Kaskus

Story

rinnopiantAvatar border
TS
rinnopiant
Cerpen: Layung Ciremai
Thread ini berisi kumpulan cerpen karya pribadi. Terdiri dari berbagai genre, kecuali horor. Khusus kumpulan cerpen horor terpisah di thread lain.

Selamat membaca!

Cerpen: Layung Ciremai

Daftar isi:
1. Layung Ciremai
2. Yang Hilang Di Rantau
3. Riwayat Pengemis Buta
Diubah oleh rinnopiant 03-08-2020 09:14
inginmenghilangAvatar border
indrag057Avatar border
kickers1919Avatar border
kickers1919 dan 7 lainnya memberi reputasi
6
1.9K
17
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.1KAnggota
Tampilkan semua post
rinnopiantAvatar border
TS
rinnopiant
#7
2. Yang Hilang Di Rantau
Oleh: Rine Nopianti.


Kaki-kaki kecilku telanjang berlari di atas hamparan pasir putih. Air mata deras mengalir di kedua pipi. Isak tangisku ditelan debur ombak yang gelisah. Apa yang mereka katakan selalu kejam.

Sementara hingga jingga menyemburat di ujung cakrawala, wanita itu masih berdiri mematung di bibir laut. Ibu memandang tajam ombak yang bergulung-gulung dan bersimpuh di kakinya.

“Bu, mereka bilang Anto nggak punya bapak,” rengekku seraya menarik-narik ujung bajunya yang lusuh. Mengadu.

Ibu memalingkan matanya dari laut kelabu yang begitu senang ia pandangi dengan penuh harap, menatapku seraya tersenyum lalu membungkukkan badan mengimbangi tinggiku yang saat itu baru sejajar dengan pinggangnya yang ramping.

Kedua tangan halus dan hangat Ibu mengusap wajahku yang basah. “Mereka cuma bercanda, Nak. Tidak
ada anak yang terlahir tanpa bapak.”

“Tapi bapak Anto di mana, Bu? Kenapa bapak nggak pernah ada di rumah?” Ibu kembali melempar pandangan pada samudra telentang. “Bapak pergi kerja, jauh-jauh cari uang buat kita. Nanti, ada kapal yang akan membawa bapak pulang. Kita tunggu ya.”

Tak selembar surat pun pernah kami terima. Bapak buta aksara. Hanya itung-itungan harga ikan di pelelangan yang beliau bisa. Namun, kabar angin yang sampai di telinga kami selalu kencang berembus dari musim ke musim. Mereka bilang Bapak sudah mati, sebagian menerka-nerka di seberang beliau menikah lagi. Lupa tanah lahir, lupa pada kami.

Hampir tak secuil pun ingatan tentang beliau kupunya. Aku adalah bayi merah dalam gendongan Ibu saat untuk terakhir kalinya Bapak melambaikan tangan dari atas dek kapal, perlahan menjauh, lalu hilang. Selembar foto tidak berwarna pun tak ada, untuk sekadar meredam rindu akan hadirnya, atau meyakinkan batinku bahwa memang beliau ada.

Hanya lewat penuturan Ibu, aku menggambarkan bagaimana sosok Bapak di dalam benakku. Ibu bilang
kami seiras. Perawakan dan wajahku seakan sengaja Tuhan ciptakan persis, untuk menjadi pelipur lara setelah keputusan beliau untuk mangkat mengadu nasib ke tanah seberang. Meninggalkan mata pencahariannya semula sebagai nelayan. Saat itu ikan-ikan di laut menjadi semakin sulit didapat. Belum lagi jala dan kailnya yang butut mesti bersaing dengan peralatan canggih yang tak terbeli. Bapak meninggalkan kami.

Akan tetapi, tak ada satu praduga pun yang menyiutkan asa di wajah Ibu yang lamat-lamat menua. Sekali waktu seorang tengkulak ikan datang ke gubuk kami yang sederhana, hendak meminang Ibu untuk menjadi istri yang kedua. Tak kurang-kurang, petak tanah, rumah megah, dan kehidupan yang wah ditawarkannya. Santun Ibu menolak, meski seperti pinangan-pinangan lainnya yang harus berakhir dengan caci maki dan sumpah serapah yang
kami terima. Belum lagi tudingan dan fitnah yang silih berganti datang. Batinnya yang gontai, apik tersembunyi di dalam senyuman. Hidup kami tak ubahnya kapal tanpa nahkoda, layar terbentang, tetapi tak menentu arah mana jadi tujuan.

Ibu tetap percaya Bapak akan kembali, entah pada nyaring terompet kapal mana yang berlabuh di dermaga kami.

“Anto, ada kapal bersandar. Cepat lihat! Mungkin bapakmu pulang,” teriak Ibu lantang.

Sementara saat itu di balik pintu kamar aku tengah duduk memeluk lutut. Bahuku terguncang-guncang dalam sedu sedan yang panjang. Kiranya hati anak mana yang tak akan teriris, mesti membiarkan ibunya terikat kaki dan tangan di atas pembaringan.
Sesal terus membayang di pelupuk mata, harusnya aku tak membiarkan Ibu berlama-lama terdiam di selasar sambil memandang kosong ke arah lautan. Harusnya aku menyadari saat Ibu mulai tak banyak bicara, ada bom waktu yang terus berhitung mundur di dalam sunyinya. Hingga suatu ketika entah sebab apa tiba-tiba saja Ibu histeris, berteriak memanggil nama Bapak seraya berlari menuju laut lepas. Beruntung beberapa orang berhasil
menariknya dari gulungan ombak.

Gemetar kakiku melangkah menggendong tubuhnya yang kuyup dan kian susut digerogoti usia dan hampa. Aku terus berucap syukur, Ibu masih bernapas.

Kejadian itu terus berulang. Ada yang mengatakan bahwa jiwa Ibu telah dicuri oleh roh jahat di lauatan, akibat dari kebiasaan beliau yang kerap melamun di pantai. Sebagian lain saling berbisik bahwa ibuku sudah hilang akal. Gila menanti suaminya yang tak kunjung pulang. Maka demi keselematan beliau, saat datang rezeki dari Tuhan aku memutuskan untuk pindah, meninggalkan rumah sarat kenangan dengan berat langkah.

“Memang macam jarum di tumpukkan jerami, To.” Sebuah tepukan di bahu membuyarkan lamunan, membawaku kembali pada kenyataan ada di antara hiruk-pikuknya suasana pelabuhan. “Sangat sulit mencari keberadaan bapakmu, apalagi masa sudah berlalu berpuluh-puluh tahun. Banyak hal sudah berubah. Entah juga
bapakmu sudah ….”

Aku mendengkus. “Setidaknya aku sudah berusaha, Mang. Terima kasih atas semua bantuannya selama ini.”

Lelaki tua yang biasa dipanggil Mang Dayat itu duduk di sampingku. Beliau yang telah memberiku jalan, hampir satu tahun sudah aku di perantauan. Pekerjaan yang Mang Dayat berikan menjadi kendaraan mencari keberadaan Bapak yang hingga detik ini masih kupertanyakan.

Ada gurat kesedihan tergambar di garis-garis keriput wajahnya. “Sejujurnya, rasa bersalah masih
menghantuiku sampai saat ini, To. Dulu aku dan bapakmu pergi merantau ke sini bersama-sama, tetapi lalu karena
sesuatu hal aku harus pulang lebih dulu. Saat aku kembali ke sini, bapakmu entah berpindah ke mana. Kita semua kehilangan dia.”

“Jangan merasa begitu, Mang. Bukan salah Mang Dayat. Mungkin sudah suratan.”

“Ya, andai dulu seperti sekarang. Alat komunikasi sudah seperti cendawan di musim hujan. Kecanggihan teknologi semakin memudahkan orang untuk berkabar.”

Nyaring suara terompet kapal menggaung di dermaga, memberi pertanda.

“Mungkin saja, bapak sudah bersama dengan ibuku lagi … di surga,” lirihku.

Qodarullah. Kapalmu sudah akan berangkat, To?”

“Iya, Mang. Rasanya aku terus mendengar suara putriku memanggil-manggil di telinga. Aku sangat merindukan dia.”

“Iyalah, pulanglah. Sampaikan salamku pada anak dan istrimu di sana.”

Kepada ia yang hilang di rantau. Mungkin Tuhan saja yang bisa mengabarkan, adalah aku yang kerap
merasa begitu dekat dengan harapan. Sesamar apa pun jejaknya kuikuti, demi menemukannya hidup atau mati. Kini pusara Ibu pun sudah mengering. Mungkin atmanya telah lebih dulu tiba, menemukan belahan jiwanya entah di
mana. Atau mungkin, mereka sudah kembali bersama. Saling menebus rindu yang tergadai sekian lama. Aku harus pulang. Sebagai seorang anak yang mengerti getir hidup tanpa kehadiran ayah di dalam hidupnya, sebagai seorang ayah yang sekarat merindu buah hatinya.

Selesai.
Diubah oleh rinnopiant 24-07-2020 16:21
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.