- Beranda
- Stories from the Heart
Naga Sasra & Sabuk Inten
...
TS
nandeko
Naga Sasra & Sabuk Inten

NAGA SASRA & SABUK INTEN
Kisah ini merupakan karangan dari S.H Mintardja. Disini TS sudah mendapatkan ijin untuk sekedar membagikan dan mempermudahkan pembaca untuk menikmati kisah ini dalam bentuk digital
INDEX
Quote:
Spoiler for JILID 1:
Spoiler for JILID 2:
Spoiler for JILID 3:
Spoiler for JILID 4:
Spoiler for JILID 5:
Spoiler for JILID 6:
Part 114
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Spoiler for JILID 7:
Spoiler for JILID 8:
Spoiler for JILID 9:
Spoiler for JILID 10:
Pengarang dan Hakcipta©
Singgih Hadi Mintardja
Singgih Hadi Mintardja
Diubah oleh nandeko 21-10-2021 14:24
whadi05 dan 43 lainnya memberi reputasi
42
62.2K
Kutip
1.2K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
nandeko
#130
Jilid 4 [Part 93]
Spoiler for :
Mahesa Jenar menggeleng-gelengkan kepala.
Memang, sejak ia melihat anak itu pertama kali, ia sudah merasa kagum. Arya Salaka merupakan seorang anak-anak laki-laki yang memiliki bakat yang baik. Badannya kukuh dan otaknya pun ternyata dapat bekerja dengan baik. Uling adalah sebangsa binatang air yang mirip dengan ular dan memiliki kekuatan yang luar biasa. Ia adalah belut raksasa. Tetapi anak ini dapat menangkapnya.
Sebentar kemudian terdengar suara Nyai Ageng Gajah Sora nyaring. Rupanya Nyai Ageng sedang memarahi Arya Salaka. Kemudian terdengarlah langkah Arya berlari-lari keluar dan langsung meloncat memanjat sebatang pohon. Dari sana ia meloncat ke atas atap yang dibuat dari papan, untuk bersembunyi.
Setelah itu tampak Nyai Ageng menyusul di belakang, tetapi Arya Salaka telah lenyap. Mahesa Jenar segera memalingkan kepalanya, dan pura-pura tidak mengetahui.
Tetapi ketika Nyai Ageng melihatnya, segera ia mendekati Mahesa Jenar, Kami mendapat tamu dari Pamingit, Adik dari Ki Ageng. Barangkali Adi Lembu Sora dapat memperkenalkan diri dengan Adi Mahesa Jenar.
Mahesa Jenar pura-pura terkejut lalu membalikkan dirinya. Baiklah Nyai Ageng, sebaiknya aku mandi dulu, jawabnya.
Silakanlah Adi, katanya kemudian. Lalu ditinggalkannya Mahesa Jenar kembali seorng diri.
Dengan langkah-langkah segan Mahesa Jenar pergi menuruni tangga batu yang dibuat di lereng bukit di samping rumah Ki Ageng Gajah Sora, pergi ke mata air. Di sanalah biasanya ia mandi. Ia sama sekali tidak bernafsu untuk bertemu dengan Lembu Sora. Tetapi sebagai seorang tamu maka tak baik kalau ia menolak.
SETELAH Mahesa Jenar selesai membersihkan diri, segera ia pun naik ke pendapa dan langsung masuk ke pringgitan untuk menemui Ki Ageng Lembu Sora.
Melihat kehadiran Mahesa Jenar, segera Gajah Sora memperkenalkannya kepada Lembu Sora.
Ternyata memang Ki Ageng Lembu Sora seorang yang sombong. Ketika Mahesa Jenar membungkukkan diri menghormatnya atas perkenalan itu, ia mengangkat dadanya dan memandang Mahesa Jenar dengan pandangan yang merendahkan. Kemudian ia bertanya,
Pertanyaan itu sungguh tidak menyenangkan. Tetapi bagaimanapun Mahesa Jenar adalah tamu yang sopan, maka ia mencoba untuk tidak mengesankan ketidaksenangannya. Maka jawabnya,
Lembu Sora menarik dagunya hampir melekat dadanya. Matanya menjadi berkilat-kilat. Rupanya ia merasakan sindiran halus yang diucapkan oleh Mahesa Jenar. Tetapi ia tidak menjawab, sebab segera Gajah Sora yang bijaksana mengalihkan pembicaraan mereka ke hal-hal yang tak berarti.
Namun bagaimanapun ada suatu kesan yang dalam menggores di dalam jantung Mahesa Jenar, bahwa Ki Ageng Lembu Sora bukanlah seorang yang baik hati. Dan sebenarnyalah bahwa memang orang ini telah banyak memusingkan kepala ayahnya. Ki Ageng Sora Dipayana.
Andaikan Lembu Sora itu orang lain, maka mudahlah soalnya. Tetapi ia adalah anak Ki Ageng Sora Dipayana, seperti juga Gajah Sora Dipayana. Di sinilah mulanya letak kesalahannya. Nyai Ageng Sora Dipayana dahulu terlalu memanjakan anak bungsunya, sehingga akhirnya anak ini susah diatur. Sedangkan Ki Ageng Sora Dipayana tidak mau mengecewakan istrinya, karena ia sangat menyayanginya.
Nyai Ageng Sora Dipayana adalah seorang istri yang setia, sejak Ki Ageng masih menjadi seorang yang harus mulai segala soal. Membuka hutan dan segala macam kerja yang harus dikerjakan dalam suasana sakit dan pedih.
Pada keadaan yang demikian, satu-satunya orang yang bersedia membantunya adalah almarhum istrinya itu. Karena itu, meskipun sekarang istrinya sudah tidak ada lagi, Ki Ageng Sora Dipayana tidak sampai hati untuk berlaku keras kepada anak kesayangan istrinya itu.
Setelah Mahesa Jenar merasa bahwa ia telah cukup lama turut serta menemui Ki Ageng Lembu Sora, segera ia minta diri untuk pergi berjalan-jalan, melihat-lihat kota Banyubiru. Ia tidak ingin lebih lama lagi bercakap-cakap dengan Ki Ageng Lembu Sora, yang tampaknya tak mau menghargai orang lain. Sebab ia sendiri bukanlah orang yang amat kuat menahan hati.
Maka setelah ia mendapat izin dari tuan rumah, segera ia turun ke halaman dan berjalan keluar. Ia sama sekali tidak mempunyai tujuan kecuali sekadar menuruti langkah kakinya.
Tetapi demikian ia keluar halaman, dilihatnya seorang yang berdiri bersandar dinding. Orang ini belum pernah dikenalnya. Beberapa orang Banyubiru yang dekat dengan Gajah Sora sudah hampir dikenal seluruhnya. Melihat Mahesa Jenar keluar, segera orang itu memutar tubuhnya dan berjalan perlahan-lahan menjauhi gerbang.
Mahesa Jenar menjadi agak curiga. Tetapi apakah yang akan dilakukan di siang hari, dimana sinar matahari yang mulai terik ini membakar seluruh halaman?
Tetapi bagaimanapun, orang itu sangat menarik perhatiannya. Sehingga timbullah keinginan Mahesa Jenar untuk mengetahui maksud orang itu.
Maka segera Mahesa Jenar pun berjalan mengikutinya dari jarak kira-kira 50 langkah. Ia menjadi semakin curiga ketika orang itu beberapa kali menengoknya dan mempercepat langkahnya.
Tetapi tiba-tiba Mahesa Jenar terkejut melihat bayangan yang melayang dari sebatang pohon di pinggir jalan, langsung menyerang orang yang diikutinya.
Ia menjadi bertambah terkejut ketika diketahuinya bahwa bayangan itu adalah Arya Salaka yang tak diketahui sebab-sebabnya menyerang orang yang berjalan di depan Mahesa Jenar itu.
Quote:
"Luar biasa," katanya kepada diri sendiri.
Memang, sejak ia melihat anak itu pertama kali, ia sudah merasa kagum. Arya Salaka merupakan seorang anak-anak laki-laki yang memiliki bakat yang baik. Badannya kukuh dan otaknya pun ternyata dapat bekerja dengan baik. Uling adalah sebangsa binatang air yang mirip dengan ular dan memiliki kekuatan yang luar biasa. Ia adalah belut raksasa. Tetapi anak ini dapat menangkapnya.
Sebentar kemudian terdengar suara Nyai Ageng Gajah Sora nyaring. Rupanya Nyai Ageng sedang memarahi Arya Salaka. Kemudian terdengarlah langkah Arya berlari-lari keluar dan langsung meloncat memanjat sebatang pohon. Dari sana ia meloncat ke atas atap yang dibuat dari papan, untuk bersembunyi.
Setelah itu tampak Nyai Ageng menyusul di belakang, tetapi Arya Salaka telah lenyap. Mahesa Jenar segera memalingkan kepalanya, dan pura-pura tidak mengetahui.
Tetapi ketika Nyai Ageng melihatnya, segera ia mendekati Mahesa Jenar, Kami mendapat tamu dari Pamingit, Adik dari Ki Ageng. Barangkali Adi Lembu Sora dapat memperkenalkan diri dengan Adi Mahesa Jenar.
Mahesa Jenar pura-pura terkejut lalu membalikkan dirinya. Baiklah Nyai Ageng, sebaiknya aku mandi dulu, jawabnya.
Silakanlah Adi, katanya kemudian. Lalu ditinggalkannya Mahesa Jenar kembali seorng diri.
Dengan langkah-langkah segan Mahesa Jenar pergi menuruni tangga batu yang dibuat di lereng bukit di samping rumah Ki Ageng Gajah Sora, pergi ke mata air. Di sanalah biasanya ia mandi. Ia sama sekali tidak bernafsu untuk bertemu dengan Lembu Sora. Tetapi sebagai seorang tamu maka tak baik kalau ia menolak.
SETELAH Mahesa Jenar selesai membersihkan diri, segera ia pun naik ke pendapa dan langsung masuk ke pringgitan untuk menemui Ki Ageng Lembu Sora.
Melihat kehadiran Mahesa Jenar, segera Gajah Sora memperkenalkannya kepada Lembu Sora.
Quote:
"Adi Lembu Sora, ini adalah Adi Mahesa Jenar, sahabatku yang telah lama tidak bertemu," katanya.
Kemudian kepada Mahesa Jenar ia berkata,
"Adi Mahesa Jenar…, Adi Lembu Sora ini adalah adikku satu-satunya yang sekarang memerintah daerah Perdikan Pamingit. Ia datang juga hanya untuk kunjungan kekeluargaan."
Kemudian kepada Mahesa Jenar ia berkata,
"Adi Mahesa Jenar…, Adi Lembu Sora ini adalah adikku satu-satunya yang sekarang memerintah daerah Perdikan Pamingit. Ia datang juga hanya untuk kunjungan kekeluargaan."
Ternyata memang Ki Ageng Lembu Sora seorang yang sombong. Ketika Mahesa Jenar membungkukkan diri menghormatnya atas perkenalan itu, ia mengangkat dadanya dan memandang Mahesa Jenar dengan pandangan yang merendahkan. Kemudian ia bertanya,
Quote:
"Sahabat, adakah yang menarik perhatianmu, sampai kau datang dari jarak yang sedemikian jauhnya ke Banyubiru?"
Pertanyaan itu sungguh tidak menyenangkan. Tetapi bagaimanapun Mahesa Jenar adalah tamu yang sopan, maka ia mencoba untuk tidak mengesankan ketidaksenangannya. Maka jawabnya,
Quote:
"Ki Ageng, memang banyak yang menarik perhatianku di sini. Terutama keramah-tamahan penduduknya."
Lembu Sora menarik dagunya hampir melekat dadanya. Matanya menjadi berkilat-kilat. Rupanya ia merasakan sindiran halus yang diucapkan oleh Mahesa Jenar. Tetapi ia tidak menjawab, sebab segera Gajah Sora yang bijaksana mengalihkan pembicaraan mereka ke hal-hal yang tak berarti.
Namun bagaimanapun ada suatu kesan yang dalam menggores di dalam jantung Mahesa Jenar, bahwa Ki Ageng Lembu Sora bukanlah seorang yang baik hati. Dan sebenarnyalah bahwa memang orang ini telah banyak memusingkan kepala ayahnya. Ki Ageng Sora Dipayana.
Andaikan Lembu Sora itu orang lain, maka mudahlah soalnya. Tetapi ia adalah anak Ki Ageng Sora Dipayana, seperti juga Gajah Sora Dipayana. Di sinilah mulanya letak kesalahannya. Nyai Ageng Sora Dipayana dahulu terlalu memanjakan anak bungsunya, sehingga akhirnya anak ini susah diatur. Sedangkan Ki Ageng Sora Dipayana tidak mau mengecewakan istrinya, karena ia sangat menyayanginya.
Nyai Ageng Sora Dipayana adalah seorang istri yang setia, sejak Ki Ageng masih menjadi seorang yang harus mulai segala soal. Membuka hutan dan segala macam kerja yang harus dikerjakan dalam suasana sakit dan pedih.
Pada keadaan yang demikian, satu-satunya orang yang bersedia membantunya adalah almarhum istrinya itu. Karena itu, meskipun sekarang istrinya sudah tidak ada lagi, Ki Ageng Sora Dipayana tidak sampai hati untuk berlaku keras kepada anak kesayangan istrinya itu.
Setelah Mahesa Jenar merasa bahwa ia telah cukup lama turut serta menemui Ki Ageng Lembu Sora, segera ia minta diri untuk pergi berjalan-jalan, melihat-lihat kota Banyubiru. Ia tidak ingin lebih lama lagi bercakap-cakap dengan Ki Ageng Lembu Sora, yang tampaknya tak mau menghargai orang lain. Sebab ia sendiri bukanlah orang yang amat kuat menahan hati.
Maka setelah ia mendapat izin dari tuan rumah, segera ia turun ke halaman dan berjalan keluar. Ia sama sekali tidak mempunyai tujuan kecuali sekadar menuruti langkah kakinya.
Tetapi demikian ia keluar halaman, dilihatnya seorang yang berdiri bersandar dinding. Orang ini belum pernah dikenalnya. Beberapa orang Banyubiru yang dekat dengan Gajah Sora sudah hampir dikenal seluruhnya. Melihat Mahesa Jenar keluar, segera orang itu memutar tubuhnya dan berjalan perlahan-lahan menjauhi gerbang.
Mahesa Jenar menjadi agak curiga. Tetapi apakah yang akan dilakukan di siang hari, dimana sinar matahari yang mulai terik ini membakar seluruh halaman?
Tetapi bagaimanapun, orang itu sangat menarik perhatiannya. Sehingga timbullah keinginan Mahesa Jenar untuk mengetahui maksud orang itu.
Maka segera Mahesa Jenar pun berjalan mengikutinya dari jarak kira-kira 50 langkah. Ia menjadi semakin curiga ketika orang itu beberapa kali menengoknya dan mempercepat langkahnya.
Tetapi tiba-tiba Mahesa Jenar terkejut melihat bayangan yang melayang dari sebatang pohon di pinggir jalan, langsung menyerang orang yang diikutinya.
Ia menjadi bertambah terkejut ketika diketahuinya bahwa bayangan itu adalah Arya Salaka yang tak diketahui sebab-sebabnya menyerang orang yang berjalan di depan Mahesa Jenar itu.
fakhrie... dan 9 lainnya memberi reputasi
10
Kutip
Balas