- Beranda
- Stories from the Heart
Naga Sasra & Sabuk Inten
...
TS
nandeko
Naga Sasra & Sabuk Inten

NAGA SASRA & SABUK INTEN
Kisah ini merupakan karangan dari S.H Mintardja. Disini TS sudah mendapatkan ijin untuk sekedar membagikan dan mempermudahkan pembaca untuk menikmati kisah ini dalam bentuk digital
INDEX
Quote:
Spoiler for JILID 1:
Spoiler for JILID 2:
Spoiler for JILID 3:
Spoiler for JILID 4:
Spoiler for JILID 5:
Spoiler for JILID 6:
Part 114
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Spoiler for JILID 7:
Spoiler for JILID 8:
Spoiler for JILID 9:
Spoiler for JILID 10:
Pengarang dan Hakcipta©
Singgih Hadi Mintardja
Singgih Hadi Mintardja
Diubah oleh nandeko 21-10-2021 14:24
whadi05 dan 43 lainnya memberi reputasi
42
62.2K
Kutip
1.2K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
nandeko
#115
Jilid 4 [Part 84]
Spoiler for :
ORANG itu terdorong terus hingga suatu ketika ia tidak dapat mundur lagi karena punggungnya sudah melekat dengan dinding padas. Mahesa Jenar melihat kesempatan itu. Ia tidak mau melepaskan lawannya kali ini. Maka dengan kekuatan penuh ia meloncat maju dan menghantamkan muka orang itu dengan kedua tangannya sekaligus. Tetapi orang itu ternyata tidak menyerah demikian saja.
Tiba-tiba, ketika Mahesa Jenar meloncat, orang itu pun menyerang dengan kakinya ke arah perut Mahesa Jenar. Serangan yang sama sekali tak diduga oleh Mahesa Jenar. Karenanya, serangan itu bulat-bulat telah melemparkannya dan ia jatuh terguling beberapa kali.
Mahesa Jenar telah mengalami pertempuran dengan lawan yang beraneka macam.
Pada saat ia bertempur dengan Lawa Ijo, seorang tokoh hitam yang perkasa, ia pun mengerahkan segenap tenaganya. Tetapi bagaimanapun ia tidak merasakan adanya tekanan-tekanan yang sedemikian hebatnya seperti saat ini. Tidak saja ia tidak berhasil menekan lawannya, tetapi benar-benar ia merasakan bahwa tubuhnya menjadi sakit-sakit dan nyeri.
Mengingat bahwa yang dipertaruhkan adalah pusaka-pusaka istana, serta kesadarannya akan pertanggungjawabannya sebagai seorang yang merasa turut serta membina kesejahteraan rakyat, maka ia merasakan kengerian yang sangat apabila pusaka-pusaka itu sampai jatuh ke golongan hitam yang manapun. Karena itu tidak ada jalan lain bagi Mahesa Jenar kecuali membinasakan orang itu.
Pada saat ia tidak dapat menguasai lawannya, maka cara satu-satunya adalah mempergunakan ilmunya Sasra Birawa. Maka ketika tidak ada pilihan lain, segera ia meloncat bangkit dan segera ia memusatkan segala kekuatan batinnya serta mengatur pernafasannya, memusatkan segala kekuatan lahir-batin pada telapak tangan kanannya.
Demikianlah ia berdiri di atas satu kakinya, sedang kakinya yang lain ditekuk ke depan. Tangan kirinya disilangkannya di muka dadanya, sedang tangan kanannya diangkat tinggi-tinggi. Kemudian demikian cepat bagai sambaran kilat ia meloncat maju dan dengan dahsyat ia mengayunkan tangan kanannya ke arah kepala lawannya.
Melihat sikap itu, lawan Mahesa Jenar terkejut bukan buatan. Segera ia meloncat mundur sambil berteriak,
Tetapi Mahesa Jenar sudah terlanjur bergerak. Kalau ia menahan serangannya maka kekuatan yang sudah tersalur itu pasti akan memukul dirinya sendiri lewat bagian dalam tubuhnya. Karena itu tidak ada cara lain kecuali melanjutkan serangannya untuk membinasakan lawannya.
Melihat Mahesa Jenar tidak mengubah serangannya, tiba-tiba orang itu pun segera bersiap, tidak menghindarkan diri, karena tidak ada kesempatan lagi, melainkan ia berdiri di atas kedua kakinya yang melangkah setengah langkah ke depan, lutut kaki kanannya diteuk sedikit.
Mula-mula ia merentangkan kedua tangannya, tapi ketika pukulan Mahesa Jenar sudah melayang, segera ia menyilangkan kedua tangannya di muka wajahnya.
Melihat sikap itu, jantung Mahesa Jenar seperti berhenti berdenyut karena terkejut.
Tetapi segala sesuatu sudah terlambat. Sebab tangan Mahesa Jenar sudah tinggal berjarak beberapa cengkang saja dari orang itu.
Dengan satu gerakan pendek, kedua tangan yang disilangkan di muka wajahnya, orang itu menahan hantaman tangan Mahesa Jenar. Dan sesaat kemudian terjadilah suatu benturan yang maha dahsyat seperti berbenturnya halilintar.
Akibatnya dahsyat pula. Orang itu terlempar jauh ke belakang dan bulat-bulat terbanting di tanah tanpa dapat berbuat sesuatu. Matanya menjadi gelap dan nafasnya tersekat di kerongkongan. Sebentar kemudian ia tak dapat merasakan sesuatu.
Pingsan.
Mahesa Jenar sendiri, yang menghantamkan ilmunya Sasra Birawa, merasakan bahwa tangannya seolah-olah tertahan oleh selapis baja yang tebalnya lebih dari sedepa. Karena itu kekuatan yang dilontarkan itu seolah-olah membalik dan memukul bagian dalam tubuhnya, ditambah dengan desakan dari orang yang dipukulnya itu. Karena itu Mahesa Jenar juga terlempar, tidak hanya seperti sebuah balok yang melayang, tetapi seperti kayu yang oleh kekuatan raksasa dihantamkan ke punggung padas yang ada di belakangnya.
Demikian dahsyatnya Mahesa Jenar terbanting sehingga pada saat itu juga, pada saat ia terhempas, ia sudah tak dapat lagi merasakan apa-apa kecuali kepekatan yang dahsyat menerkam dirinya. Dan ia pun pingsan.
Demikianlah keadaan segera menjadi senyap. Hanya desir angin di rerumputan serta semak-semak yang kedengaran gemeresik lembut. Di kejauhan terdengar suara binatang malam, serta gonggong anjing yang berebutan mangsa. Di mulut goa Sima Rodra itu menggeletak sebelah-menyebelah dua sosok tubuh yang sama sekali tak sadarkan diri.
Baru beberapa saat kemudian, oleh kesegaran angin yang mengusap wajahnya, orang itu, yang telah bertempur mati-matian melawan Mahesa Jenar, yang ternyata mempunyai ketahanan tubuh yang luar biasa, sehingga dialah yang pertama-tama dapat menarik nafas dan perlahan-lahan menggerakkan tubuhnya. Tetapi demikian ia berusaha bergerak terdengarlah ia mengeluh perlahan. Ternyata tubuhnya terasa nyeri dan sakit seluruhnya.
UNTUK beberapa saat orang itu terpaksa berdiam diri, mengatur jalan pernafasannya serta berusaha untuk menguasai kembali pikirannya.
Angin masih berhembus perlahan-lahan. Dan ini telah menolong menyegarkan tubuh orang itu, sehingga beberapa saat kemudian ia berhasil dengan susah payah mengangkat tubuhnya dan duduk bersandar pada kedua tangannya.
Berkali-kali ia menarik nafas panjang. Keringat dingin masih saja mengalir membasahi seluruh pakaiannya. Baru setelah tubuhnya terasa bertambah segar ia perlahan-lahan bangkit berdiri.
Ketika ia memandang ke daerah sekelilingnya, tiba-tiba matanya tertumbuk pada tubuh yang masih terbaring tak bergerak, beberapa langkah dari mulut goa. Sekali lagi ia menarik nafas. Ia tahu benar bahwa pukulan lawannya itu adalah pukulan yang tak ada taranya dahsyatnya.
Perlahan-lahan dan tertatih-tatih ia berjalan selangkah demi selangkah mendekati Mahesa Jenar yang masih belum sadar. Dengan mata yang bercahaya orang itu memandangi tubuh Mahesa Jenar dari ujung kakinya sampai ke ujung kepalanya.
Memandangi tubuh yang meskipun tidak setinggi dia, tetapi tampak kokoh kuat bagai seekor banteng.
Ketika orang itu melangkah selangkah lagi mendekati Mahesa Jenar, terasa bahwa tubuhnya semakin terasa sakit. Karena itu ia berhenti dan duduk di atas padas beberapa langkah dari tubuh Mahesa Jenar yang masih terbujur tak bergerak.
Ia terpaksa menahan diri, tidak segera mendekatinya sampai tubuhnya sendiri agak terasa kuat. Karena itu dibiarkannya Mahesa Jenar terbaring tak bergerak beberapa langkah di hadapannya.
Ketika sekali lagi angin malam membelai tubuh-tubuh yang sedang kesakitan itu, tampak bahwa Mahesa Jenar mulai bergerak-gerak. Dan sesaat kemudian ia sudah dapat membuka matanya, meskipun masih samar-samar. Apalagi di dalam kegelapan malam.
Yang pertama-tama dilihatnya adalah bintang-bintang yang bertaburan di langit, dan sesudah itu matanya tertumbuk pada tubuh tinggi tegap berdada lebar, duduk di atas padas di hadapannya, yang dengan tajam memandanginya seperti sebuah bayangan hantu hitam yang akan menerkamnya. Tetapi pada sat itu ia sama sekali tak dapat berbuat sesuatu. Seluruh tubuhnya terasa sakit dan nyeri. Sambungan-sambungan tulangnya terasa seperti lepas dan tak dapat dikuasainya. Karena itu kalau terjadi sesuatu ia sama sekali tak akan dapat membela diri.
Maka sekali lagi Mahesa Jenar memejamkan matanya untuk mengumpulkan ingatannya. Dan perlahan-lahan ketika tubuhnya terasa semakin segar karena angin malam yang lembut, ingatannya pun sedikit demi sedikit menjadi cerah kembali meskipun kepalanya masih saja pening dan seperti berputar-putar.
Apa yang baru saja dialami menjadi semakin jelas dalam kepalanya. Bagaimana ia mempergunakan ilmu kepercayaannya Sasra Birawa dan bagaimana orang yang dihantamnya itu merentangkan tangannya dan selanjutnya disilangkan di muka wajahnya.
Dan sekarang, orang yang dikenai ilmunya itu ternyata masih saja hidup dan duduk di dekatnya. Mengingat hal itu, Mahesa Jenar tiba-tiba merasa gembira sekali. Dan kegembiraannya itu telah sangat mempengaruhi keadaannya, sehingga tiba-tiba ia dapat duduk, meskipun dengan susah payah untuk menegakkan tubuhnya yang duduk lemah seperti tak bertulang. Meskipun demikian, wajah Mahesa jenar tampak cerah dan matanya menyorotkan cahaya segar.
Tiba-tiba, ketika Mahesa Jenar meloncat, orang itu pun menyerang dengan kakinya ke arah perut Mahesa Jenar. Serangan yang sama sekali tak diduga oleh Mahesa Jenar. Karenanya, serangan itu bulat-bulat telah melemparkannya dan ia jatuh terguling beberapa kali.
Mahesa Jenar telah mengalami pertempuran dengan lawan yang beraneka macam.
Pada saat ia bertempur dengan Lawa Ijo, seorang tokoh hitam yang perkasa, ia pun mengerahkan segenap tenaganya. Tetapi bagaimanapun ia tidak merasakan adanya tekanan-tekanan yang sedemikian hebatnya seperti saat ini. Tidak saja ia tidak berhasil menekan lawannya, tetapi benar-benar ia merasakan bahwa tubuhnya menjadi sakit-sakit dan nyeri.
Mengingat bahwa yang dipertaruhkan adalah pusaka-pusaka istana, serta kesadarannya akan pertanggungjawabannya sebagai seorang yang merasa turut serta membina kesejahteraan rakyat, maka ia merasakan kengerian yang sangat apabila pusaka-pusaka itu sampai jatuh ke golongan hitam yang manapun. Karena itu tidak ada jalan lain bagi Mahesa Jenar kecuali membinasakan orang itu.
Pada saat ia tidak dapat menguasai lawannya, maka cara satu-satunya adalah mempergunakan ilmunya Sasra Birawa. Maka ketika tidak ada pilihan lain, segera ia meloncat bangkit dan segera ia memusatkan segala kekuatan batinnya serta mengatur pernafasannya, memusatkan segala kekuatan lahir-batin pada telapak tangan kanannya.
Demikianlah ia berdiri di atas satu kakinya, sedang kakinya yang lain ditekuk ke depan. Tangan kirinya disilangkannya di muka dadanya, sedang tangan kanannya diangkat tinggi-tinggi. Kemudian demikian cepat bagai sambaran kilat ia meloncat maju dan dengan dahsyat ia mengayunkan tangan kanannya ke arah kepala lawannya.
Melihat sikap itu, lawan Mahesa Jenar terkejut bukan buatan. Segera ia meloncat mundur sambil berteriak,
Quote:
"Tahan… Tuan, tahankan dulu."
Tetapi Mahesa Jenar sudah terlanjur bergerak. Kalau ia menahan serangannya maka kekuatan yang sudah tersalur itu pasti akan memukul dirinya sendiri lewat bagian dalam tubuhnya. Karena itu tidak ada cara lain kecuali melanjutkan serangannya untuk membinasakan lawannya.
Melihat Mahesa Jenar tidak mengubah serangannya, tiba-tiba orang itu pun segera bersiap, tidak menghindarkan diri, karena tidak ada kesempatan lagi, melainkan ia berdiri di atas kedua kakinya yang melangkah setengah langkah ke depan, lutut kaki kanannya diteuk sedikit.
Mula-mula ia merentangkan kedua tangannya, tapi ketika pukulan Mahesa Jenar sudah melayang, segera ia menyilangkan kedua tangannya di muka wajahnya.
Melihat sikap itu, jantung Mahesa Jenar seperti berhenti berdenyut karena terkejut.
Tetapi segala sesuatu sudah terlambat. Sebab tangan Mahesa Jenar sudah tinggal berjarak beberapa cengkang saja dari orang itu.
Dengan satu gerakan pendek, kedua tangan yang disilangkan di muka wajahnya, orang itu menahan hantaman tangan Mahesa Jenar. Dan sesaat kemudian terjadilah suatu benturan yang maha dahsyat seperti berbenturnya halilintar.
Akibatnya dahsyat pula. Orang itu terlempar jauh ke belakang dan bulat-bulat terbanting di tanah tanpa dapat berbuat sesuatu. Matanya menjadi gelap dan nafasnya tersekat di kerongkongan. Sebentar kemudian ia tak dapat merasakan sesuatu.
Pingsan.
Mahesa Jenar sendiri, yang menghantamkan ilmunya Sasra Birawa, merasakan bahwa tangannya seolah-olah tertahan oleh selapis baja yang tebalnya lebih dari sedepa. Karena itu kekuatan yang dilontarkan itu seolah-olah membalik dan memukul bagian dalam tubuhnya, ditambah dengan desakan dari orang yang dipukulnya itu. Karena itu Mahesa Jenar juga terlempar, tidak hanya seperti sebuah balok yang melayang, tetapi seperti kayu yang oleh kekuatan raksasa dihantamkan ke punggung padas yang ada di belakangnya.
Demikian dahsyatnya Mahesa Jenar terbanting sehingga pada saat itu juga, pada saat ia terhempas, ia sudah tak dapat lagi merasakan apa-apa kecuali kepekatan yang dahsyat menerkam dirinya. Dan ia pun pingsan.
Demikianlah keadaan segera menjadi senyap. Hanya desir angin di rerumputan serta semak-semak yang kedengaran gemeresik lembut. Di kejauhan terdengar suara binatang malam, serta gonggong anjing yang berebutan mangsa. Di mulut goa Sima Rodra itu menggeletak sebelah-menyebelah dua sosok tubuh yang sama sekali tak sadarkan diri.
Baru beberapa saat kemudian, oleh kesegaran angin yang mengusap wajahnya, orang itu, yang telah bertempur mati-matian melawan Mahesa Jenar, yang ternyata mempunyai ketahanan tubuh yang luar biasa, sehingga dialah yang pertama-tama dapat menarik nafas dan perlahan-lahan menggerakkan tubuhnya. Tetapi demikian ia berusaha bergerak terdengarlah ia mengeluh perlahan. Ternyata tubuhnya terasa nyeri dan sakit seluruhnya.
UNTUK beberapa saat orang itu terpaksa berdiam diri, mengatur jalan pernafasannya serta berusaha untuk menguasai kembali pikirannya.
Angin masih berhembus perlahan-lahan. Dan ini telah menolong menyegarkan tubuh orang itu, sehingga beberapa saat kemudian ia berhasil dengan susah payah mengangkat tubuhnya dan duduk bersandar pada kedua tangannya.
Berkali-kali ia menarik nafas panjang. Keringat dingin masih saja mengalir membasahi seluruh pakaiannya. Baru setelah tubuhnya terasa bertambah segar ia perlahan-lahan bangkit berdiri.
Ketika ia memandang ke daerah sekelilingnya, tiba-tiba matanya tertumbuk pada tubuh yang masih terbaring tak bergerak, beberapa langkah dari mulut goa. Sekali lagi ia menarik nafas. Ia tahu benar bahwa pukulan lawannya itu adalah pukulan yang tak ada taranya dahsyatnya.
Perlahan-lahan dan tertatih-tatih ia berjalan selangkah demi selangkah mendekati Mahesa Jenar yang masih belum sadar. Dengan mata yang bercahaya orang itu memandangi tubuh Mahesa Jenar dari ujung kakinya sampai ke ujung kepalanya.
Memandangi tubuh yang meskipun tidak setinggi dia, tetapi tampak kokoh kuat bagai seekor banteng.
Ketika orang itu melangkah selangkah lagi mendekati Mahesa Jenar, terasa bahwa tubuhnya semakin terasa sakit. Karena itu ia berhenti dan duduk di atas padas beberapa langkah dari tubuh Mahesa Jenar yang masih terbujur tak bergerak.
Ia terpaksa menahan diri, tidak segera mendekatinya sampai tubuhnya sendiri agak terasa kuat. Karena itu dibiarkannya Mahesa Jenar terbaring tak bergerak beberapa langkah di hadapannya.
Ketika sekali lagi angin malam membelai tubuh-tubuh yang sedang kesakitan itu, tampak bahwa Mahesa Jenar mulai bergerak-gerak. Dan sesaat kemudian ia sudah dapat membuka matanya, meskipun masih samar-samar. Apalagi di dalam kegelapan malam.
Yang pertama-tama dilihatnya adalah bintang-bintang yang bertaburan di langit, dan sesudah itu matanya tertumbuk pada tubuh tinggi tegap berdada lebar, duduk di atas padas di hadapannya, yang dengan tajam memandanginya seperti sebuah bayangan hantu hitam yang akan menerkamnya. Tetapi pada sat itu ia sama sekali tak dapat berbuat sesuatu. Seluruh tubuhnya terasa sakit dan nyeri. Sambungan-sambungan tulangnya terasa seperti lepas dan tak dapat dikuasainya. Karena itu kalau terjadi sesuatu ia sama sekali tak akan dapat membela diri.
Maka sekali lagi Mahesa Jenar memejamkan matanya untuk mengumpulkan ingatannya. Dan perlahan-lahan ketika tubuhnya terasa semakin segar karena angin malam yang lembut, ingatannya pun sedikit demi sedikit menjadi cerah kembali meskipun kepalanya masih saja pening dan seperti berputar-putar.
Apa yang baru saja dialami menjadi semakin jelas dalam kepalanya. Bagaimana ia mempergunakan ilmu kepercayaannya Sasra Birawa dan bagaimana orang yang dihantamnya itu merentangkan tangannya dan selanjutnya disilangkan di muka wajahnya.
Dan sekarang, orang yang dikenai ilmunya itu ternyata masih saja hidup dan duduk di dekatnya. Mengingat hal itu, Mahesa Jenar tiba-tiba merasa gembira sekali. Dan kegembiraannya itu telah sangat mempengaruhi keadaannya, sehingga tiba-tiba ia dapat duduk, meskipun dengan susah payah untuk menegakkan tubuhnya yang duduk lemah seperti tak bertulang. Meskipun demikian, wajah Mahesa jenar tampak cerah dan matanya menyorotkan cahaya segar.
fakhrie... dan 9 lainnya memberi reputasi
10
Kutip
Balas