- Beranda
- Stories from the Heart
Naga Sasra & Sabuk Inten
...
TS
nandeko
Naga Sasra & Sabuk Inten

NAGA SASRA & SABUK INTEN
Kisah ini merupakan karangan dari S.H Mintardja. Disini TS sudah mendapatkan ijin untuk sekedar membagikan dan mempermudahkan pembaca untuk menikmati kisah ini dalam bentuk digital
INDEX
Quote:
Spoiler for JILID 1:
Spoiler for JILID 2:
Spoiler for JILID 3:
Spoiler for JILID 4:
Spoiler for JILID 5:
Spoiler for JILID 6:
Part 114
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Spoiler for JILID 7:
Spoiler for JILID 8:
Spoiler for JILID 9:
Spoiler for JILID 10:
Pengarang dan Hakcipta©
Singgih Hadi Mintardja
Singgih Hadi Mintardja
Diubah oleh nandeko 21-10-2021 14:24
whadi05 dan 43 lainnya memberi reputasi
42
63.1K
Kutip
1.2K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
nandeko
#28
Jilid 2 [Part 19]
Spoiler for :
Ketika suara tertawa dari Watu Gunung makin menurun, para penonton pun menjadi semakin gelisah. Sebab, demikian suara itu berhenti, demikian Watu Gunung akan menyerang dengan dahsyatnya tanpa menghiraukan hantaman lawan. Dan biasanya pada waktu yang singkat ia telah berhasil meringkus kaki lawan itu dan membenturkan kepalanya di pohon sawo.
Berbeda dengan semua pikiran-pikiran itu, tiba-tiba Mahesa Jenar mendapat kesan yang aneh dari suara tertawa itu. Ia jadi terkenang pada suatu peristiwa yang sangat memalukan dan hampir-hampir menjatuhkan namanya. Peristiwa itu terjadi beberapa waktu yang lalu ketika ia masih menjabat sebagai perwira pasukan pengawal raja.
Pada saat Demak sedang membentuk dirinya dan memperkokoh kedudukannya, di mana dibutuhkan kekuatan yang sebesar-besarnya, maka di daerah pantai selatan berdirilah suatu himpunan dari beberapa tokoh-tokoh sakti dari golongan hitam yang ingin mempergunakan kesempatan untuk kepentingan diri sendiri serta golongannya. Gerombolan ini diketuai oleh seorang yang sakti dan berkekuatan luar biasa, yang menamakan dirinya Lawa Ijo. Sehingga gerombolan itu pun kemudian lazim disebut gerombolan Lawa Ijo.
Pada masa jayanya, Lawa Ijo mempunyai daerah pengaruh yang luas di daerah selatan sepanjang pantai sampai ke daerah Bagelen dan Banyumas. Menurut kabar, gerombolan ini bersarang di hutan Mentaok.
Demikian merasa dirinya begitu kuat, sampai Lawa Ijo sendiri beserta beberapa orang kepercayaannya berani melakukan pengacauan di ibukota kerajaan Demak. Meskipun pasukan keamanan sudah dikerahkan namun Lawa Ijo tak pernah bisa dijumpai, kecuali hanya bekas-bekas perbuatannya yang kadang-kadang tak mengenal perikemanusiaan, dan tanda-tanda pengenal yang sengaja ditinggalkan, yaitu secarik kain yang bergambar seekor kelelawar berwarna hijau dan berkepala serigala diikatkan pada sebilah pisau, yang agak panjang.
Bahkan kekurangajarannya memuncak lagi dengan usahanya memasuki kamar perbendaharaan istana, dimana disimpan harta kekayaan istana beserta benda-benda untuk upacara yang terbuat dari emas, berlian dan permata-permata lainnya. Adalah suatu aib yang tercoret di muka para pengawal istana, kalau pada saat itu tak seorang pun yang mengetahui bahwa lima orang gerombolan Lawa Ijo yang dipimpin oleh Lawa Ijo sendiri sampai dapat memasuki halaman istana bagian dalam.
Untunglah bahwa pada saat-saat dimana gerombolan Lawa Ijo sedang mengganas, pasukan pengawal istana telah mengambil langkah-langkah seperlunya untuk menghadapi segala kemungkinan. Sehingga tiap malam tidak hanya para prajurit yang bertugas ronda keliling, tetapi juga para perwira.
MALAM itu adalah malam dimana Mahesa Jenar sedang mendapat giliran bertanggungjawab pada keselamatan raja serta istana seisinya. Dan justru pada malam itu pulalah gerombolan Lawa Ijo bertindak.
Pada malam itu kira-kira hampir tengah malam, Mahesa Jenar di ruang penjagaannya merasakan angin aneh bertiup perlahan-lahan. Begitu nyamannya sampai para perajurit merasa kantuk dengan tiba-tiba dan bahkan menjadi tak kuat lagi menahan matanya. Mahesa Jenar sendiri merasa bahwa ia pun tak luput dari serangan itu. Tetapi ia adalah seorang perajurit yang berpengalaman. Begitu ia merasakan suatu ketidakwajaran, hatinya menjadi curiga. Meskipun demikian ia tidak segera bertindak.
Mula-mula ia pusatkan kekuatan batinnya untuk melawan akibat angin yang aneh itu, sehingga lambat laun ia berhasil mengatasinya. Kemudian ia sendiri pun berpura-pura merebahkan diri di samping seorang perwira bawahannya yang sudah hampir tak kuat lagi menahan kantuknya. Tetapi begitu Mahesa Jenar berbaring, lalu berbisiklah ia perlahan-lahan sekali kepada perwira bawahannya itu.
Mendengar bisikan Mahesa Jenar ini, Gadjah Alit menjadi seperti tersadar dari kantuknya. Cepat-cepat ia pun memusatkan seluruh kekuatan batinnya dan dengan sekuat tenaga ia melawannya. Akhirnya ia pun sedikit demi sedikit berhasil menguasai dirinya kembali.
Ketika Mahesa Jenar melihat bahwa Gadjah Alit telah dapat menguasai dirinya, kembali ia berkata,
Dan setelah beberapa saat tak terjadi apa-apa, perlahan-lahan dan berhati-hati sekali mereka berdua menyelinap pintu belakang ruang jaga dengan tidak membangunkan seorang pun, agar orang yang bermaksud jahat itu sama sekali tak menduga bahwa diantara sekian banyak penjaga itu ada yang terluput dari sirepnya.
Dengan berlindung pada bayang-bayang dan batang-batang tanaman mereka berdua menyelidiki keadaan taman itu dengan seksama. Gadjah Alit ke utara, sedangkan Mahesa Jenar atau Rangga Tohjaya ke selatan. Beberapa lama mereka tak menemukan tanda apa-apa. Malahan halaman dalam istana itu rasanya jauh lebih sepi dari biasanya. Tapi Mahesa Jenar dan Gadjah Alit adalah orang-orang yang penuh dengan pengalaman dan mempunyai ketajaman batin yang luar biasa.
Mahesa Jenar yang meskipun pada waktu itu belum melihat adanya sesuatu yang mencurigakan, tetapi ia sudah mendapat firasat bahwa ia telah berdekatan dengan apa yang dicarinya. Itulah sebabnya ia segera diam menenangkan diri di belakang sebuah tanaman yang agak rimbun. Dipusatkannya segala perhatiannya ke suasana di sekelilingnya. Angin aneh yang ternyata adalah mengalirnya kekuatan sirep dari seseorang yang cukup kuat ilmu kebatinannya, masih saja bertiup. Bahkan daya sirep itu demikian kuatnya sehingga baik Mahesa Jenar maupun Gadjah Alit harus tetap menyediakan sebagian perhatianya untuk tetap melawan pengaruhnya.
Dengan mengukur kekuatan angin aneh itu, Mahesa Jenar sedikit banyak dapat menjajaki sampai dimana kehebatan orang yang memasangnya. Dengan demikian Mahesa Jenar harus betul-betul waspada, sebab ia tahu betul bahwa orang yang memasang sirep itu tentulah seorang yang mempunyai kesaktian tinggi. Dari tempat persembunyiannya Mahesa Jenar dapat melihat bahwa tiga orang yang bertugas jaga di sudut dinding halaman itu telah tertidur semuanya.
Tombaknya disandarkan pada dinding halaman, dan mereka bertiga begitu saja menggeletak tidur di atas rumput.
Berbeda dengan semua pikiran-pikiran itu, tiba-tiba Mahesa Jenar mendapat kesan yang aneh dari suara tertawa itu. Ia jadi terkenang pada suatu peristiwa yang sangat memalukan dan hampir-hampir menjatuhkan namanya. Peristiwa itu terjadi beberapa waktu yang lalu ketika ia masih menjabat sebagai perwira pasukan pengawal raja.
Pada saat Demak sedang membentuk dirinya dan memperkokoh kedudukannya, di mana dibutuhkan kekuatan yang sebesar-besarnya, maka di daerah pantai selatan berdirilah suatu himpunan dari beberapa tokoh-tokoh sakti dari golongan hitam yang ingin mempergunakan kesempatan untuk kepentingan diri sendiri serta golongannya. Gerombolan ini diketuai oleh seorang yang sakti dan berkekuatan luar biasa, yang menamakan dirinya Lawa Ijo. Sehingga gerombolan itu pun kemudian lazim disebut gerombolan Lawa Ijo.
Pada masa jayanya, Lawa Ijo mempunyai daerah pengaruh yang luas di daerah selatan sepanjang pantai sampai ke daerah Bagelen dan Banyumas. Menurut kabar, gerombolan ini bersarang di hutan Mentaok.
Demikian merasa dirinya begitu kuat, sampai Lawa Ijo sendiri beserta beberapa orang kepercayaannya berani melakukan pengacauan di ibukota kerajaan Demak. Meskipun pasukan keamanan sudah dikerahkan namun Lawa Ijo tak pernah bisa dijumpai, kecuali hanya bekas-bekas perbuatannya yang kadang-kadang tak mengenal perikemanusiaan, dan tanda-tanda pengenal yang sengaja ditinggalkan, yaitu secarik kain yang bergambar seekor kelelawar berwarna hijau dan berkepala serigala diikatkan pada sebilah pisau, yang agak panjang.
Bahkan kekurangajarannya memuncak lagi dengan usahanya memasuki kamar perbendaharaan istana, dimana disimpan harta kekayaan istana beserta benda-benda untuk upacara yang terbuat dari emas, berlian dan permata-permata lainnya. Adalah suatu aib yang tercoret di muka para pengawal istana, kalau pada saat itu tak seorang pun yang mengetahui bahwa lima orang gerombolan Lawa Ijo yang dipimpin oleh Lawa Ijo sendiri sampai dapat memasuki halaman istana bagian dalam.
Untunglah bahwa pada saat-saat dimana gerombolan Lawa Ijo sedang mengganas, pasukan pengawal istana telah mengambil langkah-langkah seperlunya untuk menghadapi segala kemungkinan. Sehingga tiap malam tidak hanya para prajurit yang bertugas ronda keliling, tetapi juga para perwira.
MALAM itu adalah malam dimana Mahesa Jenar sedang mendapat giliran bertanggungjawab pada keselamatan raja serta istana seisinya. Dan justru pada malam itu pulalah gerombolan Lawa Ijo bertindak.
Pada malam itu kira-kira hampir tengah malam, Mahesa Jenar di ruang penjagaannya merasakan angin aneh bertiup perlahan-lahan. Begitu nyamannya sampai para perajurit merasa kantuk dengan tiba-tiba dan bahkan menjadi tak kuat lagi menahan matanya. Mahesa Jenar sendiri merasa bahwa ia pun tak luput dari serangan itu. Tetapi ia adalah seorang perajurit yang berpengalaman. Begitu ia merasakan suatu ketidakwajaran, hatinya menjadi curiga. Meskipun demikian ia tidak segera bertindak.
Mula-mula ia pusatkan kekuatan batinnya untuk melawan akibat angin yang aneh itu, sehingga lambat laun ia berhasil mengatasinya. Kemudian ia sendiri pun berpura-pura merebahkan diri di samping seorang perwira bawahannya yang sudah hampir tak kuat lagi menahan kantuknya. Tetapi begitu Mahesa Jenar berbaring, lalu berbisiklah ia perlahan-lahan sekali kepada perwira bawahannya itu.
Quote:
“Adi Gadjah Alit, rupa-rupanya dirimu telah terkena sirep. Sadarlah dan cobalah melawan.”
Mendengar bisikan Mahesa Jenar ini, Gadjah Alit menjadi seperti tersadar dari kantuknya. Cepat-cepat ia pun memusatkan seluruh kekuatan batinnya dan dengan sekuat tenaga ia melawannya. Akhirnya ia pun sedikit demi sedikit berhasil menguasai dirinya kembali.
Ketika Mahesa Jenar melihat bahwa Gadjah Alit telah dapat menguasai dirinya, kembali ia berkata,
Quote:
“Adi Gadjah Alit, rupa-rupanya ada sesuatu yang tidak wajar di dalam istana ini. Aku kira sebagian besar penjaga sudah terlibat dalam cengkeraman sirep itu. Tetapi baiklah kita tidak usah ribut. Marilah kita berdua berusaha untuk menguasai keadaan.”
“Lalu apa yang harus aku lakukan kakang Rangga Tohjaya?” tanya Gadjah Alit.
“Dengan berpura-pura tidur, mereka tentu tidak mengira kalau kita tengah mengadakan penyelidikan. Marilah kita berpencar. Lewat pintu belakang dari ruangan ini. Kau pergi ke utara dan aku ke selatan. Kalau salah satu diantara kita melihat hal yang mencurigakan dan kiranya kita masing-masing seorang diri tak mampu mengatasi, sebaiknya kita memberi tanda dengan sebuah suitan.”
“Baiklah kakang Rangga,” jawab Gadjah Alit.
“Lalu apa yang harus aku lakukan kakang Rangga Tohjaya?” tanya Gadjah Alit.
“Dengan berpura-pura tidur, mereka tentu tidak mengira kalau kita tengah mengadakan penyelidikan. Marilah kita berpencar. Lewat pintu belakang dari ruangan ini. Kau pergi ke utara dan aku ke selatan. Kalau salah satu diantara kita melihat hal yang mencurigakan dan kiranya kita masing-masing seorang diri tak mampu mengatasi, sebaiknya kita memberi tanda dengan sebuah suitan.”
“Baiklah kakang Rangga,” jawab Gadjah Alit.
Dan setelah beberapa saat tak terjadi apa-apa, perlahan-lahan dan berhati-hati sekali mereka berdua menyelinap pintu belakang ruang jaga dengan tidak membangunkan seorang pun, agar orang yang bermaksud jahat itu sama sekali tak menduga bahwa diantara sekian banyak penjaga itu ada yang terluput dari sirepnya.
Dengan berlindung pada bayang-bayang dan batang-batang tanaman mereka berdua menyelidiki keadaan taman itu dengan seksama. Gadjah Alit ke utara, sedangkan Mahesa Jenar atau Rangga Tohjaya ke selatan. Beberapa lama mereka tak menemukan tanda apa-apa. Malahan halaman dalam istana itu rasanya jauh lebih sepi dari biasanya. Tapi Mahesa Jenar dan Gadjah Alit adalah orang-orang yang penuh dengan pengalaman dan mempunyai ketajaman batin yang luar biasa.
Mahesa Jenar yang meskipun pada waktu itu belum melihat adanya sesuatu yang mencurigakan, tetapi ia sudah mendapat firasat bahwa ia telah berdekatan dengan apa yang dicarinya. Itulah sebabnya ia segera diam menenangkan diri di belakang sebuah tanaman yang agak rimbun. Dipusatkannya segala perhatiannya ke suasana di sekelilingnya. Angin aneh yang ternyata adalah mengalirnya kekuatan sirep dari seseorang yang cukup kuat ilmu kebatinannya, masih saja bertiup. Bahkan daya sirep itu demikian kuatnya sehingga baik Mahesa Jenar maupun Gadjah Alit harus tetap menyediakan sebagian perhatianya untuk tetap melawan pengaruhnya.
Dengan mengukur kekuatan angin aneh itu, Mahesa Jenar sedikit banyak dapat menjajaki sampai dimana kehebatan orang yang memasangnya. Dengan demikian Mahesa Jenar harus betul-betul waspada, sebab ia tahu betul bahwa orang yang memasang sirep itu tentulah seorang yang mempunyai kesaktian tinggi. Dari tempat persembunyiannya Mahesa Jenar dapat melihat bahwa tiga orang yang bertugas jaga di sudut dinding halaman itu telah tertidur semuanya.
Tombaknya disandarkan pada dinding halaman, dan mereka bertiga begitu saja menggeletak tidur di atas rumput.
fakhrie... dan 8 lainnya memberi reputasi
9
Kutip
Balas