- Beranda
- Stories from the Heart
Naga Sasra & Sabuk Inten
...
TS
nandeko
Naga Sasra & Sabuk Inten

NAGA SASRA & SABUK INTEN
Kisah ini merupakan karangan dari S.H Mintardja. Disini TS sudah mendapatkan ijin untuk sekedar membagikan dan mempermudahkan pembaca untuk menikmati kisah ini dalam bentuk digital
INDEX
Quote:
Spoiler for JILID 1:
Spoiler for JILID 2:
Spoiler for JILID 3:
Spoiler for JILID 4:
Spoiler for JILID 5:
Spoiler for JILID 6:
Part 114
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Spoiler for JILID 7:
Spoiler for JILID 8:
Spoiler for JILID 9:
Spoiler for JILID 10:
Pengarang dan Hakcipta©
Singgih Hadi Mintardja
Singgih Hadi Mintardja
Diubah oleh nandeko 21-10-2021 14:24
whadi05 dan 43 lainnya memberi reputasi
42
62.2K
Kutip
1.2K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
nandeko
#205
Jilid 6 [Part 149]
Spoiler for :
Ketika matahari telah condong ke barat, mulailah rombongan yang pertama datang ke tempat itu. Rombongan yang datang paling awal adalah rombongan dari Gunung Tidar. Beberapa waktu yang lampau Mahesa Jenar pernah menyaksikan orang-orang dari golongan hitam ini berkumpul, tetapi agaknya kali ini pertemuan mereka lebih bersifat resmi.
Suami-istri Sima Rodra itu datang bersama beberapa pengiring, di bawah pimpinan seorang yang bertubuh pendek dengan otot-otot yang menjorok, membuat garis-garis di wajah kulitnya yang hitam. Dengan demikian nampak betapa kokohnya ia, bahkan mirip seekor orang hutan.
Uling Putih dan Uling Kuning sendiri datang menyambut rombongan itu, serta langsung dibawa ke salah satu barak yang terbesar, yang agaknya merupakan ruang pertemuan. Setelah mereka berbicara beberapa saat, rombongan itu kemudian dipersilahkan memasuki salah satu barak yang lain, yang rupa-rupanya menjadi tempat penginapan.
Demikian datanglah berturut-turut rombongan dari hutan Tambakbaya. Lawa Ijo bersama-sama dengan Wadas Gunung, Carang Lampit, Cemoro Aking, Bagolan dan beberapa orang lagi. Disusul oleh kedatangan Ki Ageng Lembu Sora beserta para pengiringnya.
Meskipun Mahesa Jenar telah menduga sebelumnya bahwa Lembu Sora pasti akan hadir juga dalam pertemuan itu, namun hatinya berdebar-debar pula menyaksikan kedatangannya.
Tetapi satu hal yang Mahesa Jenar masih menunggu-nunggu. Yaitu kehadiran Jaka Soka. Sampai matahari rendah sekali, Ular Laut dari Nusakambangan itu belum menampakkan diri. Sedangkan Pasingsingan dan Sima Rodra menurut perhitungan Mahesa Jenar pasti akan muncul ketika pertemuan itu sudah akan dimulai.
Sesaat kemudian matahari tenggelam dengan damainya, disusul oleh cahaya purnama penuh yang memancar dari sebuah bola yang melayang-layang di langit.
Pada saat yang demikian, agaknya pertemuan antara golongan hitam itu sudah akan dimulai.
Beberapa orang telah keluar dari barak-barak mereka, dan berkumpul di pinggir lapangan rumput itu. Uling Putih dan Uling Kuning untuk penghabisan kali memeriksa tempat pertemuan itu. Setelah ia merasa bahwa segala sesuatunya tidak ada kekurangan, maka segera terdengar sebuah kentongan dipukul perlahan-lahan.
Sesaat kemudian muncullah tokoh-tokoh hitam dari barak mereka masing-masing menuju ke lapangan. Juga Ki Ageng Lembu Sora yang akan mengikuti pertemuan itu. Tetapi diantara mereka masih belum nampak Jaka Soka, Pasingsingan dan Sima Rodra.
Uling Putih sebagai tuan rumah segera mempersilahkan tamu-tamunya di tempat yang telah direncanakan. Lembu Sora sebagai tamu kehormatan menempati sisi sebelah barat bersama-sama dengan Uling Rawa Pening. Bagian selatan disediakan untuk Rombongan dari Gunung Tidar, sedangkan Bagian timur untuk gerombolan Hutan Tambakbaya. Bagian utara yang disediakan untuk rombongan dari Nusakambangan masih tampak kosong. Sedang tempat-tempat yang disediakan untuk Pasingsingan dan Sima Rodra pun masih tampak kosong.
Tetapi belum lagi mereka selesai menempatkan diri, tiba-tiba dari arah utara muncullah satu rombongan, yang di depan mereka berjalan seorang muda yang berwajah tampan. Ialah Jaka Soka yang datang sambil tersenyum-senyum, beserta beberapa pengiringnya.
DENGAN munculnya Jaka Soka, tiba-tiba suasana segera berubah menjadi tegang, meskipun orang itu sendiri selalu tersenyum-senyum. Apalagi Lembu Sora tiba-tiba tidak dapat menguasai dirinya. Dengan serta merta ia berdiri sambil mencabut pedang panjangnya. Tanpa menunggu apapun ia langsung berlari menyerang Jaka Soka yang baru saja datang.
Jaka Soka, ketika melihat serangan itu menjadi terkejut. Tetapi segera ia menyadari bahwa hal yang demikian memang wajar terjadi, sebab pasti Lembu Sora masih sakit hati kepadanya, karena ia sama sekali tidak berusaha untuk mencegah pada saat Mahesa Jenar akan membunuhnya, bahkan agaknya Jaka Soka pada waktu itu menunjukkan bahwa ia bersenang hati atas peristiwa itu.
Karena itu, Jaka Soka pun segera menyambut serangan Lembu Sora. Dengan cepatnya, ia memutar tongkatnya, dan sesaat kemudian tangan kanannya telah memegang sebuah pedang yang lentur, sedang tangan kiri memegang tongkatnya yang dipergunakannya sebagai perisai.
Pada saat itu Lembu Sora telah berdiri di hadapan Jaka Soka. Pedangnya yang besar itu terayun deras mengarah ke leher Jaka Soka. Tetapi ternyata Jaka Soka cukup gesit, sehingga demikian pedang itu menyambar, Jaka Soka segera merendahkan diri sambil menjulurkan tangan kanannya untuk menyerang lambung Lembu Sora dengan pedangnya.
Melihat ujung pedang Jaka Soka itu tetap mengejarnya, Lembu Sora segera meluruskan tangannya pula. Dan karena pedangnya lebih panjang dari pedang Jaka Soka, maka terpaksa Jaka Soka menarik serangannya.
Lembu Sora tidak mau melepaskan kesempatan itu. Segera pedangnya yang besar serta panjang melampaui ukuran biasa itu, diputarnya seperti memutar lidi, sehingga menimbulkan bunyi berdesingan dan angin yang menyambar-nyambar menyertai putaran pedangnya.
Mendapat serangan yang dahsyat itu Jaka Soka terpaksa menangkis dengan kedua tangannya, dengan pedang lenturnya serta tongkat hitam yang juga merupakan rangka dari pedangnya. Tetapi ia adalah seorang pemimpin bajak laut yang terkenal. Karena itu ia segera dapat mencapai keseimbangan. Bahkan serangannya menjadi semakin berbahaya pula.
Sesaat itu, orang-orang hitam yang menyaksikan gerakan Lembu Sora yang tak mereka duga, menjadi terkejut dan tidak tahu apa yang harus mereka kerjakan. Baru setelah mereka menyaksikan perkelahian mati-matian antara keduanya, mereka menjadi sadar atas apa yang terjadi.
Uling Kuning yang pernah bertengkar pula dengan Jaka soka, hatinya menjadi terbakar pula. Hampir saja ia ikut serta menyerang Jaka Soka, kalau sekali lagi kakaknya Uling Putih tidak memperingatkan.
Mendengar keterangan kakaknya itu, Uling Kuning ikut tertawa pula. Serta tak sengaja ia memandang Lawa Ijo dan Sima Rodra berganti-ganti. Ternyata mereka sama sekali tidak beranjak dari tempatnya. Agaknya mereka pun mempunyai perhitungan yang sama sehingga mereka tidak menganggap perlu untuk melerainya.
Sementara itu pertempuran antara Jaka Soka dan Lembu Sora menjadi semakin dahsyat. Laskar Lembu Sora yang melihat pemimpinnya bertempur serentak bergerak maju. Tetapi segera mereka terhenti ketika mereka melihat para pengiring Jaka Soka menyiapkan panah mereka. Agaknya para bajak laut itu biasa mempergunakan senjata jarak jauh dalam pekerjaan mereka sehari-hari, bila mereka sedang merompak dan membajak kapal-kapal yang berlayar di daerah kerja mereka.
Tetapi orang-orang Lembu Sora ternyata memiliki kelicinan seperti pemimpinnya pula. Begitu mereka tertahan karena ancaman panah, segera mereka bubar berpencaran ke segala penjuru. Tentu saja hal ini agak menyulitkan orang-orang Jaka Soka. Namun para bajak laut itu pun terdiri dari orang-orang yang berhati keras. Ketika mereka merasa bahwa senjata panah mereka kurang berguna, segera mereka menyiapkan golok-golok mereka. Demikianlah maka suasana menjadi bertambah tegang. Tidak saja laskar Pamingit dan para pengiring Jaka Soka saja yang kemudian bersiaga, tetapi juga orang-orang Lawa Ijo, Sima Rodra dan Gerombolan Uling Rawa Pening segera bersiaga penuh. Sebab tidak mustahil kalau salah satu pihak akan mengambil kesempatan dalam kekisruhan yang terjadi itu.
Suami-istri Sima Rodra itu datang bersama beberapa pengiring, di bawah pimpinan seorang yang bertubuh pendek dengan otot-otot yang menjorok, membuat garis-garis di wajah kulitnya yang hitam. Dengan demikian nampak betapa kokohnya ia, bahkan mirip seekor orang hutan.
Uling Putih dan Uling Kuning sendiri datang menyambut rombongan itu, serta langsung dibawa ke salah satu barak yang terbesar, yang agaknya merupakan ruang pertemuan. Setelah mereka berbicara beberapa saat, rombongan itu kemudian dipersilahkan memasuki salah satu barak yang lain, yang rupa-rupanya menjadi tempat penginapan.
Demikian datanglah berturut-turut rombongan dari hutan Tambakbaya. Lawa Ijo bersama-sama dengan Wadas Gunung, Carang Lampit, Cemoro Aking, Bagolan dan beberapa orang lagi. Disusul oleh kedatangan Ki Ageng Lembu Sora beserta para pengiringnya.
Meskipun Mahesa Jenar telah menduga sebelumnya bahwa Lembu Sora pasti akan hadir juga dalam pertemuan itu, namun hatinya berdebar-debar pula menyaksikan kedatangannya.
Tetapi satu hal yang Mahesa Jenar masih menunggu-nunggu. Yaitu kehadiran Jaka Soka. Sampai matahari rendah sekali, Ular Laut dari Nusakambangan itu belum menampakkan diri. Sedangkan Pasingsingan dan Sima Rodra menurut perhitungan Mahesa Jenar pasti akan muncul ketika pertemuan itu sudah akan dimulai.
Sesaat kemudian matahari tenggelam dengan damainya, disusul oleh cahaya purnama penuh yang memancar dari sebuah bola yang melayang-layang di langit.
Pada saat yang demikian, agaknya pertemuan antara golongan hitam itu sudah akan dimulai.
Beberapa orang telah keluar dari barak-barak mereka, dan berkumpul di pinggir lapangan rumput itu. Uling Putih dan Uling Kuning untuk penghabisan kali memeriksa tempat pertemuan itu. Setelah ia merasa bahwa segala sesuatunya tidak ada kekurangan, maka segera terdengar sebuah kentongan dipukul perlahan-lahan.
Sesaat kemudian muncullah tokoh-tokoh hitam dari barak mereka masing-masing menuju ke lapangan. Juga Ki Ageng Lembu Sora yang akan mengikuti pertemuan itu. Tetapi diantara mereka masih belum nampak Jaka Soka, Pasingsingan dan Sima Rodra.
Uling Putih sebagai tuan rumah segera mempersilahkan tamu-tamunya di tempat yang telah direncanakan. Lembu Sora sebagai tamu kehormatan menempati sisi sebelah barat bersama-sama dengan Uling Rawa Pening. Bagian selatan disediakan untuk Rombongan dari Gunung Tidar, sedangkan Bagian timur untuk gerombolan Hutan Tambakbaya. Bagian utara yang disediakan untuk rombongan dari Nusakambangan masih tampak kosong. Sedang tempat-tempat yang disediakan untuk Pasingsingan dan Sima Rodra pun masih tampak kosong.
Tetapi belum lagi mereka selesai menempatkan diri, tiba-tiba dari arah utara muncullah satu rombongan, yang di depan mereka berjalan seorang muda yang berwajah tampan. Ialah Jaka Soka yang datang sambil tersenyum-senyum, beserta beberapa pengiringnya.
DENGAN munculnya Jaka Soka, tiba-tiba suasana segera berubah menjadi tegang, meskipun orang itu sendiri selalu tersenyum-senyum. Apalagi Lembu Sora tiba-tiba tidak dapat menguasai dirinya. Dengan serta merta ia berdiri sambil mencabut pedang panjangnya. Tanpa menunggu apapun ia langsung berlari menyerang Jaka Soka yang baru saja datang.
Jaka Soka, ketika melihat serangan itu menjadi terkejut. Tetapi segera ia menyadari bahwa hal yang demikian memang wajar terjadi, sebab pasti Lembu Sora masih sakit hati kepadanya, karena ia sama sekali tidak berusaha untuk mencegah pada saat Mahesa Jenar akan membunuhnya, bahkan agaknya Jaka Soka pada waktu itu menunjukkan bahwa ia bersenang hati atas peristiwa itu.
Karena itu, Jaka Soka pun segera menyambut serangan Lembu Sora. Dengan cepatnya, ia memutar tongkatnya, dan sesaat kemudian tangan kanannya telah memegang sebuah pedang yang lentur, sedang tangan kiri memegang tongkatnya yang dipergunakannya sebagai perisai.
Pada saat itu Lembu Sora telah berdiri di hadapan Jaka Soka. Pedangnya yang besar itu terayun deras mengarah ke leher Jaka Soka. Tetapi ternyata Jaka Soka cukup gesit, sehingga demikian pedang itu menyambar, Jaka Soka segera merendahkan diri sambil menjulurkan tangan kanannya untuk menyerang lambung Lembu Sora dengan pedangnya.
Melihat ujung pedang Jaka Soka itu tetap mengejarnya, Lembu Sora segera meluruskan tangannya pula. Dan karena pedangnya lebih panjang dari pedang Jaka Soka, maka terpaksa Jaka Soka menarik serangannya.
Lembu Sora tidak mau melepaskan kesempatan itu. Segera pedangnya yang besar serta panjang melampaui ukuran biasa itu, diputarnya seperti memutar lidi, sehingga menimbulkan bunyi berdesingan dan angin yang menyambar-nyambar menyertai putaran pedangnya.
Mendapat serangan yang dahsyat itu Jaka Soka terpaksa menangkis dengan kedua tangannya, dengan pedang lenturnya serta tongkat hitam yang juga merupakan rangka dari pedangnya. Tetapi ia adalah seorang pemimpin bajak laut yang terkenal. Karena itu ia segera dapat mencapai keseimbangan. Bahkan serangannya menjadi semakin berbahaya pula.
Sesaat itu, orang-orang hitam yang menyaksikan gerakan Lembu Sora yang tak mereka duga, menjadi terkejut dan tidak tahu apa yang harus mereka kerjakan. Baru setelah mereka menyaksikan perkelahian mati-matian antara keduanya, mereka menjadi sadar atas apa yang terjadi.
Uling Kuning yang pernah bertengkar pula dengan Jaka soka, hatinya menjadi terbakar pula. Hampir saja ia ikut serta menyerang Jaka Soka, kalau sekali lagi kakaknya Uling Putih tidak memperingatkan.
Quote:
"Biarkanlah mereka," kata Uling Putih.
"Adalah baik sekali kalau salah seorang, atau kedua-duanya binasa."
Dengan pandangan tidak mengerti, Uling Kuning menatap wajah kakaknya. Sehingga dengan tertawa pendek Uling Putih perlu menjelaskan,
"Aku setuju dengan pendapat Jaka Soka, bahwa akhirnya kita akan saling berusaha untuk membinasakan. Kalau salah seorang atau kedua-duanya binasa, bukankah saingan kita berkurang? Kalau Lembu Sora binasa, Banyubiru akan dengan mudah kita kuasai. Sedang Pamingit mungkin akan jatuh ke dalam pengaruh Sima Rodra. Tetapi Sima Rodra itu kelak harus kita binasakan pula, cepat atau lambat, sebelum atau sesudah Demak sendiri binasa."
"Adalah baik sekali kalau salah seorang, atau kedua-duanya binasa."
Dengan pandangan tidak mengerti, Uling Kuning menatap wajah kakaknya. Sehingga dengan tertawa pendek Uling Putih perlu menjelaskan,
"Aku setuju dengan pendapat Jaka Soka, bahwa akhirnya kita akan saling berusaha untuk membinasakan. Kalau salah seorang atau kedua-duanya binasa, bukankah saingan kita berkurang? Kalau Lembu Sora binasa, Banyubiru akan dengan mudah kita kuasai. Sedang Pamingit mungkin akan jatuh ke dalam pengaruh Sima Rodra. Tetapi Sima Rodra itu kelak harus kita binasakan pula, cepat atau lambat, sebelum atau sesudah Demak sendiri binasa."
Mendengar keterangan kakaknya itu, Uling Kuning ikut tertawa pula. Serta tak sengaja ia memandang Lawa Ijo dan Sima Rodra berganti-ganti. Ternyata mereka sama sekali tidak beranjak dari tempatnya. Agaknya mereka pun mempunyai perhitungan yang sama sehingga mereka tidak menganggap perlu untuk melerainya.
Sementara itu pertempuran antara Jaka Soka dan Lembu Sora menjadi semakin dahsyat. Laskar Lembu Sora yang melihat pemimpinnya bertempur serentak bergerak maju. Tetapi segera mereka terhenti ketika mereka melihat para pengiring Jaka Soka menyiapkan panah mereka. Agaknya para bajak laut itu biasa mempergunakan senjata jarak jauh dalam pekerjaan mereka sehari-hari, bila mereka sedang merompak dan membajak kapal-kapal yang berlayar di daerah kerja mereka.
Tetapi orang-orang Lembu Sora ternyata memiliki kelicinan seperti pemimpinnya pula. Begitu mereka tertahan karena ancaman panah, segera mereka bubar berpencaran ke segala penjuru. Tentu saja hal ini agak menyulitkan orang-orang Jaka Soka. Namun para bajak laut itu pun terdiri dari orang-orang yang berhati keras. Ketika mereka merasa bahwa senjata panah mereka kurang berguna, segera mereka menyiapkan golok-golok mereka. Demikianlah maka suasana menjadi bertambah tegang. Tidak saja laskar Pamingit dan para pengiring Jaka Soka saja yang kemudian bersiaga, tetapi juga orang-orang Lawa Ijo, Sima Rodra dan Gerombolan Uling Rawa Pening segera bersiaga penuh. Sebab tidak mustahil kalau salah satu pihak akan mengambil kesempatan dalam kekisruhan yang terjadi itu.
fakhrie... dan 11 lainnya memberi reputasi
12
Kutip
Balas
Tutup