- Beranda
- Stories from the Heart
Naga Sasra & Sabuk Inten
...
TS
nandeko
Naga Sasra & Sabuk Inten

NAGA SASRA & SABUK INTEN
Kisah ini merupakan karangan dari S.H Mintardja. Disini TS sudah mendapatkan ijin untuk sekedar membagikan dan mempermudahkan pembaca untuk menikmati kisah ini dalam bentuk digital
INDEX
Quote:
Spoiler for JILID 1:
Spoiler for JILID 2:
Spoiler for JILID 3:
Spoiler for JILID 4:
Spoiler for JILID 5:
Spoiler for JILID 6:
Part 114
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Spoiler for JILID 7:
Spoiler for JILID 8:
Spoiler for JILID 9:
Spoiler for JILID 10:
Pengarang dan Hakcipta©
Singgih Hadi Mintardja
Singgih Hadi Mintardja
Diubah oleh nandeko 21-10-2021 14:24
whadi05 dan 43 lainnya memberi reputasi
42
63.5K
Kutip
1.2K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
nandeko
#7
Jilid 1 [Part 6]
Spoiler for :
Gempuran ini demikian hebat sehingga tubuh Mahesa Jenar bergetar dan hampir saja ia kehilangan keseimbangan. Meskipun tubuh Mahesa Jenar sudah cukup terlatih serta mempunyai daya tahan yang kuat, namun terasa juga bahwa tumit yang mengenai pinggangnya itu menimbulkan rasa sakit.
Kena tendangan ini, hati Mahesa Jenar menjadi agak panas juga. Karena itu ia berketetapan hati untuk melayani Ki Demang Mantingan dengan lebih bersungguh-sungguh lagi. Maka segera geraknya berubah menjadi semakin cepat dan keras. Ia membalas setiap serangan dengan serangan pula. Dan ia sama sekali tidak mau tubuhnya disakiti oleh lawannya lagi.
Ki Dalang Mantingan terkejut melihat perubahan tendangan lawannya. Maka segera ia sadar bahwa orang yang dilawannya itu berilmu tinggi. Tetapi segala sesuatunya telah terlanjur. Satu-satunya kemungkinan baginya adalah, lawannya menghendaki pertempuran itu akan berlangsung mati-matian.
Dan memang sebenarnyalah demikian.
Serangan-serangan Mahesa Jenar berikutnya datang bertubi-tubi seperti ombak yang bergulung-gulung menghantam pantai. Bagaimanapun kukuhnya batu-batu karang tebing, namun akhirnya segumpal demi segumpal berguguran jatuh juga ke laut.
Dalang Mantingan mengeluh di dalam hati. Sebagai seorang yang telah banyak mempunyai pengalaman, ia merasa bahwa lawannya memiliki kepandaian yang lebih tinggi.
Dan yang kemudian terjadi adalah, Ki Dalang Mantingan mulai tampak terdesak. Bagaimanapun ia berusaha, kini ia terpaksa untuk bertahan saja. Ia sama sekali tidak berkesempatan untuk menyerang. Bahkan beberapa kali ia telah dapat dikenai oleh lawannya, meskipun tidak di tempat-tempat yang berbahaya. Tubuh Mantingan terasa nyeri sekali. Meskipun demikian ia bukanlah Mantingan kalau sampai ia menyerah.
Demang Pananggalan semakin kebingungan. Ia segera melihat kesulitan adiknya. Bagaimanapun, ia mempunyai perasaan tidak rela melihat hal yang demikian itu berlangsung. Mantingan yang dibangga-banggakan seluruh penduduk Kademangan, sekarang akan dikalahkan oleh orang asing di hadapan penduduknya sendiri. Karena itu hampir di luar sadarnya ia meloncat maju. Meskipun umurnya sudah lanjut dan tidak sekuat Mantingan, namun karena pengalamannya maka Demang tua ini nampaknya berbahaya juga. Langsung ia menyerang Mahesa Jenar dengan gerakan-gerakan yang tak terduga-duga untuk mengurangi tekanannya pada Mantingan.
Maka segera Mahesa Jenar menjadi sibuk berpikir, apakah maksud yang sebenarnya dari Demang tua ini.
Penduduk yang mengitari pertarungan itu dengan asyiknya menyaksikan gerak masing-masing dengan keheran-heranan, sebagai suatu hal yang belum pernah dilihat sebelumnya. Mendadak mereka terkejut sekali melihat Demang terjun langsung ke arena. Mereka serentak merasa bangun dari sebuah mimpi yang dahsyat. Dalam hal yang demikian, bagaimanapun hebatnya lawan, mereka merasa wajib membela pemimpin mereka meskipun harus menyerahkan nyawanya.
Serentak mereka menggenggam senjata masing-masing makin erat. Sedangkan beberapa orang yang berdiri di baris paling depan sudah mulai bergerak.
Mahesa Jenar segera melihat kesulitan yang bakal datang. Karena itu ia semakin waspada. Ia mulai menghimpun kekuatan-kekuatannya untuk membuat gempuran-gempuran terakhir, meskipun hal itu dilakukan dengan berat hati. Ia sama sekali tidak menduga, bahwa ia harus terlibat dalam masalah yang sama sekali tak diketahui sebab-sebabnya. Tetapi bagaimanapun, ia tidak mau dijadikan bulan-bulanan dari peristiwa-peristiwa yang tak diketahui ujung- pangkalnya itu.
Tiba-tiba ketika keadaan sudah sedemikian memuncaknya, halaman itu digetarkan oleh sebuah teriakan nyaring.
Teriakan yang dilontarkan sepenuh tenaga itu bergetar memenuhi halaman Kademangan, sehingga semuanya terkejut karenanya. Dan pertarungan itu pun segera terhenti.
Ternyata yang berteriak itu adalah Ki Asem Gede, yang datang untuk mengobati Baureksa dan Gagak Ijo.
Perlahan-lahan matanya memandang berkeliling, ke wajah-wajah yang berdiri di sekitar halaman itu, kemudian dipandanginya wajah Mantingan dan Demang Pananggalan dengan matanya yang bening, sehingga membawa pengaruh yang sejuk. Alangkah damainya hati seorang yang mempunyai wajah dan mata yang begitu lunak. Umurnya sudah lanjut, dan hampir seluruh rambutnya sudah putih.
KI Asem Gede berjalan perlahan mendekati Mahesa Jenar. Lalu membungkuk dengan hormatnya.
Kena tendangan ini, hati Mahesa Jenar menjadi agak panas juga. Karena itu ia berketetapan hati untuk melayani Ki Demang Mantingan dengan lebih bersungguh-sungguh lagi. Maka segera geraknya berubah menjadi semakin cepat dan keras. Ia membalas setiap serangan dengan serangan pula. Dan ia sama sekali tidak mau tubuhnya disakiti oleh lawannya lagi.
Ki Dalang Mantingan terkejut melihat perubahan tendangan lawannya. Maka segera ia sadar bahwa orang yang dilawannya itu berilmu tinggi. Tetapi segala sesuatunya telah terlanjur. Satu-satunya kemungkinan baginya adalah, lawannya menghendaki pertempuran itu akan berlangsung mati-matian.
Dan memang sebenarnyalah demikian.
Serangan-serangan Mahesa Jenar berikutnya datang bertubi-tubi seperti ombak yang bergulung-gulung menghantam pantai. Bagaimanapun kukuhnya batu-batu karang tebing, namun akhirnya segumpal demi segumpal berguguran jatuh juga ke laut.
Dalang Mantingan mengeluh di dalam hati. Sebagai seorang yang telah banyak mempunyai pengalaman, ia merasa bahwa lawannya memiliki kepandaian yang lebih tinggi.
Dan yang kemudian terjadi adalah, Ki Dalang Mantingan mulai tampak terdesak. Bagaimanapun ia berusaha, kini ia terpaksa untuk bertahan saja. Ia sama sekali tidak berkesempatan untuk menyerang. Bahkan beberapa kali ia telah dapat dikenai oleh lawannya, meskipun tidak di tempat-tempat yang berbahaya. Tubuh Mantingan terasa nyeri sekali. Meskipun demikian ia bukanlah Mantingan kalau sampai ia menyerah.
Demang Pananggalan semakin kebingungan. Ia segera melihat kesulitan adiknya. Bagaimanapun, ia mempunyai perasaan tidak rela melihat hal yang demikian itu berlangsung. Mantingan yang dibangga-banggakan seluruh penduduk Kademangan, sekarang akan dikalahkan oleh orang asing di hadapan penduduknya sendiri. Karena itu hampir di luar sadarnya ia meloncat maju. Meskipun umurnya sudah lanjut dan tidak sekuat Mantingan, namun karena pengalamannya maka Demang tua ini nampaknya berbahaya juga. Langsung ia menyerang Mahesa Jenar dengan gerakan-gerakan yang tak terduga-duga untuk mengurangi tekanannya pada Mantingan.
Maka segera Mahesa Jenar menjadi sibuk berpikir, apakah maksud yang sebenarnya dari Demang tua ini.
Penduduk yang mengitari pertarungan itu dengan asyiknya menyaksikan gerak masing-masing dengan keheran-heranan, sebagai suatu hal yang belum pernah dilihat sebelumnya. Mendadak mereka terkejut sekali melihat Demang terjun langsung ke arena. Mereka serentak merasa bangun dari sebuah mimpi yang dahsyat. Dalam hal yang demikian, bagaimanapun hebatnya lawan, mereka merasa wajib membela pemimpin mereka meskipun harus menyerahkan nyawanya.
Serentak mereka menggenggam senjata masing-masing makin erat. Sedangkan beberapa orang yang berdiri di baris paling depan sudah mulai bergerak.
Mahesa Jenar segera melihat kesulitan yang bakal datang. Karena itu ia semakin waspada. Ia mulai menghimpun kekuatan-kekuatannya untuk membuat gempuran-gempuran terakhir, meskipun hal itu dilakukan dengan berat hati. Ia sama sekali tidak menduga, bahwa ia harus terlibat dalam masalah yang sama sekali tak diketahui sebab-sebabnya. Tetapi bagaimanapun, ia tidak mau dijadikan bulan-bulanan dari peristiwa-peristiwa yang tak diketahui ujung- pangkalnya itu.
Tiba-tiba ketika keadaan sudah sedemikian memuncaknya, halaman itu digetarkan oleh sebuah teriakan nyaring.
Quote:
“Adi Pananggalan dan Adi Mantingan, apa yang terjadi?”
Teriakan yang dilontarkan sepenuh tenaga itu bergetar memenuhi halaman Kademangan, sehingga semuanya terkejut karenanya. Dan pertarungan itu pun segera terhenti.
Ternyata yang berteriak itu adalah Ki Asem Gede, yang datang untuk mengobati Baureksa dan Gagak Ijo.
Quote:
"apa yang terjadi …?"ulangnya.
Perlahan-lahan matanya memandang berkeliling, ke wajah-wajah yang berdiri di sekitar halaman itu, kemudian dipandanginya wajah Mantingan dan Demang Pananggalan dengan matanya yang bening, sehingga membawa pengaruh yang sejuk. Alangkah damainya hati seorang yang mempunyai wajah dan mata yang begitu lunak. Umurnya sudah lanjut, dan hampir seluruh rambutnya sudah putih.
KI Asem Gede berjalan perlahan mendekati Mahesa Jenar. Lalu membungkuk dengan hormatnya.
Quote:
"Anakmas, apa yang terjadi?”
tanyanya, dan kemudian ia menoleh kepada Demang Pananggalan dan Ki Dalang Mantingan
“Apa yang terjadi?” ulangnya kembali.
tanyanya, dan kemudian ia menoleh kepada Demang Pananggalan dan Ki Dalang Mantingan
“Apa yang terjadi?” ulangnya kembali.
Diubah oleh nandeko 01-08-2020 21:43
johny251976 dan 11 lainnya memberi reputasi
12
Kutip
Balas