- Beranda
- Stories from the Heart
Naga Sasra & Sabuk Inten
...
TS
nandeko
Naga Sasra & Sabuk Inten

NAGA SASRA & SABUK INTEN
Kisah ini merupakan karangan dari S.H Mintardja. Disini TS sudah mendapatkan ijin untuk sekedar membagikan dan mempermudahkan pembaca untuk menikmati kisah ini dalam bentuk digital
INDEX
Quote:
Spoiler for JILID 1:
Spoiler for JILID 2:
Spoiler for JILID 3:
Spoiler for JILID 4:
Spoiler for JILID 5:
Spoiler for JILID 6:
Part 114
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Spoiler for JILID 7:
Spoiler for JILID 8:
Spoiler for JILID 9:
Spoiler for JILID 10:
Pengarang dan Hakcipta©
Singgih Hadi Mintardja
Singgih Hadi Mintardja
Diubah oleh nandeko 21-10-2021 14:24
whadi05 dan 43 lainnya memberi reputasi
42
62.2K
Kutip
1.2K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
nandeko
#85
Jilid 4 [Part 65]
Spoiler for :
Ketika pertempuran itu sedang berlangsung dengan dahsyatnya, dimana masing-masing pihak berusaha untuk mengalahkan lawannya. Maka di sebelah timur membayanglah warna fajar. Langit yang kelam menjadi kemerah-merahan, sedangkan bintang fajar memancar dengan cemerlangnya.
Melihat cahaya merah itu, hati Mahesa Jenar menjadi berdebar-debar. Apabila sebentar lagi langit menjadi terang, akan sulitlah kedudukannya. Apalagi sampai saat itu saja sudah terasa bahwa tenaganya sebagai manusia biasa adalah sangat terbatas. Melawan 6 orang cukup kuat, ditambah lagi yang lain-lain yang telah pula mulai bergerak mengeroyoknya, adalah suatu pekerjaan yang barangkali diluar kemampuan tenaganya yang biasa.
Tekanan yang kuat dari Wadas Gunung, serangan yang tiba-tiba dari Tembini yang telah bersenjatakan pisau belati panjang, gempuran-gempuran bola bertangkai Bagolan, sambaran-sambaran carang ori yang tidak kalah berbahayanya, serta tusukan-tusukan parang Seco Ireng yang dahsyat adalah bahaya-bahaya yang setiap saat dapat merenggut jiwanya.
Dalam keadaan gelap, mereka masih agak ragu-ragu mempergunakan senjata itu, sebab Mahesa Jenar selalu berusaha untuk membelit lawan-lawannya. Tetapi kalau matahari sudah terbit, akan berbedalah keadaannya. Mungkin ia tak akan mampu melawan sampai tengah hari saja. Karena itu mengingat keselamatan diri, tugas yang masih harus diselesaikan serta pertimbangan yang sebaik-baiknya, adalah membinasakan gerombolan hitam itu.
TERLINTAS dalam pikiran Mahesa Jenar untuk segera menyelesaikan pertempuran ini sebelum fajar. Adapun cara satu-satunya adalah dengan mempergunakan ilmunya Sasra Birawa, di sisi telapak tangan kanannya, digabungkan dengan kemahirannya mempergunakan segala macam senjata dengan tangan kirinya. Dan untunglah pada saat itu ia memegang sebuah tombak berkait. Dengan mempergunakan gabungan kedua macam kekuatan itu ia memperhitungkan bahwa ia akan dapat mengakhiri pertempuran sebelum cahaya matahari yang pertama.
Tetapi belum lagi ia melaksanakan maksudnya, tiba-tiba terjadilah suatu hal yang sangat mengejutkan dan tak terduga-duga.
Pada saat itu, pada saat pengikut Lawa Ijo siap untuk menyerang Mahesa Jenar bersama-sama, terjunlah seseorang ke kancah pertempuran. Meskipun Mahesa Jenar tidak berkesempatan untuk mengenal orang baru itu dengan seksama, tetapi sepintas ia melihat bahwa orang itu berperawakan sedang, serta bersenjatakan sebuah kapak sangat besar. Tampaknya ia tidak begitu lincah, tetapi mendengar desing ayunan kapaknya dapat diduga betapa besar tenaganya.
Dengan kekuatan yang luar biasa, ia memutar kapaknya, dan langsung menyerang pengikut-pengikut Wadas Gunung. Sejenak kemudian terjadilah dua lingkaran pertempuran yang amat dahsyat. Dengan hadirnya orang baru, yang masih belum sempat dikenalnya, Mahesa Jenar merasa bahwa pekerjaannya menjadi berkurang. Sebab mau tidak mau perhatian Wadas Gunung sebagai pemimpin rombongan menjadi terpecah, sehingga ia tidak lagi dengan sepenuhnya mengadakan tekanan kepada Mahesa Jenar. Apalagi ternyata luka di lambung Carang Lampit tidak dapat dianggap ringan. Di arah luka itu terasa makin lama semakin sakit. Karena itu gerakan-gerakannya menjadi semakin lemah dan hampir tak berarti. Demikian juga keadaan Cemara Aking.
Di dalam dua lingkaran pertempuran itu, Mahesa Jenar harus melawan tokoh-tokoh gerombolan Lawa Ijo yang sudah tidak begitu penuh lagi kekuatannya, sedang anggota-anggota gerombolan itu terpaksa tidak dapat turut serta mengeroyok Mahesa Jenar, sebab mereka harus melayani pendatang baru yang dengan garangnya menghantam mereka dengan kapaknya.
Mengalami perubahan keadaan ini, Mahesa Jenar pun merasa masih belum waktunya mempergunakan ilmunya Sasra Birawa. Sebab ia merasa bahwa bersama dengan orang baru itu ia akan dapat mematahkan kekuatan Wadas Gunung.
Perhitungan Mahesa Jenar memanglah tepat. Meskipun orang baru itu tidak begitu lincah, tetapi tiba-tiba sambaran kapaknya selalu diikuti dengan berdesingnya angin maut. Anggota-anggota gerombolan Lawa Ijo yang mencoba menangkis ayunan kapak itu, senjatanya terlepas dan terpatahkan.
Melihat keadaan itu Wadas Gunung menjadi marah sekali. Tetapi ia tidak dapat meninggalkan Mahesa Jenar yang bagaimanapun dirasakan lebih berbahaya, apalagi kepadanyalah ia menyimpan dendam. Karena itu dengan teriakan nyaring ia memerintahkan Bagolan untuk melawan orang berkapak itu.
Mendengar perintah Wadas Gunung segera Bagolan dengan loncatan panjang meninggalkan gelanggang dan segera terjun ke lingkaran pertempuran lain. Ternyata Bagolan pun mempunyai tenaga raksasa. Sehingga dalam pertempurannya melawan orang berkapak itu seringkali terjadi benturan-benturan yang dahsyat antara bola besi bertangkai dengan kapak raksasa itu.
Bagaimanapun perkasanya orang berkapak itu, ketika ia harus melawan keroyokan yang sedemikian banyaknya ditambah lagi dengan seorang tokoh seperti Bagolan, akhirnya tampak juga bahwa ia agak terdesak.
Sebaliknya Mahesa Jenar yang lawannya berkurang lagi seorang menjadi semakin leluasa bergerak. Tetapi dalam pada itu segera ia melihat kerepotan orang yang bersenjatakan kapak itu. Maka segera iapun menjadi cemas.
Meskipun ia sama sekali belum mengenalnya, tetapi pada saat ia melibatkan diri dalam pertempuran itu, adalah sangat menguntungkannya. Karena itu ia tidak dapat membiarkan saja ketika ia melihat orang berkapak itu terdesak.
Untuk mengimbangkan keadaan, Mahesa Jenar berpikir bahwa sebaiknya pertempuran tidak terbagi. Ia dan orang berkapak itu harus berada dalam satu lingkaran pertempuran menghadapi seluruh gerombolan. Dengan demikian ruang pertempuran menjadi bertambah sempit.
Mendapat pikiran yang demikian segera Mahesa Jenar memutar tombaknya, dan dengan gerakan kilat ia meloncat menembus kepungan lawan. Selanjutnya dengan cepat sekali ia meloncat kesamping orang yang bersenjata kapak itu, sambil berkata,
Orang berkapak itu tidak menjawab tetapi ia tahu maksud Mahesa Jenar, maka segera ia pun menempatkan diri beradu punggung dengan Mahesa Jenar.
Kembali hati Wadas Gunung terperanjat melihat kelincahan Mahesa Jenar. Mengertilah ia sekarang kenapa Pasingsingan memaksanya membawa 20 orang anak buahnya bersama-sama untuk menangkap satu orang saja. Ternyata buruannya memang bukan orang biasa. Tetapi Wadas Gunung adalah orang yang berpengalaman cukup, sehingga ketika ia melihat sikap Mahesa Jenar dan orang berkapak itu saling membelakang, tahulah ia maksudnya.
Untuk mencegah kesulitan-kesulitan selanjutnya, cepat-cepat ia memerintahkan untuk menghantam lawan sebelum mereka mencapai keseimbangan dalam bekerja bersama. Ia sendiri beserta tokoh-tokoh rombongan itu segera melancarkan serangan-serangan yang berbahaya. Tetapi karena perubahan keadaan yang demikian cepatnya itu, tidak semua anak buah Wadas Gunung dapat mengikuti jalan pikiran pimpinannya, sehingga dalam pelaksanaannya terjadilah kekacauan.
Karena lawan mereka berkumpul pada satu titik, maka ketika mereka akan menyerang bersama-sama, terjadilah desak-mendesak diantara mereka, sehingga mereka tidak leluasa mempergunakan senjata masing-masing. Dalam keadaan yang demikian, segera Mahesa Jenar mengambil keuntungan yang sebesar-besarnya.
Melihat cahaya merah itu, hati Mahesa Jenar menjadi berdebar-debar. Apabila sebentar lagi langit menjadi terang, akan sulitlah kedudukannya. Apalagi sampai saat itu saja sudah terasa bahwa tenaganya sebagai manusia biasa adalah sangat terbatas. Melawan 6 orang cukup kuat, ditambah lagi yang lain-lain yang telah pula mulai bergerak mengeroyoknya, adalah suatu pekerjaan yang barangkali diluar kemampuan tenaganya yang biasa.
Tekanan yang kuat dari Wadas Gunung, serangan yang tiba-tiba dari Tembini yang telah bersenjatakan pisau belati panjang, gempuran-gempuran bola bertangkai Bagolan, sambaran-sambaran carang ori yang tidak kalah berbahayanya, serta tusukan-tusukan parang Seco Ireng yang dahsyat adalah bahaya-bahaya yang setiap saat dapat merenggut jiwanya.
Dalam keadaan gelap, mereka masih agak ragu-ragu mempergunakan senjata itu, sebab Mahesa Jenar selalu berusaha untuk membelit lawan-lawannya. Tetapi kalau matahari sudah terbit, akan berbedalah keadaannya. Mungkin ia tak akan mampu melawan sampai tengah hari saja. Karena itu mengingat keselamatan diri, tugas yang masih harus diselesaikan serta pertimbangan yang sebaik-baiknya, adalah membinasakan gerombolan hitam itu.
TERLINTAS dalam pikiran Mahesa Jenar untuk segera menyelesaikan pertempuran ini sebelum fajar. Adapun cara satu-satunya adalah dengan mempergunakan ilmunya Sasra Birawa, di sisi telapak tangan kanannya, digabungkan dengan kemahirannya mempergunakan segala macam senjata dengan tangan kirinya. Dan untunglah pada saat itu ia memegang sebuah tombak berkait. Dengan mempergunakan gabungan kedua macam kekuatan itu ia memperhitungkan bahwa ia akan dapat mengakhiri pertempuran sebelum cahaya matahari yang pertama.
Tetapi belum lagi ia melaksanakan maksudnya, tiba-tiba terjadilah suatu hal yang sangat mengejutkan dan tak terduga-duga.
Pada saat itu, pada saat pengikut Lawa Ijo siap untuk menyerang Mahesa Jenar bersama-sama, terjunlah seseorang ke kancah pertempuran. Meskipun Mahesa Jenar tidak berkesempatan untuk mengenal orang baru itu dengan seksama, tetapi sepintas ia melihat bahwa orang itu berperawakan sedang, serta bersenjatakan sebuah kapak sangat besar. Tampaknya ia tidak begitu lincah, tetapi mendengar desing ayunan kapaknya dapat diduga betapa besar tenaganya.
Dengan kekuatan yang luar biasa, ia memutar kapaknya, dan langsung menyerang pengikut-pengikut Wadas Gunung. Sejenak kemudian terjadilah dua lingkaran pertempuran yang amat dahsyat. Dengan hadirnya orang baru, yang masih belum sempat dikenalnya, Mahesa Jenar merasa bahwa pekerjaannya menjadi berkurang. Sebab mau tidak mau perhatian Wadas Gunung sebagai pemimpin rombongan menjadi terpecah, sehingga ia tidak lagi dengan sepenuhnya mengadakan tekanan kepada Mahesa Jenar. Apalagi ternyata luka di lambung Carang Lampit tidak dapat dianggap ringan. Di arah luka itu terasa makin lama semakin sakit. Karena itu gerakan-gerakannya menjadi semakin lemah dan hampir tak berarti. Demikian juga keadaan Cemara Aking.
Di dalam dua lingkaran pertempuran itu, Mahesa Jenar harus melawan tokoh-tokoh gerombolan Lawa Ijo yang sudah tidak begitu penuh lagi kekuatannya, sedang anggota-anggota gerombolan itu terpaksa tidak dapat turut serta mengeroyok Mahesa Jenar, sebab mereka harus melayani pendatang baru yang dengan garangnya menghantam mereka dengan kapaknya.
Mengalami perubahan keadaan ini, Mahesa Jenar pun merasa masih belum waktunya mempergunakan ilmunya Sasra Birawa. Sebab ia merasa bahwa bersama dengan orang baru itu ia akan dapat mematahkan kekuatan Wadas Gunung.
Perhitungan Mahesa Jenar memanglah tepat. Meskipun orang baru itu tidak begitu lincah, tetapi tiba-tiba sambaran kapaknya selalu diikuti dengan berdesingnya angin maut. Anggota-anggota gerombolan Lawa Ijo yang mencoba menangkis ayunan kapak itu, senjatanya terlepas dan terpatahkan.
Melihat keadaan itu Wadas Gunung menjadi marah sekali. Tetapi ia tidak dapat meninggalkan Mahesa Jenar yang bagaimanapun dirasakan lebih berbahaya, apalagi kepadanyalah ia menyimpan dendam. Karena itu dengan teriakan nyaring ia memerintahkan Bagolan untuk melawan orang berkapak itu.
Mendengar perintah Wadas Gunung segera Bagolan dengan loncatan panjang meninggalkan gelanggang dan segera terjun ke lingkaran pertempuran lain. Ternyata Bagolan pun mempunyai tenaga raksasa. Sehingga dalam pertempurannya melawan orang berkapak itu seringkali terjadi benturan-benturan yang dahsyat antara bola besi bertangkai dengan kapak raksasa itu.
Bagaimanapun perkasanya orang berkapak itu, ketika ia harus melawan keroyokan yang sedemikian banyaknya ditambah lagi dengan seorang tokoh seperti Bagolan, akhirnya tampak juga bahwa ia agak terdesak.
Sebaliknya Mahesa Jenar yang lawannya berkurang lagi seorang menjadi semakin leluasa bergerak. Tetapi dalam pada itu segera ia melihat kerepotan orang yang bersenjatakan kapak itu. Maka segera iapun menjadi cemas.
Meskipun ia sama sekali belum mengenalnya, tetapi pada saat ia melibatkan diri dalam pertempuran itu, adalah sangat menguntungkannya. Karena itu ia tidak dapat membiarkan saja ketika ia melihat orang berkapak itu terdesak.
Untuk mengimbangkan keadaan, Mahesa Jenar berpikir bahwa sebaiknya pertempuran tidak terbagi. Ia dan orang berkapak itu harus berada dalam satu lingkaran pertempuran menghadapi seluruh gerombolan. Dengan demikian ruang pertempuran menjadi bertambah sempit.
Mendapat pikiran yang demikian segera Mahesa Jenar memutar tombaknya, dan dengan gerakan kilat ia meloncat menembus kepungan lawan. Selanjutnya dengan cepat sekali ia meloncat kesamping orang yang bersenjata kapak itu, sambil berkata,
Quote:
“Ki Sanak, baiklah kita bekerja bersama. Kau hadapi separo lingkaran, aku separo. Disamping itu kita pergunakan setiap kesempatan untuk menghantam lawan.”
Orang berkapak itu tidak menjawab tetapi ia tahu maksud Mahesa Jenar, maka segera ia pun menempatkan diri beradu punggung dengan Mahesa Jenar.
Kembali hati Wadas Gunung terperanjat melihat kelincahan Mahesa Jenar. Mengertilah ia sekarang kenapa Pasingsingan memaksanya membawa 20 orang anak buahnya bersama-sama untuk menangkap satu orang saja. Ternyata buruannya memang bukan orang biasa. Tetapi Wadas Gunung adalah orang yang berpengalaman cukup, sehingga ketika ia melihat sikap Mahesa Jenar dan orang berkapak itu saling membelakang, tahulah ia maksudnya.
Untuk mencegah kesulitan-kesulitan selanjutnya, cepat-cepat ia memerintahkan untuk menghantam lawan sebelum mereka mencapai keseimbangan dalam bekerja bersama. Ia sendiri beserta tokoh-tokoh rombongan itu segera melancarkan serangan-serangan yang berbahaya. Tetapi karena perubahan keadaan yang demikian cepatnya itu, tidak semua anak buah Wadas Gunung dapat mengikuti jalan pikiran pimpinannya, sehingga dalam pelaksanaannya terjadilah kekacauan.
Karena lawan mereka berkumpul pada satu titik, maka ketika mereka akan menyerang bersama-sama, terjadilah desak-mendesak diantara mereka, sehingga mereka tidak leluasa mempergunakan senjata masing-masing. Dalam keadaan yang demikian, segera Mahesa Jenar mengambil keuntungan yang sebesar-besarnya.
fakhrie... dan 9 lainnya memberi reputasi
10
Kutip
Balas