- Beranda
- Stories from the Heart
Naga Sasra & Sabuk Inten
...
TS
nandeko
Naga Sasra & Sabuk Inten

NAGA SASRA & SABUK INTEN
Kisah ini merupakan karangan dari S.H Mintardja. Disini TS sudah mendapatkan ijin untuk sekedar membagikan dan mempermudahkan pembaca untuk menikmati kisah ini dalam bentuk digital
INDEX
Quote:
Spoiler for JILID 1:
Spoiler for JILID 2:
Spoiler for JILID 3:
Spoiler for JILID 4:
Spoiler for JILID 5:
Spoiler for JILID 6:
Part 114
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Spoiler for JILID 7:
Spoiler for JILID 8:
Spoiler for JILID 9:
Spoiler for JILID 10:
Pengarang dan Hakcipta©
Singgih Hadi Mintardja
Singgih Hadi Mintardja
Diubah oleh nandeko 21-10-2021 14:24
whadi05 dan 43 lainnya memberi reputasi
42
62K
Kutip
1.2K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
nandeko
#210
Jilid 7 [Part 152]
Spoiler for :
Di bagian lain, Uling Putih dan Uling Kuning bertempur berpasangan melawan Wiraraga dan Mantingan yang bertempur berpasangan pula. Di bawah cahaya purnama penuh, perkelahian itu tampak betapa berbahayanya apabila salah seorang menjadi lengah sedikit saja. Mereka berloncatan, sambar-menyambar dengan hebatnya. Sepasang cemeti di tangan kedua Uling itu berputar-putar dan terayun-ayun ke segenap penjuru, seolah-olah menjadi gumpalan-gumpalan asap yang melibat isi-mengisi satu sama lain. Tetapi sementara itu dua Trisula di tangan Wiraraga dan Mantinganpun bergerak berkilat-kilat memantulkan cahaya bulan. Ujungnya yang bermata masing-masing 3 buah itu seakan-akan berubah menjadi ratusan bahkan ribuan, yang oleh kedahsyatan ilmu Pacar Wutah menjadi benar-benar seperti genggaman demi genggaman bulan pacar yang ditebarkan, sehingga sangat sulit untuk menghindarinya.
Paningron mempunyai cara sendiri dalam pertempurannya melawan Sima Rodra muda yang bersenjatakan pusakanya, sebuah tombak pendek yang dinamainya Kala Tadah. Ia tidak begitu banyak bergerak. Di atas kedua kakinya, ia berdiri teguh, sedang tombak berkaitnya tergenggam di tangannya. Ia hanya berkisar setapak demi setapak menghadapi lawannya yang bertubuh tinggi besar itu. Dan apabila serangan datang, tangannyalah yang bergerak tangkas sekali. Tetapi meskipun demikian, apabila tampak padanya kesempatan, seperti kilat ia meloncat dan menyerang dengan garangnya. Tetapi Sima Rodra pun adalah seorang yang cukup berpengalaman, sehingga segera ia menyesuaikan diri dengan lawannya. Ia tidak berani banyak membuang tenaga yang tidak perlu, sebab dengan demikian, lawannya akan dapat membinasakan apabila tenaganya sudah separoh habis.
Sedangkan Mahesa Jenar yang menghadapi tiga orang sekaligus, bertempur seperti banteng terluka. Ia masih mencoba mengalahkan lawannya tanpa Aji Sasra Birawa yang mengerikan itu. Sebab gurunya selalu berpesan kepadanya bahwa apabila nyawanya tidak terancam benar-benar, sebaiknya ia tidak mempergunakan Sasra Birawa itu. Tetapi kemudian ternyata bahwa ketiga lawannya meskipun sudah tidak mempunyai tenaga penuh, namun akhirnya, karena mereka bersama-sama harus mempertahankan jiwa mereka, gerak mereka pun menjadi garang. Agaknya Lembu Sora dan Jaka Soka untuk sesaat dapat melupakan pertentangan mereka, ditambah dengan istri Sima Rodra yang bertempur dengan jari-jarinya yang mengembang dan di ujung-ujung jari itu tampak kuku-kukunya yang panjang dan bersalutkan logam yang pasti beracun. Itulah senjatanya yang ditakuti lawan-lawannya.
Lembu Sora dengan pedang panjangnya dan Jaka Soka dengan pedang lenturnya merupakan bahaya-bahaya yang setiap saat dapat mencabut jiwa Mahesa Jenar.
Sementara itu laskar golongan hitam dari tingkat yang paling bawah sampai pada orang-orang seperti Wadas Gunung, Sri Gunting, Sakayon, Carang Lampit dan sebagainya menyaksikan pertempuran itu dengan mata tanpa berkedip. 12 Orang yang perkasa sedang bergulat mati-matian antara hidup dan mati. Diantara kilatan senjata serta sambaran-sambaran angin yang ditimbulkan oleh pertempuran itu, berkali kali terdengar dentangan senjata serta teriakan-teriakan nyaring, yang bahkan kadang menimbulkan percikan bunga api memancar-mancar.
PASINGSINGAN dan Sima Rodra pun mengikuti pertempuran itu dengan saksama. Tetapi sampai sekian jauh ia masih belum memerintahkan kepada laskar-laskar golongan hitam itu untuk turut serta dalam pertempuran itu, sebab hal itu belum pasti akan menguntungkan, malahan mungkin akan merepotkan saja.
Dalam ketegangan yang semakin lama semakin memuncak itu, seolah-olah waktu berjalan lambat sekali. Agaknya bulan pun ingin menyaksikan pertempuran yang hebat itu sehingga perjalanannya agak terganggu.
Tetapi sesaat kemudian Sima Rodra dan Pasingsingan menjadi agak cemas melihat jalannya pertempuran. Sudah sampai sekian lama, namun orang-orangnya masih belum ada tanda-tanda dapat menguasai lawannya. Apalagi ketika tiba-tiba mereka menyaksikan Mahesa Jenar, yang ternyata akhirnya merasa terdesak, telah mengambil sikap. Kakinya diangkat dan ditekuk kedepan, satu tangannya menyilang dada sedang tangannya yang lain diangkat tinggi-tinggi. Segera pula ia mengatur pernafasannya dan memusatkan tenaganya pada sisi telapak tangannya. Itu adalah pertanda bahwa Mahesa Jenar telah memutuskan untuk mempergunakan senjatanya yang tersimpan di dalam sisi telapak tangannya, Sasra Birawa.
Lembu Sora, Jaka Soka dan Istri Sima Rodra, yang menyaksikan sikap Mahesa Jenar itu segera berloncatan mundur dan berpencaran. Mereka sadar bahwa apabila salah seorang dari mereka sampai tersentuh tubuhnya maka mereka tidak dapat mengharapkan untuk dapat menyaksikan terbitnya matahari fajar besok.
Karena itu mereka menjadi semakin hati-hati, dan tidak berani menyerang sekenanya, meskipun mereka masing-masing bersenjata.
Melihat keadaan itu, Sima Rodra ternyata tidak mau membiarkan tokoh-tokoh hitam itu kehilangan hati. Maka segera terdengar ia mengaum hebat. Akibatnyapun hebat sekali. Suara itu rasanya seperti mengguncang isi dada. Pasingsingan yang melihat Sima Rodra tua itu sudah akan bertindak, ia pun tidak tinggal diam. Meskipun bukanlah sewajarnya kalau orang-orang angkatan tua itu harus melawan Mahesa Jenar, namun bagi mereka tidak akan ada banyak bedanya, apakah Lawa Ijo dan kawan-kawannya, apakah Pasingsingan dan Sima Rodra yang membinasakan, meskipun mula-mula ia mengharap bahwa anak muridnya beserta kawan-kawannya dapat menyelesaikan masalah mereka sendiri untuk tidak membawa-bawa namanya. Tetapi sekarang, terpaksa ia terjun ke dalam pertempuran itu.
Tetapi baru saja ia meloncat, terdengarlah Sima Rodra berkata,
Kembali terdengar Pasingsingan tertawa. Suara tertawanya seolah-olah menyusup ke dalam tulang dan daging, sehingga menimbulkan perasaan nyeri dan pedih. Ketika suara tertawanya itu lenyap, terdengarlah suara suitan nyaring diikuti oleh suatu auman dahsyat. Dan seperti kilat berloncatanlah Pasingsingan dan Sima Rodra memasuki arena.
Mahesa Jenar yang masih menunggu kesempatan beserta keempat kawannya mendengar seluruh percakapan itu. Mau tidak mau hati mereka tergetar hebat.
Ternyata sekarang Pasingsingan dan Sima Rodra akan ikut serta dalam pertempuran itu. Mereka sama sekali bukanlah orang-orang yang takut mati, tetapi sebentar lagi mereka harus binasa sebelum dapat berbuat sesuatu atas tokoh-tokoh hitam itu. Itulah yang menggelisahkan hati mereka. Tetapi kenyataan itu sama sekali tak dapat diingkari lagi.
Segera darah mereka bergolak ketika mereka mendengar suitan Pasingsingan yang disusul dengan auman dahsyat Sima Rodra. Apalagi ketika dengan aba-aba itu, tokoh-tokoh hitam yang sedang bertempur itu segera berloncatan menjauhkan diri dari lawan masing-masing, agar tidak mengganggu kedua tokoh angkatan tua yang akan terjun dalam pertempuran.
Mahesa Jenar beserta kawan-kawannya sadar bahwa saat terakhir telah hampir tiba. Ketika lawan-lawan mereka berloncatan pergi, untuk sesaat mereka tertegun, tetapi sesaat kemudian tanpa sesuatu tanda apapun, agaknya mereka mempunyai persamaan perhitungan, sehingga seolah-olah digerakkan oleh satu tenaga, mereka berloncatan saling mendekat, untuk dapat bersama-sama melawan kedua orang tokoh dari angkatan tua itu.
Melihat mereka berkumpul dalam satu lingkaran, terdengarlah Pasingsingan dan Sima Rodra tertawa hampir berbareng.
Kata-kata itu hebat akibatnya. Bunyinya terdengar lebih dahsyat dari seribu guruh yang meledak bersama-sama. Tetapi justru karena itu maka setiap hati dari kelima orang itu menjadi pasrah pada garis hidupnya masing-masing. Dengan demikian maka lenyaplah segala perasaan gentar dan cemas. Yang ada dalam dada mereka hanyalah satu kepercayaan bahwa pintu sorga akan terbuka bagi mereka yang gugur dalam menunaikan tugas mereka untuk membela kebenaran dan kebajikan. Karena itu mereka menjadi lebih mantap menggenggam senjata masing-masing yang siap diayunkan.
Sesaat kemudian tampillah Pasingsingan dan Sima Rodra bersama-sama, berbareng dengan bergeraknya setiap senjata kawan-kawan Mahesa Jenar. Segera berkobarlah suatu pertempuran yang dahsyat. Kedua orang dari angkatan tua itu memang ternyata memiliki ketinggian ilmu yang luar biasa, sehingga dengan tertawa-tawa saja Pasingsingan dan Sima Rodra dengan senangnya mempermainkan korbannya.
Dalam pada itu Mahesa Jenar dan kawan-kawannya telah bertempur mati-matian untuk mempertahankan diri. Mereka sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk menyerang. Pasingsingan dan Sima Rodra yang hanya dua orang itu seolah-olah seperti angin ribut yang melanda dari segenap penjuru, sedang suara tertawa mereka mengumandang dari segala arah.
Semakin lama Mahesa Jenar dan kawan-kawannya menjadi semakin bingung. Mereka sudah tidak tahu lagi di mana lawan-lawan mereka berada. Tetapi tahu-tahu tubuh mereka telah tersentuh oleh tangan-tangan yang panasnya melampaui panas api.
Mereka sadar bahwa Pasingsingan dan Sima Rodra sampai saat itu baru sampai pada taraf menggoda saja, serta menimbulkan kebingungan dan kesakitan yang semakin lama semakin merata di segenap tubuh Mahesa Jenar dan kawan-kawannya.
Sehingga akhirnya Mahesa Jenar dan kawan-kawannya itu bertempur seperti orang gila yang mengayun-ayunkan senjata tanpa tujuan, bahkan hampir-hampir saja mereka telah mengenai satu sama lain.
Sementara itu suara tertawa Pasingsingan dan Sima Rodra semakin lama menjadi semakin mengerikan dan menggoncang-goncang dada. Mahesa Jenar dan kawan-kawannya semakin lama menjadi semakin tak terkendalikan. Mereka bergerak berputaran tanpa tujuan dan hampir diluar kesadaran mereka masing-masing.
Sesaat kemudian agaknya Pasingsingan dan Sima Rodra telah jemu dengan permainan mereka. Karena itu segera terdengar Pasingsingan berkata,
Mendengar percakapan Pasingsingan dengan Sima Rodra itu, Mahesa Jenar dengan keempat kawannya meremang seluruh tubuhnya. Tetapi juga karena itu darah mereka meluap-luap karena marah. Dengan sisa-sisa kesadaran yang masih ada, mereka pasrahkan jiwa dan raga kepada kekuasaan yang Tinggi. Dan sesudah itu mereka bersiap untuk menghadapi saat-saat terakhir.
Mahesa Jenar serta keempat kawannya itu masih sempat menyaksikan di bawah remang-remang cahaya purnama yang disaput mega, bayangan Pasingsingan dan Sima Rodra menyambar ke arah mereka, dan sejenak kemudian mereka melihat kedua orang itu berdiri sambil tertawa nyaring beberapa langkah di hadapan mereka dengan sebuah tombak berkait di tangan Pasingsingan serta sebuah trisula di tangan Sima Rodra.
Mahesa Jenar mendengarkan kata-kata itu dengan dada yang bergetar. Bukan oleh ketakutan bahwa maut akan melibatnya, tetapi karena ia harus meninggalkan tugas-tugas sucinya sebelum seujung kuku dapat diselesaikan. Namun bagaimanapun ia adalah seorang jantan, karena itu ia tidak akan ada artinya. Maka segera ia pun mempersiapkan dirinya dengan apa yang ada padanya.
Mendengar kata-kata Pasingsingan itu, agaknya keempat kawan Mahesa Jenar tidak akan membiarkan Mahesa Jenar menjadi korban yang pertama-tama. Karena itu seperti orang yang berebutan, mereka tiba-tiba berloncatan mengelilinginya. Mahesa Jenar menjadi terharu melihat kesetiakawanan yang sedemikian tinggi. Meskipun Paningron dan Wiraraga kini sudah tidak bersenjata lagi, tetapi mereka sama sekali tidak gentar menghadapi kemungkinan yang akan datang.
Melihat kejadian itu Pasingsingan menjadi marah.
Tak seorangpun menjawab, tetapi tak seorangpun beranjak dari tempatnya. Hal itu menjadikan Pasingsingan semakin marah. Tetapi belum lagi ia berkata sesuatu, Sima Rodra yang agaknya tidak sabar lagi, menggeram.
Pasingsingan tidak menjawab. Tetapi segera mereka berdua bergerak dan seperti petir mereka menyambar bersama-sama.
Tetapi sementara itu Mahesa Jenar dan kawan-kawannya tidak berdiam diri saja sambil menunggu dada mereka tertembus senjata. Mereka pun segera berusaha untuk melawan sekuat-kuat tenaga mereka. Maka segera terjadilah sekali lagi pertempuran yang maha dahsyat.
Tetapi adalah di luar dugaan mereka semuanya, bahwa tiba-tiba saja Mahesa Jenar dapat memberikan perlawanan yang mengerikan. Dengan sebatang dahan kayu ia menyambar, melompat, menangkis dan menyerang dengan dahsyatnya hampir di luar kemampuan manusia.
Paningron mempunyai cara sendiri dalam pertempurannya melawan Sima Rodra muda yang bersenjatakan pusakanya, sebuah tombak pendek yang dinamainya Kala Tadah. Ia tidak begitu banyak bergerak. Di atas kedua kakinya, ia berdiri teguh, sedang tombak berkaitnya tergenggam di tangannya. Ia hanya berkisar setapak demi setapak menghadapi lawannya yang bertubuh tinggi besar itu. Dan apabila serangan datang, tangannyalah yang bergerak tangkas sekali. Tetapi meskipun demikian, apabila tampak padanya kesempatan, seperti kilat ia meloncat dan menyerang dengan garangnya. Tetapi Sima Rodra pun adalah seorang yang cukup berpengalaman, sehingga segera ia menyesuaikan diri dengan lawannya. Ia tidak berani banyak membuang tenaga yang tidak perlu, sebab dengan demikian, lawannya akan dapat membinasakan apabila tenaganya sudah separoh habis.
Sedangkan Mahesa Jenar yang menghadapi tiga orang sekaligus, bertempur seperti banteng terluka. Ia masih mencoba mengalahkan lawannya tanpa Aji Sasra Birawa yang mengerikan itu. Sebab gurunya selalu berpesan kepadanya bahwa apabila nyawanya tidak terancam benar-benar, sebaiknya ia tidak mempergunakan Sasra Birawa itu. Tetapi kemudian ternyata bahwa ketiga lawannya meskipun sudah tidak mempunyai tenaga penuh, namun akhirnya, karena mereka bersama-sama harus mempertahankan jiwa mereka, gerak mereka pun menjadi garang. Agaknya Lembu Sora dan Jaka Soka untuk sesaat dapat melupakan pertentangan mereka, ditambah dengan istri Sima Rodra yang bertempur dengan jari-jarinya yang mengembang dan di ujung-ujung jari itu tampak kuku-kukunya yang panjang dan bersalutkan logam yang pasti beracun. Itulah senjatanya yang ditakuti lawan-lawannya.
Lembu Sora dengan pedang panjangnya dan Jaka Soka dengan pedang lenturnya merupakan bahaya-bahaya yang setiap saat dapat mencabut jiwa Mahesa Jenar.
Sementara itu laskar golongan hitam dari tingkat yang paling bawah sampai pada orang-orang seperti Wadas Gunung, Sri Gunting, Sakayon, Carang Lampit dan sebagainya menyaksikan pertempuran itu dengan mata tanpa berkedip. 12 Orang yang perkasa sedang bergulat mati-matian antara hidup dan mati. Diantara kilatan senjata serta sambaran-sambaran angin yang ditimbulkan oleh pertempuran itu, berkali kali terdengar dentangan senjata serta teriakan-teriakan nyaring, yang bahkan kadang menimbulkan percikan bunga api memancar-mancar.
PASINGSINGAN dan Sima Rodra pun mengikuti pertempuran itu dengan saksama. Tetapi sampai sekian jauh ia masih belum memerintahkan kepada laskar-laskar golongan hitam itu untuk turut serta dalam pertempuran itu, sebab hal itu belum pasti akan menguntungkan, malahan mungkin akan merepotkan saja.
Dalam ketegangan yang semakin lama semakin memuncak itu, seolah-olah waktu berjalan lambat sekali. Agaknya bulan pun ingin menyaksikan pertempuran yang hebat itu sehingga perjalanannya agak terganggu.
Tetapi sesaat kemudian Sima Rodra dan Pasingsingan menjadi agak cemas melihat jalannya pertempuran. Sudah sampai sekian lama, namun orang-orangnya masih belum ada tanda-tanda dapat menguasai lawannya. Apalagi ketika tiba-tiba mereka menyaksikan Mahesa Jenar, yang ternyata akhirnya merasa terdesak, telah mengambil sikap. Kakinya diangkat dan ditekuk kedepan, satu tangannya menyilang dada sedang tangannya yang lain diangkat tinggi-tinggi. Segera pula ia mengatur pernafasannya dan memusatkan tenaganya pada sisi telapak tangannya. Itu adalah pertanda bahwa Mahesa Jenar telah memutuskan untuk mempergunakan senjatanya yang tersimpan di dalam sisi telapak tangannya, Sasra Birawa.
Lembu Sora, Jaka Soka dan Istri Sima Rodra, yang menyaksikan sikap Mahesa Jenar itu segera berloncatan mundur dan berpencaran. Mereka sadar bahwa apabila salah seorang dari mereka sampai tersentuh tubuhnya maka mereka tidak dapat mengharapkan untuk dapat menyaksikan terbitnya matahari fajar besok.
Karena itu mereka menjadi semakin hati-hati, dan tidak berani menyerang sekenanya, meskipun mereka masing-masing bersenjata.
Melihat keadaan itu, Sima Rodra ternyata tidak mau membiarkan tokoh-tokoh hitam itu kehilangan hati. Maka segera terdengar ia mengaum hebat. Akibatnyapun hebat sekali. Suara itu rasanya seperti mengguncang isi dada. Pasingsingan yang melihat Sima Rodra tua itu sudah akan bertindak, ia pun tidak tinggal diam. Meskipun bukanlah sewajarnya kalau orang-orang angkatan tua itu harus melawan Mahesa Jenar, namun bagi mereka tidak akan ada banyak bedanya, apakah Lawa Ijo dan kawan-kawannya, apakah Pasingsingan dan Sima Rodra yang membinasakan, meskipun mula-mula ia mengharap bahwa anak muridnya beserta kawan-kawannya dapat menyelesaikan masalah mereka sendiri untuk tidak membawa-bawa namanya. Tetapi sekarang, terpaksa ia terjun ke dalam pertempuran itu.
Tetapi baru saja ia meloncat, terdengarlah Sima Rodra berkata,
Quote:
"Pasingsingan, kau jangan memperkecil perananku dalam pembunuhan yang akan aku lakukan. Kau tinggal pilih, aku atau kau yang membunuh kelima ekor kelinci yang sombong itu."
Mendengar teriakan Sima Rodra itu Pasingsingan tertawa.
"Apakah bedanya? Kau yang membunuh kelima-limanya, atau aku, atau kita berdua?" jawabnya.
Terdengarlah Sima Rodra menggeram. Kemudian katanya,
"Baiklah…. Marilah kita berlomba. Siapakah diantara kita orang tua-tua ini yang masih cukup kuat bergerak. Kau atau aku yang terbanyak dapat membunuh kelima orang yang sudah jemu memandang purnama malam ini."
Mendengar teriakan Sima Rodra itu Pasingsingan tertawa.
"Apakah bedanya? Kau yang membunuh kelima-limanya, atau aku, atau kita berdua?" jawabnya.
Terdengarlah Sima Rodra menggeram. Kemudian katanya,
"Baiklah…. Marilah kita berlomba. Siapakah diantara kita orang tua-tua ini yang masih cukup kuat bergerak. Kau atau aku yang terbanyak dapat membunuh kelima orang yang sudah jemu memandang purnama malam ini."
Kembali terdengar Pasingsingan tertawa. Suara tertawanya seolah-olah menyusup ke dalam tulang dan daging, sehingga menimbulkan perasaan nyeri dan pedih. Ketika suara tertawanya itu lenyap, terdengarlah suara suitan nyaring diikuti oleh suatu auman dahsyat. Dan seperti kilat berloncatanlah Pasingsingan dan Sima Rodra memasuki arena.
Mahesa Jenar yang masih menunggu kesempatan beserta keempat kawannya mendengar seluruh percakapan itu. Mau tidak mau hati mereka tergetar hebat.
Ternyata sekarang Pasingsingan dan Sima Rodra akan ikut serta dalam pertempuran itu. Mereka sama sekali bukanlah orang-orang yang takut mati, tetapi sebentar lagi mereka harus binasa sebelum dapat berbuat sesuatu atas tokoh-tokoh hitam itu. Itulah yang menggelisahkan hati mereka. Tetapi kenyataan itu sama sekali tak dapat diingkari lagi.
Segera darah mereka bergolak ketika mereka mendengar suitan Pasingsingan yang disusul dengan auman dahsyat Sima Rodra. Apalagi ketika dengan aba-aba itu, tokoh-tokoh hitam yang sedang bertempur itu segera berloncatan menjauhkan diri dari lawan masing-masing, agar tidak mengganggu kedua tokoh angkatan tua yang akan terjun dalam pertempuran.
Mahesa Jenar beserta kawan-kawannya sadar bahwa saat terakhir telah hampir tiba. Ketika lawan-lawan mereka berloncatan pergi, untuk sesaat mereka tertegun, tetapi sesaat kemudian tanpa sesuatu tanda apapun, agaknya mereka mempunyai persamaan perhitungan, sehingga seolah-olah digerakkan oleh satu tenaga, mereka berloncatan saling mendekat, untuk dapat bersama-sama melawan kedua orang tokoh dari angkatan tua itu.
Melihat mereka berkumpul dalam satu lingkaran, terdengarlah Pasingsingan dan Sima Rodra tertawa hampir berbareng.
Quote:
"Suatu kesetiakawanan yang mengagumkan. Meskipun kalian berdatangan dari perguruan yang berbeda-beda, tetapi karena nasib kalian telah akan kami tentukan, maka kalian dapat bekerja sama dengan rapi sekali. Nah sekarang, lawanlah kami berdua yang tak bersenjata ini dengan segenap kemampuan kalian, sebelum kalian tak sempat menikmati lezatnya madu," kata Pasingsingan.
Kata-kata itu hebat akibatnya. Bunyinya terdengar lebih dahsyat dari seribu guruh yang meledak bersama-sama. Tetapi justru karena itu maka setiap hati dari kelima orang itu menjadi pasrah pada garis hidupnya masing-masing. Dengan demikian maka lenyaplah segala perasaan gentar dan cemas. Yang ada dalam dada mereka hanyalah satu kepercayaan bahwa pintu sorga akan terbuka bagi mereka yang gugur dalam menunaikan tugas mereka untuk membela kebenaran dan kebajikan. Karena itu mereka menjadi lebih mantap menggenggam senjata masing-masing yang siap diayunkan.
Sesaat kemudian tampillah Pasingsingan dan Sima Rodra bersama-sama, berbareng dengan bergeraknya setiap senjata kawan-kawan Mahesa Jenar. Segera berkobarlah suatu pertempuran yang dahsyat. Kedua orang dari angkatan tua itu memang ternyata memiliki ketinggian ilmu yang luar biasa, sehingga dengan tertawa-tawa saja Pasingsingan dan Sima Rodra dengan senangnya mempermainkan korbannya.
Dalam pada itu Mahesa Jenar dan kawan-kawannya telah bertempur mati-matian untuk mempertahankan diri. Mereka sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk menyerang. Pasingsingan dan Sima Rodra yang hanya dua orang itu seolah-olah seperti angin ribut yang melanda dari segenap penjuru, sedang suara tertawa mereka mengumandang dari segala arah.
Semakin lama Mahesa Jenar dan kawan-kawannya menjadi semakin bingung. Mereka sudah tidak tahu lagi di mana lawan-lawan mereka berada. Tetapi tahu-tahu tubuh mereka telah tersentuh oleh tangan-tangan yang panasnya melampaui panas api.
Mereka sadar bahwa Pasingsingan dan Sima Rodra sampai saat itu baru sampai pada taraf menggoda saja, serta menimbulkan kebingungan dan kesakitan yang semakin lama semakin merata di segenap tubuh Mahesa Jenar dan kawan-kawannya.
Sehingga akhirnya Mahesa Jenar dan kawan-kawannya itu bertempur seperti orang gila yang mengayun-ayunkan senjata tanpa tujuan, bahkan hampir-hampir saja mereka telah mengenai satu sama lain.
Sementara itu suara tertawa Pasingsingan dan Sima Rodra semakin lama menjadi semakin mengerikan dan menggoncang-goncang dada. Mahesa Jenar dan kawan-kawannya semakin lama menjadi semakin tak terkendalikan. Mereka bergerak berputaran tanpa tujuan dan hampir diluar kesadaran mereka masing-masing.
Sesaat kemudian agaknya Pasingsingan dan Sima Rodra telah jemu dengan permainan mereka. Karena itu segera terdengar Pasingsingan berkata,
Quote:
"Sima Rodra, agaknya kelinci-kelinci itu sudah hampir gila. Apakah kita perlu membunuhnya ataukah kita buat saja mereka benar-benar gila?"
"Buat apa kita menonton orang-orang gila berkeliaran di daerah ini?"
"Baiklah, kita bunuh saja mereka dengan senjata mereka sendiri," jawab Sima Rodra.
"Buat apa kita menonton orang-orang gila berkeliaran di daerah ini?"
"Baiklah, kita bunuh saja mereka dengan senjata mereka sendiri," jawab Sima Rodra.
Mendengar percakapan Pasingsingan dengan Sima Rodra itu, Mahesa Jenar dengan keempat kawannya meremang seluruh tubuhnya. Tetapi juga karena itu darah mereka meluap-luap karena marah. Dengan sisa-sisa kesadaran yang masih ada, mereka pasrahkan jiwa dan raga kepada kekuasaan yang Tinggi. Dan sesudah itu mereka bersiap untuk menghadapi saat-saat terakhir.
Mahesa Jenar serta keempat kawannya itu masih sempat menyaksikan di bawah remang-remang cahaya purnama yang disaput mega, bayangan Pasingsingan dan Sima Rodra menyambar ke arah mereka, dan sejenak kemudian mereka melihat kedua orang itu berdiri sambil tertawa nyaring beberapa langkah di hadapan mereka dengan sebuah tombak berkait di tangan Pasingsingan serta sebuah trisula di tangan Sima Rodra.
Quote:
"Nah… kata Pasingsingan, Jangan salahkan aku kalau kalian mati karena senjata kawan sendiri. Yang mula-mula harus membuat perhitungan adalah Mahesa Jenar. Kau telah membunuh Watu Gunung, melukai Lawa Ijo, dan dengan Gajah Sora kalian menyerang aku di Banyubiru. Kaulah orang yang pertama-tama harus binasa. Setelah itu sebenarnya bagiku sudah tidak ada soal lagi, apakah aku atau Sima Rodra yang akan membelah perut kalian."
Mahesa Jenar mendengarkan kata-kata itu dengan dada yang bergetar. Bukan oleh ketakutan bahwa maut akan melibatnya, tetapi karena ia harus meninggalkan tugas-tugas sucinya sebelum seujung kuku dapat diselesaikan. Namun bagaimanapun ia adalah seorang jantan, karena itu ia tidak akan ada artinya. Maka segera ia pun mempersiapkan dirinya dengan apa yang ada padanya.
Mendengar kata-kata Pasingsingan itu, agaknya keempat kawan Mahesa Jenar tidak akan membiarkan Mahesa Jenar menjadi korban yang pertama-tama. Karena itu seperti orang yang berebutan, mereka tiba-tiba berloncatan mengelilinginya. Mahesa Jenar menjadi terharu melihat kesetiakawanan yang sedemikian tinggi. Meskipun Paningron dan Wiraraga kini sudah tidak bersenjata lagi, tetapi mereka sama sekali tidak gentar menghadapi kemungkinan yang akan datang.
Melihat kejadian itu Pasingsingan menjadi marah.
Quote:
"Ke tepilah kalian yang tidak berkepentingan. Atau kalian semuanya akan bersama-sama binasa," katanya.
Tak seorangpun menjawab, tetapi tak seorangpun beranjak dari tempatnya. Hal itu menjadikan Pasingsingan semakin marah. Tetapi belum lagi ia berkata sesuatu, Sima Rodra yang agaknya tidak sabar lagi, menggeram.
Quote:
"Mereka ternyata benar-benar telah gila dan tidak mampu berkata-kata. Karena itu buat apa kita memilih korban. Marilah bersama-sama kita binasakan mereka sekaligus."
Pasingsingan tidak menjawab. Tetapi segera mereka berdua bergerak dan seperti petir mereka menyambar bersama-sama.
Tetapi sementara itu Mahesa Jenar dan kawan-kawannya tidak berdiam diri saja sambil menunggu dada mereka tertembus senjata. Mereka pun segera berusaha untuk melawan sekuat-kuat tenaga mereka. Maka segera terjadilah sekali lagi pertempuran yang maha dahsyat.
Tetapi adalah di luar dugaan mereka semuanya, bahwa tiba-tiba saja Mahesa Jenar dapat memberikan perlawanan yang mengerikan. Dengan sebatang dahan kayu ia menyambar, melompat, menangkis dan menyerang dengan dahsyatnya hampir di luar kemampuan manusia.
Diubah oleh nandeko 14-08-2020 16:28
fakhrie... dan 11 lainnya memberi reputasi
12
Kutip
Balas
Tutup