- Beranda
- Stories from the Heart
Naga Sasra & Sabuk Inten
...
TS
nandeko
Naga Sasra & Sabuk Inten

NAGA SASRA & SABUK INTEN
Kisah ini merupakan karangan dari S.H Mintardja. Disini TS sudah mendapatkan ijin untuk sekedar membagikan dan mempermudahkan pembaca untuk menikmati kisah ini dalam bentuk digital
INDEX
Quote:
Spoiler for JILID 1:
Spoiler for JILID 2:
Spoiler for JILID 3:
Spoiler for JILID 4:
Spoiler for JILID 5:
Spoiler for JILID 6:
Part 114
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Spoiler for JILID 7:
Spoiler for JILID 8:
Spoiler for JILID 9:
Spoiler for JILID 10:
Pengarang dan Hakcipta©
Singgih Hadi Mintardja
Singgih Hadi Mintardja
Diubah oleh nandeko 21-10-2021 14:24
whadi05 dan 43 lainnya memberi reputasi
42
62.5K
Kutip
1.2K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
nandeko
#173
Jilid 6 [Part 126]
Spoiler for :
Bersama dengan lenyapnya pasukan Demak itu dari pemandangan mereka, terdengarlah Arya Salaka terisak-isak. Wanamerta segera mendekatinya dan kembali ia mencoba menenangkan Arya yang meskipun berusaha menahan tangisnya tetapi akhirnya air matanya terurai mengalir. Melihat hal itu hati Panjawi semakin bergelora, meskipun ia sadar bahwa tak ada yang dapat dilakukan.
Arya memandang Mahesa Jenar dengan mata merah yang basah. Seolah-olah ia ingin menanyakan, kenapa Mahesa Jenar tidak berbuat sesuatu untuk menyelamatkan ayahnya.
Sekali lagi Arya memandang kepada Mahesa Jenar dengan penuh pertanyaan. Tetapi sejenak kemudian ia pun menjadi agak tenang. Bersama-sama dengan Wanamerta, Panjawi dan seluruh laskar Banyubiru, Arya berjalan kembali ke Banyubiru, kecuali Mahesa Jenar.
Kepada Wanamerta, Panjawi dan Arya Salaka, Mahesa Jenar minta izin untuk tinggal sebentar dan kemudian akan segera menyusul kembali.
SEPENINGGAL pasukan Banyubiru, Mahesa Jenar mengendarai kudanya perlahan-lahan di sepanjang lereng-lereng bukit. Rasanya ada sesuatu yang tidak menentramkan hatinya. Firasatnya yang agak tajam menangkap sesuatu yang tidak wajar akan terjadi.
Beberapa saat kemudian Mahesa Jenar muncul di sebelah bukit yang menghalangi pandangannya, dan kembali tampak debu berhamburan jauh di bawah kakinya. Itulah iring-iringan pasukan dari Demak.
Tanpa disengaja, kudanya dilarikan agak cepat ke arah yang sama dengan pasukan itu. Jaraknya semakin lama semakin dekat. Tetapi apabila jarak itu sudah terlalu dekat, maka memungkinkan orang-orang Demak itu dapat melihatnya, sehingga segera ia menghentikan kudanya dan berdiri di tempat yang agak tersembunyi.
Tetapi ketika sudah agak jauh dari Banyubiru, tiba-tiba darah Mahesa Jenar tersirat ketika melihat di lereng-lereng bukit di sekitar jalan yang dilewati pasukan Demak itu tampak bintik-bintik yang bergerak-gerak. Ia menjadi curiga, dan dengan penuh perhatian dicobanya untuk mengetahui apakah sebenarnya yang tampak bergerak-gerak itu.
Mahesa Jenar menjadi semakin terperanjat ketika ia yakin bahwa bintik-bintik yang bergerak-gerak itu adalah manusia-manusia yang bersenjata.
Tetapi sebelum sempat ia berbuat sesuatu, orang-orang bersenjata yang bergerak-gerak di lereng-lereng bukit di sekitar jalan itu telah mulai dengan sebuah serangan yang melanda seperti air pasang. Inilah gelar Samodra Rob yang menyerang gelombang demi gelombang dengan jumlah pasukan yang besar.
Dari jarak yang agak jauh, Mahesa Jenar melihat iring-iringan pasukan Demak itu berhenti, dan sebentar kemudian ia melihat gerakan yang cepat dari pasukan itu menjadi sebuah gelar Gedong Minep. Ini agak aneh bagi Mahesa Jenar, kenapa pasukan dari Demak itu mengambil gelar yang sebenarnya kurang menguntungkan untuk melawan gelar Samodra Rob.
Tetapi, terlintaslah dalam benak Mahesa Jenar, bahwa di dalam pasukan dari Demak itu ada seorang yang akan dibawa menghadap kepada Sultan Demak. Jadi pastilah bahwa pemimpin pasukan penyerang itu berusaha untuk membebaskan Gajah Sora.
Mendapat pikiran yang demikian, dada Mahesa Jenar menjadi sesak. Tetapi sementara itu ia tidak dapat berbuat sesuatu.
Dalam hati Mahesa Jenar tersimpullah suatu tafsiran bahwa ini adalah suatu kesengajaan dari pihak-pihak yang ingin melihat suasana Banyubiru menjadi semakin keruh. Ternyata bahwa mereka telah menyiapkan pasukan untuk bermacam-macam kemungkinan dan kepentingan.
Di lembah, di bawah lereng-lereng bukit Telamaya itu segera terjadi suatu pertarungan yang sengit. Gelar Samodra Rob itu bagai gelombang menghantam pasukan dari Demak yang berada dalam kedudukan yang kurang menguntungkan.
Hal ini rupanya kemudian disadari bahayanya. Maka dengan suatu gerakan melingkar, pasukan Demak yang terlatih baik itu mengubah gelarnya menjadi seolah-olah suatu permainan yang selalu bergerak-gerak. Kedudukan mereka nampaknya menjadi sangat lemah di bagian depan sehingga banyak lubang pertahanan yang dengan mudahnya disusupi oleh penyerang. Tetapi tidaklah demikian sebenarnya.
Melihat perubahan itu, Mahesa Jenar yang hanya dapat melihat dari jauh, menarik nafas lega, seolah-olah ialah pemimpin pasukan dari Demak itu. Dan segera tampak bahwa pasukan penyerang itu tidak banyak dapat berbuat melawan satu pasukan yang teratur baik dan terdiri dari orang-orang pilihan.
Pasukan Demak itu telah mengubah gelarnya menjadi gelar Jurang Grawah. Gelar yang dapat menampung berapa pun banyaknya air yang mengalir melandanya.
Meskipun serangan-serangan lawannya itu seolah-olah dengan mudah dapat menyusup ke dalam gelar pasukan Demak, tetapi demikian gelombang itu masuk, demikian gelombang itu dibinasakan oleh pasukan-pasukan yang justru berada di garis kedua dan ketiga.
Tetapi karena jumlah penyerang-penyerang itu sedemikian banyaknya, maka pertempuran itu pun berlangsung dengan hebatnya.
Mahesa Jenar melihat pertempuran itu tanpa bergerak dari punggung kudanya, seolah-olah ia terpaku di atasnya. Meskipun hatinya bergelora hebat, ia hanya dapat menekan dadanya dengan tangannya. Sebab dalam kedudukannya yang sekarang, tidaklah mungkin ia turut campur.
Tiba-tiba tanpa disengaja, mata Mahesa Jenar merayap ke atas bukit kecil di sebelah lembah, dimana pertempuran yang hebat itu terjadi. Di sana, dilihatnya beberapa bayangan yang ternyata adalah orang-orang berkuda.
Cepat pikiran Mahesa Jenar bekerja. Dan ia dapat mengambil kesimpulan bahwa orang-orang itu pastilah dalang dari keributan ini. Karena itu, ia bermaksud untuk mengetahui, siapakah kiranya yang berdiri di atas bukit kecil itu.
Quote:
"Arya…, marilah kita pulang," kata Wanamerta lembut.
Dengan masih terisak, Arya menggelengkan kepalanya.
"Pulanglah, Arya…" sambung Mahesa Jenar,
"Bukankah ayahmu telah berpesan supaya kau menuruti nasehat kakekmu Wanamerta?"
Dengan masih terisak, Arya menggelengkan kepalanya.
"Pulanglah, Arya…" sambung Mahesa Jenar,
"Bukankah ayahmu telah berpesan supaya kau menuruti nasehat kakekmu Wanamerta?"
Arya memandang Mahesa Jenar dengan mata merah yang basah. Seolah-olah ia ingin menanyakan, kenapa Mahesa Jenar tidak berbuat sesuatu untuk menyelamatkan ayahnya.
Quote:
"Tidakkah Paman pulang ke Banyubiru?" tanya Arya di sela-sela isaknya.
"Pasti, Arya," jawab Mahesa Jenar.
"Aku akan pulang ke Banyubiru, tetapi berjalanlah dahulu, aku segera akan menyusul."
"Pasti, Arya," jawab Mahesa Jenar.
"Aku akan pulang ke Banyubiru, tetapi berjalanlah dahulu, aku segera akan menyusul."
Sekali lagi Arya memandang kepada Mahesa Jenar dengan penuh pertanyaan. Tetapi sejenak kemudian ia pun menjadi agak tenang. Bersama-sama dengan Wanamerta, Panjawi dan seluruh laskar Banyubiru, Arya berjalan kembali ke Banyubiru, kecuali Mahesa Jenar.
Kepada Wanamerta, Panjawi dan Arya Salaka, Mahesa Jenar minta izin untuk tinggal sebentar dan kemudian akan segera menyusul kembali.
SEPENINGGAL pasukan Banyubiru, Mahesa Jenar mengendarai kudanya perlahan-lahan di sepanjang lereng-lereng bukit. Rasanya ada sesuatu yang tidak menentramkan hatinya. Firasatnya yang agak tajam menangkap sesuatu yang tidak wajar akan terjadi.
Beberapa saat kemudian Mahesa Jenar muncul di sebelah bukit yang menghalangi pandangannya, dan kembali tampak debu berhamburan jauh di bawah kakinya. Itulah iring-iringan pasukan dari Demak.
Tanpa disengaja, kudanya dilarikan agak cepat ke arah yang sama dengan pasukan itu. Jaraknya semakin lama semakin dekat. Tetapi apabila jarak itu sudah terlalu dekat, maka memungkinkan orang-orang Demak itu dapat melihatnya, sehingga segera ia menghentikan kudanya dan berdiri di tempat yang agak tersembunyi.
Tetapi ketika sudah agak jauh dari Banyubiru, tiba-tiba darah Mahesa Jenar tersirat ketika melihat di lereng-lereng bukit di sekitar jalan yang dilewati pasukan Demak itu tampak bintik-bintik yang bergerak-gerak. Ia menjadi curiga, dan dengan penuh perhatian dicobanya untuk mengetahui apakah sebenarnya yang tampak bergerak-gerak itu.
Mahesa Jenar menjadi semakin terperanjat ketika ia yakin bahwa bintik-bintik yang bergerak-gerak itu adalah manusia-manusia yang bersenjata.
Tetapi sebelum sempat ia berbuat sesuatu, orang-orang bersenjata yang bergerak-gerak di lereng-lereng bukit di sekitar jalan itu telah mulai dengan sebuah serangan yang melanda seperti air pasang. Inilah gelar Samodra Rob yang menyerang gelombang demi gelombang dengan jumlah pasukan yang besar.
Dari jarak yang agak jauh, Mahesa Jenar melihat iring-iringan pasukan Demak itu berhenti, dan sebentar kemudian ia melihat gerakan yang cepat dari pasukan itu menjadi sebuah gelar Gedong Minep. Ini agak aneh bagi Mahesa Jenar, kenapa pasukan dari Demak itu mengambil gelar yang sebenarnya kurang menguntungkan untuk melawan gelar Samodra Rob.
Tetapi, terlintaslah dalam benak Mahesa Jenar, bahwa di dalam pasukan dari Demak itu ada seorang yang akan dibawa menghadap kepada Sultan Demak. Jadi pastilah bahwa pemimpin pasukan penyerang itu berusaha untuk membebaskan Gajah Sora.
Mendapat pikiran yang demikian, dada Mahesa Jenar menjadi sesak. Tetapi sementara itu ia tidak dapat berbuat sesuatu.
Dalam hati Mahesa Jenar tersimpullah suatu tafsiran bahwa ini adalah suatu kesengajaan dari pihak-pihak yang ingin melihat suasana Banyubiru menjadi semakin keruh. Ternyata bahwa mereka telah menyiapkan pasukan untuk bermacam-macam kemungkinan dan kepentingan.
Di lembah, di bawah lereng-lereng bukit Telamaya itu segera terjadi suatu pertarungan yang sengit. Gelar Samodra Rob itu bagai gelombang menghantam pasukan dari Demak yang berada dalam kedudukan yang kurang menguntungkan.
Hal ini rupanya kemudian disadari bahayanya. Maka dengan suatu gerakan melingkar, pasukan Demak yang terlatih baik itu mengubah gelarnya menjadi seolah-olah suatu permainan yang selalu bergerak-gerak. Kedudukan mereka nampaknya menjadi sangat lemah di bagian depan sehingga banyak lubang pertahanan yang dengan mudahnya disusupi oleh penyerang. Tetapi tidaklah demikian sebenarnya.
Melihat perubahan itu, Mahesa Jenar yang hanya dapat melihat dari jauh, menarik nafas lega, seolah-olah ialah pemimpin pasukan dari Demak itu. Dan segera tampak bahwa pasukan penyerang itu tidak banyak dapat berbuat melawan satu pasukan yang teratur baik dan terdiri dari orang-orang pilihan.
Pasukan Demak itu telah mengubah gelarnya menjadi gelar Jurang Grawah. Gelar yang dapat menampung berapa pun banyaknya air yang mengalir melandanya.
Meskipun serangan-serangan lawannya itu seolah-olah dengan mudah dapat menyusup ke dalam gelar pasukan Demak, tetapi demikian gelombang itu masuk, demikian gelombang itu dibinasakan oleh pasukan-pasukan yang justru berada di garis kedua dan ketiga.
Tetapi karena jumlah penyerang-penyerang itu sedemikian banyaknya, maka pertempuran itu pun berlangsung dengan hebatnya.
Mahesa Jenar melihat pertempuran itu tanpa bergerak dari punggung kudanya, seolah-olah ia terpaku di atasnya. Meskipun hatinya bergelora hebat, ia hanya dapat menekan dadanya dengan tangannya. Sebab dalam kedudukannya yang sekarang, tidaklah mungkin ia turut campur.
Tiba-tiba tanpa disengaja, mata Mahesa Jenar merayap ke atas bukit kecil di sebelah lembah, dimana pertempuran yang hebat itu terjadi. Di sana, dilihatnya beberapa bayangan yang ternyata adalah orang-orang berkuda.
Cepat pikiran Mahesa Jenar bekerja. Dan ia dapat mengambil kesimpulan bahwa orang-orang itu pastilah dalang dari keributan ini. Karena itu, ia bermaksud untuk mengetahui, siapakah kiranya yang berdiri di atas bukit kecil itu.
fakhrie... dan 10 lainnya memberi reputasi
11
Kutip
Balas
Tutup