- Beranda
- Stories from the Heart
Naga Sasra & Sabuk Inten
...
TS
nandeko
Naga Sasra & Sabuk Inten

NAGA SASRA & SABUK INTEN
Kisah ini merupakan karangan dari S.H Mintardja. Disini TS sudah mendapatkan ijin untuk sekedar membagikan dan mempermudahkan pembaca untuk menikmati kisah ini dalam bentuk digital
INDEX
Quote:
Spoiler for JILID 1:
Spoiler for JILID 2:
Spoiler for JILID 3:
Spoiler for JILID 4:
Spoiler for JILID 5:
Spoiler for JILID 6:
Part 114
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Spoiler for JILID 7:
Spoiler for JILID 8:
Spoiler for JILID 9:
Spoiler for JILID 10:
Pengarang dan Hakcipta©
Singgih Hadi Mintardja
Singgih Hadi Mintardja
Diubah oleh nandeko 21-10-2021 14:24
whadi05 dan 43 lainnya memberi reputasi
42
62.2K
Kutip
1.2K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
nandeko
#38
Jilid 2 [Part 27]
Spoiler for :
Segera setelah itu, Ki Asem Gede beserta kawan-kawannya meninggalkan tempat itu untuk menghantar Nyi Wirasaba kepada suaminya yang rumahnya tak begitu jauh, hanya berantara dua bulak yang tak begitu lebar.
Di perjalanan itu, timbullah suatu pertanyaan di hati Mahesa Jenar maupun Mantingan.
Sebenarnya pertanyaan itu telah timbul sejak mereka mengetahui persoalan Nyi Wirasaba.
Dalam persoalan ini, kenapa Ki Wirasaba sendiri tidak berbuat sesuatu untuk membebaskan istrinya? Bahkan yang didengar oleh Mahesa Jenar dari murid Wirasaba yang menghadap Ki Asem Gede, sudah ada dua orang murid Wirasaba terluka.
Mengingat bahwa Ki Wirasaba sedikitnya memiliki empat orang murid, menunjukkan bahwa ia pun memiliki pengetahuan tentang tata berkelahi, tetapi ia tak berbuat apa-apa. Itulah suatu hal yang aneh. Mungkinkah Ki Wirasaba tidak mencintai istrinya, atau barangkali terikat sesuatu perjanjian dengan Samparan dan kawan-kawannya?
Mahesa Jenar dan Mantingan, seperti orang yang sepakat untuk tidak menanyakan hal itu. Mereka takut kalau-kalau ada suatu rahasia yang dapat menyinggung kehormatan Ki Asem Gede.
Setelah mereka berjalan beberapa lama, segera mereka memasuki desa tempat Ki Wirasaba tinggal.
RUMAH Ki Wirasaba adalah rumah yang cukup besar, berdiri di tepi jalan induk di desanya. Berhalaman luas dan mempunyai ciri-ciri yang agak berbeda dengan halaman di sekelilingnya. Halaman Ki Wirasaba disegarkan oleh tanaman-tanaman berbunga yang berdaun hijau sejuk. Di sudut halaman terdapat sebuah jambangan berisi air yang bersih bening. Dan di sana-sini bergantung sangkar-sangkar burung. Berkeliaran pula binatang-binatang piaraan ayam, itik, angsa dan sebagainya.
Halaman itu berdinding batu merah yang disusun teratur, yang seakan-akan menjadi batas dari dua daerah yang tampak sangat berlainan. Halaman-halaman lain di desa itu masih ditumbuhi bermacam-macam pohon serba tak teratur. Bahkan di sana-sini masih ada pohon-pohon liar yang tumbuh, rumpun-rumpun bambu yang hebat, pohon beringin tua, dan randu alas, yang masih merupakan tempat-tempat yang dianggap keramat oleh penduduk di sekitarnya.
Waktu Mahesa Jenar dan Mantingan melangkahkan kaki memasuki halaman rumah Ki Wirasaba, telah dijalari suatu perasaan aneh. Mereka berdua adalah orang-orang yang telah banyak melihat daerah-daerah lain, bahkan kota-kota besar, tetapi jarang mereka merasakan kesejukan seperti yang dirasakan pada saat itu. Alangkah mesranya tangan yang telah menggarapnya, sehingga halaman itu menjadi begitu indahnya.
Tetapi mereka tidak sempat merasakan kesejukan itu lebih lama lagi. Tiba-tiba mereka tersentak melihat Nyi Wirasaba yang tiba-tiba saja berlari mendahuluinya. Pintu rumah itu, yang ternyata tidak terkunci, didorongnya kuat-kuat sehingga hampir saja ia jatuh tertelungkup. Ia segera menghilang di balik pintu rumahnya. Segera setelah itu terdengarlah suara Nyi Wirasaba bercampur isak yang tertahan.
Ki Asem Gede, Mantingan dan Mahesa Jenar tertegun sejenak. Suatu peristiwa yang mengharukan. Pertemuan antara seorang istri dengan suaminya yang dicintai, setelah mereka dipisahkan beberapa saat tanpa adanya suatu harapan untuk dapat bertemu kembali.
Ki Asem Gede bertiga berdiri saja di muka pintu seperti patung. Sebentar kemudian terdengarlah suara yang berat dan dalam.
Mendengar jawaban itu, mendadak tangis Nyi Wirasaba terputus karena terkejut. Ia tidak begitu mengerti maksud jawaban suaminya, dan karena itu ia bertanya kepada Ki Wirasaba.
Mendengar penjelasan itu, Nyai Wirasaba terkejut bukan kepalang, maka kembali meledaklah tangisnya.
Mendengar jawaban itu, Ki Asem Gede tidak kalah terkejutnya. Maka segera ia melompati pintu dan cepat-cepat menemui menantunya. Mahesa Jenar dan Mantingan yang merasa berkepentingan pula, segera mengikuti Ki Asem Gede. Barangkali mereka dapat menolong memberikan beberapa keterangan yang diperlukan.
Mendengar kata-kata Wirasaba, Mahesa Jenar dan Mantingan dapat menduga, kalau orang itu mempunyai harga diri yang cukup tinggi. Tetapi yang masih merupakan pertanyaan, mengapa Wirasaba sendiri tak berbuat sesuatu untuk membebaskan istrinya?
Melihat kedatangan Ki Asem Gede dan dua orang yang tak dikenalnya, Wirasaba menjadi agak terkejut. Tetapi segera ia membungkuk hormat dengan tetap masih duduk bersila di atas pembaringannya.
Wirasaba diam sejenak. Ia tundukkan kepalanya sambil berpikir. Sebenarnya ia adalah seorang jantan yang memang agak tinggi hati. Ia tidak mau menerima pertolongan orang lain berdasarkan belas kasihan. Apalagi dalam persoalan ini, persoalan seorang istri.
Ki Asem Gede tertegun sejenak. Ingin ia mengaku telah membebaskan anaknya untuk menjaga perasaan menantunya, tetapi ia takut kalau dengan demikian ia dikira orang yang tak mengenal budi. Sebaliknya Mahesa Jenar pun sebenarnya ingin mengatakan bahwa Ki Asem Gede telah membebaskan anaknya, tetapi ia pun takut kalau-kalau hal ini dianggap merendahkan orang tua itu.
MELIHAT gelagat yang demikian, Ki Wirasaba dapat menebak bahwa seseorang telah membebaskan istrinya. Bahkan tidak mustahil kalau orang itu adalah salah seorang yang sekarang berada di hadapannya, atau kedua-duanya. Maka segera muncullah sifat tinggi hatinya.
Di perjalanan itu, timbullah suatu pertanyaan di hati Mahesa Jenar maupun Mantingan.
Sebenarnya pertanyaan itu telah timbul sejak mereka mengetahui persoalan Nyi Wirasaba.
Dalam persoalan ini, kenapa Ki Wirasaba sendiri tidak berbuat sesuatu untuk membebaskan istrinya? Bahkan yang didengar oleh Mahesa Jenar dari murid Wirasaba yang menghadap Ki Asem Gede, sudah ada dua orang murid Wirasaba terluka.
Mengingat bahwa Ki Wirasaba sedikitnya memiliki empat orang murid, menunjukkan bahwa ia pun memiliki pengetahuan tentang tata berkelahi, tetapi ia tak berbuat apa-apa. Itulah suatu hal yang aneh. Mungkinkah Ki Wirasaba tidak mencintai istrinya, atau barangkali terikat sesuatu perjanjian dengan Samparan dan kawan-kawannya?
Mahesa Jenar dan Mantingan, seperti orang yang sepakat untuk tidak menanyakan hal itu. Mereka takut kalau-kalau ada suatu rahasia yang dapat menyinggung kehormatan Ki Asem Gede.
Setelah mereka berjalan beberapa lama, segera mereka memasuki desa tempat Ki Wirasaba tinggal.
RUMAH Ki Wirasaba adalah rumah yang cukup besar, berdiri di tepi jalan induk di desanya. Berhalaman luas dan mempunyai ciri-ciri yang agak berbeda dengan halaman di sekelilingnya. Halaman Ki Wirasaba disegarkan oleh tanaman-tanaman berbunga yang berdaun hijau sejuk. Di sudut halaman terdapat sebuah jambangan berisi air yang bersih bening. Dan di sana-sini bergantung sangkar-sangkar burung. Berkeliaran pula binatang-binatang piaraan ayam, itik, angsa dan sebagainya.
Halaman itu berdinding batu merah yang disusun teratur, yang seakan-akan menjadi batas dari dua daerah yang tampak sangat berlainan. Halaman-halaman lain di desa itu masih ditumbuhi bermacam-macam pohon serba tak teratur. Bahkan di sana-sini masih ada pohon-pohon liar yang tumbuh, rumpun-rumpun bambu yang hebat, pohon beringin tua, dan randu alas, yang masih merupakan tempat-tempat yang dianggap keramat oleh penduduk di sekitarnya.
Waktu Mahesa Jenar dan Mantingan melangkahkan kaki memasuki halaman rumah Ki Wirasaba, telah dijalari suatu perasaan aneh. Mereka berdua adalah orang-orang yang telah banyak melihat daerah-daerah lain, bahkan kota-kota besar, tetapi jarang mereka merasakan kesejukan seperti yang dirasakan pada saat itu. Alangkah mesranya tangan yang telah menggarapnya, sehingga halaman itu menjadi begitu indahnya.
Tetapi mereka tidak sempat merasakan kesejukan itu lebih lama lagi. Tiba-tiba mereka tersentak melihat Nyi Wirasaba yang tiba-tiba saja berlari mendahuluinya. Pintu rumah itu, yang ternyata tidak terkunci, didorongnya kuat-kuat sehingga hampir saja ia jatuh tertelungkup. Ia segera menghilang di balik pintu rumahnya. Segera setelah itu terdengarlah suara Nyi Wirasaba bercampur isak yang tertahan.
Quote:
”Kakang …, Kakang Wirasaba …, aku kembali Kakang. Kembali kepadamu….” Sesudah itu, yang terdengar hanyalah tangis Nyi Wirasaba yang tak tertahan lagi.
Ki Asem Gede, Mantingan dan Mahesa Jenar tertegun sejenak. Suatu peristiwa yang mengharukan. Pertemuan antara seorang istri dengan suaminya yang dicintai, setelah mereka dipisahkan beberapa saat tanpa adanya suatu harapan untuk dapat bertemu kembali.
Ki Asem Gede bertiga berdiri saja di muka pintu seperti patung. Sebentar kemudian terdengarlah suara yang berat dan dalam.
Quote:
”Nyai, masihkah aku berhak menerima kau kembali? Atau masih berhakkah kau kembali kepadaku …?”
Mendengar jawaban itu, mendadak tangis Nyi Wirasaba terputus karena terkejut. Ia tidak begitu mengerti maksud jawaban suaminya, dan karena itu ia bertanya kepada Ki Wirasaba.
Quote:
”Apakah maksudmu, Kakang?”
”Nyai, kalau kau dibebaskan oleh Samparan dan kawan-kawannya setelah kau menyerahkan dirimu, maka kau tidak berhak lagi kembali kepadaku. Tetapi kalau ada orang lain yang membebaskan engkau, Nyai, maka akulah yang tidak berhak menerima kau kembali.”
”Nyai, kalau kau dibebaskan oleh Samparan dan kawan-kawannya setelah kau menyerahkan dirimu, maka kau tidak berhak lagi kembali kepadaku. Tetapi kalau ada orang lain yang membebaskan engkau, Nyai, maka akulah yang tidak berhak menerima kau kembali.”
Mendengar penjelasan itu, Nyai Wirasaba terkejut bukan kepalang, maka kembali meledaklah tangisnya.
Quote:
”Kakang, aku masih bersih seperti kemarin, Kakang. Bukankah dengan demikian aku masih berhak kembali kepadamu? Kalau aku tidak lagi merasa berhak kembali kepadamu, kau hanya akan tinggal dapat mengenang namaku, sebab aku telah bertekad untuk bunuh diri. Tetapi kalau orang lain yang membebaskan aku, kenapa kau merasa tidak berhak lagi menerima aku?” kata Nyi Wirasaba diantara sedu-sedannya.
”Nyai, laki-laki yang tahu diri, hanya dapat memetik buah dari pohon yang ditanamnya sendiri,” jawab Wirasaba.
”Nyai, laki-laki yang tahu diri, hanya dapat memetik buah dari pohon yang ditanamnya sendiri,” jawab Wirasaba.
Mendengar jawaban itu, Ki Asem Gede tidak kalah terkejutnya. Maka segera ia melompati pintu dan cepat-cepat menemui menantunya. Mahesa Jenar dan Mantingan yang merasa berkepentingan pula, segera mengikuti Ki Asem Gede. Barangkali mereka dapat menolong memberikan beberapa keterangan yang diperlukan.
Mendengar kata-kata Wirasaba, Mahesa Jenar dan Mantingan dapat menduga, kalau orang itu mempunyai harga diri yang cukup tinggi. Tetapi yang masih merupakan pertanyaan, mengapa Wirasaba sendiri tak berbuat sesuatu untuk membebaskan istrinya?
Melihat kedatangan Ki Asem Gede dan dua orang yang tak dikenalnya, Wirasaba menjadi agak terkejut. Tetapi segera ia membungkuk hormat dengan tetap masih duduk bersila di atas pembaringannya.
Quote:
”Selamat datang Bapak Asem Gede.”
Ki Asem Gede membalas hormat.
”Selamat Wirasaba, aku datang mengantarkan istrimu. Mudah-mudahan kau mau menerimanya dengan baik. Kau tidak usah mempersoalkan siapakah yang membebaskannya. Yang penting, ia pulang dengan selamat, dan masih tetap seperti saat ia diambil darimu.”
Ki Asem Gede membalas hormat.
”Selamat Wirasaba, aku datang mengantarkan istrimu. Mudah-mudahan kau mau menerimanya dengan baik. Kau tidak usah mempersoalkan siapakah yang membebaskannya. Yang penting, ia pulang dengan selamat, dan masih tetap seperti saat ia diambil darimu.”
Wirasaba diam sejenak. Ia tundukkan kepalanya sambil berpikir. Sebenarnya ia adalah seorang jantan yang memang agak tinggi hati. Ia tidak mau menerima pertolongan orang lain berdasarkan belas kasihan. Apalagi dalam persoalan ini, persoalan seorang istri.
Quote:
”Siapakah yang telah membebaskan istriku?” tanya Wirasaba.
Ki Asem Gede tertegun sejenak. Ingin ia mengaku telah membebaskan anaknya untuk menjaga perasaan menantunya, tetapi ia takut kalau dengan demikian ia dikira orang yang tak mengenal budi. Sebaliknya Mahesa Jenar pun sebenarnya ingin mengatakan bahwa Ki Asem Gede telah membebaskan anaknya, tetapi ia pun takut kalau-kalau hal ini dianggap merendahkan orang tua itu.
MELIHAT gelagat yang demikian, Ki Wirasaba dapat menebak bahwa seseorang telah membebaskan istrinya. Bahkan tidak mustahil kalau orang itu adalah salah seorang yang sekarang berada di hadapannya, atau kedua-duanya. Maka segera muncullah sifat tinggi hatinya.
Quote:
“Bapak Asem Gede, aku mempunyai dugaan bahwa orang itu telah membebaskan istriku. Aku juga mempunyai dugaan bahwa orang itu telah berhasil membebaskan istriku dengan kekerasan. Sebab mustahil Samparan dan Watu Gunung akan melepaskan korbannya begitu saja sebelum nyawanya dapat dicabut. Adakah orang yang menyabung nyawa tanpa pamrih?”
aripinastiko612 dan 7 lainnya memberi reputasi
8
Kutip
Balas