Entertainment
Batal
KATEGORI
link has been copied
269
Lapor Hansip
31-07-2020 06:14

Gara-gara Hutang, Kerja Keras Jadi Sia-sia

Quote:Gara-gara Hutang, Kerja Keras Jadi Sia-siaIlustrasi - sumber


Lebih jahat dari galak waktu ditagih, hasil kerja keras sendiri tidak bisa dinikmati

Hai GanSis!! Ngomongin soal hutang sebenarnya agak sensitif ya. Saya ini aja mikir dua kali untuk menulis thread ini. Takut-takutnya ada yang tersinggung.

Karena kita tahu sendirilah, warga +62 memang memiliki respon yang unik terkait hutang. Mungkin saya salah ketika mengatakan "orang Indonesia geger mengurusi hutang pemerintah, tapi sama hutangnya sendiri pura-pura lupa". Hmm.. Drama banget.

Saya bikin thread ini didasari ketika lihat berita seseorang yang menagih hutang, tapi malah dipenjara. Saya sudah lama dengar berita ini, namun kemarin di Kaskus trending lagi (kask.us/iGEeH). Maka saya merasa terdorong untuk ikut menyampaikan uneg-uneg.



Heran sih, saat kita menagih hutang namun justru malah dipenjara. Memang cara menagih lewat medsos kurang etis. Namun mau bagaimana lagi jika yang ditagih seakan tidak punya niat bayar sedari awal meminjam. Ya itu persepsi dari pelaku tersebut. Aslinya gimana saya kurang tahu.

Lebih jahat dari orang yang galak sewaktu ditagih hutang. Saya yakin GanSis sering menemukan kasus-kasus demikian. Dan tahukah GanSis yang lebih jahat dari itu semua?

Ya, seperti dituliskan pada judul thread. Karena hutang, hasil kerja keras jadi sia-sia. Kenapa gitu? Jelas saja bisa begitu, misal kita baru gajian, lalu teman pinjam uang untuk cicilan inilah itulah segala macam. Begitu juga gaji-gaji berikutnya juga dipinjam dengan drama-drama lainnya.

Lalu ada yang lebih jahat lagi, sifat orang yang suka penghutang. Tanpa pedulikan bahwa orang yang dimintai hutang juga punya kehidupan dan keperluannya sendiri.

Hutang ini sangat penuh drama dan dilema kalau saya pikir. Di masyarakat kita, persepsi yang terbentuk cukup absurd. Seseorang bisa dituduh pelit, atau tidak peduli antar sesama hanya karena ogah memberi pinjaman. Sementara sebaliknya, jika memberi pinjaman, maka dilupakan. 

Alhasil, semuanya jadi serba salah. Seseorang tidak mungkin bisa membahagiakan semua orang. Lucu saja, misalnya saya sudah mengumpulkan uang untuk suatu barang. Tapi disaat uang terkumpul, ada orang lain ingin pinjam uang. Karena tujuan peminjaman uang bukan sesuatu yang darurat seperti sakit misalnya. Maka saya pikir, hak saya menolak memberi pinjaman. Dan bukan suatu hal baru di Indonesia, jika besoknya saya jadi bahan gosip, ketika melihat saya belanja suatu barang. "Dimintai hutang gak bisa! tapi belanja bisa! dasar pelit!" celoteh warga +62. *julid mode on*
*Itu hanya contoh aja



Kenapa orang-orang bisa seenak itu pinjam uang tanpa berpikir bayarnya gimana? Sementara begitu malangnya orang-orang yang punya sifat gak enakan.

Sifat gak enakan ini memang merusak banget. Jika diteruskan, kita akan dimanfaatkan oleh orang lain terus. Jatuhnya kita seperti bekerja, hasilnya untuk menyenangkan orang lain.

Memikirkan hutang ini memang ribet dan penuh drama. Bagi yang memiliki hutang, siangnya terhina, malamnya gelisah. Juga dengan orang yang memberi pinjaman atau debitur, menagihnya seperti orang mengemis, padahal itu uangnya sendiri.



Angkat topi untuk orang-orang yang berbesar hati mengikhlaskan uangnya yang telah dipinjamkan pada orang lain.

Seperti pria asal Jogja yang telah ikhlaskan utang Rp. 16 juta yang dipinjam oleh ke 10 temannya dengan masing-masing nominal yang berbeda. Dengan alasan malas berdrama dalam penagihan hutang. Ia lebih memilih menganggap lunas hutang tersebut.

Quote:Gara-gara Hutang, Kerja Keras Jadi Sia-siaUnggahan Teja tentang utang teman-temannya/ Foto: Facebook Teja


Memang solusi terbaik bagi kita yang kesulitan menagih hutang kepada orang lain, yakni dengan mengikhlaskannya. Terlebih jika hutang tersebut untuk keperluan mendesak, seperti berobat misalnya.

Hanya saja rasa ikhlas merelakan hutang orang lain kepada diri kita tidak semudah itu. Apalagi saat kita memang membutuhkan sekali uang tersebut. Sementara orang yang dipinjamkan uang, justru saat punya uang malah kesannya menghamburkan uang untuk kesenangannya sendiri. Kan kesel ya.

Salahnya sih dari awal, kenapa mau pinjamkan uang kepada orang begitu? Karena gak tega? Gak enakan sama orang? Begitulah risiko, utang melayang tidak dibayarkan.

Demi menghindari kondisi demikian. Solusinya kita harus lebih bijak dan selektif meminjamkan uang. Jangan asal selama ada uang, langsung dikasihkan gitu aja, supaya dianggap dermawan. Gak gitu juga.

Menolong orang ada banyak cara. Sebaliknya, ketika kita manja-manjain orang lain dengan memberikan uang, justru itu tidak mendewasakan orang lain. Niat awal mungkin kita mau membantu, ketika ada datang orang untuk pinjam uang dengan alasan buat makan. Rasa empati ini akan muncul untuk membantu.

Tapi kadang kita keliru dalam menolong orang. Mereka yang ditolong mungkin saja memang susah beneran. Namun susahnya itu, susah yang dibuat-buat. Disebabkan gaya hidup yang hedon misalnya dan tidak bisa mengatur keuangan. Uang berapapun habis hanya untuk keperluan tidak esensial. Sampai untuk makannya saja tidak ada lagi uang tersisa.



Oke GanSis, seperti biasa thread saya memang suka kepanjangan. Ini karena saya menulis memang tujuannya buat menuangkan segala uneg-uneg. Kalau ada yang baca ya alhamdulillah.

Sadar gak sih, selama ini kita terlalu sibuk bagaimana cara dapatkan uang dan mengumpulkan harta. Hingga lupa caranya mengatur keuangan. Di kondisi normal mungkin tidak masalah, tiap bulan terima gaji. Penghasilan usaha juga ada. Cicilan jadi lancar. Tanpa nabung pun gak masalah. Pokoknya untuk hidup hari ini.

Tapi hidupkan tidak selamanya normal dan berjalan mulus. Seperti sekarang, dunia tengah krisis kesehatan dan ekonomi. Saat seperti ini baru sadar betapa penting menabung, menyiapkan dana darurat dan berhemat. Menabung itu seperti sedekah, tidak harus menunggu ketika punya banyak uang. Justru sebaliknya.
Diubah oleh riandyoga
profile-picture
profile-picture
profile-picture
nellyville.jr dan 50 lainnya memberi reputasi
47
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Gara-gara Hutang, Kerja Keras Jadi Sia-sia
09-08-2020 14:30
Keluarga gue hancur selama 1 windu (2011 - 2018) akibat hutang. Lebih tepatnya, ayah gue yang jadi suka sekali berhutang ke bank (diawali D*namon, BR*, KSP, sampai ke orang-orang alias non lembaga/bank). Gara-gara hutang usaha orangtua gue hancur di awal 2011. Semua harta benda yang sekiranya bisa dijual dan dijadikan uang harus rela dilepas buat menutupi tanggungan yang sering sudah melebihi tempo. Dan hal semacam ini, lingkaran setan semacam ini tak kunjung berhenti selama 8 tahun ke depan sampai pada akhirnya ayah gue mau dipenjara oleh 2 pihak berbeda. emoticon-EEK! emoticon-Cape d... emoticon-Mewek

Dan yang paling menderita akibat perbuatannya yang suka berhutang salah satunya adalah GUE selaku anak sulung laki-laki. Entah sudah berapa kali duit gue ludes buat membantu melunasi hutangnya selama 8 tahunan itu. emoticon-EEK! emoticon-Frown

Hutang itu jalan setan. Itu yang dikatakan sama tante gue yang kini sudah menjelma menjadi seorang pengusaha sukses dan dulunya pernah terlilit hutang di periode '80-an - '90-an dan pernah mau diseret ke pengadilan juga. Hutang itu nikmat di awal tapi menderita di akhir. Makanya dia sebut sebagai jalan setan. emoticon-EEK!

Hutang sebagai modal untuk membangun usaha saja belum tentu menjamin akan membawa kebahagiaan dan kesejahteraan di akhir (kebanyakan usahanya gagal dan ujungnya justru hancur). Apalagi hutang untuk menunjang gaya hidup. emoticon-EEK! emoticon-Cape deeehh

Akibat terlalu lama hidup dalam belenggu dan cengkeraman yang namanya hutang maka gue sampai detik ini alergi dengan yang namanya hutang. Gue bersyukur sih sejak zaman awal-awal susah sampai sekarang gak pernah yang namanya hutang uang ke teman/kerabat atas nama pribadi. Mending kelaparan sebentar atau kelihatan miskin (karena memang dulu sempat miskin) ketimbang harus rela berhutang sekian rupiah demi terlihat tidak kere. emoticon-EEK!

Bagi gue hutang satu-satunya yang paling layak untuk dilakoni dan mungkin boleh untuk tidak dikembalikan hanyalah HUTANG BUDI. Itupun sebaiknya mengembalikan dengan cara membalas budi walaupun seringnya orang yang memberikan kita hutang budi tidak ingin dikembalikan. emoticon-EEK!

Sekian dan maaf kalau terkesan curhat. emoticon-EEK! emoticon-Nyepi
Diubah oleh bowobutoijo
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jonwongndeso dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
profile picture
kaskus addict
09-08-2020 14:33
Kalo tidak berhutang modale dari sopo ??? emoticon-EEK!
1
profile picture
aktivis kaskus
09-08-2020 14:38
kisah yg inspiratif gan :banggapakebatik
0
profile picture
kaskus maniac
09-08-2020 15:31
@anti.liberal Kumpulin duit sedikit demi sedikit gan. emoticon-EEK!

Lebih berkah ketimbang modal dari hutang. emoticon-EEK!
3
profile picture
kaskus addict
09-08-2020 16:34
@bowobutoijo kumpuli duit itu lama kekumpulnya. Sedangkan bisnis udah di otak. Kalo nabung dulu bisa2 baru kekumpul tahun 2060. Saya nya udah di dalam kubur dimakan belatung.

Harusnya sih gak usah anti banget sama utang. Tapi yg penting jelas peruntukannya.

Kalo saya sih hindari utang2 seperti ngutang di leasing, BPR, dan sejenisnya karena bunganya gak pake otack.

Soalnya hampir semua org kaya pasti ngutang. Kecuali kalo waris dari babe ya lain cerita, tapi yg bangun dari bawah udah pasti berhutang. Gak peduli kau liberal ato yg udah haji sama aja.
2
profile picture
kaskus maniac
09-08-2020 18:19
@anti.liberal Gak lah. Gue terlalu trauma sama yang namanya hutang. Pernah mau bunuh diri berapa kali gara-gara sikap jor-joran berhutang ayah gue.
1
profile picture
kaskus maniac
09-08-2020 19:54
Aku pun tak suka hutang
Hidup saja seperti di dunia RPG
Tanpa hutang
2
profile picture
kaskus maniac
09-08-2020 23:40
@Rinka17 bener juga, klo ada sistem kredit di game, NPC atau sistem game nagih utangnya cem apa?

Item mall di jual kredit, nagih klo udah jatuh tempo gimana yak? Wkwkwkw

The best lah sist... emoticon-Recommended Seller
0
Memuat data ...
1 - 7 dari 7 balasan
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia