Kaskus

Story

rens09Avatar border
TS
rens09
Kumpulan Cerita Seram (Jangan Baca Sendirian!)
Kumpulan Cerita Seram (Jangan Baca Sendirian!)
Cerita Hantu yang Kalian Suka


Selamat datang di Kumpulan Cerita Seram. Kali ini saya akan membagikan satu per satu cerita menyeramkan tentang hantu dan kehidupan manusia yang mungkin selama ini belum terkuak.
Siapkan cemilan, siapkan minuman, silahkan membaca.



emoticon-Takutemoticon-Takut emoticon-Takut




Cerita Pertama

PELET PENGIKAT


Randy seorang pemuda yang bekerja di pabrik plastik ini menyukai wanita yang menjadi leadernya. Setiap hari Randy selalu mengamati wanita itu. Namanya Kalistya. Usia Randy saat ini tiga puluh tahun sedangkan Kalistya masih dua puluh tahun. Tak hanya usia yang terpaut jauh, status sosial dan juga rupa menjadi jurang bagi Randy mendapatkan Kalistya.

Berbulan-bulan lamanya Randy memendam rasa cinta. Berawal dari suka lalu semakin membara. Hal ini membuatnya lama-lama menjadi gila. Saat di kamar, Randy mengamati wajahnya di cermin.

"Sial! Kalau jelek begini mana mungkin Kalis ngelirik, yang ada gue diludahin ama dia!" gerutunya sambil mengacak-acak rambut.

Frustasi dengan wajah yang di bawah standart, Randy belum menyerah. Dia mencoba membeli sebuah cincin emas untuk hadiah perkenalan dengan Kalistya.

"Siapa sih cewek yang nggak suka emas? Gue harus kenalan secepatnya. Harus berani kali ini!" tekad Randy sudah bulat untuk berkenalan dengan leader cantik pencuri hatinya.

Keesokan harinya, di tempat kerja ....

"H-hai ... Kalis," sapa Randy kepada leadernya.

"Ngapain manggil-manggil? Selesaikan pekerjaanmu! Lihat mesin 13 milikmu produksinya lambat," gertak Kalistya pada Randy.

"K-kan sebentar lagi jam istirahat," lirihnya sambil menggenggam ujung baju, menahan malu.

Kalistya berlalu pergi dengan angkuh. Jabatan di atas Randy membuatnya seenaknya sendiri. Meski begitu, Randy tetap berniat memberikan cincin kepadanya.

Saat jam istirahat tiba. Semua karyawan menuju kantin. Termasuk Kalistya dan kawan-kawannya. Randy mengamati mereka dan memberanikan diri mendekat.

"Hai se-semua," sapa Randy agak kaku.

"Hih orang ini ngapain ke sini?" bisik Luna.

"Abaikan aja orang nggak guna," sahut Kalistya.

"Sori ngganggu. A-aku cuma mau kenalan ama Kalistya. Sebagai tanda perkenalan, terimalah cincin ini dariku," kata Randy sambil mengeluarkan kotak merah berisi cincin sambil berlutut.

Sontak hal itu membuat semua orang kaget. Orang-orang di kantin memperhatikan Randy dalam sekejab. Hal ini membuat Kalistya malu dan meradang.

"Heh dasar nggak tahu malu! Gue abaikan malah ngelunjak, ya? Ngaca donk! Tahu diri siapa Loe siapa Gue!" teriak Kalistya sambil menampik kotak cincin yang menyebabkan cincin emas itu terlempar dan jatuh di selokan.


"Ih, nggak tahu diri banget. Muka begitu deketin leader."

"Dasar orang aneh. Pantes aja nggak punya temen."

"Jomblo akut dan stress tuh nggak ngaca dulu main kasih cincin aja, ngajak nikah?"

Kalimat-kalimat pedas terucap dari mulut orang-orang yang berada di sana. Kalistya dan teman-temannya berlalu pergi meninggalkan Randy yang masih terdiam dan sangat malu.

Setelah kerumunan bubar, Randy pun berdiri dan mencari cincinnya di selokan. Saat hendak mengambil, Widi menendang Randy hingga tercebur ke selokan.

"Eh sori Bro nggak sengaja. Nggak kelihatan sih soalnya baunya sama ama comberan. Ha ha ha ha ...." kata Widi yang sengaja mengerjai Randy.

"Awas ya," gumam Randy bangkit berdiri dengan pakaian terkena air selokan yang bau.

"Awas apa? Hii takut hii takut ...." ledek Widi bersama kedua kawannya.

Randy hanya diam tak bisa membalas. Hari itu sangat menyebalkan dan membuat hati Randy sangat sakit. Dalam pabrik pun dia dihujat habis-habisan oleh banyak orang. Kecuali satu orang temannya, Karno.

"Ndy, udah abaikan aja mereka. Kukasih tahu ya, banyak jalan menuju ke Roma," bisik Karno sambil bekerja.

"Jalan apa, Kang? Apes mulu aku ini. Nggak nyangka kalau Kalistya sekasar itu," ucap Randy sedih saat bekerja.

"Nanti sepulang kerja kukasih tahu jalan pintasnya," lirih Karno sambil melanjutkan pekerjaan.

Jam pun berlalu dengan cepat. Setelah selesai jam bekerja, para pegawai pabrik pun keluar dan pulang. Begitu juga dengan Karno dan Randy. Karno ini cukup terkenal karena istrinya cantik. Istri Karno dahulu foto model lokal, banyak yang tak menyangka mereka akhirnya menikah.

"Kang ada apa sih? Jalan pintas apa?" tanya Randy dengan penasaran.

"Gini, Ndy. Di dunia ini ada jalan pintas buat orang-orang yang sering dipandang sebelah mata seperti kita," kata Karno sambil memastikan jalanan sudah sepi.

"Halah, Kang Karno ini kan banyak kawan. Semua juga baik sama Kang Karno. Beda sama aku. Sejak masuk pabrik cuma Kang Karno aja yang mau ajak bicara." Randy tertunduk malu.

Usianya tiga puluh tahun dan minder dengan pergaulan. Hal itu membuatnya sebagai nominasi bujang lapuk.

"Santai, Ndy. Aku tahu betul rasanya. Semua ini berubah sejak aku ke Mbah Tarjo di desa kaki Gunung Merapi. Kalau kamu mau ubah nasib, ayo kuantar ke sana. Jujur aja, aku pun dah muak lihat mereka jahat sama kamu. Seolah jadi ingat masa lalu," jelas Karno membuat Randy terbelalak.

"Ja-jadi ... pergi ke dukun, Kang?"

"Hust jangan kenceng-kenceng ngomongnya. Mbah Tarjo ini bukan sembarang dukun. Dia paranormal ahli dan hidupnya menyendiri di kaki Gunung Merapi. Kamu mau nggak?" tanya Karno memastikan.

Randy terdiam sejenak. Namun bayangan umpatan, hinaan, bahkan penolakan Kalistya membuat hatinya mantab untuk ikut jalan Karno.

"Ya, Kang. Aku mau."

Mereka pun perjalanan ke kaki Gunung Merapi tempat Mbah Tarjo tinggal. Dalam perjalan sempat Randy meragu. Namun, teringat perlakuan orang-orang terhadapnya membuat keraguan itu hilang. Karno mengajak berhenti sejenak untuk membeli sembako dan meminta Randy menyiapkan foto Kalistya dari handphone. Tentunya mudah didapat dari sosial media. Lalu mereka melanjutkan perjalanan kembali.

Sesampainya di sana, Mbah Tarjo sudah berdiri di depan pintu rumah kuno dari kayu. Seakan sudah tahu jika akan kedatangan tamu.

"Sore, Mbah Tarjo. Sungkem dulu sana," kata Karno sambil mencium tangan Mbah Tarjo dengan hormat.

"So-sore, Mbah. Saya Randy."

"Iya. Mau ubah nasib juga aeperti Karno?" tanya Mbah Tarjo kepada Randy.

"Eh, i-iya Mbah. Maaf, Mbah sudah ke sini sesore ini."

"Tak apa. Masuk saja sini. Mau seperti Karno atau mau hal lain?" kata Mbah Tarjo tanpa basa basi.

"Mbah, kalau seperti Kang Karno itu apa ya? Kalau yang lain itu seperti apa?"

"Begini, seperti Karno yang ambil adalah pengasihan. Semua orang akan simpatik padanya terutama orang yang dia sukai. Hal itu akan berefek kepada seluruh orang di sekelilingnya. Sedangkan hal lain yang lebih hebat adalah pelet pengikat. Jika kamu mempunyai seorang yang disukai, bisa memakai ini. Selain pengasihan, pelet pengikat juga terkhusu untuk menakhlukan orang yang angkuh kepadamu," jelas Mbah Tarjo.

Tanpa berpikir panjang, Randy memilih pelet pengikat yang belum dia ketahui syarat dan efeknya. "Saya pilih pelet pemikatsaja, Mbah. Untuk wanita ini," ucap Randy sambil menyodorkan handphone dengan foto Kalistya.

"Pilihan yang bagus. Pelet ini akan membuatnya langsung bertekuk lutut di hadapanmu, Nak. Namun ada syarat khusus, kamu harus meneteskan darah setiap malam jumat ke koin keramat ini," kata Mbah Tarjo sambil mengeluarkan sebuah koin di dalam kain putih kecil.

Mereka pun menjalani ritual tertentu. Setelah selesai ritual, hari pun sudah mulai malam. Randy dan Karno bergegas pamit pulang. Mbah Tarjo pun memberi peringatan sebelum mereka pulang, "Jangan lupa Nak Randy beri setetes darahmu setiap malam Jumat. Jika lupa, nyawa wanita itu yang menjadi taruhannya."

Randy pun mengangguk, paham. Randy dan Karno pun pulang. Sepanjang perjalanan hanya bayangan kebahagiaan di benak Randy. Mendapatkan wanita pujaannya adalah hal yang paling dia inginkan di usia tiga puluh ini.

Sesampainya di persimpangan, Randy berpamit dengan Karno. "Terima kasih, Kang Karno. Aku berhutang budi dengan aKang."

"Tak apa, Randy. Sekarang tak usah minder lagi. Besok pagi lihat saja perubahannya. Sudah malam ini, aku pulang dulu. Sampai jumpa di pabrik besok!"

Karno pun pulang dengan melambai tangan ke Randy. Setelah itu Randy juga pulang. Mandi lalu tidur. Tak sabar menanti esok hari.


Keesokan harinya ....


Sesampainya di pabrik, Randy langsung masuk ke ruangan karyawan bekerja seperti biasa. Tak diduga, Kalistya menghampiri Randy. Lelaki kurus dan berwajah cupu itu terkejut.

"Randy, gue mau minta maaf ya soal kemarin. Ini gue bawain makan siang buat nanti," kata Kalistya mendekati Randy yang sudah duduk di dekat mesin.

Sebagai Leader tentu saja Kalistya bisa berjalan keliling mesin berapapun. Hal ini yang membuat Randy sering melihatnya.

"Nggak apa kok. Aku minta maaf kalau lancang memberi cincin. Kamu nggak suka, ya?" tanya Randy masih canggung.

"Gue, eh ... aku suka kok. Maaf kemarin aku cuma gugup karena kamu tiba-tiba kasih cincin."

"Kalist! Ngapain deket-deket si cupu comberan ini?" celetuk Luna sambil merangkul tangan Kalistya.

"Eh jangan bilang gitu sama Randy! Aku baru aja minta maaf soal kemarin," kata Kalistya membuat Luna bingung.

"Bro, sori ya kemarin nggak sengaja bikin nyemplung ke selokan. Ini gue bawain rokok sama kaos Polo buat ganti rugi kemarin," kata Widi menghampiri Randy.

"Oh, nggak usah repot-repot. Thanks ya Widi," jawab Randy meraih pemberian Widi.

"Ih kalian berdua ngapain sih jadi aneh gini? Dah ah gue mau kerja aja." Luna sebal melihat Widi dan Kalistya yang berubah drastis.


Beberapa hari kemudian, semua orang di pabrik menjadi bersikap baik kepada Randy. Terlebih Kalistya yang selalu nempel dengan Randy bahkan memakai cincin yang diberikan tempo lalu. Luna semakin lama semakin curiga. Entah mengapa hanya Luna yang tak mempan dengan hal gaib milik Randy dan Karno.

Waktu berlalu dengan cepat. Setiap malam Jumat, Randy tak penah absen memberi darah setetes pada koin gaib yang Mbah Tarno berikan. Hingga akhirnya Randy akan mempersunting Kalistya.

Orang tua Kalistya menentang karena wajah Randy yang jauh dari tampan serta kondisi ekonomi mereka berbeda. Namun Kalistya bersikeras menikah dengan Randy. Mereka pun melakukan akad tanpa restu orang tua pihak wanita.


[Bersambung di kolom komentar]


DAFTAR ISI
Diubah oleh rens09 07-08-2020 00:10
uliyatisAvatar border
faridatul.aAvatar border
emineminnaAvatar border
emineminna dan 27 lainnya memberi reputasi
26
22.8K
147
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
rens09Avatar border
TS
rens09
#7
Cerita Keenam
Selamat malam Agan dan Sista pecinta Cerita Seram/Kisah Horor yang pastinya sudah menunggu cerita selanjutnya.
Kali ini saya akan menceritakan pengalaman yang mengerikan dan nyata terjadi. Nama dan tempat saya samarkan agar tidak terjadi kesalahpahaman atau suatu hal lainnya.
Silahkan membaca^^


emoticon-Takutemoticon-Takut emoticon-Takut



Cerita Keenam

PESANAN SIAPA?


Vira menjalani hari-hari yang menyedihkan setelah menikah siri dengan Didik karena hamil. Saat pacaran Didik memang lelaki yang perhatian, tetapi jika cemburu atau amanrahnya muncul tak segan-segan dia melakukan kekerasan kepada Vira.

Kali ini sifat buruknya makin menjadi karena kesusahan ekonomi. Semenjak hamil Vira harus keluar dari tempatnya bekerja. Lalu tinggal bersama Didik di dalam kontrakan sederhana yang berderet banyak. Didik tak bisa setiap hari bersama Vira karena istri pertamanya belum mau dicerai dan selalu menghindar saat membahas tentang kehamilan Vira.

Sore itu, Didik seperti kesetanan saat berdebat dengan Vira. Hantaman demi hantaman dilayangkan pada wanita hamil lima bulan itu. Sekuat tenaga Vira menutupi perutnya agar tidak terkena amukan Didik. Vira menangis. Berteriak. Membuat penghuni kontrakan keluar dan mencoba melerai meski akhirnya Didik pergi begitu saja.

Vira masih menangis sesenggukan dan beberapa tetangganya membantu mengobati luka lebam di wajah dan lengan Vira.

"Astafirullah, Mbak. Lukanya sampai biru-biru gini. Mbak nggak coba visum aja? Laporin aja ke polisi," ucap Bu Risma tetangga Vira.

"Terima kasih sudah mengobatiku, Bu. Maaf, urusan ini personal. Aku nggak mau laporin Mas Didik. Mungkin dia sedang banyak pikiran." jawab Vira membela suaminya.

"Dek, kalau lelaki seperti itu susah tobatnya. Kalau suka mukul bisa jadi kebiasaan. Kasihan ini jabang bayimu denger kalian bertengkar dan kamu dipukuli hampir tiap hari. Coba rundingan sama keluargamu biar dilaporkan," kata Bu Narmi menimbali perkataan Bu Risma.

Vira hanya mengucapkan terima kasih dan maaf tanpa memikirkan melakukan hal itu. Sejak Vira hamil, dia bagaikan dibuang oleh keluarganya. Hanya Didik satu-satunya yang peduli pada Vira walau sering kasar.

Sore pun berganti malam. Hujan deras mengguyur Kota Yogyakarta. Vira yang kesakitan dan lemas, masih harus menderita karena lapar. Sejak pagi tadi dia belum makan karena Didik datang dengan marah-marah. Tak juga dia membawa makanan atau meninggalkan uang sepeserpun. Sama sekali tak bertanggung jawab penuh. Padahal tabungan Vira sudah habis karena dipakai untuk makan sehari-hari selama di sana.

"Maaf ya, Dek. Mama juga lapar. Tapi nggak ada apa-apa di sini kecuali teh manis ini." kata Vira mengusap perutnya yang bundar dan menyeduh teh celup yang tinggal satu kantong.

Tiba-tiba ada suara ketukan pintu di tengah hujan. Vira mengira salah dengar atau ketukannya berasal dari kontrakan sebelah. Namun saat suara seorang lelaki terdengar, "Permisi. Ini pesanannya."

Vira pun berdiri dan membukakan pintu. "Maaf cari siapa, Pak?" tanya Vira pada lelaki pengantar makanan via online tersebut.

"Ini betul dengan Mbak Vira?"

"Ya, betul."

"Ini pesanan makanan untuk Mbak Vira dari Nina. Mohon diterima ya."

"Nina siapa, Pak? Kok nggak kenal ya?"

"Kurang tahu, Mbak. Tapi alamat dan petunjuk serta namanya sudah sesuai. Ini ya Mbak. Terima kasih dan selamat malam," kata Pak pengantar makanan online itu berlalu pergi dengan wajah pucat.

Vira mengira mungkin Didik yang memesankannya makanan. Dia pun tak berpikir mengapa bapak itu pucat dan terburu-buru. Mungkin karena hujan.

Vira pun berdoa lalu menyantap makanan nasi ayam geprek keju yang berada di sterefoam itu. Setelah kenyang, Vira tertidur nyenyak.

Dalam tidur, antara sadar atau mimpi, Vira mendengar suara tangisan. Lalu suara orang melangkah perlahan mengelilingi kontrakannya. Vira tak bisa bergerak. Mungkinkah ini yang dinamakan sleeping paralyzed?

Keesokan harinya ....

Didik datang dengan tanpa rasa bersalah. Dia pun mengajak Vira sarapan soto kesukaannya. Vira pu bertanya soal pengantar makanan online itu. Didik justru bingung dan tak mengerti. Mereka pun menyimpulkan mungkin tetangga kontrakan yang memesankan untuk Vira karena khawatir.

Setelah sarapan, Didik mengatar Vira kembali ke kontrakan lalu meninggalkannya untuk bekerja. Vira mencuci baju lalu menjemurnya. Bertemu dengan Bu Risma yangnjuga sedang menjemur pakaian.

"Siang Bu Risma." sapa Vira dengan sopan.

"Siang juga Mbak. Rajin banget ya bumil cantik ini."

Mereka pun berbincang sangat akrab sampai Vira menanyakan soal nama "Nina". Seketika Bu Risma terdiam dan permisi. Tak melanjutkan percakapan mereka. Vira menjadi curiga.

Hari-hari berikutnya semakin mencekam bagi Vira. Hampir setiap malam saat sendirian, dia mengalami tindian atau tak bisa bergerak antara mimpi dan nyata. Hal itu membuatnya sangat takut dan bingung. Tentu saja Didik tak percaya soal hal gaib dan sejenisnya.

Tak hanya sekali pengalaman pesanan makanan itu. Hingga kali ketiga, Vira sungguh penasaran siapa yang baik hati memesankan makanan untuknya bahkan tahu apa yang Vira sukai.

Siang harinya saat Vira bertemu dengan Bu Narmi soal pesanan makanan online tersebut. Bu Narmi menunjukkan reaksi yang sama dengan Bu Risma. Terdiam dan mencoba menghindar.

"Bu, ada apa sebenarnya? Tolong ceritakan saja. Please, Bu." Vira memohon.

Lalu Vira pun menimpali dengan cerita hampir setiap malam dia mendengar wanita menangis serta ada yang memutari kontrakannya. Tak hanya itu, soal tindihan juga Vira ceritakan agar Bu Narmi mengerti yang dirasakan Vira.

"Baiklah Dek. Ibu ceritakan tapi jangan takut ya? Bukannya menakut-nakuti tapi yang namanya Nina itu dulu ngontrak di tempat yang saat ini kamu tempati." kata Bu Narmi sambil menengok kanan dan kiri takut ada yang dengar karena hal ini harusnya dirahasiakan.

"Loh? Terus orangnya udah pindah gitu, Bu?" tanya Vira yang semakin penasaran.

"Bukan pindah. Jadi dia itu stress karena suaminya nggak mau tanggung jawab soalnya dia nikah siri aja. Suaminya punya pacar lagi dan jarang ke sini bahkan tidak kasih uang sampai nunggak bayar kontrakan. Berhubung pemilik kontrakan kasihan sama Nina yang lagi hamil muda, dia masih boleh di sini. Suatu malam, Nina nekat gantung diri di pohon yang bekas ditebang itu loh. Sempat heboh beritanya. Akhirnya suami sirinya makamin Nina di rumah asalnya. Sejak itu kontrakan bekas Nina kosong hampir setahun. Biasanya sih nggak ganggu, cuma ada suara nangis aja seperti Nina biasanya tiap malam nangisin suaminya. Terus Dek Vira datang ngontrak sama suaminya. Baru deh itu kamar dipakai lagi." jelas Bu Narmi membuat Vira merinding.

Siapa orang yang tak akan takut jika kontrakan yang ditempati bekas orang yang akhirnya gantung diri di pohon depan kontrakan. Vira pun ketakutan karena kemungkinan yang memesan makanan online adalah hantu. Namun tidak menutup kemungkinan jika orang iseng atau menakut-nakuti saja.

"Yaampun Bu kok serem banget. Kenapa Pak Tono tak bilang kalau kamar itu kosong lama. Padahal suamiku sudah bayar di muka untuk setahun."

Setelah percakapan itu, Vira semakin tak enak hati. Takut dan paranoid. Beberapa kali dia bilang ke Mas Didik tetapi berakhir dengan makian dan segala kata kasar yang membuat hati Vira semakin sakit.

Vira tak bisa pindah dari tempat itu. Namun lama kelamaan menghadapi sikap Didik membuatnya semakin terhimpit. Perut semakin membesar dan sering mendapat kekerasan membuat Vira semakin tak bisa berpikir jernih.

Suatu malam saat Didik tidur di samping Vira, ada ketukan pintu dan Vira segera membukanya. Seperti biasa ada pesanan online misterius untuk Vira dari Nina. Setelah pak kurir pergi, Vira masuk dan membuka bungkusan itu.

Vira terkejut bungkusan itu berisi makanan dan sebungkus racun tikus. Vira pun semakin gelap mata.

"Vir, ngapain buka pintu? Anginnya dingin sampai kamar nih!" kata Didik yang membuat Vira memiliki ide.

"Maaf, Mas. Ini ada kiriman makanan online lagi seperti yang aku ceritakan. Aneh kan Mas." lirih Vira sambil menutup pintu dan jalan ke kamar memperlihatkan bungkusan sterofoam berisi makanan.

"Halah paling orang iseng itu tu! Gitu aja takut. Sini kumakan aja. Kebetulan laper," kata Didik sambil menyambar sekotak berisi nasi goreng seafood.

Tanpa banyak bicara, Didik memakan nasi goreng itu dengan lahap. Vira hanya menatapnya nanar. Hingga akhirnya Didik batuk-batuk dan merasa lehernya sakit. Vira hanya diam melihatnya kesakitan.

"Vir, tolong Vir. Ini kenapa sakit banget. Tenggorokan panas." Didik meminum beberapa gelas air putih tapi tenggorokannya tetap sakit dan kemudian perutnya pun juga sakit.

Vira berdiri dan tersenyum. Didik menggelepar kesakitan dan keluar busa dari mulutnya. Penderitaan Vira berakhir malam itu.

"Terima kasih Nina, sudah membantuku agar tak bernasib sama denganmu," lirih Vira yang kemudian keluar kontrakan dan berteriak meminta bantuan.

Tetangga pun berdatangan dan coba membantu Didik yang akhirnya sudah tak bernapas. Malam itu Vira bersedih karen sadar mengapa tak sedari dulu dia membunuh sumber kesakitan di hidupnya.

Dari kejauhan, sosok Nina pun tersenyum menatap Vira dalam gelapnya malam.



emoticon-Takutemoticon-Takut emoticon-Takut


DAFTAR ISI
Diubah oleh rens09 07-08-2020 00:13
fiqihism
bayumyne
redbaron
redbaron dan 9 lainnya memberi reputasi
10
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.