- Beranda
- Stories from the Heart
Naga Sasra & Sabuk Inten
...
TS
nandeko
Naga Sasra & Sabuk Inten

NAGA SASRA & SABUK INTEN
Kisah ini merupakan karangan dari S.H Mintardja. Disini TS sudah mendapatkan ijin untuk sekedar membagikan dan mempermudahkan pembaca untuk menikmati kisah ini dalam bentuk digital
INDEX
Quote:
Spoiler for JILID 1:
Spoiler for JILID 2:
Spoiler for JILID 3:
Spoiler for JILID 4:
Spoiler for JILID 5:
Spoiler for JILID 6:
Part 114
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Spoiler for JILID 7:
Spoiler for JILID 8:
Spoiler for JILID 9:
Spoiler for JILID 10:
Pengarang dan Hakcipta©
Singgih Hadi Mintardja
Singgih Hadi Mintardja
Diubah oleh nandeko 21-10-2021 14:24
whadi05 dan 43 lainnya memberi reputasi
42
63.5K
Kutip
1.2K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
nandeko
#58
Jilid 3 [Part 43]
Spoiler for :
Baru mendengar kata-kata itu, dan belum lagi Jaka Soka berbuat sesuatu, orang-orang yang mendengarnya seolah-olah telah terbang nyawanya. Lawa Ijo yang matanya memancarkan sinar kebuasan dan kebengisan itu pun terkejut mendengar keputusan Jaka Soka untuk membunuh sekian banyak orang itu.
Dahi Lawa Ijo tampak berkerut. Rupanya ia berpikir keras. Tetapi bagaimanapun, ia tetap tidak dapat mengerti jalan pikiran Jaka Soka. Mengorbankan sekian banyak orang hanya untuk mendapatkan seorang gadis. Seandainya taruhan itu untuk memperebutkan sebuah pusaka atau harta benda yang tak ternilai, agaknya Lawa Ijo masih dapat mengerti.
Mereka yang mendengarkan percakapan itu, hatinya diliputi oleh suasana ketegangan yang hebat. Mereka mengharap Lawa Ijo tetap pada pendiriannya, tak mengizinkan Jaka Soka berbuat demikian kejamnya hanya untuk memanjakan nafsunya. Mereka rela andaikata kemudian Lawa Ijo merampas segala harta benda mereka, asal nyawa mereka diselamatkan. Bahkan ada diantaranya yang mulai menyesali gadis cantik itu. Karena gadis itulah maka nyawa mereka terancam.
Sampai beberapa saat Lawa Ijo tidak berkata-kata. Ia menjadi bimbang. Sebenarnya lebih baik baginya untuk tidak menambah lawan. Apalagi seorang sakti seperti Ki Ageng Pandan Alas.
Tetapi untuk menolak permintaan Jaka Soka pun akan mempunyai akibat yang tak menyenangkan. Sebab ia tahu betul tabiat kawannya ini. Semua kehendaknya harus dapat terlaksana. Apalagi kalau ia sedang tergila-gila kepada seorang gadis. Bagaimanapun kejamnya Lawa Ijo, namun tak akan terlintas dalam pikirannya untuk berbuat demikian, hanya untuk seorang gadis. Sebab ia sama sekali memang tidak pernah tertarik kepada gadis seperti itu. Baginya, gadis-gadis demikian hanyalah akan mempersulit diri saja.
Mendengar desakan terakhir ini, Lawa Ijo tampak mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi bagi mereka yang menyaksikan, anggukan kepala Lawa Ijo itu bagaikan melihat jatuhnya palu keputusan hukuman mati bagi mereka semua.
Maka terjadilah kegemparan diantara mereka. Beberapa orang telah menangis merintih-rintih minta diampuni dan diselamatkan jiwanya. Mereka bersumpah untuk tidak membuka mulut tentang peristiwa ini kepada siapa pun. Beberapa orang lagi jatuh pingsan, dan yang lain menggigil ketakutan.
Dalam keadaan yang demikian, terasalah kesetiakawanan mereka hancur lumat demi keselamatan masing-masing. Bahkan ada diantara mereka yang sampai hati terang-terangan mengumpati gadis yang sama sekali tak bersalah itu.
DALAM keributan itu, tiba-tiba gadis cantik itu berdiri tegak. Kepalanya terangkat dan dadanya menengadah. Lenyaplah kesan-kesan ketakutan dan kecemasan yang membayang di wajahnya. Dari mulutnya yang mungil itu terdengarlah suaranya yang gemetar.
Sudah tentu Mahesa Jenar tidak dapat berpangku tangan menyaksikan semua itu terjadi. Ia telah berjanji kepada dirinya sendiri, mengabdikan diri bagi kedamaian hati rakyat dan kemanusiaan. Sebab dengan demikian ia telah mengabdikan dirinya pula kepada tanah tumpah darah dan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Mahesa Jenar sangat terharu mendengar ucapan gadis yang menyediakan diri sebagai tumbal keselamatan sekian banyak orang. Tetapi belum lagi ia sempat menjawab, terdengar suara Jaka Soka.
Tetapi Mahesa Jenar sudah mendapat suatu ketetapan. Apalagi ketika ia mendengar bahwa Jaka Soka akan membunuh semua orang yang ada, hanya untuk merampas seorang gadis. Sedangkan gadis itu sendiri sama sekali tidak menghendakinya.
Karena itu, dengan sikap seekor banteng, Mahesa Jenar melangkah, lalu berdiri diantara gadis yang pucat itu. Wajahnya memancarkan kebulatan tekadnya, apapun yang akan dihadapi. Meskipun ia harus melawan Jaka Soka dan Lawa Ijo sekaligus. Dengan tenangnya pula ia menjawab kata-kata Jaka Soka.
Jawaban Mahesa Jenar ini hebat akibatnya. Muka Jaka Soka segera berubah menjadi merah membara, dibakar oleh kemarahannya. Kalau tadi ia melihat orang itu dapat bergerak begitu cepat, baginya bukanlah ukuran bahwa orang itu cukup berharga untuk dilawannya. Apalagi sebelum itu, perantau tolol itu telah melawannya bersama-sama dengan ketujuh orang pengawal, dan sama sekali tak menunjukkan keistimewaan apa-apa. Meskipun demikian, dalam hati Jaka Soka mengakui, bahwa orang itu benar-benar orang tolol yang berani.
Selain itu, kata-kata Mahesa Jenar ternyata mempunyai akibat yang mengejutkan pula terhadap para pengawal. Dengan tak terduga sama sekali, pemimpin pengawal yang telah agak lanjut usia itu tiba-tiba meloncat ke samping Mahesa Jenar. Dengan penuh tanggung jawab ia berkata,
Tetapi suaranya terputus sampai sekian, karena getaran kemarahannya. Wajahnya menjadi semakin merah. Giginya gemeretak, sedangkan matanya seolah-olah memancarkan api, seperti perapian yang masih menyala-nyala. Apalagi ketika dilihatnya kesembilan pengawal yang lain pun tiba-tiba serentak berdiri dengan teguhnya menggenggam senjata masing-masing demikian eratnya. Seakan-akan teguhnya ingin mengatakan, bahwa gugurlah mereka dalam tugasnya dengan senjata di tangan.
Tetapi kembali terjadi hal yang sama sekali tak diduga-duga. Orang yang dianggapnya sebagai perantau tolol yang menumpang berjalan, bahkan ada diantara mereka yang memberikan beban dengan menyanggupinya untuk memberi upah sekedarnya itu, berkata dengan lantangnya kepada pemimpin pengawal itu.
Karena pengaruh perbawa kata-kata Mahesa Jenar itu, maka orang tua itu seolah-olah diluar sadarnya menerima keris Sigar Penjalin. Sementara itu Lawa Ijo rupanya benar-benar tak mau terlibat dalam persoalan ini. Karena itu ia bersikap sebagai seorang penonton saja, yang kemudian malahan perlahan-lahan duduk pada sebuah akar pohon.
Sedang Jaka Soka kini telah sampai pada puncak kemarahannya. Meskipun demikian ia masih ingat pada harga dirinya. Segera pedang kecilnya disarungkan ke dalam tongkat hitam manis, dan melemparkan tongkat itu kepada Lawa Ijo.
Quote:
“Jaka Soka, sebaiknya kau pikir masak-masak apa yang akan kau lakukan itu. Apalagi hal itu terjadi di daerah kuasaku,” kata Lawa Ijo memperingatkan.
“Lawa Ijo, kau tidak akan tersangkut dalam perkara ini. Dan percayalah, bahwa apabila tak seorang pun yang hidup diantara orang-orang ini, maka bagaimanapun tajamnya telinga Pandan Alas, ia tak mungkin dapat mendengarnya,” jawab Jaka Soka.
“Lawa Ijo, kau tidak akan tersangkut dalam perkara ini. Dan percayalah, bahwa apabila tak seorang pun yang hidup diantara orang-orang ini, maka bagaimanapun tajamnya telinga Pandan Alas, ia tak mungkin dapat mendengarnya,” jawab Jaka Soka.
Dahi Lawa Ijo tampak berkerut. Rupanya ia berpikir keras. Tetapi bagaimanapun, ia tetap tidak dapat mengerti jalan pikiran Jaka Soka. Mengorbankan sekian banyak orang hanya untuk mendapatkan seorang gadis. Seandainya taruhan itu untuk memperebutkan sebuah pusaka atau harta benda yang tak ternilai, agaknya Lawa Ijo masih dapat mengerti.
Mereka yang mendengarkan percakapan itu, hatinya diliputi oleh suasana ketegangan yang hebat. Mereka mengharap Lawa Ijo tetap pada pendiriannya, tak mengizinkan Jaka Soka berbuat demikian kejamnya hanya untuk memanjakan nafsunya. Mereka rela andaikata kemudian Lawa Ijo merampas segala harta benda mereka, asal nyawa mereka diselamatkan. Bahkan ada diantaranya yang mulai menyesali gadis cantik itu. Karena gadis itulah maka nyawa mereka terancam.
Sampai beberapa saat Lawa Ijo tidak berkata-kata. Ia menjadi bimbang. Sebenarnya lebih baik baginya untuk tidak menambah lawan. Apalagi seorang sakti seperti Ki Ageng Pandan Alas.
Tetapi untuk menolak permintaan Jaka Soka pun akan mempunyai akibat yang tak menyenangkan. Sebab ia tahu betul tabiat kawannya ini. Semua kehendaknya harus dapat terlaksana. Apalagi kalau ia sedang tergila-gila kepada seorang gadis. Bagaimanapun kejamnya Lawa Ijo, namun tak akan terlintas dalam pikirannya untuk berbuat demikian, hanya untuk seorang gadis. Sebab ia sama sekali memang tidak pernah tertarik kepada gadis seperti itu. Baginya, gadis-gadis demikian hanyalah akan mempersulit diri saja.
Quote:
“Lawa Ijo, seharusnya kau tak usah takut kepada Pandan Alas. Sebab Paman Pasingsingan tentu tidak akan tinggal diam andaikata Pandan Alas salah duga terhadapmu mengenai masalah ini,” sambung Jaka Soka ketika Lawa Ijo lama tak menjawab.
Mendengar desakan terakhir ini, Lawa Ijo tampak mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi bagi mereka yang menyaksikan, anggukan kepala Lawa Ijo itu bagaikan melihat jatuhnya palu keputusan hukuman mati bagi mereka semua.
Maka terjadilah kegemparan diantara mereka. Beberapa orang telah menangis merintih-rintih minta diampuni dan diselamatkan jiwanya. Mereka bersumpah untuk tidak membuka mulut tentang peristiwa ini kepada siapa pun. Beberapa orang lagi jatuh pingsan, dan yang lain menggigil ketakutan.
Dalam keadaan yang demikian, terasalah kesetiakawanan mereka hancur lumat demi keselamatan masing-masing. Bahkan ada diantara mereka yang sampai hati terang-terangan mengumpati gadis yang sama sekali tak bersalah itu.
DALAM keributan itu, tiba-tiba gadis cantik itu berdiri tegak. Kepalanya terangkat dan dadanya menengadah. Lenyaplah kesan-kesan ketakutan dan kecemasan yang membayang di wajahnya. Dari mulutnya yang mungil itu terdengarlah suaranya yang gemetar.
Quote:
“Saudara-saudara seperjalanan… aku minta maaf kalau kehadiranku diantara saudara-saudara menyebabkan saudara-saudara menemui kesulitan. Tetapi ketahuilah bahwa orang ini tidak akan berguna membunuh saudara-saudara sekalian, sebab aku telah memutuskan untuk bunuh diri.”
Kemudian gadis itu berpaling kepada Mahesa Jenar. Lalu katanya,
“Ki Sanak, aku berterima kasih kepadamu, atas usahamu menyelamatkan jiwaku. Tetapi adalah lebih berharga jiwa dari sekian banyak orang termasuk ki sanak sendiri, daripada aku seorang. Karena itu berikanlah keris itu kembali kepadaku.”
Kemudian gadis itu berpaling kepada Mahesa Jenar. Lalu katanya,
“Ki Sanak, aku berterima kasih kepadamu, atas usahamu menyelamatkan jiwaku. Tetapi adalah lebih berharga jiwa dari sekian banyak orang termasuk ki sanak sendiri, daripada aku seorang. Karena itu berikanlah keris itu kembali kepadaku.”
Sudah tentu Mahesa Jenar tidak dapat berpangku tangan menyaksikan semua itu terjadi. Ia telah berjanji kepada dirinya sendiri, mengabdikan diri bagi kedamaian hati rakyat dan kemanusiaan. Sebab dengan demikian ia telah mengabdikan dirinya pula kepada tanah tumpah darah dan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Mahesa Jenar sangat terharu mendengar ucapan gadis yang menyediakan diri sebagai tumbal keselamatan sekian banyak orang. Tetapi belum lagi ia sempat menjawab, terdengar suara Jaka Soka.
Quote:
“Perantau tolol. Jangan kau serahkan kepadanya, supaya aku selamatkan jiwamu. Berikan saja keris itu kepadaku.”
Tetapi Mahesa Jenar sudah mendapat suatu ketetapan. Apalagi ketika ia mendengar bahwa Jaka Soka akan membunuh semua orang yang ada, hanya untuk merampas seorang gadis. Sedangkan gadis itu sendiri sama sekali tidak menghendakinya.
Karena itu, dengan sikap seekor banteng, Mahesa Jenar melangkah, lalu berdiri diantara gadis yang pucat itu. Wajahnya memancarkan kebulatan tekadnya, apapun yang akan dihadapi. Meskipun ia harus melawan Jaka Soka dan Lawa Ijo sekaligus. Dengan tenangnya pula ia menjawab kata-kata Jaka Soka.
Quote:
“Jaka Soka yang dikenal sebagai seorang Bajak Laut yang menakutkan. Buat apa aku mengharap kau membebaskan jiwaku. Kalau aku terpaksa berkubur di tengah-tengah hutan Tambak Baya ini. Karena aku membela kebenaran, aku sama sekali tidak akan menyesal. Karena itu selagi aku masih bernafas, kau tak akan dapat menyentuh gadis yang belum aku kenal sebelumnya ini.”
Jawaban Mahesa Jenar ini hebat akibatnya. Muka Jaka Soka segera berubah menjadi merah membara, dibakar oleh kemarahannya. Kalau tadi ia melihat orang itu dapat bergerak begitu cepat, baginya bukanlah ukuran bahwa orang itu cukup berharga untuk dilawannya. Apalagi sebelum itu, perantau tolol itu telah melawannya bersama-sama dengan ketujuh orang pengawal, dan sama sekali tak menunjukkan keistimewaan apa-apa. Meskipun demikian, dalam hati Jaka Soka mengakui, bahwa orang itu benar-benar orang tolol yang berani.
Selain itu, kata-kata Mahesa Jenar ternyata mempunyai akibat yang mengejutkan pula terhadap para pengawal. Dengan tak terduga sama sekali, pemimpin pengawal yang telah agak lanjut usia itu tiba-tiba meloncat ke samping Mahesa Jenar. Dengan penuh tanggung jawab ia berkata,
Quote:
“Jaka Soka, akupun pernah mendengar kebesaran namamu. Dan sekarang aku sempat menyaksikan pula. Bahkan sekaligus aku dapat mengetahui betapa biadabnya Bajak Laut dari Nusa Kambangan ini. Karena itu, bagaimana aku berani berlagak di hadapanmu. Tetapi karena kali ini aku sedang dibebani oleh suatu tanggung jawab, maka bersama-sama perantau yang belum aku kenal ini, aku bersedia menjadi banten. Apa artinya sisa umurku yang tinggal beberapa tahun lagi, kalau dilumuri oleh suatu pengkhianatan akan tugas yang dibebankan di pundakku.”
“Cukup!” potong Jaka Soka.
“Cukup!” potong Jaka Soka.
Tetapi suaranya terputus sampai sekian, karena getaran kemarahannya. Wajahnya menjadi semakin merah. Giginya gemeretak, sedangkan matanya seolah-olah memancarkan api, seperti perapian yang masih menyala-nyala. Apalagi ketika dilihatnya kesembilan pengawal yang lain pun tiba-tiba serentak berdiri dengan teguhnya menggenggam senjata masing-masing demikian eratnya. Seakan-akan teguhnya ingin mengatakan, bahwa gugurlah mereka dalam tugasnya dengan senjata di tangan.
Tetapi kembali terjadi hal yang sama sekali tak diduga-duga. Orang yang dianggapnya sebagai perantau tolol yang menumpang berjalan, bahkan ada diantara mereka yang memberikan beban dengan menyanggupinya untuk memberi upah sekedarnya itu, berkata dengan lantangnya kepada pemimpin pengawal itu.
Quote:
“Bapak …, Bapak telah lanjut usia. Apalagi orang yang dilawan bukan sembarang orang. Karena itu minggirlah. Biarlah aku yang berumur sebaya melawannya, untuk mewakili mereka yang berhati kecil, sekecil hati kelinci, sehingga kehilangan rasa kesetiakawanan mereka. Bahkan ada yang sampai hati menyalahkan gadis ini pula. Tetapi karena aku tidak sepantasnya mempergunakan keris Sigar Penjalin milik seorang sakti ini, baiklah keris ini aku titipkan kepadamu. Janganlah gadis ini diberi kesempatan untuk bunuh diri sebelum kita semua binasa.”
Karena pengaruh perbawa kata-kata Mahesa Jenar itu, maka orang tua itu seolah-olah diluar sadarnya menerima keris Sigar Penjalin. Sementara itu Lawa Ijo rupanya benar-benar tak mau terlibat dalam persoalan ini. Karena itu ia bersikap sebagai seorang penonton saja, yang kemudian malahan perlahan-lahan duduk pada sebuah akar pohon.
Sedang Jaka Soka kini telah sampai pada puncak kemarahannya. Meskipun demikian ia masih ingat pada harga dirinya. Segera pedang kecilnya disarungkan ke dalam tongkat hitam manis, dan melemparkan tongkat itu kepada Lawa Ijo.
Quote:
“Lawa Ijo, tolong bawakan tongkatku ini,” kata Jaka Soka dengan nada geram.
Lalu katanya kepada Mahesa Jenar,
“Setan. Kau berani meremehkan aku. Aku harap kau maju bersama-sama, supaya cepat selesai pekerjaanku. Membunuh kalian. Semua. Tak seorang pun akan aku sisakan.”
Lalu katanya kepada Mahesa Jenar,
“Setan. Kau berani meremehkan aku. Aku harap kau maju bersama-sama, supaya cepat selesai pekerjaanku. Membunuh kalian. Semua. Tak seorang pun akan aku sisakan.”
Diubah oleh nandeko 03-08-2020 17:15
brigadexiii dan 6 lainnya memberi reputasi
7
Kutip
Balas