- Beranda
- Stories from the Heart
Naga Sasra & Sabuk Inten
...
TS
nandeko
Naga Sasra & Sabuk Inten

NAGA SASRA & SABUK INTEN
Kisah ini merupakan karangan dari S.H Mintardja. Disini TS sudah mendapatkan ijin untuk sekedar membagikan dan mempermudahkan pembaca untuk menikmati kisah ini dalam bentuk digital
INDEX
Quote:
Spoiler for JILID 1:
Spoiler for JILID 2:
Spoiler for JILID 3:
Spoiler for JILID 4:
Spoiler for JILID 5:
Spoiler for JILID 6:
Part 114
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Spoiler for JILID 7:
Spoiler for JILID 8:
Spoiler for JILID 9:
Spoiler for JILID 10:
Pengarang dan Hakcipta©
Singgih Hadi Mintardja
Singgih Hadi Mintardja
Diubah oleh nandeko 21-10-2021 14:24
whadi05 dan 43 lainnya memberi reputasi
42
62.2K
Kutip
1.2K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
nandeko
#201
Jilid 6 [Part 145]
Spoiler for :
Beberapa langkah kemudian tampaklah sebuah pohon yang tidak terlalu tinggi, tetapi daunnya sangat lebat. Dibalik pohon itulah Mahesa Jenar melihat Sri Gunting menghilang. Tahulah kini Mahesa Jenar bahwa pohon-pohon yang tumbuh rapat sekali itu, memang sengaja diatur demikian, sehingga merupakan benteng hidup yang mengelilingi pusat sarang Uling Rawa Pening. Gerombolan yang mempunyai nama tidak kalah menggetarkan daripada nama Lawa Ijo, yang ditakuti di daerah pantai utara.
Sampai di situ, Mahesa Jenar terpaksa tidak dapat mengikuti Sri Gunting untuk seterusnya. Ia tidak mau tergesa-gesa menyusup pohon yang rimbun itu, sebab ia masih belum mengetahui apakah kira-kira yang berada di belakangnya. Mungkin setelah menyusup pohon itu, langsung akan memasuki sebuah gardu perondan, atau malah sampai ke barak Uling sendiri. Karena itu, Mahesa Jenar terpaksa berhenti di semak-semak sambil beristirahat. Ia mencoba memutar otak, bagaimana dapat memasuki, setidak-tidaknya mengetahui keadaan di dalam sarang itu.
Akhirnya Mahesa Jenar menemukan cara juga. Meskipun ia tidak pasti akan dapat masuk, tetapi ia akan mendapat gambaran tentang keadaan dibalik benteng tanaman itu. Sebagai seorang prajurit, ia pernah mendapat latihan panjat-memanjat, menggantung, dan berayun dengan tali yang cukup tinggi. Dengan hati-hati, Mahesa Jenar pun segera memanjat. Dari pohon yang tidak terlalu besar, menjalar ke pohon lain, sehingga akhirnya Mahesa Jenar berada di atas dahan sebuah pohon yang memungkinkan ia dapat melihat keadaan di dalam, keadaan pusat sarang sepasang Uling.
Ternyata di dalam benteng itu ada sebuah lapangan yang tidak begitu luas. Di pinggir-pinggir lapangan tampaklah beberapa rumah. Menurut dugaan Mahesa Jenar, rumah-rumah itu terlalu sedikit untuk dapat didiami oleh anak buah Uling yang banyak jumlahnya. Karena itu, di tempat lain pasti masih ada tempat-tempat tinggal serupa itu.
Di lapangan itu Mahesa Jenar melihat Sri Gunting berkuda melintas. Kemudian ia berhenti di depan salah satu dari rumah-rumah yang berjajar di pinggir lapangan. Seorang telah menerima kudanya, lalu mengikatnya pada sebuah pohon, sedang Sri Gunting sendiri langsung memasuki rumah itu.
Beberapa saat kemudian dilihatnya Sri Gunting keluar lagi. Dipanggilnya dua orang laskarnya, kemudian berjalan melintas lapangan dan menyusup ke balik sebuah pohon. Pohon itulah rupanya pintu keluar-masuk benteng yang tadi juga dilewati Sri Gunting. Ternyata dibalik pohon itu sama sekali tidak terdapat sebuah gardu. Memang beberapa orang tampak mengawalnya, sebagai pengawal pintu gerbang.
Ketika Mahesa Jenar sedang sibuk menduga-duga, di manakah pertemuan akan dilangsungkan, tiba-tiba dilihatnya keluar dari salah satu diantara rumah-rumah itu, dua orang yang bertubuh tinggi, tetapi tidak begitu besar. Berwajah runcing dan berhidung tajam. Itulah sepasang Uling Rawa Pening, yang di tangan mereka selalu tergenggam sebuah cemeti besar. Di belakang mereka berjalan Sri Gunting dan dua orang lainnya. Melihat mereka, mau tidak mau Mahesa Jenar terpaksa menahan nafas. Bagaimanapun kedua orang itu termasuk dalam tingkatan yang cukup tinggi, sehingga pancaindera mereka pun.
Beberapa saat kemudian Mahesa Jenar melihat orang-orang mereka menyediakan kuda, lalu dengan kuda-kuda itu Uling Rawa Pening beserta tiga orang yang mengiringinya, pergi melintasi lapangan dan menyusup pohon yang merupakan pintu gerbang benteng itu, untuk kemudian muncul di luar benteng. Mahesa Jenar jadi menduga-duga. Kemanakah mereka pergi? Cepat ia turun dengan sangat hati-hati. Tetapi ketika sepasang Uling itu menyusur benteng ke arahnya, ia jadi diam, dan bersembunyi dibalik daun-daun yang agak rimbun, apalagi ketika mereka lewat dekat di bawahnya.
Adalah suatu keuntungan, ketika Mahesa Jenar mendengar mereka bercakap-cakap. Terdengar Uling Putih berkata,
Setelah itu mereka tidak berkata-kata lagi. Baru kemudian terdengar Sri Gunting mengatakan sesuatu, tetapi Mahesa Jenar sudah tidak dapat mendengar lagi.
DENGAN mendengar percakapan mereka, Mahesa Jenar dapat mengambil kesimpulan bahwa pertemuan tokoh-tokoh hitam itu nanti, tidak akan dilakukan di dalam benteng itu, tetapi di tempat lain. Hal ini mungkin atas pertimbangan pertimbangan keselamatan benteng itu atau untuk tetap merahasiakan sarang gerombolan Uling Rawa Pening.
Karena itu segera Mahesa Jenar turun dan bergantungan pada sebuah sulur. Demikian ia sampai di tanah, cepat-cepat ia berusaha untuk dapat mengikuti kuda sepasang Uling itu.
Untuk itu Mahesa Jenar tidak banyak menemui kesulitan. Kecuali ia sudah mengenal jalan sempit yang menuju keluar dari benteng, juga kuda-kuda itu tidak dapat berjalan cepat di jalan yang banyak rintangan itu.
Beberapa ratus langkah kemudian, rombongan Uling membelok meninggalkan lorong semula dan menempuh jalan lain yang lebih sulit. Namun bagaimanapun juga Mahesa Jenar tetap dapat mengikutinya, meskipun kadang-kadang ia harus berlari-lari kecil, merangkak, meloncat dan merunduk, sehingga akhirnya Mahesa Jenar melihat di depannya terbentang sebuah padang rumput yang luas.
Di pinggir padang itu sedang dibangun beberapa barak yang sebagian masih dikerjakan. Itulah tempat yang akan dipergunakan sebagai tempat untuk menyelenggarakan suatu pertemuan dari tokoh-tokoh golongan hitam. Mengingat apa yang akan terjadi di lapangan itu, hati Mahesa Jenar menjadi berdebar-debar juga.
Kemudian teringatlah ia kepada Ki Dalang Mantingan. Apakah orang itu sudah datang di daerah Rawa Pening ataukah belum. Dan mungkinkah Ki Dalang Mantingan dapat menemukan tempat pertemuan itu. Mengingat hal itu, Mahesa Jenar merasa perlu untuk berusaha menemui Ki Dalang Mantingan sebelum mereka menyaksikan pertemuan tokoh-tokoh hitam itu.
Beberapa lama kemudian, setelah sepasang Uling itu berkeliling dan memeriksa barak-barak yang sedang diselesaikan itu, mereka pun pergi meninggalkan padang rumput itu kembali ke dalam benteng mereka.
Mahesa Jenar pun menganggap bahwa ia tidak perlu terlalu lama lagi tinggal di situ. Ia masih mempunyai beberapa waktu menjelang hari yang ditentukan, untuk dapat melihat-lihat keadaan di sekeliling tempat itu, serta untuk menemui Ki Dalang Mantingan.
Sementara itu, langit telah bertambah samar-samar. Matahari telah menghilang di bawah garis pertemuan bumi dan langit. Perlahan-lahan malam yang kelam turun menyeluruh, sedang di langit bintang-bintang timbul berebutan.
Tetapi tidak lama kemudian, cahaya kuning memulai perjalanannya. Seolah-olah memberi peringatan kepada Mahesa Jenar bahwa dua hari menjelang, purnama penuh akan menyinari padang terbuka yang akan menjadi ajang pertemuan tokoh-tokoh dari golongan hitam.
Perlahan-lahan dan hati-hati Mahesa Jenar menyusup menjauhi padang rumput itu. Dengan mengenal daerah di sekitarnya, maka ia akan menjadi lebih aman. Gajah Sora pernah memperingatkan kecerobohannya pada saat ia memasuki sarang Harimau Gunung Tidar. Karena itu ia tidak mau mengulangi kesalahannya lagi.
Setelah puas, Mahesa Jenar berputar-putar, dan segera menyusur tepi Rawa Pening, untuk mencapai daerah Banyubiru. Mungkin Mantingan masih berada di sekitar daerah itu, atau ia juga sedang berusaha untuk menemukan tempat yang akan dipergunakan untuk mengadakan pertemuan.
Terhadap Mantingan, sebenarnya Mahesa Jenar masih agak was-was. Ia memang cukup berilmu. Tetapi berhadapan dengan Lawa Ijo, Jaka Soka dan sebagainya, Mantingan masih kalah setingkat. Ia pernah berkelahi dengan Mantingan, juga pernah berkelahi dengan tokoh-tokoh hitam, sehingga ia mempunyai ukuran dalam memperbandingkan kemampuan mereka.
Sampai di situ, Mahesa Jenar terpaksa tidak dapat mengikuti Sri Gunting untuk seterusnya. Ia tidak mau tergesa-gesa menyusup pohon yang rimbun itu, sebab ia masih belum mengetahui apakah kira-kira yang berada di belakangnya. Mungkin setelah menyusup pohon itu, langsung akan memasuki sebuah gardu perondan, atau malah sampai ke barak Uling sendiri. Karena itu, Mahesa Jenar terpaksa berhenti di semak-semak sambil beristirahat. Ia mencoba memutar otak, bagaimana dapat memasuki, setidak-tidaknya mengetahui keadaan di dalam sarang itu.
Akhirnya Mahesa Jenar menemukan cara juga. Meskipun ia tidak pasti akan dapat masuk, tetapi ia akan mendapat gambaran tentang keadaan dibalik benteng tanaman itu. Sebagai seorang prajurit, ia pernah mendapat latihan panjat-memanjat, menggantung, dan berayun dengan tali yang cukup tinggi. Dengan hati-hati, Mahesa Jenar pun segera memanjat. Dari pohon yang tidak terlalu besar, menjalar ke pohon lain, sehingga akhirnya Mahesa Jenar berada di atas dahan sebuah pohon yang memungkinkan ia dapat melihat keadaan di dalam, keadaan pusat sarang sepasang Uling.
Ternyata di dalam benteng itu ada sebuah lapangan yang tidak begitu luas. Di pinggir-pinggir lapangan tampaklah beberapa rumah. Menurut dugaan Mahesa Jenar, rumah-rumah itu terlalu sedikit untuk dapat didiami oleh anak buah Uling yang banyak jumlahnya. Karena itu, di tempat lain pasti masih ada tempat-tempat tinggal serupa itu.
Di lapangan itu Mahesa Jenar melihat Sri Gunting berkuda melintas. Kemudian ia berhenti di depan salah satu dari rumah-rumah yang berjajar di pinggir lapangan. Seorang telah menerima kudanya, lalu mengikatnya pada sebuah pohon, sedang Sri Gunting sendiri langsung memasuki rumah itu.
Beberapa saat kemudian dilihatnya Sri Gunting keluar lagi. Dipanggilnya dua orang laskarnya, kemudian berjalan melintas lapangan dan menyusup ke balik sebuah pohon. Pohon itulah rupanya pintu keluar-masuk benteng yang tadi juga dilewati Sri Gunting. Ternyata dibalik pohon itu sama sekali tidak terdapat sebuah gardu. Memang beberapa orang tampak mengawalnya, sebagai pengawal pintu gerbang.
Ketika Mahesa Jenar sedang sibuk menduga-duga, di manakah pertemuan akan dilangsungkan, tiba-tiba dilihatnya keluar dari salah satu diantara rumah-rumah itu, dua orang yang bertubuh tinggi, tetapi tidak begitu besar. Berwajah runcing dan berhidung tajam. Itulah sepasang Uling Rawa Pening, yang di tangan mereka selalu tergenggam sebuah cemeti besar. Di belakang mereka berjalan Sri Gunting dan dua orang lainnya. Melihat mereka, mau tidak mau Mahesa Jenar terpaksa menahan nafas. Bagaimanapun kedua orang itu termasuk dalam tingkatan yang cukup tinggi, sehingga pancaindera mereka pun.
Beberapa saat kemudian Mahesa Jenar melihat orang-orang mereka menyediakan kuda, lalu dengan kuda-kuda itu Uling Rawa Pening beserta tiga orang yang mengiringinya, pergi melintasi lapangan dan menyusup pohon yang merupakan pintu gerbang benteng itu, untuk kemudian muncul di luar benteng. Mahesa Jenar jadi menduga-duga. Kemanakah mereka pergi? Cepat ia turun dengan sangat hati-hati. Tetapi ketika sepasang Uling itu menyusur benteng ke arahnya, ia jadi diam, dan bersembunyi dibalik daun-daun yang agak rimbun, apalagi ketika mereka lewat dekat di bawahnya.
Adalah suatu keuntungan, ketika Mahesa Jenar mendengar mereka bercakap-cakap. Terdengar Uling Putih berkata,
Quote:
"Jadi kau yakin bahwa tempat itu telah disiapkan dengan baik?"
Terdengar Sri Gunting menjawab,
"Sudah, Ki Lurah. Cuma satu-dua barak yang belum siap benar."
"Bagus!" Uling Putih meneruskan,
"Pasingsingan dan Sima Rodra dari Lodaya akan hadir dalam pertemuan itu."
"Tidakkah mereka akan berpihak?" sela Uling Kuning.
"Tidak, mereka pasti akan menghargai nama mereka masing-masing," jawab Uling Putih.
Terdengar Sri Gunting menjawab,
"Sudah, Ki Lurah. Cuma satu-dua barak yang belum siap benar."
"Bagus!" Uling Putih meneruskan,
"Pasingsingan dan Sima Rodra dari Lodaya akan hadir dalam pertemuan itu."
"Tidakkah mereka akan berpihak?" sela Uling Kuning.
"Tidak, mereka pasti akan menghargai nama mereka masing-masing," jawab Uling Putih.
Setelah itu mereka tidak berkata-kata lagi. Baru kemudian terdengar Sri Gunting mengatakan sesuatu, tetapi Mahesa Jenar sudah tidak dapat mendengar lagi.
DENGAN mendengar percakapan mereka, Mahesa Jenar dapat mengambil kesimpulan bahwa pertemuan tokoh-tokoh hitam itu nanti, tidak akan dilakukan di dalam benteng itu, tetapi di tempat lain. Hal ini mungkin atas pertimbangan pertimbangan keselamatan benteng itu atau untuk tetap merahasiakan sarang gerombolan Uling Rawa Pening.
Karena itu segera Mahesa Jenar turun dan bergantungan pada sebuah sulur. Demikian ia sampai di tanah, cepat-cepat ia berusaha untuk dapat mengikuti kuda sepasang Uling itu.
Untuk itu Mahesa Jenar tidak banyak menemui kesulitan. Kecuali ia sudah mengenal jalan sempit yang menuju keluar dari benteng, juga kuda-kuda itu tidak dapat berjalan cepat di jalan yang banyak rintangan itu.
Beberapa ratus langkah kemudian, rombongan Uling membelok meninggalkan lorong semula dan menempuh jalan lain yang lebih sulit. Namun bagaimanapun juga Mahesa Jenar tetap dapat mengikutinya, meskipun kadang-kadang ia harus berlari-lari kecil, merangkak, meloncat dan merunduk, sehingga akhirnya Mahesa Jenar melihat di depannya terbentang sebuah padang rumput yang luas.
Di pinggir padang itu sedang dibangun beberapa barak yang sebagian masih dikerjakan. Itulah tempat yang akan dipergunakan sebagai tempat untuk menyelenggarakan suatu pertemuan dari tokoh-tokoh golongan hitam. Mengingat apa yang akan terjadi di lapangan itu, hati Mahesa Jenar menjadi berdebar-debar juga.
Kemudian teringatlah ia kepada Ki Dalang Mantingan. Apakah orang itu sudah datang di daerah Rawa Pening ataukah belum. Dan mungkinkah Ki Dalang Mantingan dapat menemukan tempat pertemuan itu. Mengingat hal itu, Mahesa Jenar merasa perlu untuk berusaha menemui Ki Dalang Mantingan sebelum mereka menyaksikan pertemuan tokoh-tokoh hitam itu.
Beberapa lama kemudian, setelah sepasang Uling itu berkeliling dan memeriksa barak-barak yang sedang diselesaikan itu, mereka pun pergi meninggalkan padang rumput itu kembali ke dalam benteng mereka.
Mahesa Jenar pun menganggap bahwa ia tidak perlu terlalu lama lagi tinggal di situ. Ia masih mempunyai beberapa waktu menjelang hari yang ditentukan, untuk dapat melihat-lihat keadaan di sekeliling tempat itu, serta untuk menemui Ki Dalang Mantingan.
Sementara itu, langit telah bertambah samar-samar. Matahari telah menghilang di bawah garis pertemuan bumi dan langit. Perlahan-lahan malam yang kelam turun menyeluruh, sedang di langit bintang-bintang timbul berebutan.
Tetapi tidak lama kemudian, cahaya kuning memulai perjalanannya. Seolah-olah memberi peringatan kepada Mahesa Jenar bahwa dua hari menjelang, purnama penuh akan menyinari padang terbuka yang akan menjadi ajang pertemuan tokoh-tokoh dari golongan hitam.
Perlahan-lahan dan hati-hati Mahesa Jenar menyusup menjauhi padang rumput itu. Dengan mengenal daerah di sekitarnya, maka ia akan menjadi lebih aman. Gajah Sora pernah memperingatkan kecerobohannya pada saat ia memasuki sarang Harimau Gunung Tidar. Karena itu ia tidak mau mengulangi kesalahannya lagi.
Setelah puas, Mahesa Jenar berputar-putar, dan segera menyusur tepi Rawa Pening, untuk mencapai daerah Banyubiru. Mungkin Mantingan masih berada di sekitar daerah itu, atau ia juga sedang berusaha untuk menemukan tempat yang akan dipergunakan untuk mengadakan pertemuan.
Terhadap Mantingan, sebenarnya Mahesa Jenar masih agak was-was. Ia memang cukup berilmu. Tetapi berhadapan dengan Lawa Ijo, Jaka Soka dan sebagainya, Mantingan masih kalah setingkat. Ia pernah berkelahi dengan Mantingan, juga pernah berkelahi dengan tokoh-tokoh hitam, sehingga ia mempunyai ukuran dalam memperbandingkan kemampuan mereka.
fakhrie... dan 12 lainnya memberi reputasi
13
Kutip
Balas
Tutup