PART 02
Apa kabar Rendy setelah hari ulang tahunnya yang ke 21? Tampaknya tidak banyak berubah, rambutnya masih rimbun layaknya bonsai pohon beringin. Statusnya pun masih jomblo sama seperti tahun-tahun sebelumnya, hanya saja ada sedikit perubahan pada usahanya menarik perhatian Aulia Jasmine yang merupakan adik perempuan sahabatnya itu.
Dari saat ia bertemu Jasmine untuk kali pertama. Saat itu Rendy sudah berikrar didalam hati bahwa inilah tipe wanita impiannya. Berhidung mancung, berkulit putih ditambah
vibetimur tengah yang menjadikan Jasmine terlihat sempurna dimata Rendy.
Harus diakui bahwa ia memiliki selera yang cukup tinggi. Niatnya baik, Rendy ingin memperbaiki keturunan, tapi itu bukanlah semudah membalikkan telapak tangan. Berapa banyak cowok ganteng nan kaya yang akhirnya gagal mendapatkan hati Jasmine. Kasihan kau anak muda, lebih baik cuci muka, minum obat cacing lalu bersiaplah untuk tidur, tapi jangan lupa berdoa.
Sementara Jasmine, ia bahkan tak tahu lelaki seperti apa yang sebenarnya ia cari? Ia cukup lelah menghadapi para lelaki yang coba mendekat demi menarik perhatiannya dengan pola yang sudah bisa ia tebak. Tapi soal Rendy, walaupun konyol ia hampir tak pernah gagal membuat Jasmine tertawa.
**
Gawai milik Jasmine berdering tepat di atas meja belajarnya. Mood-nya sedang baik saat ini, hingga memudahkankan ia untuk merapihkan semua pakaian yang cukup berantakan di beberapa sudut kamar.
“……”
“Bang Rendy” tertulis jelas pada gawai milik Jasmine. Perhatiannya sedikit teralihkan, tetapi masih merasa tanggung meninggalkan aktivitasnya tersebut. Setelah dua atau tiga kali barulah Jasmine bisa menjawab panggilan tersebut.
“ Halo…” Sapa Rendy
“ Iya halo…” balas Jasmine
“ lagi sibuk kah?”
“ lumayan, lagi beresin kamar, ada apa bang?”
“ gak, mau nanya aja, Juna di rumah gak?”
“ lagi keluar bang ”
“ tapi kalo Jeje ada kan?”
“ hmm… bilang aja mau nyari gue, pake nanya bang Juna ”
“ intro dulu Je, hehe…?
“ kenapa, bang rendy mau ke rumah?”
“ kok ngerti sih Je?”
“ apalagi coba?… bang ren, gue sekalian nitip ya”
“ dengan senang hati, mo nitip apa?”
“ jus alpukat, sama mie pangsit, cabenya di pisah, banyakin sayurnya…nanti uangnya gue ganti bang”
“ oh..siaapp, di tunggu!”
Mungkin jika yang di minta Jasmine adalah brokoli manis, Rendy akan berusaha sekuat tenaga menyirami rambutnya dengan
mayonnaisepanas yang ditambah sedikit gula pasir. Baginya, permintaan Jasmine adalah sebuah titah dan kewajibannya hanyalah membawakan apa yang ia minta ke hadapannya.
**
“ Raline susah di ajak keluar sekarang, setelah putus sama Ari kayak gak semangat gitu dia, setahu gue sih emang dia gak bisa sendiri ” curhat Karin yang tengah duduk di sofa ruang tamu Inez sembari memainkan gawainya.
“ …lagi pengen sendiri aja kali…” balas Inez yang kemudian membuka lemari es bermaksud mengambil Jus jeruk kemasan untuk diminum bersama Karin.
“ bisa jadi…hari ini alasannya mager pas gue ajak nyalon bareng” Karin seperti menyetujui alasan sahabatnya itu.
“ tapi ulang tahun Rendy kemaren dia dateng kan?” Ucap Inez sembari menyesap jus jeruk dingin itu tepat didepan sahabatnya.
“ iya sih… tapi gue kira Juna cukup memenuhi kriteria dia deh” sambung Karin tiba-tiba melontarkan kalimat itu.
“ Bbrruhhh….” Inez menyemburkan jus jeruk yang baru saja ia sesap ke dalam mulut.
“ gak mungkin…” sambung Inez yang kemudian membersihkan bekas semburan jus jeruk di celana jeans-nya menggunakan tisu.
“ …apa sih yang gak mungkin?” lanjut Karin yang cukup mengetahui karakter Raline.
“ …gak mungkin aja raline sama juna…” Inez masih cukup ragu mendetailkan alasannya tersebut, ada banyak hal yang sepertinya belum Karin ketahui soal perasaannya ke Juna, perasaan Juna ke Raline. Hanya saja Inez belum siap untuk menceritakan hal tersebut. Terlalu rumit!
**
Si jeruk benar-benar mampu menjelaskan perjalanan panjang Juna hingga pada detik ini. Saat terberat yang datang silih berganti ia tetap membersamai Juna menyusuri setiap sudut kota menjalankan peran yang ditakdirkan untuk ia mainkan. Termasuk perjalanan cintanya yang penuh liku dan lebam di sekujur badan.
Juna membawa Raline tiba dirumahnya. Ini adalah kali pertama Raline datang ke rumah Juna dengan status baru. Tak lagi sebagai teman yang begitu ia kagumi, melihat tanpa bisa dimiliki, berharap tanpa tahu akan diharapkan. Menebak-nebak isi hati dan uring-uringan sendiri saat semuanya tidak berjalan sesuai rencana. Semua itu sudah menjadi bagian dari masa lalu yang tak mungkin bisa dilupakan untuk Juna.
“ assalamualaikum…” Juna memberi salam
“ waalaikumsalam” Terdengar balasan dari dalam rumah.
“ Jeje….” Sapa Raline ramah begitu mengetahui Jasmine yang membukakan pintu.
“ kak Raline…” Jasmine pun menyambut sapaan itu dengan ciuman di kedua pipi Raline.
“ masuk kak!” Ajak Jasmine
“ abang lo ini gak dicium juga?” goda Juna ke adiknya itu sembari tersenyum
“ga ah, takut sial” seloroh Jasmine seolah ejek mengejek adalah bagian rutinitas mereka
“eh eh… bisa gitu ya ke abang lo yang keren ini, tuh liat calon kakak ipar lo! mana ada sial-sialnya bareng gue” bela Juna sembari meminta dukungan Raline
“tau dari mana lo bang kalo kak Raline gak sial, bukannya sama lo aja udah sial itungannya? Wekkk … hahahahaha”
“hahahaha” Raline ikut tertawa melihat hangatnya dua kakak beradik ini
“gini nih kalau kalian udah ngumpul, pasti kompakan nyerang gue” Lanjut Juna
“ gitu aja ngambek, sini tangannya” ucap jasmine kemudian mencium tangan kakaknya, meskipun mereka seperti itu, tapi jasmine tidak pernah untuk tidak menghormati kakaknya, baginya juna adalah sosok ayah yang menjadi panutan untuknya.
“ kakak bawa ini…” Raline sedikit mengangkat bungkusan berisi donat yang tak sengaja ia beli.
Jasmine menerima donat yang diberikan Raline “ makasih banyak kak, tapi yang paling suka donat itu laki-laki disebelah kakak” khusus kalimat terakhir, Jasmine berbisik ke telinga Raline.
“ kok kakak gak tahu…”
“ makanya jeje kasih tahu…”
“ pada ngomongin gue ini?” seloroh Juna
“ pede banget!” Timpal Jasmine kemudian menggandeng Raline masuk ke dalam rumah.
Ciri khas rumah ini selalu ramah buat siapa saja. Para penghuninya begitu hangat seakan tamu yang singgah ke rumah ini menganggap seperti rumahnya sendiri.
“ BUN….ada kak Raline..” ucap Jasmine sembari menuju dapur guna memindahkan donat-donat tersebut ke atas piring.
“ kok gak ngabarin kalo mau main ke rumah, apa kabar kamu sayang?” Sapa Bundo ramah.
“ baik bun, bundo sehat?” balas Raline
“ alhamdulillah sehat, Raline…maafin anak bundo ya kalo kemaren itu kurang peka!” Nada kalimat terakhir bundo keluarkan pelan agar tak terdengar oleh Juna.
“ …” Raline menoleh ke arah Juna yang telah asyik menyabotase siaran tv Jasmine di ruang keluarga.
“ iya bun…jadi malu nih” Jawab Raline dengan raut wajah yang memerah.
“ Juna sayang banget sama kamu” ucap Bundo sambil tersenyum.
“ …” Raline pun tak dapat berkomentar apa-apa dan hanya membalasnya dengan senyuman.
“ kalian santai aja di rumah, bundo mau ke kantor lagi”
“ berangkat lagi bun?” Tanya Juna yang melihat Bundo menuju pintu rumah.
“ iya, baik-baik di rumah!”
“ Iya bun” Jawab Juna
“ Raline, Bundo berangkat dulu ya”
“ Iya bun, hati-hati”
“…” Senyum bundo terlihat dari raut wajahnya sembari berjalan keluar.
**
“ Je…donatnya bawa sini, buruan!”
“ BENTAR! cepet banget kalo soal donat, heran” gerutu Jasmine
Raline menyusul Jasmine ke arah dapur, mereka berdua cukup dekat bahkan sebelum Juna berpacaran dengan Raline. Beberapa kali, Raline meminta Jasmine menemaninya untuk berbelanja ataupun ke salon bersama. Raline merasa menjadi seorang kakak jika bersama dengan Jasmine, maklum mengingat Raline adalah anak tunggal dan terbiasa menjalani semuanya sendirian.
“ kakak kalo mau minum ambil aja sendiri, soalnya kakak kan bukan tamu lagi dirumah ini”
“ begitu yah…” lanjut Raline kemudian mengambil gelas dan mengisinya dengan air mineral dari dispenser didekat lemari es.
“ Jeje ngira kak raline bener-bener gak bisa nerima bang Juna loh” ucap jasmine seakan masih tidak percaya
“ abangmu ternyata gak gampang nyerah…” raline mencoba memberikan jawaban sesingkat mungkin
“ tapi bukan kasian kan?” tanya jasmine kembali
“ Hmm…bagus yah! abangnya sendiri di jelek-jelekin begitu, adek macam apa lo!” tiba-tiba terdengar gerutu Juna yang ternyata sudah berada di depan pintu dapur dan mendengar percakapan mereka berdua.
“ ini donat lo, udah sana!”
“ awas lo ngomong macem-macem” lanjut Juna mengancam Jasmine sambil menggigit donat lalu kembali ke ruang tv dengan sepiring makanan kesuakaannya itu.
“ bukan kasian kan kak?” Tanya Jasmine mengulangi pertanyaannya yang terjeda.
“ dikit sih…”
“ Hahh…???”
“ enggaklah becanda Je…”
“ Yeayy…kirain, eh kak, kenapa yah menurutku cowok humoris itu punya daya tariknya sendiri, beda aja gitu”
“ udah pengalaman apa gimana nih?” sindir Raline setelah meneguk air dari gelas yang ia pegang dengan tangan kanan.
“ hehe…”
“ setahu gue sih tipikal mereka itu unik, punya caranya sendiri buat nyairin suasana atau malah kita yang dibuat gregetan pengen ngejambak rambutnya, eegghhh!” Lanjut Raline dengan ekspresi gemasnya.
“ bener banget kak, haha…coba kalo yang serius banget, kita lagi bad mood mereka juga bakal ikutan” lanjut jasmine dengan tawa kecilnya
“kayaknya kakak tahu nih siapa orang yang lagi kamu omongin?”
“ hmm…sok tahu nih kakak”
“ Assalamu’alaikum”
“ waalaikumsalam…”
“ …” Raline memberikan isyarat dengan jarinya ke arah suara
“ …” Jasmine mengangkat kedua bahunya lantas dibalas senyuman oleh Raline
“ waalaikumsalam…ngapain lo kemari?” ucap Juna berdiri tepat di depan pintu
“ tujuan gue bukan mau ketemu lo onta, minggir“
“ …” Juna menaikkan satu alisnya
“ mau rumah sakit apa kuburan?” tantang Juna dengan kepalan tangan kanan dan kirinya.
“ titipan gue ada kan bang?” Ucap Jasmine dari arah dapur.
“ tuh denger gak lo? Ada dong Je” jawab Rendy dengan senyum menyeringai
“ kalian berdua janjian? Ada apa ini… eh jelasin dulu, Je…Gue abang lo” sambung Juna menanyakan tentang apa yang sebenarnya terjadi antara adiknya dengan sayur brokoli ini.
“ …gue beli banyak mie pangsit nih sama jus alpukat, ayo makan bareng!” sela rendy sembari menunjukkan tentengan tas kresek penuh dengan makanan
“ urusan kita belom selesai kribo” seloroh Juna dengan mulut penuh berisi donat.
“ bundo di rumah?” Tanya Rendy ke Jasmine yang tak mengindahkan perkataan sahabatnya itu.
“ tadi istirahat siang pulang, trus berangkat lagi” jawab jasmine
“ Ohh…”
Jasmine langsung menuju dapur dimana Raline masih berada disana.
“ kayaknya kakak kenal deh suara itu” singgung Raline begitu Jasmine berada di dapur
“ kakak gak kenal kok, hehe…”
“ yakin? itu makanan banyak banget Je…”
“ gue pesennya satu, tapi yang di bawa banyak banget, tau tuh…kakak mau?” Jasmine menawarkan mie pangsit dan jus alpukat yang dibawa Rendy.
“ kenyang sih, kakak baru makan sama abangmu tadi”
“ jus nya aja deh?”
“ bolehlah…tapi takut gendut minum manis terus dari tadi”
“ halah…bang Juna gak akan komplain, tenang aja!”
“ hahaha…okay…”
Juna dan Rendy sedang asyik berdebat hingga TV yang menonton mereka di ruang keluarga. Sementara Jasmine dan Raline berjalan menuju ruang keluarga dari arah dapur membawa beberapa piring mie pangsit dan jus alpukat.
“ …loh kok ada lo re, wahh…emang brengsek nih Si Onta…jelasin lo pada!”
“ lagi pengen main aja ke sini” jawab Raline santai
“ Halah gak mungkin…jujur lo semua…”
“ beneran!” jawab Juna
“ gue jedotin nih pala lo onta” ancam Rendy sambil memegang salah satu Pundak Juna.
“ orang lagi pengen main, emang kenapa…aneh si kribo ihh” lanjut Juna sembari menggigit donat rasa cokelat kesukaannya.
“ bisa lo yah, kemaren aja lo nangis-nangis…dasar bucin lo…” ejek Rendy membongkar aib Juna
“ idihh siapa yang nangis…” elak Juna dengan mulut penuh donat.
“ emang bener Ren dia nangis?” Tanya Raline penasaran
“ beneran, untung ada gue, kalo gak udah bunuh diri nih bocah” jawab rendy dengan menarik hidung juna
“ … gue botakin lo!…jangan percaya keringet firaun ini, gak bener itu sayang” Lanjut Juna membela diri dengan kalimat terakhir tertuju pada Raline.
“ HAAAH…emang kampret lo Jun, udah sayang-sayangan aja…abis itu diem-diem lagi, giliran susah inget gue, tibanya seneng lupa…telor lu dasar!” keluh Rendy, tapi sebenarnya ia ikut merasa bahagia akhirnya sahabatnya itu mendapatkan apa yang selama ini ia impikan.
“ lah lo ngapain disini…pake janjian sama adek gue…gak izin lagi, main belakang lo ya?” balas Juna mengomentari.
“ pada mau makan gak nih, ribut aja!” tegur Jasmine ke Juna dan Rendy
“ ya maaf bang, adek kan cuma becanda doang, makan yuk keburu dingin mienya” Nada bicara Rendy tiba-tiba menciut saat teringat jika kartu As nya ada di Juna, Ia lantas memilih untuk mengalihkan pembicaraan, bagaimanapun kakak ipar selalu benar.
Kaldu ayam, pangsit goreng, dan manisnya cokelat dalam segelas jus alpukat menjadi saksi bisu hangatnya hubungan diantara mereka. Adik kesayangan, sahabat sejati dan tentunya kepingan hati yang telah lama dinanti berkumpul bersama pusaran kebahagiaan menanti senja yang sebentar lagi akan datang.
Kita hidup dengan ego masing-masing, tapi nyatanya kita tidak benar-benar, masing-masing. Ada kala kita harus mendengar, tiba saatnya pula kita ingin didengar. Sebuah putaran yang memang dipergilirkan untuk manusia lemah seperti kebanyakan. Sampai kapan bisa menyelesaikan semuanya sendiri? Sampai egomu habis dimakan tangis air mata? Jangan begitu!