- Beranda
- Stories from the Heart
Naga Sasra & Sabuk Inten
...
TS
nandeko
Naga Sasra & Sabuk Inten

NAGA SASRA & SABUK INTEN
Kisah ini merupakan karangan dari S.H Mintardja. Disini TS sudah mendapatkan ijin untuk sekedar membagikan dan mempermudahkan pembaca untuk menikmati kisah ini dalam bentuk digital
INDEX
Quote:
Spoiler for JILID 1:
Spoiler for JILID 2:
Spoiler for JILID 3:
Spoiler for JILID 4:
Spoiler for JILID 5:
Spoiler for JILID 6:
Part 114
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Spoiler for JILID 7:
Spoiler for JILID 8:
Spoiler for JILID 9:
Spoiler for JILID 10:
Pengarang dan Hakcipta©
Singgih Hadi Mintardja
Singgih Hadi Mintardja
Diubah oleh nandeko 21-10-2021 14:24
whadi05 dan 43 lainnya memberi reputasi
42
63.5K
Kutip
1.2K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
nandeko
#143
Jilid 5 [Part 101]
Spoiler for :
Maka ketika orang itu telah berdiri di luar lingkaran, Mahesa Jenar segera dapat melihatnya dengan jelas. Dan pada saat itu pula rasanya jantung Mahesa Jenar menggelegak hebat.
Orang yang memimpin gerombolan itu, dan yang telah bertempur dengan gagahnya, adalah seorang yang bertubuh kekar, berkumis setebal ibu jari, dan di kedua belah tangannya tergenggam dua bilah pisau belati panjang.
Maka dengan gerak tanpa sadar, Mahesa Jenar meloncat lebih dekat lagi untuk mengenali pasangan Lawa Ijo yang sedang bertempur melawan Lembu Sora dengan kekuatan yang seimbang. Orang itu pasti memiliki kekuatan setidak-tidaknya sama dengan Lawa Ijo.
Ketika Mahesa Jenar sudah menjadi semakin dekat dan dapat melihat lawan Lembu Sora itu agak jelas, ia menjadi bertambah terkejut lagi. Orang itu adalah seorang laki-laki tampan, dengan sebuah tongkat hitam di tangan kiri yang dipergunakan sebagai perisai, sedang di tangan kanannya tampak sebilah pedang tipis yang lentur.
Tubuhnya menjadi gemetar menahan deru darahnya yang menggelora seperti gemuruhnya air bah.
Dengan tak disangka-sangka, tiba-tiba ia bertemu dengan orang-orang yang menjadi musuh utamanya. Terutama Lawa Ijo, yang sampai dua kali berhasil melepaskan diri dari Mahesa Jenar.
Meskipun demikian di dalam hati Mahesa Jenar memuji kekuatan daya tahan tubuh Lawa Ijo yang besar sekali. Beberapa saat yang lalu ia berhasil menghantam Lawa Ijo dengan senjata andalannya, yaitu Sasra Birawa. Tetapi sekarang ia melihat Lawa Ijo telah segar bugar kembali.
Bagaimanapun hebatnya daya pengobatan Pasingsingan, namun kalau di dalam tubuh Lawa Ijo itu sendiri belum dialasi oleh kekuatan yang hebat, pastilah ia memerlukan waktu berbulan-bulan untuk dapat sembuh kembali.
SEKARANG, kedua orang itu, Lawa Ijo dan Jaka Soka, yang sebenarnya merupakan saingan yang hebat sekali, untuk sementara dapat bekerja bersama-sama, untuk dapat merampas Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten.
Karena itu, tidak ada suatu hasrat pun yang bergolak di dalam dada Mahesa Jenar pada saat itu, kecuali membinasakan Lawa Ijo dan sekaligus kalau mungkin Jaka Soka. Sebab orang-orang yang berciri watak demikian, merupakan duri yang selamanya selalu akan menyakiti tubuh masyarakat.
Pada saat itu Jaka Soka sedang bertempur mati-matian melawan Lembu Sora.
Kekuatan keduanya benar-benar seimbang.
Lembu Sora kini sudah turun dari kudanya untuk melawan Jaka Soka yang bertempur seolah-olah melilit dan melingkar-lingkar seperti ular. Tetapi dalam pertempuran itu, Jaka Soka benar-benar tak mampu mendekati lawannya yang dapat mengurung dirinya dalam lingkaran sambaran pedangnya yang besar itu.
Maka untuk sementara Mahesa Jenar dapat melepaskan Jaka Soka. Syukurlah apabila Lembu Sora berhasil membinasakannya. Tetapi setidak-tidaknya pertempuran itu akan berlangsung lama, sehingga ia akan mendapat kesempatan untuk menemaninya bermain, setelah ia membinasakan Lawa Ijo.
Mahesa Jenar pada saat itu telah memutuskan untuk tidak memperpanjang waktu. Ia sudah bersedia untuk mempergunakan ilmunya Sasra Birawa dalam pukulannya yang pertama. Ia tidak mau didahului oleh Gajah Sora dengan Lebur Seketinya untuk membinasakan Lawa Ijo.
Tetapi kembali dadanya terguncang. Ketika ia sudah hampir meloncat ke arah Lawa Ijo, tiba-tiba dari antara laskar yang bertempur itu meloncatlah seorang yang berperawakan tinggi besar berambut lebat dengan kumis dan janggut yang lebat pula.
Ia bersenjata tombak pendek. Dan bersamaan dengan serangannya yang menderu seperti angin ribut itu, terdengar suaranya mengaum dahsyat seperti seekor harimau yang sedang marah.
Lawa Ijo tampaknya agak terkejut mendapat serangan itu. Tetapi ia adalah seorang yang tangkas. Karena itu, dengan satu loncatan ia berhasil membebaskan dirinya. Bahkan kemudian terdengarlah suara tertawanya yang menyeramkan.
Sima Rodra muda itu tidak menjawab, tetapi segera ia melanjutkan serangannya dengan tombak pendeknya yang dinamainya Kyai Kalatadah, yang pernah hampir saja dicuri oleh anak buah sepasang Uling dari Rawa Pening.
Serangan itu datangnya cepat sekali sehingga Lawa Ijo tidak sempat mengelak. Segera ia menggerakkan kedua pisau belatinya untuk menangkis serangan Sima Rodra. Dua kekuatan yang dahsyat saling beradu. Terdengarlah suara gemerincing nyaring dan bunga api berpencaran di udara.
Mahesa Jenar tertegun melihat kejadian itu. Segera ia mengurungkan niatnya. Dan tiba-tiba saja timbul keinginannya untuk menyaksikan dua tokoh golongan hitam itu mengadu tenaga.
Maka segera terjadilah pertempuran yang dahsyat. Kedua-duanya percaya pada kekuatan tubuhnya sehingga tampaknya mereka berdua segan untuk mengelakkan diri dari benturan-benturan. Kedua tangan Lawa Ijo yang memegang dua bilah pisau belati panjang itu menyambar-nyambar, seolah-olah berdatangan dari segala arah. Sedang Sima Rodra dengan dahsyatnya pula memutar tombak pendeknya mengarah ke segenap bagian tubuh Lawa Ijo.
Kedua orang tokoh hitam itu, apabila tidak dikendalikan oleh kemarahan yang meluap-luap, pastilah mereka akan menghindari pertempuran. Sebab mereka telah merasa bahwa kekuatan mereka seimbang, sehingga perkelahian yang semacam itu hanya akan membuang-buang waktu saja.
Beberapa waktu yang lalu Lawa Ijo sudah pernah bertempur melawan Sima Rodra. Tetapi tak seorang pun yang dapat mengatasi yang lain. Kemudian setelah beberapa lama mereka berpisah merendam diri untuk mempersiapkan pertemuan terakhir tahun ini, tiba-tiba mereka bertemu dalam satu tujuan yang sama.
Meskipun masing-masing telah mendapat tambahan ilmu yang cukup banyak, namun ternyata kekuatan mereka masih tetap seimbang.
Melihat pertempuran itu, hati Mahesa Jenar tergetar juga. Seandainya ia tidak memiliki ilmu sakti Sasra Birawa, mungkin sulit baginya untuk dapat mengalahkan baik Lawa Ijo maupun Sima Rodra.
Pertempuran itu semakin lama menjadi semakin seru. Keduanya ingin dapat menjatuhkan lawannya dengan segera.
Tetapi yang agak mengherankan Mahesa Jenar, kenapa Sima Rodra baru saat itu muncul di arena. Apakah kerjanya sebelum itu…? Padahal sesaat sebelum ia menyerang Lawa Ijo, laskarnya sudah jauh terdesak oleh Laskar Banyubiru yang merasa mendapat tenaga baru dengan hadirnya Gajah Sora.
Di lain bagian dari pertempuran itu nampak Lembu Sora dan Jaka Soka bekerja keras untuk dapat menguasai lawannya. Tetapi ternyata keduanya pun memiliki kekuatan yang seimbang. Hanya keseimbangan pertempuran diantara laskar-laskar mereka kini telah berubah sama sekali. Laskar Banyubiru dalam waktu yang dekat pasti akan dapat menguasai keadaan, apalagi pada saat itu Gajah Sora dan Mahesa Jenar ada didalam barisan Laskar Banyubiru tanpa ada yang dapat menghalangi gerakan-gerakan mereka.
Tetapi sementara itu, tiba-tiba agak jauh di ujung desa, Mahesa Jenar melihat bayangan yang bergerak-gerak dengan kecepatan yang luar biasa. Gerakan-gerakan mereka jauh lebih cepat dan lincah daripada gerakan-gerakan Sima Rodra maupun Lawa Ijo.
Orang yang memimpin gerombolan itu, dan yang telah bertempur dengan gagahnya, adalah seorang yang bertubuh kekar, berkumis setebal ibu jari, dan di kedua belah tangannya tergenggam dua bilah pisau belati panjang.
Quote:
"Lawa Ijo…." geram Mahesa Jenar diantara suara gemeretak giginya yang beradu dengan kerasnya.
Maka dengan gerak tanpa sadar, Mahesa Jenar meloncat lebih dekat lagi untuk mengenali pasangan Lawa Ijo yang sedang bertempur melawan Lembu Sora dengan kekuatan yang seimbang. Orang itu pasti memiliki kekuatan setidak-tidaknya sama dengan Lawa Ijo.
Ketika Mahesa Jenar sudah menjadi semakin dekat dan dapat melihat lawan Lembu Sora itu agak jelas, ia menjadi bertambah terkejut lagi. Orang itu adalah seorang laki-laki tampan, dengan sebuah tongkat hitam di tangan kiri yang dipergunakan sebagai perisai, sedang di tangan kanannya tampak sebilah pedang tipis yang lentur.
Quote:
"Sebuah permainan gila-gilaan," desis Mahesa Jenar.
Tubuhnya menjadi gemetar menahan deru darahnya yang menggelora seperti gemuruhnya air bah.
Dengan tak disangka-sangka, tiba-tiba ia bertemu dengan orang-orang yang menjadi musuh utamanya. Terutama Lawa Ijo, yang sampai dua kali berhasil melepaskan diri dari Mahesa Jenar.
Meskipun demikian di dalam hati Mahesa Jenar memuji kekuatan daya tahan tubuh Lawa Ijo yang besar sekali. Beberapa saat yang lalu ia berhasil menghantam Lawa Ijo dengan senjata andalannya, yaitu Sasra Birawa. Tetapi sekarang ia melihat Lawa Ijo telah segar bugar kembali.
Bagaimanapun hebatnya daya pengobatan Pasingsingan, namun kalau di dalam tubuh Lawa Ijo itu sendiri belum dialasi oleh kekuatan yang hebat, pastilah ia memerlukan waktu berbulan-bulan untuk dapat sembuh kembali.
SEKARANG, kedua orang itu, Lawa Ijo dan Jaka Soka, yang sebenarnya merupakan saingan yang hebat sekali, untuk sementara dapat bekerja bersama-sama, untuk dapat merampas Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten.
Karena itu, tidak ada suatu hasrat pun yang bergolak di dalam dada Mahesa Jenar pada saat itu, kecuali membinasakan Lawa Ijo dan sekaligus kalau mungkin Jaka Soka. Sebab orang-orang yang berciri watak demikian, merupakan duri yang selamanya selalu akan menyakiti tubuh masyarakat.
Pada saat itu Jaka Soka sedang bertempur mati-matian melawan Lembu Sora.
Kekuatan keduanya benar-benar seimbang.
Lembu Sora kini sudah turun dari kudanya untuk melawan Jaka Soka yang bertempur seolah-olah melilit dan melingkar-lingkar seperti ular. Tetapi dalam pertempuran itu, Jaka Soka benar-benar tak mampu mendekati lawannya yang dapat mengurung dirinya dalam lingkaran sambaran pedangnya yang besar itu.
Maka untuk sementara Mahesa Jenar dapat melepaskan Jaka Soka. Syukurlah apabila Lembu Sora berhasil membinasakannya. Tetapi setidak-tidaknya pertempuran itu akan berlangsung lama, sehingga ia akan mendapat kesempatan untuk menemaninya bermain, setelah ia membinasakan Lawa Ijo.
Mahesa Jenar pada saat itu telah memutuskan untuk tidak memperpanjang waktu. Ia sudah bersedia untuk mempergunakan ilmunya Sasra Birawa dalam pukulannya yang pertama. Ia tidak mau didahului oleh Gajah Sora dengan Lebur Seketinya untuk membinasakan Lawa Ijo.
Tetapi kembali dadanya terguncang. Ketika ia sudah hampir meloncat ke arah Lawa Ijo, tiba-tiba dari antara laskar yang bertempur itu meloncatlah seorang yang berperawakan tinggi besar berambut lebat dengan kumis dan janggut yang lebat pula.
Ia bersenjata tombak pendek. Dan bersamaan dengan serangannya yang menderu seperti angin ribut itu, terdengar suaranya mengaum dahsyat seperti seekor harimau yang sedang marah.
Quote:
"Kau gila Lawa Ijo…," teriaknya.
"Jangan mencoba menghalangi aku atau mendahului maksudku."
"Jangan mencoba menghalangi aku atau mendahului maksudku."
Lawa Ijo tampaknya agak terkejut mendapat serangan itu. Tetapi ia adalah seorang yang tangkas. Karena itu, dengan satu loncatan ia berhasil membebaskan dirinya. Bahkan kemudian terdengarlah suara tertawanya yang menyeramkan.
Quote:
"Kita sama-sama mengail di satu kolam, Harimau jelek," katanya kemudian.
"Apakah salahnya?"
"Tetapi akulah yang paling berhak atas keris-keris itu," jawab orang yang tinggi besar itu, yang tidak lain adalah Sima Rodra muda dari Gunung Tidar.
Kembali Lawa Ijo tertawa pendek,
"Salahmulah bahwa keris-keris itu sampai terlepas dari tanganmu."
"Apakah salahnya?"
"Tetapi akulah yang paling berhak atas keris-keris itu," jawab orang yang tinggi besar itu, yang tidak lain adalah Sima Rodra muda dari Gunung Tidar.
Kembali Lawa Ijo tertawa pendek,
"Salahmulah bahwa keris-keris itu sampai terlepas dari tanganmu."
Sima Rodra muda itu tidak menjawab, tetapi segera ia melanjutkan serangannya dengan tombak pendeknya yang dinamainya Kyai Kalatadah, yang pernah hampir saja dicuri oleh anak buah sepasang Uling dari Rawa Pening.
Serangan itu datangnya cepat sekali sehingga Lawa Ijo tidak sempat mengelak. Segera ia menggerakkan kedua pisau belatinya untuk menangkis serangan Sima Rodra. Dua kekuatan yang dahsyat saling beradu. Terdengarlah suara gemerincing nyaring dan bunga api berpencaran di udara.
Mahesa Jenar tertegun melihat kejadian itu. Segera ia mengurungkan niatnya. Dan tiba-tiba saja timbul keinginannya untuk menyaksikan dua tokoh golongan hitam itu mengadu tenaga.
Maka segera terjadilah pertempuran yang dahsyat. Kedua-duanya percaya pada kekuatan tubuhnya sehingga tampaknya mereka berdua segan untuk mengelakkan diri dari benturan-benturan. Kedua tangan Lawa Ijo yang memegang dua bilah pisau belati panjang itu menyambar-nyambar, seolah-olah berdatangan dari segala arah. Sedang Sima Rodra dengan dahsyatnya pula memutar tombak pendeknya mengarah ke segenap bagian tubuh Lawa Ijo.
Kedua orang tokoh hitam itu, apabila tidak dikendalikan oleh kemarahan yang meluap-luap, pastilah mereka akan menghindari pertempuran. Sebab mereka telah merasa bahwa kekuatan mereka seimbang, sehingga perkelahian yang semacam itu hanya akan membuang-buang waktu saja.
Beberapa waktu yang lalu Lawa Ijo sudah pernah bertempur melawan Sima Rodra. Tetapi tak seorang pun yang dapat mengatasi yang lain. Kemudian setelah beberapa lama mereka berpisah merendam diri untuk mempersiapkan pertemuan terakhir tahun ini, tiba-tiba mereka bertemu dalam satu tujuan yang sama.
Meskipun masing-masing telah mendapat tambahan ilmu yang cukup banyak, namun ternyata kekuatan mereka masih tetap seimbang.
Melihat pertempuran itu, hati Mahesa Jenar tergetar juga. Seandainya ia tidak memiliki ilmu sakti Sasra Birawa, mungkin sulit baginya untuk dapat mengalahkan baik Lawa Ijo maupun Sima Rodra.
Pertempuran itu semakin lama menjadi semakin seru. Keduanya ingin dapat menjatuhkan lawannya dengan segera.
Tetapi yang agak mengherankan Mahesa Jenar, kenapa Sima Rodra baru saat itu muncul di arena. Apakah kerjanya sebelum itu…? Padahal sesaat sebelum ia menyerang Lawa Ijo, laskarnya sudah jauh terdesak oleh Laskar Banyubiru yang merasa mendapat tenaga baru dengan hadirnya Gajah Sora.
Di lain bagian dari pertempuran itu nampak Lembu Sora dan Jaka Soka bekerja keras untuk dapat menguasai lawannya. Tetapi ternyata keduanya pun memiliki kekuatan yang seimbang. Hanya keseimbangan pertempuran diantara laskar-laskar mereka kini telah berubah sama sekali. Laskar Banyubiru dalam waktu yang dekat pasti akan dapat menguasai keadaan, apalagi pada saat itu Gajah Sora dan Mahesa Jenar ada didalam barisan Laskar Banyubiru tanpa ada yang dapat menghalangi gerakan-gerakan mereka.
Tetapi sementara itu, tiba-tiba agak jauh di ujung desa, Mahesa Jenar melihat bayangan yang bergerak-gerak dengan kecepatan yang luar biasa. Gerakan-gerakan mereka jauh lebih cepat dan lincah daripada gerakan-gerakan Sima Rodra maupun Lawa Ijo.
fakhrie... dan 9 lainnya memberi reputasi
8
Kutip
Balas