- Beranda
- Stories from the Heart
Naga Sasra & Sabuk Inten
...
TS
nandeko
Naga Sasra & Sabuk Inten

NAGA SASRA & SABUK INTEN
Kisah ini merupakan karangan dari S.H Mintardja. Disini TS sudah mendapatkan ijin untuk sekedar membagikan dan mempermudahkan pembaca untuk menikmati kisah ini dalam bentuk digital
INDEX
Quote:
Spoiler for JILID 1:
Spoiler for JILID 2:
Spoiler for JILID 3:
Spoiler for JILID 4:
Spoiler for JILID 5:
Spoiler for JILID 6:
Part 114
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Spoiler for JILID 7:
Spoiler for JILID 8:
Spoiler for JILID 9:
Spoiler for JILID 10:
Pengarang dan Hakcipta©
Singgih Hadi Mintardja
Singgih Hadi Mintardja
Diubah oleh nandeko 21-10-2021 14:24
whadi05 dan 43 lainnya memberi reputasi
42
63.7K
Kutip
1.2K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
nandeko
#94
Jilid 4 [Part 70]
Spoiler for :
Wirasaba adalah seorang tinggi hati yang dalam perbendaharaan pengalamannya selalu dipenuhi dengan kejadian-kejadian dahsyat di masa mudanya, serta keunggulan kekuatan atas hampir terhadap semua lawan-lawannya. Sampai ia dipisahkan dari cara hidupnya itu oleh racun-racun yang melumpuhkan simpul-simpul saraf kakinya.
Tetapi meskipun dalam keadaan lumpuh, masih saja ia merasa keperkasaannya tidak berkurang. Sehingga suatu ketika sampailah saatnya kakinya dapat sembuh kembali. Dengan demikian ia semakin merasa dirinya akan dapat mengulangi peristiwa kemenangan demi kemenangan yang pernah dicapainya.
Apalagi pada saat itu ia menghadapi suatu peristiwa yang menurut pendapatnya adalah suatu hinaan bagi sifat kejantanannya. Kehadiran Mahesa Jenar yang telah membebaskan istrinya dari tangan Samparan, diterimanya dengan pengertian yang salah.
KETIKA seseorang yang bernama Sagotra datang kepada mertua Wirasaba dan mengabarkan bahwa Mahesa Jenar berada di daerah Pliridan, maka maksud Wirasaba untuk membuat perhitungan tak dapat dikekang lagi, meskipun kakinya baru saja sembuh dan belum pulih kembali seperti sediakala.
Tetapi tiba-tiba, ketika ia telah dapat bertemu dengan orang yang dicarinya itu, disaksikannya suatu peristiwa yang bermimpipun belum pernah diangankan. Hanya dengan telapak tangan saja, batu hitam sebesar itu dapat dihantam hancur.
Bagaimanakah jadinya kalau yang dikenai sisi telapak tangan itu kepalanya?
Menghadapi peristiwa itu, rontoklah sifat tinggi hatinya. Mendadak tanpa menjawab pertanyaan Mahesa Jenar, Wirasaba berdiri serta membungkuk hormat.
Wirasaba mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tampaklah bahwa ia sama sekali tidak puas dengan jawaban itu. Sebab orang yang dapat berbuat demikian pastilah orang yang sudah punya nama.
Karena itu ia memberanikan diri untuk mendesak,
Mahesa Jenar ragu-ragu sejenak. Adakah untungnya kalau disebutkannya gelar keprajuritannya? Tetapi kemudian ia berpikir, barangkali dengan demikian ia dapat mengurangi kepahitan yang baru saja dialami oleh Wirasaba.
Sebagai seorang yang tinggi hati, pastilah Wirasaba akan menderita batin untuk seterusnya kalau ia sampai dapat dikalahkan oleh orang yang tak bernama. Karena itu, jawabnya,
Mendengar nama itu, membersitlah warna merah di wajah Wirasaba, serta jantungnya berdegup keras. Pantaslah kalau yang dapat berbuat sedemikian dahsyatnya itu adalah orang yang bergelar Rangga Tohjaya. Karena itu kembali ia membungkuk hormat.
Sesudah berkata demikian segera Wirasaba mengambil bumbung dari kantong ikat pinggangnya dan diserahkannya kepada Mahesa Jenar.
Segera bumbung itu pun diterima oleh Mahesa Jenar, serta ketika dilihat isinya, betul bahwa yang di dalamnya adalah biji bisa ular yang telah dipinjamkan kepada Ki Asem Gede.
Mendengar kata-kata Mahesa Jenar ini, Wirasaba kembali terkejut. Ditambah pula dengan perasaan haru yang mendalam. Ternyata atas pertolongan Rangga Tohjaya ini pula kelumpuhan kakinya itu disembuhkan. Mengingat hal itu semua, semakin dalamlah penyesalan yang dirasakannya.
Sementara itu Mahesa Jenar telah mengajukan pula beberapa pertanyaan mengenai Ki Asem Gede. Kademangan Pucangan serta Prambanan, dan banyak hal mengenai orang-orang yang pernah dikenalnya. Karena itu sebentar kemudian pembicaraan telah dapat berlangsung lancar.
Dari pembicaraan itu diketahui, ternyata sepeninggal Mahesa Jenar, Ki Dalang Mantingan pun segera kembali ke Prambanan. Dan menurut Wirasaba yang mendengar dari Ki Asem Gede, bahwa orang yang bernama Mantingan itu telah kembali ke Wanakerta.
Setelah pembicaraan mereka berlangsung beberapa lama, berkisar dari yang satu ke yang lain, maka berkatalah Mahesa Jenar,
Wirasaba menjadi terdiam. Tugas apakah yang sedang dihadapi Mahesa Jenar? Tetapi karena Mahesa Jenar sendiri telah menyatakan keberatan atas tawarannya, maka ia pun tidak berani lagi mendesak.
SEJENAK kemudian Mahesa Jenar telah berdiri, sambil melangkah ia berkata,
Segera Wirasaba pun berdiri, serta berjalan mengikuti Mahesa Jenar, masuk ke dalam goa, untuk bersama-sama beristirahat, sebelum esok paginya mereka masing-masing akan menempuh perjalanan yang cukup berat.
Bagi Mahesa Jenar, adalah sebaik-baiknya segera meninggalkan tempat itu. Sebab apabila Wadas Gunung beserta kawan-kawannya sampai dapat mencapai sarangnya, sebelum ia meninggalkan tempat itu, mungkin untuk selama-lamanya ia tidak akan lagi dapat pergi. Karena tidaklah mustahil kalau Pasingsingan sendiri akan melakukan pembalasan.
Tetapi meskipun dalam keadaan lumpuh, masih saja ia merasa keperkasaannya tidak berkurang. Sehingga suatu ketika sampailah saatnya kakinya dapat sembuh kembali. Dengan demikian ia semakin merasa dirinya akan dapat mengulangi peristiwa kemenangan demi kemenangan yang pernah dicapainya.
Apalagi pada saat itu ia menghadapi suatu peristiwa yang menurut pendapatnya adalah suatu hinaan bagi sifat kejantanannya. Kehadiran Mahesa Jenar yang telah membebaskan istrinya dari tangan Samparan, diterimanya dengan pengertian yang salah.
KETIKA seseorang yang bernama Sagotra datang kepada mertua Wirasaba dan mengabarkan bahwa Mahesa Jenar berada di daerah Pliridan, maka maksud Wirasaba untuk membuat perhitungan tak dapat dikekang lagi, meskipun kakinya baru saja sembuh dan belum pulih kembali seperti sediakala.
Tetapi tiba-tiba, ketika ia telah dapat bertemu dengan orang yang dicarinya itu, disaksikannya suatu peristiwa yang bermimpipun belum pernah diangankan. Hanya dengan telapak tangan saja, batu hitam sebesar itu dapat dihantam hancur.
Bagaimanakah jadinya kalau yang dikenai sisi telapak tangan itu kepalanya?
Menghadapi peristiwa itu, rontoklah sifat tinggi hatinya. Mendadak tanpa menjawab pertanyaan Mahesa Jenar, Wirasaba berdiri serta membungkuk hormat.
Quote:
"Siapakah sebenarnya Tuan yang telah membingungkan perasaanku?"
Sambil tersenyum, Mahesa Jenar menunduk hormat pula. Lalu jawabnya,
"Sebagaimana kau ketahui, aku adalah Mahesa Jenar."
Sambil tersenyum, Mahesa Jenar menunduk hormat pula. Lalu jawabnya,
"Sebagaimana kau ketahui, aku adalah Mahesa Jenar."
Wirasaba mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tampaklah bahwa ia sama sekali tidak puas dengan jawaban itu. Sebab orang yang dapat berbuat demikian pastilah orang yang sudah punya nama.
Karena itu ia memberanikan diri untuk mendesak,
Quote:
"Tuan, tetapi barangkali Tuan mempunyai sebuah gelar lain yang dapat memperkenalkan diri Tuan…?"
Mahesa Jenar ragu-ragu sejenak. Adakah untungnya kalau disebutkannya gelar keprajuritannya? Tetapi kemudian ia berpikir, barangkali dengan demikian ia dapat mengurangi kepahitan yang baru saja dialami oleh Wirasaba.
Sebagai seorang yang tinggi hati, pastilah Wirasaba akan menderita batin untuk seterusnya kalau ia sampai dapat dikalahkan oleh orang yang tak bernama. Karena itu, jawabnya,
Quote:
"Wirasaba…, ketahuilah bahwa sebenarnya akulah yang bernama Rangga Tohjaya."
Mendengar nama itu, membersitlah warna merah di wajah Wirasaba, serta jantungnya berdegup keras. Pantaslah kalau yang dapat berbuat sedemikian dahsyatnya itu adalah orang yang bergelar Rangga Tohjaya. Karena itu kembali ia membungkuk hormat.
Quote:
"Tuan Rangga Tohjaya yang perwira, maafkanlah segala kelancanganku. Karena Tuan telah berbuat kemurahan hati untuk membebaskan istriku. Maka berdosalah aku, yang telah berani menuduhkan hal yang sama sekali tidak wajar kepada Tuan. Karena itu aku serahkan diriku kepada Tuan untuk menerima hukuman apapun yang Tuan kehendaki, kata Wirasaba dengan suara yang berat penuh penyesalan."
Kembali Mahesa Jenar tersenyum.
"Wirasaba… tidaklah ada hukuman yang pantas aku berikan kepadamu. Sebab wajarlah kalau seseorang dalam perjalanan hidupnya suatu kali mengalami keterlanjuran. Hanya pengalaman yang demikian itulah yang dapat menjadi peringatan. Bahwa untuk selanjutnya kita harus lebih hati-hati dalam tiap-tiap tindakan kita. Tetapi selain dari itu semua, tadi kau katakan bahwa kau mendapat suatu titipan dari seseorang. Apakah itu? kata Mahesa Jenar."
Wirasaba menjadi seperti tersadar. Lalu ia menjawab,
"Tuan, aku mendapat titipan dari mertuaku Ki Asem Gede. Sebuah bumbung kecil yang aku tidak tahu isinya."
Kembali Mahesa Jenar tersenyum.
"Wirasaba… tidaklah ada hukuman yang pantas aku berikan kepadamu. Sebab wajarlah kalau seseorang dalam perjalanan hidupnya suatu kali mengalami keterlanjuran. Hanya pengalaman yang demikian itulah yang dapat menjadi peringatan. Bahwa untuk selanjutnya kita harus lebih hati-hati dalam tiap-tiap tindakan kita. Tetapi selain dari itu semua, tadi kau katakan bahwa kau mendapat suatu titipan dari seseorang. Apakah itu? kata Mahesa Jenar."
Wirasaba menjadi seperti tersadar. Lalu ia menjawab,
"Tuan, aku mendapat titipan dari mertuaku Ki Asem Gede. Sebuah bumbung kecil yang aku tidak tahu isinya."
Sesudah berkata demikian segera Wirasaba mengambil bumbung dari kantong ikat pinggangnya dan diserahkannya kepada Mahesa Jenar.
Segera bumbung itu pun diterima oleh Mahesa Jenar, serta ketika dilihat isinya, betul bahwa yang di dalamnya adalah biji bisa ular yang telah dipinjamkan kepada Ki Asem Gede.
Quote:
"Wirasaba… kata Mahesa Jenar kemudian, tidakkah Ki Asem Gede mengatakan kepadamu, apakah kasiat benda yang kau bawa ini?"
"Tidak Tuan," jawab Wirasaba sambil menggelengkan kepalanya.
"Ketahuilah, benda ini adalah biji ular yang sangat keras, yang dapat dipergunakan sebagai obat pemusnah bisa atau racun yang lain. Bagi perjalanan hidup, benda ini sangat penting artinya, sebab dengan benda ini pula Ki Asem Gede telah berhasil menyembuhkan kelumpuhanmu," jelas Mahesa Jenar.
"Tidak Tuan," jawab Wirasaba sambil menggelengkan kepalanya.
"Ketahuilah, benda ini adalah biji ular yang sangat keras, yang dapat dipergunakan sebagai obat pemusnah bisa atau racun yang lain. Bagi perjalanan hidup, benda ini sangat penting artinya, sebab dengan benda ini pula Ki Asem Gede telah berhasil menyembuhkan kelumpuhanmu," jelas Mahesa Jenar.
Mendengar kata-kata Mahesa Jenar ini, Wirasaba kembali terkejut. Ditambah pula dengan perasaan haru yang mendalam. Ternyata atas pertolongan Rangga Tohjaya ini pula kelumpuhan kakinya itu disembuhkan. Mengingat hal itu semua, semakin dalamlah penyesalan yang dirasakannya.
Sementara itu Mahesa Jenar telah mengajukan pula beberapa pertanyaan mengenai Ki Asem Gede. Kademangan Pucangan serta Prambanan, dan banyak hal mengenai orang-orang yang pernah dikenalnya. Karena itu sebentar kemudian pembicaraan telah dapat berlangsung lancar.
Dari pembicaraan itu diketahui, ternyata sepeninggal Mahesa Jenar, Ki Dalang Mantingan pun segera kembali ke Prambanan. Dan menurut Wirasaba yang mendengar dari Ki Asem Gede, bahwa orang yang bernama Mantingan itu telah kembali ke Wanakerta.
Setelah pembicaraan mereka berlangsung beberapa lama, berkisar dari yang satu ke yang lain, maka berkatalah Mahesa Jenar,
Quote:
"Nah, Wirasaba, marilah kita anggap bahwa apa yang pernah terjadi itu merupakan suatu mimpi yang tak menyenangkan. Dan sekarang ternyata kita telah bangun dan melupakan mimpi itu. Karena itu kembalilah kepada istrimu seperti pada masa kau datang untuk mengambilnya dahulu."
"Baiklah Tuan…, aku akan kembali kepada keluargaku, serta mengatakan apa yang sudah aku lihat," jawab Wirasaba.
"Sekarang," sambung Mahesa Jenar,
"Marilah kita beristirahat. Besok kita akan melakukan tugas kita masing-masing. Kau akan kembali kepada keluargamu, sedang aku masih dinanti oleh suatu tugas berat."
Mendengar kata-kata Mahesa Jenar, Wirasaba termenung sejenak. Lalu katanya,
"Kalau Tuan masih harus melalukan tugas berat, dapatkah kiranya aku membantu?"
Mahesa Jenar menggelengkan kepalanya.
"Wirasaba…, bagaimanapun beratnya, tetapi aku tak dapat membagi pekerjaan itu dengan orang lain. Karena itu dengan menyesal aku tak dapat menerima tawaranmu."
"Baiklah Tuan…, aku akan kembali kepada keluargaku, serta mengatakan apa yang sudah aku lihat," jawab Wirasaba.
"Sekarang," sambung Mahesa Jenar,
"Marilah kita beristirahat. Besok kita akan melakukan tugas kita masing-masing. Kau akan kembali kepada keluargamu, sedang aku masih dinanti oleh suatu tugas berat."
Mendengar kata-kata Mahesa Jenar, Wirasaba termenung sejenak. Lalu katanya,
"Kalau Tuan masih harus melalukan tugas berat, dapatkah kiranya aku membantu?"
Mahesa Jenar menggelengkan kepalanya.
"Wirasaba…, bagaimanapun beratnya, tetapi aku tak dapat membagi pekerjaan itu dengan orang lain. Karena itu dengan menyesal aku tak dapat menerima tawaranmu."
Wirasaba menjadi terdiam. Tugas apakah yang sedang dihadapi Mahesa Jenar? Tetapi karena Mahesa Jenar sendiri telah menyatakan keberatan atas tawarannya, maka ia pun tidak berani lagi mendesak.
SEJENAK kemudian Mahesa Jenar telah berdiri, sambil melangkah ia berkata,
Quote:
”Selamat malam Wirasaba, beristirahatlah. Kalau kau mau, tidurlah di dalam goa bersama aku. Besok kita bisa menuai jagung. Dan sesudah itu kita berangkat dengan tujuan masing-masing.”
Segera Wirasaba pun berdiri, serta berjalan mengikuti Mahesa Jenar, masuk ke dalam goa, untuk bersama-sama beristirahat, sebelum esok paginya mereka masing-masing akan menempuh perjalanan yang cukup berat.
Bagi Mahesa Jenar, adalah sebaik-baiknya segera meninggalkan tempat itu. Sebab apabila Wadas Gunung beserta kawan-kawannya sampai dapat mencapai sarangnya, sebelum ia meninggalkan tempat itu, mungkin untuk selama-lamanya ia tidak akan lagi dapat pergi. Karena tidaklah mustahil kalau Pasingsingan sendiri akan melakukan pembalasan.
fakhrie... dan 10 lainnya memberi reputasi
11
Kutip
Balas