Kaskus

Story

cattleyaonlyAvatar border
TS
cattleyaonly
Dendam Arwah dari Masa Lalu
Cerbung ini telah tamat ya. Terima kasih untuk semua pembaca setia cerbung ini

Konten Sensitif
Dendam Arwah dari Masa Lalu


Prolog

Nimas menatap Barata dengan perasaan sedih. Kekasihnya itu benar-benar melupakan apa yang telah dia korbankan dulu. Bahkan, dia meninggalkan keluarga yang memanjakan dan mencintainya untuk mengikuti lelaki itu. Semua ini karena gadis bernama Salindri itu. Dia tahu, dirinya tak lagi seperti yang dulu, tetapi apakah cinta bisa lenyap karena perubahan fisik semata?

Ya, kini dia tahu, lelaki hanya memuja kecantikan semata. Sementara dia menyerahkan segalanya, bahkan nyawanya.

Matanya memerah, memancarkan kemarahan. Tubuhnya yang hampir saja kembali sempurna, kini luruh dan mencair. Melesap dalam tanah bersama gerimis malam itu.

Sungguh, ini bukan sakit yang bisa ditahan oleh wanita itu. Kini dia akan benar-benar mati, tetapi tidak dengan jiwanya. Dia bersumpah, akan hadir untuk jiwa-jiwa yang terbakar dendam.

Tawa Nimas melengking, membuat bulu kuduk semua orang yang ada di tempat itu merinding.

Dendam Arwah dari Masa Lalu

Ambar turun dari angkot dan menyewa ojek untuk sampai ke Desa Wonosukmo. Desa itu sangat jauh dan jalannya tidak bisa dilalui mobil. Entah kenapa, dia memilih desa itu sebgai tempat untuk mengabdikan ilmunya pada masyaarakat. Seperti apakah masyarakat di sana? Apakah mereka terbuka menerima pendatang?

Berbagai pikiran sempat terlintas dalam benaknya, tetapi ada yang lebih menguasai benak itu, yaitu rasa patah hatinya karena putus cinta. Dia berharap, tempat itu bisa menghapus kenangan sedihnya.

“Mbak, Mbak’e ini tinggal di Wonosukmo?” tanya tukang ojek sambil sedikit menoleh ke samping supaya Ambar mendengar pertaanyaannya.

“Nggak, Mas. Saya baru mau tinggal di sana.”

“Serius, Mbak?”

“Lha memangnya kenapa tho?”

“Gadis secantik dan semodern Mbak ini apa betah tinggal di desa terpencil seperti itu. Bahkan di sana sinyal internet saja susah.

“Wah, gitu ya?”

“Iya, Mbak.” Tukang Ojek memelankan laju kendaraannya melewati jalan berbatu. “Mbak’e ini kenapa mau tinggal di sana?”

“Saya bidan baru Mas, baru lulus. Harus mengabdi dulu selama tiga tahun.”

“Wah, semoga betah ya Mbak. Denger-denger sih, nggak ada bidan yang betah tinggal di sana. Paling lama tahan seminggu saja,” kata tukang ojek.

“Lha kenapa tho, Mas?” Kening Ambar berkerut, hatinya sangat penasaran.

“Nggak tahu, Mbak. Nggak jelas alasannya. Mereka pergi begitu saja,’ jawab si tukang ojek. “Mudah-mudahan Mbak’e kerasan di sana. Dokter nggak ada, puskesmas pembantu hanya dijaga perawat dan mantri, Mbak. Puskesmas itu sepi, jarang ada pasiennya.”

“Kenapa bisa begitu, Mas?”

“Maklum, Mbak, masyarakat sini masih percaya klenik.”

Deg! Ada yang berdentam dalam dada Ambar. Semacam ketakutan yang diam-diam muncul tanpa permisi. Gadis itu memandang sekeliling, hanya kebun tebu di sisi kiri, sementara di sisi kanan berupa semak belukar dan semacam hutan kecil. Pohon-pohonnya tinggi dan beragam jenis. Tiba-tiba Ambar merasa ada yang mengawasinya. Pandangannya memindai sekeliling. Hanya ada hijau tanaman. Namun entah mengapa firasatnya mengatakan hal buruk sedang mengintainya. Bulu kuduknya meremang. Dia memandang sang tukang ojek. Hatinya tenang ketika memandang spion, wajah itu masih wajah yang tadi dilihatnya.

“Berhenti di Puskesmas Pembantu, ya, Mas,” pinta Ambar ketika melihat tempat yang dituju sudah terlihat dari jauh.

“Baik, Mbak. O, iya, nama Mbak siapa?”

“Ambar, Mas.”

“Bidan Ambar. Ya, ya, harusnya saya memanggil dengan panggilan bisan Ambar,” kata tukang ojek. “Nama saya, Rahmat, Bu Bidan.”

“Oh, iya Mas Rahmat, terima kasih banyak informasinya.”

“Sama-sama, Bu,” kata Rahmat seraya menghentikan motornya di depan sebuah puskesmas pembantu. Ambar turun dan Rahmat membawakan tas besar Ambar hingga sampai di pintu puskesmas. Ambar memberikan ongkos kepada Rahmat dan pria itu mengucapkan berkali-kali terima kasih karena Ambar memberinya tip.

“Bu Bidan Ambar?” sambut perempuan yang papan namanya tertulis Yustini.

“Iya, Mbak, saya Ambar.”

“Selamat datang di Puskesmas Pembantu Wonosukmo,” kata Yustini, sang perawat. “O, ya, mau langsung saya antar ke rumah dinas?”

Ambar mengangguk. Gadis itu kemudian mengikuti langkah Yustini menuju sebuah bangunan kecil di belakang puskesmas pembantu. Sebuah rumah berukuran 6x4 meter, terlalu kecil untuk diseebut rumah. Konon itu sumbangan seseorang dermawaan untuk bidan di sana agar tak perlu mencari tempat kos.

Ambar memasuki rumah mungil yang dibuka Yustini. Tercium aroma bunga kenangan yang menyebar. Mungkin Yustini telah menyemprot pengharum ruangan, pikir Ambar. Sepertinya perawat iru sangat ramah dan menyenangkan. Semoga dia akan kerasan di sana.

Rumah itu hanya terdiri dari ruang tamu, kamar tidur, kamar mandi dan dapur, yang kesemuanya serba mini. Namun, ruangannya sangat bersih. Di halamannya pun telah ditumbungi beberapa tanaman bunga. Tak jauh dari rumah dinas situ ada rumah Yustini, yang hanya terlihat bilaa Ambar berdiri di sisi selatan rumah itu. Setidaknya, dia tak jauh dari tetangga. Hatinya tenang. Meskipun lain dengan yang dirasa Yustini. Dia tak menyemprot ruangan itu dengan apapun. Dari mana harum kenanga itu bisa menyeruk indera penciumannya? Bulu kuduk Yustini mernding. Dia berharap, semoga Ambar tak kenapa-napa.

Bersambung di sini

Written by @cattleyaonly



Dendam Arwah dari Masa Lalu
Diubah oleh cattleyaonly 30-07-2020 20:52
Lailahr88Avatar border
pepenionAvatar border
69banditosAvatar border
69banditos dan 31 lainnya memberi reputasi
32
15.3K
159
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
cattleyaonlyAvatar border
TS
cattleyaonly
#68
DENDAM ARWAH DARI MASA LALU (PART 23)
Ki Barata terbangun. Lelaki itu kemudian duduk dan melihat sekeliling, yang tampak hanya Salindri. Pikirnya, Nyi Sundari mungkin telah pulang untuk mencarikan tumbal perawan baginya. Ki Barata memandang Salindri dari atas ke bawah. Naluri laki-laki normalnya mengusik. Dengan pelan dia melangkah ke tempat Salindri tertidur. Dibelainya pipi gadis itu.

Merasakan tangan yang dingin menyentuhnya, Salindri terbangun. Tampak olehnya sosok sang guru. Dengan cepat gadis mengumpulkan kesadarannya. Dia menggenggam tangan Ki Barata, membuat lelaki itu terkejut tapi juga senang.

"Ki Barata menginginkannya?" tanya Salindri menggoda. Dia teringat yang dikatakan Nyi Sundari agar merayu Ki Barata agar mau berhubungan intim dengannya dan meminta lelaki itu mengajari berbagai ilmu secepat mungkin. Imbalannya, Nyi Sundari akan mengangkatnya sebagai anak. Janji Nyi Sundari seperti telaga di tengah hutan yang meranggas. Betapa haus Salindri akan kasih sayang seorang ibu. Meski hanya beberapa waktu, perlakuan Nyi Sundari padanya begitu manis, layaknya ibu kepada anak. Kini Salindri bukan hanya mengagumi wanita itu, tapi juga mulai menyayanginya.

Ki Barata mulai menikmati tubuh muda di dekatnya. Lelaki itu merutuki diri. Kenapa dia begitu bernafsu menghadapi gadis ini? Untuk pertama kalinya, dukun itu menghianati Nimas.

Setelah melampiaskan nafsunya, Ki Barata duduk termenung. Dia melangkah ke arah kerangka Nimas terbaring. "Maafkan aku Nimas. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Aku mencintaimu sampai mati," gumam Ki Barata.

Salindri melihat lelaki itu dengan wajah kasihan. Gadis itu kemudian berdiri dan melangkah keluar menuju mata air kecil tak jauh dari gua. Dia membawa baju-hadiah dari Nyi Sundari, sebagai ganti. Baju itu terlihat sangat indah dan wangi. Seumur hidup Salindri belum pernah mempunyai baju seindah itu.

Salindri melepas bajunya, menikmati sentuhan air membelai tubuhnya, Dia membenamkan tubuh mulus berisinya ke dalam air hingga yang tampak hanya leher dan kepala. Gadis itu asyik menggosoki tubuhnya dengan batu kecil yang datar.

Beberapa saat kemudian Salindri kembali ke dalam gua dan meminta Ki Barata mengajarinya banyak hal dan lelaki itu menurutinya. Dalam beberapa hari saja Salindri sudah menguasai banyak ilmu. Salindri bukan hanya cantik, tapi dia juga cerdas. Hanya saja nasibnya kurang beruntung.

***

Nyi Sundari segera pergi ke pondok menyusul Witri. Dia ingin secepatnya memeluk anak semata wayangnya itu dan mengatakan, akan berhenti melakukan hal-hal yang syirik. Pasti gadis itu akan senang mendengarnya.

Kini Nyi Sundari telah sampai di depan kamar Witri, mengetuk pintunya pelan.

"Witri, ini ibu, Nak."

Tak ada jawaban. Hanya desir angin yang membawa kesunyian.

"Witri, apakah kamu di dalam?"

"Witri di sini, Bu." Suara itu dari arah belakang Nyi Sundari. Wanita itu menoleh. Witri menghambur dalam pelukannya dengan isak tangis tertahan.

"Sayang, maafkan ibu, Nak."

Witri tak bersuara. Dia hanya ingin menangis dalam pelukan ibunya.

Sesaat kemudian mereka memasuki kamar. Nyi Sundari berkata, "Ibu akan tinggal di sini bersamamu."

"Benarkah itu, Bu?"

"Iya. Ibu telah memutuskan untuk meninggalkan cara hidup ibu yang sesat. Ibu ingin kembali mengenal agama di sini. Menimba ilmu bersamamu, Nak."

"Ibu, Witri senang mendengarnya." Witri memeluk ibunya dengan senyum bahagia.

"Ibu mau bicara dengan ustadz di sini, Nak. Witri di sini dulu, nanti ibu kembali," kata Nyi Sundari seraya melangkah keluar.

Witri menutup pintu kamarnya, kemudian mengempaskan tubuhnya ke kasur. Senyum ceria menghias di bibirnya. Tak ada hari yang paling membahagiakan selain hari ini. Ibunya telah kembali ke jalan yang benar. Witri yakin, arwah ayahnya akan senang jika mengetahui hal ini. Gadis itu memejamkan mata.

Terdengar suara ketukan di pintu.

"Ibu?"

Tak ada jawaban.

Bergegas Witri membuka pintu kamarnya. Lelaki menakutkan yang dulu pernah datang ke rumah itu berdiri di hadapannya, mendorong tubuh gadis itu kemudian mengunci pintu kamar. Apa yang terjadi kemudian tak pernah dibayangkan Witri. Lelaki itu merenggut kegadisannya. Kemudian--sebelum hilang rasa sakit di pangkal paha--sebuah tusukan keris menghunjam tepat di jantungnya. Keris yang dibawa Nyi Sundari untuk mengganti keris keramat milik lelaki itu, Witri tak mampu lagi menjerit. Rasa sakit di dadanya membuatnya lemah. Dia merasakan tubuhnya sangat dingin. Di matanya terlihat awan-awan putih menggumpal. Ruangan tempatnya berada terlihat sangat terang hingga dia merasa silau dan menutup matanya.

"Rasakan kau, Sundari. Ini untuk penghianatanmu!" Lelaki itupun kemudian pergi secepat kilat. Ki Barata datang dengan kemarahan yang memuncak, karena mendapati keris pusaka miliknya telah ditukar dengan keris yang lain.

Beberapa lama kemudian, Nyi Sundari membuka kamar Witri. Dia Cumiik histeris melihat pemandangan mengerikan di depannya. Wanita itu terduduk di lantai, di sisi mayat anaknya. Air mata deras mengalir di pipi Nyi Sundari. Dia tahu siapa yang melakukan semua itu, dan dia menyesal telah lalai menjaga Witri.

Para santri dan ustadz berdatangan begitu mendengar teriakan Nyi Sundari. Mereka semua terkejut melihat keadaan Witri.

Ustadz Ilyas yang belum lama tiba di pondok membelah kerumunan dan berjongkok di depan mayat Witri. Dia semakin mengerti, lelaki seperti apa yang hendak mencelakakan anak dan menantunya.

Pemakaman Witri berlangsung dengan penuh kesedihan. Gadis itu disemayamkan di samping makam Arum.

Arwah Arum menangis di kejauhan, menyaksikan sang sepupu akhirnya mengalami nasib yang sama seperti dirinya. Apa yang bisa dilakukan arwah penasaran seperti dirinya? Bahkan dia pun tak mampu menolong dirinya sendiri.

Semua orang telah meninggalkan peristirahatan terakhir Witri, tapi Nyi Sundari masih saja duduk mematung di samping pusaranya ditemani Nyai Amirah.

"Nyi, ayo kita pergi dari sini," kata Nyai Amirah.

"Biarkan saya tetap di sini, Nyai. Saya ingin menemani anak saya. Kasihan dia kedinginan dan sendirian di dalam sana. Terlebih semua itu karena saya," kata Nyi Sundari lirih. Butiran air mata meluncur deras ke tanah kuburan Witri. Betapa nyeri hati wanita itu melihat anak yang disayanginya harus pergi dengan cara setragis itu.

***

Ustadz Ilyas mengajak Nyi Sundari untuk sementara waktu tinggal di rumahnya. Kang Rajiman serta beberapa anak buahnya pun berjaga di rumah Ustadz Ilyas. Bersama beberapa ustadz, mereka menyatukan kekuatan untuk melawan dukun jahat bernama Ki Barata itu.

"Mas, jangan tidur malam ini. Berusahalah untuk selalu terjaga dan berdzikir," kata Ambar sembari memeluk suaminya. "Jangan tinggalkan aku."

"Aku tidak akan meninggalkanmu, Sayangku. Aku akan berusaha melawan kekuatan yang akan membunuh kita. Aku sayang kamu." Diciumnya bibir Ambar. Mata Ambar terpejam, merasakan kehangatan sentuhan sang suami. Di sudut matanya mengambang tetes bening. Perlahan Ikram membelai tubuh sang istri. Berusaha menghilangkan ketakutan wanita itu meskipun hatinya juga diliputi rasa takut yang sama. Lelaki itu merasa tubuhnya terasa sedikit lemah. Bibirnya terlihat pucat saat dia berkaca tadi. Ikram tidak mau meninggal sia-sia sebagai tumbal.

Ambar memejamkan matanya, semakin dalam tenggelam dalam peukan sang suami Mendengarkan detak jantung lelakinya yang berpacu begitu cepat.

"Mas ...." Ambar mendongak, mencium dengan lembut bibir Ikram. Mereka saling pandang, kemudian menjabarkan cinta di antaranya dengan cara mereka.

Mereka keluar kamar, segera mensucikan diri dan bergabung dengan orang-orang di halaman rumah.

Nyi Sundari, Kang Rajiman, dan Ustadz Ilyas sedang mencari cara yang tepat untuk mencegah Nimas datang.

"Saya akan menyiapkan anak buah saya untuk mengepung rumah ini, Pak Ustadz. Mereka akan menjadi benteng untuk menyambut kedatangan makhluk itu," kata Kang Rajiman.

"Apa tidak sebaiknya kita serang langsung di guanya, Tadz?" saran Nyi Sundari.

"Saya rasa, kekuatan kita belum cukup untuk menghadapi Ki Barata. Saya telah meminta tolong Kyai Nawawi untuk menghadapi Ki Barata, tapi mungkin besok Kyai baru sampai di sini."

"Jadi bagaimana sekarang?"

"Kita usahakan agar istri Ki Barata itu tak bisa mengganggu Ikram."

Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Selain anak buah Kang Rajiman, semua memasuki ruang tamu Ustadz Ilyas. Mereka mulai melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an.

Terasa hembusan angin menerobos pintu yang terbuka sendiri, bersama aroma dupa dan harum kenanga. Mereka segera melindungi Ikram dan Ambar dengan mengelilingi kedua mempelai itu dengan rapat. Lantunan ayat AL-Qur'an semakin keras dibacakan.

Hawa dingin membuat para santri segera tertidur meskipun mereka masih dalam keadaan duduk. Bahkan anak buah Kang Rajiman telah terlebih dulu pulas. Kang Rajiman mulai menguap. Tinggal Nyi Sundari dan Ustadz Ilyas yang masih dalam keadaan siaga.

Nimas terlihat bingung. Dia tidak bisa menyentuh Ikram dan Ambar. Padahal tinggal dua kali lagi, dia akan segera mendapatkan kehidupannya. Dengan sekuat tenaga Ki Barata menambahkan tenaga untuk Nimas, juga membuat dua orang yang masih terjaga itu melemah dan tertidur. Dupa ditambah. Mantera-mantera kembali diucap. Peluh bercucuran di wajahnya. Jantungnya berpacu lebih cepat. Dia mengundang kekuatan iblis terjahat agar datang dalam pestanya malam itu.

Ustadz Ilyas dan Nyi Sundari akhirnya tertidur. Kini dengan leluasa Nimas membawa Ikram ke ranjang dan menyerupakan dirinya dengan Ambar. Kejadian di malam-malam sebelumnya pun terulang. Nimas membuat Ikram terbangun dan menganggap dirinya adalah Ambar.

"Ambar, kenapa kamu minta lagi?" bisik Ikram merasa seperti dalam mimpi.

"Aku menginginkanmu, sangat menginginkanmu."

"Benarkah itu?"

"Apakah kamu ragu?"

"Aku merasa kamu lain. Kamu seperti bukan Ambar."

"Aku Ambar!"

Ikram yang kesadarannya tidak sepenuhnya hilang menatap Nimas dalam-dalam. "Kau bukan Ambar!" serunya sambil mendorong Nimas.

Nimas meradang. Dia tidak mau usahanya sia-sia. Dengan cepat dia memeluk Ikram dan mencium bibirnya. Ikram tiba-tiba menjadi hilang kendali. Permainan Nimas berlangsung sangat menggairahkan. Nimas merasakan kekuatannya hampir sempurna. Sementara Ikram merasa tubuhnya sangat lelah dan lemah. Lelaki itu jatuh tak sadarkan diri.

Suara adzan Shubuh di kejauhan membangunkan Ustadz Ilyas. "Astagfirullah!" serunya begitu menyadari keadaan. Ambar tertidur di belakangnya bersandar pada punggung Nyi Sundari yang juga tertidur seperti semua orang di ruangan itu.

Bergegas, pendiri pesantren Darul Haq itu menuju kamar Ikram. Beliau mendapati sang putra tergolek di tempat tidurnya. Terlihat oleh beliau bercak-bercak darah mengotori sprei.

"Ikram, bangun, Nak!"

Ikram bergeming. Abah memeriksa keadaan putranya kemudian segera mengambil bau-bauan dan mengoleskan di hidung Ikram. Beberapa saat sesudahnya Ikram tersadar.

"Di mana Ambar, Bah?"

"Tertidur di depan."

"Bah, makhluk itu ...."

"Abah tahu. Kita belum bisa menghadangnya." Ustadz Ilyas memandang wajah Ikram. Dahinya berkerut. "Mukamu pucat, Nak. Sebentar Abah ambilkan minum. Ikram tidur saja."

Ikram mengangguk. Badannya terasa sangat lunglai seolah tak bertulang. Sebagian kehidupannya mungkin telah tercerabut sebab perzinaan yang dilakukan Nimas terhadapnya. Lelaki itu mengucapkan istrighfar berulang-ulang. Tadi malam dia sempat akan menang terhadap godaan Nimas. Namun, seperti yang diceritakan Nyi Sundari, Ki Barata memang sungguh-sungguh dukun yang didukung kekuatan iblis terjahat.

Ustadz Ilyas membangunkan orang-orang kemudian kembali ke kamar Ikram bersama Ambar, Nyai Amirah dan Nisa.

"Mas!" Ambar memeluk suaminya dengan isak tangis. Hatinya dirundung ketakutan yang sangat. Dia tak ingin kehilangan suami yang dicintainya untuk kedua kali.

Dengan lemah Ikram membelai rambut istrinya. Sebulan yang lalu dia masih sosok yang gagah, namun kini hanyalah seorang yang hendak sampai ke ajal. Harapannya untuk hidup bahagia bersama Ambar mungkin hanyalah hayalan. Takdir telah menyeret mereka ke tepi jurang perpisahan. Mungin dirinya akan mati dan Ambar kembali jatuh ke jurang yang lain seperti dulu. Siapa yang tahu? Tak terasa air mata mengalir di pipinya.

Nisa menggenggam tangan kakaknya. Tak dapat disembunyikan kesedihannya melihat keadaan kakaknya kini. Tubuh Ikram kini kurus dan lemah, sementara wajahnya hampir mirip mayat.

Ustadz Ilyas menyodorkan air putih yang telah diberinya doa kepada Ikram. Ambar membantu suaminya minum.

"Bertahanlah, Mas," kata Ambar dengan air mata berderai.

"Jangan menangis, Sayang."

Ambar menggenggam tangan Ikram yang lunglai. "Maafkan aku. Karena akulah semua ini terjadi. Aku jatuh ke kampung Lembah ini sebagai bencana untukmu." Ambar semakin terisak.

"Jangan berkata seperti itu, Nak, semua ini ujian bagi kita. Bukan salahmu, tapi dukun yang sesat itu."

Seorang santri tergopoh-gopoh mengetuk pintu kamar Ikram yang terbuka. "Pak Ustadz, Kyai Nawawi datang," katanya

Ustadz Ilyas tergopoh-gopoh menemui tamunya. "Assalamu'alaikum, Kyai. Maafkan saya telah merepotkan Pak Kyai."

"Walaikumussalam. Tak apa Pak Ustadz. Sudah kewajiban manusia untuk saling tolong menolong," jawab Kyai Nawawi sambil memeluk Ustadz Ilyas. "Di mana Ikram sekarang?"

"Mari saya antar ke kamarnya."

Keduanya pun segera menuju kamar Ikram.

"Kyai!" sapa Ikram lemah, dia ingin bangkit tapi kekuatannya seakan habis.

Ambar menepi, memberi jalan pada Kyai Nawawi untuk berada di sisi Ikram.

"Bagaimana keadaanmu, Nak? Apa yang kamu rasa?"

"Tenaga saya seperti tersedot habis, Kyai. Entah apa yang terjadi pada diri saya ini."

Kyai Nawawi memegang dahi Ikram, kemudian mengucapkan doa kesembuhan beserta beberapa ayat suci AL-Qur'an. Perlahan, wajah Ikram sedikit bersemu merah. Ada sedikit kekuatan merasuk ke dalam tubuhnya. Lelaki itu mencoba duduk.

"Terima kasih, Kyai."

"Sekarang apa yang harus kita lakukan Kyai? Malam ini malam ke empat puluh makhluk itu mengganggu anak saya. Seperti yang dikatakan Nyi Sundari, malam ke empat puluh adalah malam puncak dukun itu untuk mewujudkan keinginannya membangkitkan istrinya yang sudah mati."

"Kita kerahkan kekuatan kita malam ini. Memohon kepada Allah, Dzat yang memberi kita hidup."

Semua yang ada di kamar itu menatap sang Kyai. Kepada kyai sepuh itulah harapan disandarkan.

Bersambung
getukX
winehsuka
69banditos
69banditos dan 11 lainnya memberi reputasi
12
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.