- Beranda
- Stories from the Heart
Naga Sasra & Sabuk Inten
...
TS
nandeko
Naga Sasra & Sabuk Inten

NAGA SASRA & SABUK INTEN
Kisah ini merupakan karangan dari S.H Mintardja. Disini TS sudah mendapatkan ijin untuk sekedar membagikan dan mempermudahkan pembaca untuk menikmati kisah ini dalam bentuk digital
INDEX
Quote:
Spoiler for JILID 1:
Spoiler for JILID 2:
Spoiler for JILID 3:
Spoiler for JILID 4:
Spoiler for JILID 5:
Spoiler for JILID 6:
Part 114
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Spoiler for JILID 7:
Spoiler for JILID 8:
Spoiler for JILID 9:
Spoiler for JILID 10:
Pengarang dan Hakcipta©
Singgih Hadi Mintardja
Singgih Hadi Mintardja
Diubah oleh nandeko 21-10-2021 14:24
whadi05 dan 43 lainnya memberi reputasi
42
62.2K
Kutip
1.2K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
nandeko
#74
Jilid 3 [Part 56]
Spoiler for :
Hilangnya Rara Wilis dirasakannya sebagai suatu peristiwa yang langsung menusuk perasaannya yang paling dalam. Dalam ketidaksadarannya tiba-tiba Mahesa Jenar berlari kesana kemari sambil memanggil-manggil nama Rara Wilis.
Melihat sikap Mahesa Jenar yang demikian itu, Sagotra menjadi heran bercampur cemas, sehingga terpaksa ia pun turut berlari-lari kian kemari. Tetapi sebagai orang yang lebih tua, tahulah Sagotra bahwa Mahesa Jenar tidak hanya merasa bertanggung jawab atas hilangnya Rara Wilis, tetapi pastilah ada suatu perasaan yang jauh lebih dalam daripada itu. Dan memang demikianlah kiranya.
Mahesa Jenar mencoba mendesak perasaan-perasaan yang menyentuh-nyentuh hatinya terhadap Rara Wilis, tetapi ternyata perasaan itu telah menyangkut di hatinya sedemikian eratnya.
Hilangnya Rara Wilis dirasakannya sebagai hilangnya sebagian dari jiwanya sendiri.
Sampai beberapa saat masih saja Mahesa Jenar memanggil-manggil Rara Wilis. Tetapi tidak ada suara yang menyambutnya. Sehingga ketika Mahesa Jenar sudah pasti, bahwa Rara Wilis telah lenyap, menggelegaklah darahnya. Tubuhnya bergetar, serta giginya gemeretak. Tiba-tiba saja ia ingin menghancurkan apa saja yang ada di sekitarnya untuk menyalurkan amarahnya.
Dalam keadaan yang demikian, dengan penuh kemarahan Mahesa Jenar menyalurkan segala kekuatannya ke sisi telapak tangannya, disilangkannya tangan kirinya di muka dada, serta diangkatnya tangan kanannya tinggi-tinggi. Dengan sekali loncat ia telah berdiri disamping sebuah batu seperut kerbau. Maka dengan menggeram hebat sekali, dihantamnya batu itu sampai pecah berserakan.
Sagotra adalah seorang penjahat yang telah banyak makan garam. Telah banyak sekali ia menyaksikan betapa hebatnya Lawa Ijo. Tetapi ketika ia menyaksikan apa yang telah dilakukan oleh Mahesa Jenar, tubuhnya menjadi gemetar. Pada saat ia menyaksikan Lawa Ijo terluka parah, sama sekali ia tidak percaya, bahwa luka itu disebabkan oleh karena pukulan tangan saja. Ia menyangka, bahwa orang yang telah melukainya pasti mempergunakan senjata rahasia atau sebangsanya.
Tetapi sekarang, ketika ia berkesempatan untuk menyaksikan sendiri, akibat dari pukulan orang yang telah melukai Lawa Ijo itu, bulu tengkuknya serentak berdiri. Kalau misalnya saja, pukulan itu dikenakan kepalanya, pastilah akan hancur berserakan pula lebih dari batu itu.
Diam-diam Sagotra mengucap syukur dalam hatinya, bahwa Mahesa Jenar tidak masuk dalam jebakan mereka. Sebab kalau sampai hal itu terjadi, maka akibatnya pasti hebat sekali.
Meskipun gerombolannya berjumlah 20 orang, serta diantaranya ada orang-orang seperti Wadas Gunung, Carang Lampit yang mempunyai kepandaian hampir setingkat Wadas Gunung, Bagolan yang terkenal mempunyai aji welut putih, serta beberapa orang lagi, tetapi sulitlah kiranya untuk dapat menangkap Mahesa Jenar. Andaikata itu bisa terjadi, pastilah lebih dari separo diantaranya sudah tak lagi sempat menyaksikan datangnya fajar.
Tetapi belum lagi Sagotra habis berangan-angan, tiba-tiba matanya terbelalak lebar, tubuhnya semakin gemetar lagi, serta peluh dingin mengalir membasahi seluruh badannya. Pada saat itu, Mahesa Jenar yang tidak puas dengan pelepasan amarahnya, mendadak meloncati Sagotra dan langsung memegang leher orang itu, sambil menggeram,
Belum lagi Mahesa Jenar berbuat sesuatu, nafas Sagotra telah terasa sesak. Ingin ia menjawab, tetapi tak sepatah katapun keluar dari mulutnya, karena ketakutannya yang amat sangat. Ia tahu betul, bahwa dalam keadaan yang demikian dapat saja Mahesa Jenar bertindak diluar kesadarannya.
Wajah Mahesa Jenar yang lunak, kini telah berubah menjadi merah membara dibakar oleh kemarahannya. Kedua tangannya yang memegang leher Sagotra semakin lama semakin menekan.
Kini nafas Sagotra benar-benar menjadi sesak. Tangan Mahesa Jenar itu terasa demikian erat mencekik lehernya, sampai akhirnya ia merasa, bahwa akhir hidupnya telah tiba, justru karena hal yang sama sekali tak diketahuinya. Tetapi ketika telah terasa, bahwa harapan untuk hidup sudah tidak ada lagi, hatinya malahan menjadi tenang.
Ternyata kata-kata yang diucapkan dalam keadaan yang putus asa itu, dapat menyentuh kesadaran Mahesa Jenar. Apalagi ketika Mahesa Jenar sejenak memandang wajah Sagotra yang kasar, jelek dan kotor, tetapi yang dari matanya memancar keputus-asaan dan kekosongan. Bahkan lama-kelamaan berubah menjadi seperti mata kanak-kanak yang belum pernah dijamah dosa.
Demikianlah, maka sedikit demi sedikit Mahesa Jenar dijalari kembali oleh sifat-sifatnya, serta sedikit demi sedikit pikirannya dapat bekerja kembali. Sejalan dengan itu pegangan tangannya pun menjadi semakin kendor dan kendor, sehingga akhirnya dilepaskanlah leher Sagotra itu sama sekali.
Mendengar kata-kata itu kembali hati Sagotra melonjak hebat sekali. Hampir saja air matanya tidak lagi dapat ditahannya.
Mahesa Jenar menundukkan kepala. Tetapi ia dapat mempercayai kata-kata Sagotra. Sebab andaikata hal itu dilakukan oleh kawan-kawan Sagotra, bahkan Jaka Soka sekalipun, ia pasti akan dapat menangkap suara ataupun gerak dari orang itu, sebab untuk mengalahkan Sagotra ia sama sekali tidak perlu memusatkan segala perhatiannya. Apalagi jarak mereka dengan Rara Wilis berbaring tidaklah demikian jauhnya. Karena itu ia menduga, bahwa hal ini dilakukan oleh seseorang yang memiliki kehebatan luar biasa pula.
Tiba-tiba bulu tengkuknya meremang, ketika ia mengingat betapa cepatnya Pasingsingan bertindak. Perlahan-lahan ia berjalan menuju ke tikar yang masih terbentang itu. Tiba-tiba Mahesa Jenar melihat bungkusan Rara Wilis masih juga ada di situ. Ia jadi teringat, bahwa dalam bungkusan itu terdapat sebilah keris pusaka Ki Ageng Pandan Alas, yaitu Kiai Sigar Penjalin.
Tetapi alangkah terkejut serta kecewanya ketika ternyata keris itu telah lenyap pula. Akhirnya seperti orang yang dicopoti segala tulangnya. Ia duduk lemas diatas tikar Rara Wilis.
Sagotra yang masih saja mengikutinya kemana ia pergi, duduk pula di atas tikar di belakang Mahesa Jenar. Tetapi sama sekali ia tidak berani menegurnya.
Angin malam masih saja berhembus silir, yang bagi Mahesa Jenar terdengar sebagai sebuah lagu sedih yang mengiringi ratapan hatinya. Tiba-tiba saja ia merasa, bahwa tanpa disengaja ia telah menguntai butiran-butiran mutiara harapan yang kini telah terenggut dan berderai berserakan.
Alangkah dalam luka yang dideritanya. Dua masalah yang sekaligus menghancurkan perasaannya. Sebagai seorang laki-laki langsung ia telah dihinakan. Sebuah pertanggungjawaban yang digenggamnya telah dirampas oleh orang tanpa dapat berbuat apa-apa, dan sekaligus yang hilang itu adalah sebagian dari jiwanya pula.
Dalam keadaan yang demikian tiba-tiba seperti orang bermimpi Mahesa Jenar mendengar alunan lagu Dandanggula sayup-sayup sampai. Mendengar lagu itu, geragapan Mahesa Jenar berdiri. Meskipun lagu itu tidak begitu jelas, tetapi segera Mahesa Jenar mengenal, bahwa Dandanggula itu telah dibawakan oleh seorang yang oleh Pasingsingan beberapa hari yang lalu disebut Pandan Alas.
Seperti juga beberapa hari yang lalu, suara itupun bergulung-gulung berkumandang memenuhi segala penjuru. Sehingga sulitlah bagi Mahesa Jenar untuk mengetahui dengan pasti arah suara itu.
Mahesa Jenar segera berdiri tegak, kepalanya sedikit diangkat ke atas dengan memusatkan pancainderanya untuk menangkap getaran Dandanggula yang lamat-lamat sampai ke telinganya. Pada saat itu, perasaan Mahesa Jenar sedang bergolak hebat, karena hilangnya Rara Wilis.
Karena itu, seakan-akan Mahesa Jenar mendapat suatu tenaga rohaniah tambahan yang cukup besar, sehingga kemampuan Mahesa Jenar pun seakan-akan bertambah. Dengan demikian, setelah beberapa saat Mahesa Jenar berdiam diri, hampir seperti orang bersamadi, perlahan-lahan ia dapat menangkap arah suara yang sayup-sayup sampai ke telinganya itu.
Maka ketika ia telah mendapat suatu kepastian dari mana arah suara itu, cepat seperti kilat ia meloncat dan kemudian menyusup gerumbul menuju arah barat.
Sagotra bertambah heran menyaksikan kelakuan Mahesa Jenar, disamping keheranannya mendengar suara lagu Dandanggula itu. Karena itu ia pun segera berlari mengikuti Mahesa Jenar, sehingga mereka berdua seolah-olah sedang bermain kejar-kejaran.
Sebentar kemudian Mahesa Jenar telah keluar dari gerumbul kecil itu, serta dengan cekatan sekali ia melompat keatas gundukan tanah yang agak tinggi untuk dapat menangkap setiap gerak di padang rumput yang terbuka itu. Sebab mustahil kalau sampai ada orang di padang terbuka yang sedemikian itu sampai terlepas dari pengawasannya yang seakan-akan mempunyai kelebihan dibanding mata orang biasa.
Tetapi sampai beberapa saat, sama sekali ia tidak melihat suatu apapun. Sedang suara Dandanggula itupun telah berhenti.
Melihat sikap Mahesa Jenar yang demikian itu, Sagotra menjadi heran bercampur cemas, sehingga terpaksa ia pun turut berlari-lari kian kemari. Tetapi sebagai orang yang lebih tua, tahulah Sagotra bahwa Mahesa Jenar tidak hanya merasa bertanggung jawab atas hilangnya Rara Wilis, tetapi pastilah ada suatu perasaan yang jauh lebih dalam daripada itu. Dan memang demikianlah kiranya.
Mahesa Jenar mencoba mendesak perasaan-perasaan yang menyentuh-nyentuh hatinya terhadap Rara Wilis, tetapi ternyata perasaan itu telah menyangkut di hatinya sedemikian eratnya.
Hilangnya Rara Wilis dirasakannya sebagai hilangnya sebagian dari jiwanya sendiri.
Sampai beberapa saat masih saja Mahesa Jenar memanggil-manggil Rara Wilis. Tetapi tidak ada suara yang menyambutnya. Sehingga ketika Mahesa Jenar sudah pasti, bahwa Rara Wilis telah lenyap, menggelegaklah darahnya. Tubuhnya bergetar, serta giginya gemeretak. Tiba-tiba saja ia ingin menghancurkan apa saja yang ada di sekitarnya untuk menyalurkan amarahnya.
Dalam keadaan yang demikian, dengan penuh kemarahan Mahesa Jenar menyalurkan segala kekuatannya ke sisi telapak tangannya, disilangkannya tangan kirinya di muka dada, serta diangkatnya tangan kanannya tinggi-tinggi. Dengan sekali loncat ia telah berdiri disamping sebuah batu seperut kerbau. Maka dengan menggeram hebat sekali, dihantamnya batu itu sampai pecah berserakan.
Sagotra adalah seorang penjahat yang telah banyak makan garam. Telah banyak sekali ia menyaksikan betapa hebatnya Lawa Ijo. Tetapi ketika ia menyaksikan apa yang telah dilakukan oleh Mahesa Jenar, tubuhnya menjadi gemetar. Pada saat ia menyaksikan Lawa Ijo terluka parah, sama sekali ia tidak percaya, bahwa luka itu disebabkan oleh karena pukulan tangan saja. Ia menyangka, bahwa orang yang telah melukainya pasti mempergunakan senjata rahasia atau sebangsanya.
Tetapi sekarang, ketika ia berkesempatan untuk menyaksikan sendiri, akibat dari pukulan orang yang telah melukai Lawa Ijo itu, bulu tengkuknya serentak berdiri. Kalau misalnya saja, pukulan itu dikenakan kepalanya, pastilah akan hancur berserakan pula lebih dari batu itu.
Diam-diam Sagotra mengucap syukur dalam hatinya, bahwa Mahesa Jenar tidak masuk dalam jebakan mereka. Sebab kalau sampai hal itu terjadi, maka akibatnya pasti hebat sekali.
Meskipun gerombolannya berjumlah 20 orang, serta diantaranya ada orang-orang seperti Wadas Gunung, Carang Lampit yang mempunyai kepandaian hampir setingkat Wadas Gunung, Bagolan yang terkenal mempunyai aji welut putih, serta beberapa orang lagi, tetapi sulitlah kiranya untuk dapat menangkap Mahesa Jenar. Andaikata itu bisa terjadi, pastilah lebih dari separo diantaranya sudah tak lagi sempat menyaksikan datangnya fajar.
Tetapi belum lagi Sagotra habis berangan-angan, tiba-tiba matanya terbelalak lebar, tubuhnya semakin gemetar lagi, serta peluh dingin mengalir membasahi seluruh badannya. Pada saat itu, Mahesa Jenar yang tidak puas dengan pelepasan amarahnya, mendadak meloncati Sagotra dan langsung memegang leher orang itu, sambil menggeram,
Quote:
“Setan, rupanya kau telah memancing aku untuk menjauhi Wilis.”
Belum lagi Mahesa Jenar berbuat sesuatu, nafas Sagotra telah terasa sesak. Ingin ia menjawab, tetapi tak sepatah katapun keluar dari mulutnya, karena ketakutannya yang amat sangat. Ia tahu betul, bahwa dalam keadaan yang demikian dapat saja Mahesa Jenar bertindak diluar kesadarannya.
Wajah Mahesa Jenar yang lunak, kini telah berubah menjadi merah membara dibakar oleh kemarahannya. Kedua tangannya yang memegang leher Sagotra semakin lama semakin menekan.
Kini nafas Sagotra benar-benar menjadi sesak. Tangan Mahesa Jenar itu terasa demikian erat mencekik lehernya, sampai akhirnya ia merasa, bahwa akhir hidupnya telah tiba, justru karena hal yang sama sekali tak diketahuinya. Tetapi ketika telah terasa, bahwa harapan untuk hidup sudah tidak ada lagi, hatinya malahan menjadi tenang.
Quote:
“Tuan, aku tidak akan menghindarkan diri dari hukuman yang akan Tuan jatuhkan atas diriku. Sebab hal yang demikian adalah wajar sekali. Tetapi yang aku sangat sedih adalah justru kematianku disebabkan oleh suatu hal yang sama sekali tak kumengerti. Sebab aku sama sekali tak sengaja menjauhkan Tuan dari gadis itu. Maka, kalau Tuan benar-benar akan membunuhku, bunuhlah aku sebagai salah seorang anggota gerombolan Lawa Ijo yang ingin mencelakakan Tuan, ” kata Sagotra suara susah payah.
Ternyata kata-kata yang diucapkan dalam keadaan yang putus asa itu, dapat menyentuh kesadaran Mahesa Jenar. Apalagi ketika Mahesa Jenar sejenak memandang wajah Sagotra yang kasar, jelek dan kotor, tetapi yang dari matanya memancar keputus-asaan dan kekosongan. Bahkan lama-kelamaan berubah menjadi seperti mata kanak-kanak yang belum pernah dijamah dosa.
Demikianlah, maka sedikit demi sedikit Mahesa Jenar dijalari kembali oleh sifat-sifatnya, serta sedikit demi sedikit pikirannya dapat bekerja kembali. Sejalan dengan itu pegangan tangannya pun menjadi semakin kendor dan kendor, sehingga akhirnya dilepaskanlah leher Sagotra itu sama sekali.
Quote:
“Maafkanlah aku Sagotra," bisik Mahesa Jenar.
Mendengar kata-kata itu kembali hati Sagotra melonjak hebat sekali. Hampir saja air matanya tidak lagi dapat ditahannya.
Quote:
“Sagotra…,” kata Mahesa Jenar selanjutnya, yang bagaimanapun masih ingin mendapat lebih banyak penjelasan,
“Benarkah kau tidak berbuat itu?”
“Tuan, memang aku dapat memahami tuduhan itu. Tetapi sebenarnyalah, bahwa kedatanganku sama sekali tak ada hubungannya dengan hilangnya gadis itu. Kecuali kalau hal ini dilakukan oleh orang-orang segerombolanku di luar rencana semula,” jawab Sagotra.
“Benarkah kau tidak berbuat itu?”
“Tuan, memang aku dapat memahami tuduhan itu. Tetapi sebenarnyalah, bahwa kedatanganku sama sekali tak ada hubungannya dengan hilangnya gadis itu. Kecuali kalau hal ini dilakukan oleh orang-orang segerombolanku di luar rencana semula,” jawab Sagotra.
Mahesa Jenar menundukkan kepala. Tetapi ia dapat mempercayai kata-kata Sagotra. Sebab andaikata hal itu dilakukan oleh kawan-kawan Sagotra, bahkan Jaka Soka sekalipun, ia pasti akan dapat menangkap suara ataupun gerak dari orang itu, sebab untuk mengalahkan Sagotra ia sama sekali tidak perlu memusatkan segala perhatiannya. Apalagi jarak mereka dengan Rara Wilis berbaring tidaklah demikian jauhnya. Karena itu ia menduga, bahwa hal ini dilakukan oleh seseorang yang memiliki kehebatan luar biasa pula.
Tiba-tiba bulu tengkuknya meremang, ketika ia mengingat betapa cepatnya Pasingsingan bertindak. Perlahan-lahan ia berjalan menuju ke tikar yang masih terbentang itu. Tiba-tiba Mahesa Jenar melihat bungkusan Rara Wilis masih juga ada di situ. Ia jadi teringat, bahwa dalam bungkusan itu terdapat sebilah keris pusaka Ki Ageng Pandan Alas, yaitu Kiai Sigar Penjalin.
Tetapi alangkah terkejut serta kecewanya ketika ternyata keris itu telah lenyap pula. Akhirnya seperti orang yang dicopoti segala tulangnya. Ia duduk lemas diatas tikar Rara Wilis.
Sagotra yang masih saja mengikutinya kemana ia pergi, duduk pula di atas tikar di belakang Mahesa Jenar. Tetapi sama sekali ia tidak berani menegurnya.
Angin malam masih saja berhembus silir, yang bagi Mahesa Jenar terdengar sebagai sebuah lagu sedih yang mengiringi ratapan hatinya. Tiba-tiba saja ia merasa, bahwa tanpa disengaja ia telah menguntai butiran-butiran mutiara harapan yang kini telah terenggut dan berderai berserakan.
Alangkah dalam luka yang dideritanya. Dua masalah yang sekaligus menghancurkan perasaannya. Sebagai seorang laki-laki langsung ia telah dihinakan. Sebuah pertanggungjawaban yang digenggamnya telah dirampas oleh orang tanpa dapat berbuat apa-apa, dan sekaligus yang hilang itu adalah sebagian dari jiwanya pula.
Dalam keadaan yang demikian tiba-tiba seperti orang bermimpi Mahesa Jenar mendengar alunan lagu Dandanggula sayup-sayup sampai. Mendengar lagu itu, geragapan Mahesa Jenar berdiri. Meskipun lagu itu tidak begitu jelas, tetapi segera Mahesa Jenar mengenal, bahwa Dandanggula itu telah dibawakan oleh seorang yang oleh Pasingsingan beberapa hari yang lalu disebut Pandan Alas.
Seperti juga beberapa hari yang lalu, suara itupun bergulung-gulung berkumandang memenuhi segala penjuru. Sehingga sulitlah bagi Mahesa Jenar untuk mengetahui dengan pasti arah suara itu.
Mahesa Jenar segera berdiri tegak, kepalanya sedikit diangkat ke atas dengan memusatkan pancainderanya untuk menangkap getaran Dandanggula yang lamat-lamat sampai ke telinganya. Pada saat itu, perasaan Mahesa Jenar sedang bergolak hebat, karena hilangnya Rara Wilis.
Karena itu, seakan-akan Mahesa Jenar mendapat suatu tenaga rohaniah tambahan yang cukup besar, sehingga kemampuan Mahesa Jenar pun seakan-akan bertambah. Dengan demikian, setelah beberapa saat Mahesa Jenar berdiam diri, hampir seperti orang bersamadi, perlahan-lahan ia dapat menangkap arah suara yang sayup-sayup sampai ke telinganya itu.
Maka ketika ia telah mendapat suatu kepastian dari mana arah suara itu, cepat seperti kilat ia meloncat dan kemudian menyusup gerumbul menuju arah barat.
Sagotra bertambah heran menyaksikan kelakuan Mahesa Jenar, disamping keheranannya mendengar suara lagu Dandanggula itu. Karena itu ia pun segera berlari mengikuti Mahesa Jenar, sehingga mereka berdua seolah-olah sedang bermain kejar-kejaran.
Sebentar kemudian Mahesa Jenar telah keluar dari gerumbul kecil itu, serta dengan cekatan sekali ia melompat keatas gundukan tanah yang agak tinggi untuk dapat menangkap setiap gerak di padang rumput yang terbuka itu. Sebab mustahil kalau sampai ada orang di padang terbuka yang sedemikian itu sampai terlepas dari pengawasannya yang seakan-akan mempunyai kelebihan dibanding mata orang biasa.
Tetapi sampai beberapa saat, sama sekali ia tidak melihat suatu apapun. Sedang suara Dandanggula itupun telah berhenti.
fakhrie... dan 7 lainnya memberi reputasi
8
Kutip
Balas