- Beranda
- Stories from the Heart
Naga Sasra & Sabuk Inten
...
TS
nandeko
Naga Sasra & Sabuk Inten

NAGA SASRA & SABUK INTEN
Kisah ini merupakan karangan dari S.H Mintardja. Disini TS sudah mendapatkan ijin untuk sekedar membagikan dan mempermudahkan pembaca untuk menikmati kisah ini dalam bentuk digital
INDEX
Quote:
Spoiler for JILID 1:
Spoiler for JILID 2:
Spoiler for JILID 3:
Spoiler for JILID 4:
Spoiler for JILID 5:
Spoiler for JILID 6:
Part 114
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Spoiler for JILID 7:
Spoiler for JILID 8:
Spoiler for JILID 9:
Spoiler for JILID 10:
Pengarang dan Hakcipta©
Singgih Hadi Mintardja
Singgih Hadi Mintardja
Diubah oleh nandeko 21-10-2021 14:24
whadi05 dan 43 lainnya memberi reputasi
42
62.5K
Kutip
1.2K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
nandeko
#80
Jilid 3 [Part 62]
Spoiler for :
Quote:
“Tuan… orang itu tidak ada di dalam rumahnya. Sudah aku aduk sampai ke sudut-sudutnya tetapi aku tak bisa menemukannya. Memang kalau orang itu sedang kambuh gilanya, rumah ini sering ditinggalkan begitu saja sampai berhari-hari. Mungkin kini tiba-tiba sakitnya itu datang lagi, kata Sagotra kepada Mahesa Jenar.”
“SUDAHLAH Sagotra,” jawab Mahesa Jenar
“janganlah kau pikirkan orang tua itu. Biarlah ia mendapatkan kepuasan dengan caranya sendiri. Sekarang baiklah kita bicarakan masalah kita sendiri, masalahmu dan masalahku.”
“SUDAHLAH Sagotra,” jawab Mahesa Jenar
“janganlah kau pikirkan orang tua itu. Biarlah ia mendapatkan kepuasan dengan caranya sendiri. Sekarang baiklah kita bicarakan masalah kita sendiri, masalahmu dan masalahku.”
Tiba-tiba tersadarlah Sagotra terhadap keadaannya, sehingga membelitlah kembali kegelisahan hatinya.
Quote:
“Sagotra,” kata Mahesa Jenar melanjutkan,
“apakah kau akan kembali kepada kawan-kawanmu ?. Kalau demikian pertimbanganmu, sekarang aku kira belum begitu terlambat. Tentang diriku terserah kepadamu. Apakah akan kau laporkan kepada kawan-kawanmu apakah tidak.”
“apakah kau akan kembali kepada kawan-kawanmu ?. Kalau demikian pertimbanganmu, sekarang aku kira belum begitu terlambat. Tentang diriku terserah kepadamu. Apakah akan kau laporkan kepada kawan-kawanmu apakah tidak.”
Tampaklah Sagotra diam-diam menimbang-nimbang dipikirkannya setiap segi yang mungkin menguntungkan dan yang mungkin mencelakakan. Bagaimanakah akibatnya kalau ia kembali kedalam gerombolannya. sedangkan kalau tidak lalu kemanakah ia akan pergi ?. Setelah Sagotra berkenalan dengan seorang seperti Mahesa Jenar, terasalah betapa miskinnya hidup dalam sarang gerombolan. Meskipun ia tidak pernah merasakan kekurangan akan sandang dan pangan, tetapi ternyata bukanlah itu-itu melulu yang diperlukan bagi pemenuhan kebutuhan hidup. Karena itu, timbulah keinginannya untuk dapat menemukan suatu kehidupan baru.
Quote:
“Tuan,” katanya kemudian,
“sebenarnya aku tidak lagi mempunyai keinginan untuk kembali kepada gerombolanku. Tetapi karena selama ini aku hanya mengenal penghidupan yang sedemikian, aku menjadi bingung, bagaiman aku harus memulai penghidupan baru. Atau barangkali kalau tuan menghendaki, aku dapat ikut serta dengan tuan kemana tuan pergi.”
“sebenarnya aku tidak lagi mempunyai keinginan untuk kembali kepada gerombolanku. Tetapi karena selama ini aku hanya mengenal penghidupan yang sedemikian, aku menjadi bingung, bagaiman aku harus memulai penghidupan baru. Atau barangkali kalau tuan menghendaki, aku dapat ikut serta dengan tuan kemana tuan pergi.”
Mendengar permintaan Sagotra, Mahesa Jenar menjadi agak kebingungan. Sudah wajarlah kalau Sagotra merasa canggung untuk memulai suatu macam penghidupan yang lain daripada selama ini dilakukannya. Tetapi iapun tidak akan dapat menerima Sagotra selalu bersamanya. Sebab banyaklah hal-hal yang tidak boleh dimengerti oleh orang lain, yang harus dikerjakan.
Tiba-tiba Mahesa Jenar mendapat suatu pikiran yang dapat menolong menemukan jalan keluar. Katanya
Quote:
“Sagotra, kau tidak dapat terus menerus bersamaku. Sebab akupun tidaklah tahu pasti akan masa depanku. Tetapi aku mau menunjukkan kau suatu jalan keluar yang barangkali dapat kau tempuh, apabila benar-benar kau menghendaki jalan keluar dari penghidupanmu yang hitam sekarang ini. Dan sekaligus kau dapat menolong aku pula, maukah kau ?”
Sagotra memandang Mahesa Jenar dengan mata yang hampir tak dapat berkedip. Permintaan Mahesa Jenar untuk menolongnya adalah suatu penghormatan baginya. Karena itu dijawabnya kemudian
Quote:
“Tuan, apa yang tuan perintahkan pasti akanaku lakukan dengan sepenuh kemampuan yang ada padaku. Nah katakankah tuan.”
“Sagotra,” kata Mahesa Jenar selanjutnya
“tolonglah aku menyampaikan kabar kepada sahabatku. Pergilah kau menyeberang hutan Tambak Baya. Terserahlah jalan mana yang akan kau ambil. Tetapi arahnya adalah arah diamana kau temukan aku tadi, sedikit agak ke utara. Kau akan sampai disebuah desa diseberang hutan Tambak Baya yang bernama Cupu Watu. Dari sana kau langsung menuju kearah timur. Lewat sebuah candi yang terkenal dengan nama Candi Tara, bekas tempat pemujaan dewi Tara. Dari sana kau langsung menuju Prambanan. Temuilah Demang yang bernama Panaggalan. Sampaikan salam keselamatanku kepadanya. Dan katakanlah aku mengharap kedatangan adiknya Ki Dalang Mantingan di daerah Rawa Pening, dua hari sebelum purnama penuh, pada bulan terakhir tahun ini.”
“Katakanlah bahwa Ki Dalang Mantingan sudah tahu kepentingannya. Selanjutnya atas tanggunganku mintalah perlindungan kepadanya untuk dapat hidup dalam lingkungan keluarga Kadenmangan itu. Asal kau mau mencurahkan segala ketulusan serta keihlasan hati, pastilah kau akan diterima dengan baik.”
“Sagotra,” kata Mahesa Jenar selanjutnya
“tolonglah aku menyampaikan kabar kepada sahabatku. Pergilah kau menyeberang hutan Tambak Baya. Terserahlah jalan mana yang akan kau ambil. Tetapi arahnya adalah arah diamana kau temukan aku tadi, sedikit agak ke utara. Kau akan sampai disebuah desa diseberang hutan Tambak Baya yang bernama Cupu Watu. Dari sana kau langsung menuju kearah timur. Lewat sebuah candi yang terkenal dengan nama Candi Tara, bekas tempat pemujaan dewi Tara. Dari sana kau langsung menuju Prambanan. Temuilah Demang yang bernama Panaggalan. Sampaikan salam keselamatanku kepadanya. Dan katakanlah aku mengharap kedatangan adiknya Ki Dalang Mantingan di daerah Rawa Pening, dua hari sebelum purnama penuh, pada bulan terakhir tahun ini.”
“Katakanlah bahwa Ki Dalang Mantingan sudah tahu kepentingannya. Selanjutnya atas tanggunganku mintalah perlindungan kepadanya untuk dapat hidup dalam lingkungan keluarga Kadenmangan itu. Asal kau mau mencurahkan segala ketulusan serta keihlasan hati, pastilah kau akan diterima dengan baik.”
Sagotra agak berbimbang sebentar mendengar kata-kata Mahesa Jenar. Memang ia selalu ragu-ragu untuk dapat mempercayai dirinya sendiri. tetapi ia tidak mau mengecewakan Mahesa Jenar. Karena itu ia berjanji dalam hatinya, bahwa ia akan memenuhi permintaan itu sedapat-dapatnya.
Maka setelah segala petunjuk-petunjuk yang diperlukan telah diberikan oleh Mahesa Jenar, segera Sagotrapun bersiap untuk menempuh suatu perjalanan yang cukup berbahaya bagi dirinya. Tetapi sebenarnya Sagotra bukanlah seorang penakut. Dan ia termasuk tokoh yang ke 6 sesudah Wadas Gunung, Carang Lampit dan sebagainya diantara ke-20 orang yang sedang mencegat Mahesa Jenar. Karena itu setelah berketetapan hati untuk menempuh perjalanan itu, maka iapun tak pula mengenal gentar.
Karena perjalanan didaerah hutan itu akan berlangsung beberapa hari, meskipun dengan agak malu-malu sedikit diperlukannya juga mengambil beberapa ontong jagung sebagai bekal perjalanannya.
Dan berangkatlah Sagotra pada malam itu juga supaya tidak terlambat. Sebab apabila ditunggu sampai besok pastilah beberapa lawannya sudah mencarinya.
Sepeninggal Sagotra, Mahesa Jenar segera merasa betapa sepinya tinggal seorang diri ditengah padang, dibawah sebuah bukit kapur. Tetapi bagaimana juga ia ingin memenuhi permintaan Ki Ageng Pandan Alas untuk tinggal kira-kira seminggu di tempat itu.
Bersambung…
fakhrie... dan 12 lainnya memberi reputasi
13
Kutip
Balas