- Beranda
- Stories from the Heart
Naga Sasra & Sabuk Inten
...
TS
nandeko
Naga Sasra & Sabuk Inten

NAGA SASRA & SABUK INTEN
Kisah ini merupakan karangan dari S.H Mintardja. Disini TS sudah mendapatkan ijin untuk sekedar membagikan dan mempermudahkan pembaca untuk menikmati kisah ini dalam bentuk digital
INDEX
Quote:
Spoiler for JILID 1:
Spoiler for JILID 2:
Spoiler for JILID 3:
Spoiler for JILID 4:
Spoiler for JILID 5:
Spoiler for JILID 6:
Part 114
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Spoiler for JILID 7:
Spoiler for JILID 8:
Spoiler for JILID 9:
Spoiler for JILID 10:
Pengarang dan Hakcipta©
Singgih Hadi Mintardja
Singgih Hadi Mintardja
Diubah oleh nandeko 21-10-2021 14:24
whadi05 dan 43 lainnya memberi reputasi
42
62K
Kutip
1.2K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
nandeko
#186
Jilid 6 [Part 137]
Spoiler for :
Kembali Ki Paniling berhenti sejenak, kemudian meneruskan ceritanya lagi,
Mahesa Jenar menjadi terkejut ketika nada suara Paniling jadi meninggi. Hampir berteriak ia berkata,
Tetapi kemudian seperti orang yang tersadar, Ki Paniling menarik nafas dalam-dalam. Dan kembali dengan nada yang rendah ia meneruskan,
Paniling berhenti berkata. Wajahnya menjadi semakin pucat. Dan tiba-tiba di matanya tampak mengembang sebutir air mata.
Mahesa Jenar kini telah menjadi jelas. Jelas dengan siapa ia sedang berbicara. Karena itu tiba-tiba ia berdiri dan membungkuk hormat.
Paniling mengangkat mukanya. Ia mencoba tersenyum, meskipun betapa pedihnya. Dengan terputus-putus ia menjawab,
Paniling atau sebenarnya bernama Radite itu menggelengkan kepalanya. Tidak dapat.
Kembali mereka berdiam diri dalam kesibukan angan-angan masing-masing.
Tiba-tiba saja Mahesa Jenar teringat kepada orang yang berjubah abu-abu dan yang telah berhasil mengambil keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Karena itu tiba-tiba ia bertanya,
Mendengar pertanyaan Mahesa Jenar itu, Ki Paniling terkejut bukan buatan sehingga wajahnya berubah hebat. Dengan pandangan yang mengandung seribu macam pertanyaan, ia berkata,
Kemudian Mahesa Jenar menceriterakan apa yang pernah dilihatnya pada saat hilangnya Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Dan tentang orang yang berjubah abu-abu yang mengambil kedua keris itu.
Paniling mendengarkan ceritera Mahesa Jenar dengan wajah tegang. Alisnya tampak berkerut-kerut. Akhirnya ia bertanya,
Tampaklah wajah Paniling semakin tegang. Pikirannya bekerja keras namun ia pun agaknya tidak dapat menduga, siapakah yang telah berjubah abu-abu itu.
Tiba-tiba bertanyalah Mahesa Jenar,
Mendengar pertanyaan Mahesa Jenar itu, tiba-tiba wajah Paniling agak mengendor. Bahkan kemudian ia tersenyum lebar.
Mahesa Jenar menjadi agak kebingungan. Memang mula-mula ia mempunyai dugaan bahwa hal itu mungkin sekali. Tetapi setelah ia menerima pertanyaan itu, ia menjadi ragu.
Mendengar jawaban Paniling, segera Mahesa Jenar teringat kepada sinar mata yang berkilat-kilat dari orang yang menamakan dirinya Darba. Karena itu segera ia menjawab pula,
Belum lagi Paniling menjawab, terdengarlah suara tertawa di luar, di depan pintu, sampai Mahesa Jenar agak terkejut.
Kedatangan seseorang sampai jarak yang demikian dekatnya tanpa diketahui adalah suatu hal yang jarang terjadi. Ketika Mahesa Jenar menoleh ke arah pintu, dilihatnya orang yang menamakan dirinya Darba itu telah berdiri di sana dengan wajah bening, sebening air yang memancar dari mataairnya.
Kemudian Darba berkata lirih, seperti kepada dirinya sendiri mengulangi kata-kata Paniling,
Mahesa Jenar menjadi agak kebingungan. Kalau ia bertemu dengan Ki Ageng Pandan Alas dan Ki Ageng Sora Dipayana, apakah ia harus merahasiakan pula tentang Pasingsingan…?
Melihat kebingungan Mahesa Jenar, berkatalah Darba,
Tiba-tiba wajah Paniling kembali menjadi tegang. Ia tidak segera menjawab kata-kata Darba. Pandangannya jauh lewat pintu yang masih menganga itu langsung menembus gelapnya malam.
Kemudian kembali suara Darba terdengar diantara tertawanya,
Quote:
"Bagaimanapun juga Radite adalah manusia biasa. Meskipun ia telah mengenakan jubah abu-abu, topeng dan pusaka-pusaka lainnya, namun ia tidak dapat melapisi hatinya dengan baja. Hatinya masih saja hati manusia yang lunak dan lemah. Itulah sebabnya ia pada suatu saat jatuh cinta kepada seorang gadis. Dan inilah sumber dari segala malapetaka. Ketika Umbaran mengetahui, maka segera ia berusaha memikat hati gadis itu. Memang Umbaran memiliki wajah yang tampan, sehingga akhirnya dengan tidak banyak kesulitan ia berhasil menguasai hati gadis itu sepenuhnya. Sedang di lain pihak, hati Radite telah bulat-bulat berada di dalam genggaman gadis itu."
"Akhirnya…" lanjut Ki Paniling,
"Terjadilah sesuatu yang memalukan sekali. Radite dan Umbaran mengadakan suatu perjanjian tukar-menukar. Inilah yang gila. Dan itu sudah terjadi."
"Akhirnya…" lanjut Ki Paniling,
"Terjadilah sesuatu yang memalukan sekali. Radite dan Umbaran mengadakan suatu perjanjian tukar-menukar. Inilah yang gila. Dan itu sudah terjadi."
Mahesa Jenar menjadi terkejut ketika nada suara Paniling jadi meninggi. Hampir berteriak ia berkata,
Quote:
"Itu sudah terjadi, dan tak dapat dicabut kembali."
Tetapi kemudian seperti orang yang tersadar, Ki Paniling menarik nafas dalam-dalam. Dan kembali dengan nada yang rendah ia meneruskan,
Quote:
"Radite dan Umbaran mengadakan perjanjian. Radite mendapat gadis itu, sedang Umbaran mendapat tanda-tanda kebesaran dari Pasingsingan. Maka berlangsunglah tukar-menukar itu tanpa saksi, selain Anggara yang dengan sedih berusaha mencegahnya. Tetapi tukar-menukar itu tetap berlangsung, dengan hati jantan dan tanggung jawab bagi Radite. Itulah sebabnya maka ia akan mentaati perjanjian itu untuk seterusnya."
"Tetapi kemudian…" lanjut Ki Paniling,
"Menyusullah kejadian yang semakin menghimpit hati. Radite sebenarnya sangat menyesal atas perjanjian itu. Namun di hadapan gadis yang kemudian menjadi istrinya, ia selalu menyembunyikan penyesalan itu. Kemudian ia harus mengalami kejadian yang dahsyat, yang barangkali merupakan hukuman alam. Gadis yang memang sebenarnya sama sekali tak mencintainya itu, sebab hatinya telah terampas oleh Umbaran, akhirnya menjadi sakit-sakitan dan meninggal dunia. Kejadian ini merupakan pukulan yang maha dahsyat dalam kehidupan Radite yang telah gagal itu. Gagal dalam pengabdiannya kepada umat manusia dan gagal dalam pemanjaan nafsu pribadi."
"Tetapi kemudian…" lanjut Ki Paniling,
"Menyusullah kejadian yang semakin menghimpit hati. Radite sebenarnya sangat menyesal atas perjanjian itu. Namun di hadapan gadis yang kemudian menjadi istrinya, ia selalu menyembunyikan penyesalan itu. Kemudian ia harus mengalami kejadian yang dahsyat, yang barangkali merupakan hukuman alam. Gadis yang memang sebenarnya sama sekali tak mencintainya itu, sebab hatinya telah terampas oleh Umbaran, akhirnya menjadi sakit-sakitan dan meninggal dunia. Kejadian ini merupakan pukulan yang maha dahsyat dalam kehidupan Radite yang telah gagal itu. Gagal dalam pengabdiannya kepada umat manusia dan gagal dalam pemanjaan nafsu pribadi."
Paniling berhenti berkata. Wajahnya menjadi semakin pucat. Dan tiba-tiba di matanya tampak mengembang sebutir air mata.
Mahesa Jenar kini telah menjadi jelas. Jelas dengan siapa ia sedang berbicara. Karena itu tiba-tiba ia berdiri dan membungkuk hormat.
Quote:
"Jadi tuanlah sebenarnya yang berhak menyebut diri Pasingsingan."
Paniling mengangkat mukanya. Ia mencoba tersenyum, meskipun betapa pedihnya. Dengan terputus-putus ia menjawab,
Quote:
"Tak usah kau sebut itu. Bukankah hal itu yang kau ingin ketahui?"
"Bukankah segala sesuatu masih belum terlambat?" kata Mahesa Jenar kemudian,
"Tuan masih dapat menghentikan perbuatan-perbuatan jahat dari Umbaran, yang kemudian bernama Pasingsingan itu?"
"Bukankah segala sesuatu masih belum terlambat?" kata Mahesa Jenar kemudian,
"Tuan masih dapat menghentikan perbuatan-perbuatan jahat dari Umbaran, yang kemudian bernama Pasingsingan itu?"
Paniling atau sebenarnya bernama Radite itu menggelengkan kepalanya. Tidak dapat.
Quote:
"Sebab pada suatu kali, datanglah Guru kepadaku. Meskipun aku sama sekali tidak dapat melihatnya, tetapi aku kenal suaranya. Ia berkata kepadaku, Radite…, nama Pasingsingan telah kau korbankan. Kau tak perlu bersusah payah untuk memperbaikinya kembali. Sebab sekali nama itu ternoda, buat selamanya tak akan dapat menjadi bersih, sebersih semula. Karena itu biarkanlah nama itu bernoda untuk seterusnya. Sebab setiap kali nama itu disebutkan, setiap kali kau akan teringat kepada kesalahanmu."
KI PANILING termenung sejenak. Kemudian lanjutnya,
"Itu adalah hukumanku yang paling berat. Hukuman yang hampir tak tertanggungkan. Karena itu kemudian aku menyembunyikan diri. Menjauhkan diri dari setiap kemungkinan untuk dapat mendengar nama Pasingsingan. Tetapi bagaimanapun juga bendungan itu akan tembus pula. Dan aku sedang mencari saluran untuk mengatakan seluruh gelora yang bergulung-gulung di dalam dadaku. Sampai pada suatu kali aku temukan kau. Aku kenal kau karena caramu bertempur melawan 7 orang di bukit sebelah Banyubiru. Aku mendengar salah seorang menyebutmu Rangga Tohjaya. Dan aku pernah pula mendengar nama Rangga Tohjaya sebagai prajurit pengawal raja," kata Ki Paniling.
KI PANILING termenung sejenak. Kemudian lanjutnya,
"Itu adalah hukumanku yang paling berat. Hukuman yang hampir tak tertanggungkan. Karena itu kemudian aku menyembunyikan diri. Menjauhkan diri dari setiap kemungkinan untuk dapat mendengar nama Pasingsingan. Tetapi bagaimanapun juga bendungan itu akan tembus pula. Dan aku sedang mencari saluran untuk mengatakan seluruh gelora yang bergulung-gulung di dalam dadaku. Sampai pada suatu kali aku temukan kau. Aku kenal kau karena caramu bertempur melawan 7 orang di bukit sebelah Banyubiru. Aku mendengar salah seorang menyebutmu Rangga Tohjaya. Dan aku pernah pula mendengar nama Rangga Tohjaya sebagai prajurit pengawal raja," kata Ki Paniling.
Kembali mereka berdiam diri dalam kesibukan angan-angan masing-masing.
Tiba-tiba saja Mahesa Jenar teringat kepada orang yang berjubah abu-abu dan yang telah berhasil mengambil keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Karena itu tiba-tiba ia bertanya,
Quote:
"Bagaimanakah kalau ada seorang lagi yang menyatakan dirinya sebagai Pasingsingan?"
Mendengar pertanyaan Mahesa Jenar itu, Ki Paniling terkejut bukan buatan sehingga wajahnya berubah hebat. Dengan pandangan yang mengandung seribu macam pertanyaan, ia berkata,
Quote:
"Adakah orang lain yang kau kenal sebagai Pasingsingan pula?"
Kemudian Mahesa Jenar menceriterakan apa yang pernah dilihatnya pada saat hilangnya Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Dan tentang orang yang berjubah abu-abu yang mengambil kedua keris itu.
Paniling mendengarkan ceritera Mahesa Jenar dengan wajah tegang. Alisnya tampak berkerut-kerut. Akhirnya ia bertanya,
Quote:
"Kau lihat orang itu bertopeng pula?"
"Itu yang tidak aku ketahui,"jawab Mahesa Jenar.
"Itu yang tidak aku ketahui,"jawab Mahesa Jenar.
Tampaklah wajah Paniling semakin tegang. Pikirannya bekerja keras namun ia pun agaknya tidak dapat menduga, siapakah yang telah berjubah abu-abu itu.
Tiba-tiba bertanyalah Mahesa Jenar,
Quote:
"Tuan, bolehkah aku mengetahui, di manakah murid yang seorang lagi dari Pasingsingan itu?"
Mendengar pertanyaan Mahesa Jenar itu, tiba-tiba wajah Paniling agak mengendor. Bahkan kemudian ia tersenyum lebar.
Quote:
"Adakah kau menduga bahwa murid yang satu itu menamakan diri Pasingsingan pula?"
Mahesa Jenar menjadi agak kebingungan. Memang mula-mula ia mempunyai dugaan bahwa hal itu mungkin sekali. Tetapi setelah ia menerima pertanyaan itu, ia menjadi ragu.
Quote:
"Bukan maksudku untuk berkata demikian, Tuan."
Mendengar jawaban Paniling, segera Mahesa Jenar teringat kepada sinar mata yang berkilat-kilat dari orang yang menamakan dirinya Darba. Karena itu segera ia menjawab pula,
Quote:
"Apakah yang menamakan dirinya Paman Darba itulah orangnya?"
Belum lagi Paniling menjawab, terdengarlah suara tertawa di luar, di depan pintu, sampai Mahesa Jenar agak terkejut.
Kedatangan seseorang sampai jarak yang demikian dekatnya tanpa diketahui adalah suatu hal yang jarang terjadi. Ketika Mahesa Jenar menoleh ke arah pintu, dilihatnya orang yang menamakan dirinya Darba itu telah berdiri di sana dengan wajah bening, sebening air yang memancar dari mataairnya.
Kemudian Darba berkata lirih, seperti kepada dirinya sendiri mengulangi kata-kata Paniling,
Quote:
"Otakmu cemerlang seperti matahari musim kemarau."
Kemudian terdengar Paniling berkata,
"Kepadanya tak perlu kita menyembunyikan diri. Aku percaya bahwa orang semacam Mahesa Jenar akan dapat memegang rahasia, seperti ia memegang rahasia kerajaan."
"Kau akan merahasiakannya Mahesa Jenar?" tanya Darba.
"Akan aku coba, Tuan," jawab Mahesa Jenar.
"Juga kepada Kakang Pandan Alas dan Kakang Sora Dipayana? Bukankah tadi kau berceritera tentang hilangnya Nagasasra dan Sabuk Inten, meskipun kedua tokoh itu ikut pula mempertahankannya?"
Kemudian terdengar Paniling berkata,
"Kepadanya tak perlu kita menyembunyikan diri. Aku percaya bahwa orang semacam Mahesa Jenar akan dapat memegang rahasia, seperti ia memegang rahasia kerajaan."
"Kau akan merahasiakannya Mahesa Jenar?" tanya Darba.
"Akan aku coba, Tuan," jawab Mahesa Jenar.
"Juga kepada Kakang Pandan Alas dan Kakang Sora Dipayana? Bukankah tadi kau berceritera tentang hilangnya Nagasasra dan Sabuk Inten, meskipun kedua tokoh itu ikut pula mempertahankannya?"
Mahesa Jenar menjadi agak kebingungan. Kalau ia bertemu dengan Ki Ageng Pandan Alas dan Ki Ageng Sora Dipayana, apakah ia harus merahasiakan pula tentang Pasingsingan…?
Melihat kebingungan Mahesa Jenar, berkatalah Darba,
Quote:
"Kepada kedua orang itu, juga kepada Titis Anganten, Pangeran Gunung Slamet, kau tidak usah merahasiakan. Kalau mereka akan melenyapkan Pasingsingan adalah urusan mereka, bukankah begitu Kakang?"
Tiba-tiba wajah Paniling kembali menjadi tegang. Ia tidak segera menjawab kata-kata Darba. Pandangannya jauh lewat pintu yang masih menganga itu langsung menembus gelapnya malam.
Kemudian kembali suara Darba terdengar diantara tertawanya,
Quote:
"Kakang Paniling, masihkah kau ingin mengadakan perhitungan dengan Umbaran? Aku kiranya hanya akan mengotori tanganmu saja dengan darah yang telah digenangi kejahatan. Apalagi kau terikat kepadanya dengan sebuah perjanjian aneh itu, untuk seterusnya tidak saling mengganggu. Kenapa kau tidak memerintahkan aku saja untuk menyelesaikan masalah ini? Bukankah aku tidak terikat oleh suatu apapun?"
fakhrie... dan 11 lainnya memberi reputasi
12
Kutip
Balas
Tutup