Quote:
Original Posted By ExperimentBoy►Sori belum sempat bikin TLDR, tapi saya harap kalian baca sampai tuntas.
Saya sedang menjalani hubungan serius dengan seorang perempuan mulai dari akhir semster 6. Kita sama-sama satu fakultas dan umur kita hanya terpaut 2 tahun (tuaan dia). Intinya saya sedang berada pada suatu hubungan yang bukan main-main. There’s no turning back. There’s no chickening out in the middle and go back. This is it.
Dengan keseriusan tersebut mulailah saya mengarungi kejamnya kehidupan sosial di masyarakat. Saya lulus tahun awal 2019 brsama pacar saya. Saya sudah lamar sana sini, interview sana sini. Bahkan saya hafal tes-tes tulis kalau udah tahapan agak jauh dalam rekrutmen pegawai di perusahaan-perusahaan.
Sementara pacar saya kebalikannya, karirnya sangat cemerlang. Awalnya dia kerja disalah satu perusahaan retail terbesar di negeri ini, trs dia resign dan dapat kerjaan di perusahaan smartphone yang juga besar di negeri ini. Pokoknya karir dia lebih cemerlang lah.
Sementara saya? Sempet kerja 4 bulan di percetakan, tapi itupun sekelas UMKM. Dan jujur saya gak bisa terus-terusan disitu karena sadar itu juga bukan yang saya harapkan. Ditambah situasi pandemi membuat kehidupan saya kacau balau.
Sebenarnya pacar saya tidak pernah menekan ini itu soal kerjaan, tapi yang pasti di umur 25 dia minta saya untuk melamarnya. Beban berat pasti ada di benak saya, karena dengan umur saya yang 24 masih belum mantap dalam kerjaan.
Saya mulai mikir aneh-aneh, apakah ini karma karena saya sering melakukan dosa-dosa di masa lalu? Sebelumnya saya memang laki-laki bajingan yang gampang sekali tidur dengan sembarang wanita. Gonta-ganti pacar segampang ganti celana dalam. Atau justru emang saya aja yang nasibnya sangat sial?
Sekuat mungkin untuk tidak ingin membandingkan saya dengan teman seangkatan saya yang udah (setidaknya) mapan secara finansial. Tapi tetap kadang saya gak bisa.
Saya mulai stress dengan kehidupan saya yang sepertinya jalan ditempat atau bahkan mundur. Saya takut dianggap pengecut karena kata-kata saya gak bisa dipegang oleh pacar saya nanti.
Bukan bermaksud lari dari kenyataan, tapi saya TIDAK/BELUM siap untuk membangun rumah tangga apabila pondasi finansial saya masih belum stabil.
Apa yang harus saya lakukan, jika seandainya dalam waktu 1 tahu lagi keadaan finasial yang mapan tersebut masih belum dapat saya capai?
Sedangkan kita tahu perempuan itu ada expired date nya. Dia benar-benar memberikan warning keras untuk tidak menikah lebih dari 27 tahun.
Lebih dari itu?
Idk, mungkin terpaksa harus pisah...
Ah elah tong, itu aja panik. Masa gara-gara deadline pernikahan aja se panik itu. Kayak ga ada cewek lain aja di Indonesia Raya ini.
Engga usah kaget kalau sebagai cowok kamu lebih sulit cari kerjaan, karena guess who siapa yg bekerja di HRD?, yup, mostly cewek and they prefer to hire cewek juga karena mereka ga harus ngotot-ngototan nantinya kalau udah keterima kerja.
Cewek umumnya less aggressive ketika udah ada urusan dengan HRD
Dibanding cowok yg lebih frontal dan in some cases bisa maki-maki & berkata kasar yg dimana engga semua cewek yg kerja di HRD bisa terima.
Ini jg fenomena yg saya lihat disekitar saya. Tiap pagi saya selalu lihat cowok antar pasangannya ke stasiun KRL. Yang dimana si cowoknya hanya berpakaian biasa sedangkan ceweknya berpakaian kerja.
So, he is either jobless atau wiraswasta.
So, you want to make money? Pilih lah jalur wiraswasta. Your downside is small tapi upside nya sangat besar.