang diri. Dengan demikian maka Banyubiru dengan sendirinya akan jatuh ke tangan orang itu.
Mengingat hal itu semuanya, maka segera Mahesa Jenar mempercepat langkahnya untuk dapat segera sampai ke rumah, dimana Arya ditinggalkan. Di perjalanan pulang itu hati Mahesa Jenar menjadi tidak tenteram. Ia telah menyatakan kesanggupannya kepada Gajah Sora untuk memelihara anak itu, serta mendidiknya dan mengajarinya dalam olah kanuragan sehingga anak itu kelak dapat menjadi orang yang berguna.
Ketika burung-burung menyambut fajar yang segar dalam belaian angin pagi yang bertiup halus dari pegunungan serta melintasi lembah-lembah, Mahesa Jenar masih tetap berjalan cepat-cepat. Seakan-akan kesegaran fajar itu tak terasa baginya. Namun meskipun demikian, sinar matahari pagi yang memancar cerah, dapat menimbulkan perasaan yang cerah pula. Karena itu Mahesa Jenar mempercepat langkahnya. Karena perasaannya yang kecemasan, ia sama sekali tak dipengaruhi oleh kelelahannya.
Demikianlah seharian Mahesa Jenar berjalan terus. Hanya sekali dua ia berhenti untuk mencari sumber air, apabila terasa lehernya disekat dahaga, serta kemudian untuk beberapa saat ia menyegarkan tubuhnya dengan duduk-duduk sejenak. Hanya sejenak, sebab ia tidak dapat membiarkan perasaannya diburu oleh kegelisahan. Karena itu, dengan tergesa-gesa segera Mahesa Jenar melanjutkan perjalanannya pula.
Demikian pula ketika matahari yang lelah setelah menempuh peredarannya sehari penuh itu menjelang garis pertemuan langit dan bumi, serta sebentar lagi seolah-olah tenggelam ditelan garis pemisah itu. Mahesa Jenar sama sekali tidak peduli.
MESKIPUN perlahan-lahan, karena gelapnya malam kemudian mentakbiri bumi, Mahesa Jenar tetap berjalan terus di bawah sinar bulan yang baru saja lewat purnama penuh.
Maka di pertengahan malam, Mahesa Jenar melihat cahaya pelita yang berpancaran di sebuah dusun yang kecil. Itulah desa dimana Arya ditinggalkannya.
Melihat nyala pelita yang seolah-olah melambai-lambai meneriakkan nama Arya Salaka, hati Mahesa Jenar menjadi berdebar-debar. Meskipun Salaka itu bukan sanak dan bukan kadang, namun telah dianggapnya sebagai anak sendiri. Apalagi mengingat segala pesan-pesan dari Gajah Sora. Maka pertanggungjawaban anak itu seluruhnya ada padanya.
Tetapi semakin dekat Mahesa Jenar dengan desa itu, hatinya menjadi semakin gelisah. Rasa-rasanya ada sesuatu yang tidak menyenangkan. Ia seakan-akan mendapat suatu firasat yang tidak baik.
Demikianlah dengan gelisah dan setengah berlari Mahesa Jenar memasuki desanya yang kecil, yang biasanya selalu diliputi oleh suasana tenteram dan damai. Tetapi pada malam itu, tampaklah beberapa kesibukan yang aneh. Dari jarak yang semakin dekat, Mahesa Jenar melihat beberapa orang berjalan cepat-cepat dengan membawa obor, dan yang lebih mengejutkan lagi mereka menuju ke sebuah gubuk kecil di sudut desa itu. Itulah rumah yang dibangunnya, serta ditinggalinya bersama-sama dengan Arya.
Dengan berlari-lari kecil Mahesa Jenar melintas pematang untuk segera dapat sampai ke rumahnya.
Demikian ia sampai ke ambang pintu, demikian semua mata memandanginya dengan keheranan, seolah-olah tidak sewajarnyalah kalau ia datang pada malam itu. Baru sesaat kemudian seorang diantara mereka dapat menguasai dirinya.
Quote:
"Anakmas Mahesa Jenar, marilah…, marilah duduk dahulu," katanya.
Hati Mahesa Jenar sama sekali tidak enak mendengar kata-kata itu. Kata-kata yang mengandung perasaan yang iba. Apalagi ketika ia memandangi setiap wajah yang berada di dalam rumah itu. Arya Salaka tidak ada.
Sekali lagi ia meneliti setiap orang yang berada di dalam ruangan gubugnya, namun Arya Salaka tetap tidak tampak. Tiba-tiba berdesirlah jantung di dalam dadanya. Dan, dengan suara yang bergetar ia bertanya,
Quote:
"Di manakah anakku, Arya Salaka?"
Serentak semua mata memandang kepadanya dengan pandangan penuh iba. Salah seorang diantaranya, setelah beberapa lama baru dapat menjawab pertanyaan itu dengan kata yang terputus-putus.
Quote:
"Angger, duduklah dahulu, nanti kami kabarkan di mana anakmu berada."
Mendengar jawaban itu, Mahesa Jenar menjadi semakin gelisah.
"Di manakah Arya Salaka?" desaknya.
"Angger…" jawab yang lain,
"Maafkanlah kami sebelumnya, bahwa kami tidak dapat memenuhi harapan Angger untuk melindungi anak itu. Baru tadi hal itu terjadi. Ketika beberapa orang bersenjata datang ke rumah ini menjelang senja. Dengan kekerasan mereka membawa Arya. Kami telah berusaha menggagalkan maksud mereka. Tetapi kami adalah petani-petani yang tak berarti seperti kau juga. Karena itu kami sama sekali tidak berdaya untuk menahannya."
Mendengar jawaban itu, Mahesa Jenar menjadi semakin gelisah.
"Di manakah Arya Salaka?" desaknya.
"Angger…" jawab yang lain,
"Maafkanlah kami sebelumnya, bahwa kami tidak dapat memenuhi harapan Angger untuk melindungi anak itu. Baru tadi hal itu terjadi. Ketika beberapa orang bersenjata datang ke rumah ini menjelang senja. Dengan kekerasan mereka membawa Arya. Kami telah berusaha menggagalkan maksud mereka. Tetapi kami adalah petani-petani yang tak berarti seperti kau juga. Karena itu kami sama sekali tidak berdaya untuk menahannya."
Tiba-tiba darah Mahesa Jenar menggelegak hebat. Jantungnya berdentang menggoncangkan dada. Matanya yang sayu karena kelelahan berubah seperti bara api.
Quote:
"Duduklah Ngger, kata yang lain pula. Biarlah kita bicarakan bagaimana caranya untuk dapat mencari anakmu itu."
Tetapi Mahesa Jenar sudah tidak dapat mendengar kata-kata itu. Matanya yang membara itu sesaat beredar ke wajah-wajah para petani kecil yang baik hati serta ramah tamah. Hanya sesaat, sebab sekejap kemudian seperti orang kehilangan akal, Mahesa Jenar meloncat berlari ke luar halaman.
Beberapa orang kemudian memburunya sambil berteriak-teriak,
Quote:
"Tunggulah Angger…, tunggulah…."
Mahesa Jenar tertegun sejenak. Ia menjadi agak bingung, ke mana arah yang harus dianut kalau ia mau menyusul Arya. Lalu katanya hampir berteriak,
Quote:
"Kemanakah anak itu dibawa?"
Beberapa orang jadi ragu-ragu, namun salah seorang menjawab pula,
"Mereka pergi ke arah timur melalui jalan di sebelah desa kami itu."
Beberapa orang jadi ragu-ragu, namun salah seorang menjawab pula,
"Mereka pergi ke arah timur melalui jalan di sebelah desa kami itu."
Mahesa Jenar tidak menunggu kata-kata itu berakhir. Segera ia meloncat dan berlari kencang-kencang ke arah yang ditunjukkan oleh tetangga-tetangganya. Lamat-lamat ia masih mendengar orang-orang itu berteriak,
Quote:
"Angger, kembalilah. Mereka adalah orang-orang perkasa dan bersenjata. Kita cari akal untuk mengambil anak itu, tetapi jangan dengan kekerasan."
Namun bagi Mahesa Jenar suara-suara itu tidak lebih dari suara berdesirnya daun-daun kering yang rontok oleh angin malam yang kencang. Karena itu justru ia mempercepat larinya seperti orang yang kehilangan akal, semakin lama semakin cepat.
Sesaat kemudian Mahesa Jenar sampai ke padang rumput yang luas. Di sana-sini terdapat padas. Di bawah cahaya bulan yang hampir penuh, Mahesa Jenar dapat memandang ke arah yang agak jauh. Tetapi matanya yang tajam tak dapat menangkap apapun kecuali puntuk-puntuk yang seolah-olah gelembung-gelembung yang tumbuh dari dalam tanah yang sedang mendidih. Ia bertambah cemas.
Bagaimanakah keadaan Arya Salaka…? Apakah ia dibawa ke padang rumput itu.., atau ke mana…?
uken276 dan 13 lainnya memberi reputasi
14
Kutip
Balas