- Beranda
- Stories from the Heart
[SFTH] - HASRAT SESAAT
...
TS
lina.wh
[SFTH] - HASRAT SESAAT
![[SFTH] - HASRAT SESAAT](https://s.kaskus.id/images/2020/04/25/10541684_202004250438170735.jpg)
Sumber gambar : di sini
Cinta Sesaat
"Cinta itu tidak perlu dicari. Kalau sudah saatnya, nanti akan datang sendiri."
Begitulah kata-kata mutiaraku untuk diri sendiri. Karena aku bosan, dengan hasrat sesaat yang melintas dan singgah di benakku. Iya, hasrat sesaat saat seorang lelaki mendekatiku dengan segala cumbu rayunya.
Aku terhanyut, kagum. Tapi hanya sesaat saja. Karena cinta dari hatiku belum tumbuh, belum juga terdedikasi. Biarlah cinta itu masih tetap misteri dalam hidupku karena aku yakin cinta tak perlu dicari, nanti akan datang sendiri.
"Aryazkha, bagaimana jika musim libur nanti kita traveling?" kata Caferro yang biasa aku panggil Ceo.
Aku bahagia dan setuju dengan ajakan Ceo. Aku pikir, otakku perlu refreshing saat libur kuliah nanti.
"Boleh, Ceo. Kira-kira ke mana?" aku balik bertanya kepada Ceo, teman baru yang aku kenal dari media sosial yang aku miliki.
Jujur, aku belum tahu latar belakang Ceo. Tapi karena Ceo baik kepadaku, aku pun baik kepadanya.
"Ke Gunungkidul. Di sana banyak wisata alam," jawab Ceo dengan semangat.
Gunungkidul itu daerah asalku, tanah kelahiranku, kampung halamanku dan orang tuaku juga tinggal di sana hingga saat ini. Tapi lebih baik aku pura-pura tidak tahu tentang daerah Gunungkidul.
"Kamu pernah ke sana?" tanyaku kemudian.
"Pernah dan itu sangat menyenangkan!" lanjut Ceo.
Kemudian, Ceo bercerita banyak tentang daerah Gunungkidul. Aku menyimaknya, walaupun aku sebenarnya lebih banyak tahu daripada Ceo.
"Wah, pasti asyik ya di sana. Gak sabar lagi nih," kataku kemudian.
"Aryazkha, benar nih kamu belum punya pacar?" lanjut Ceo di sela perbincangan.
"Belum!" jawabku singkat tetapi jujur.
Kami hanya bercanda di kesempatan pertemuan ke dua itu. Kadang aku ingin tahu banyak tentang Ceo, tetapi Ceo kadang tidak menjawab pertanyaanku dan selalu mengalihkan pembicaraan.
"Ceo, kamu kerja di mana?" tanyaku ingin tahu.
"Aku kerja di perusahaan bonafit. Nanti aku ambil cuti saat liburan kuliahmu, Sayang!" jawabnya sedikit berbelit.
Ah, aku paling tidak suka dengan panggilan alay seperti itu. Tapi aku tak menampakkan.
"Sebonafit apakah itu?" lanjutku.
Ceo tak langsung menjawab pertanyaanku, hanya menatap tajam mukaku. Aku risih dengan tatapan itu, kemudian aku menoleh sedikit ke arah kanan. Entahlah, apa yang aku perhatikan sungguh tak terarah.
"Sebonafit cintaku kepadamu," kata Ceo tiba-tiba.
Sungguh, kata-kata Ceo membuatku risih. Aku tidak suka dan tidak terbiasa.
"Ceo, ini sudah malam. Aku harus kembali ke kost. Peraturan di kost harus aku patuhi," lanjutku saat melihat jam di handphone menunjukkan pukul 20.30.
"Ini masih sore, Aryazkha!"
"Buatmu mungkin masih sore. Tapi peraturan ya tetap peraturan," jawabku tanpa menjelaskan apa saja peraturan di kost yang aku tempati.
"Baiklah!" lanjut Ceo sambil menuju kasir untuk membayar menu yang tadi kami pesan.
Kemudiab Ceo mengantarku ke kost dengan motor sportnya. Aku tak banyak bicara. Tiba-tiba, Ceo melambatkan laju motornya saat jalan sepi.
"Aryazkha, pegangan donk!" katanya sambil meraih tangan kananku dan melingkarkan di perutnya.
Sungguh, aku sangat risih. Kemudian aku menarik paksa tanganku.
"Ceo, please. Jangan begitu. Aku tidak suka," kataku dengan nada sopan.
"Kita sudah dewasa, Sayang!" katanya kemudian.
"Iya, tapi aku tidak terbiasa seperti itu!"
Kemudian Ceo menaikkan kecepatan motor sportnya. Aku tahu maksud Ceo, supaya aku tetap berpegangan. Tapi aku tak melakukan itu.
***
Ceo selalu menelfonku, tepat di saat jam istirahat bagi pekerja. Jika malam tiba, tak henti-hentinya Ceo menelfonku. Kadang, aku meminta mengakhiri pembicaraan karena tugas kuliahku.
"Baiklah, Aryazkha. Selesaikan tugas kuliah," katanya menutup pembicaraan dalam telepon.
Aku mulai banyak bicara kepada Ceo, karena Ceo semakin menunjukkan perhatiannya kepadaku. Tapi benih cinta, belum tumbuh dari hatiku. Aku hanya merasa nyaman dengan Ceo.
Akhir pekan, Ceo mengajakku ketemuan lagi. Tapi aku tidak setuju ajakannya untuk wisata kuliner. Aku tidak enak jika Ceo selalu mentraktirku setiap ketemuan. Yah, walaupun katanya Ceo bekerja di perusahaan bonafit. Tapi entah, perusahaan apa itu. Karena Ceo tak pernah jujur jika aku tanya tentang itu.
Akhirnya aku memutuskan untuk ketemuan di taman kota saja. Di sana, banyak para remaja, dewasa, bahkan orang tua. Setidaknya, tempat itu sangat ramai. Walaupun aku merasa nyaman dengan Ceo, tapi aku harus jaga diri.
"Aryazkha, maukah kamu jadi pacarku?" kata Ceo sesaat setelah kami sampai di taman kota.
Aku tersenyum. Bukan karena aku suka tetapi karena tebakanku saat ini tentang perasaan Ceo kepadaku ternyata benar.
"Aku belum tahu siapa dirimu, Ceo. Kamu belum pernah menunjukkan identitasnya selama ini. Bahkan saat aku tanya di mana perusahaan tempat kamu kerja, kamu tidak pernah menjawab!" kataku dengan jujur.
Ceo tersenyum tipis. Kemudian memalingkan mukanya dariku.
"Perlukah semua itu?"
"Iya, itu perlu!" jawabku singkat.
"Untuk apa?" lanjutnya dengan penuh keraguan.
Kali ini, gantian aku yang memalingkan muka dari Ceo. Iya, aku nyaman bersama Ceo. Tapi mungkin ini hanya hasrat sesaat saja.
"Untuk mengetahui statusmu. Apakah kamu benar-benar masih single, atau sudah beristri? Karena kalau dilihat, sepertinya usiamu jauh di atasku!"
"Aku mencintaimu, Aryazkha. Cinta itu buta. Jika saling mencinta, apa salahnya?" kata Ceo yang tak kunjung menunjukkan identitas dirinya.
Aku diam sejenak. Supaya aku tidak tergoda dengan rayuan maut Ceo selanjutnya.
"Bagaimana jika ternyata kamu sudah beristri? Aku tak mau punya predikat pelakor!"
Ceo menanggapi kata-kataku dengan muka datar tetapi tatapan matanya tajam.
"Lalu, kenapa kamu bilang nyaman denganku?" tanya Ceo yang masih menatapku tajam.
Aku berdiri sejenak kemudian duduk kembali di tempat semula. Berharap setelah aku berdiri, Ceo akan mengalihkan tatapan tajam matanya ke arah lain. Tetapi ternyata tidak. Ceo tetap menatapku tajam.
"Iya, aku nyaman denganmu. Karena kamu perhatian kepadaku. Tapi nyaman bukan berarti cinta. Ayolah Ceo, tunjukkan salah satu kartu identitasmu. Apa susahnya sih?" lanjutku.
Ceo sepertinya mulai kesal. Kemudian berdiri dan duduk sedikit menjauh dari aku.
"Aku tidak membawa. Dompetku hanya isi uang!"
Jawaban Ceo sungguh tak masuk akal. Ceo datang menjemputmu memakai motor sport. Tentu donk, setidaknya ada STNK atau SIM di dalam dompetnya.
"Oh, begitu!" jawabku dengan senyum tipis.
"Ya sudahlah aku antar kamu ke kost saja. Ribet sekali kamu ini. Diajak pacaran saja perlu identitas. Memangnya mau melamar kerja apa!" kata Ceo dengan kesal.
"Kalau kamu cinta, tunjukkan donk salah satu identitasmu. Apa susahnya sih? Lalu aku ribet di mana?" balasku.
Ceo kelihatan semakin kesal. Entahlah, mungkin ada sesuatu yang ditutupi dari aku. Sehingga untuk menunjukkan identitas diri saja tidak mau.
"Buat apa identitas itu?"
"Supaya aku tahu, statusmu yang sebenarnya. Karena aku tidak mau jadi pelakor, jika ternyata kamu ternyata sudah beristri!"
Ceo semakin kesal dan tidak menjawab kata-kata yang baru saja aku ucapkan. Aku semakin yakin jika Ceo tidak jujur kepadaku.
"Berarti kamu menolak cintaku? Berarti kamu menolak menjadi pacarku? Aku sayang kamu, Aryazkha. Bagaimana aku bohong, jika setiap hari aku menelfonmu hanya untuk menanyakan kabar," kata Ceo setelah lama terdiam.
"Simpan saja dulu, Ceo. Aku hanya minta satu syarat itu!" lanjutku.
"Ah, kamu membosankan!"
"Terserah apa katamu. Aku mau kembali ke kost!"
Kemudian Ceo meraih tangan kananku. Menahanku untuk tidak berjalan.
"Baiklah Aryazkha, aku akan mengantarmu ke kost!" pinta Ceo dan aku menyetujuinya.
***
Hari-hari berikutnya, tak ada lagi kabar Ceo. Bahkan aku diblokir dari media sosial miliknya. Nomor handphone juga diblokir.
Entahlah, siapa Ceo sebenarnya. Aku akan melupakannya dan tak akan mencarinya lagi. Ceo tidak mau jujur kepadaku, itu yang membuatku tak mau membalas cintanya.
"Ya, cinta itu tidak perlu dicari. Kalau sudah saatnya, nanti akan datang sendiri. Aku tidak mau terjebak dalam hasrat sesaat. Karena itu hanya akan menciptakan luka. Sungguh, aku benci dengan luka. Luka sayatan pisau saat masak saja sakit, bagaimana jika hati yang terluka? Pasti lebih sakit. Jika luka karena sayatan pisau saat masak, bisa ditangani dengan P3K. Lalu, jika yang luka hatinya?"
Selesai...
Lina WH
Cibubur, 030719
![[SFTH] - HASRAT SESAAT](https://s.kaskus.id/images/2020/08/01/10541684_202008010550140700.jpg)
Quote:
Diubah oleh lina.wh 14-08-2020 23:15
Yunie87 dan 35 lainnya memberi reputasi
34
5.3K
188
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
lina.wh
#87
Mencintaimu adalah Hal yang Terindah

Sumber gambar : dokpri
Ketika aku membereskan tas ransel besar milik suamiku yang berisi pakaian kerja yang tentunya sudah kotor karena sejak seminggu lalu harus menjalankan tugas jaga di kediaman komandan. Tak sengaja aku menemukan sebuah buku kecil yang nampaknya sudah tidak lagi baru. Lalu, aku pun membuka tanpa ragu. Aku melihat, ada namaku yang diukir di halaman depan buku mungil itu. Aku semakin penasaran, dan lembar demi lembar aku baca.
ISTRIKU...
Jika nanti rasa cintamu telah bersemi untukku
maka, ambillah sebagian jiwaku untukmu
dan sebagian lagi untuk Khalik ku...
Sudah hampir tiga bulan aku menikahimu
Namun, aku tak merasakan cintamu
Aku mencintaimu lebih dari mencintai diriku sendiri
Aku mencintaimu lebih dari ketika pertama kali aku melihatmu, lalu aku melamarmu
Apakah karena cintamu belum bersemi?
Ataukah cintamu tak akan pernah bersemi untukku?
Hidup bersamamu adalah impianku
Menjadi imammu adalah tujuanku
Hingga aku berani mendatangi orang tuamu lalu langsung melamarmu
Apakah aku salah, yang langsung menikahimu tanpa memberimu kesempatan untuk menjajaki aku terlebih dahulu?
Aku terluka jika sampai melihat air matamu
Aku selalu berdoa untuk kebahagiaan dan kedamaian hati untukmu
Maaf, jika aku belum bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku
Tapi, aku akan tetap berusaha menjadi imammu dan
Aku akan tetap menjagamu dan menjadikanmu pendamping hidupku...
Jika nanti rasa cintamu telah bersemi untukku
maka, ambillah sebagian jiwaku untukmu
dan sebagian lagi untuk Khalik ku...
Sudah hampir tiga bulan aku menikahimu
Namun, aku tak merasakan cintamu
Aku mencintaimu lebih dari mencintai diriku sendiri
Aku mencintaimu lebih dari ketika pertama kali aku melihatmu, lalu aku melamarmu
Apakah karena cintamu belum bersemi?
Ataukah cintamu tak akan pernah bersemi untukku?
Hidup bersamamu adalah impianku
Menjadi imammu adalah tujuanku
Hingga aku berani mendatangi orang tuamu lalu langsung melamarmu
Apakah aku salah, yang langsung menikahimu tanpa memberimu kesempatan untuk menjajaki aku terlebih dahulu?
Aku terluka jika sampai melihat air matamu
Aku selalu berdoa untuk kebahagiaan dan kedamaian hati untukmu
Maaf, jika aku belum bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku
Tapi, aku akan tetap berusaha menjadi imammu dan
Aku akan tetap menjagamu dan menjadikanmu pendamping hidupku...
Ya Allah, aku merasa haru. Aku menikah bukan karena paksaan. Dan aku menerima lamarannya sebelum dia datang kepada orang tuaku. Aku tidak pernah berpacaran. Tidak pernah berduaan sebelum menikah. Tapi bukan berarti aku tidak mencintai suamiku. Aku hanya masih merasa asing. Tidak pernah berpacaran ataupun mengenal sebelumnya. Dan setelah menikah pun aku sudah ditinggal demi tugasnya.
Aku merasa seperti wanita lajang. Yang tinggal sendirian dan tetap bekerja ketika suami meninggalkan aku demi tugas. Kadang seminggu atau dua minggu, baru ketemu kembali. Aku tahu bagaimana pekerjaan suamiku. Aku paham dan aku harus ikhlas menerimanya. Tapi kenapa aku belum bisa bebas lepas dan terbuka kepada suamiku? Padahal, suamiku sudah menyerahkan segalanya untukku. Gaji sepenuhnya untukku dan tidak ada yang dirahasiakan dariku.
Lalu, aku buka lagi buku kecil itu. Tidak ada tulisan apapun lagi. Hanya dua lembar saja yang terisi goresan tinta. Namun, dua lembar tersebut sudah sangat membuatku terharu, dan merenung dosaku.
Kemudian, aku ambil semua baju kerjanya yang telah kotor tersebut untuk aku rendam terlebih dahulu sebelum aku cuci. Dan nampaknya suamiku memperhatikan aku. Aku tahu, tetapi aku pura-pura tidak tahu.
"Bunda, kenapa direndam di ember? Tidak dicuci di mesin cuci saja?" tanya suamiku dengan suara khasnya, berat tetapi lembut.
"Tidak! Nanti cepat rusak dan warnanya juga akan pudar. Aku cuci tangan saja," kataku dengan cepat.
"Tidak capek memang?"
"Tidak."
"Lalu, apa gunanya mesin cuci?" tanya suamiku kemudian.
"Untuk mencuci yang besar seperti sprei atau pakaian harian saja. Aku mau manjain pakaian kerja, supaya awet dan warna gak pudar," jawabku sambil melempar senyum.
"Baiklah! Biar nanti aku bantu."
"Tidak perlu, Ayah. Ini tugasku."
"Tapi ini kewajibanku yang tidak boleh memberatkanmu."
"Aku tidak merasa keberatan."
Lalu, aku pun meninggalkan ember besar yang aku gunakan untuk merendam pakaian suamiku. Kemudian, mengajaknya ke ruang makan. Mengambilkannya makan dan juga menyiapkan air putih.
Aku melihat tatapan mata yang teduh darinya. Sungguh, aku telah telah jatuh cinta kepadanya. Tapi aku masih merasa keki. Suamiku orang yang masih asing bagiku, walaupun dia telah sah memilikiku seutuhnya.
Aku sangat kagum kepada suamiku yang selalu mengucapkan terimakasih setelah aku selesai mengerjakan sesuatu untuknya.
"Bunda, bulan depan Ayah pindah tugas di Ibu Kota. Tapi, tugas tetaplah tugas. Jika tidak bisa pulang setiap hari seperti profesi lainnya, maafkan Ayah ya! Karena itu sudah komitmen Ayah. Tetapi kita harus bersyukur karena bisa sering bertemu dan mungkin tidak akan lama untuk sering meninggalkanmu."
"Ayah, aku tahu, aku paham dan aku mengerti. Karena itu juga pilihanku. Jika aku tidak mau, sudah dari dulu aku menolak lamaranmu karena profesimu," jawabku dengan senyum.
"Kamu tidak keberatan?"
"Tentu tidak!"
Lalu aku pun mengambilkan air minum untuk suamiku. Aku tidak tahu apakah suamiku benar-benar haus atau hanya sekedar untuk menghargaiku saja. Ah, biarlah. Yang penting suamiku adalah segalanya untukku. Karena aku sudah bisa mencintainya dengan segenap rasaku. Sungguh, suamiku adalah orang yang paling tanggungjawab dan mencintaiku seutuhnya. Aku tidak salah jika kini aku benar-benar jatuh cinta kepada suamiku.
Lalu, suamiku memelukku dari belakang ketika aku sedang duduk santai di meja makan itu. Getaran cinta, sangat terasa mengalir.
"Bunda, ini adalah hitam putihnya pernikahan. Tak cukup dua warna jika tidak mau dibilang buta warna. Kita perlu perbanyak warna supaya semua terasa indah," kata suamiku yang masih tetap memeluk tubuhku.
Aku merasa seperti wanita lajang. Yang tinggal sendirian dan tetap bekerja ketika suami meninggalkan aku demi tugas. Kadang seminggu atau dua minggu, baru ketemu kembali. Aku tahu bagaimana pekerjaan suamiku. Aku paham dan aku harus ikhlas menerimanya. Tapi kenapa aku belum bisa bebas lepas dan terbuka kepada suamiku? Padahal, suamiku sudah menyerahkan segalanya untukku. Gaji sepenuhnya untukku dan tidak ada yang dirahasiakan dariku.
Lalu, aku buka lagi buku kecil itu. Tidak ada tulisan apapun lagi. Hanya dua lembar saja yang terisi goresan tinta. Namun, dua lembar tersebut sudah sangat membuatku terharu, dan merenung dosaku.
Kemudian, aku ambil semua baju kerjanya yang telah kotor tersebut untuk aku rendam terlebih dahulu sebelum aku cuci. Dan nampaknya suamiku memperhatikan aku. Aku tahu, tetapi aku pura-pura tidak tahu.
"Bunda, kenapa direndam di ember? Tidak dicuci di mesin cuci saja?" tanya suamiku dengan suara khasnya, berat tetapi lembut.
"Tidak! Nanti cepat rusak dan warnanya juga akan pudar. Aku cuci tangan saja," kataku dengan cepat.
"Tidak capek memang?"
"Tidak."
"Lalu, apa gunanya mesin cuci?" tanya suamiku kemudian.
"Untuk mencuci yang besar seperti sprei atau pakaian harian saja. Aku mau manjain pakaian kerja, supaya awet dan warna gak pudar," jawabku sambil melempar senyum.
"Baiklah! Biar nanti aku bantu."
"Tidak perlu, Ayah. Ini tugasku."
"Tapi ini kewajibanku yang tidak boleh memberatkanmu."
"Aku tidak merasa keberatan."
Lalu, aku pun meninggalkan ember besar yang aku gunakan untuk merendam pakaian suamiku. Kemudian, mengajaknya ke ruang makan. Mengambilkannya makan dan juga menyiapkan air putih.
Aku melihat tatapan mata yang teduh darinya. Sungguh, aku telah telah jatuh cinta kepadanya. Tapi aku masih merasa keki. Suamiku orang yang masih asing bagiku, walaupun dia telah sah memilikiku seutuhnya.
Aku sangat kagum kepada suamiku yang selalu mengucapkan terimakasih setelah aku selesai mengerjakan sesuatu untuknya.
"Bunda, bulan depan Ayah pindah tugas di Ibu Kota. Tapi, tugas tetaplah tugas. Jika tidak bisa pulang setiap hari seperti profesi lainnya, maafkan Ayah ya! Karena itu sudah komitmen Ayah. Tetapi kita harus bersyukur karena bisa sering bertemu dan mungkin tidak akan lama untuk sering meninggalkanmu."
"Ayah, aku tahu, aku paham dan aku mengerti. Karena itu juga pilihanku. Jika aku tidak mau, sudah dari dulu aku menolak lamaranmu karena profesimu," jawabku dengan senyum.
"Kamu tidak keberatan?"
"Tentu tidak!"
Lalu aku pun mengambilkan air minum untuk suamiku. Aku tidak tahu apakah suamiku benar-benar haus atau hanya sekedar untuk menghargaiku saja. Ah, biarlah. Yang penting suamiku adalah segalanya untukku. Karena aku sudah bisa mencintainya dengan segenap rasaku. Sungguh, suamiku adalah orang yang paling tanggungjawab dan mencintaiku seutuhnya. Aku tidak salah jika kini aku benar-benar jatuh cinta kepada suamiku.
Lalu, suamiku memelukku dari belakang ketika aku sedang duduk santai di meja makan itu. Getaran cinta, sangat terasa mengalir.
"Bunda, ini adalah hitam putihnya pernikahan. Tak cukup dua warna jika tidak mau dibilang buta warna. Kita perlu perbanyak warna supaya semua terasa indah," kata suamiku yang masih tetap memeluk tubuhku.
Selesai...
Kau datang kepadaku di saat duniaku masih gelap gulita. Cintamu adalah pelita yang menerangi jalanku. Bimbinganmu adalah penghantarku untuk menuju surgaNYA. Suamiku, semoga Allah membalas semua kebaikanmu. Semoga kesehatan jasmani dan rohani selalu menaungi kita, agar bisa menua bersama menyaksikan anak cucu kita tumbuh dewasa, bahagia dan sejahtera.
Lina WH

WardahRos dan 11 lainnya memberi reputasi
12
Tutup