- Beranda
- Stories from the Heart
Cerpen: Layung Ciremai
...
TS
rinnopiant
Cerpen: Layung Ciremai
Thread ini berisi kumpulan cerpen karya pribadi. Terdiri dari berbagai genre, kecuali horor. Khusus kumpulan cerpen horor terpisah di thread lain.
Selamat membaca!

Daftar isi:
1. Layung Ciremai
2. Yang Hilang Di Rantau
3. Riwayat Pengemis Buta
Selamat membaca!

Daftar isi:
1. Layung Ciremai
2. Yang Hilang Di Rantau
3. Riwayat Pengemis Buta
Diubah oleh rinnopiant 03-08-2020 09:14
kickers1919 dan 7 lainnya memberi reputasi
6
1.9K
17
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
rinnopiant
#6
1. Layung Ciremai
Oleh: Rine Nopianti
Halimun Ciremai jelma sutra Sang Dewi. Menyelendangi kita saat kembang rumpai ungu kauselipkan di antara legam helai rambutku. Senja ketika perlahan kabut menyentuh tanah, kerap memaksa kita pulang bersama rindu yang tak kenal kata sudah.
Disaksikan kerling biji-biji padi yang menguning, bahagia kita sehijau hamparan pegagan di pematang sawah. Menanti tangis sibiran tulang lahir ke dunia, hendak kauberi nama Pelita.
Namun, seketika tatapmu sedingin Ciremai di waktu subuh. Akulah hitam serpihan jerami kering yang terbakar, oleh marahmu yang tiada kepalang. Saat kenyataan pelik yang kukubur di ceruk hati terdalam, hanya kaupandang sebagai pengkhianatan yang tak terampunkan. Mengusirku dengan janin besar yang mendesak ingin segera keluar. Tangis pertamanya, redam oleh raunganku kehilangan kita.
Pada hari-hari sunyi menuju senja, hiruk pikuk kota pelarian selalu membuatku rindu bau tanah desa. Saat bocah-bocah riang menerbangkan layangan di padang ilalang, di depan pintu aku selalu menunggumu pulang dari ladang.
Pelitaku tumbuh dewasa. Bukan sekali waktu ia bertanya kau di mana? Kujawab kau ada. Begitu dekat, serupa detak jantungnya.
Pelitaku terus memanggilmu bapak, walau kenyataan bukan dari darah dagingmu ia tercipta. Namun, ia ada karena sejatinya cinta.
Cintaku berkalang dosa, yang pernah sedia melakukan segalanya asal kau bahagia.
Salam
Sulastri.
“Kau, bolak-balik menggedor pintu rumahku selama seminggu, hanya agar aku membaca tulisan ini?” tanyanya dengan nada sinis. Lekat ia masih menatap secarik kertas usang di tangannya yang gemetar.
“Bukan sekadar tulisan. Itu kata hati istri Anda,” jawabku.
“Mantan istri,” tepisnya.
“Apa yang Anda dapatkan dengan keras hati seperti ini? Kesepian di masa tua—“
“Jangan lancang! Kau tidak tahu apa-apa. Kita tak saling mengenal.”
Sebuah kalimat yang membuatku menyadari jarak yang ada, kendatipun ia telah di depan mata. Bukankah semestinya rinduku berbalas? Seumur hidup aku terus menyebutnya bapak, hari ini ia menegaskan bahwa aku memang bukan bagian dari dirinya.
“Kenapa bukan ibumu yang menemuiku? Dia malah mengutus anak ingusan yang sok tahu.”
Dahiku mengerut. “Anda sungguh berharap perempuan yang datang lebih dulu? Bukan mencari atau mencemaskan dia di luar sana setelah terusir dari rumah?”
Lelaki tua itu memalingkan wajah.
“Ibu saya sudah meninggal,” lirihku.
Ia tergemap, seperti tak menyangka atas apa yang baru saja didengar. Bisa kulihat lapisan bening menyelimuti matanya kemudian, tak dapat ia sembunyikan. Aku yakin, jauh di dasar hati ada nyeri yang diingkari benci.
“Almarhumah tutup usia seratus hari yang lalu. Saya tahu beliau sudah sebatang kara sejak masa kecilnya. Terbiasa berjuang sendiri untuk hidup dan meraih cita-cita, tapi tanpa Anda hidup ibu pincang. Kesepian terus menggerogotinya dari dalam.” Suaraku tersendat-sendat isak yang tertahan. Mengenang sosok wanita murah senyum yang ternyata menyembunyikan kelam dalam diamnya yang panjang.
Ringkih, lelaki itu beringsut duduk pada dipan bambu di teras rumahnya yang nyenyat. Dinding lapuk berlumut, ubin retak-retak, dan ujung-ujung reng yang terbuka ditinggalkan gentingnya. Sekilas jika dilihat dari luar, akan tampak seperti bangunan tak berpenghuni.
“Saya datang hanya untuk menyampaikan maaf yang tak sempat terucap olehnya.”
“Sebaiknya kau pulang,” ucapnya serak.
“Tidak, sebelum Anda dengarkan semua yang mau saya katakan.”
“Baik, bicaralah dan cepat pergi.”
Aku menghela napas panjang yang terasa berat. “Ibuku tidak pernah mengkhianati Anda.”
“Jadi kau adalah bayi yang diantarkan oleh burung pelikan lewat cerobong asap?” Lelaki itu tergelak. “Duhai, selamat datang di negeri dongeng.”
Rambut dan janggutnya yang panjang tak terawat, sebagian besar telah berubah warna menjadi putih. Sudah berlalu ribuan senja, tetapi amarahnya berpuluh tahun silam masih tetap sama. Seperti yang ibu gambarkan lewat tulisannya.
“Saya menemukan buku harian ibu,” beberku. “Di sana tertulis begitu banyak hal. Termasuk saat beliau sengaja menyembunyikan lembaran tes kesehatan kalian, setelah membaca hasil yang menyatakan bahwa Anda … tidak akan pernah bisa memiliki keturunan.”
“Oh, aku tahu. Kau datang untuk mengejekku?” tuding lelaki itu.
“Bisakah Anda dengarkan dulu sampai saya selesai?” tegasku.
“Terserah,” rutuknya.
Aku tahu bicara dengan lelaki itu tidak akan mudah. Terbukti dengan penolakannya sejak hari pertama aku tiba. Terlebih saat ia mengetahui namaku, Pelita.
“Kalian sudah lama ingin punya anak. Ibu tak sampai hati mengatakan keadaan yang sebenarnya, karena tidak mau Anda terluka.” Mendadak bola mataku terasa panas.
“Mengandung janin dari laki-laki lain, itu yang kausebut dia tak mau aku terluka?” sergahnya.
Aku memejamkan mata. “Jika saja bisa memilih, saya tidak berharap dilahirkan.”
Suara gemerincing lonceng pengusir burung liar di sawah yang tertiup angin, mengisi hening di antara kami.
“Tidak dari ibu yang selalu berbohong. Katanya Anda sangat merindukan kehadiran saya. Suatu hari kita akan berkumpul sebagai keluarga yang sempurna. Kenyataan yang ada, Anda seakan jijik melihat manusia ini ….” Aku menepuk keras dadaku sendiri. “Buah perselingkuhan istrinya dengan entah siapa.”
Ia membisu, menatap rimbun ilalang yang bergetar dalam terpaan angin sore kaki Gunung Ciremai.
“Pernahkah membayangkan, bagaimana seorang perempuan yang sedang hamil tua terusir dari rumahnya? Terlunta-lunta menahan nyeri yang luar biasa, bertaruh nyawa melahirkan sendirian. Anda ada di mana? Di sini, bersama marah yang tak berkesudahan?”
Sekian waktu mematung dalam sedu sedan seorang diri, aku menyerah. Sampai kapan pun mungkin memang tidak akan pernah bisa memanggilnya ayah. Setidaknya sudah sejauh ini langkahku menyusuri jejak mendiang ibu, hanya untuk berusaha memperbaiki jalinan-jalinan yang kusut oleh kesumat masa lalu.
“Tunggu,” katanya dengan suara pelan, tetapi masih bisa dengan jelas kudengar.
Aku menghentikan langkah, dengan tanpa menoleh ke arahnya.
“Jangan merubah sedikit pun baktimu terhadapnya, hanya karena aku,” lirihnya. “Apa yang patut dibanggakan … dari manusia yang merubah dirinya menjadi batu, tetapi begitu pengecut untuk mengakui rindu.”
Aku berbalik. Lelaki tua itu tengah mengusap matanya yang basah, dengan sarung usang yang ia selempangkan di bahu.
“Dulu, terlalu remuk saat menemukan sobekan hasil pemeriksaan, yang menyatakan aku mandul. Kami bertengkar hebat. Sulastri enggan mengakui siapa yang menghamili, aku juga tak mau tahu apa pun lagi,” sambungnya.
“Saya tidak membenarkan apa yang ibu lakukan, juga tidak akan memihak pada amarah Anda. Kalian sudah menerima hukuman masing-masing, di dalam kesendirian,” jawabku.
“Aku ini bodoh, tidak tahu apa-apa. Termasuk bagaimana caranya meminta maaf,” isaknya. “Maukah kau … mengajari orang tua ini. Aku ingin meminta maaf.”
Bahu kurusnya terguncang-guncang dalam sedu sedan. Lelaki itu meremas lembar surat dari wanita tercintanya di dada, seakan hendak meleburkan ke dalam jantung yang kian payah berdetak di usia senja.
Aku melangkah menghampiri. Ragu-ragu tanganku hendak menyentuh, hingga lalu mendarat tepat di pundaknya yang terbalut baju lusuh.
“Bapak,” lirihku.
Seketika di benakku ada bunyi serupa tetes hujan pertama, yang membasuh tanah gersang musim kemarau. Sejuk. Hari mulai gelap, matahari sudah hendak undur diri di balik gagah Ciremai. Pada mega yang menyemburat warna jingga, seakan ada wajah Ibu tersenyum di atas sana.
Selesai.
Oleh: Rine Nopianti
Halimun Ciremai jelma sutra Sang Dewi. Menyelendangi kita saat kembang rumpai ungu kauselipkan di antara legam helai rambutku. Senja ketika perlahan kabut menyentuh tanah, kerap memaksa kita pulang bersama rindu yang tak kenal kata sudah.
Disaksikan kerling biji-biji padi yang menguning, bahagia kita sehijau hamparan pegagan di pematang sawah. Menanti tangis sibiran tulang lahir ke dunia, hendak kauberi nama Pelita.
Namun, seketika tatapmu sedingin Ciremai di waktu subuh. Akulah hitam serpihan jerami kering yang terbakar, oleh marahmu yang tiada kepalang. Saat kenyataan pelik yang kukubur di ceruk hati terdalam, hanya kaupandang sebagai pengkhianatan yang tak terampunkan. Mengusirku dengan janin besar yang mendesak ingin segera keluar. Tangis pertamanya, redam oleh raunganku kehilangan kita.
Pada hari-hari sunyi menuju senja, hiruk pikuk kota pelarian selalu membuatku rindu bau tanah desa. Saat bocah-bocah riang menerbangkan layangan di padang ilalang, di depan pintu aku selalu menunggumu pulang dari ladang.
Pelitaku tumbuh dewasa. Bukan sekali waktu ia bertanya kau di mana? Kujawab kau ada. Begitu dekat, serupa detak jantungnya.
Pelitaku terus memanggilmu bapak, walau kenyataan bukan dari darah dagingmu ia tercipta. Namun, ia ada karena sejatinya cinta.
Cintaku berkalang dosa, yang pernah sedia melakukan segalanya asal kau bahagia.
Salam
Sulastri.
“Kau, bolak-balik menggedor pintu rumahku selama seminggu, hanya agar aku membaca tulisan ini?” tanyanya dengan nada sinis. Lekat ia masih menatap secarik kertas usang di tangannya yang gemetar.
“Bukan sekadar tulisan. Itu kata hati istri Anda,” jawabku.
“Mantan istri,” tepisnya.
“Apa yang Anda dapatkan dengan keras hati seperti ini? Kesepian di masa tua—“
“Jangan lancang! Kau tidak tahu apa-apa. Kita tak saling mengenal.”
Sebuah kalimat yang membuatku menyadari jarak yang ada, kendatipun ia telah di depan mata. Bukankah semestinya rinduku berbalas? Seumur hidup aku terus menyebutnya bapak, hari ini ia menegaskan bahwa aku memang bukan bagian dari dirinya.
“Kenapa bukan ibumu yang menemuiku? Dia malah mengutus anak ingusan yang sok tahu.”
Dahiku mengerut. “Anda sungguh berharap perempuan yang datang lebih dulu? Bukan mencari atau mencemaskan dia di luar sana setelah terusir dari rumah?”
Lelaki tua itu memalingkan wajah.
“Ibu saya sudah meninggal,” lirihku.
Ia tergemap, seperti tak menyangka atas apa yang baru saja didengar. Bisa kulihat lapisan bening menyelimuti matanya kemudian, tak dapat ia sembunyikan. Aku yakin, jauh di dasar hati ada nyeri yang diingkari benci.
“Almarhumah tutup usia seratus hari yang lalu. Saya tahu beliau sudah sebatang kara sejak masa kecilnya. Terbiasa berjuang sendiri untuk hidup dan meraih cita-cita, tapi tanpa Anda hidup ibu pincang. Kesepian terus menggerogotinya dari dalam.” Suaraku tersendat-sendat isak yang tertahan. Mengenang sosok wanita murah senyum yang ternyata menyembunyikan kelam dalam diamnya yang panjang.
Ringkih, lelaki itu beringsut duduk pada dipan bambu di teras rumahnya yang nyenyat. Dinding lapuk berlumut, ubin retak-retak, dan ujung-ujung reng yang terbuka ditinggalkan gentingnya. Sekilas jika dilihat dari luar, akan tampak seperti bangunan tak berpenghuni.
“Saya datang hanya untuk menyampaikan maaf yang tak sempat terucap olehnya.”
“Sebaiknya kau pulang,” ucapnya serak.
“Tidak, sebelum Anda dengarkan semua yang mau saya katakan.”
“Baik, bicaralah dan cepat pergi.”
Aku menghela napas panjang yang terasa berat. “Ibuku tidak pernah mengkhianati Anda.”
“Jadi kau adalah bayi yang diantarkan oleh burung pelikan lewat cerobong asap?” Lelaki itu tergelak. “Duhai, selamat datang di negeri dongeng.”
Rambut dan janggutnya yang panjang tak terawat, sebagian besar telah berubah warna menjadi putih. Sudah berlalu ribuan senja, tetapi amarahnya berpuluh tahun silam masih tetap sama. Seperti yang ibu gambarkan lewat tulisannya.
“Saya menemukan buku harian ibu,” beberku. “Di sana tertulis begitu banyak hal. Termasuk saat beliau sengaja menyembunyikan lembaran tes kesehatan kalian, setelah membaca hasil yang menyatakan bahwa Anda … tidak akan pernah bisa memiliki keturunan.”
“Oh, aku tahu. Kau datang untuk mengejekku?” tuding lelaki itu.
“Bisakah Anda dengarkan dulu sampai saya selesai?” tegasku.
“Terserah,” rutuknya.
Aku tahu bicara dengan lelaki itu tidak akan mudah. Terbukti dengan penolakannya sejak hari pertama aku tiba. Terlebih saat ia mengetahui namaku, Pelita.
“Kalian sudah lama ingin punya anak. Ibu tak sampai hati mengatakan keadaan yang sebenarnya, karena tidak mau Anda terluka.” Mendadak bola mataku terasa panas.
“Mengandung janin dari laki-laki lain, itu yang kausebut dia tak mau aku terluka?” sergahnya.
Aku memejamkan mata. “Jika saja bisa memilih, saya tidak berharap dilahirkan.”
Suara gemerincing lonceng pengusir burung liar di sawah yang tertiup angin, mengisi hening di antara kami.
“Tidak dari ibu yang selalu berbohong. Katanya Anda sangat merindukan kehadiran saya. Suatu hari kita akan berkumpul sebagai keluarga yang sempurna. Kenyataan yang ada, Anda seakan jijik melihat manusia ini ….” Aku menepuk keras dadaku sendiri. “Buah perselingkuhan istrinya dengan entah siapa.”
Ia membisu, menatap rimbun ilalang yang bergetar dalam terpaan angin sore kaki Gunung Ciremai.
“Pernahkah membayangkan, bagaimana seorang perempuan yang sedang hamil tua terusir dari rumahnya? Terlunta-lunta menahan nyeri yang luar biasa, bertaruh nyawa melahirkan sendirian. Anda ada di mana? Di sini, bersama marah yang tak berkesudahan?”
Sekian waktu mematung dalam sedu sedan seorang diri, aku menyerah. Sampai kapan pun mungkin memang tidak akan pernah bisa memanggilnya ayah. Setidaknya sudah sejauh ini langkahku menyusuri jejak mendiang ibu, hanya untuk berusaha memperbaiki jalinan-jalinan yang kusut oleh kesumat masa lalu.
“Tunggu,” katanya dengan suara pelan, tetapi masih bisa dengan jelas kudengar.
Aku menghentikan langkah, dengan tanpa menoleh ke arahnya.
“Jangan merubah sedikit pun baktimu terhadapnya, hanya karena aku,” lirihnya. “Apa yang patut dibanggakan … dari manusia yang merubah dirinya menjadi batu, tetapi begitu pengecut untuk mengakui rindu.”
Aku berbalik. Lelaki tua itu tengah mengusap matanya yang basah, dengan sarung usang yang ia selempangkan di bahu.
“Dulu, terlalu remuk saat menemukan sobekan hasil pemeriksaan, yang menyatakan aku mandul. Kami bertengkar hebat. Sulastri enggan mengakui siapa yang menghamili, aku juga tak mau tahu apa pun lagi,” sambungnya.
“Saya tidak membenarkan apa yang ibu lakukan, juga tidak akan memihak pada amarah Anda. Kalian sudah menerima hukuman masing-masing, di dalam kesendirian,” jawabku.
“Aku ini bodoh, tidak tahu apa-apa. Termasuk bagaimana caranya meminta maaf,” isaknya. “Maukah kau … mengajari orang tua ini. Aku ingin meminta maaf.”
Bahu kurusnya terguncang-guncang dalam sedu sedan. Lelaki itu meremas lembar surat dari wanita tercintanya di dada, seakan hendak meleburkan ke dalam jantung yang kian payah berdetak di usia senja.
Aku melangkah menghampiri. Ragu-ragu tanganku hendak menyentuh, hingga lalu mendarat tepat di pundaknya yang terbalut baju lusuh.
“Bapak,” lirihku.
Seketika di benakku ada bunyi serupa tetes hujan pertama, yang membasuh tanah gersang musim kemarau. Sejuk. Hari mulai gelap, matahari sudah hendak undur diri di balik gagah Ciremai. Pada mega yang menyemburat warna jingga, seakan ada wajah Ibu tersenyum di atas sana.
Selesai.
0