- Beranda
- Stories from the Heart
Naga Sasra & Sabuk Inten
...
TS
nandeko
Naga Sasra & Sabuk Inten

NAGA SASRA & SABUK INTEN
Kisah ini merupakan karangan dari S.H Mintardja. Disini TS sudah mendapatkan ijin untuk sekedar membagikan dan mempermudahkan pembaca untuk menikmati kisah ini dalam bentuk digital
INDEX
Quote:
Spoiler for JILID 1:
Spoiler for JILID 2:
Spoiler for JILID 3:
Spoiler for JILID 4:
Spoiler for JILID 5:
Spoiler for JILID 6:
Part 114
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Spoiler for JILID 7:
Spoiler for JILID 8:
Spoiler for JILID 9:
Spoiler for JILID 10:
Pengarang dan Hakcipta©
Singgih Hadi Mintardja
Singgih Hadi Mintardja
Diubah oleh nandeko 21-10-2021 14:24
whadi05 dan 43 lainnya memberi reputasi
42
62.2K
Kutip
1.2K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
nandeko
#30
Jilid 2 [Part 21]
Spoiler for :
TERNYATA benda itu adalah sebilah pisau yang pada tangkainyadiikatkan secarik kain yang bergambar seekor kelelawar hijau dengan kepala serigala. Melihat pisau itu tertancap begitu dalam, hati Mahesa Jenar tersirap juga. Kalau saja pisau itu menancap di dadanya, entahlah apa jadinya.
Sementara itu terjadilah suatu hal di luar dugaan. Setelah melemparkan pisaunya, segera Lawa Ijo meloncat ke belakang dan secepat kilat ia melarikan diri. Mahesa Jenar tentu saja tak membiarkan Lawa Ijo lari, sehingga ia segera mengejarnya. Tetapi di luar dugaannya pula, kedua orang yang turut mengeroyok Gajah Alit segera meninggalkannya dan menghadangnya.
Mereka sekarang sudah memegang senjata di tangan masing-masing. Sebuah belati panjang. Mahesa Jenar menjadi jengkel sekali. Sedianya ia sama sekali tak ingin melayani orang itu, supaya tidak kehilangan Lawa Ijo. Tetapi kedua orang itu nekad menyerang Mahesa Jenar. Terpaksa Mahesa Jenar berhenti untuk melayani kedua orang itu. Baik Mahesa Jenar maupun Gajah Alit mengerti akan maksud kedua pembantu Lawa Ijo itu, yaitu untuk memberi kesempatan kepada pemimpinnya supaya dapat meloloskan diri.
Karena itu Gajah Alit pun berusaha untuk menghindari pertarungan dengan lawannya yang tinggal seorang itu untuk dapat mengejar Lawa Ijo. Tetapi lawannya itu pun sudah seperti orang kemasukan setan. Maka akhirnya Mahesa Jenar dan Gajah Alit mengambil keputusan untuk menyelesaikan lawan masing-masing, baru berusaha menangkap Lawa Ijo.
Tetapi belum lagi mereka berhasil menyelesaikan pertempuran itu, Lawa Ijo telah meloncat ke atas dinding halaman. Kemudian kembali terdengar suara tertawa itu, suara tertawa yang menusuk-nusuk hati begitu pedihnya seperti suara rintihan hantu kubur. Dengan cepat tertawanya itu makin lama makin terdengar jauh dan lemah.
Menyaksikan hilangnya Lawa Ijo di depan matanya, Mahesa jenar dan Gajah Alit menjadi gusar bukan kepalang. Dan sekarang kegusarannya itu hanya dapat ditumpahkan kepada lawannya yang ketika itu juga sudah berusaha untuk melarikan diri. Maka dengan kekuatan penuh, Mahesa Jenar segera menghantam lawannya. Pisau yang dipegang oleh kedua orang itu sama sekali tak berarti.
Pukulan Mahesa Jenar melayang mengenai kepala salah seorang di antaranya, sehingga terdengar suatu jerit ngeri. Disusul teriakan keras dari yang seorang lagi karena tulang-tulang rusuknya rontok disambar kaki Mahesa Jenar. Maka seperti batang pisang keduanya roboh di tanah dan tak bergerak-gerak lagi.
Belum lagi gema teriakan itu berhenti, terdengarlah suara keluhan yang tertahan. Rupanya Gajah Alit pun berhasil menyelesaikan pertempurannya. Hanya saja ia mempunyai cara sendiri untuk menumpahkan kemarahannya. Dengan tangannya yang pendek kukuh itu ia menyambar leher lawannya. Lalu dengan ibu jarinya yang kokoh ia menekan leher itu sampai nafas lawannya putus.
Namun meskipun pada pagi harinya terjadi kegemparan dalam istana, serta hampir tiap-tiap mulut menyatakan pujian terhadap Mahesa Jenar dan Gajah Alit, yang telah berhasil menggagalkan usaha Lawa Ijo, bahkan dapat pula membinasakan empat orang anggotanya, tetapi Mahesa Jenar tetap merasa kagum akan kekuatan tenaga batin lawannya. Meskipun terjadi perkelahian begitu hebatnya, serta beberapa kali terdengar teriakan dan suitan, namun tak seorang pun dari mereka yang tertidur karena pengaruh sirep itu terbangun.
Apalagi suara tertawa itu. Alangkah tajamnya, sehingga mempunyai pengaruh yang luar biasa. Orang yang tidak mempunyai daya tahan yang kuat tentu akan terpengaruh karenanya, akhirnya menggigil ngeri dan kehilangan tenaga.
Sekarang, pada saat ia bertanding melawan Watu Gunung untuk kepentingan Ki Asem Gede, kembali ia mendengar tertawa yang demikian. Mirip sekali dengan suara tertawa Lawa Ijo. Orang-orang yang tak berkepentingan serta tak terlibat dalam perkelahian itu pun menjadi menggigil karenanya. Bahkan beberapa orang telah terduduk lemah tanpa kekuatan lagi untuk dapat berdiri.
Mengingat pengalaman berhadapan dengan Lawa Ijo, kegusaran hati Mahesa Jenar seperti tergugah. Dalam sejarah hidupnya belum pernah ada seseorang penjahat yang sudah berada di bawah hidungnya terluput dari tangannya. Meskipun ia sekarang bukan lagi seorang prajurit Demak, ia tetap memiliki jiwa pengabdian untuk kedamaian hati rakyat. Karena itu sekali lagi ia ingin bertemu dengan Lawa Ijo, yang sejak peristiwa itu namanya tak pernah terdengar lagi.
Mahesa Jenar yakin, bahwa apabila tak terbinasakan, pada suatu saat pasti Lawa Ijo akan muncul kembali. Watu Gunung yang memiliki ciri-ciri khas sama dengan Lawa Ijo, tentu mempunyai hubungan erat. Mungkin Watu Gunung adalah bekas gerombolan Lawa Ijo, atau mungkin juga muridnya. Maka timbullah keinginan Mahesa Jenar untuk mempermainkan orang ini sebagai undangan buat kehadiran Lawa Ijo.
Kenangan dan pikiran-pikiran itu hanya sebentar saja melintas di otak Mahesa Jenar. Sementara itu suara tertawa Watu Gunung sudah kian lemah, kian lemah. Para penonton pun menjadi kian ngeri dan ketakutan. Beberapa orang diantaranya terjatuh lemas seperti dicopoti tulang-tulangnya. Saat yang mengerikan tentu segera tiba. Para penonton yang mengharap segera berakhir riwayat kelima iblis itu, meratap dalam hati.
Tepat pada saat mulut Watu Ganung terkatup, matanya segera berubah jadi merah dan liar. Wajahnya tampak bertambah bengis. Ia memandang Mahesa Jenar dengan tajam. Tangannya direntangkan ke samping, sedangkan jari-jarinya yang kuat itu dikembangkan, siap untuk menerkam dan merobek lawannya. Setapak demi setapak ia maju mendekati umpannya.
Sementara Mahesa Jenar pun telah siap, dan telah mendapat keputusan untuk mempermainkan lawannya. Tetapi ia tetap waspada dan hati-hati, sebab ia tahu betapa kuatnya Lawa Ijo. Kalau saja orang ini dapat mewarisi segala kehebatan Lawa Ijo, pertarungan tentu akan menjadi sangat sengit.
Ketika jarak mereka tinggal kira-kira dua depa, Watu Gunung menggeram hebat. Lalu dengan gerak yang cepat sekali ia melompat menerkam Mahesa Jenar. Serangan yang dilontarkan dengan sepenuh tenaga, serta dari jarak yang begitu dekat dengan kecepatan yang tinggi, menjadikan darah para penonton berdesir. Apalagi ketika mereka melihat Mahesa Jenar tidak sempat menghindari serangan itu. Ia hanya dapat melindungi dirinya dengan tangannya, yang disilangkan di muka dadanya untuk menahan terkaman jari-jari Watu Gunung.
Memang saat itu Mahesa Jenar sama sekali tidak berusaha menghindar. Ia hanya mempergunakan tangannya untuk melindungi dadanya.
KETIKA serangan itu datang, terdengarlah beberapa jeritan tertahan, justru dari para penonton. Sedangkan Ki Asem Gede pun tak sempat mengedipkan matanya. Mereka mengira bahwa akan terjadi suatu benturan yang dahsyat dan tangan Mahesa Jenar akan dipatahkan.
Tetapi apa yang terjadi adalah jauh dari itu. Sama sekali tak terjadi benturan yang keras. Sebab waktu tangan Watu Gunung menyentuh tangannya, Mahesa Jenar surut ke belakang selangkah untuk memusnahkan tenaga lawan. Sesudah itu ia gunakan enam bagian tenaganya untuk mendorong lawannya.
Sementara itu terjadilah suatu hal di luar dugaan. Setelah melemparkan pisaunya, segera Lawa Ijo meloncat ke belakang dan secepat kilat ia melarikan diri. Mahesa Jenar tentu saja tak membiarkan Lawa Ijo lari, sehingga ia segera mengejarnya. Tetapi di luar dugaannya pula, kedua orang yang turut mengeroyok Gajah Alit segera meninggalkannya dan menghadangnya.
Mereka sekarang sudah memegang senjata di tangan masing-masing. Sebuah belati panjang. Mahesa Jenar menjadi jengkel sekali. Sedianya ia sama sekali tak ingin melayani orang itu, supaya tidak kehilangan Lawa Ijo. Tetapi kedua orang itu nekad menyerang Mahesa Jenar. Terpaksa Mahesa Jenar berhenti untuk melayani kedua orang itu. Baik Mahesa Jenar maupun Gajah Alit mengerti akan maksud kedua pembantu Lawa Ijo itu, yaitu untuk memberi kesempatan kepada pemimpinnya supaya dapat meloloskan diri.
Karena itu Gajah Alit pun berusaha untuk menghindari pertarungan dengan lawannya yang tinggal seorang itu untuk dapat mengejar Lawa Ijo. Tetapi lawannya itu pun sudah seperti orang kemasukan setan. Maka akhirnya Mahesa Jenar dan Gajah Alit mengambil keputusan untuk menyelesaikan lawan masing-masing, baru berusaha menangkap Lawa Ijo.
Tetapi belum lagi mereka berhasil menyelesaikan pertempuran itu, Lawa Ijo telah meloncat ke atas dinding halaman. Kemudian kembali terdengar suara tertawa itu, suara tertawa yang menusuk-nusuk hati begitu pedihnya seperti suara rintihan hantu kubur. Dengan cepat tertawanya itu makin lama makin terdengar jauh dan lemah.
Menyaksikan hilangnya Lawa Ijo di depan matanya, Mahesa jenar dan Gajah Alit menjadi gusar bukan kepalang. Dan sekarang kegusarannya itu hanya dapat ditumpahkan kepada lawannya yang ketika itu juga sudah berusaha untuk melarikan diri. Maka dengan kekuatan penuh, Mahesa Jenar segera menghantam lawannya. Pisau yang dipegang oleh kedua orang itu sama sekali tak berarti.
Pukulan Mahesa Jenar melayang mengenai kepala salah seorang di antaranya, sehingga terdengar suatu jerit ngeri. Disusul teriakan keras dari yang seorang lagi karena tulang-tulang rusuknya rontok disambar kaki Mahesa Jenar. Maka seperti batang pisang keduanya roboh di tanah dan tak bergerak-gerak lagi.
Belum lagi gema teriakan itu berhenti, terdengarlah suara keluhan yang tertahan. Rupanya Gajah Alit pun berhasil menyelesaikan pertempurannya. Hanya saja ia mempunyai cara sendiri untuk menumpahkan kemarahannya. Dengan tangannya yang pendek kukuh itu ia menyambar leher lawannya. Lalu dengan ibu jarinya yang kokoh ia menekan leher itu sampai nafas lawannya putus.
Namun meskipun pada pagi harinya terjadi kegemparan dalam istana, serta hampir tiap-tiap mulut menyatakan pujian terhadap Mahesa Jenar dan Gajah Alit, yang telah berhasil menggagalkan usaha Lawa Ijo, bahkan dapat pula membinasakan empat orang anggotanya, tetapi Mahesa Jenar tetap merasa kagum akan kekuatan tenaga batin lawannya. Meskipun terjadi perkelahian begitu hebatnya, serta beberapa kali terdengar teriakan dan suitan, namun tak seorang pun dari mereka yang tertidur karena pengaruh sirep itu terbangun.
Apalagi suara tertawa itu. Alangkah tajamnya, sehingga mempunyai pengaruh yang luar biasa. Orang yang tidak mempunyai daya tahan yang kuat tentu akan terpengaruh karenanya, akhirnya menggigil ngeri dan kehilangan tenaga.
Sekarang, pada saat ia bertanding melawan Watu Gunung untuk kepentingan Ki Asem Gede, kembali ia mendengar tertawa yang demikian. Mirip sekali dengan suara tertawa Lawa Ijo. Orang-orang yang tak berkepentingan serta tak terlibat dalam perkelahian itu pun menjadi menggigil karenanya. Bahkan beberapa orang telah terduduk lemah tanpa kekuatan lagi untuk dapat berdiri.
Mengingat pengalaman berhadapan dengan Lawa Ijo, kegusaran hati Mahesa Jenar seperti tergugah. Dalam sejarah hidupnya belum pernah ada seseorang penjahat yang sudah berada di bawah hidungnya terluput dari tangannya. Meskipun ia sekarang bukan lagi seorang prajurit Demak, ia tetap memiliki jiwa pengabdian untuk kedamaian hati rakyat. Karena itu sekali lagi ia ingin bertemu dengan Lawa Ijo, yang sejak peristiwa itu namanya tak pernah terdengar lagi.
Mahesa Jenar yakin, bahwa apabila tak terbinasakan, pada suatu saat pasti Lawa Ijo akan muncul kembali. Watu Gunung yang memiliki ciri-ciri khas sama dengan Lawa Ijo, tentu mempunyai hubungan erat. Mungkin Watu Gunung adalah bekas gerombolan Lawa Ijo, atau mungkin juga muridnya. Maka timbullah keinginan Mahesa Jenar untuk mempermainkan orang ini sebagai undangan buat kehadiran Lawa Ijo.
Kenangan dan pikiran-pikiran itu hanya sebentar saja melintas di otak Mahesa Jenar. Sementara itu suara tertawa Watu Gunung sudah kian lemah, kian lemah. Para penonton pun menjadi kian ngeri dan ketakutan. Beberapa orang diantaranya terjatuh lemas seperti dicopoti tulang-tulangnya. Saat yang mengerikan tentu segera tiba. Para penonton yang mengharap segera berakhir riwayat kelima iblis itu, meratap dalam hati.
Tepat pada saat mulut Watu Ganung terkatup, matanya segera berubah jadi merah dan liar. Wajahnya tampak bertambah bengis. Ia memandang Mahesa Jenar dengan tajam. Tangannya direntangkan ke samping, sedangkan jari-jarinya yang kuat itu dikembangkan, siap untuk menerkam dan merobek lawannya. Setapak demi setapak ia maju mendekati umpannya.
Sementara Mahesa Jenar pun telah siap, dan telah mendapat keputusan untuk mempermainkan lawannya. Tetapi ia tetap waspada dan hati-hati, sebab ia tahu betapa kuatnya Lawa Ijo. Kalau saja orang ini dapat mewarisi segala kehebatan Lawa Ijo, pertarungan tentu akan menjadi sangat sengit.
Ketika jarak mereka tinggal kira-kira dua depa, Watu Gunung menggeram hebat. Lalu dengan gerak yang cepat sekali ia melompat menerkam Mahesa Jenar. Serangan yang dilontarkan dengan sepenuh tenaga, serta dari jarak yang begitu dekat dengan kecepatan yang tinggi, menjadikan darah para penonton berdesir. Apalagi ketika mereka melihat Mahesa Jenar tidak sempat menghindari serangan itu. Ia hanya dapat melindungi dirinya dengan tangannya, yang disilangkan di muka dadanya untuk menahan terkaman jari-jari Watu Gunung.
Memang saat itu Mahesa Jenar sama sekali tidak berusaha menghindar. Ia hanya mempergunakan tangannya untuk melindungi dadanya.
KETIKA serangan itu datang, terdengarlah beberapa jeritan tertahan, justru dari para penonton. Sedangkan Ki Asem Gede pun tak sempat mengedipkan matanya. Mereka mengira bahwa akan terjadi suatu benturan yang dahsyat dan tangan Mahesa Jenar akan dipatahkan.
Tetapi apa yang terjadi adalah jauh dari itu. Sama sekali tak terjadi benturan yang keras. Sebab waktu tangan Watu Gunung menyentuh tangannya, Mahesa Jenar surut ke belakang selangkah untuk memusnahkan tenaga lawan. Sesudah itu ia gunakan enam bagian tenaganya untuk mendorong lawannya.
johny251976 dan 9 lainnya memberi reputasi
10
Kutip
Balas