- Beranda
- Stories from the Heart
Naga Sasra & Sabuk Inten
...
TS
nandeko
Naga Sasra & Sabuk Inten

NAGA SASRA & SABUK INTEN
Kisah ini merupakan karangan dari S.H Mintardja. Disini TS sudah mendapatkan ijin untuk sekedar membagikan dan mempermudahkan pembaca untuk menikmati kisah ini dalam bentuk digital
INDEX
Quote:
Spoiler for JILID 1:
Spoiler for JILID 2:
Spoiler for JILID 3:
Spoiler for JILID 4:
Spoiler for JILID 5:
Spoiler for JILID 6:
Part 114
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Spoiler for JILID 7:
Spoiler for JILID 8:
Spoiler for JILID 9:
Spoiler for JILID 10:
Pengarang dan Hakcipta©
Singgih Hadi Mintardja
Singgih Hadi Mintardja
Diubah oleh nandeko 21-10-2021 14:24
whadi05 dan 43 lainnya memberi reputasi
42
62.2K
Kutip
1.2K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
nandeko
#203
Jilid 6 [Part 147]
Spoiler for :
MENDENGAR kata-kata itu, barulah Mahesa Jenar sadar bahwa sebaiknya ia memperkenalkan kedua orang yang baru saja bertempur itu.
Dengan mengenal siapakah mereka masing-masing, hati Mantingan maupun Gajah Alit bergetaran. Bagi Mahesa Jenar, Gajah Alit adalah seorang perwira prajurit pengawal raja, yang pasti seorang prajurit pilihan. Sebaliknya nama Mantingan pernah didengar oleh Gajah Alit, sebagaimana Mahesa Jenar dahulu juga sudah mendengarnya, sebagai seorang yang telah berhasil membinasakan tiga orang perampok yang menamakan diri mereka Samber Nyawa.
Dalam hati Mantingan merasa bersyukur bahwa ia masih tetap dapat mempertahankan dirinya terhadap Gajah Alit. Andaikata ia masih belum menerima ilmu Pacar Wutah dari gurunya, entahlah apa yang akan terjadi atas dirinya. Dan karena ilmu itulah maka Mantingan menjadi seorang yang perkasa. Gurunya sengaja memberikan ilmu itu sebagai bekal perjalanannya yang akan sangat berbahaya.
Sejenak kemudian, kembali terdengar Mahesa Jenar bertanya kepada Mantingan dan Gajah Alit,
Gajah Alit tidak menjawab pertanyaan itu. Malahan ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Sebaliknya Mantingan mencoba untuk memberi penjelasan.
Mendengar keterangan Ki Dalang Mantingan, Mahesa Jenar tersenyum. Memang kadang-kadang kita harus mengalami peristiwa-peristiwa yang aneh, seperti apa yang pernah dialaminya di Prambanan dan Pucangan.
Gajah Alit menarik nafas. Ia akan menjawab, tetapi agak ragu-ragu sambil memandang Ki Dalang Mantingan, sampai Mahesa Jenar mendesaknya,
Mendengar kata-kata Gajah Alit itu hati Mahesa Jenar jadi berdebar-debar juga. Paningron adalah salah seorang perwira dari jabatan rahasia. Ilmunya tidak kalah dengan ilmu yang dimiliki oleh Gajah Alit.
Sesaat kemudian Mahesa Jenar jadi ragu. Kalau dari penjabat rahasia telah dapat mengetahui keberadaannya, maka ada kemungkinan dirinya dipanggil menghadap.
Kepada Gajah Alit, ia masih mungkin untuk memintanya tidak berkata apa-apa tentang dirinya. Tetapi bagaimana dengan Paningron?
Agaknya Gajah Alit dapat menangkap perasaan Mahesa Jenar. Karena itu ia berkata,
Dengan mengenal siapakah mereka masing-masing, hati Mantingan maupun Gajah Alit bergetaran. Bagi Mahesa Jenar, Gajah Alit adalah seorang perwira prajurit pengawal raja, yang pasti seorang prajurit pilihan. Sebaliknya nama Mantingan pernah didengar oleh Gajah Alit, sebagaimana Mahesa Jenar dahulu juga sudah mendengarnya, sebagai seorang yang telah berhasil membinasakan tiga orang perampok yang menamakan diri mereka Samber Nyawa.
Dalam hati Mantingan merasa bersyukur bahwa ia masih tetap dapat mempertahankan dirinya terhadap Gajah Alit. Andaikata ia masih belum menerima ilmu Pacar Wutah dari gurunya, entahlah apa yang akan terjadi atas dirinya. Dan karena ilmu itulah maka Mantingan menjadi seorang yang perkasa. Gurunya sengaja memberikan ilmu itu sebagai bekal perjalanannya yang akan sangat berbahaya.
Sejenak kemudian, kembali terdengar Mahesa Jenar bertanya kepada Mantingan dan Gajah Alit,
Quote:
"Apakah urusan kalian, sehingga kalian sampai mempertaruhkan nyawa kalian?"
Gajah Alit tidak menjawab pertanyaan itu. Malahan ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Sebaliknya Mantingan mencoba untuk memberi penjelasan.
Quote:
"Entahlah Adi, tetapi kami tadi telah berjumpa di temat ini. Karena barangkali kami sama-sama tidak mau mengatakan keperluan kami, maka kami menjadi saling curiga. Aku mengira bahwa orang itu adalah salah seorang anggota golongan hitam, barangkali ia pun mengira aku demikian pula, sehingga akhirnya kami berkelahi. Mula-mulai kami tidak bersungguh-sungguh tetapi akhirnya kami jadi mata gelap."
Mendengar keterangan Ki Dalang Mantingan, Mahesa Jenar tersenyum. Memang kadang-kadang kita harus mengalami peristiwa-peristiwa yang aneh, seperti apa yang pernah dialaminya di Prambanan dan Pucangan.
Quote:
"Benarkah begitu, Adi Gajah Alit?" Mahesa Jenar menegaskan.
"Begitulah, Kakang," jawab Gajah Alit,
"Sebab kami belum pernah saling mengenal. Untunglah bahwa Kakang Mahesa Jenar sempat melerai kami. Kalau tidak, barangkali ada bangkai Gajah tanpa belalai jadi makanan Gagak."
Mahesa Jenar tertawa perlahan-lahan. Segera terdengar Mantingan berkata,
"Tuan terlalu merendahkan diri. Bersyukurlah aku, kalau sekarang aku masih sempat memandang bulan."
"Aku tidak dapat mengatakan," potong Mahesa Jenar,
"Siapakah yang lebih unggul diantara kalian. Karena itu kalian akan menjadi kawan yang baik bagiku di sini, di dekat sarang sepasang Uling Rawa Pening."
Mahesa Jenar diam sebentar, kemudian ia meneruskan,
"Apakah sebenarnya kepentingan Adi Gajah Alit kemari?"
"Begitulah, Kakang," jawab Gajah Alit,
"Sebab kami belum pernah saling mengenal. Untunglah bahwa Kakang Mahesa Jenar sempat melerai kami. Kalau tidak, barangkali ada bangkai Gajah tanpa belalai jadi makanan Gagak."
Mahesa Jenar tertawa perlahan-lahan. Segera terdengar Mantingan berkata,
"Tuan terlalu merendahkan diri. Bersyukurlah aku, kalau sekarang aku masih sempat memandang bulan."
"Aku tidak dapat mengatakan," potong Mahesa Jenar,
"Siapakah yang lebih unggul diantara kalian. Karena itu kalian akan menjadi kawan yang baik bagiku di sini, di dekat sarang sepasang Uling Rawa Pening."
Mahesa Jenar diam sebentar, kemudian ia meneruskan,
"Apakah sebenarnya kepentingan Adi Gajah Alit kemari?"
Gajah Alit menarik nafas. Ia akan menjawab, tetapi agak ragu-ragu sambil memandang Ki Dalang Mantingan, sampai Mahesa Jenar mendesaknya,
Quote:
"Katakanlah. Kakang Mantingan adalah orang yang tahu membawa masalah."
"Kakang…." Gajah Alit memulai,
"Kedatanganku adalah atas perintah Sultan. Sebab terdengar keterangan dari penjabat-penjabat rahasia, bahwa di sekitar rawa ini akan terjadi suatu pertemuan dari tokoh-tokoh golongan hitam. Karena itu aku mendapat perintah untuk mengadakan penyelidikan atas kebenaran berita itu. Maka dikirimkannyalah aku kemari."
Mendengar keterangan Gajah Alit, Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Jadi kalangan istana sudah mendengar akan adanya pertemuan tengah bulan ini?"
"Ya," Jawab Gajah Alit,
"Bahkan aku tidak seorang diri."
"Kau tidak seorang diri?" ulang Mahesa Jenar.
"Aku dikirim bersama dengan Kakang Paningron." Gajah Alit meneruskan.
"Kakang…." Gajah Alit memulai,
"Kedatanganku adalah atas perintah Sultan. Sebab terdengar keterangan dari penjabat-penjabat rahasia, bahwa di sekitar rawa ini akan terjadi suatu pertemuan dari tokoh-tokoh golongan hitam. Karena itu aku mendapat perintah untuk mengadakan penyelidikan atas kebenaran berita itu. Maka dikirimkannyalah aku kemari."
Mendengar keterangan Gajah Alit, Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Jadi kalangan istana sudah mendengar akan adanya pertemuan tengah bulan ini?"
"Ya," Jawab Gajah Alit,
"Bahkan aku tidak seorang diri."
"Kau tidak seorang diri?" ulang Mahesa Jenar.
"Aku dikirim bersama dengan Kakang Paningron." Gajah Alit meneruskan.
Mendengar kata-kata Gajah Alit itu hati Mahesa Jenar jadi berdebar-debar juga. Paningron adalah salah seorang perwira dari jabatan rahasia. Ilmunya tidak kalah dengan ilmu yang dimiliki oleh Gajah Alit.
Quote:
"Di manakah Adi Paningron sekarang?" tanya Mahesa Jenar.
"Sejak senja kami berpisah," jawab Gajah Alit.
"Kami berusaha untuk menemukan tempat pertemuan Golongan Hitam itu. Tengah malam kami akan bertemu."
"Kalau malam ini tempat itu belum kami temukan, besok kami masih harus bekerja keras."
"Sejak senja kami berpisah," jawab Gajah Alit.
"Kami berusaha untuk menemukan tempat pertemuan Golongan Hitam itu. Tengah malam kami akan bertemu."
"Kalau malam ini tempat itu belum kami temukan, besok kami masih harus bekerja keras."
Sesaat kemudian Mahesa Jenar jadi ragu. Kalau dari penjabat rahasia telah dapat mengetahui keberadaannya, maka ada kemungkinan dirinya dipanggil menghadap.
Kepada Gajah Alit, ia masih mungkin untuk memintanya tidak berkata apa-apa tentang dirinya. Tetapi bagaimana dengan Paningron?
Agaknya Gajah Alit dapat menangkap perasaan Mahesa Jenar. Karena itu ia berkata,
Quote:
"Kakang Mahesa Jenar tidak perlu khawatir tentang Kakang Paningron. Ia adalah seorang penjabat yang baik, tetapi juga bukan jenis orang yang suka mencari-cari kesalahan orang lain."
Mendengar keterangan Gajah Alit, Mahesa Jenar tertawa pendek.
"Kau pandai menebak perasaan orang Adi. Mudah-mudahan demikianlah hendaknya."
"Percayakan itu padaku," tegas Gajah Alit.
"Baiklah…" kata Mahesa Jenar,
"Kalau demikian aku bersamamu menunggu kedatangannya. Juga adalah suatu keuntungan bahwa kau tidak berjalan bersama-sama dengan Adi Paningron. Sebab dengan demikian mungkin kalian telah menangkap Kakang Mantingan yang pergi seorang diri."
Mendengar percakapan itu Mantingan tertawa pula, serta diantara tertawanya terdengar ia berkata,
"Aku pun tidak pergi seorang diri, Adi."
"He…? "Mahesa Jenar dan Gajah Alit agak terkejut mendengar itu.
"Dengan siapa Kakang pergi?" tanya Mahesa Jenar.
"Aku pergi bersama Kakang Wiraraga, kakak seperguruanku," jawab Mantingan.
Mendengar keterangan Gajah Alit, Mahesa Jenar tertawa pendek.
"Kau pandai menebak perasaan orang Adi. Mudah-mudahan demikianlah hendaknya."
"Percayakan itu padaku," tegas Gajah Alit.
"Baiklah…" kata Mahesa Jenar,
"Kalau demikian aku bersamamu menunggu kedatangannya. Juga adalah suatu keuntungan bahwa kau tidak berjalan bersama-sama dengan Adi Paningron. Sebab dengan demikian mungkin kalian telah menangkap Kakang Mantingan yang pergi seorang diri."
Mendengar percakapan itu Mantingan tertawa pula, serta diantara tertawanya terdengar ia berkata,
"Aku pun tidak pergi seorang diri, Adi."
"He…? "Mahesa Jenar dan Gajah Alit agak terkejut mendengar itu.
"Dengan siapa Kakang pergi?" tanya Mahesa Jenar.
"Aku pergi bersama Kakang Wiraraga, kakak seperguruanku," jawab Mantingan.
fakhrie... dan 11 lainnya memberi reputasi
12
Kutip
Balas
Tutup