Chapter 4
Quote:
Siang yang ramai di belahan sudut kota Surban, lalu lalang orang-orang masih saja terlihat. Djohan tertidur pulas di sebuah kasur yang empuk, dengan jendela yang sengaja dibuka dan angin yang meniup gordennya. Sudah jelas bahwa ruangan kecil yang hangat ini bukanlah kamar Djohan diapartemennya.
“Ehm…,” Djohan membuka matanya. “aku di mana?” sambil celingak-celiguk memperhatikan sekelilingnya.
“Ok aku masukkk…,” pintu dikamarnya terbuka, lalu masuk seorang wanita yang asing membawa nampan berisikan makanan dan minuman.
“Eh? Siapa?...,” tubuhnya masih sangat lemas, Djohan hanya bisa diam dan bersender di kasur. Wanita itu menyimpan nampan di meja sebelah kasur, heh…dada yang besar, apa tidak sesak berada di situ?
“Hm?” wanita ini sadar telah diperhatikan secara tidak wajar oleh Djohan, namun ia hanya tersenyum. “aku Solo, salam kenal yah!” ucapnya.
“I…iya! Aku Djohan, Salam kenal juga, tempat apa ini?”
Solo memberitahunya, sekarang Djohan berada di sebuah tempat rahasia. Sebenarnya bukan lagi rahasia jika Djohan berada di sini sekarang. Solo memintanya untuk memakan sarapan yang berupa roti dan susu dingin. Jika sudah selesai Djohan diminta untuk turun ke bawah jika ingin mengetahui semuanya.
“Begitu kah…,” Djohan melihat sebuah cermin didepannya, ada camera yang tersimpan diatasnya. “jadi begitu…”
“Apa? kamu bilang apa tadi?”
“Tidak…,” Djohan semakin gugup karena bentuk dada Solo yang menjulang ke depan. “terima kasih…”
Solo membalasnya dengan senyuman, lalu pergi meninggalkan kamarnya.
Bukan mimpi, ya…aku sadar betul apa yang aku lakukan malam itu, membunuh seseorang yang sudah tua dan tidak berdaya, pahlawan? Apanya yang pahlawan, sepertinya aku dibawa olehnya ke tempat persembunyiannya. Sudah jelas jika di apartemen polisi-polisi itu akan mudah menemukanku, berarti sekarang aku seorang kriminal. Pasti ayah akan sangat marah dan malah membunuhku jika tau anaknya yang tidak berguna menjadi seorang pembunuh.
Setelah menghabiskan makannya, Djohan keluar kamarnya. Berjalan menusuluri lorong kecil lalu menemukan tangga, ia menuruninya. Suara langkahnya begitu jelas terdengar. Di ujung jalan ada sebuah cahaya yang menyilaukan, Djohan menghampiri cahaya itu.
Terpampang dihadapannya sebuah meja biliar yang disorot oleh lampu diatasnya. Sebuah meja bar disamping, dipenuhi oleh banyaknya botol minuman alcohol berbagai jenis. Lalu meja-meja kecil yang tidak terisi, nuasana di ruangan ini begitu remang. Karena lampu meja biliar saja yang begitu menyilaukan mata.
“Halo….,” sapa seseorang yang berdiri di meja bar, dari pakaiannya tampak orang ini bekerja sebagai bartender.
“Eh Djohan, sudah selesai makannya? Sebentar yah…,” sosok Solo perlahan muncul dari sudut ruangan. “sini aku antar,” seseorang di meja bar melambai kepada mereka berdua.
“Mau kemana kita?” tanya Djohan.
“Kamu mau tahu kebenarannya kan? Tuan Stam sudah menunggu lho,” mereka berdua berjalan di lorong yang bagian sampingnya dihiasi oleh lampu kecil berwarna kuning, setelah sebelumnya Solo membuka pintu yang berasa tepat disamping meja bar.
Mereka tepat berada di depan pintu, Solo membukakan pintunya kepada Djohan. Lio menyapa mereka berdua ketika melihatnya.
“Tubuhmu sudah agak enakan? Tanya Lio.
Bocah sialan ini sangat menjengkelkan, Djohan hanya membalasnya dengan senyum.
“Baiklah, tugas saya sudah selesai, dah….,” Solo pamit lalu menutup pintunya kembali.
“Duduklah,” ucap tuan Stam yang duduk dikursinya yang nyaman.
Ruangan ini lebih mirip dengan ruangan direktur suatu perusahaan, dengan sofa hitam yang empuk mengelilingi meja kecil ditengahnya. Lemari buku yang berdiri gagah dibagian samping, lalu tentunya tempat tuan Stam menjadi paling menonjol.
“Jadi kalian ini apa dan siapa? Apa kalian gembong kejahatan rahasia di kota ini?” Lio tertawa mendengar perkataan Djohan itu.
“Hm, sebelumnya saya menjawabnya. Ada satu hal yang ingin kukatakan….,” Djohan menantikannya. “kau bukanlah seorang manusia lagi,” seperti petir di siang bolong bagi Djohan ketika mendengarkannya.
“Eh? Bukan manusia?”
“Ya, sama seperti orang-orang yang ada ditempat ini. Jika kau telah bertemu Solo pasti kau juga sudah melihat Gonzalo, kami semua sama sepertimu…seorang Beaters.” Tuan Stam melanjutkan. “kau adalah salah satu korban dari Beaters, kami menyelamatkanmu lalu menjadikanmu salah satu bagian dari kami.”
“Bagian monster, lalu aku yang membunuh pria tua itu sangatlah normal. Maksudnya kalian memberikanku sebuah racun dan mempengaruhi otakku untuk melakukan pembunuhan, tapi bagian bukan manusia itu…,” Djohan beranjak dari sofa. “TOLONG JANGAN MEMBUAL!”
Keadaan ruangan itu menjadi sedikit memanas, tapi tuan Stam masih tenang menghadapi Djohan yang tersulut emosi.
“Kau boleh menyebut kami adalah monster, tapi yang kami lakukan selama ini untuk kebaikan kota ini juga.”
“DENGAN MEMBUNUH ORANG-ORANG?”
Lio tidak tahan dengan sikap Djohan yang seperti itu, namun tuan Stam menahannya agar tidak bertindak.
“Aku kira bakal mendapatkan jawaban yang lebih masuk akal, ternyata tidak…,” Djohan yang kecewa keluar dari ruangan itu dengan mendobrak pintu.