- Beranda
- Stories from the Heart
Naga Sasra & Sabuk Inten
...
TS
nandeko
Naga Sasra & Sabuk Inten

NAGA SASRA & SABUK INTEN
Kisah ini merupakan karangan dari S.H Mintardja. Disini TS sudah mendapatkan ijin untuk sekedar membagikan dan mempermudahkan pembaca untuk menikmati kisah ini dalam bentuk digital
INDEX
Quote:
Spoiler for JILID 1:
Spoiler for JILID 2:
Spoiler for JILID 3:
Spoiler for JILID 4:
Spoiler for JILID 5:
Spoiler for JILID 6:
Part 114
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Spoiler for JILID 7:
Spoiler for JILID 8:
Spoiler for JILID 9:
Spoiler for JILID 10:
Pengarang dan Hakcipta©
Singgih Hadi Mintardja
Singgih Hadi Mintardja
Diubah oleh nandeko 21-10-2021 14:24
whadi05 dan 43 lainnya memberi reputasi
42
62.5K
Kutip
1.2K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
nandeko
#27
Jilid 2 [Part 18]
Spoiler for :
Mahesa Jenar merenung sebentar, kemudian jawabannya makin menjadikan Watu Gunung kebingungan.
Watu Gunung menjadi semakin keripuhan, apalagi ketika Mahesa Jenar menyambung,
Muka Watu Gunung menjadi merah seperti darah. Malu dan marah bercampur aduk. Belum pernah ia direndahkan sedemikian. Dan sekarang orang yang tak bernama itu berani berbuat demikian. Maka dengan suara lantang penuh kesombongan dan kemarahan, ia menjawab,
Orang yang mendengar ucapan ini bulunya berdiri. Watu Gunung sudah terkenal kehebatannya dan kekejamannya. Apalagi ia sekarang dikendalikan oleh kemarahan yang besar. Tetapi hal itu bagi Mahesa Jenar adalah suatu keuntungan. Sebab dengan kemarahan itu Watu Gunung akan kehilangan sebagian dari pengamatan dirinya.
Sementara itu Watu Gunung sudah berteriak,
Mahesa Jenar segera mempersiapkan diri. Ia tidak mau dikenai oleh serangan yang pertama kali dan digerakkan oleh hawa kemarahan, yang tentu akan menambah kekuatan lawannya.
Dan apa yang diduga oleh Mahesa Jenar adalah benar. Belum lagi mulutnya terkatub rapat, Watu Gunung sudah meloncat maju dan langsung menyerang ulu hati Mahesa Jenar. Serangan itu begitu garang nampaknya seperti harimau menerkam mangsanya.
ORANG-ORANG yang menyaksikan pertarungan itu, darahnya sudah tersirat sampai ke kepala. Tetapi Mahesa Jenar yang sudah bersiaga, cepat menarik kaki kirinya ke belakang dan memutar sedikit tubuhnya, sehingga pukulan itu tak mengenai sasarannya. Gagal dari serangan pertama ini Watu Gunung menyerang pula dengan kakinya ke arah perut Mahesa Jenar, tetapi juga seperti serangannya yang pertama. Serangan ini pun dengan mudahnya dapat dihindarkan.
Melihat kedua serangannya itu menyentuh pakaian lawan pun tidak, Watu Gunung menjadi semakin marah. Kembali ia membuka serangan dengan tangannya ke arah dada, dan sekaligus mempersiapkan tangan yang lain untuk menutup jalan menghindar. Rupa-rupanya serangan ini hampir berhasil mengenai lawannya. Tetapi pada saat terakhir ketika tangannya sudah berjarak setebal jari dari dada, Mahesa Jenar segera menarik tubuhnya ke belakang dengan satu loncatan yang cepat, ia menghindar ke arah sebelah dari tangan yang lain. Watu Gunung menjadi semakin uring-uringan.
Dan meluncurlah kemudian serangan-serangan yang cukup dahsyat. Tetapi beberapa orang telah menjadi cemas. Sebab dalam pandangan mereka, Mahesa Jenar selalu terdesak. Pada saat terakhir, Mahesa Jenar merasa betul-betul terdesak. Memang lawannya pada saat itu tidaklah dapat dianggap ringan, meskipun belum sekuat Mantingan, tetapi Watu Gunung mempunyai keistimewaan juga. Ia begitu percaya kepada kekuatan jarinya, sehingga berkali-kali ia menyerang dengan menyodok perut, kening dan mata.
Maka timbullah keinginan Mahesa Jenar untuk menguji kekuatan daya tahan lawannya. Ketika pada suatu saat pertahanan dada Watu Gunung terbuka, cepat-cepat Mahesa Jenar mempergunakan kesempatan ini. Seperti seekor burung menyambar belalang, ia pergunakan sisi telapak tangannya untuk menghantam dada lawannya. Serangan itu begitu mendadak dan cepat sehingga lawannya tak sempat menghindarinya.
Merasa kena hantaman di dadanya, cepat-cepat Watu Gunung mundur selangkah. Mulutnya meringis sebentar menahan sakit. Tetapi oleh daya tahan badannya, segera rasa sakit itu hilang.
Mengalami hal ini, Watu Gunung malahan sekali lagi meloncat mundur, dan aneh sekali, ia tidak bersiap-siap untuk menyerang atau bertahan, malahan ia berdiri di atas kedua kakinya yang direnggangkan dan kedua tangannya bertolak pinggang.
Melihat sikap yang demikian, Mahesa Jenar pun menjadi tertegun heran. Tetapi menghadapi sikap ini ia tidak berani gegabah, sebab siapa tahu bahwa sikap ini adalah suatu sikap untuk mengelabuinya dan memancingnya dalam suatu keadaan yang tak menguntungkan.
Mahesa Jenar semakin heran ketika tiba-tiba Watu Gunung tertawa keras dengan suaranya yang nyaring. Begitu kerasnya ia tertawa sampai menimbulkan getaran-getaran di dada orang yang mendengarnya.
Sebaliknya para penonton yang melihat Watu Gunung bersikap demikian, seketika tubuhnya menjadi gemetar. Sebab dengan demikian Watu Gunung sudah menemukan suatu kepastian bahwa dalam waktu singkat ia pasti akan dapat menghancurkan lawannya. Dan, biasanya dipegangnya kedua kaki lawannya itu, diputar di udara, dan dengan sekali tetak dihantamkan pada pohon sawo di tepi arena itu sehingga kepalanya menjadi pecah berserakan.
Melihat hal itu, Ki Asem Gede ikut menjadi cemas. Ia melihat nyata-nyata bahwa pukulan Mahesa Jenar tepat mengenai dada, tetapi pukulan itu tak mengakibatkan apa-apa.
Tetapi melihat ketenangan Mahesa Jenar, Ki Asem Gedepun menjadi agak tenang pula. Satu kesalahan dari Watu Gunung dan para penonton pertarungan itu adalah bahwa mereka tidak menyadari kalau pukulan Mahesa Jenar itu hanya mempergunakan sebagian kecil dari seluruh kekuatannya. Dengan melihat akibat dari pukulan percobaan itu, Mahesa Jenar dapat mengukur bahwa kalau ia mempergunakan tigaperempat saja dari kekuatannya, dada Watu Gunung itu sudah pasti akan rontok.
Quote:
“Watu Gunung… senjata adalah barang yang berbahaya. Sedang permainan ini hanya sekadar untuk menentukan pihak manakah yang dibenarkan Tuhan. Karena itu aku menganggap bahwa aku tak ingin mempergunakan senjata.”
Watu Gunung menjadi semakin keripuhan, apalagi ketika Mahesa Jenar menyambung,
Quote:
“Tetapi meskipun demikian, kalau kau ingin mempergunakan senjata, kalau itu sudah menjadi kebiasaanmu, aku sama sekali tak keberatan, sedangkan bagiku sendiri senjata itu hanya akan merepotkan saja.”
Muka Watu Gunung menjadi merah seperti darah. Malu dan marah bercampur aduk. Belum pernah ia direndahkan sedemikian. Dan sekarang orang yang tak bernama itu berani berbuat demikian. Maka dengan suara lantang penuh kesombongan dan kemarahan, ia menjawab,
Quote:
“Aku bukanlah bangsa pengecut yang hanya berani bermain dengan senjata. Kalau aku bertanya tentang senjata itu maksudku sudah tegas, berkelahi sampai salah satu diantara kita mati. Tetapi kalau kau takut melihat tajamnya senjata, baiklah aku juga tidak akan bersenjata, sebab dengan tanganku ini aku akan dapat mematahkan lehermu.”
Orang yang mendengar ucapan ini bulunya berdiri. Watu Gunung sudah terkenal kehebatannya dan kekejamannya. Apalagi ia sekarang dikendalikan oleh kemarahan yang besar. Tetapi hal itu bagi Mahesa Jenar adalah suatu keuntungan. Sebab dengan kemarahan itu Watu Gunung akan kehilangan sebagian dari pengamatan dirinya.
Sementara itu Watu Gunung sudah berteriak,
Quote:
“Mahesa Jenar marilah kita mulai.”
Mahesa Jenar segera mempersiapkan diri. Ia tidak mau dikenai oleh serangan yang pertama kali dan digerakkan oleh hawa kemarahan, yang tentu akan menambah kekuatan lawannya.
Dan apa yang diduga oleh Mahesa Jenar adalah benar. Belum lagi mulutnya terkatub rapat, Watu Gunung sudah meloncat maju dan langsung menyerang ulu hati Mahesa Jenar. Serangan itu begitu garang nampaknya seperti harimau menerkam mangsanya.
ORANG-ORANG yang menyaksikan pertarungan itu, darahnya sudah tersirat sampai ke kepala. Tetapi Mahesa Jenar yang sudah bersiaga, cepat menarik kaki kirinya ke belakang dan memutar sedikit tubuhnya, sehingga pukulan itu tak mengenai sasarannya. Gagal dari serangan pertama ini Watu Gunung menyerang pula dengan kakinya ke arah perut Mahesa Jenar, tetapi juga seperti serangannya yang pertama. Serangan ini pun dengan mudahnya dapat dihindarkan.
Melihat kedua serangannya itu menyentuh pakaian lawan pun tidak, Watu Gunung menjadi semakin marah. Kembali ia membuka serangan dengan tangannya ke arah dada, dan sekaligus mempersiapkan tangan yang lain untuk menutup jalan menghindar. Rupa-rupanya serangan ini hampir berhasil mengenai lawannya. Tetapi pada saat terakhir ketika tangannya sudah berjarak setebal jari dari dada, Mahesa Jenar segera menarik tubuhnya ke belakang dengan satu loncatan yang cepat, ia menghindar ke arah sebelah dari tangan yang lain. Watu Gunung menjadi semakin uring-uringan.
Dan meluncurlah kemudian serangan-serangan yang cukup dahsyat. Tetapi beberapa orang telah menjadi cemas. Sebab dalam pandangan mereka, Mahesa Jenar selalu terdesak. Pada saat terakhir, Mahesa Jenar merasa betul-betul terdesak. Memang lawannya pada saat itu tidaklah dapat dianggap ringan, meskipun belum sekuat Mantingan, tetapi Watu Gunung mempunyai keistimewaan juga. Ia begitu percaya kepada kekuatan jarinya, sehingga berkali-kali ia menyerang dengan menyodok perut, kening dan mata.
Maka timbullah keinginan Mahesa Jenar untuk menguji kekuatan daya tahan lawannya. Ketika pada suatu saat pertahanan dada Watu Gunung terbuka, cepat-cepat Mahesa Jenar mempergunakan kesempatan ini. Seperti seekor burung menyambar belalang, ia pergunakan sisi telapak tangannya untuk menghantam dada lawannya. Serangan itu begitu mendadak dan cepat sehingga lawannya tak sempat menghindarinya.
Merasa kena hantaman di dadanya, cepat-cepat Watu Gunung mundur selangkah. Mulutnya meringis sebentar menahan sakit. Tetapi oleh daya tahan badannya, segera rasa sakit itu hilang.
Mengalami hal ini, Watu Gunung malahan sekali lagi meloncat mundur, dan aneh sekali, ia tidak bersiap-siap untuk menyerang atau bertahan, malahan ia berdiri di atas kedua kakinya yang direnggangkan dan kedua tangannya bertolak pinggang.
Melihat sikap yang demikian, Mahesa Jenar pun menjadi tertegun heran. Tetapi menghadapi sikap ini ia tidak berani gegabah, sebab siapa tahu bahwa sikap ini adalah suatu sikap untuk mengelabuinya dan memancingnya dalam suatu keadaan yang tak menguntungkan.
Mahesa Jenar semakin heran ketika tiba-tiba Watu Gunung tertawa keras dengan suaranya yang nyaring. Begitu kerasnya ia tertawa sampai menimbulkan getaran-getaran di dada orang yang mendengarnya.
Sebaliknya para penonton yang melihat Watu Gunung bersikap demikian, seketika tubuhnya menjadi gemetar. Sebab dengan demikian Watu Gunung sudah menemukan suatu kepastian bahwa dalam waktu singkat ia pasti akan dapat menghancurkan lawannya. Dan, biasanya dipegangnya kedua kaki lawannya itu, diputar di udara, dan dengan sekali tetak dihantamkan pada pohon sawo di tepi arena itu sehingga kepalanya menjadi pecah berserakan.
Melihat hal itu, Ki Asem Gede ikut menjadi cemas. Ia melihat nyata-nyata bahwa pukulan Mahesa Jenar tepat mengenai dada, tetapi pukulan itu tak mengakibatkan apa-apa.
Tetapi melihat ketenangan Mahesa Jenar, Ki Asem Gedepun menjadi agak tenang pula. Satu kesalahan dari Watu Gunung dan para penonton pertarungan itu adalah bahwa mereka tidak menyadari kalau pukulan Mahesa Jenar itu hanya mempergunakan sebagian kecil dari seluruh kekuatannya. Dengan melihat akibat dari pukulan percobaan itu, Mahesa Jenar dapat mengukur bahwa kalau ia mempergunakan tigaperempat saja dari kekuatannya, dada Watu Gunung itu sudah pasti akan rontok.
Araka dan 7 lainnya memberi reputasi
8
Kutip
Balas