- Beranda
- Stories from the Heart
Cerpen: Layung Ciremai
...
TS
rinnopiant
Cerpen: Layung Ciremai
Thread ini berisi kumpulan cerpen karya pribadi. Terdiri dari berbagai genre, kecuali horor. Khusus kumpulan cerpen horor terpisah di thread lain.
Selamat membaca!

Daftar isi:
1. Layung Ciremai
2. Yang Hilang Di Rantau
3. Riwayat Pengemis Buta
Selamat membaca!

Daftar isi:
1. Layung Ciremai
2. Yang Hilang Di Rantau
3. Riwayat Pengemis Buta
Diubah oleh rinnopiant 03-08-2020 09:14
kickers1919 dan 7 lainnya memberi reputasi
6
1.9K
17
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
rinnopiant
#8
RIWAYAT PENGEMIS BUTA
Oleh: Rine Nopianti.
Langit pagi masih gelap. Temaram warna jingga di ufuk timur, arah fajar bakal semburat. Beriringan kami melangkah di atas jalan bebatuan dengan kaki telanjang. Sabit dan karung di tangan, cangkul dipikul, bertudungkan topi caping dari bambu yang dianyam.
Di antara kicau burung gereja yang menari di atas dahan-dahan mahoni, lamat-lamat terdengar suara deru mesin. Dari ujung jalan perlahan sebuah mobil SUV hitam bergerak pelan. Ketika mendekati kami, sang empunya membunyikan klakson seraya membuka kaca
mobilnya yang gelap.
“Pergi ke ladang bapak-bapak?” sapa Mizwar dari belakang kemudi, tersenyum santun ia kepada kami.
“Iya. Pagi buta udah mau ngantor, War?” timpalku.
“Iya, takut rezeki dipatuk ayam duluan,” selorohnya. “Ya sudah, aku duluan ya
semuanya. Mari!”
“Sombong!” celetuk Hamdan ketika mobil itu kembali berjalan.
“Kenapa kau, Hamdan?” tanyaku heran.
"Pamer mobil baru itu si Mizwar. Melintas seenaknya di antara orang lalu-lalang,
nggak sopan,” cerocos pria tambun itu tak keruan.
Aku menggelengkan kepala. Bukan kali ini saja dia bersikap sinis pada mantan rekan kerjanya.
“Nggak sopan gimana, Dan? Si Mizwar kan udah ngasih klakson tadi, itu saja
sudah cukup sebagai bentuk permisi. Malah dia sempatkan berhenti dan menyapa kita di sini.”
“Alah! Memang dasarnya pandai cari muka dia. Kalian tidak tahu saja bagaimana sepak-terjangnya. Aku didepak dari perusahaan pun gara-gara dia. Lihat aku sekarang?
Melarat karena ulahnya.”
Aku hanya bisa tersenyum miris mendengar Hamdan terus mengoceh. Terkadang mulutnya sama tajam, dengan ibu-ibu yang kerap bergunjing dalam kerumunan tukang sayur
di pagi hari. Topiknya tetap sama. Dendam menyala-nyala di sorot matanya saat berbicara.
Hamdan masih tak terima. Dulu, Mizwar adalah karyawan baru di tempat ia bekerja. Sementara dirinya saat itu sudah menjabat kepala bagian, posisi yang terbilang penting dengan panghasilan lumayan.
Menurut warta yang kudengar dari orang yang bekerja pada perusahaan yang sama, Hamdan sering lalai dalam tugas. Berbanding terbalik dengan Mizwar
yang punya loyalitas. Berkat kegigihannya, pada tahun pertama ia bekerja Mizwar telah mendapat promosi. Duda satu anak itu naik pangkat, menggantikan Hamdan yang pada
akhirnya dipecat.
Dari sanalah dengki mengakar di hati Hamdan. Ia yang tak punya banyak keahlian, pontang-panting, gali tutup lubang menghidupi keluarganya setelah menjadi pengangguran. Hingga pada akhirnya ia tak punya pilihan, menjadi petani seperti kami jadi satu-satunya jalan.
Roda kehidupan berputar. Kemewahan dan kemilau hidup yang sebelumnya
digenggaman, hilang begitu saja dalam Kun Fayakun Tuhan.
Sementara diam-diam ternyata sesal menggelayuti benak Mizwar. Walau bukan
karena salahnya, ia kerap iba melihat kehidupan Hamdan dan keluarganya setelah tragedi pemecatan. Anak-anak mereka sering terdengar menangis kelaparan. Tak jarang percekcokan
pun terjadi antara Hamdan dan sang istri, karena tak terpenuhinya kebutuhan.
Pernah aku memergoki Mizwar, tengah mengendap-endap menaruh bungkusan besar berisi makanan di depan pintu rumah Hamdan. Alih-alih berterimakasih, keesokan harinya Hamdan justru angkuh berkoar ke seluruh tetangga, bahwa ia masih sanggup membelikan keluarganya makanan enak
nan mahal.
Sekali waktu, dalam obrolan kami di sepanjang perjalanan pulang dari masjid pada suatu malam.
“Jangan-jangan, selama ini kau juga yang mengirim makanan dan bantuan pada si Hamdan?” selidikku.
"Jangan keras-keras,” bisik Mizwar. “Ini antara kau dan aku saja. Aku sungkan,
Hamdan mungkin akan salah paham jika tahu semua itu dariku.”
“Tapi kau tahu bagaimana sikapnya selama ini padamu, War?”
“Ah, biar saja. Secara moral aku hanya merasa bertanggungjawab pada keadaannya sekarang, sebagai tetangga, sebagai sesama manusia. Lagipula aku ini juga seorang bapak. Tak sampai hati mendengar anak-anak Hamdan kesulitan,” ungkapnya.
Sejak hari itu aku tahu, setiap kali datang kiriman dalam bentuk apa pun yang
ditujukan pada Hamdan adalah uluran tangan Mizwar yang dirahasiakan. Namun, pagi tadi sebuah kabar duka yang menggemparkan kudengar. Mizwar yang malang, dinyatakan tewas dalam sebuah kecelakaan. Meninggalkan seorang putri yang kini menjadi
yatim piatu, setelah kedua orang tuanya wafat dalam kurun waktu yang tak lama.
Saat ramai orang berbondong-bondong melayat ke rumah duka, kulihat Hamdan justru tengah ongkang-ongkang di teras rumahnya. Kuputuskan untuk menghampiri. Barangkali ia belum mendengar kabar pilu yang tersiar pagi tadi.
“Hamdan, kau tak pergi takziah? Mizwar meninggal,” kataku.
“Setiap perbuatan itu pasti ada balasannya.” Hamdan menjawab sambil mengepulkan asap rokoknya.
Aku mengernyit. “Maksud kau?”
“Tewasnya si Mizwar itu azab. Dia sudah mematikan rezeki orang lain. Bisa jadi
mobilnya itu juga hasil korupsi, makanya bisa sampai kecelakaan,” celotehnya.
Beristigfar aku sambil mengelus dada. Seandainya saja Hamdan tahu, jasa besar orang yang selalu ia hinakan di dalam hidupnya.
“Dengar, Hamdan, aku ingin menceritakan sebuah kisah padamu,” ucapku.
Kedua alis Hamdan bertaut. “Kisah? Kisah apa?”
“Aku pernah mendengar cerita tentang seorang pengemis Yahudi yang buta. Ia
berdiam di salah satu sudut pasar Kota Madinah. Pengemis buta itu selalu menghina
Rasulullah Muhammad SAW. Dia sering mengumpat bahwa Nabi Muhammad adalah tukang sihir, orang yang tak waras dan sebutan-sebutan keji lainnya. Di sana ada seseorang yang
selalu menemani pengemis buta itu. Dia dengan penuh kasih sayang menyuapi pengemis yang tidak pernah berhenti mencaci maki Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi, orang tersebut
hanya diam saja.” Aku memberi jeda. Hamdan terlihat bingung mendengarkan apa yang kuceritakan.
“Pada suatu hari, orang yang biasa menemani pengemis Yahudi itu tidak hadir. Kemudian datanglah Abu Bakar Ash Shiddiq, berinisiatif untuk menggantikannya. Walau geram, Abu Bakar berusaha menahan diri saat mendengar pengemis itu tak hentinya menghina Rasulullah. Akan tetapi, bukan rasa terima kasih yang di dapatkannya
kemudian. Justru hardikan dan penolakan keras karena pengemis itu menyadari, dia bukan orang yang biasa menemaninya selama ini. Singkat cerita, Abu Bakar pada akhirnya memberitahu pengemis itu, bahwa yang selama ini menemani dirinya tak lain adalah Nabi
Muhammad yang selalu ia fitnah dan hina.”
Hamdan bergeming.
“Kau bisa tebak apa yang terjadi selanjutnya. Betapa malunya pengemis itu.
Tubuhnya yang renta gemetar, air matanya berlinang, dia sangat menyesal.”
“Sudah?” tanya Hamdan.
“Iya, sudah.”
“Kau menceritakan kisah yang bagus.”
“Kau adalah pengemis di dalam kisah itu,” tegasku.
“Apa maksudmu?”
“Iya. Kau adalah pengemis di dalam kisah itu, yang tanpa sadar terus berlaku zalim pada orang yang telah banyak berjasa dalam hidupmu.”
“Kau ini sedang membicarakan apa? Maksudmu aku menzalimi si Mizwar?” Hamdan tertawa terbahak-bahak. “Sudah disogok apa memangnya kau sama dia? Segitunya membela orang itu, heran aku.”
“Aku tidak pernah menerima apa pun, tapi kau. Kau dan keluargamu yang sudah menerima banyak hal dari Mizwar.”
Hamdan bertolak pinggang. “Apa? Apa jasa dia? Coba sebutkan satu saja.”
“Memangnya siapa yang selalu mengirimkan makanan enak ke rumahmu saat anak dan istrimu kelaparan? Siapa yang memberikan bingkisan misterius tanpa nama, berisikan baju bagus, alat-alat sekolah, kebutuhan rumah tangga dan lain-lain? Yang lalu dengan angkuh kau
pamerkan pada semua orang, bahwa semua itu kau yang beli. Belum lagi amplop-amplop berisikan uang yang rutin datang menyambung hidupmu selama ini. Memangnya dari siapa
semua itu—“
“Ya, memangnya dari siapa semua itu?” Dengan suara tinggi Hamdan memotong pembicaraanku. Laki-laki itu tampak geram.
“Mizwar. Semua yang kau terima itu pemberian Mizwar. Aku dan Tuhan saksinya,” pungkasku, kemudian berlalu meninggalkan Hamdan yang berdiri kaku. Mungkin sedang sekarat ia menanggung malu.
Jasad Mizwar telah rampung dikebumikan. Gundukan makamnya bertabur bunga segar. Pilu batinku menyaksikan putri sematang wayangnya memeluk nisan. Entah apa yang sedang gadis belia itu pikirkan. Sebatang kara ia kini. Tak ada sanak keluarga tempatnya menitip diri. Kami para tetangganya hanya bisa mengibai. Bergantian mendekap, menenangkan hati, dan mengusap wajahnya yang basah.
Kemudian yang tak terduga, Hamdan datang bersama anak dan istrinya. Raut wajah laki-laki itu berubah. Sayu matanya tampak basah. Beberapa orang saling berbisik. Kehadiran Hamdan di sana seperti kemustahilan yang terpatahkan.
“Maafkan aku,” isak Hamdan.
Tak lama kemudian sang istri melangkah, mendekati putri mendiang Mizwar. Dipeluknya erat gadis itu, tak henti berucap terima kasih sambil tersedu.
“Aku ini manusia tidak tahu diri,” sesal Hamdan, duduk termenung di sisi makam.
“Izinkan aku merawat putrimu seperti anakku sendiri, walaupun mungkin tidak akan pernah cukup
untuk membalas segala budi baikmu kepada kami, Mizwar.”
Serentak kami pun berucap syukur. Seiring embus angin menjatuhkan tangkai-tangkai bunga kamboja kuning, terhampar di atas rumput yang mengering.
Selesai.
Oleh: Rine Nopianti.
Langit pagi masih gelap. Temaram warna jingga di ufuk timur, arah fajar bakal semburat. Beriringan kami melangkah di atas jalan bebatuan dengan kaki telanjang. Sabit dan karung di tangan, cangkul dipikul, bertudungkan topi caping dari bambu yang dianyam.
Di antara kicau burung gereja yang menari di atas dahan-dahan mahoni, lamat-lamat terdengar suara deru mesin. Dari ujung jalan perlahan sebuah mobil SUV hitam bergerak pelan. Ketika mendekati kami, sang empunya membunyikan klakson seraya membuka kaca
mobilnya yang gelap.
“Pergi ke ladang bapak-bapak?” sapa Mizwar dari belakang kemudi, tersenyum santun ia kepada kami.
“Iya. Pagi buta udah mau ngantor, War?” timpalku.
“Iya, takut rezeki dipatuk ayam duluan,” selorohnya. “Ya sudah, aku duluan ya
semuanya. Mari!”
“Sombong!” celetuk Hamdan ketika mobil itu kembali berjalan.
“Kenapa kau, Hamdan?” tanyaku heran.
"Pamer mobil baru itu si Mizwar. Melintas seenaknya di antara orang lalu-lalang,
nggak sopan,” cerocos pria tambun itu tak keruan.
Aku menggelengkan kepala. Bukan kali ini saja dia bersikap sinis pada mantan rekan kerjanya.
“Nggak sopan gimana, Dan? Si Mizwar kan udah ngasih klakson tadi, itu saja
sudah cukup sebagai bentuk permisi. Malah dia sempatkan berhenti dan menyapa kita di sini.”
“Alah! Memang dasarnya pandai cari muka dia. Kalian tidak tahu saja bagaimana sepak-terjangnya. Aku didepak dari perusahaan pun gara-gara dia. Lihat aku sekarang?
Melarat karena ulahnya.”
Aku hanya bisa tersenyum miris mendengar Hamdan terus mengoceh. Terkadang mulutnya sama tajam, dengan ibu-ibu yang kerap bergunjing dalam kerumunan tukang sayur
di pagi hari. Topiknya tetap sama. Dendam menyala-nyala di sorot matanya saat berbicara.
Hamdan masih tak terima. Dulu, Mizwar adalah karyawan baru di tempat ia bekerja. Sementara dirinya saat itu sudah menjabat kepala bagian, posisi yang terbilang penting dengan panghasilan lumayan.
Menurut warta yang kudengar dari orang yang bekerja pada perusahaan yang sama, Hamdan sering lalai dalam tugas. Berbanding terbalik dengan Mizwar
yang punya loyalitas. Berkat kegigihannya, pada tahun pertama ia bekerja Mizwar telah mendapat promosi. Duda satu anak itu naik pangkat, menggantikan Hamdan yang pada
akhirnya dipecat.
Dari sanalah dengki mengakar di hati Hamdan. Ia yang tak punya banyak keahlian, pontang-panting, gali tutup lubang menghidupi keluarganya setelah menjadi pengangguran. Hingga pada akhirnya ia tak punya pilihan, menjadi petani seperti kami jadi satu-satunya jalan.
Roda kehidupan berputar. Kemewahan dan kemilau hidup yang sebelumnya
digenggaman, hilang begitu saja dalam Kun Fayakun Tuhan.
Sementara diam-diam ternyata sesal menggelayuti benak Mizwar. Walau bukan
karena salahnya, ia kerap iba melihat kehidupan Hamdan dan keluarganya setelah tragedi pemecatan. Anak-anak mereka sering terdengar menangis kelaparan. Tak jarang percekcokan
pun terjadi antara Hamdan dan sang istri, karena tak terpenuhinya kebutuhan.
Pernah aku memergoki Mizwar, tengah mengendap-endap menaruh bungkusan besar berisi makanan di depan pintu rumah Hamdan. Alih-alih berterimakasih, keesokan harinya Hamdan justru angkuh berkoar ke seluruh tetangga, bahwa ia masih sanggup membelikan keluarganya makanan enak
nan mahal.
Sekali waktu, dalam obrolan kami di sepanjang perjalanan pulang dari masjid pada suatu malam.
“Jangan-jangan, selama ini kau juga yang mengirim makanan dan bantuan pada si Hamdan?” selidikku.
"Jangan keras-keras,” bisik Mizwar. “Ini antara kau dan aku saja. Aku sungkan,
Hamdan mungkin akan salah paham jika tahu semua itu dariku.”
“Tapi kau tahu bagaimana sikapnya selama ini padamu, War?”
“Ah, biar saja. Secara moral aku hanya merasa bertanggungjawab pada keadaannya sekarang, sebagai tetangga, sebagai sesama manusia. Lagipula aku ini juga seorang bapak. Tak sampai hati mendengar anak-anak Hamdan kesulitan,” ungkapnya.
Sejak hari itu aku tahu, setiap kali datang kiriman dalam bentuk apa pun yang
ditujukan pada Hamdan adalah uluran tangan Mizwar yang dirahasiakan. Namun, pagi tadi sebuah kabar duka yang menggemparkan kudengar. Mizwar yang malang, dinyatakan tewas dalam sebuah kecelakaan. Meninggalkan seorang putri yang kini menjadi
yatim piatu, setelah kedua orang tuanya wafat dalam kurun waktu yang tak lama.
Saat ramai orang berbondong-bondong melayat ke rumah duka, kulihat Hamdan justru tengah ongkang-ongkang di teras rumahnya. Kuputuskan untuk menghampiri. Barangkali ia belum mendengar kabar pilu yang tersiar pagi tadi.
“Hamdan, kau tak pergi takziah? Mizwar meninggal,” kataku.
“Setiap perbuatan itu pasti ada balasannya.” Hamdan menjawab sambil mengepulkan asap rokoknya.
Aku mengernyit. “Maksud kau?”
“Tewasnya si Mizwar itu azab. Dia sudah mematikan rezeki orang lain. Bisa jadi
mobilnya itu juga hasil korupsi, makanya bisa sampai kecelakaan,” celotehnya.
Beristigfar aku sambil mengelus dada. Seandainya saja Hamdan tahu, jasa besar orang yang selalu ia hinakan di dalam hidupnya.
“Dengar, Hamdan, aku ingin menceritakan sebuah kisah padamu,” ucapku.
Kedua alis Hamdan bertaut. “Kisah? Kisah apa?”
“Aku pernah mendengar cerita tentang seorang pengemis Yahudi yang buta. Ia
berdiam di salah satu sudut pasar Kota Madinah. Pengemis buta itu selalu menghina
Rasulullah Muhammad SAW. Dia sering mengumpat bahwa Nabi Muhammad adalah tukang sihir, orang yang tak waras dan sebutan-sebutan keji lainnya. Di sana ada seseorang yang
selalu menemani pengemis buta itu. Dia dengan penuh kasih sayang menyuapi pengemis yang tidak pernah berhenti mencaci maki Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi, orang tersebut
hanya diam saja.” Aku memberi jeda. Hamdan terlihat bingung mendengarkan apa yang kuceritakan.
“Pada suatu hari, orang yang biasa menemani pengemis Yahudi itu tidak hadir. Kemudian datanglah Abu Bakar Ash Shiddiq, berinisiatif untuk menggantikannya. Walau geram, Abu Bakar berusaha menahan diri saat mendengar pengemis itu tak hentinya menghina Rasulullah. Akan tetapi, bukan rasa terima kasih yang di dapatkannya
kemudian. Justru hardikan dan penolakan keras karena pengemis itu menyadari, dia bukan orang yang biasa menemaninya selama ini. Singkat cerita, Abu Bakar pada akhirnya memberitahu pengemis itu, bahwa yang selama ini menemani dirinya tak lain adalah Nabi
Muhammad yang selalu ia fitnah dan hina.”
Hamdan bergeming.
“Kau bisa tebak apa yang terjadi selanjutnya. Betapa malunya pengemis itu.
Tubuhnya yang renta gemetar, air matanya berlinang, dia sangat menyesal.”
“Sudah?” tanya Hamdan.
“Iya, sudah.”
“Kau menceritakan kisah yang bagus.”
“Kau adalah pengemis di dalam kisah itu,” tegasku.
“Apa maksudmu?”
“Iya. Kau adalah pengemis di dalam kisah itu, yang tanpa sadar terus berlaku zalim pada orang yang telah banyak berjasa dalam hidupmu.”
“Kau ini sedang membicarakan apa? Maksudmu aku menzalimi si Mizwar?” Hamdan tertawa terbahak-bahak. “Sudah disogok apa memangnya kau sama dia? Segitunya membela orang itu, heran aku.”
“Aku tidak pernah menerima apa pun, tapi kau. Kau dan keluargamu yang sudah menerima banyak hal dari Mizwar.”
Hamdan bertolak pinggang. “Apa? Apa jasa dia? Coba sebutkan satu saja.”
“Memangnya siapa yang selalu mengirimkan makanan enak ke rumahmu saat anak dan istrimu kelaparan? Siapa yang memberikan bingkisan misterius tanpa nama, berisikan baju bagus, alat-alat sekolah, kebutuhan rumah tangga dan lain-lain? Yang lalu dengan angkuh kau
pamerkan pada semua orang, bahwa semua itu kau yang beli. Belum lagi amplop-amplop berisikan uang yang rutin datang menyambung hidupmu selama ini. Memangnya dari siapa
semua itu—“
“Ya, memangnya dari siapa semua itu?” Dengan suara tinggi Hamdan memotong pembicaraanku. Laki-laki itu tampak geram.
“Mizwar. Semua yang kau terima itu pemberian Mizwar. Aku dan Tuhan saksinya,” pungkasku, kemudian berlalu meninggalkan Hamdan yang berdiri kaku. Mungkin sedang sekarat ia menanggung malu.
Jasad Mizwar telah rampung dikebumikan. Gundukan makamnya bertabur bunga segar. Pilu batinku menyaksikan putri sematang wayangnya memeluk nisan. Entah apa yang sedang gadis belia itu pikirkan. Sebatang kara ia kini. Tak ada sanak keluarga tempatnya menitip diri. Kami para tetangganya hanya bisa mengibai. Bergantian mendekap, menenangkan hati, dan mengusap wajahnya yang basah.
Kemudian yang tak terduga, Hamdan datang bersama anak dan istrinya. Raut wajah laki-laki itu berubah. Sayu matanya tampak basah. Beberapa orang saling berbisik. Kehadiran Hamdan di sana seperti kemustahilan yang terpatahkan.
“Maafkan aku,” isak Hamdan.
Tak lama kemudian sang istri melangkah, mendekati putri mendiang Mizwar. Dipeluknya erat gadis itu, tak henti berucap terima kasih sambil tersedu.
“Aku ini manusia tidak tahu diri,” sesal Hamdan, duduk termenung di sisi makam.
“Izinkan aku merawat putrimu seperti anakku sendiri, walaupun mungkin tidak akan pernah cukup
untuk membalas segala budi baikmu kepada kami, Mizwar.”
Serentak kami pun berucap syukur. Seiring embus angin menjatuhkan tangkai-tangkai bunga kamboja kuning, terhampar di atas rumput yang mengering.
Selesai.
0